cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
JENIS DAN MAKNA JALAMBA (PAGAR ADAT) SEBAGAI PENCIRI IDENTITAS DAERAH GORONTALO Abdi Gunawan Djafar
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.1-10

Abstract

ABSTRAK. Indonesia dengan banyaknya suku dan budayanya kaya akan keragaman arsitekturnya. Tradisi dan budaya di tiap daerah, meskipun berbeda-beda tapi menghasilkan karya arsitekur tradisional yang ternyata memiliki benang merah antara satu dengan yang lainnya. Rumah panggung di berbagai daerah memiliki pagar pembatas pada teras atau serambi yang memiliki nilai makna, fungsi, dan keindahannya. Salah satu pagar pembatas tersebut adalah jalamba dari daerah Gorontalo yang umumnya digunakan pada upacara adat pernikahan, kedukaan, dan lain-lain. Jalamba ini juga menjadi pagar penciri identitas adat daerah-daerah di Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang jalamba, jenis dan makna dari jalamba melalui kajian literatur, wawancara, dan pengamatan terhadap rumah panggung tempat jalamba yang digunakan saat ini. Setelah dianalisis melalui teropong sejarah dan kebudayaan, hasil penelitian menunjukkan dua dari enam jenis jalamba saat ini telah menjadi penciri identitas daerah Gorontalo. Kata kunci: Rumah panggung, Pagar pembatas, Pola dan Ragam ABSTRACT. Indonesia, with its many ethnic groups and cultures, is rich in architectural diversity. The traditions and culture in each region, although different, have resulted in the work of traditional architects, which have a common thread with one another. Stilt houses in various areas have a guardrail on the terrace or porch, which has a value of meaning, function, and beauty. One of the guardrails is a Jalamba from the Gorontalo area, which is generally used in traditional wedding ceremonies, grief, and others. This Jalamba is also a fence that identifies the traditional identity of areas in Gorontalo. This study aims to examine the Jalamba's types and meaning of Jalamba through literature review, interviews, and observations of the house on stilts where the Jalamba is currently used. After analyzing historical and cultural binoculars, the results showed that two of the six types of Jalamba now had become the characteristics of Gorontalo's regional identity. Keywords: Stilt house, Railing, Pattern and Style
TINJAUAN BUDAYA TERHADAP LINGKUGAN PADA BENTUK RUMAH VERNAKULAR DI KELURAHAN JABUNGAN SEMARANG Hana Faza Surya Rusyda
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.131-136

Abstract

Rumah vernakular merupakan bangunan warisan yang mempunyai bentuk menyerupai rumah tradisional pada daerahnya. Rumah vernakular adalah suatu artefak yang dapat digali lagi untuk mendapatkan simbol dan mengetahui detail maknanya. Rumah vernakular yang ada di daerah Jawa mencerminkan status sosial dan kondisi ekonomi pemiliknya. Ini terlihat dari bentuk, elemen dan karateristiknya. Dalam perkembangannya, sebuah rumah akan menyesuaikan dengan kebutuhan pemilik yang terlihat pada penambahan ruang-ruang. Seperti yang ada di daerah  Semarang Selatan, Kelurahan Jabungan, Semarang. Dalam penelitian ini, mempunyai tujuan untuk menggali lebih dalam akan kajian budaya dari suatu rumah vernacular, sehingga diperlukan penelitian yang berdasarkan teori Amos Rapoport. Metode penelitian menggunakan deskiptif analisis, dengan pengumpulan data dari studi literatur dan studi lapangan dengan cara dokumentasi dan wawancara. Simpulan yang didapat berupa suatu temuan mengenai kajian hubungan budaya dan lingkungan terhadap bentuk rumah vernakular dan elemen arsitekturnya yang ada yang ada di Kelurahan Jabungan, Semarang.
KAJIAN PENATAAN RUANG STUDIO GAMBAR PROGRAM STUDI ARSITEKTUR DI ERA NEW NORMAL PANDEMIC COVID 19 Dyan Agustin; Erwin Djuni
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.45-52

Abstract

ABSTRAK. Pada Program Studi Arsitektur salah satu proses kegiatan yang penting adalah kegiatan perancangan dengan beberapa tahapan antara lain membuat konsep, rancangan gambar dua dimensi dan tiga dimensi dan pembuatan maket. Kegiatan tersebut dilakukan di studio gambar dengan penataan dan bentuk pengelolaan desain ruang kuliah yang khusus. Pada saat sebelum pandemic desain ruang kuliah studio hanya didasarkan pada aktivitas di dalam kegiatan perancangan.Pada saat pandemic covid 19 sekarang ini mengharuskan sebuah desain ruang kuliah studio yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus. Metode yang digunakan adalah deduktif kualitatif dengan menggambarkan kondisi ruang kuliah studio dan penyebaran kuesioner kepada para mahasiswa melalui pengisian kuesioner online. Hasil dari penelitian ini adalah analisis desain penataan perabot ruang kuliah studio berdasarkan protokol kesehatan antara lain pada fasilitas fisik meliputi dimensi, desain wujud konfigurasi, desain pembatas antar kursi. Dimensi baru yang dihasilkan berdasarkan pertimbangan new normal adalah keefektifan sebesar 31,5% dengan jarak antar kursi minimal 1 meter. Sedangkan desain wujud konfigurasi yang paling optimal adalah tipe rectangle. Pada desain pembatas antar kursi dihasilkan desain partisi yang berfungsi menghalangi droplet antar mahasiswa dan dosen di dalam ruangan. Untuk sirkulasi dan sign diberikan tanda pada ruang kuliah studio agar arah masuk dan keluar tidak berpapasan. Dengan dihasilkannya desain ruang kuliah studio yang optimal di program studi arsitektur yang sesuai dengan kondisi pandemic covid 19 maka diharapkan akan tercapai peningkatan mutu pembelajaran juga bisa tetap mendukung program pemutusan mata rantai virus covid 19. Kata kunci:perabot, studio, arsitektur, new normal ABSTRACT. One of the essential activity processes in the Architecture Study Program is a design activity with several stages, including conceptualization, two-dimensional and three-dimensional drawing designs, and making mock-ups. This activity is carried out in a drawing studio with a particular arrangement and management of lecture room designs. Before the pandemic, the design of studio lecture rooms was only based on activities in design activities. At the time of the current Covid 19 pandemic, it requires a studio lecture room design that can adapt to health protocols' needs to break the chain of the spread of the virus. The method used is qualitative deductive by describing the studio lecture room conditions and distributing questionnaires to students through online questionnaire filling. This study analyses the design of studio lecture room furniture based on health protocols, among others, the physical facilities, including dimensions, configuration design, and barrier design between chairs. The new size produced based on the new normal considerations is the effectiveness of 31.5% with a minimum distance of 1 meter between seats.Meanwhile, the most optimal configuration design is the rectangle type. In the divider design between chairs, a partition design is produced, which functions to block droplets between students and lecturers in the room. For circulation and sign is given a warning in the studio lecture room so that the entry and exit direction does not cross. With the production of an optimal studio lecture room design in an architecture study program following the conditions of the Covid 19 pandemic, it is hoped that an increase in the quality of learning will be achieved and can continue to support the program to break the Covid 19 chain link. Keywords: furniture, studio, architecture, new normal
KONSEP PENGEMBANGAN MASTERPLAN BANGSAL SEWOKOPROJO KABUPATEN GUNUNGKIDUL Dita Ayu Rani Natalia
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.83-90

Abstract

Bangsal Sewokoprojo merupakan salah satu bangunan cagar budaya dan meurupakan asal muasal pusat pemerintahan di Kabupaten Gunungkidul. Kawasan bangsal telah mengalami perubahan dengan penambahan bangunan baru dan pada area pendopo yang merupakan bangunan utama yang menyebabkan hilangnya nilai dan keaslian bangunan. Pemerintah Gunungkidul telah melakukan kajian dan akan mengembalikan fungsi dan bentuk kawasan bangsal Sewokoprojo sesuai dengan aslinya. Pada pengembalian fungsi tersebut terdapat beberapa penyesuaian termasuk pembongkaran bangunan kantor yang baru dan dipindahkan ke kawasan perkantoran terpadu. Tujuan dari pengembangan masterplan Bangsal adalah mengembalikan fungsi dan kawasan Bangsal sebagai bangunan yang menjadi asal mula pusat pemerintahan di kabupaten Gunungkidul serta upaya untuk melestarikan bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi pendekatan kualitatif untuk untuk menggali dan mendapatkan informasi lebih detail mengenai bangunan dan kuantitatif untuk menindaklanjuti hasil yang dicapai pada pendekatan kualitatif guna membantu dalam pengembangan Bangsal Sewokopraja Kabupaten Gunungkidul. Hasil dari penelitian ini adalah konsep pengembangan kawasan masteplan bangsal yang menggunakan zonasi dan karakteristik bangunan tradisional Jawa sebagai salah satu cara dalam melestarikan nilai budaya dalam pelestarian bangunan cagar budaya di Kabupaten Gunungkidul.
KAJIAN SPIRIT OF PLACE PADA PASAR LEGI KOTAGEDE YOGYAKARTA SEBAGAI KARAKTER PASAR TRADISIONAL Sugesti Retno Yanti; Anna Pudianti
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.11-20

Abstract

ABSTRAK. Pasar tradisional menjadi ruang transaksi ekonomi dengan tradisi tawar menawar antara penjual dan pembeli. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kearifan lokal masyarakat Kotagede berupa pendidikan atau cara belajar “srawung” salah satunya adalah Pasar, oleh karena itu penelitian ini berfokus pada Pasar Legi Kotagede untuk membuktikan pernyataan tersebut. Tujuan dari penelitian untuk mengidentifikasi srawung sebagai Spirit of Place pada Pasar Legi Kotagede. Untuk membuktikan bahwa hal tersebut merupakan keunikan khas Pasar Legi Kotagede maka perlukan pembanding. Hasil penelitian ternyata penataan layout, zonasi pedagang, toleransi, keakraban dan kerjasama antara pedagang maupun pembeli merupakan faktor-faktor yang membentuk Spirit of Place pada pasar tradisional. Kata Kunci: karakter Pasar Tradisional, Kearifan lokal, Pasar Legi Kotagede, Spirit of Place ABSTRACT. Traditional markets are an economic transaction space with a tradition of bargaining between sellers and buyers. A study states that the local wisdom of the Kotagede community in the form of education or how to learn "srawung" one of which is the Market. Therefore this research focuses on the Pasar Legi Kotagede to prove the statement. The purpose of this research is to identify srawung as a Spirit of Place in Kotagede Legi Market. To confirm that this is the uniqueness of the Pasar Legi Kotagede, we need a comparison. The study results turned out to be layout arrangement, trader zoning, tolerance, familiarity, and cooperation between traders and buyers are the factors that make up the Spirit of Place in traditional markets. Keywords: Character of Traditional Market, Local Wisdom, Pasar Legi Kotagede, Spirit of Place
VERNAKULARITAS ARSITEKTUR PENINGGALAN PERADABAN ISLAM Anisa Anisa
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.137-146

Abstract

ABSTRAK. Peninggalan dari sebuah peradaban dapat dilihat dari karya yang ditinggalkan. Arsitektur merupakan salah satu wujud karya yang dapat digunakan untuk melihat dan menelusuri peninggalan dari sebuah peradaban. Peninggalan peradaban di satu wilayah dengan wilayah lain akan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat. Hal inilah latar belakang pentingnya dilakukan penelitian berkaitan dengan vernakularitas arsitektur. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan dan memahami vernakularitas peninggalan peradaban Islam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan data dilakukan secara purposif sampling. Alat analisis pada penelitian ini adalah aspek vernakularitas yang dikemukakan oleh Mentayani (2017). Aspek vernakularitas dapat dilihat dari 3 hal yaitu aspek teknis, aspek budaya, dan aspek lingkungan yang ketiganya bisa dibahas secara bersamaan karena saling terkait pada ranah unsur dan abstrak. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah : (1) vernakularitas pada arsitektur peradaban Islam dapat dilihat pada bentuk massa dan denah bangunan, yang tidak selalu mengikuti bentuk awal (tipologi) peninggalan peradaban Islam yaitu hypostyle; (2) vernakularitas ditunjukkan pada penggunaan material setempat dengan teknologi setempat, misalnya di Afrika Barat menggunakan bata tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar dan penguat dinding dari batang kayu. Kata kunci: vernakularitas, arsitektur, peninggalan peradaban Islam ABSTRACT. The legacy of a civilization can be seen from the work left behind. Architecture is a form of work that can be used to view and trace the relics of a civilization. The legacy of civilization from one region to another will be influenced by local environmental conditions. This is the background of the importance of conducting research related to architectural vernacularity. This research is a research that aims to identify, describe and understand the vernacularity of Islamic civilization heritage. The method used in this study is a qualitative descriptive method with data collection carried out by purposive sampling. The analytical tool in this study is the aspect of vernacularity proposed by Mentayani (2017). Aspects of vernacularity can be seen from 3 things, namely technical aspects, cultural aspects, and environmental aspects, all three of which can be discussed simultaneously because they are interrelated in the elemental and abstract realms. The conclusions obtained from this study are: (1) vernacularity in Islamic civilization architecture can be seen in the shape of the mass and building plans, which do not always follow the initial form (typology) of Islamic civilization heritage, namely hypostyle; (2) vernacularity is shown in the use of local materials with local technology, for example in West Africa using clay bricks that are dried without being burned and wall reinforcement from logs. Keywords: vernacularity, architecture, heritage of Islamic civilization
KAJIAN KETERHUBUNGAN DAN KATASTROPIK DALAM TEORI FOLDING ARCHITECTURE Wafirul Aqli; Sepli Yandri
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.53-60

Abstract

ABSTRAK. Kajian ini merupakan langkah penelitian dalam memahami bagaimana teori folding architecture didefinisikan dan diterapkan ke dalam karya bangunan/arsitektural. Dalam beberapa telaah di aspek filosofis yang menjadi dasar teorinya, ditemukan bahwa teori dan konsep folding architecture bercabang pada penerapan praktisnya dalam membentuk massa dan tampilan bangunan, atau penerapan abstrak yang perwujudannya adalah mengatur ruang aktivitas secara menyatu atau terpisah tergantung pada perlakuan lipat-melipat bidang/elemen bangunan. Melalui telaah tersebut dapat dikerucutkan bahwa inti dari konsep folding architecture adalah prinsip keterhubungan melalui perlakuan-perlakuan seperti mentransfer aktivitas secara mulus, memiringkan bidang, menekuk bidang dan membuka bidang.Kata kunci: Fold, Folding Architecture, Keterhubungan, Katastropik,ABSTRACT. This study is a process in understanding how the folding architecture theory is defined and applied to architectural/building works. In several studies on the philosophical aspects on which the theory is based, it was found that the theory and concept of the folding architecture branched out from its practical application in shaping the mass and appearance of a building. Moreover, it also an abstract application where the embodiment is to organize the activity space unified or separately to depend on the plane building elements' folding treatment. This study can conclude that the core of the folding architecture concept is the principle of connection through treatments such as smooth transfer of activity, tilting the plane, bending the plane, and opening the plane.Keywords: Fold, Folding Architecture, Connectivity, Catastrophe 
PERSPESI PENGGUNA TERHADAP KENYAMANAN TERMAL DI AREA THRESHOLD PADA IKLIM MIKRO Panji Anom Ramawangsa
NALARs Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.2.91-98

Abstract

Dalam merancang bangunan perlu mempertimbangkan kondisi iklim di sekitarnya. Threshold space merupakan area transisi antar ruang luar dan dalam  yang mengandung pengalaman ruang yang sesuai dengan persepsi dan psikologis pengguna. Iklim mikro merupakan kondisi iklim yang ada di suatu wilayah yang sangat terbatas kurang lebih 2 (dua) meter setinggi permukaan tanah. Penelitian ini berfokus pada kenyamanan ruang bagi pengguna ruang threshold di area teras gedung dekanat Universitas Bengkulu. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang diawali dengan tahap pengamatan, pengumpulan data, dan penyebaran kuesioner. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hasil responden terhadap kenyamanan ruang threshold gedung dekanat sesuai dengan nilai Temperatur Humidity Index (THI).
BAHASA NARATIF DALAM KOMUNIKASI ARSITEKTUR Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.21-28

Abstract

ABSTRAK.  Tulisan ini merupakan sebuah kajian tentang bagaimana mengungkapkan sebuah karya arsitektural, gagasan maupun ide dalam sebuah Bahasa naratif yaitu tulisan. Beberapa teori tentang Bahasa naratif tersebut disajikan oleh beberapa ahlinya sebagai sebuah dasar dan referensi dalam mengungkapkan tiga buah studi kasus yang akan ditinjau. Tinjauan yang dilakukan terhadap tiga studi kasus tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif naratif, dimana Saya mencoba untuk mengungkapkan kekuatan penulis dalam gaya penulisannya terutama dalam menggiring opini pembaca baik negatif maupun positif bahkan imaginatif. Tulisan ini akan memberikan wacara bagi para calon arsitek yaitu mahasiswa arsitektur atau para civitas akademika lainnya sehingga dapat lebih memahami bagaimana seharusnya sebuah karya arsitektural baik bangunan maupun ruang arsitektural harus diungkapkan untuk mempersuasi pembacanya. Kata Kunci: naratif, linguistik, komunikasi, arsitektur ABSTRACT. This paper is a research about how to express and describe an architectural masterpiece, idea, and thought into a written narrative language. Some theories about narrative language and linguistic language have been discussed in this article and have been used as a primary reference in discussing three case studies. I have reviewed three case studies using a qualitative method with a narrative descriptive approach. I have tried to reveal the author's power with their character and style of their written language, mainly how to persuade the reader either negatively, positively, and imaginatively. This research will give architecture students a new discourse to understand how an architectural masterpiece should be described in a written narrative language to persuade the readers.   Keywords: narrative, linguistic, communication, architecture
KARAKTER LINGKUNGAN PERUMAHAN BERBASIS SPACE ATTACHMENT YANG ADAPTIF DAN RESPONSIF DI MANDAILING Cut Nuraini; Suprayitno Suprayitno
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.61-72

Abstract

ABSTRAK. Space-attachment adalah konsep keterikatan ruang yang dikembangkan dari teori place- attachment atau keterikatan tempat yang menggambarkan keterikatan manusia dengan tempat hidupnya berdasar atribut sosial dan lingkungan. Konsep space-attachment pertama kali diungkap berdasar analisis pengembangan teori place-attachment berbasis bincar-bonom di salah satu lingkungan perumahan perdesaan pegunungan di Mandailing, yaitu Singengu. Menarik untuk diteliti apakah lingkungan perumahan/ permukiman lain di kawasan tersebut memiliki ciri yang sama sesuai dengan temuan  riset sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi hasil riset sebelumnya dan merumuskan karakter desain perumahan perdesaan pegunungan yang berbasis space-attachment khususnya dalam konteks adaptif dan responsif lingkungan. Penelitian ini menggunakan paradigma rasionalistik dengan metode kombinasi (mixed-methods) antara deskriptif-kualitatif dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter desain perumahan berbasis space-attachment yang adaptif dan responsif ditunjukkan pada: 1) aspek keterbacaan (kemudahan mengenali tempat), 2) unsur keragaman (variasi dan perbedaan tempat aktifitas), 3) aspek temporal (ruang-ruang temporal), dan 4) setting tempat (sesuai dengan kondisi lingkungan/ kontur). Empat karakter tersebut menegaskan karakter lingkungan perumahan berbasis space-attachment, bahwa lingkungan perumahan perdesaan di Mandailing tidak hanya terikat dengan tempat (place) yang menitikberatkan pada ‘fisik tempat’ yang bersifat fisik, tetapi lebih terikat kepada space (ruang) yang menitikberatkan pada ‘non-fisik ruang’ dan bersifat tak teraga. Kata kunci : Karakter, Lingkungan Perumahan, Space-Attachment, Adaptif, Responsif. ABSTRACT. The concept of space attachment is developed from place-attachment theory, which describes humans' attachment to their place of life-based on social and environmental attributes. The concept of space-attachment was first revealed based on an analysis of the development of a place-attachment theory based on bincar-bonom in one of the mountainous residential areas in Mandailing, namely Singengu. It is interesting to study whether other housing/settlement environments in the Mandailing area have the same characteristics as previous research findings. This study aims to verify previous research results and formulate the character of the mountainous housing environment based on space-attachment, especially in the context of adaptive and environmentally responsive. This study uses a rationalistic paradigm with a mixed-method between descriptive qualitative and case studies. The results showed the adaptive and responsive character of the housing environment based-on space-attachment in legibility aspects (ease of recognizing places), elements of diversity (variations and differences in places of activity), temporal aspects (temporal spaces), and setting of the place (according to environmental conditions/contours). These four characters emphasize the character of the housing environment based on space-attachment. The rural housing environment in Mandailing is tied to a place that focuses on 'physical place,' which is physical. Still, it is more tied to space focuses on 'non -physical space 'and intangible. Keywords : Character, Housing Environment, Space-Attachment, Adaptive, Responsive

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue