cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan
ISSN : -     EISSN : 23387793     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2020)" : 5 Documents clear
JUMLAH SPERMA MOTIL YANG MEMBERIKAN KEBERHASILAN TERTINGGI PADA INSEMINASI INTRA UTERIN DI MORULA IVF JAKARTA PERIODE JUNI – OKTOBER 2018 Charit, Adwyna Bonniela; Sirait, Batara Immanuel
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infertilitas adalah kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih setelah berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Infertilitas dapat disebabkan akibat faktor pria maupun wanita. Inseminasi intra uterin (IIU) adalah salah satu bentuk pengobatan infertilitas. Prosedur yang dilakukan adalah memasukkan sperma yang telah melalui proses preparasi ke dalam kavum uteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sperma motil yang memberikan keberhasilan tertinggi pada inseminasi intra uterin di Morula IVF Jakarta periode Juni – Oktober 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian non eksperimental dan bersifat deskriptif. Data diambil secara retrospektif dengan penelusuran dokumen terdahulu yaitu rekam medis pasien yang menjalani inseminasi intra uterin di Morula IVF Jakarta periode Juni sampai Oktober 2018. Hasil penelitian akan dianalisis secara univariat. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, tingkat keberhasilan inseminasi intra uterin adalah 10%. Rata-rata motilitas sperma yang memberikan keberhasilan tertinggi adalah 78,69% sedangkan rata-rata jumlah sperma motilnya adalah 6,47 juta/ml.
LAPORAN KASUS: TATALAKSANA PASIEN LUKA BAKAR BERAT DENGAN TRAUMA INHALASI DI UNIT PERAWATAN INTENSIF Aziz, Arif Aminudin; Sobaryati
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Severe burns are burns with an area of > 25% of the body surface area that often require treatment in the Intensive Care Unit (ICU). This is especially so when inhalation trauma is suspected. The diagnosis of inhalation trauma needs to be made immediately to avoid life-threatening airway obstruction. In severe burns, there are physiological changes involving multiple organs. The handling must also involve multidisciplinary disciplines. Coagulopathy occurs immediately after burns, causing a microvascular reaction around the dermis resulting in expansion of the injury. This paper is a literature review for the requirements for intensive care consultant education exams. Case reports were obtained from ICU patients at Hasan Sadikin Hospital. The patient was treated for 5 days on a ventilator then burns treatment until he was in the High Care Unit room. The conclusion is that burns activate a systemic response due to loss of skin barrier, release of vasoactive mediators from the wound and subsequent infection. The result of this process is interstitial edema of organs and soft tissues. This process requires individual resuscitation treatment, depending on the parameters of the individual patient.
PATOFISIOLOGI GAGAL NAPAS DAN TERAPI SUPLEMEN OKSIGEN PADA COVID-19 Daradjat, Dhady Ginanjar; Maskoen, Tinni Trihartini; Redjeki, Ike Sri
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus Disease 19 diidentifikasi pertama kali pada Desember 2019 di Wuhan Cina dan saat ini menjadi pandemik seluruh negara di dunia. Meskipun jumlah pasien COVID 19 yang mengalami sakit kritis hanya sedikit, dimana membutuhkan perawatan di Intensive Care Unit dan tindakan ventilasi mekanik, namun jumlah populasi yang terinfeksi membuat sumber daya perawatan intensif menjadi terbatas. Gangguan sistem pernapasan berat merupakan salah satu permasalahan pada pasien COVID-19 dan menyebabkan angka mortalitas yang tinggi. Pemilihan terapi suplemen oksigen harus mempertimbangkan manfaat dan resiko infeksi yang dapat terjadi pada petugas kesehatan. Pemahaman mengenai patofisiologi gagal napas pada COVID-19 dan modalitas suplemen oksigen yang dapat diberikan akan membantu dalam penanganan pasien COVID-19. Tujuan penulisan ini untuk memberikan gambaran mengenai patofisiologi gagal napas pada pasien COVID-19 dan terapi suplemen oksigen yang dapat diberikan. Metode yang digunakan yaitu melalui studi pustaka dengan mengumpulkan dan mempelajari teori-teori serta informasi yang diperoleh dari buku serta menelaah dokumen dalam bentuk jurnal, internet dan makalah yang berhubungan dengan masalah penelitian. Kesimpulannya adalah Terapi suplemen oksigen merupakan salah satu strategi penanganan COVID-19 yang berat. Metode HFNC, NIV dan ventilasi mekanik adalah modalitas terapi untuk pasien gagal napas akibat COVID-19 yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pemilihan terapi suplemen oksigen juga harus mempertimbangkan kondisi pasien dan resiko penularan penyakit terhadap petugas kesehatan.
