cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 98 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 98 Documents clear
PENGARUH LETAK BUKAAN TERHADAP KINERJA DINDING BATA TERKEKANG DENGAN BEBAN SIKLIK LATERAL Nugraha, Putra Adi; ., Wisnumurti; Zacoeb, Achfas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.648 KB)

Abstract

Sistem dinding bata terkekang banyak digunakan pada mayoritas rumah di Indonesia, dan merupakan sistem dinding yang lebih tahan terhadap beban gempa dibanding sistem dinding bata merah biasa. Bukaan merupakan komponen bangunan yang tidak terpisahkan terkait dengan fungsi bangunan gedung. Pengurangan luasan dinding melalui penambahan bukaan serta letak bukaan itu sendiri secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap perilaku dinding bata terkekang. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh letak bukaan terhadap kinerja dinding bata terkekang dengan beban siklik lateral. Adapun kinerja dinding bata terkekang ditinjau berdasarkan kemiringan kurva selubung dari kurva histeresis. Dari hasil penelitian ini, berdasarkan bentuk dan kemiringan kurva selubung, perbedaan kinerja terbesar akibat pembebanan siklik lateral, antara beban dari arah kanan dan kiri, terdapat pada model dinding bukaan tepi (kode C). Sedangkan untuk model dinding tanpa bukaan (kode A) dan model dinding bukaan tengah (kode B), kinerja akibat pembebanan siklik lateral, antara beban dari arah kanan dan kiri, cenderung seimbang. Nilai kekakuan elastis terbesar terdapat pada model dinding tanpa bukaan (kode A).  Sedangkan nilai kekakuan elastis terkecil terdapat pada model dinding dengan bukaan tengah (kode B). Kata kunci: dinding bata terkekang, beban siklik lateral, kemiringan kurva histeresis,kekakuan elastis
PERBANDINGAN KUAT LENTUR SATU ARAH PELAT BETON TULANGAN BAMBU DENGAN PELAT BETON TULANGAN BAMBU ISI STYROFOAM Fauzi, Rifqi Eka; Dewi, Sri Murni; Wijatmiko, Indradi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1581.715 KB)

Abstract

Beton ringan merupakan inovasi bahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan, bambu dapat digunakan tulangan beton menggantikan baja dan lebih ringan, pemberian styrofoam pada elemen struktur mampu mengurangi berat sendiri struktur, kemudian mecuatkan gagasan tentang plat beton tulangan bambu isi styrofoam. Penelitian ini menggunakan pelat beton tulangan bambu isi styrofoam sebanyak 3 buah yang akan dibandingkan kuat lenturnya dengan pelat beton tulangan bambu tanpa styrofoam. Dimensi pelat yang digunakan 800x400x10 mm, dimensi tulangan memanjang 6x6 mm dan panjang 750 mm, dimensi tulangan melintang 6x6 mm dan panjang 350 mm, dan dimensi styrofoam 750x350x10 mm. Setelah usia 28 hari, dilakukan uji lentur plat satu arah dengan beban garis di tengah bentang. Plat beton tulangan bambu isi styrofoam menurunkan Pu 15,6% dibandingkan plat tanpa styrofoam, namun beratnya berkurang 9,72%. Pelat beton bertulangan bambu isi styrofoam memiliki lendutan lebih besar 77 % dari pelat yang tidak menggunakan styrofoam pada kondisi retak pertama, sedangkan pada kondisi runtuh pelat isi  styrofoam mengalami penambahan lendutan sebesar 16 % dibandinkan pelat tanpa styrofoam.Pteoritis plat beton tulangan bambu didapatkan sebesar 394,09 kg, sedangkan pada uji laboratorium di dapatkan Pu sbesar 650 kg. Kata kunci:plat beton, tulangan bambu, styrofoam, kuat lentur.
ANALISIS KEKAKUAN STRUKTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG HOLLOW CORE PADA TENGAH BALOK Pratama, Rizky Fajar; Budio, Sugeng P.; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1838.831 KB)

