cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
PEMAKNAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT KESENIAN DAN KEBUDAYAAN DI YOGYAKARTA Serafiani Turkaemly Eka Putri
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.99-108

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana makna ataupun nilai dari Taman Budaya Yogyakarta bagi masyarakat mengingat keberadaannya sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta. Setiap ruang publik seharusnya tidak hanya hadir secara fisik akan tetapi dapat memberi rasa atau makna tersendiri bagi kota (“places” matter most), bagaimana suatu ruang publik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kota akan adanya sebuah wadah interaksi sosial antar masyarakat. Taman Budaya Yogyakarta merupakan salah satu ruang publik yang dijadikan masyarakat sebagai tempat berekreasi serta aktivitas seni dan kebudayaan. Taman Budaya Yogyakarta atau yang dulu disebut dengan Purna Budaya, pertama kali dibangun pada tanggal 11 Maret 1977 di daerah kawasan Universitas Gadjah Mada. Taman Budaya dibangun kembali pada tahun 2002 di Kawasan Gondomanan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan wawancara secara online melalui aplikasi WhatsApp serta metode studi pustaka. Hasilnya, diketahui bahwa Taman Budaya Yogyakarta memiliki makna kultural, makna sosial (interaksi individu dengan lingkungannya), makna pentingnya relasi antar manusia, dan memiliki makna harmonisasi kehidupan sosial dan budaya. Makna suatu ruang publik bisa terbentuk dari tatanan serta keadaaan fisik ruangnya. Kata kunci: Makna, Ruang Terbuka Publik, Taman Budaya Yogyakarta ABSTRACT. This study aims to find out how the meaning or value of the Taman Budaya Yogyakarta for the community, given its existence as a centre for arts and culture in Yogyakarta. Every public space should not only be physically present but can give a sense or meaning to the city ("place" matter most), how public space can meet the needs of the city community for a place of social interaction between communities. Taman Budaya Yogyakarta is one of the public spaces used by the community as a place of recreation and artistic and cultural activities. Taman Budaya Yogyakarta or formerly called Purna Budaya was first built on March 11, 1977, in the area of Gadjah Mada University. The Cultural Park was rebuilt in 2002 in the Gondomanan Region. The method used is to conduct online interviews through the WhatsApp application and literature study method. As a result, it is known that the Taman Budaya Yogyakarta has a cultural meaning, a social meaning (the interaction of individuals with their environment), the importance of relationships between people, and meaning of harmony in social and cultural life. The meaning of a public space can be formed from the physical structure and condition of the space.Keywords: Meaning, Public Space, Taman Budaya Yogyakarta
SRATEGI SPASIAL KALANGAN TIONGHOA DI KAUMAN SURAKARTA Firda Nurjanah; Andika Saputra
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.29-36

