cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 98 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 98 Documents clear
KAJIAN KERUNTUHAN BANGUNAN INDUSTRI PADA SAAT PROSES KONSTRUKSI Lathifah, Layalia; ., Wisnumurti; Hidayat, Taufik
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.607 KB)

Abstract

Baja Struktur adalah suatu jenis baja berupa batang dan pelat, yang berdasarkan pertimbangan ekonomi, kekuatan dan sifatnya, cocok untuk pemikul beban.Perencanaan konstruksi baja harus memperhatikan beberapa faktor, diantaranya adalah besarnya pembebanan yg digunakan dalam perhitungan. Namun disisi lain juga terdapat faktor pemicu, terutama ketika terjadi suatu kegagalan konstruksi. Penyebab kegagalan pada saat proses konstruksi diantaranya adalah dengan belum terpasangnya semua bagian secara lengkap, mengakibatkan kestabilan struktur terganggu. Beracuan pada grafik hubungan tegangan-regangan baja, dimana adanya tegangan ijin, leleh dan batas. Dari data tersebut dapat diketahui berapa besar beban yang bekerja sehingga dapat merobohkan bangunan. Data berupa foto menunjukkan arah roboh bangunan, sehingga ada kecondongan pada puncak rafter kearah utara. Perhitungan yang dilakukan dengan meninjau profil rafter pada arah sumbu y didapatkan besar beban (P) pada tegangan ijin dan didapatkan deformasi yang akan membentuk sudut kemiringan. Dengan adanya sudut akibat deformasi maka berat sendiri profil tersebut tidak lagi diabaikan, karena adanya penguraian berat sendiri kearah sumbu x dan sumbu y. Dari perhitungan tersebut didapatkan tegangan yang terjadi akibat sudut dari deformasi. Kata Kunci : Struktur baja, kegagalan konstruksi, deformasi
PENGARUH LETAK LAP SPLICE DAN RASIO TULANGAN LONGITUDINAL TERHADAP POLA RETAK KOLOM BERTULANGAN RINGAN AKIBAT BEBAN SIKLIK Adnin, Chaniva; Wibowo, Ari; Budio, Sugeng P.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.918 KB)

Abstract

Kolom berperan penting dalam menahan beban gempa. Kegagalan pada kolom sama dengan keruntuhan total bangunan. Meskipun Indonesia memiliki intensitas gempa tinggi, banyak bangunan tua dan rumah penduduk yang menggunakan kolom dengan rasio tulangan dibawah 1% atau dikenal kolom bertulangan ringan. Dengan banyaknya bangunan bertingkat dibutuhkan adanya lap splice pada penulangan kolom. Berdasarkan penelitian yang telah ada sebelumnya, letak lap splice dapat mempengaruhi perilaku dari kolom. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh rasio tulangan longitudinal dan letak lap splice terhadap pola retak kolom bertulangan ringan akibat beban siklik. Pada penelitian ini digunakan empat benda uji kolom dengan dimensi 150 mm x 160 mm x 800 mm. Terdapat 2 variasi dalam penelitian ini, yaitu rasio tulangan longitudinal (0,8% dan 1,1%) dan letak lap splice (dasar kolom SB dan ½ tinggi kolom SM). Benda dengan mutu beton 25 Mpa dan dilakukan pengujian pada umur lebih dari 28 hari. Pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan sebesar 0,1 P, serta beban lateral siklik pada ketinggian 640 mm dengan metode displacement control. Diperoleh data beban dan perpindahan, serta pola retak tiap siklusnya. Hasil dari pembahasan data secara analisis aktual maupun teoritis menunjukkan benda uji dengan ρv lebih tinggi (1,1%) tentunya memiliki momen kapasitas yang lebih besar daripada benda uji dengan ρv lebih rendah (0,8%). Berdasarkan letak lap splice, retak pertama pada benda uji SM terjadi dengan perpindahan lebih kecil dibandingkan benda uji SB. Sehingga benda uji SM lebih kaku dibandingkan benda uji SB. Selain itu, dengan letak lap splice pada dasar kolom (SB), retak utama terjadi pada dasar kolom dengan pola retak dominan lentur. Dan untuk letak lap splice pada ½ tinggi kolom (SM), retak utama bergeser pada ketinggian sekitar 7,5 cm dengan pola retak dominan geser. Kata kunci: Beban gempa, metode displacement control, retak geser, retak lentur.
PENGARUH RASIO TULANGAN LONGITUDINAL DAN LETAK LAP SPLICE TERHADAP DAKTILITAS KOLOM BERTULANGAN RINGAN AKIBAT BEBAN SIKLIK Kurniasari, Desi Putri; Wibowo, Ari; Nurlina, Siti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.149 KB)

