cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAWIYATAN
Published by IKIP Veteran Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PENGELOLAAN PAUD RAMAH ANAK BERBASIS MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN METAKOGNISI Elyana, Luluk
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PAUD ramah anak berbasis masyarakat merupakan layanan pendidikan anak usia dini yang memberikan pelayanan dengan memenuhi kebutuhan dasar anak, berpihak kepada hak-hak anak dan memberikan perlindungan terhadap anak. Pengelola PAUD harus memahami konsep kebermaknaan pada diri anak. Pengelola harus dapat mengedukasi seluruhstake holder dengan metode yang tepat dan hasil akhirnya bermuara pada awarness. Ramah keluarga, ramah lingkungan ramah masyarakat, ramah pembelajaran dan ramah kelembagaan adalah elemen dasar dari terwujudnya PAUD ramah anak berbasis masyarakat. Berangkat dari masyarakat dan untuk masyarakat. Gagasan MAKE (Lima Kepedulian) melalui pendekatan metakognisi adalah sebuah metode yang memiliki kekhasan yaitu awarness yang tinggi dan penemuan metode yang bersifat inovatif. Pendekatan metakognisi merupakan sebuah pendekatan yang berhubungan dengan self regulation atau regulasi diri melalui cheking, planning, monitoring, testing, revising, dan evaluating. Melalui proses tersebut akan dihasilkan kepribadian yang ramah anak yaitu peduli dengan kesadaran yang mendalam. Permasalahan yang dihadapi diselesaikan melalui problem solving yang tepat, PAUD ramah anak akan terwujud melalui kepribadian stake holder yang baik, service excellent pada semua lini, suasana PAUD yang menyenangkan, dan ramah pada seluruh layanan program yaitu TPA, SPS, KB, dan TK. PAUD ramah anak berbasis masyarakat mendapatkan dukungan sepenuhnya dari masyarakat dan memberikan layanan terbaik untuk masyarakat. Kata Kunci : Ramah Anak, Lima Kepedulian, Pendekatan Metakognisi, Pengelolaan PAUD
IbM MEBEL UKIR KAYU DI DESA BANJAR AGUNG KECAMATAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA Solechan, Samsudi Raharjo Rubijanto JP
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jepara di juluki Bumi Kartini. Tetapi dengan kemahiran mengukir yang indah warga Jepara sampai sekarang, Jepara di Juluki Kota Ukir. Mebel ukir Jepara menyumbang sekitar 10% dari total ekspor mebel Indonesia dan berkontribusi terhadap perekonomian kabupaten mencapai 27%. China mendominasi perdagangan sebesar 16 % mebel ke beberapa negara di dunia dan lebih murah 20% dari mebel Indonesia. Kalah bersaing dengan produk China, membuat perajin mebel ukir Jepara terus berlomba-lomba dalam mengejar ketertinggalannya, khususnya mebel ukir di desa Banjar Agung kecamatan Bangsri kabupaten Jepara. Kelemahan mebel ukir di desa Banjar Agung mulai dari proses produksi lama, biaya tinggi, kualitas produksi rendah, hasil tidak mencapai target, rendahnya sumber daya manusia, kurang futuristik dan proses ukir manual. Selain itu, sulitnya mengenalkan produk, mencari pembeli, minimnya pengetahuan manajemen, pemasaran unit usaha, kurangnya modal dan sulitnya mengakses dana bantuan. Tujuan pengabdian pada masyarakat program Iptek bagi Masyarakat (IbM) yaitu merubah proses mengukir konvensional menjadi otomatis, meningkatkan SDM tukang ukir agar mampu mendesain mebel ukir modern, mengenalkan produk dan mencari pembeli sebanyak-banyaknya, kurangnya pengetahuan manajemen dan informasi mengakses bantuan usaha. Metode yang dipakai pada program IbM adalah merubah proses mengukir manual menjadi proses otomatis, melatih mendesain ukir kayu yang modern dan futuristik, pendampingan dan pelatihan membuat media website e-commerce, pelatihan manajemen usaha kecil dan menengah, keuangan, pemasaran dan mendapatkan modal usaha. Luaran program yaitu Menerapkan Iptek tentang pembuatan mesin ukir kayu, desain ukir kayu modern, e-commerce penjualan produk, Mampu menerapkan manajemen usaha, pembukuan, akutansi keuangan dan Cash flow, sertifikat kegiatan Iptek bagi masyarakat. laporan kegiatan dan publikasi nasional hasil kegiatan program IbM.Keywords : mebel, kayu, ukir, e-commerce, usaha.