Abstract

ABSTRAK. Indonesia terkenal dengan keragaman budaya yang disisi lain dapat memunculkan suatu perbedaan. Dari perbedaan tersebut, tidak jarang memunculkan sebuah konflik yang berujung pada kekerasan. Seperti halnya konflik antara Tionghoa dengan pribumi muslim yang sudah ada sejak kedatangan Belanda. Penelitian kali ini berada di Kauman, Surakarta dimana kampung ini tidak hanya dihuni oleh kaum muslim melainkan juga Tionghoa. Dengan adanya dua komunitas yang berbeda identitas dalam satu tempat serta sejarah konflik antara Tionghoa dengan muslim dimungkinkannya terjadi sebuah pergesekan dan perbedaan. Identitas yang dimaksud adalah Jawa Muslim dengan Tionghoa non-Muslim. Dari uraian tersebut, langkah pertama yang dilakukan yakni mengetahui strategi spasial kalangan Tionghoa dalam memasuki Kampung Kauman. Langkah pertama tersebut berfungsi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai interaksi yang akan terjadi. Selain itu, penelitian ini dilakukan guna mencegah dampak terjadinya konflik sosial di kawasan Kauman kedepannya. Penelitian ini menggunakan metode induksi kualitatif dengan penekanan pada proses observasi, wawancara dan pemetaan. Hasil yang diperoleh yakni terdapat tiga strategi spasial yang dapat membentuk pola ruang. Kata kunci: Strategi Spasial, Kalangan Tionghoa, Kauman Surakarta ABSTRACT. Indonesia is famous for its cultural diversity, which, on the other hand, can make a difference. From these differences, it is not uncommon for a conflict to lead to violence. Such is the case with conflicts between Chinese and native Muslims that have existed since the Dutch's arrival. The research this time was in Kauman, Surakarta, where Muslims and Chinese inhabit this village. With the existence of two communities with different identities in one place and the history of conflict between Chinese and Muslims, it is possible to have friction and differences. The identity in question is Javanese Muslim and Chinese non-Muslim. From this description, the first step taken was to know the Chinese's spatial strategy in entering Kauman Village. This first step serves to find out more about the interactions that will occur. Also, this research was conducted to prevent future impacts of social conflict in the Kauman area. This study used a qualitative induction method with an emphasis on the process of observation, interview, and mapping. The results obtained are that three spatial strategies can form spatial patterns Keywords: Spatial Strategy, Chinese Circle, Kauman Surakarta
PEMBACAAN POLA TATA RUANG HUNIAN TRADISIONAL MELAYU BANGKA BERDASARKAN LAGU DAERAH BANGKA “YO MIAK” Nudia Aufia; Andika Saputra
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.119-130

Abstract

Berbicara tentang relevansi situasi dan kondisi kini, tak lepas dari gerak serta ruang lingkup yang menjadi medium bernama pola tata ruang. Tata ruang ini berperan menaungi masyarakat dalam berekspresi. Akan tetapi pada praktiknya, elemen ruang menjadi tidak kontekstual dikarenakan keegoisan diri guna mengejar perkembangan. Oleh karena itu, menghadapi hal ini diperlukan adanya suatu pendekatan untuk memahami korelasi antara dua problematika terkait agar mempermudah tercapainya satu titik temu. Pemilihan Lagu Daerah “Yo Miak” sebagai pendekatan memaknai falsafah kehidupan masyarakat Melayu Bangka yang memiliki implikasi terhadap pola tata ruang hunian dan perkampungan merupakan salah satu cara untuk menjawab permasalahan yang ada terkait pemaknaan budaya. Karena lirik dari lagu “Yo Miak” mengandung nilai-nilai keutamaan keseharian Melayu Bangka. Dimana bila di lakukan analisa yang lebih mendalam, filosofi tersebut menyiratkan aktivitas masyarakat Melayu dan lebih dari itu diketahui juga pola ruang. Pada intinya kedua hal ini, antara lagu daerah dan pola tata ruang (arsitektur) memiliki kesamaan sebagai output dari suatu masa utamanya kejayaan kebun lada yang kini mulai punah. Dengan harapan dapat saling menyokong satu sama lain menjawab tantangan yang sama pula yaitu masa depan.  Adapun tujuan dari penelitian kualitatif interpretatif ini ialah mengetahui unsur inti, organisasi dan faktor dari pola tata ruang hunian dan permukiman tradisional Melayu Bangka berdasarka lagu “Yo Miak”. Sehingga menciptakan kehidupan seimbang dimana masyarakat bersandingan dengan alam dan budaya yang telah saling mendewasakan.KATA KUNCI: : Pola tata ruang hunian, hunian Melayu Bangka, pola permukiman, permukiman tradisional Melayu Bangka, lagu  “Yo Miak”
KAMPUNG VERTIKAL SEBAGAI STRATEGI URBAN RENEWAL DI KAMPUNG LUMUMBA, SURABAYA Annisa Nur Ramadhani
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.109-118

Abstract

Kampung is a settlement that have unique characteristic both in physical and socio-cultural condition. Kampung development process tends to be natural and non-formal, but mainly have faced the environmental degradation and lack of facilities. This forced the government to have some intervention in developing kampung housing by perform an urban renewal. Due to the problem of scarcity of land, urban renewal strategy of kampung has to be developed vertically. This also consider the social context that the rearrangement of kampung area is not done by relocating the local residents, but rearranging the original area to improve the community through environmental, social and economic quality improvement.
KAJIAN RUMAH GABA-GABA DI PERKOTAAN MERAUKE Yashinta Irma Pratami Hematang; Mukhlis Alahudin; Diana S Susanti
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.35-44