Abstract

Kebutuhan manusia untuk bangunan dan infrastruktur tiap tahun mengalami peningkatan. Hal ini secara langsung membuat kebutuhan akan bahan baku bangunan juga meningkat. Efisiensi, peningkatan dan inovasi bahan baku menjadi hal yang perlu diperhatikan. Beton didapat dari campuran pasir, kerikil dan semen. Jika penggunaaan bahan pembuat beton ini tidak terkontrol dengan baik, ditakutkan akan terjadi kerusakan alam yang ditimbulkan oleh kegiatan eksplorasi yang berlebihan. Penelitian ini menguji kekakuan struktur balok beton bertulang dengan lubang (hollow core) di tengah balok. Pengujian ini terfokuskan pada struktur balok. Penelitian menggunakan benda uji balok berpenampang persegi dengan tiga buah lubang persegi dengan arah memanjang balok terletak di tengah badan balok. Untuk memudahkan dalam proses pembuatan benda uji, maka lubang diisi dengan styrofoam diletakkan dibawah garis batas pemisah bagian tarik dan tekan penampang (garis netral). Dengan asumsi, penggunaan beton di bagian tarik struktur balok kurang efisien karena beton sangat lemah terhadap tarik dan hanya untuk menyalurkan gaya yang diterima oleh struktur balok tersebut akibat beban. Penelitian ini menunjukkan hasil berat volume balok beton dengan lubang dimensi 5 x 10 x 60 cm,  balok beton dengan lubang dimensi 7 x 10 x 60 cm, dan balok beton dengan lubang dimensi 9 x 10 x 60 cm berturut-turut mengalami penurunan sebesar 13,92%; 15,04%; dan 18,34% dibandingkan dengan berat volume balok beton tanpa lubang. Kekakuan balok beton mengalami penurunan dikarenakan lendutan yang terjadi pada balok beton dengan lubang lebih besar dibandingkan dengan balok beton tanpa lubang. Nilai kekakuan balok beton berlubang 5 x 10 x 60 cm, 7 x 10 x 60 cm, dan 9 x 10 x 60 cm berturut turut sebesar 580,66 kg/mm; 568,62 kg/mm; dan 566,79 kg/mm. Penurunan ini tidak signifikan dibandingkan dengan penurunan berat volume yang terjadi. Kata kunci: balok, berat volume, beton, hollow core, kekakuan.
PERILAKU LENTUR DAN POLA RETAK DINDING PANEL JARING KAWAT BAJA TIGA DIMENSI AKIBAT BEBAN LATERAL SIKLIK Aldian, Farli; Wibowo, Ari; Simatupang, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya batu bata adalah material yang paling sering digunakan dalam membuat dinding pada bangunan. Namun, dengan kemajuan pada bidang teknologi infrastruktur  ztelah muncul lagi salah satu jenis dinding yang dapat dijadikan alternatif dalam pembangunan, yaitu dinding panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) yang terdiri dari shotcrete, wiremesh, dan expanded polystyrene (EPS). Pada aplikasinya diawalmaterial ini digunakan sebagai komponen struktural yang menahan beban lateral tetapi informasi serta literatur mengenai perilaku dari PJKB-3Dmasih sulit ditemukan. Pada penelitian terdapat 2 (dua) variasi dinding yaitu M4 dan M8. Setiap variasi terdapat 3 (tiga) benda uji dengan ukuran 900 x 600 mm, f’c ± 21 MPa dan rasio perbadinga tinggi dan lebar sebesar 1,5. Penelitian dilakukan dengan memberikan beban lateral siklik dari dua arah sampai dinding mengalami kegagalan dengan kontrol pada defleksi. Data yang dihasilkan dari eksperimen adalah beban dan perpindahan untuk setiap siklus. Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa dinding dengan M4 dan M8 memiliki kapasitas rata-rata beban lateral tidak jauh berbeda tetapi mekanisme kegagalan yang terjadi pada dinding dengan RWC4 adalah lentur geser sedangkan M8 mengalami kegagalan penetrasi leleh. Kata Kunci:lentur, mekanisme keruntuhan,  dinding panel,  siklik.
ANALISIS PUSHOVER UNTUK PERFORMANCE BASED DESIGN (STUDI KASUS GEDUNG B PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI DAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS BRAWIJAYA Febriana, Anisa; ., Wisnumurti; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.699 KB)