PERSYARATAN LINGKUNGAN HUNIAN SEHAT Suparto, Suparto
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah yang stretagis merupakan pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang dicirikan oleh batasan administratif yang di atur dalam peraturan perundangan serta didominasi oleh kegiatan produktif bukan pertanian. Disamping itu, wilayah tertentu yang strategis  memiliki peran dan fungsi sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, pariwisata dan sebagainya, bahkan memiliki daya tarik bagi kaum urbanis untuk tinggal di dalamnya. UU RI Nomor 1/2011 menyatakan bahwa permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan pedesaan. Adapun  ciri-ciri hunian  yang sehat di antaranya: (1) sarana dan prasarana sanitasi ada dan terawatt, (2) adanya ventilasi udara yang cukup untuk pertukaran udara sehat, (3) bangunan yang teratur. Kemudian ciri-ciri lainya, fungsi bangunan sebagai hunian, bukan berfungsi yang lain. Ciri-ciri pemukiman sehat yang terkahir adalah ada peng-hijauan. Rumah sehat adalah kondisi fisik , kimia, biologi, didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat, maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: (1) sirkulasi udara yang baik, (2) penerangan yang cukup, (3) air bersih terpenuhi, (4) pembuangan air limbah diatur dengan baik agar  tidak menimbulkan pencemaran, (5) bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lengkap serta tidak terpengaruh pen-cemaran seperti bau, rembesan air kotor, maupun udara kotor. Kata Kunci : Hunian sehat.
PENGELOLAAN LIMBAH TERNAK SAPI MENJADI BIOGAS Herriyanti, Andhina Putri
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas adalah salah satu sumber energi alternatif yang menggunakan bahan-bahan organik dalam proses pembuatannya seperti limbah peternakan, limbah pertanian, sampah organik, dan limbah organik lainnya. Pada prinsipnya teknologi biogas memberikan kemudahan didalam proses pembuatannya, sehingga mudah diterapkan pada daerah yang memiliki sumber daya manusia terbatas. Saat ini, pemerintah Indonesia telah menerapkan Program Desa Mandiri ditujukan pada daerah-daerah yang memiliki potensi energi dan dimanfaatkan dengan teknologi oleh masyarakat setempat. Desa Gogik merupakan salah satu desa yang telah menerapkan energi biogas dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat ditinjau dari aspek teknis, sosial, lingkungan dan manajemen. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan dilakukan wawancara secara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari aspek teknis ketersediaan energi lain seperti gas LPG dan kayu bakar merupakan salah satu kendala dalam pelaksanaan biogas. Peralatan dan sarana yang tersedia cukup memadai, akan tetapi hampir 70% mengalami kerusakan. Pada alih teknologi tidak didapatkan kendala apapun karena dilakukan secara terencana. Dalam aspek sosial masyarakat memiliki persepsi yang positif terhadap pelaksanaan biogas. Partisipasi masyarakat ditunjukkan dengan menyiapkan lahan dan membuat lubangan yang akan digunakan untuk membangun instalasi utama. Pada aspek lingkungan biogas belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Selain itu, dalam pelaksanaan biogas masyarakat belum sepenuhnya menerapkan konsep zero waste. Ditinjau dari aspek manajemen masyarakat belum melakukan pengelolaan secara rutin. Selain itu, pengelolaan dilakukan secara individu skala rumah tangga. Kata Kunci : Limbah ternak sapi, biogas.
