Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN"
:
10 Documents
clear
UI, BELAJARLAH KE TOKYO UNIVERSITY
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.801 KB)
CSIC, Consejo Superior de Investigaciones Cientificas, yang memiliki markas di Spanyol tanggal 30 Juli 2009 mempublikasi hasil kajian terhadap perguruan tinggi berkelas dunia dalam laporannya âRanking Web of World Universitiesâ. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia berhasil menembus daftar yang diurutkan berdasarkan kualitasnya itu; dalam hal ini terminologi kualitas didasarkan pada visibilitas dan aksesabilitas civitas perguruan tinggi terhadap internet. Â Â Â Â Â Â Â Kalau kita cermati daftar 1.000 PT berkelas dunia ternyata hanya ada dua PT Indonesia didalamnya; masing-masing adalah UGM Yogyakarta di ranking ke-572 dan ITB Bandung (727). Â Â Â Â Â Â Â Dalam daftar 6.000 perguruan tinggi berkelas dunia (Top 6.000 univer-sities) terdapat 39 perguruan tinggi Indonesia didalamnya yang terdiri dari 22 PTN dan 17 PTS. Kalau UGM Yogyakarta berada di ranking paling atas maka Unnes Semarang (5.975) di ranking terbawah di antara PTN; semen-tara itu kalau Universitas Petra Surabaya (1.080) berada di ranking teratas maka Universitas Maranatha Bandung (5.996) berada di ranking terbawah di antara PTS dimaksud.
KAPAN INDONESIA MERAIH NOBEL?
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.086 KB)
Kamis 10 Desember 2009 ini Presiden Amerika Serikat (AS) Barack H. Obama diagendakan hadir di City Hall, Oslo, Norwegia, untuk menerima hadiah nobel. Seperti kita ketahui pada bulan Oktober lalu Barack Obama telah ditetapkan sebagai pemenang hadiah nobel untuk bidang perdamaian. Â Â Â Â Â Â Â Peraih nobel tahun ini hampir semua dari AS. Nobel perdamaian untuk Barack Obama; nobel fisika untuk Charles K. Kao, Williard S. Boyle dan George E.Smith; nobel kimia Venkatraman Ramakrishnan, Thomas Steitz dan Ada Yonath; nobel kesehatan untuk Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider dan Jack W. Szostak; nobel ekonomi Elinor Ostrom dan Oliver Williamson; dan nobel sastra untuk Herta Mueller. Dari 13 nama tersebut, 11 diantaranya adalah orang AS. Â Â Â Â Â Â Â Pada hari yang sama, 10 Desember 2009, mereka menerima hadiah nobel yang diimpikannya; sebagian menerimanya di Oslo Norwegia antara lain untuk pemenang Nobel Perdamaian dan sebagiannya lagi di Stockholm Swedia antara lain untuk pemenang Nobel Fisika.
MENGINTEGRASI UJIAN NASIONAL
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.459 KB)
     Ada hal menarik disampaikan oleh Mohammad Nuh selaku menteri pendidikan; beliau berniat akan mengintegrasi ujian nasional, yang dalam hal ini adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan Ujian Nasional (UN) di SMA.        Setidaknya ada dua pertimbangan yang mendasari niatan pengintegra-sian ujian nasional tersebut di atas; pertama, anggaran negara dapat dihemat yang semula dipakai untuk membeayai dua kegiatan ujian, SNMPTN dan UN, menjadi satu kegiatan ujian saja, UN, dan yang kedua, masyarakat tak dipusingkan lagi oleh banyak kali ujian, SNMPTN dan UN, menjadi satu kali ujian saja, UN.        Niatan menteri pendidikan tersebut segera menimbulkan sikap pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi banyak guru SMA yang menyambut suka cita atas niatan tersebut karena jerih payahnya sangat dihargai dan bisa menghantarkan anak didik masuk PTN tanpa tes lagi. Sementara itu Ketua PGRI menolak niatan tersebut dikarenakan UN yang dilaksanakan selama ini hasilnya belum mencerminkan mutu siswa yang sebenarnya.
