cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAWIYATAN
Published by IKIP Veteran Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PROSES DAN DAMPAK URBANISASI Suharso, Yohanes
PAWIYATAN Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisasi merupakan suatu proses pindahnya penduduk desa kekota dalam rangka untuk mengubah nasib dari tidak baik menjadi baik, tidak maju menjadi maju, tidak berpengalaman menjadi berpengalaman, tidak berwawasan luas menjadi berwawasan luas. Dengan keadaan itu maka namanya urbanesasi tidak akan dapat di berhentikan karena akan membatasi hak asasi manusia untuk hidup lebih baik dan maju, kreatif dan tanggung jawab. Pindahnya penduduk desa kota memang membawa dampak baik di kota maupun di desa yang ditinggal, untuk kota misalnya perubahan demografis, poltik, ekonomi, budaya,sosial, tetapi untuk desa dampaknya, kurangnya tenaga pertanian, kerawanan didesa, terjadinya alih fungsi tanah pertanian, desa akan selalu tertinggal. Pembangunan kota akan terbantu dengan adanya Urbanisasi kalau orang yang datang kekota punya skill (keahlian), keahlian ini tidak banyak membebani kota karena oaring yang datang kekota akan memanfaatkan sarana dan prasarana, memanfaatkan kondisi yang ada di kota dengan cepat. Dampak Urbanesasi untuk Negara maju perubahan fisik kota berkembang dengan pemukiman elite di pinggiran kota yang di tunjang kemajuan teknologi. Untuk Negara berkembang secara fisik kota akan tumbuh menjadi besar dan luas dengan tingkat teknologi dan kualitas kehidupan kota yang kurang memadai.  Kata Kunci : urbanisasi, penduduk
Meningkatkan Pemberdayaan Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Masyarakat Yang Semakin Sejahtera Di Jawa Tengah Sarsetyono, Y.
PAWIYATAN Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengurangi tingkat kemiskinan pada hakekatnya untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera dan merupakan tugas bersama tidak hanya tugas Pemerintah saja. Namun perlu kerjasama yang baik dan konsisten antara pemerintah pusat dan daerah agar program penanggulangan kemiskinan bisa terus berlanjut dari waktu ke waktu. Pemerintah daerah juga dituntut makin responsif agar bisa mereplikasi program penanggulangan kemiskinan. Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, Pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Dalam perpres tersebut, telah ditetapkan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang dikonsolidaasikan menjadi 3 kelompok program penanggulangan kemiskinan, yaitu : Kelompok Program Berbasis Bantuan dan Perlindungan Sosial Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Usaha Mikro dan KecilPada kelompok program berbasis pemberdayaan masyarakat, pendekatan pemberdayaan masyarakat selama ini telah banyak diupayakan melalui berbagai kegiatan pembangunan sektoral maupun regional. Namun berbagai kegiatan itu masih dianggap kurang efektif dan dilaksanakan secara parsial dan tidak berkelanjutan, sehingga digulirkanlah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri oleh Presiden RI pada tanggal 30 April 2007 di kota Palu, Sulawesi Tengah. Ada 2 program inti salah satu Program intinya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan. Salah satu strategi dasar dalam PNPM Mandiri Perkotaan adalah menciptakan sustainibility development atau pembangunan berkelanjutan dalam hal penanggulangan kemiskinan. Agar hal itu terwujud, dibutuhkan sejumlah langkah agar pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perkotaan mampu mengintegrasikan perannya dengan program pemberdayaan lainnya.. Dan dalam pelaksanaan PNPM-Mandiri Perkotaan baik yang program Reguler, Paket, maupun program PLP-BK/ND dintegrasikan dengan prinsip: (1) Desentralisasi, (2) Keterpaduan, (3) Efektif dan Efisien, (4) Partisipatif, (5) Transparasi dan Akuntabel, (6) Keberlanjutan. Sedangkan unsur-unsur yang diintegrasikan adalah: (1) Nilai/Prinsip, (2) Mekanisme Pengambilan Keputusan, (3) Mekanisme Proses Perencanaan, (4) Mekanisme Pengelolaan Kegiatan, (5) Mekanisme Pertanggungjawaban, (6) Pelaku. Peningkatkan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat perlu dilakukan beberapa langkah/kegiatan yang dilakukan dengan pendekatan struktural dan kultural. Pendekatan struktural dan kultural ini implementasinya dapat dilakukan secara struktural di tingkat Kabupaten/Kota dan tingkat Kelurahan/Desa, sedangkan pendekatan kultural mengikuti sesuai kultural/budaya lokal.Kata Kunci : pemberdayaan masyarakat, kemiskinan, partisipasi