KEGIATAN MEMBATIK PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Kartika, Lina Indra
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kegiatan membatik yang dilakukan di TK Muslimat Salafiyah Karangtengah Pemalang. Kegiatan membatik dilakukan agar mengoptimalkan kemampuan kreasi anak dalam menanamkan budaya Jawa. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan diskriptif kualitatif yaitu metode Spredley secara sederhana dan mendalam. Subjek penelitian adalah anak, guru, dan semua yang terlibat dalam kegiatan membatik di TK Muslimat Salafiyah Karangtengah Pemalang.   Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, catatan lapangan, dan wawancara yang dilakukan dengan analisis triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Melalui kegiatan membatik anak juga akan mengenal unsur-unsur seni tersebut untuk dikembangkan sesuai dengan karakteristik anak usia 5-6 tahun yaitu karakteristik kemampuan fisik (motorik halus), karakteristik kemampuan kognitif, dan karakteristik kemampuan sosio-emosional, (2) Pengenalan dan pengembangan tentang unsur-unsur seni ini akan terlihat dalam tujuan membatik, materi membatik, metode membatik, media membatik, proses kegiatan membatik, dan evaluasi membatik. Kata Kunci : membatik, seni, budaya
STUDI EKSPLORASI VIOLENCE AWARENESS PADA MAHASISWA: UPAYA PENCEGAHAN TINDAK KEKERASAN PADA WANITA DAN ANAK Endang Wuryandini, Zusrotin Liftiah
PAWIYATAN Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindak kekerasan terhadap wanita dan anak masih sering terjadi di dalam dunia pendidikan. Tindak kekerasan yang paling banyak terjadi disinyalir berturut-turut adalah tindak kekerasan fisik, kemudian psikis, dan tindak kekerasan seksual. Tindak kekerasan dapat terjadi pada siapa saja, dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Salah satu tempat publik yang disinyalir sering terjadi tindak kekerasan adalah di sekolah, sedangkan tempat domestiknya adalah di rumah. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui apakah ada perbedaan Violence Awareness antara mahasiswa laki-laki dengan wanita. 2) Apakah ada perbedaan Violence Awarness antara mahasiswa jurusan kependidikan dengan non kependidikan, dan 3) untuk mengetahui karakteristik latar belakang sosial ekonomi keluarga responden. Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa dari perguruan tinggi di Semarang, baik dari PTN atau PTS. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik proportional sampling.  Proporsi yang dimaksud yaitu proporsi jumlah subjek laki-laki dan wanita, serta dari jurusan kependidikan dan non kependidikan. Subjek penelitian sebanyak 160 orang terdiri dari 80 orang mahasiswa laki-laki dan 80 orang wanita. Mereka berasal dari mahasiswa kependidikan sebanyak 80 orang dan yang berasal dari non kependidikan sebanyak 80 orang. Metode pengumpulan data dengan mengkombinasikan beberapa teknik yaitu kuesioner, wawancara, focus group discussion (FGD). Metode analisis data menggunakan uji beda (t-test) untuk melihat ada tidaknya perbedaan violence awareness antara subjek laki-laki dan wanita, serta subjek dari mahasiswa kependidikan dan non kependidikan. Analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan dinamika yang tidak bisa didapatkan dari data kuantitatif. Hasil analisis statistik dengan uji beda (t-test) diperoleh hasil sebagai berikut (1). Terdapat perbedaan yang sangat signifikan violence awareness antara subjek laki-laki dan wanita dengan t sebesar 0,0001 dengan nilai mean wanita lebih besar dari laki-laki. Mean subjek wanita sebesar 98,97 sedangkan mean laki-laki sebesar 93,87. Hal ini berarti violence awareness wanita lebih tinggi dibandingkan dengan subjek laki-laki. (2). Tidak terdapat perbedaan violence awareness antara mahasiswa kependidikan dan mahasiswa non kependidikan, dengan t sebesar 1,08 dan nilai mean mahasiswa kependidikan sebesar 97,34 dan mahasiswa non kependidikan dengan mean sebesar 95,51. Mayoritas subjek (92%) memiliki violence awareness tinggi, dan hanya sedikit (8%) yang memiliki violence awareness rendah. Kata Kunci : Violence Awareness, mahasiswa, kekerasan, wanita dan anak.