NUTRISI ENTERAL PADA PASIEN KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Wirawan Anggorotomo; Nurita Dian Kestriani
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malnutrisi merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien di rumah sakit. Sekitar 40% pasien dewasa mengalami malnutrisi sejak masuk rumah sakit, dan sebanyak dua pertiganya mengalami perburukan status nutrisi selama perawatan. Dukungan nutrisi memegang peranan penting dalam pencegahan dan penatalaksanaan defisiensi nutrisi di ICU. Rute pemberian nutrisi juga mempengaruhi hasil klinis. Terapi nutrisi secara khusus mengacu pada pemberian NE melalui akses enteral dan / atau nutrisi parenteral (NP) melalui akses vena sentral. Terapi standar mengacu pada pemberian cairan intravena (IV), tanpa NE atau NP, dan peningkatan diet oral sesuai toleransi Nutrisi enteral (NE) merupakan cara pemberian nutrisi yang relatif aman terhadap gastrointestinal dan sistem imun . Kekurangan dan komplikasi nutrisi enteral antara lain gangguan metabolik, seperti peningkatan kadar glukosa darah, ketidakseimbangan elektrolit, dan juga refeeding syndrome. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas metode pemberian nutrisi pada pasien-pasien di ICU, khususnya dengan pemberian nutrisi enteral (NE). Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dan dianalisis secara deskriptif. Kesimpulannya nutrisi enteral dapat diberikan kepada pasien ICU melalui pipa ke dalam lambung, nasogastrik tube, atau jejunal, dengan metode kontinu ataupun bolus. Namun tidak semua kasus dapat diberikan nutrisi enteral. Nutrisi enteral dapat diberikan pada pasien dengan saluran gastrointestinal yang berfungsi normal.
KARAKTERISTIK FAKTOR RISIKO ANEMIA DEFISIENSI BESI DALAM KEHAMILAN Simatupang, Januar; Togar, Yakob; Tondang, Advenny Elisabeth
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka prevalensi anemia maternal di Indonesia terus meningkat sehingga dapat menyebabkan masalah dan komplikasi selama dan setelah masa kehamilan. Beberapa faktor risiko telah dikaitkan dengan terjadinya angka kejadian anemia dalam kehamilan. Penilitian ini bertujuan untuk menghubungkan faktor-faktor risiko dengan angka kejadian anemia dalam kehamilan. Penelitian Cohort Retrospective dilakukan terhadap ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dari periode Januari 2018-Maret 2019 di Puskesmas Manggarai Selatan (n=56) , sampel dari populasi terdiri menjadi kelompok ibu hamil sehat (n=28) dan ibu hamil anemia (n=28). Beberapa faktor risiko yang dihubungkan adalah usia ibu, kenaikan berat badan selama hamil, IMT(Indeks Masa Tubuh) sebelum hamil, waktu saat pemberian tablet tambah darah pertama,paritas,pendidikan,dan usia kehamilan saat terdeteksi anemia. Wanita hamil dengan IMT kurang (RR 2,3 95% CI, p <0,002), wanita multipara (RR 1,3 95% CI, p <0,007), dan kehamilan trimester ketiga (RR 1,6 95% CI, p <0,03) meningkatkan risiko anemia pada kehamilan. Memulai suplementasi zat besi dari trimester pertama mengurangi risiko anemia (RR 0,4 95% CI, p <0,006) dan signifikansi statistik ditunjukkan dengan p-value <0,05). Meskipun dianggap tidak signifikan secara statistik, pendidikan tingkat rendah (RR 2,1 95% CI), dan kenaikan berat badan kehamilan yang kurang (RR 1,4 95% CI) menunjukkan kemungkinan peningkatan anemia pada kehamilan. IMT sebelum hamil, pemberian tablet tambah darah pertama kali, paritas dan usia kehamilan diasosiasikan dengan kejadian anemia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5