Abstract

Kolom merupakan struktur yang sangat vital dalam bangunan, jika terjadi kegagalan pada kolom maka kemungkinan gagalnya seluruh bangunan sangat lah tinggi. Bangunan tua dan rumah penduduk banyak yang dibangun dengan rasio tulangan longitudinal kurang dari 1% atau umumnya dikenal sebagai kolom bertulangan ringan, karena kurangnya pengetahuan pelaksana tentang struktur. Disisi lain, kerap muncul bangunan bertingkat yang mengharuskan penggunaan lap splice pada kolom untuk dapat meneruskan tulangan, dimana peletakan lap splice yang tidak tepat dapat mempengaruhi kegagalan suatu kolom. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku kolom bertulangan ringan dengan lap splice akibat gempa, perilaku yang dimaksud adalah daktilitas perpindahan. Pada penelitian ini digunakan dua jenis variasi yaitu rasio tulangan longitudinal (0.8% dan 1.1%) dan letak lap splice (bawah dan tengah). Terdapat 4 spesimen yang mewakili variasi tersebut dengan ukuran 150x160 mm dan f’c 25 MPa. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan sebesar 0.1 Pu dan beban siklik hingga kolom melewati keruntuhan beban lateral dengan metode displacement control. Data yang dicatat untuk analisis daktilitas berupa data beban dan perpindahan tiap siklusnya. Hasil eksperimental dari penelitian ini menunjukkan bahwa kolom dengan rasio tulangan longitudinal 0.8% memiliki daktilitas yang jauh lebih besar dari kolom dengan rasio 1.1%, sedangkan kolom dengan letak lap splice di tengah memiliki daktilitas lebih besar dari kolom dengan letak lap splice di bawah, meskipun perbedaannya tidak signifikan. Kata kunci : perilaku kolom, beton bertulangan ringan, daktilitas perpindahan, beban gempa, keruntuhan kolom
PENGARUH RASIO TULANGAN LOGITUDINAL DAN JARAK SENGKANG TERHADAP KAPASITAS BEBAN LATERAL MAKSIMUM KOLOM BERTULANGAN RINGAN AKIBAT BEBAN SIKLIK Theophilus, Stefan; Wibowo, Ari; Nurlina, Siti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.207 KB)

Abstract

Kolom merupakan komponen struktural yang berfungsi sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Di Indonesia masih sering dijumpai bangunan dengan  kolom berrasio tulangan longitudinal kurang dari 0.01 kali luas bruto penampang atau bisa disebut kolom bertulangan ringan. Kolom bertulangan ringan seringkali dipercaya memiliki performa yang buruk dalam menahan gempa. Padahal di beberapa kasus yang ditemui bahwa di banyak negara, walaupun kolomnya bertulangan ringan, mereka cukup mampu bertahan terhadap gempa. Apabila ditinjau dari bidang ketekniksipilan, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai kolom tulangan ringan tersebut dengan dikaitkan dengan aspek-aspek konstruksi. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah mengenai kekuatan struktur kolom tulangan ringan beserta komponen penyusunnya, daktilitas, kuat kapasitas beban lateral, ketahanan terhadap gempa, pola retak dan lain sebagainya Dalam penelitian ini kolom beton bertulang digunakan sebagai benda uji dengan banyak benda uji sebanyak 4 buah kolom dengan variasi rasio tulangan longitudinal (0,8% dan 1,1%) dan variasi jarak sengkang (15cm dan 25 cm). Kolom benda uji diletakkan diatas frame pengujian. Beban lateral siklik dan beban aksial yang juga akan dianalisa kapasitas beban lateral terhadap perpindahan. Hasil dari penelitian dan pembahasan data menjelaskan bahwa benda Uji L25C (r = 0.8% ; Æ6-250)  dapat menahan 2270,5 kg saat kondisi push dan 1778,5 kg pada kondisi pull. Benda Uji L15C (r = 0.8% ; Æ6-150)  dapat menahan 1508,5 kg saat kondisi push dan 2061,25 kg pada kondisi pull. Benda Uji M25C  dapat menahan 2080 kg(r = 1,1% ; Æ6-250) saat kondisi push dan 2322,5 kg pada kondisi pull . Benda Uji M15C  dapat menahan 2202,5 kg (r = 1,1% ; Æ6-150) saat kondisi push dan 2079,5 kg pada kondisi pull. Kata kunci: kolom, ringan, kapasitas beban lateral, sengkang, rasio tulangan
PENGARUH JARAK SENGKANG DAN RASIO TULANGAN LONGITUDINAL TERHADAP DAKTILITAS KOLOM BERTULANGAN RINGAN AKIBAT BEBAN SIKLIK Vadra, Karina Pearlaura; Wibowo, Ari; Budio, Sugeng P.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.552 KB)

