cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2013)" : 5 Documents clear
Studi Transformasi Hidrat Sefadroksil Monohidrat dan Sefaleksin Monohidrat dengan FTIR Ilma Nugrahani; Slamet Ibrahim; Rachmat Mauludin; Pusparani Krisnamurthi
Jurnal Matematika & Sains Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Fourier Transform Infra Red (FTIR) biasanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan hidrat dalam padatan kristal secara kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan metode  FTIR untuk menganalisis keberadaan dan perubahan jumlah/transformasi hidrat sefaleksin monohidrat dan sefadroksil monohidrat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil analisis FTIR dikonfirmasi dengan DSC (Differential Scanning Calorimeter) dan PXRD (Powder Xray Diffractometer) sebagai metode standard analisis padatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak hidrat dari sefaleksin terlihat pada bilangan gelombang 3386-3586 cm-1, sedangkan puncak hidrat dari sefadroksil terlihat pada bilangan gelombang 3471-3650 cm-1. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan mengukur Area Under Curve (AUC) dari derivat puncak hidrat pada spektra FTIR; kemudian membuat kurva kalibrasi antara AUC dengan kadar padatan dalam pelat KBr. Kurva kalibrasi menghasilkan nilai R=0,9996, sedangkan sefadroksil monohidrat R=0,9995. Selanjutnya transformasi hidrat dari kedua antibiotika dilakukan dengan pengambilan sampel terhadap padatan yang digerus selama 180 menit dan dicuplik setiap 30 menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sefadroksil monohidrat mengalami kehilangan spektra hidrat pada menit ke-180 sedangkan sefaleksin monohidrat pada menit ke-150. Padatan antibiotika hasil penggerusan tersebut kemudian dipaparkan terhadap lembab di dalam desikator dengan kelembaban  RH 71% dan RH 99%, pada suhu 25°C. Hasil analisis FTIR dikonfirmasi dengan DSC dan PXRD menunjukkan bahwa hidrat tidak kembali pada jumlah dan bentuk semula. Keseluruhan data membuktikan bahwa FTIR dapat menganalisis transformasi hidrat sefadroksil monohidrat dan sefaleksin monohidrat dengan ketelitian yang baik. Dengan demikian, FTIR layak menjadi metode alternatif maupun pelengkap untuk menganalisis hidrat dan transformasinya.  Kata kunci : Sefaleksin monohidrat, Sefadroksil monohidrat, Transformasi hidrat, FTIR.   Study of Hydrate Transformation of Cepadroxil Monohydrate and Cepalexin Monohydrate Using FTIR Abstract Fourier Transform Infra Red (FTIR) generally is used as a qualitative method to detect hydrate in a crystal solid form. The purpose of this research was to develop FTIR method to analyze hydrate and its transformation in cephalexin monohydrate and cefadroxil monohydrate qualitative and quantitatively. Data of FTIR analysis were confirmed with DSC (Differential Scanning Calorimeter) and PXRD (Powder Xray Diffractometer) which have known as standard methods of solid analysis.  The results of this experiment showed that hydrate of cephadroxil spectra was founded at 3386-3586 cm-1 wavenumber, while cephalexin monohydrate at 3471-3650 cm-1. Quantification approach of FTIR’s was performed by measure the AUC (Area under Curve) of the derivative of hydrate spectra and made the calibration curve between AUC versus sample concentration in the KBr plate. The calibration curves showed cephalexin monohydrate linearity value : R=0.9996, while cefadroxil monohydrate had R=0.9995. Hydrate transformation were observed by grinding of APIs for 180 minutes and sample is taken for every 30 minutes for evaluate its hydrate transformation with FTIR. Cefadroxil monohydrate lost its hydrate after 180 minutes and cephalexin monohydrate after 150 minutes of grinding. After that, the grinding samples were exposed to humidity in  desicators with RH: 71 and 99%, at the temperature 25°C. FTIR spectra confirmed by DSC and PXRD showed that both samples cannot rehydrate back to its original amount and form. All of data proved that FTIR can be used as an adequate methods to analyze hydrate transformation of cephadroxil and cephalexin. Finally, FTIR  considered as a proper alternative or complementary analysis instrument for solid state analysis, especially the hydrate and its transformation. Keywords : Cefadroxil monohydrate, Cephalexin monohydrate, Hydrate transformation, FTIR.