Abstract

ABSTRAK. Merauke sebagai kabupaten terujung timur dari wilayah NKRI, selain dikenal dengan area perbatasannya juga menghasilkan tanaman sagu (Metroxylon sp.). Bagian dari tanaman sagu yaitu pelepahnya kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat setempat menjadi material penyusun dinding rumah. Berdasarkan hasil wawancara, rumah ini selanjutnya dikenal masyarakat Merauke dengan sebutan Rumah Gaba-Gaba. Penerapan Rumah Gaba-Gaba bukan hanya ada di daerah perkotaan tetapi dijumpai juga di daerah lain seperti pedalaman di sekitar Distrik Merauke. Untuk di daerah kota, Rumah gaba-gaba semakin berkurang. Pembelajaran detail sambungan kontruksi gaba-gaba di bangku perkuliahan jurusan bangunan (arsitektur dan teknik sipil) juga sekolah menengah kejuruan bidang teknik bangunan juga tida dijumpai. Penelitian ini kemudian bertujuan melihat bagaimana detail sambungan pelepah sagu pada dinding Rumah Gaba-Gaba di perkotaan Merauke serta menemukan bagaimana potensi dan tantangan pelestarian Rumah Gaba-Gaba dalam kaitannya dengan akses memperoleh material sagu di daerah perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, jenis metode yaitu observasi terlibat dan pengambilan data ethnografis. Teknik pengambilan data secara tidak acak, teknik purposive sampling. Observasi/pengamatan dan wawancara dengan teknik penyajian data yaitu dengan verbatim. Hasil penelitian ini adalah gambar sambungan dinding pelepah sagu dimana terdapat kayu list ukuran 2/2 mengapit gaba-gaba, antar gaba disambung dengan tusukan bambu (seperti tusukan sate) dengan jarak antar tusukan adalah tidak saling sejajar secara vertikal dan juga kajian potensi dan tantangan pelestarian rumah material sagu area perkotaan Merauke. Kata kunci: pelepah sagu, dinding, material lokal ABSTRACT. Merauke, the easternmost district of the Republic of Indonesia, besides being known for its border area, also produces Metroxylon sp., the sago plants. Part of the sago plant, namely sago midrib, is then used by the local community to become the building material for the walls of the houses. Based on the interview results, information was obtained that this house was later known as Rumah Gaba-Gaba. The application of Rumah Gaba-Gaba exists in urban areas and can also be found in other areas such as the rural around Merauke District. The application of Rumah Gaba-Gaba exists in urban areas and can also be found in other areas such as the rural around Merauke District. However, it is found that the application of Gaba-Gaba wall construction is decreasing in urban areas. Then learning the details of this construction in the lectures majoring in building (architecture and civil engineering) and vocational high schools in building engineering is not there. This research then aims to see how the details of the connection of the sago midrib on the walls of the Rumah Gaba-Gaba in Merauke city and find out how the potencies and challenges of preserving the Rumah are preserved Gaba-Gaba are related to access to sago material in urban areas. This research uses qualitative research methods. The types of methods are involved observation and ethnographic data collection. The collecting data is not a random, purposive sampling technique—observations and interviews with data presentation techniques, namely verbatim. The results of this study are a picture of the connection of the Gaba-Gaba wall where there is a list of 2/2 size wood flanking the Gaba-Gaba. Between the Gaba is connected with a bamboo puncture (such as a satay puncture). The distance between the punctures is not parallel to each other vertically. It is also a study of the potential and challenges for the conservation of sago material houses for the urban area of Merauke.Keywords: sago midrib, wall, local material
TINDAKAN KOLEKTIF AKTIVIS KAMPUNG MISKIN KOTA DALAM PERENCANAAN DESAIN KAMPUNG SUSUN BAHARI AKUARIUM, PENJARINGAN JAKARTA UTARA Deni Hardiawan Putra
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.45-56