Abstract

Gempa merupakan salah satu bencana alam yang waktu dan tempatnya tidak dapat diprediksi serta banyak memakan korban jiwa. Diperlukan perencanaan bangunan tahan gempa yang baik agar korban jiwa dapat dihindari. Salah satu perencanaan terbaru untuk bangunan tahan gempa adalah Perencanaan Berbasis Kinerja (Performance Based Design). Tujuan dari perencanaan bangunan berbasis kinerja dalah agar perencana dapat menetapkan kondisi apa yang terjadi pada bangunan saat gempa maksimum terjadi. Dengan menggunakan program komputer SAP 2000 maka akan didapatkan kinerja bangunan yang ditunjukan dengan titik kinerja. Titik kinerja didapatkan dari perpotongan kurva demand dan kapasitas. Kurva demand menggunakan respon spektrum, kurva kapasitas di dapatkan dari kurva analisis pushover. Hasil studi kasus pada bangunan gedung berdasarkan ATC 40 bahwa gedung berada dalam tingkat kinerja Segera Huni/Immadiate Occupancy. Hal ini ditunjukan dari titik kinerjanya yaitu Sd dan Sa (0,0209 dan 0,125). Kata Kunci: Analisis pushover, Performance Based Design, Titik kinerja
EVALUASI PERFORMA GEDUNG MENGHADAPI BEBAN GEMPA BERDASARKAN SNI 03-1726-2012 DAN SNI 03-1726-2002 Studi Kasus: Gedung PTIIK Universitas Brawijaya Jokhu, Paulus Daniel; Wibowo, Ari; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.137 KB)

Abstract

Dalam merencanakan sebuah gedung dengan ketinggian diatas 40 m, aspek beban gempa sangat mempengaruhi perencanaan tersebut. Sedangkan yang dapat menahan beban gempa ataupun beban lateral yang terjadi adalah struktur kolom dari gedung itu sendiri, pada dasarnya kolom berfungsi sebagai sistem penopang suatu gedung sedangkan balok dan plat adalah system penghubungnya, untuk itu perencanaan interaksi kolom sangat penting jika gedung direncanakan dapat menahan beban gempa rencana.Sistem rangka yang terdiri dari balok dan kolom disebut juga Sistem Rangka Pemikul Momen berdasarkan SNI 03-1726-2012. Dimana interaksi antara balok dengan kolom yang saling berhubungan, mengakibatkan perilaku gedung yang dapat berdilatasi sampai kemampuan rencana tergantung dari kategori SRPM yang direncanakan. Selain itu dengan sistem rangka tersebut, bangunan umumnya memiliki kemampuan yang tinggi dalam berdeformasi akibat beban gempa. Hal ini disebabkan oleh sambungan antar frame sehingga titik perpindahan dari bangunan tersebut berfariasi. Sehingga, apabila terjadi beban lateral, mode shape yang terjadi pada gedung tersebut akan semakin banyak. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan bahwa simpangan antar lantai (story drift) dan defleksi pada tiap joint yang ditinjau menggunakan peraturan SNI 03-1726-2012, lebih konservatif dan layak digunakan untuk perencanaan bangunan tahan gempa juga lebih aman karena memberikan batasan untuk simpangan ijin yang lebih kecil yaitu 1,5%hn. Kata kunci: bangunan tahan gempa, sistem rangka pemikul momen, SNI 03-1726, simpangan, defleksi
PENGARUH LETAK BUKAAN PADA BEBAN RUNTUH DINDING BATA TERKEKANG (Confined Masonry) YANG DIBEBANI SECARA SIKLIK LATERAL Narayana, Jalu; Dewi, Sri Murni; N., Christin Remayanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi gempa bumi di Indonesia diperkuat dengan adanya data geogfrafis yang menunjukan bahwa wilayah Indonesia mempertemukan lempeng Indo-Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Gaya gempa bertransformasi menjadi gaya lateral pada struktur bangunan. Bata merah adalah bahan bangunan yang umum digunakan sebagai pembentuk dinding rumah tinggal masyarakat Indonesia. Pada penelitian ini, dilakukan analisa berkaitan dengan adanya letak lubang/bukaan terhadap kapasitas runtuh dinding terkekangdengan memberikan beban siklik lateral dengan deformasi sebesar ∆ dan dianggap runtuh jika drift mencapai 1% dari tingginya. Dinding yang diuji adalah dinding model dengan ukuran 120 cm × 120 cm × 4 cm, dan ukuran bukaan adalah 36 cm × 80 cm, terdiri dari 2 Dinding A (tanpa bukaan), 3 Dinding B (bukaan tengah) dan 3 Dinding C (bukaan tepi). Dari percobaan menunjukan kapasitas runtuh Dinding A memiliki nilai tertinngi, kemudian Dinding C, dan Dinding B memiliki nilai terendah. Pola retak yang terjadi pada Dinding A menunjukan kegagalan geser saja, akan tetapi pada Dinding B dan C menunjukan keruntuhan kombinasi geser-tarik. Kata kunci: Gempa, lubang/bukaan, beban siklik lateral, kapasitas runtuh, pola retak  
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BAMBU DAN PELAPISAN BATU APUNG TERHADAP KUAT LENTUR BETON RINGAN Alista, Fenty Putri; Dewi, Sri Murni; Arifi, Eva
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.564 KB)