Auslander Reiten Quiver of Nakayama Algebra Nn-2,n Faisal Faisal; Irawati Irawati; Intan Muchtadi Alamsyah
Jurnal Matematika & Sains Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

For an algebraically closed field K, given a finite dimensional K-algebra A of  finite representation-type, we can store all the information of the module category mod A by its Auslander Reiten quiver of mod A. In this paper, we will determine the Auslander Reiten quiver of Nakayama algebra Nn-2,n  for every natural number n greater than or equal to 3, that is the  Nakayama algebra KQ/I where Q is a linear orientation cyclic quiver with  vertices and  denotes the ideal of the path algebra KQ generated by the paths of length of n – 1. Keywords: AR-quiver , Nakayama algebra, Quiver.   Quiver Auslander Reiten dari Aljabar Nakayama Nn-2,n AbstrakDiberikan K-aljabar A berdimensi hingga tipe representasi hingga dengan K suatu lapangan yang tertutup secara aljabar,  kita dapat menyimpan semua informasi dari kategori modul kanan mod A menggunakan Auslander Reiten quiver (AR-quiver) dari mod A. Dalam artikel ini, kita akan menentukan quiver Auslander Reiten dari aljabar Nakayama untuk setiap bilangan asli n lebih besar sama dengan 3. Aljabar Nn-2,n adalah aljabar Nakayama KQ/I dimana Q adalah quiver siklis berorientasi linier dengan  titik dan I adalah ideal dari aljabar lintasan KQ yang dibangun oleh lintasan panjang n – 1. Kata Kunci : AR-quiver, Aljabar Nakayama, Quiver.
Suatu Metode Penjadwalan Pertandingan yang ‘Baik’ untuk Kompetisi Liga Sepakbola Menggunakan Persegi Latin Ricky Aditya
Jurnal Matematika & Sains Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu kompetisi liga sepakbola umumnya digelar dengan sistem kompetisi penuh format kandang-tandang, yaitu setiap dua tim peserta bertanding dua kali dengan bergantian menjadi tuan rumah. Banyaknya pertandingan yang digelar membuat penjadwalan menjadi masalah krusial yang dapat mempengaruhi peringkat. Agar nilai kompetisi tidak berkurang, pihak pengelola kompetisi harus membuat jadwal yang ‘baik’ dan adil untuk semua tim peserta. Dalam hal ini frekuensi pertandingan, frekuensi kandang-tandang dan urutan pertandingan diatur agar seimbang untuk semua tim peserta. Dalam makalah ini disajikan suatu metode penjadwalan yang ‘baik’ dengan menggunakan pendekatan persegi Latin (Latin squares). Metode penjadwalan untuk liga dengan jumlah peserta ganjil akan disajikan terlebih dahulu. Selanjutnya metode diperluas untuk jumlah peserta genap. Lebih lanjut dibuktikan pula bahwa metode ini dapat diterapkan untuk liga dengan jumlah peserta berapapun. Kata Kunci: Kompetisi liga sepakbola, Format kandang-tandang, Penjadwalan pertandingan, Persegi Latin.   A ‘Good’ Scheduling Method for Football League Competition by Using Latin Squares Approach Abstract A football league competition is usually held in a double round-robin competition on home and away format. That is, every team will play against each other team twice, once as the host, once as the visitor. Because of the high number of matches that should be held, the match scheduling will be crucial problem which can affect the competition standings. In order to keep the competitive value, the competition’s administrator must create a ‘good’ and fair schedule for all participating teams. In this case, frequencies of matches, home and away frequencies and order of the matches are set to be balanced for all participating teams. In this article, we will introduce a ‘good’ scheduling method by using Latin squares approach. First we will give the method for odd number of participants. Then, the method is extended to even number of participants. Furthermore it is also proved that this method can be applied for any number of participants in a league. Keywords: Football competition, Home-away format, Match scheduling, Latin Squares.