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU BERBASIS INQUIRY MELALUI LESSON STUDY Nugraheni, Diah
PAWIYATAN Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims is to develop an integrated science learning instruments based inquiry by lesson study that can improve students interest and creativity, knowing effectivity and practically of integrated science learning instruments based inquiry by lesson study. This development of learning instruments is done by lesson study using research and development model by Plomp in 5 phase, namely (1) preliminary investigation, (2) design, (3) realization/construction, (4) test, evaluation, and revision, and (5) implementation. Implement of the research in SMP N 6 Semarang class VII semester 2. Instruments and technique of collect data is used by checklist, observation, questionnaire, and test method. Analysis data to know the instruments of this research is valid, effective, and practical with count of valid instruments of the data, carried out learning, students interest, students creativity, students response, data of result study, gain of students interest and creativity, and significance test. Result validation of syllabus, lesson plan, and learning material based inquiry wich develop by lesson study indicate: (1) learning instruments are valid, practical, and effective, (2) students interest and creativity increase, (3) more than 80% students have given good responses, (3) classical completeness learning is more than 75%. Thus, we can conclude that development of integrated science learning instruments based inquiry by lesson study are effective and practical to improve students interest and creativity, so the result study can optimal. This research needs to be continuous to solve the problems on learning and get a quality of learning. Key words : integrated science learning instruments, inquiry, and lesson study
PANDUAN PENULISAN KARYA ILMIAH Eko Heri Widiastuti, Y. Soeharso
PAWIYATAN Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuan yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperolehnya melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian dan pengetahuan orang lain. Dalam literatur lain, disebutkan bahwa karya tulis ilmiah adalah serangkaian kegiatan penulisan yang didasar-kan pada pengkajian atau penelitian ilmiah yang ditulis secara sistematis menggunakan bahasa prinsip-prinsip ilmiah. Atau ada juga yang menyatakan bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kriteria ilmiah. Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Karya ilmiah  ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan, maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering meng-angkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika pun tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengem-bangan dari tema terdahulu, yang disebut juga sebagai  penelitian lanjutan. Kata Kunci : Penulisan, Karya Ilmiah
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERVISI SETS (SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY AND SOCIETY) DAN BERBASIS KEWIRAUSAHAAN KIMIA (CHEMOENTREPRENEURSHIP) KOMPETENSI TERKAIT HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI Mursalin, Enggal
PAWIYATAN Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dalam rangka menghasilkan bahan ajar bervisi SETS dan berbasis kewirausahaan kimia (chemoentrepreneurship) kompetensi terkait hidrokarbon dan minyak bumi yang valid dan efektif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan menumbuhkan minat berwirausaha siswa kelas X SMAN 4 Semarang tahun ajaran 2011/2012. Pengujian pengembangan bahan ajar dan pembelajaran menggunakan rancangan penelitian pretest and posttest group design yang dilakukan pada kelas terbatas dan kelas luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan bahan ajar bervisi SETS dan berbasis kewirausahaan kimia (chemoentrepreneurship) dapat meningkatkan prestasi belajar kelas luas dengan peningkatan sebesar 0,70 (tinggi) dan 78,12% siswa mempunyai minat berwirausaha dengan kategori sangat tinggi. Sedangkan respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar bervisi SETS dan berbasis kewirausahaan kimia (chemoentrepreneurship) menghasilkan respon positif serta pembelajaran dapat dikatakan praktis dan efektif. Dengan demikian pengembangan bahan ajar bervisi SETS dan berbasis kewirausahaan kimia (chemoentrepreneurship) disimpulkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan menumbuhkan minat berwirausaha siswa. Kata Kunci : bahan ajar, visi SETS, kewirausahaan kimia, hidrokarbon dan minyak bumi
ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN INDONESIA Muryati, Sri
PAWIYATAN Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru dalam pembelajaran memiliki tanggung jawab menanamkan karakter atau watak siswa sangat penting dijadikan titik tolak dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai dasar membangun pribadi yang memiliki mental spiritual, kesehatan, rohaniah dan jasmaniah yang utuh. Profesionalisme bukan sekedar pengetahuan teknologi manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan professional lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki ketrampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan guru yang professional pada dasarnya ditentukan oleh metodennya yang berarti pada ketatanan kematangan yang mensyaratkan willingness dan ability, baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Usaha meningkatkan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab bersama antara LPTK sebagai pencetak guru, instasi yang memberi guru dalam hal ini kementerian pendidikan kebudayaan dan persatuan guru Republik Indonesia. Kata Kunci : guru, profesionalisme

Page 8 of 25 | Total Record : 242