Abstract

Penelitian tentang beton terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Salah satunya adalah penelitian tentang beton ringan. Beton ringan sangat banyak dikembangkan karena manfaatnya yang dapat mengurangi berat sendiri suatu bangunan, sehingga efek gempa terhadap bangunan dapat diminimalisir. Salah satu cara membuat beton ringan adalah dengan mengganti agregat kasar dengan batu apung. Pada penelitian ini digunakan dua variabel bebas yaitu variasi penambahan serat bambu dan pelapisan batu apung. Variasi penambahan serat bambu yang digunakan yaitu 0%, 1%, 1.2%, dan 1.4% terhadap berat semen sedangkan batu apung yang digunakan adalah batu apung tanpa pelapisan dan batu apung dengan pelapisan. Benda uji yang digunakan memiliki dimensi 15 x 15 x 60 cm untuk selanjutnya dilakukan pengujian lentur dengan beban dua titik di 1/3 bentang tengah. Berdasarkan hasil analisis varian satu arah, didapatkan Fhitung 0.490 dan Ftabel 3.24 untuk pengaruh variasi penambahan serat pada beton tanpa pelapisan. Sedangkan pada pengaruh variasi penambahan serat dengan pelapisan didapatkan Fhitung sebesar 2.492 dan Ftabel 3.24. Pada pengujian t yang berguna untuk mengetahui pengaruh pelapisan batu apung pada beton ringan didapatkan nilai Thitung sebesar -0.479 untuk variasi serat bambu 0%, 1.121 untuk variasi serat bambu sebesar 1%, -2.05 untuk variasi serat bambu sebesar 1.2%, dan -0.957 untuk variasi serat bambu sebesar 1.4% dengan Ttabel sebesar +/-2.306. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis varian dan uji t, penambahan serat bambu dan dan pelapisan batu apung masih belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kuat lentur beton ringan. Namun jika dilihat dari kuat lentur rata-rata, kuat lentur pada beton ringan baik tanpa pelapisan maupun dengan pelapisan mengalami kenaikan sairing dengan penambahan serat.   Kata kunci: beton ringan, batu apung, pelapisan, serat bambu, kuat lentur
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BAMBU DAN PELAPISAN BATU APUNG TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN Abadiah, Yuli Nur; Dewi, Sri Murni; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.469 KB)