Novel Mutations in the katG Gene in Isoniazid Resistant Mycobacterium tuberculosis Isolate Purkan Purkan; Ihsanawati Ihsanawati; Debbie Soefie Soefie; Yana Maolana Syah; Achmad Saifuddin Noer; Dessy Natalia
Jurnal Matematika & Sains Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isoniazid (INH) resistance in Mycobacterium tuberculosis is commonly associated with mutations in katG encoding catalase-peroxidase.  A clinical isolate of M. tuberculosis L21 exhibits isoniazid resistant phenotype.  A 2.2 kb DNA fragment of katG gene from the L21 isolate had been cloned and characterized.  The L21 katG gene has four point mutations, namely T898C; G1388T; T1997C; C2035T; and one G2203 deletion.  The in silico translation analysis of the katG mutant suggests that the mutation results in a truncated protein lacking of 62 C-terminal amino acids with three amino acid substitutions, Trp300Arg, Arg463Leu, and Ile666Thr. The structural model superposition of the mutant protein with the full length protein suggests that the mutant losses an ability to form a dimer structure, and also posseses a distortion of intermolecular interactions in the substrate binding channel. Keywords: katG gene, KatG, MDR M. tuberculosis, Isoniazid resistance, Structure model.   Beberapa Mutasi Baru pada Gen katG pada Isolat Mycobacterium tuberculosis Resisten Isoniazid Abstrak Resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap isoniazid umumnya berkaitan dengan mutasi yang terjadi pada gen katG yang pengode katalase-peroksidase.  Isolat klinis M. tuberculosis L21 fenotip resisten terhadap isoniazid.  Fragmen DNA berukuran 2,2 kb dari gen katG dari isolate L21 telah diisolasi dan dikarakterisasi. Gen katG dari isolat L21 memiliki empat mutasi, yaitu T898C; G1388T; T1997C; C2035T; dan delesi G2203.  Analisis in silico terhadap gen katG mutan menunjukkan bahwa mutasi yang terjadi menhasilkan protein mutan yang kehilangan 62 asam amino pada ujung-C yang juga mengandung perubahan asam amino Trp300Arg, Arg463Leu, dan Ile666Thr. Superposisi model struktur protein antara protein mutan dengan protein utuh menyarankan bahwa protein mutan diduga tidak dapat membentuk struktur dimer dan juga mengandung interaksi molekular pada poket pengikatan substrat yang berbeda. Kata kunci: Gen katG, M. tuberculosis, Resisten isoniazid, Model struktur.
On the Evolution of BM Orionis Rhorom Priyatikanto
Jurnal Matematika & Sains Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BM Orionis, an eclipsing binary system which is located in the center of Orion Nebula Cluster, posseses several enigmatic problems. Its intrinsic nature and nebular environment make it harder to measure the physical parameters of the system, but it is believed as an Algol-type binary, where the secondary component is a pre-main sequence star with larger radius. To assure this, several stellar models (M1 = 5.9 M¤ and M2 = 2.0 M¤) are created and simulated using MESA. Compared to non-rotating ones, models with rigid rotation of wi = 10-8 rad/s exhibit considerably similar properties during pre-main sequence stage. However, 2.0 M¤ star at assumed age of ~106 years is 6.46 times dimmer than the observed secondary star. There must be an external mechanism to fill this luminosity gap. Then, simulated post-main sequence binary evolution of BM Orionis that involves mass transfer shows that primary star will reach helium sequence with the mass of ~0.9 M¤ before second stage mass transfer. Keywords: Binary star, Stellar and binary evolution.   Evolusi BM Orionis Abstrak BM Orionis, sebuah sistem bintang ganda yang terletak di pusat Orion Nebula Cluster, memiliki beberapa masalah enigmatis. Kondisi intrinsik serta lingkungan yang penuh awan antarbintang membuat pengukuran parameter fisis sistem menjadi makin sulit, tapi sistem ini telah dipercaya sebagai sistem Algol, di mana komponen sekundernya merupakan bintang pra-deret utama dengan radius lebih besar. Untuk memastikan hal ini, beberapa model bintang (M1 = 5,9 M¤ dan M2 = 2,0 M¤) disimulasikan menggunakan MESA. Dibandingkan dengan model tanpa rotasi, model berotasi dengan kecepatan sudut wi = 10-8 rad/s memiliki properti yang hampir sama selama tahap evolusi pra-deret utama. Akan tetapi, model bermassa 2.0 M¤ pada usia ~106 tahun 6.46 kali lebih redup dibandingkan bintang sekunder yang teramati. Harus ada mekanisme eksternal untuk menjelaskan kesenjangan luminositas ini. Kemudian, simulasi evolusi lanjut BM Orionis yang melibatkan transfer massa menunjukkan bahwa bintang primer akan mencapai helium sequence dengan massa ~0.9 M¤ sebelum transfer massa tahap kedua. Kata kunci: Bintang ganda, Evolusi bintang, Evolusi bintang ganda.

Page 1 of 1 | Total Record : 5