Model Pengembangan Pendidikan Multi Skill Untuk Peningkatan Kemampuan Usaha Mandiri Bagi Warga Masyarakat Usia Produktif di Kabupaten Demak Sri Widayati, Y. Suharyanto A.R. Djaelani
PAWIYATAN Vol 20, No 3 (2013)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan  keterampilan kerja sangat diperlukan bagi warga masyarakat angkatan kerja ( usia produktif)  Dampak positifnya  akan dapat meningkatkan kualitas produk , bahkan memberikan peluang usaha mandiri bagi warga angkatan kerja ( usia produktif) berdasarkan modal pendidikan keterampilan yang dimiliki. Berdasarkan studi awal seperti kondisi di lingkungan wilayah Kabupaten Demak ternyata banyak diketahui generasi angkatan kerja ( usia produktif :15 – 44 tahun ) yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan  menganggur, karena tidak memiliki kecakapan hidup dan keterampilan untuk mampu usaha mandiri. Kondisi tersebut perlu dikaji dan dimungkinkan untuk diterapoan model pengembangan pendidikan multi skill bagi kelompok warga masyarakat usia produktif tersebut. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Demak yang difokuskan di dua desa  ( Bonangrejo Kec. Bonang dan  Desa Jogoloyo Kec. Wonosalam) serta di  satu kelurahan ( Kelurahan Bintoro Kec. Demak ). Artikel ini merupakan hasil penelitian tahap pertama ( tahun ke-1) yang direncanakana berlanjut pada tahun kedua ( treatment /uji model ) dan pada tahun ke-3    ( desiminasi pola pendampingan dsan kemitraan).  Penelitian tahun pertama diarahkan pada tujuan perolehan hasil identifikasi riil tentang keberadaan warga masyarakat usia produktif pada  batasan usia 15 – 44 tahun dan produk desain model pengembvangan pendidikan multi skill yang  penekanannya difokuskan pada muatan pengembangan “ solt skill” dan “ hard skill) yang dirancang dan dimungkinkan dapat  diujicobakan secara berkelanjutan dalam tahapan sistem penelitian multi years. Bentukdan terapan metode  penelitian menggunakan  pendekatan kualitatif.  Penetapan subjek dengan teknik pusposif, pengumpulan data dengan  teknik wawancara  mendalam, studi dokumen dan pengamatan lapang;peningkatan keabsahan data  digunakan teknik triangulasi;Analisis data digunakan teknik SWOT, FDG dan model analaisis iteraktif pola siklus yang dikembangkan Miles & Huberman. Hasil peneilian ini adalah : (1) keberadaan warga masyarakat di daerah penelitian diketahui memerlukan pendidikan multi skill dalam upaya peningkatan kemampuan usaha mandiri; (2) dari hasil  analisis data dimungkinkan dapat disusun desain model pengembangan pendidikan multi skill di bidang pertukangan ( spisialis produk  furniture/meubelair jenis sofa dan kursi sudut) dalam bentuk kursus dan pelatihan bertdasarkan rancangan kurikulum/silabus yang bermuatan pengembangan potensi “solt skill” dan “ hard  skill”; dan (3) desain model pendidikan multi skiil hasil panilitian tahap ( tahun ) pertama ini dirasa  layak dan dimungkinkan untuk diuji cobakan pada tindakan penelitian tahap      ( tahun ) berikutnya yang kemudian dapat diorientasikan pada pengembangan  desiminasi dan pendampingan usaha mandiri   dengan    pola kemitraan pada  penelitian tahap    ( tahun ) ketiga. Key Word: Model Pengembangan; Pendidikan multi skill; usia produktif; usaha mandiri
TINGKAT KETERAMPILAN BERMAIN SEPAKTAKRAW MAHASISWA PJKR REGULER DAN NONREGULER FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Huda, Nurul