HEBOH UN ULANGAN
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.686 KB)
Menjelang hasil Ujian Nasional (UN) SMA dipublikasikan, sekarang ini terdapat kehebohan mengenai keputusan dilaksanakannya UN Ulangan di puluhan sekolah. Sebagaimana kita ketahui dalam pertemuan antara pihak pemerintah yang dalam hal ini Mendiknas beserta jajarannya dengan anggota DPR RI tanggal 8 Juni 2009 lalu diperoleh kesepakatan untuk melaksanakan ujian nasional ulang bagi 33 SMA/MA yang bermasalah. Siswa di sekolah-sekolah bermasalah yang tidak mengikuti UN ulang itu dianggap tidak lulus karena UN yang telah dilaksanakan sebelumnya dinya-takan tidak sah. Â Â Â Â Â Â Â Mengapa harus dilakukan ujian ulangan? Entahlah, yang jelas seluruh siswa alias 100 persen peserta UN di sekolah tersebut diindikasi tidak akan lulus kalau menggunakan kriteria yang sudah ditentukan. Â Â Â Â Â Â Â SMA Negeri 2 Ngawi, Jawa Timur adalah salah satu contohnya. Pada sekolah yang telah menghasilkan seorang direktur jenderal di lingkungan Depdiknas ini diindikasi sebanyak 315 peserta ujian akhirnya tidak lulus. Â Â Â Â Â Â Â Atas realitas tersebut para petinggi pendidikan di tingkat pusat, petinggi di tingkat daerah, DPR dan DPRD pun segera turun tangan. Pertemuan di antara kepala sekolah dengan pejabat daerah pun segera digelar; pertemuan antara Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan Inspektorat Jen-deral pun segera dilaksanakan; demikian pula dengan pertemuan yang lain.
MERATAKAN PT BERKELAS DUNIA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.212 KB)
Beberapa hari lalu, tepatnya 27 Januari 2009, Centro de Información y Documentación (CINDOC) dalam publikasinya âThe World Universities âRanking on the Webâ mengeluarkan daftar 5.000 perguruan tinggi terbaik dunia berdasarkan aksesabilitas dan visibilitas pendidikan melalui internet. Publikasi ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat pendidikan; khususnya pendidikan tinggi.        Sebagaimana sudah diduga sebelumnya; perguruan tinggi yang berki-prah di Amerika Serikat (AS) mendominasi papan atas. Sebanyak 104 atau 52 persen dari 200 perguruan tinggi terbaik dunia adalah perguruan tinggi yang berkiprah di AS.        Bukan itu saja, seluruh sel dalam kelompok sepuluh besar (the best ten) diisi oleh perguruan tinggi di AS; mereka itu adalah Massachusetts Insti-tute of Technology di ranking ke-1, Stanford University (ke-2), Harvard University (ke-3), University of California Berkeley (ke-4), Cornell University (ke-5), University Of Michigan (ke-6), California Institute of Tecnology (ke-7), University Of Minnesota (ke-8), University of Illinois Urbana Champaign (ke-9), dan University of Texas Austin (ke-10).
PARADOKS PENDIDIKAN TEKNIK
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.788 KB)
Baru saja saya memberikan presentasi dalam sebuah seminar nasional pendidikan bersama beberapa rektor, diantaranya Djoko Santoso (ITB), Gumilar Rosliwa Somantri (UI), Ganjar Kurnia (Unpad), dan Sunaryo Kartadinata (UPI Bandung). Â Â Â Â Â Â Â Ketika sedang berbicara tentang pendidikan teknik, para peserta semi-nar pun sempat terperangah karena ternyata pembangunan di negara kita memerlukan aplikasi teknologi yang beraneka ragam namun pemanfaatan mesin, peralatan, dan temuan teknologi lain dari pendidikan teknik kita masih jauh dari maksimal; bahkan cenderung disisihkan. Â Â Â Â Â Â Â Permasalahan lain muncul: penyelenggaraan pendidikan teknik (satuan pendidikan tinggi) kita masih terbatas jumlahnya, itu pun masih terkon-sentrasi di Pulau Jawa seperti di UI, ITB, UGM dan ITS; padahal kebutuhan atas aplikasi teknologi untuk pembangunan di luar Jawa justru lebih bera-gam dan mendesak.