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini menganalisis tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota dalam perencanaan desain Kampung Susun Bahari Akuarium menggunakan teori Strategic Action Fields (SAFs). Tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota telah dibentuk sejak penggusuran Kampung Akuarium. Mereka membuat rancangan desain kampung susun sebagai kampanye anti penggusuran. Tindakan kolektif tersebut membuat Aktivis Kampung Miskin Kota memiliki posisi tawar dalam kebijakan perumahan rakyat yang berhubungan dengan kampung miskin kota. Beragam tindakan kolektif mereka lakukan selama periode kontestasi sosial pasca penggusuran salah satunya perencanaan desain pembangunan kembali Kampung Akuarium. Setelah proses kontestasi sosial selesai tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota mengalami perubahan. Peneliti ingin mendalami perubahan tersebut dengan melakukan penelitian studi kasus. Peneliti melakukan proses pengumpulan data primer melalui wawancara dan observasi penelitian selama bulan Februari hingga April 2021. Sementara pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi literatur jurnal-jurnal penelitian, dokumentasi foto dan mengikuti webinar yang membahas Kampung Akuarium. Penelitian ini menemukan tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota berkembang seiring keterlibatan mereka dalam perencanaan desain Kampung Kampung Susun Bahari Akuarium. Tindakan kolektif yang dibentuk Aktivis Kampung Miskin Kota dengan Pemprov DKI Jakarta menghasilkan ide baru tentang Kampung Susun (vertical house) sebagai model hunian baru yang selaras dengan peraturan tata ruang wilayah dan aspek sosial-budaya yang sudah terbentuk sejak lama. Kata Kunci: Tindakan Kolektif, Aktivis Kampung Miskin Kota, Perencanaan Desain, Kampung Susun Bahari Akuarium ABSTRACT. This study analyzes the collective action of the Urban Poor Activist in planning the design of the Kampung Susun Bahari Akuarium using the Strategic Action Fields (SAFs) theory. The collaborative action of the Urban Poor Activist has been formed since the eviction of Kampung Akuarium. They drafted the design of the flats as an anti-eviction campaign. This collective action has made the Urban Poor Activist have a bargaining position in public housing policies related to urban poor villages. They took various collective actions during the post-eviction period of social contestation, one of which was the planning for the redevelopment of the Akuarium Village. After the social contestation process was completed, the collective actions of the Urban Poor Activist changed. Researchers want to explore these changes by conducting case study research. Researchers conducted the primary data collection process through interviews and research observations from February to April 2021. Meanwhile, secondary data collection was carried out by studying literature in research journals, photo documentation, and attending webinars discussing Akuarium Village. This study found that the collective action of the Urban Poor Activists developed along with their involvement in the design planning of the Kampung Susun Bahari Aquarium. The collaborative action formed by the Urban Poor Activist with the DKI Jakarta Provincial Government resulted in a new idea of Kampung Susun (vertical house) as a new residential model. It is in line with regional spatial planning regulations and socio-cultural aspects that have been formed for a long time. Keywords: Collaborative action, Urban Poor Activist, Design Planning, Kampung Susun Bahari Akuarium
PENETAPAN KAWASAN BERSEJARAH SEBAGAI SEBUAH USAHA PELESTARIAN Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.1-8

