cover
Contact Name
Thema Arrisaldi
Contact Email
arrisaldi@gmail.com
Phone
+6282243576656
Journal Mail Official
jurnalmtg@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta, Jalan SWK Ringroad Utara,Condong Catur Kabupaten Sleman jurnalmtg@upnyk.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah MTG
ISSN : 19790090     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Kebumian MTG (JMTG) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JMTG covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining,Geography and geo-environment. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 144 Documents
PENELITIAN GEOTEKNIK UNTUK PENGEMBANGAN KOTA KEBUMEN SEBAGAI MODEL AREA BERBASIS KEBENCANAAN RAWAN LONGSOR Hariyadi Djamal
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Penelitian geoteknik pada longsoran tebing Kali Luk Ulo, didaerah Muktisari - Tamanwinangun, Kebumen dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geoteknik guna pendukung perencanaan untuk pengembangan tata ruang kota Kebumen. Penelitian ini dilaksanakan berlatar belakang adanya bencana longsor yang banyak terjadi di musim hujan terutama pada daerah dengan kondisi geologi yang rentan longso, dengan kemiringan lereng serta intensitas hujan tinggi. Pada tahun 1991 didaerah ini pernah terjadi longsor hingga menimbulkan kerugian jalan desa terputus, saluran irigasi sekunder rusak dan sawah mengalami kekeringan serta beberapa rumah permukiman penduduk rusak. Hasil penelitian ini untuk mendapatkan suatu model pengembangan wilayah kota Kebumen beerbasis kebencaanan tanah longsor. Kata kunci: Geoteknik, Model are, Rawan longsor dan Kebumen. .
ESTIMASI BENTUK DASAR SUNGAI BERDASARKAN ANALISA BESAR BUTIR SEDIMEN DI MODIFIED AJKWA DEPOSITION AREA (ModADA) TIMIKA, PAPUA Budhi Setiawan; Edy Sutriyono; Merri Jayanti
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Tailing is one of waste types produced by mining activity at PT. Freepot Indonesia (PTFI), and it is also called as sirsat, which is the representing abbreviation from sand in mining. The sirsat is placed at ModADA (Modified Ajkwa Deposition Area), an area that has been modified and managed for sirsat deposits. This area is about 235 square kilometres, which is bounded from the surrounding region by West Levee and East Levee. The system used by utilizing the river flow to carry the tailing from the mountain to the deposition area in ModADA.The river flow along the channel contains eroded materials which are correlated with the friction factor, velocity of sedimentation, and geometric configuration showing the bed river morphology. Grain size is a factor influencing the bed river morphology which is used as parameter in this study. The measurement and accumulation of sirsat grains have been conducted since 1997 up to now, and at the same time construction of river cross sections from highland to lowland in ModADA has also been made. These parameters are then utilized for analysis by using statistical approach such as mean, variance, and standard deviation. Estimation of the bed river morphology is carried out by analysing the characteristics of channel base form on the basis of the D50 sediment grain sizes. The estimation of the bed river morphology may be used to predict sedimentation pattern of the river flow in Ajkwa lowland in Timika, Papua.Keywords: ModADA, Grain Size, Bedriver, Sedimentation
KORELASI POROSITAS vs PERMEABILITAS LAPANGAN “Y” DENGAN MENGGUNAKAN DATA CORE KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH Dedi Cahyoko Aji
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Karakterisasi resevoir merupakan integrasi data geologi dan engineering, berdasarkan analisa geologi diperoleh interpretasi secara kualitatif, sedangkan untuk melakukan korelasi dan karakteristik sehingga memperoleh data kuantitatif diperlukan suatu metode. Salah satu metode yang digunakan adalah Hydraulic Flow Unit (HFU) yang merupakan salah satu metode yang dikembangkan berdasarkan analisa core, pada prinsipnya metode ini mengelompokkan data berdasarkan zona alirannya (hydraulic unit). Pada Lapangan "Y" merupakan salah satu lapangan minyak dengan data core yang terbatas pada beberapa interval kedalaman, dengan menerapakan metode HFU diperoleh 7 zona aliran yang merupakan hasil korelasi. Zonasi hasil analisa data core Lapangan "Y" sangat dipengaruhi oleh litologi, berdasarkan hasil zonasi maka diperoleh persamaan yang dapat dipergunakan untuk pendeskripsian (perhitungan) nilai permeabilitas pada interval kedalaman yang tidak mempunyai data core dan juga dapat digunakan dalam melakukan pemodelan permeabilitas sehingga sesuai dengan kondisi lapangan. Parameter validasi ini (permeabilitas) dikontrol dengan nilai r2 sebesar 0.959 yang mengindikasikan bahwa hasil perhitungan permeabilitas dengan menggunakan metode HFU mendekati data permeabilitas Lapangan "Y"
