cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2020)" : 54 Documents clear
STUDI PENILAIAN INDEKS KINERJA IRIGASI DAN ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN PEMELIHARAAN (AKNOP) PADA DAERAH IRIGASI SURAK KECAMATAN LAWANG KABUPATEN MALANG Iqbal, Muhammad; Prayogo, Tri Budi; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan Aset Irigasi dibutuhkan sebagai manajemen untuk aset irigasi sehingga dapat terus mempertahankan kondisi dan fungsi dari aset tersebut. Daerah Irigasi Surak mempunyai bangunan pengambilan yang terletak pada Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Saluran Primer Irigasi Surak berada pada sepanjang jalan nasional melintasi Kecamatan Purwosari Kabuapten Pasuruan. Dari hasil inventarisasi data awal yang didapatkan pada tahun 2018, terdapat 2 titik kerusakan yang ada pada saluran dan setelah dilakukan inventarisasi ulang menjadi 21 titik kerusakan yang terdiri dari 1 bangunan liar yang terdapat pada tengah saluran, 14 kerusakan lining saluran, dan 6 saluran yang dipenuhi oleh sedimen dan sampah. Untuk indeks kinerja irigasi dari Daerah Irigasi Surak mendapatkan nilai sebesar 77,56% (Kondisi Sedang) dimana untuk aspek prasarana fisik sebesar 39,1%, aspek ketersediaan air 5,4%, aspek indeks pertanaman sebesar 4,4%, aspek sarana penunjang O&P sebesar 7,8%, aspek organisasi dan personalia sebesar 10,8%, aspek dokumentasi sebesar 3,8%, dan aspek perkumpulan petani pemakai air sebesar 6,3%. Perhitungan prioritas Daerah Irigasi Surak dengan menggunakan metode ranking dimana mengurutkan dari nilai aset terendah ke tertinggi. Sehingga didapatkan hasil dimana 24 aset dengan kondisi sedang, 43 aset dalam kondisi baik, dan 146 dalam kondisi baik sekali. Untuk perhitungan AKNOP didapatkan sebesar  Rp. 1.561.741.648,82 dengan Rp. 208.506.890,00 untuk biaya operasi dan Rp. 1.353.234.758,82 untuk biaya pemeliharaan. Sementara untuk penanganan rehabilitasi nya didapatkan untuk 24 aset membutuhkan pemeliharaan berkala bersifat perbaikan, 43 aset membutuhkan pemeliharaan berkala bersifat perawatan, dan 146 aset cukup dilakukan pemeliharaan rutin. Irrigation Asset Management is required as management for irrigation assets to maintain the value of asset’s function and condition. Surak Irrigation Area’s intake building is located in Lawang Subdistrict, Malang Regency. Surak Irrigation Primary Channel is located along the national road, passing through Purwosari Subdistrict, Pasuruan District. From the intial data that obtained in 2018, there were 2 points of damage in the channel. After resurveying in 2020, there are 21 points of damage consisting of 1 illegal building in the middle of the channel, 14 points of damage to channel’s lining, 6 section of channel that filled with waste and sediment. For the irrigation performance index of the Surak Irrigation Area yield the value of 77.56% (moderate condition) where for the physical infrastructure aspect is 39.1%, the water availability aspect is 5.4%, the planting index aspect is 4.4%, the operation and management supporting facilities aspect is 7.8%, organizational and personnel aspect is 10.8%, documentation aspect is 3.8%, and Irrigation user farmer association aspects are 6.3%. Calculation of the priority of Surak Irrigation Area is using the ranking method, which ranks from the lowest to the highest asset value. So that the results obtained where 24 assets are in moderate condition, 43 assets are in good condition, and 146 are in very good condition. For Real Cost Value of Maintaining and Operating Irrigation calculation, it is Rp. 1,561,741,648.82 with Rp. 208,506,890.00 for operating costs and Rp. 1,353,234,758.82 for maintenance costs. While for rehabilitation, it is found that 24 assets need regular maintenance and repair, 24 assets need regular maintenance, and 146 assets need to be done routinely.
STUDI KELAYAKAN RENCANA PEMBANGUNAN EMBUNG PENIWEN DESA PENIWEN KECAMATAN KROMENGAN KABUPATEN MALANG Ferina, Marisa Ayu; Limantara, Lily Montarcih; Sholichin, Moh.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.Malang Regency is an agricultural area with a population of 2,544,315 (BPS Kab Malang, 2018), therefore it requires the availability of raw water for irrigation. The effect of climate change is that water is reduced and many springs die in the dry season, so the construction of embung is the main solution. This study aims to determine the feasibility of developing the Peniwen Embung in terms of technical and economic aspects. From the technical analysis, the Peniwen Embung can accommodate a volume of water of 52,032.55 m3 with an irrigation area of 75 hectares. While the storage simulation, Peniwen Embung can meet the needs of irrigation water with the cropping pattern of Rice-Padi-Palawija. From the calculation results, the development value is Rp. 6,185,840,000 including Value Added Tax (VAT). Under normal conditions, the NPV value = Rp. 794,466,428, B / C = 1,116, EIRR = 14,440%. Benefit condition decreased by 10%, fixed cost obtained NPV = Rp. 31,998,961, B / C = 1,005, EIRR = 12.102%. Conditions for benefits and fixed costs, one year late implementation, the NPV = Rp. 77,759,182, B / C = 1,133, EIRR = 12,216%. It was concluded that the construction of the Peniwen Embung was technically and economically feasible to BUILD.Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.