Abstract

Beton merupaka bahan konstruksi yang paling banyak dipakai di Indonesia, namun bahan penyusunyang pakai semakin terbatas. Dengan adanya perkembanganteknologi material, khususnya teknologi beton, muncul ide untukmemanfaatkan material organik sebagai bahan penyusun. Batu Apung merupakan bagian dari agregat alami yang memiliki berat jenis 1600 kg/m3.Pelapisan dilakukan dengan menggunakan lem beton dan pasir. Pada penelitian ini, objek yang diamati yaitu, Silinder beton agregat kasar batu apung tanpa pelapisan dan Silinder beton agregat kasar batu apung dengan pelapisan. Kedua jenis silinder beton tersebut masing-masing ditambahkan serat bambu sebesar 0%, 1%, 1,2%, dan 1,4%. Masing - masing silinder uji tiap prosentase penambahan serat dikedua jenis beton menggunakan 5 benda uji. Diameter silinder 15 cm dan tinggi silinder 30 cm. Uji tekan dilakukan setelah silinder beton berumur 28 hari Hasil kuat tekan beton ringan tanpa pelapisan batu apung mengalami kenaikan nilai kuat tekan dengan penambahan serat bambu dari 0%, 1%, 1,2% dari berat semen, tetapi nilai kuat tekan menurun ketika serat bambu ditambahkan sebesar 1,4 % dari berat semen. Hasil kuat tekan beton ringan dengan pelapisan batu apung mengalami penurunan nilai kuat tekan dari penambahan serat sebesar 0% ke 1%, hal ini disebabkan karena faktor nilai slump yang rendah pada penambahan serat 0% dan nilai slump tinggi pada penambahan serat sebesar 1%. Nilai kuat tekan pada penambahan serat 1% ke 1,2% mengalami kenaikan. Untuk nilai kuat tekan dengan penambahan serat 1,2% ke 1,4% mengalami penurunan. Sama seperti hasil sebelumnya faktor yang mempengaruhi juga sama, yaitu faktor penambahan air untuk mencapai nilai slump tertentu. Kata kunci: beton ringan, batu apung, pelapisan batu apung, serat bambu, kuat tekan
INTERAKSI RASIO TULANGAN DAN MUTU BETON TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BERTULANGAN BAMBU DENGAN KAIT Muttaqin, Abdillah; Dewi, Sri Murni; N., Christin Remayanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.089 KB)

Abstract

Penggunaan beton bertulang di masyarakat semakin meningkat untuk konstruksi, dengan hanya menggunakan tulangan baja sebagai satu-satunya bahan tulangan pada beton bertulang diperlukan alternatif pengganti tulangan baja.Inovasi yang diperlukan adalah tulangan yang murah, dapat diperbarui, dan mudah didapat salah satunya yaitu bambu. Bambu sendiri memiliki kekurangan yaitu bersifat higroskopis,cara yang coba digunakan untuk mengatasi kekurangan pada sifat bambu yaitu dengan pelapisan pada tulangan bambu dan ditambahkannya pengait agar mengurangi sifat higroskopis dan meningkatkan tegangan lekat.Pada penelitian ini digunakan 24 benda uji balok dan 16 benda uji pull-out untuk mengamati interaksi rasio tulangan dan mutu beton terhadap kuat lentur balok. Rasio tulangan yang digunakan pada penelitian ini 0,8% dan 1,6%, sedangkan mutu beton yang digunakan 20MPa dan 30 MPa. Berdasarkan hasil metode anova didapatkan bahwa tidak terdapat interaksi yang signifikan antara rasio tulangan dengan mutu beton terhadap kuat lentur balok bertulangan bambu dengan kait dimana didapat nilai f hitung lebih kecil dari f tabel dengan tingkat ketidakpastian sebesar 5% dan dengan analisis kontras perbandingan beban maksimum didapatkan hasil yang berbanding lurus dengan metode anova dimana nilai presentase interaksi antara mutu beton dengan rasio tulangan hanya sebesar 1,06 %. Analisis kontrasperbandingan lendutan didapat nilai presentase interaksi antara mutu beton dengan rasio tulangan sebesar 12,25%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa interaksi mutu beton dan rasio tulangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kuat lentur balok  bertulangan bambu dengan kait. Kata kunci: tulangan bambu dengan kait, rasio tulangan, mutu beton, kuat lentur

Page 2 of 10 | Total Record : 98