Abstract

Kolom merupakan struktur batang tekan vertikal yang memiliki fungsi utama sebagai penyalur beban-beban bangunan dari atas hingga ke pondasi, sehingga kolom memiliki peran yang sangat penting pada sebuah struktur bangunan. Di Indonesia, masih sering dijumpai bangunan tua dan rumah tinggal yang memiliki rasio tulangan longitudinal kurang dari 1% atau biasa dikenal dengan  kolom bertulangan ringan. Jarak sengkang merupakan salah satu aspek konstruksi yang penting pada kolom, dimana perencanaan jarak sengkang yang kurang tepat dapat mempengaruhi kegagalan suatu kolom. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku kolom bertulangan ringan akibat gempa, dimana perilaku yang akan diteliti adalah daktilitas perpindahan. Pada penelitian ini digunakan kolom beton bertulangan ringan sebagai benda uji sebanyak 4 buah dengan 2 variasi, yaitu rasio tulangan longitudinal (0,8% dan 1,1%) dan variasi jarak sengkang (15 cm dan 25 cm). Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan sebesar 0.1 Pu dan beban siklik hingga kolom melewati keruntuhan beban lateral dengan metode displacement control. Data berupa beban dan perpindahan setiap siklusnya dicatat untuk analisis daktilitas. Hasil eksperimental dari penelitian ini adalah kolom L15C dengan rasio tulangan 0.8% dan jarak sengkang 15 cm, memiliki nilai daktilitas sebesar 1.6 sampai 2.4. Untuk kolom L25C dengan rasio tulangan 0.8% dan jarak sengkang 25 cm, memiliki nilai daktilitas sebesar 1.5 sampai 2.9. Kemudian untuk kolom M15C dengan rasio tulangan 1.1% dan jarak sengkang 15 cm, memiliki nilai daktilitas 2.2 sampai 2.4. Sedangkan untuk kolom M25C dengan rasio tulangan 1.1% dan jarak sengkang 25 cm, memiliki nilai daktilitas 1.8 sampai 1.9. Hal ini menjelaskan bahwa kolom dengan rasio tulangan longitudinal 0.8% memiliki daktilitas yang lebih besar dari kolom dengan rasio 1.1%, sedangkan kolom dengan jarak sengkang 15 cm memiliki daktilitas lebih besar dari kolom dengan jarak sengkang 25 cm. Kata Kunci: kolom bertulangan ringan, daktilitas, jarak sengkang, rasio tulanganlongitudinal, beban siklik
INTERAKSI KEKUATAN LENTUR DAN BERAT VOLUME PELAT BETON RINGAN TUMPUAN SEDERHANA BERTULANGAN BAMBU Sasmita, Mochamad Hadi; Dewi, Sri Murni; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.06 KB)

Abstract

Berada di daerah rawan gempa, meningkatnya kebutuhan manusia dan terbatasnya sumberdaya alam menuntut adanya alternatif pada dunia konstruksi. Teknologi tahan gempa memerlukan adanya inovasi yaitu beton ringan. Beton ringan adalah beton yang memiliki berat volume lebih ringan daripada beton konvensional. Dengan menggunakan beton ringan dapat mengurangi berat struktur dan berdampak pada desain struktur itu sendiri. Penelitian ini dirancang dengan dua benda uji pelat dengan dimensi 100 x 80 x 5 cm dengan rasio tulangan minimum (ρmin) / AXH dan rasio tulangan 0,5 rasio maksimum (0,5 ρmaks) / BXH. Pengujian diletakkan diatas dua tumpuan sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, pelat BXH dengan berat volume 2085,932 kg/m3 mampu menahan beban vertikal maksimum 54,7% lebih besar dibandingkan pelat AXH yang memiliki berat volume 2109,932 kg/m3. Pada saat kondisi elastis pelat AXH memiliki defleksi 19,62% lebih besar dibandingkan pelat BXH. Pelat BXH memiliki kekakuan lebih tinggi dibanding pelat AXH. Terdapat selisih kekakuan sebesar 17%. Pada pengamatan pola retak, keruntuhan terjadi pada momen maksimum yang berada ditengah bentang, dimana pola retak ini sesuai dengan teori garis leleh akibat beban terpusat garis ditengah bentang. Kata kunci : pelat, kuat lentur, berat volume, beton ringan, tulangan bambu.
KEKUATAN LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON DAN BATA RINGAN TULANGAN BAMBU DENGAN VARIASI MUTU BETON Dwijo Wibowo, Christoforus Aditya; Dewi, Sri Murni; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.376 KB)

