Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"1990: HARIAN BALI POS"
:
8 Documents
clear
EVALUASI KRITIS PASCA UMPTN 1990
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.085 KB)
      Hasil seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) Tahun 1990 pada tanggal 4 Agustus 1990 yang lalu telah diumumkan secara serentak melalui berbagai jalur; masing-masing ialah jalur perguruan tinggi negeri (PTN), jalur panitya ujian masuk lokal (PUML) dan melalui jalur media massa.      Seperti yang terjadi pada tahun-tahun yang silam maka peristiwa pengumuman hasil seleksi PTN biasanya diwarnai dengan bercampurnya suka dan duka; suka bagi yang sukses dan dinyatakan diterima menjadi "warga" baru PTN, dan duka bagi yang gagal dan dinyatakan tidak diterima sebagai "keluarga" baru PTN. Secara kuantitatif bisa dipastikan bahwa jumlah yang sukses jauh lebih kecil dari jumlah yang gagal; sehingga setiap ditemukan sekeping kesukaan maka akan dijumpai berkeping-keping kedukaan.      Meskipun peristiwa pengumuman hasil seleksi PTN merupakan peristiwa yang rutin dan sudah membiasa; akan tetapi peristiwa tersebut tetap saja merupakan peristiwa memorial bagi sementara pesertanya, baik yang sukses maupun yang gagal.      Dengan telah diumumkannya hasil UMPTN tersebut di atas maka selesailah sudah proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri untuk periode 1990 ini. Tugas Depdikbud (dan kita) selanjutnya adalah mengadakan evaluasi kritis terhadap keseluruhan proses seleksi pada PTN tersebut; hal-hal yang positif dilestarikan, hal-hal yang negatif dibuang, sedangkan hal-hal yang problematis perlu segera diantisipasi untuk dicarikan solusinya.
PERLU PENERTIBAN UT KAMPUS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.967 KB)
      Penjelasan Rektor UT, Prof. DR. Setijadi, tentang eksistensi UT Kampus baru-baru ini barangkali cukup melegakan masyarakat; meskipun dapat dipastikan bahwa tidak seluruh anggota masyarakat dapat memahami isi penjelasan serta strategi yang diambil oleh pucuk pimpinan perguruan tinggi "termodern" di Indonesia itu.      Dalam penjelasannya Pak Setijadi menegaskan bahwa UT Kampus bukanlah perguruan tinggi, akan tetapi sekedar tempat bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh pihak swasta bagi para mahasiswa UT. Kedudukan UT Kampus dapat disejajarkan dengan Bimbingan Tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri); dan sebagai usaha bimbingan belajar maka lembaga itu tidak perlu meminta ijin berdirinya dari UT maupun Kopertis.      Mahasiswa UT Kampus adalah mahasiswa PTN karena mereka adalah mahasiswa UT; artinya yang masuk UT Kampus maka mestinya terlebih dulu sudah menjadi mahasiswa UT. Dengan demikian status kemahasiswaan yang melekat pada mahasiswa yang mengikuti proses belajar belajar pada UT Kampus adalah dikarenakan karena ke-UT-annya, bukan dikarenakan ke-UT Kampus-annya.
POTRET MAHASISWA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.007 KB)
      Kesibukan yang paling menyita waktu bagi lulusan SMTA sekarang ini adalah berkompetisi mencari informasi tentang pergu-ruan tinggi sekaligus berkompetisi memperebutkan kursi belajar di perguruan tinggi; baik perguruan tinggi negeri, PTN, maupun perguruan tinggi swasta, PTS.      Mengapa kegiatan tersebut menyita waktu? Karena kompetisi masuk perguruan tinggi, PTN atau PTS, sekarang ini sangatlah ketat, sehingga apabila dirinya tidak siap untuk berkompetisi maka jangan diharapkan cita-cita untuk dapat melanjutkan belajar pada perguruan tinggi akan dapat kesampaian.      Kita bisa mengambil contoh sbb: ujian tulis masuk PTN tahun 1988 diikuti oleh 436.230 kandidat untuk memperebutkan "hanya" 71.000 kursi belajar; sehingga setiap kursi belajar PTN diperebutkan oleh 6 atau 7 kandidat. Kondisi ini tetap bertahan pada penerimaan mahasiswa baru PTN tahun 1989, dan diprediksikan tetap bertahan lagi untuk tahun 1990 ini; artinya setiap kursi belajar pada PTN diperebutkan oleh 6 atau 7 kandidat.
DAMPAK PP NO:28 TAHUN 1990
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.007 KB)
      Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya tanggal 10 Juli 1990 Presiden Soeharto menetapkan beberapa Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur berputarnya roda-roda pendidikan di Indonesia; salah satu di antaranya adalah PP No:28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar.      Masyarakat Indonesia memang sudah cukup lama menantikan terbitnya PP tersebut yang merupakan penjabaran operasional dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Dengan lahirnya PP tersebut tentu saja arah pendidikan nasional kita akan semakin jelas, di samping itu rambu-rambu lalu lintas pendidikan telah terpasang.       Secara filsafati rambu-rambu lalu lintas pendidikan tersebut memang perlu dipasang dengan jelas supaya kita tidak salah dalam memilih jalan menuju sasaran yang telah ditetapkan; yaitu tujuan pendidikan nasional yang kita cita-citakan bersama.