PAWIYATAN Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan dan perbedaan dalam bermain sepaktakraw mahasiswa PJKR reguler dan nonreguler Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Populasi adalah mahasiswa putra program studi PJKR reguler dan nonreguler semester ganjil tahun 2007/2008 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta yang memilih mata kuliah olahraga pilihan sepaktakraw sebanyak 149 orang Mahasiswa PJKR reguler sebanyak 58 orang dan PJKR nonreguler 91 orang. Teknik pengambilan sampel secara sensus, Metode penelitian dengan metode survey, teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes keterampilan bermain sepaktakraw buatan M. Husni Thamrin (2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 149 orang testee, 3 orang (2,01%) berkategori ”Baik Sekali”, 18 orang (12,08%) berkategori ”Baik”, 76 orang (50,01%) berkategori ”Sedang”, 51 orang (34,23%) berkategori ”Kurang”, dan 1 orang (0,67%) berkategori ”Sangat Kurang”. Kalau dilihat dari masing- masing program studi, untuk prodi PJKR reguler yang berjumlah 58 orang, 3 orang (5,17%) berkategori ”Baik Sekali”, 11 orang (18,97%) berkategori ”Baik”, 25 orang (43,10%) berkategori ”Sedang”, 19 orang (32,76%) berkategori ”Kurang”, yang berkategori ”Sangat Kurang” tidak ada. Program studi PJKR nonreguler berjumlah 91 orang, yang berkategori ”Baik Sekali” tidak ada, 7 orang (7,70%) berkategori ”Baik”, 51 orang (56,04%) berkategori ”Sedang”, 32 orang (35,16%) berkategori ”Kurang”, dan hanya 1 orang (1,1%) berkategori ”Sangat Kurang”. Mahasiswa PJKR reguler memiliki tingkat keterampilan lebih baik bila dibandingkan dengan non reguler dikarenakan memiliki kategori ”Baik” persentasenya lebih besar dan kategori ”Kurang” persentasenya lebih kecil. Kata Kunci : Sepaktakraw, Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Mahasiswa PJKR
IbM KELOMPOK PERAJIN MEBEL BUBUT KAYU DI DESA KARANGGONDANG KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA Endang Wuryandini, Fuad Abdillah, Radimin,
PAWIYATAN Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bidang manufaktur khususnya perdagangan mebel dunia pada tahun 2009 mencapai 135 milyar dolar  AS atau sekitar 1% dari total perdagangan dunia. China mendominasi perdagangan sebesar 16% Furniture (mebel) ke beberapa negara di dunia. Dari segi harga lebih murah 20% dari mebel Indonesia. Kalah bersaing dengan produk China, membuat perajin mebel indonesia terus berlomba-lomba dalam mengejar ketertinggalannya, khususnya produsen mebel di desa Karanggondang kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara. Kelemahan perajin mebel di desa Karanggondang yaitu dari proses produksi lama, biaya tinggi per unit, kualitas produksi rendah, hasil tidak mencapai target, rendahnya sumber daya manusia, kurang futuristik, proses dan mesin bubut masih konvensional. Selain itu, sulitnya mengenalkan produk, mencari buyer (pembeli), minimnya pengetahuan manajemen, pemasaran unit usaha, kurangnya modal dan sulitnya mengakses dana bantuan. Tujuan pengabdian pada masyarakat program Iptek bagi Masyarakat (IbM) yaitu merubah mesin bubut konvensional menjadi mesin bubut otomatis, meningkatkan SDM karyawan, mampu menjalankan mesin bubut otomatis, mengenalkan produk, mencari pembeli, yang dipakai pada program IbM adalah melatih membuat mesin bubut konvensional untuk diubah menjadi mesin otomatis atau mesin bubut kayu CNC, pelatihan desain produk mebel dengan bantuan softwere, pendampingan dan pelatihan pembuatan website untuk memperkenalkan produk dan sistem penjualan online dan offline, memberikan ceramah kewirausahaan, pelatihan pembukuan, akutansi, cash flow, ceramah dan pelatihan metode atau strategi dalam praktek pemasaran, penyuluhan perkembangan usaha dan cara mendapkatkan tambahan modal usaha. Luaran program IbM yang sudah dilakukan mulai dari pembuatan mesin bubut kayu CNC, proses pengujian mesin. Dan yang baru dijalankan proses pelatihan bubut kayu dengan mesin bubut CNN, pembuatan website e-commerce untuk penjualan produk. Program yang belum dilakukan dari pelatihan menerapkan manajemen usaha, pembukuan, akutansi keuangan, cash flow sertifikat kegiatan Iptek bagi masyarakat, laporan kegiatan dan publikasi nasional hasil kegiatan program IbM Keywords : mebel, bubut, kayu, nugget, usaha. 