STUDI KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN PERCENT NORMAL INDEX (PNI) DI SUB DAS KADALPANG KABUPATEN PASURUAN Dukhosagt, Aini Nurnabilla; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada Kabupaten Pasuruan di tahun 2018, terdapat 20 desa di 5 kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah rawan bencana. Maka perlu dilakukan studi analisis indeks kekeringan untuk dapat meminimalkan kerugian dan penanggulangan maupun penanganan bencana sesuai skala prioritasnya. Analisis indeks kekeringan meteorologi menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan metode Percent Normal Index (PNI). Hasil indeks kekeringan meteorologi kemudian dianalisis kesesuaian dengan indeks kekeringan hidrologi metode Standardized Streamflow Index (SSI) guna mengetahui metode yang lebih sesuai di Sub DAS Kadalpang. Kejadian kekeringan terparah metode SPI pada periode defisit 1, 3, dan 6 bulanan pada tahun 2018 sedangkan pada periode defisit 12 bulanan pada tahun 2004. Untuk metode PNI terjadi sepanjang tahun pengamatan kecuali 2010. Setelah dilakukan analisis kesesuaian, diperoleh hasil korelasi lemah dan hasil kesesuaian yang rendah dengan membandingkan pola dan klasifikasi. Sehingga dilakukan perbandingan pola dengan debit dan curah hujan untuk memperkuat pengambilan keputusan. Perbandingan pola dengan metode PNI memperoleh kesesuaian terbesar, sebesar 69% dan 85%. Hasil peta persebaran kekeringan dalam kurun waktu 20 tahun melanda hampir seluruh desa di Sub Das  Kadalpang yang terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus, September dan Oktober.In Pasuruan Regency in 2018, there were 20 villages in 5 sub-districts that were designated as disaster-prone areas. So it is necessary to do a drought index analysis study to be able to minimize losses and mitigate and handle disasters according to the priority scale. Meteorological drought index analysis uses the Standardized Precipitation Index (SPI) method and the Percent Normal Index (PNI) method. The results of the meteorological drought index were then analyzed according to the hydrological drought index using the Standardized Streamflow Index (SSI) method to determine which method was more suitable in the Kadalpang Sub-watershed. The worst drought incidence was in the SPI method in the deficit period 1, 3, and 6 months in 2018 while in the 12-month deficit period in 2004. For the PNI method occurred throughout the observation year except 2010. After the suitability analysis was carried out, the results of weak correlation and low conformity were obtained by comparing patterns and classifications. So that the comparison of patterns with discharge and rainfall is carried out to strengthen decision making. The comparison of the pattern with the PNI method obtained the greatest suitability, amounting to 69% and 85%. The results of the map of the distribution of drought over a period of 20 years that hit almost all villages in Sub Das Kadalpang which occurred in June, July, August, September and October.
Penerapan Metode Theory of Run untuk Perhitungan Kekeringan Meteorologi di DAS Welang Harjono, Marie Augustin Alvidian Pangestuti Ais; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang yang berada di wilayah DAS Welang merupakan wilayah yang dinyatakan darurat kekeringan. Analisis indeks kekeringan dibutuhkan di DAS Welang untuk mengetahui peta sebaran berdasarkan tingkat kekeringannya. Dalam studi ini digunakan perhitungan besarnya indeksmkekeringan meteorologi metode Theory of Run yang distandarisasi dengan metode Z-Index untuk mengetahui jumlah dan durasi kekeringan, kemudian dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi berdasarkan data debit dengan perhitungan metode Z-Index guna mengetahui tingkat kesesuaian metode Theory of Run di DAS Welang. Metode Theory of Run menunjukkan terjadinyagdurasigkekeringangterpanjanggselamag25 bulan, dengangjumlah kekeringan terbesar yaitu 1410 mm. Z-Index dari Theory of Run menghasilkan indeks kekeringan terbesar dengan nilai 3,82 dan indeks kekeringan terkecil dengan nilai -3,05. Perhitungan data debit dengan Z-Index menghasilkan nilai indeks kekeringan terbesar 2,22 dan indeks kekeringan terkecil sebesar -2,18. Analisis kesesuaian kedua indeks kekeringan menghasilkan persentase kesesuaian 35,29% - 51,47% yang dinyatakan memiliki Hubungan Langsung Positif Lemah. Peta sebaran kekeringan digambar menggunakan metode IDW. Tahun terkering terjadi di tahun 2001, 2007, dan 2008. Terdapat 59 kejadian kekeringan parah pada rata-rata 41 desa yang terjadi di bulan Februari, April, dan Desember di DAS Welang. Pasuruan Regency and Malang regency which are in Welang watershed area are declared as drought emergency areas. Drought index analysis in Welang watershed is needed to have information about drought distribution map according to the level of drought. This study is performed the calculation of meteorological drought index using Theory of Run method which is standardized with Z-Index method to find out the amounts and duration of drought, then will be compared with hydrological drought index based on dicharge data calculated using Z-Index method to find out the suitability level of Theory of Run method in Welang watershed. Theory of Run method shows the longest drought duration occured for 25 months, and the highest number of drought is 1410 mm. Z-Index of Theory of Run produced the highest drought index value (3,82) and the smallest drought index value (-3,05). The calculation of discharge data with Z-Index method produces the highest drought index value (2,22) and the smallest drought index (-2,18). Conformity percentage results of conformity analysis of the two drought indexes are 35,29% - 51,47% which stated that have a Weak Positive Direct Relationship. The drought distribution map is drawn using IDW method. The driest years occured in 2001, 2007, and 2008. There were 59 severe drought events in an average of 41 villages that occured in February, April, and December in Welang watershed.