Abstract

Teknologi rekayasa beton yang terus berkembang, material bambu yang mudah diperbaharui, berat material terkait dengan analisis gempa, serta tuntutan inovasi dalam bidang konstruksi bangunan, yang kemudian mencuatkan gagasan akan balok beton komposit bata ringan bertulangan bambu sebagai alternatif beton bertulang. Penelitian ini didesain menggunakan balok dimensi 200 x 16 x 20 cm dengan variasi mutu beton rencana 15 MPa dan 25 Mpa. Bata ringan menggunakanvariasi dimensi 50 x 8 x 8,5 cm dan 50 x 8 x 6,5 cm. Kemudian digunakan tulangan bambu dimensi 2 x 1 cm.Untuk mendapatkan hasil pengujian lentur murni, balok diletakkan di atas dua tumpuan sederhana dengan beban terpusat dibagi menjadi dua titik. Dial gauge diletakkan di kedua sisi di tengah bentang untuk mengetahui besar lendutan yang terjadi.Balok komposit mutu 29,81 MPa, mampu menahan beban 2463 kg. Sedangkan balok komposit mutu 24,57 MPa mampu menahan beban 2550 kg. Perhitungan teoritis dengan menggunakan beban 500 kg pada saat kondisi elastis didapatkan bahwa mutu 29,81 MPa memiliki lendutan sebesar 0.578 mm dan mutu 24,57 MPa memiliki lendutan 0.915 mm. Selain itu, balok komposit mutu 29,81 MPa menghasilkan pola retak yang lebih banyak daripada balok  komposit mutu 24,57 MPa. Kata kunci: balok komposit, bata ringan, bambu, kuat lentur, mutu beton
KEKUATAN LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON DAN BATA RINGAN TULANGAN BAMBU DENGAN VARIASI TINGGI BATA RINGAN Prasetyo, Ferry Singgih; Dewi, Sri Murni; Simatupang, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.604 KB)

Abstract

Teknologi beton ringan sangat dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, terutama pada gedung-gedung pencakar langit yang menghendaki berat sendiri yang kecil guna meminimalkan daya impact akibat beban gempa. Penelitian kemudian didesain dengan dua variable tinggi bata ringan yaitu 6,5 cm dan 8,5 cm, serta dengan mutu beton rencana 25 MPa. Benda uji memiliki dimensi 200 x 16 x 20 cm, sedangkan bata ringan yang digunakan memiliki dimensi 50 x 8 x 8,5 cm. Dalam proses pengujian, balok diletakkan di atas dua tumpuan sederhana dengan beban terpusat dibagi menjadi dua titik ntuk mendapatkan kapasitas lentur murni. Dialgauge diletakkan di kedua sisi untuk mengetahui lendutan yang terjadi.Berdasarkan pengujian diperoleh tinggi bata ringan 8,5 cm memiliki berat volume yang lebih kecil dibandingkan balok komposit dengan tinggi 6,5 cm. Balok komposit dengan tinggi bata ringan 6,5 cm mampu menahan beban 2476 kg, sedangkan balok komposit dengan tinggi bata ringan 8,5 cm mampu menahan beban 2537 kg. Dengan menggunakan metode conjugate beam dan mengambil beban pada saat kondisi elastis, maka didapatkan tinggi bata ringan 6,5 cm memiliki lenduta 0,858 mm dan tinggi bata ringan 8,5 cm memiliki lendutan 0,972 mm. Balok komposit dengan tinggi bata ringan 6,5 cm, memiliki kekakuan 519,23 kg/mm sedangkan balok komposit dengan tinggi bata ringan 8,5 cm memiliki kekakuan 605,23 kg/mm. Sedangkan berdasarkan pengamatan pola retak, tidak ada pengaruh yang signifikan akibat variasi tinggi bata ringan. Kata kunci: balok, komposit, bata ringan, kuat lentur.
INTERAKSI MUTU BETON DAN RASIO VOLUME BATA RINGAN TERHADAP KUAT LENTUR BALOK KOMPOSIT BETON DAN BATA RINGAN ., Claudia; Dewi, Sri Murni; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.876 KB)

