Articles
7 Documents
Search results for
, issue
"1990: HARIAN SUARA KARYA"
:
7 Documents
clear
GURU SD KINI DAN MENDATANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.473 KB)
      SKH "Suara Karya" edisi 1/5/90 menurunkan artikel tentang pendidikan guru SD dan masalahnya yang ditulis oleh mantan Rektor IKIP Negeri Yogyakarta, Prof. Drs. St. Vembriarto. Secara analitis beliau mencoba mengemukakan pandangannya tentang permasalahan pendidikan guru SD dari waktu ke waktu, beserta prediksinya di masa mendatang.      Tulisan ini mencoba melihat sosok guru SD kita, kini dan mendatang, sekaligus sebagai bahan perbandingan terhadap apa yang dikemukakan oleh Prof. Drs. St. Vembriarto. Kebetulan baru-baru ini saya memperoleh kehormatan memimpin seminar hasil penelitian tentang pengaruh latar belakang guru terhadap prestasi belajar siswa sekolah dasar (SD) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).       Konklusi umum penelitian menyatakan bahwa makin tinggi latar belakang pendidikan (formal) guru SD berakibat pada semakin tingginya prestasi belajar siswanya.      Secara metodologis tim peneliti yang bekerja atas sponsor PEMDA setempat membagi latar belakang pendidikan guru SD menjadi empat kelompok; yaitu kelompok para guru lulusan SPG, guru lulusan D2 PT, guru lulusan D3/sarjana muda PT, serta guru lulusan S1/sarjana PT.
RISIKO PEMAKAIAN NILAI EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.356 KB)
      Berbicara tentang instrumen untuk seleksi masuk pergu-ruan tinggi berarti kita tengah berbicara tentang tes prediksi (prediction test) yang moment pelaksanaannya dilakukan awal terminal. Sementara itu secara ideal dan berdasarkan argumentasi akademik maka pembuatan atau penyusunannya disarankan menggunakan pendekatan prediksi (prediction approach).      Mengapa pendekatan prediksi perlu digunakan dalam me-nyusun instrumen atau materi tes masuk perguruan tinggi? Jawabnya jelas, karena melalui pendekatan ini maka prestasi atau hasil belajar mahasiswa dapat dideteksi seawal mungkin. Sementara itu "treatment" yang perlu dilakukan oleh lembaga untuk menaikkan prestasi mahasiswanya pun dapat dilaksanakan secara efektif, karena akan lebih tepat sasarannya.       Semua itu sangat argumentatif untuk dilaksanakan karena apabila dibandingkan dengan hasil tes prestasi maka hasil tes prediksi lebih mencerminkan kemampuan dasar para calon mahasiswa untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
KONTRIBUSI TEORI KONVERGENSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.25 KB)
Setiap menjelang tahun akademik baru seperti saat ini maka setiap lembaga perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) dihadapkan pada masalah klasik tentang sistem seleksi masuk; yaitu sistem untuk menyeleksi kandidat mahasiswa baru yang benar-benar mempunyai kemampuan dasar untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Permasalahan tersebut juga dihadapi oleh masyarakat kita pada umumnya, khususnya bagi anggota masyarakat yang secara langsung mempunyai kepentingan untuk "mengkapling" kursi belajar pada perguruan tinggi; karena sebelum mendapatkan kursi belajar mereka akan dihadapkan pada sistem seleksi tersebut. Tahun ini penyelenggaraan seleksi masuk pada PTN dikemas dalam bentuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) serta diselenggarakan secara serempak tanggal 20 dan 21 Juni 1990 pada berbagai tempat di seluruh wilayah Nusantara; sedangkan untuk PTS waktu penyelenggaraannya sangat bervariasi, akan tetapi pada umumnya dilaksanakan lebih dari satu gelombang. Pada berbagai PTS bahkan ada yang sampai tiga atau bahkan empat gelombang.
REFUNGSIONALISASI SMTP KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (129.028 KB)
Dengan telah diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP Nomer 29/1990 tentang Pendidikan Menengah maka persoalan yang kemudian timbul dan menghangat sekarang ini adalah akan segera akan diakhirinya aktivitas akademis Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP) Kejuruan. Mengacu pada PP Nomer 28/1990 maka secara jelas dan tegas disebutkan bahwa jangka waktu pendidikan dasar di Indonesia adalah sembilan tahun. Pasal 1 ayat (1) PP tersebut secara tegas menyebutkan bahwa pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, di-selenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar dengan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, atau sa-tuan pendidikan yang sederajat. Dengan ditetapkannya jangka waktu pendidikan da-sar selama sembilan tahun itu berarti bahwa sekarang ini telah terjadi perubahan konsepsi yang cukup fundamental mengenai pendidikan dasar; yaitu dari enam tahun menjadi sembilan tahun. Perubahan konsepsi ini akan membawa dam-pak yang sangat besar pada bidang pendidikan itu sendiri.
"KEKUATAN" WANITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.444 KB)
Bahwa kaum wanita itu memiliki berbagai kelebihan tertentu bila dibandingkan lawan jenisnya kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi. Barangkali atas kenyataan inilah maka proses emansipasi wanita di Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan Ibu Kartini, dapat berjalan dengan cukup lancarnya; meskipun bukan berarti tidak ada hambatan sama sekali. Tokoh pendidikan nasional kita yang amat familiar dalam soal "didik mendidik" Ki Hadjar Dewantara menunjuk salah satu kelebihan kaum wanita terletak di dalam soal memberikan pendidikan pada sang anak. Kaum wanita secara alamiah mempunyai kelebihan menyambung "tali rasa" dalam proses mendidik sang anak; yang mana "tali rasa" ini merupakan unsur psikologis yang sangat penting peranannya dalam memberhasilkan suatu proses pendidikan. Secara ilmiah hipotesis Ki Hadjar tersebut pernah dibukti-kan oleh Frances P. Lawrenz and Wayne W. Welch melalui temuan-temuan dalam penelitiannya.
YANG SALAH DALAM PENGAJARAN MATEMATIKA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.649 KB)
Tiga kali berpartisipasi dan tiga kali pula tidak sanggup berprestasi. Itulah nasib pelajar Indonesia yang dikirimkan pada forum olimpiade Matematika tingkat dunia yang hanya diselenggarakan satu kali dalam setiap tahun; disebut International Mathematics Olympics (IMO). Forum IMO diikuti oleh para pelajar yang berasal dari sekitar 50 negara; dan untuk pertama kalinya pelajar Indonesia mengambil bagian dalam IMO tahun 1988 yang lalu yang berlangsung di Canbera, Australia. Satu tahun berikutnya, tahun 1989, pelajar Indonesia kembali berpartisipasi pada IMO yang dilangsungkan di Braunschweig, Jerman Barat; dan pada tahun 1990 ini pelajar Indonesia kembali berpartisipasi pada kegiatan IMO yang dilangsungkan di Beijing, China. Hasilnya .....? Ternyata pelajar Indonesia selalu mendapatkan juara; akan tetapi dari urutan terbawah. Di Australia (1988) pelajar kita menduduki ranking pertama dari bawah, selanjutnya di Jerman Barat (1989) pelajar kita menduduki ranking kedua juga dari bawah; sedangkan di China (1990) pelajar kita kembali menduduki ranking kedua, juga dari bawah.
MASIH MISKIN: PENELITIAN SOSIO-KULTURAL PERTANAHAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.569 KB)
Masalah pertanahan di Indonesia makin lama terasa semakin kompleks saja; berbagai kasus saling bermunculan di sana-sini, baik kasus-kasus pertanahan yang melibatkan orang per orang secara individual maupun kasus-kasus pertanahan yang melibatkan banyak orang secara massal. Berbagai ilustrasi dapat diangkat; kasus "gubug 1 milyar", kasus pembebasan tanah di Kedung Ombo, kawasan segitiga emas, kasus ketidakberesan sertifikasi tanah di berbagai tempat, kasus double-registered dan sebagainya. Itu semua hanya merupakan sedikit ilustasi dari banyak kasus pertanahan yang terjadi di negara kita pada akhir-akhir ini. Kasus-kasus ini nampaknya menempatkan masalah pertanahan pada posisi yang semakin "crucial" saja. Demikian banyaknya kasus-kasus pertanahan di negara kita akhir-akhir ini nampaknya telah mengundang para pejabat pemerintah untuk memberikan "warning" kepada masyarakat; dari Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Menteri Dalam Negeri, Panglima ABRI, sampai Presiden.