Abstract

ABSTRAK.  Sebuah Kawasan bersejarah yang memiliki nilai sejarah dan berkarakter akan menjadi lebih signifikan jika telah ditetapkan sebagai sebuah Kawasan bersejarah secara hukum baik dengan ketetapan tingkat lokal, nasional maupun internasional. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai apa itu penetapan Kawasan bersejarah dan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat khususnya dan negara umumnya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode eksploratif dengan pembahasan menggunakan pendekatan deskriptif naratif. Narasi hasil yang dipaparkan dalam artikel ini adalah bagaimana manfaat penetapan Kawasan bersejarah menjadi signifikan ketika dikaitkan dengan identitas sebuah bangsa umumnya dan sebuah kota khususnya. Kata Kunci: Kawasan bersejarah, pelestarian, penetapan, identitas ABSTRACT. A historic area with historical value and character will be more significant if legally designated as a historical area with local, national, or international regulations. This paper aims to examine more deeply what the designation of a historical site is and how it benefits the community in particular and the country in general. The method used in this study is an explorative method with a discussion using a descriptive narrative approach. The final result presented in this article is how the benefits of establishing a historic area become significant when associated with the identity of a nation in general and a city in particular. Keywords: historical site, preservation, designation, identity
ANALISIS BIAYA PERUBAHAN SPESIFIKASI FASAD GREEN BUILDING DENGAN METODE VALUE ENGINEERING Jimmy Adriyatno
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.57-66

Abstract

Fasad berkinerja tinggi bukan hanya pembatas antara interior dan eksterior, fasad juga direncanakan dengan sistem untuk menciptakan ruang yang nyaman dengan secara aktif merespons lingkungan luar bangunan dan secara signifikan mengurangi konsumsi energinya. Fasad memengaruhi anggaran energi dan kenyamanan penghuninya lebih dari sistem lainnya, terutama fasad tipe kaca. Suhu, kelembaban, angin, curah hujan, radiasi matahari, dan karakteristik zona iklim lainnya harus dipertimbangkan saat membuat strategi desain untuk meminimalkan dampak kondisi lingkungan eksternal dan mengurangi konsumsi energi. Penelitian ini membantu menentukan kualitas dan kinerja bahan fasad dan analisis dampaknya pada biaya awal dan biaya konsumsi energi untuk penciptaan green building. Studi kasus pada penelitian ini adalah gedung 9 lantai di Jakarta yang menggunakan tipe fasad dinding jendela kaca tetap. Penelitian ini menganalisis 3 pilihan jenis material kaca yaitu kaca laminasi, kaca IGU dan kombinasi kaca laminasi di sisi utara dan selatan bangunan serta kaca IGU di sisi timur dan barat. Material alumunium juga memiliki 2 jenis pilihan yaitu insulated profile dan non insulated profile. Hasil analisis menunjukkan bahwa kenaikan biaya awal cukup tinggi untuk kaca IGU dengan kenaikan biaya 43% dari pada yang sudah ada, namun akan terjadi penghematan biaya pemakaian energi listrik pada AC dengan penghematan konsumsi energi sebesar 30%.
SIKAP PEJALAN KAKI TERHADAP SETING RUANG TRANSISI PARAGON MAL SEMARANG tri susetyo andadari
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.9-24