Abstract

Inovasi beton terus mengalami perkembangan. Salah satu contohnya inovasi tentang beton ringan. Teknologi beton ringan ini bertujuan untuk memperingan struktur bangunan sehingga dapat meminimalisir efek gempa. Penelitian ini menggabungkan dua bahan yaitu beton dan bata ringan menjadi sebuah elemen struktur balok komposit. Penelitian ini didesain dengan dua variabel bebas yaitu mutu beton dan volume bata ringan. Mutu beton yang digunakan adalah 24,57 MPa dan 29,81 MPa sedangkan variasi bata ringan yang digunakan adalah bata ringan dengan tinggi 8,5 cm dan 6,5 cm. Pengujian dimaksudkan untuk mengetahui interaksi mutu beton dan volume bata ringan terhadap kuat lentur balok komposit. Untuk  mendapatkan hasil pengujian lentur murni maka balok ditempatkan di atas dua tumpuan sederhana dan dibebani dengan beban terpusat. Berdasarkan hasil uji analisis varian dua arah didapatkan hasil F tabel sebesar 5,32 sedangkan F hitung untuk sumber variasi volume bata ringan sebesar 0,017, F hitung untuk sumber variasi mutu beton sebesar 0,035 ,dan F hitung untuk interaksi kedua sumber variasi sebesar 0,317. Meskipun semua hasil F hitung lebih kecil dari F tabel namun jika F hitung antar ketiganya dibandingkan hasilnya adalah F hitung interaksi antara mutu beton dan volume bata ingan terlihat lebih besar. Hal ini menandakan bahwa terdapat interaksi antara mutu beton dan volume bata ringan terhadap kuat lentur balok meskipun kontras tidak terlihat secara signifikan. Kata kunci: balok, komposit, bata ringan, interaksi, kuat lentur
INTERAKSI KEKUATAN LENTUR DAN BERAT VOLUME PELAT BETON RINGAN TUMPUAN TERKEKANG BERTULANGAN BAMBU Robertus, Aristo Yonghy; Dewi, Sri Murni; Simatupang, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1224.667 KB)

Abstract

Kontribusi massa pelat yang cukup besar dalam suatu struktur perlu dikurangi, yaitu dengan menggunakan teknologi beton ringan dimana komposisi material baja tarik digantikan dengan tulangan bambu. Beton ringan memiliki modulus Elastisitas (E) kecil sehingga defleksinya lebih besar dari beton konvensional, maka untuk memperkaku struktur dilakukan pengekangan pada tumpuannya. Percobaan dilakukan dengan dua jenis spesimen, yaitu pelat beton ringan satu arah dengan rasio tulangan minimum (ρmin) dan 0,5 rasio tulangan maksimum (0,5 ρmaks). Ukuran benda uji 100x80x5 cm, perbandingan komposisi beton 1:3:1 dengan kuat tekan 32 MPa. Penelitian dilakukan dengan memberikan beban terpusat pada tengah bentang bertahap hingga pelat runtuh. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah berat volume pelat, beban maksimum (Pu) dan lendutan (Δ) yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benda uji pelat dengan 0,5 ρmaks mampu menahan beban lebih besar daripada ρmin. Pelat dengan 0,5 ρmaks memiliki lendutan dan berat jenis yang lebih kecil dan kekakuan yang lebih besar dibanding pelat dengan ρmin. Pelat dengan tumpuan terkekang memiliki keandalan yang lebih dalam menahan beban vertikal dibanding tanpa kekangan. Diperoleh selisih beban vertikal maksimum (Pu) lebih dari  25% dan pada kondisi elastis terdapat selisih lendutan (Δ) sebesar 25%. Kata kunci: Pelat, Tulangan Bambu, Berat Jenis, Beban Maksimum, Kekakuan.

Page 1 of 10 | Total Record : 98