ANALISIS KEBIJAKAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA ( KKNI) Marliyah, Lili
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam persepektif ekonomi, pendidikan merupakan human investment yang harus dapat menghasilkan SDM penggerak pembangunan ekonomi nasional, meningkatkan daya saing nasional dan kemandirian bangsa,yang menjadi syarat mutlak dalam persaingan dalam era globalisasi. Era globalisasi memiliki cirri utama,  persaingan yang semakin ketat dalam kehidupan terutama tantangan dalam menyiapkan SDM sehingga tuntutan terhadap pengelolaan serta peningkatan mutu tenaga kerja  kesetaraan kualifikasinya dengan tenaga kerja asing akan menjadi satu tantangan  perekonomian Indonesia. Penetapan KKNI sebagai pedoman untuk menetapkan kualifikasi, skema pengakuan kualifikasi dan menetapkan skema pengakuan kualifikasi capaian pembelajaran, pelatihan atau pengalaman kerja serta menyetarakan kualifikasi antara capaian pembelajaran, pelatihan atau pengalaman kerja, mengembangkan metode dan sistem pengakuan kualifikasi sumberdaya manusia dari negara lain. Hubungan KKNI dengan kerangka kebijakan makro pendidikan yaitu merupakan sistem yang berdiri sendiri dan merupakan jembatan antara sektor pendidikan dan pelatihan untuk membentuk SDM berkualifikasi, bersertifikasi. Implementasi KKNI akan berdampak pada kerangka manajemen pengembangan SDM dan perubahan sosial sebagai konsekuensi dari peningkatan kualitas SDM  dalam KKNI. Kata Kunci : KKNI, kebijakan
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN STRATEGI TEAMS GAMES AND TOURNAMENT (TGT) BERBANTUAN CD INTERAKTIF MATERI PRISMA DAN LIMAS nayazik, akhmad
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of inappropriate learning method can make the students feel tired to participate in learning and lead to the lack of the effectiveness of learning development inside classroom. Teams Games and Tournament (TGT) is one of cooperative learning method using game. Using this method, the learning activities between learners can be a fair competition, where they compete to present something they have learnt from Interactive CD. This study aims to determine the effectiveness of mathemathic teaching material and Pyramid prism by Interactive CD-assisted TGT strategy. The effectiveness achieved is characterized by (1) the average achievement of students who learned in experimental class reachede 80,0 ,(2) the average of motivation to learn reach the exhaustiveness of learning motivation, (3) having a positive effect on the motivation of learning achievement, and (4) the students achievement of experimental class is better that control class. The population of this study is the students of SMP N 2 Rembang grade VIII. Using the random cluster sampling technique, it is determined that VIII-2 as experimental group and VIII-3 as control group. The result shows that the average achievement of learners who are taught using Interactive CD-assisted TGT strategy reach 81,35. The average of learning motivation reach to the exhaustiveness of leaning motivation with the value 76.76 from regression calculation, the regression of the estimation of equation is gained between X and Y that is Y= 36.391 + 0.586X with determination coefisien of 49.0%, meaning that there is positive effect on the achievement of learning motivation. In addition, the average ofstudents achievement of experimental group and control class are 77.96 and 81.35. It means that the average of students achiement who learn in the experimental group is better than those who learn in control class. Based on this result, we can draw conslusion that four effective learning are achieved.Keywords: Effectiveness, TGT, Interactive CD, Learning Achievement, Motivation.
POTRET PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DASAR BAGI ANAK-ANAK NELAYAN DI KAWASAN PANTURA JAWA TENGAH Susiatik, Titik
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dasar merupakan salah satu konstitusional yang harus disediakan oleh negara. Sebagai hak bagi warga negara, maka hal itu merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakannya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam konteks otonomi daerah, penyelenggaraan pendidikan dasar secara operasional dikelola oleh Pemerintah Daerah dan didukung oleh Pemerintah Pusat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potret pemenuhan atas pendidikan dasar bagi anak-anak nelayan di Kabupaten Tegal. Ada tiga fokus masalah yang dijadikan obyek penelitian ini, yakni: faktor-faktor yang terkait dengan partisipasi pendidikan dasar anak-anak nelayan, kebijakan pemerintah daerah dalam pemenuhan hak-hak atas pendidikan dasar di Kabupaten Tegal, serta implementasinya di lapangan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis dekriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan partisipasi anak-anak nelayan dalam mengikuti pendidikan dasar adalah ekonomi, lingkungan dan budaya. Faktor-faktor ini masih terkait dengan penelitian-penelitia sebelumnya, yang menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut sampai saat ini masih belum berubah. Dalam aspek kebijakan, pemerintah daerah belum memiliki kebijakan afirmasi terhadap persoalan pendidikan anak-anak nelayan. Kebijakan yang ada difokuskan untuk menanggulangi persoalan drop-out siswa de jenjang pendidikan dasar secara umum. Namun, pada tahun 2014 ini Pemerintah Kabupaten Tegal telah mendesain program pendidikan inklusi bagi anak-anak yang drop-out sekolah, termasuk anak-anak nelayan. Sejalan dengan program tersebut maka relaisasi kebijakan ini akan di jalankan beriringan dengan program bantuan dari Kementerian Kelauatan dan Perikanan RI, yakni berupa Sekolah Lapang yang bersifat flexibel dna mengikuti ritme aktivitas anak-anak nelayan. Kata Kunci : Hak atas Pendidikan Dasar, Nelayan, Tegal, Afirmasi.
Penggunaan Eceng Gondok Rawa Pening Ambarawa Untuk Cooling Pad Komposit Menggunakan Metode Kompaksi Ngubaidi Achmad2, Joko Suwignyo1
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serat alam banyak dimanfaatkan di bidang teknologi material. Serat alam sebagai penguat material komposit. Komposit memiliki sifat ringan, kuat, elastis, dan tangguh. Kekurangan serat alam pada kekuatan yang tidak merata. Jenis serat alam yang banyak dipakai yaitu sisal , flex, hemp, jute, rami, kelapa, dan eceng gondok. Eceng gondok rawa pening memiliki kekuatan tarik yang tinggi yaitu 19 N/mm2 dan tahan temperatur 50oC. Bahan komposit eceng gondok sebagai bahan eksterior mobil, elektronik, dan perlengkapan komputer. Penggunaan serat alam eceng gondok Rawa Pening Ambarawa sudah banyak dimanfaatkan, tetapi untuk perlengkapan komputer belum pernah dilakukan. Pada riset ini, ingin memanfaatkan eceng gondok Rawa Pening untuk pembuatan cooling pad komposit yang tahan beban, ringan, kuat dan temperatur tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa antara serat dan serbuk eceng gondok, pengaruh penamabahn fraksi volume, dan tekanan kompaksi terhadap kekuatan mekanik cooling pad komposit. Metode penelitian ini dengan memvariasi serat dan serbuk eceng gondok, fraksi volume 20, 30, dan 40% penguat, dan tekanan kompaksi. Hasil uji mekanik yang paling baik pada komposisi cooling pad komposit B1 pada tekanan kompaksi 200 Kpa memiliki kekuatan mekanik paling besar yaitu kekuatan tarik 26,5 N/mm2, uji impak 0,002565 J/mm2, dan uji fatik 27,1 Mpa. Bertambahnya kekuatan tekan kompaksi, fraksi volume dan serat eceng gondok meningkatkan kekuatan mekanik cooling pad komposit, sehingga memiliki kwalitas baik. Keyword: eceng gondok, cooling pad, kompaksi, rawa pening, serat.
EVALUASI STANDAR SARANA PRASARANA DI SMP NEGERI I BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA Risky Setiawan, Eka Nur’aini
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SMP Negeri 1 Banguntapan Bantul merupakan salah satu SMP di Yogyakarta yang berstandar nasional dan sedang mempersiapkan diri menjadi SMP rintisan bertaraf internasional. Berdasarkan hasil ujian nasional pada tahun 20014/2015, SMP ini termasuk salah satu SMP yang tingkat kelulusannya belum mencapai 100%. Masih rendahnya tingkat kelulusan SMP tersebut menu njukkan bahwa masih belum tercapainya standar minimum yang telah ditetapkan dalam PPRI Nomor 19 Tahun 2005, salah satunya standar sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelengkapan, pemanfaatan, dan pemeliharaan atau perawatan sarana prasarana di SMP Negeri I Banguntapan Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluasi dengan model evaluasi Tyler (Goal Oriented Evaluation Model). Berdasarkan hasil observasi, secara keseluruhan kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa secara keseluruhan pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72. Artinya, prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul telah dimanfaatkankan sebagai penunjang proses belajar mengajar dan kegiatan kesiswaan, namun ada beberapa prasarana dan saran yang pemanfaatannya kuang optimal serta kondisinya kurang terawat. Hasil observasi menunjukkan bahwa ada beberapa prasarana dan sarana yang kondisi dan keterawatannya kurang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. (2) Pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72, namun ada beberapa prasarana yang pemanfaatannya kurang baik, yaitu ruang laboratorium IPA dan ruang laboratorium bahasa. Sedangkan pemanfaaatan sarana dikatagorikan cukup baik dengan pencapain skor 2. (3) Sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang baik adalah ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang konseling, tempat ibadah, ruang organisasi kesiswaan, UKS, jamban, gudang, Ruang Tata Boga, Ruang seni musik (band), dan kantin, sedangkan sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang kurang baik adalah perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang guru, ruang tata usaha, ruang sirkulasi, dan ruang karawitan.Kata kunci : evaluasi, saran prasarana

Page 7 of 25 | Total Record : 242