Abstract

ABSTRAK. Ruang transisi merupakan ruang penyangga atau ruang pengantar atau ruang peralihan atau ruang penghubung menuju ruang utama, yang fungsinya sebagai perekat antar ruang dan memberikan pengantar akan pengalaman meruang berikutnya, serta memberikan jeda kepada pengguna ruang untuk beraktivitas sebelum memasuki ruang utama. Ruang transisi penting sebagai pembentuk persepsi seseorang terhadap ruang selanjutnya, sehingga dalam perancangannya perlu mempertimbangkan sikap perilaku pengguna sebagai dasar mendesain ruangan. Permasalahan utama yang tampak pada ruang transisi pada obyek studi adalah adanya kemacetan pada ruang transisi, akibat bertemunya pejalan kaki dengan kendaraan bermotor yang bisa mempengaruhi kenyamanan pejalan kaki.Penelitian ini berusaha mengetahui dan menjelaskan permasalahan dengan paradigma kuantitatif, dengan cara berfikir deduktif, dengan tipologi pendekatan adalah positivistik, dengan metode analisis statistik deskriptif. Penelitian ini berusaha mengetahui kaitan antara sikap pejalan kaki terhadap seting ruang transisi (ruang antara pagar pintu masuk kawasan sampai dengan pintu masuk utama gedung) pada obyek studi, terkait dengan kenyamanan fisik, kenyamanan sirkulasi dan kenyamanan aksesibilitas.Hasil akhir menunjukkan bahwa adanya kaitan antara sikap pejalan kaki dengan seting ruang transisi terkait atribut kenyamanan fisik, kenyamanan sirkulasi dan kenyamanan aksesibilitas. Indikator kenyamanan yang paling menonjol adalah panas, tidak adanya pembatas bagi pejalan kaki dan kendaraan bermotor, terganggunya pejalan kaki ketika berpapasan dan jarak pencapaian yang tidak efektif. Kata kunci: Sikap, Seting Ruang, Ruang Transisi ABSTRACT. The transitional space is a buffer room or threshold room or transition room or connecting room to the main room, which has many functions as a connector between spaces and provides an introduction to the experience of the next room and gives an interlude before entering the main room. The transitional space is essential as forming perception of the next space, so it is necessary to consider man behaviour as the basis for designing it. The main problem in the Object study transition room is the congestion due to the meeting of pedestrians with vehicles that can affect the comfort of pedestrians.This research tries to identify and explain the problem with a quantitative paradigm, deductive thinking, with the typology of a positivistic approach, and descriptive statistical analysis methods. This research seeks to determine the relationship between pedestrian attitudes towards the setting of the transition space (the space between the entrance gate to the main entrance of the building) in the object study, especially to physical, circulation, and accessibility convenience.The final result shows a relationship between pedestrian attitudes and the arrangement of the transitional space related to the attributes of physical, circulation, and accessibility comfort. The most prominent indicators of comfort are heat, the absence of barriers for pedestrians and motorized vehicles, disruption of pedestrians when passing, and distances that are ineffective to reach. Keywords: Attitude, Room Setting, Transitional Space
KORESPONDENSI KETIDAKTERSEDIAAN RUANG MAKAN TERHADAP JENIS HUNIAN MELALUI PENDEKATAN GROUNDED THEORY Sarah Heriyanti Putri; Hanson Endra Kusuma; Annisa Safira Riska
NALARs Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.21.1.67-74

Abstract

ABSTRAK. Ruang makan pada hunian umumnya menjadi tempat untuk mewadahi kegiatan makan, pengolahan makanan, penyimpanan bahan pokok dan makanan siap saji. Namun, penghuni diberbagai hunian masih menggunakan ruang lain sebagai wadah kegiatan tersebut disebabkan keterbatasan ruang untuk memuatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor ketidaktersediaan Ruang Makan pada berbagai jenis hunian seperti Apartemen, Rumah, Indekos, dan Rusun. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap alternatif ruang kegiatan makan penghuni berdasarkan jenis hunian. Penelitian dengan metode kualitatif ini menggunakan pendekatan grounded theory serta pengumpulan data melalui kuesioner daring. Hasil penelitian menemukan sebanyak 24,86% responden dari jenis Apartemen, Rumah, Indekos, dan Rusun yang tidak memiliki Ruang Makan untuk mewadahi kegiatan makan, mengolah makanan dan menyimpan makanan. Pada penelitian ini disimpulkan kegiatan makan pada hunian yang tidak memiliki ruang makan dapat dilakukan di Ruang Tamu, Ruang Keluarga, Ruang Kerja dan Ruang Tidur. Kata kunci: jenis hunian, kegiatan makan, ketidaktersediaan ruang, ruang makan. ABSTRACT. The dining room in residential generally provides a place to accommodate eating activities, food processing, storage of staples, and faster food storage. However, residents in various dwellings still use other spaces to carry out these activities due to the limited space to accommodate them. This study aims to determine the unavailability of the dining room for various types of housing such as vertical houses, landed houses, boarding houses, and flats. Furthermore, this study also reveals alternative dining rooms based on the type of occupancy. This qualitative study with a grounded theory approach also collects data through an online questionnaire. This study found that 24.86% of respondents in various types of housing such as vertical houses, landed houses, boarding houses, and flats did not have space for a dining room to accommodate eating, processing food, and storing food. This study reveals that eating activities can be carried out in the Drawing Room, Living Room, Study Room, and Bedroom for residents who do not have a dining room. Keywords: dining room existence, dwelling types, eating activities, unavailable space

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue