Articles
6 Documents
Search results for
, issue
"1991: HARIAN SUARA MERDEKA"
:
6 Documents
clear
RASIONALISASI DI DUNIA PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (245.829 KB)
Gagasan rasionalisasi dalam dunia perbankan yang berkembang akhir-akhir ini cukup menyita perhatian kita; dan sudah barangtentu gagasan yang nampaknya segera akan menjadi kenyataan tersebut telah membuat cemas atau bahkan membuat stress bagi yang terkena dampaknya. Sejumlah besar karyawan dari tiga bank pemerintah, masing-masing adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank Bumi Daya (BBD) sedang berada dalam keadaan terancam oleh PHK, atau apalah nama "halus"nya, sebagai manifestasi dari kebijakan rasionalisasi tersebut.
Khabar yang cukup mencemaskan tersebut seterusnya disusul berita baru dari Jawa Timur; konon Perumtel III yang berkantor pusat di Surabaya akan mengurangi 275 kar yawannya secara bertahap. Dari Jawa Timur juga diperoleh berita bahwa Perusahaan Daerah (PD) di daerah tersebut konon juga sedang memikirkan diaplikasikannya rasionali-sasi karyawan demi pencapaian efektivitas dan efisiensi kerja yang optimal.
Bagaimana dengan karyawan di lingkungan instansi atau lembaga pendidikan? Disadari atau tidak, nampaknya keadaan ini juga telah melanda dunia pendidikan meskipun di dalam skala yang tidak sama. Beberapa sekolah swasta dari berbagai jenjang pendidikan yang kekurangan siswa konon terpaksa mem-phk-kan sebagian para gurunya. Apakah argumentasinya? Apalagi kalau tidak efektivitas dan efi-siensi. Bagi sekolah swasta dengan minimnya siswa maka minim pula income sekolah; dan ....
MENGATASI PERMASALAHAN GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.646 KB)
Beberapa waktu yang lalu di Jawa Tengah dilakukan penelitian tentang perikehidupan para guru; dan hasilnya menyatakan bahwa banyak guru SD di Jawa Tengah yang terkena stress. Lepas dari sejauh mana validitasnya, yang jelas temuan tersebut memang cukup menarik. Lalu, apakah korelasi temuan penelitian tersebut dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)?
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun para guru di Indonesia maka terhadap masalah-masalah keprofe-sian yang menyangkut guru memang harus menjadi perhatian PGRI; bahkan sebagai organisasi profesi sebaiknya PGRI juga memperhatikan masalah-masalah nonkeprofesian yang secara langsung dan tidak langsung akan berkaitan dengan profesi guru. Tegasnya: bila para guru tengah menghadapi stress maka sudah sepantasnya PGRI segera membantu untuk memecahkan masalah tersebut agar supaya kadar keprofesi-an anggotanya tidak terganggu. Apalagi kalau stress yang dihadapi oleh para guru tersebut justru disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan profesinya.
Benarkah banyak guru yang kini mengalami stress? Rasanya memang ya! Kenapa? Karena banyak guru yang masih bingung, kurang paham, serta kurang siap mengantisipasi peraturan "baru" berkaitan dengan kenaikan jabatannya!Banyaknya keluhan guru yang diekspresikan dalam berbagai forum dialog, melalui surat kabar, atau ketika "omong-omong" di waktu luang merupakan indikator mengenai kebi-ngungan, kekurang-pahaman, serta kekurang-siapan itu.
AKTUALISASI KONSEP KI HADJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.316 KB)
Jauh hari sejak sebelum dilaksanakan maka Kongres Kebudayaan 1991 sempat mengundang berbagai opini masyarakat; dari yang positif sampai yang negatif. Opini yang positif sangat banyak bermunculan, dan sangat wajar adanya; akan tetapi di sisi yang lain ada opini masyarakat yang mengandung kritik dan sinisme, antara lain menyebut bahwa Kongres Kebudayaan 1991 lebih merupakan rapat kerja Depdikbud. Barangkali berangkat dari sinisme inilah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, sampai harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa Depdikbud sekedar berperan sebagai inisiator dan fasilitator.
Namanya juga orang banyak; apapun jenis aktivitas yang dilakukan biasanya selalu mengundang opini masyara-kat, baik positif maupun negatif. Hal itu biasa terjadi di negara demokrasi; baik demokrasi liberal maupun demo-krasi yang lainnya, nonliberal. Apapun opini masyarakat maka secara jujur harus diakui bahwa Kongres Kebudayaan 1991 merupakan peristiwa kebudayaan besar dan monumental bagi bangsa Indonesia. Peristiwa sejarah kebudayaan masa lalu, kini, dan mendatang kiranya akan terlihat dan ter-diskusikan dalam peristiwa ini; meskipun secara makro.
MEMBANDINGKAN PRESTASI ISPsI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (200.184 KB)
Ketika sempat memberikan presentasinya di hadapan anggota Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPsI) dalam forum kongres dan pekan ilmiah baru-baru ini Menteri KLH, Emil Salim, sempat mengekspresikan "uneg-uneg" yang lama dikandungnya. Menurut beliau, selama lebih dari 25 tahun mengabdi kepada pemerintah Pak Emil belum pernah melihat secara nyata adanya peran psikologi dalam membangun tiap kebijakan pemerintah. Oleh karenanya, Pak Emil menyarankan agar supaya peran ke arah itu harus makin diperbesar; sebab pembuatan setiap kebijakan haruslah selalu dilihat dampaknya pada perilaku manusia (SM, 5/12/91). Dalam arus globalisasi seperti sekarang ini maka dimensi materialisme dan konsumtifisme menjadi dominan, akibat pengaruh kapitalisme. Meskipun begitu materialisme dan konsumtifisme tersebut jangan dijadikan perilaku manusia secara dominan. Secara empirik segala sosok yang dominan cukup sering menyebabkan terdesaknya kepentingan umum oleh kepentingan individu. Di dalam konteks tersebut di atas Pak Emil sempat memberi ilustrasi yang konkrit; dewasa ini banyak sungai yang dijadikan "keranjang sampah" dikarenakan adanya ke-pentingan individu yang dominan, dan sudah barang tentu lebih dominan daripada kepentingan umum. Dalam ilustrasi ini rasanya terkandung harapan dan "kekecewaan" Pak Emil kepada para pengurus ISPsI untuk memainkan perannya da-lam upaya penyelarasan kepentingan umum dan kepentingan individu; hal yang belum banyak diperoleh dari ISPsI.
MENYIMAK FERTILITAS DI JAWA TENGAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (248.833 KB)
Survei "besar" tentang kependudukan dan kesehatan di Indonesia tengah berlangsung; semenjak beberapa bulan yang lalu dilaksanakan Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) atau yang lebih populer dengan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 1991. Data survei ini sudah diambil secara nasional pada Bulan Mei dan Juli 1991 yang lalu, analisis datanya sebagian sudah selesai dikerjakan, sedangkan laporan finalnya masih dalam proses penyelesaian; meskipun begitu hasil sementara untuk beberapa kasus sudah dapat dinikmati masyarakat. SDKI-91 dapat dikatakan survei yang "besar" bukan saja karena sifatnya nasional akan tetapi jumlah anggota sampel atau respondennya memang relatif besar; yaitu te-lah melibatkan lebih dari 28.000 rumah tangga dan 22.000 wanita yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuan dilaksanakannya SDKI-91 adalah untuk meng-analisis data mengenai kelahiran dan kematian, keluarga berencana (KB) serta kesehatan bayi dan anak dalam upaya pengefektivan program dan kebijakan kependudukan dan ke-sehatan di Indonesia. Survei ini merupakan proyek kerja sama antara Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Kesehatan, dan Biro Pusat Statistik. Di luar ketiga lembaga ini ada beberapa lembaga interna-sional yang memberikan subsidinya, United States Agency for International Development (USAID), United Nations Fund for Population Activities (UNFPA), serta Institute for Resource Development (IRD).
MEMPRIHATINKAN SEKOLAH "KEKERINGAN"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (45.91 KB)
Kesan pertama pada waktu mengadakan observasi di sekolah-sekolah pada minggu pertama memasuki tahun ajaran baru 1991/1992 adalah munculnya beberapa sekolah yang "kekeringan" karena tidak berhasil memperoleh siswa baru dalam jumlah yang cukup. Di beberapa daerah atau wilayah terdapat sekolah yang hanya mendapatkan siswa baru tidak lebih dari 10 orang; bahkan ada sekolah yang hanya mampu menggaet 4 siswa baru saja. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada beberapa SD tidak memperoleh siswa baru dalam jumlah yang pantas; kalau diidentifikasi barangkali ada belasan -atau lebih- SD yang siswa barunya tidak lebih dari 10 anak. Di wila-yah ini juga terdapat SMTA yang siswa barunya tak lebih dari 5 orang. Sungguh memprihatinkan! Apabila kita mengadakan observasi di dalam kancah yang lebih luas dan populasi yang lebih besar sebenarnyafenomena seperti itu telah menjangkiti beberapa propinsi sekaligus, tak terkecuali Jawa Tengah. Tahun ajaran baru kali ini rasanya membuat "pusing" para kepala sekolah serta pengelola yayasan pendidikan; masalahnya berkaitan dengan eksistensi lembaga pendidikan yang dikelolanya. Minimnya jumlah siswa mengait langsung masalah efisiensi penyelenggaraan; dan masalah efisiensi ini mengait lang-sung masalah eksistensi. Beberapa SD di Jawa Tengah ter-paksa ditutup karena jumlah siswanya yang teramat minim; beberapa SD di wilayah lain pun konon banyak yang sedang dipertimbangkan ditutup dengan alasan yang sama.