MENYEIMBANGKAN PENDIDIKAN KITA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (81.783 KB)
Sebagai salah seorang wakil presiden dari suatu organisasi pendidikan tingkat internasional Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) yang bermarkas di Tokyo, kiranya wajar saja kalau saya memiliki banyak teman yang mengelola sekolah dan perguruan tinggi di Jepang, khususnya di Tokyo. Bukan itu saja, beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Jepang pun pernah saya kunjungi ?dapur?-nya. Dari beberapa kali berinteraksi dengan masyarakat Jepang, khususnya masyarakat pendidikan, ada satu hal yang membedakan karakter kaum inte-lektual Jepang dengan kaum intelektual di negara-negara lainnya termasuk Indonesia, yaitu tentang sikap kesantunannya. Jangankan siswa dan mahasiswa, dosen yang berpredikat doktor dan profesor pun senantiasa bersikap santun terhadap orang lain. Profesor Hideo Moriyama dari Kyushu University dan Mr. Horikoshi dari Ichigaya-co ada-lah contoh konkretnya. Meskipun mereka adalah orang terkenal, memiliki kedudukan terhormat dan disegani banyak orang, tetapi sikapnya senantiasa santun terhadap orang lain termasuk kepada mahasiswanya.
ARCHAMETRIC PENDIDIKAN INDONESIA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.491 KB)
Baru-baru ini Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Indonesia, Anne D. Grimes, menginformasikan bahwa Presiden Obama berkeinginan untuk meningkatkan jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di AS menjadi dua kali lipat. Hal ini menjadi kebijakan pendi-dikan AS terhadap Indonesia. Apakah kebijakan pendidikan tersebut ditentukan secara emosional mengingat pada masa kecilnya Obama pernah bersekolah di SD Negeri 01 Menteng Jakarta? Unsur emosional seperti itu mungkin saja ada akan tetapi tentu tidak sepenuhnya. Kalau kita lihat sejarah; Obama adalah seorang intelektual dan akade-misi sekaligus. Obama adalah alumni Columbia University dan Harvard University yang sebelum menjadi presiden AS sempat berpraktek sebagai pengacara dan dosen ilmu hukum di University of Chicago. Dengan latar belakang seperti ini diperkirakan kebijakan pendidikan AS terhadap Indo-nesia tersebut ada pertimbangan mutualistik didalamnya.
EKSISTENSI SEKOLAH SWASTA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (85.799 KB)
Sosialisasi sekolah gratis yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini adalah departemen pendidikan, nampaknya benar-benar efektif. Buktinya masyarakat berduyun-duyun ?menyerbu? SMP dan MTs negeri yang nota bene diselenggarakan oleh pemerintah. Dalam realitasnya banyak anggota masyarakat yang terbantu oleh kebi-jakan sekolah gratis; hal ini lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat dari kalangan bawah (grass root) yang berpenghasilan rendah (the have not). Mereka sangat terbantu dengan kebijakan pemerintah ini; bahkan ada yang sedianya tidak akan menyekolahkan anaknya dikarenakan alasan biaya akhirnya bisa menyekolahkan pula. Kebijakan sekolah gratis memang sangat argumentatif; di samping didukung oleh ketentuan perundangan utamanya UUD 1945 dan UU Sisdiknas juga oleh realitas banyaknya orang miskin di Indonesia. Masalah-nya ialah, kebijakan sekolah gratis tersebut menimbulkan permasalahan baru khususnya di kalangan penyelenggara sekolah swasta.
MEMBURU JABATAN MENTERI PENDIDIKAN
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (87.371 KB)
Rasanya memang ada benarnya; meski dengan bahasa diplomatis untuk membangun masa depan bangsa yang lebih gemilang akan tetapi koalisi antarpartai politik tidak pernah lepas dari pembagian kekuasaan (sharing of power). Bahwa secara teoretis pembagian kekuasaan tersebut merupakan bagian dari metode untuk membangun masa depan bangsa tetapi kiranya hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari motif pribadi para pemimpin partai politik yang berkoalisi. Kalau pimpinan partai politik tidak dapat mengajukan calon presiden dan wakil presiden maka hampir dapat dipastikan, setidaknya pantas dicuri-gai, mereka memburu jabatan menteri. Itulah sebabnya sekarang banyak pimpinan partai politik yang mulai ?bermanis-ria? dengan calon presiden dan wakil presiden yang diperkirakan akan terpilih. Di antara puluhan jabatan menteri maka menteri pendidikan merupakan jabatan yang paling banyak diburu. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan PKB berharap bisa menyumbangkan duapertiga suaranya dibe-rikan untuk SBY-Boediono di Jawa Timur; dan dengan sumbangan tersebut posisi Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama akan diserahkan kepada kader Nahdlatul Ulama.