PENDIDIKAN BAGI BANGSA SELATAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.073 KB)
      "Challenge to The South", itulah hasil rumusan 26 ahli negara-negara "Selatan" yang dibawa Mantan Presiden Tanzania yang kini mengabdikan diri di dunia pendidikan dan kemanusiaan, Julius K. Nyerere, untuk dikomunikasikan kepada Presiden RI Soeharto di Jakarta baru-baru ini.      Dalam menghadapi globalisasi dunia sekarang ini maka kerja sama "Selatan-Selatan" memang makin diperlukan adanya. Berkait-an dengan itu maka Nyerere berhasil menghimpun kawan-kawannya dari negara-negara yang senasib untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman sehingga akhirnya berhasil menyusun suatu rumusan untuk membangun negara-negara "Selatan".      Secara jujur memang harus diakui bahwa dalam meng hadapi era industrialisasi dan globalisasi dunia akhir-akhir ini maka negara-negara "Selatan" banyak mengalami ketertinggalan. Ibaratnya kalau negara-negara di luarnya sudah maju empat lima langkah maka negara-negara "Selatan" baru maju satu langkah; itupun dengan susah payah.
ANTARA HARKAT DAN RISIKO KULTURAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.456 KB)
      Kehadiran tenaga kerja wanita benar-benar telah memperoleh sambutan "welcome" dari masyarakat; sementara itu pemerintah sendiri menyikapi hal ini secara proporsional, terbukti tidak jarang mendudukkan wanita pada berbagai pos kerja yang sangat strategis.       Dalam struktur kepegawaian pun wanita mendapatkan tempat yang cukup istimewa; misalnya dari segi kuantitas maka dari sebanyak 3.529.640 pegawai negeri sipil di Indonesia (data tahun 1987) maka sebanyak 1.091.571 orang di antaranya, atau sebesar 30,92%, merupakan tenaga kerja wanita. Periksa Tabel 3!      Lebih dari itu secara kualitatif pemerintah pun mengambil kebijakan untuk mendudukkan tenaga kerja wanita pada pos-pos "kunci"; misalnya diangkatnya beberapa wanita Indonesia sebagai menteri negara, sebagai rektor perguruan tinggi negeri, sebagai pimpinan perusahaan, sebagai kepala kantor pemerintah, sebagai duta bangsa di dalam moment-moment internasional, dan sebagai-nya.
PROSPEK TENAGA KERJA WANITA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.363 KB)
Masalah tenaga kerja wanita senantiasa memperoleh perhatian secara khusus dari para pengamat; hal ini disebabkan karena kompleksnya problematika yang dihadapi oleh tenaga kerja wanita itu sendiri, baik dalam kaitannya dengan pengembangan potensi pribadinya maupun dalam kaitannya dengan perikehidupan berkeluarga dan sekaligus bermasyarakat. Kemajuan suatu negara dari era praindustri menuju era industri, atau dari era industri menuju era pasca industri (mengacu terminologi Daniel Bell di dalam "The Post Industrial Society") makin memberikan peluang bagi kaum wanita untuk mengembangkan diri-pribadinya melalui kesertaannya sebagai tenaga kerja pada berbagai bidang; antara lain di bidang politik, sosial, teknologi, dsb. Pada sisi yang lain peluang-peluang yang diberikan kepada kaum wanita tersebut semakin banyak pula yang oleh keluarga dan masyarakat di sekitarnya dianggap akan mengancam harkatnya sebagai wanita; sebagai misal adalah berbagai "pekerjaan malam" bagi kaum wanita, atau jenis-jenis pekerjaan tertentu yang menyebabkan wanita harus berpisah dengan keluarganya dalam waktu yang relatif lama. Wanita-wanita Indonesia yang secara mandiri bekerja di manca negara kiranya masuk dalam kriteria itu.
BELAJAR EFEKTIF DI PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.724 KB)
Berdasarkan pengamatan terhadap kalender akademik pada berbagai perguruan tinggi maka Bulan September biasanya ditandai dengan dimulainya proses belajar mengajar bagi para mahasiswanya; dan para mahasiswa baru pun mulai merasakan suka-dukanya menerima pelajaran dan tugas-tugas dari para dosennya. Secara empiris banyak mahasiswa baru yang mengalami sedikit keterkejutan yang disebabkan oleh perubahan sistem (shock by changing of system); dari sistem di SMA yang semula serba "menerima" berubah pada sistem baru di perguruan tinggi yang harus banyak berinisiatif. Apabila sewaktu belajar di SMA maka hampir segalanya ditentukan oleh sang guru, kini mereka harus lebih banyak belajar secara mandiri; ke perpustakaan sendiri, menyelesaikan tugas sendiri, berkonsultasi sendiri, dan sebagai-nya. Pada sisi yang lain relatif banyak pula di antara mahasiswa yang terpaksa mengalami kegagalan ("drop-out") disebabkan karena kurang memahami sistem yang utuh, termasuk di dalamnya sistem pencapaian prestasi yang dimanifestasikan dalam satuan Indeks Prestasi (IP).