PEMBENTUKAN RESERVOAR DAERAH KARST PEGUNUNGAN SEWU, PEGUNUNGAN SELATAN JAWA Salatun Said
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Pada umumnya topografi karst di daerah Pegunungan Selatan Jawa yang dikenal sebagai Pegunungan Sewu lebih didominasi oleh bentang alam dengan relief positip daripada kenampakan relief negatip seperti sink hole, dolina dan sebagainya. Pembentukan karst Pegunungan Sewu sangat berkait dengan pengaruh curah hujan tinggi daerah beriklim tropis. Pengangkatan batuan karbonat yang terlitifikasi paling tidak telah mempengaruhi permukaan aliran air hujan (run-off) pada wilayah yang luas dan mengontrol perkembangan bentang alam karst yang berrelief positip. Pengangkatan juga akan menyebabkan pembentukan sesar maupun rekahan-rekahan yang lebih jauh akan mengontrol penyebaran bentang alam karst termasuk pula perkembangan porositas sekundernya yang berperan dalam pembentukan reservoir. Berdasarkan pada karakter reservoir daerah telitian dapat dibagi menjadi dua karakter reservoir yaitu reservoir dengan porositas rekahan di selatan dan reservoir dengan porositas matrik di utara.
SEKUEN PARAGENESA DAN ZONASI SKARN PADA ENDAPAN BIJIH BIG GOSSAN ERTSBERG – TEMBAGAPURA TIMIKA – PAPUA VITUS LARE HANGGANATA
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Perlu dikatahui bahwa endapan bijih skarn Big Gossan, terletak sekitar 1 km di bagian barat daya kompleks endapan bijih skarn Ertsberg, 2 km selatan endapan porfiri Grasberg. Endapan bijih ini merupakan endapan bijih tipe skarn dengan kadar tembaga sangat tinggi. Pada Akhir 2007, cadangan bijih Big Gossan adalah 52 ,7 juta ton dengan rata-rata kadar Cu 2,31%, Au 1,1 g/t dan Ag 14,75 g/t. Dimensi endapan bijih Big Gossan membentuk pola yang tabular, mempunyai panjang lebih dari 1 km, ketinggian sekitar 500 m dan lebar bervariasi sampai sekitar 200 m. Zona skarn di endapan Big Gosan berturut-turut dari batas hornfels (Kkeh) menjadi proksimal skarn (garnet>klino-piroksen), intermediet skarn (garnet=klino-piroksen), distal skarn (klino-piroksen>garnet), dan marmer. Pengamatan di dalam drift serta inti bor, menunjukkan bahwa proksimal skarn dimulai pada batas antara batuan karbonat Formasi Waripi dan Anggota Batugaping Formasi Ekmai dengan hornfels dari lapisan serpih Formasi Ekmai bergradasi menjadi intermediet, distal hingga marmer. Garnet hadir melimpah dan secara gradual menghilang kearah marmer. Sebaliknya klino-piroksen hadir dalam jumlah kecil di sekitar hornfel dan secara berangsur semakin banyak kearah batas marmer. Secara umum paragenesa mineral endapan bijih skarn Big Gosan dimulai dari proses metamorfisme, yang menghasilkan Hornfels biotit-kalium feldspar dan hornfels biotit-piroksen. Proses berikutnya interaksi fluida hidrotermal dengan batuan samping dan bagian tepi intrusi menghasilkan prograde anhydrous yang dicirikan oleh hadirnya mineral garnet (andradit-grosularit) dan klino-piroksen (diopsid-hedenbergit) disertai epidot-kalsit-kuarsa-anhidrit. Hadirnya mineral tremolit-aktinolit dalam jumlah yang banyak, disertai mineral-mineral talk-anhidrit-kalsit-epidot-garnet-magnetit-pirit, menandai adanya fase retrograde hidrous skarn, yang diawali oleh pembentukan breksi hidrotermal. Sebagian besar mineral sulfida diantaranya magnetit, pirit, kalkopirit,sfalerit, pirhotit, galena, yang berasosiasi dengan kehadiran Cu dan Au, terbentuk setelah fase retrograde.
PENYEBARAN CEBAKAN TIMAH SEKUNDER DI DAERAH KECAMATAN AIRGEGAS KABUPATEN BANGKA SELATAN PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Heru Sigit Purwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Penelitian bijih timah sekunder ini berada di daerah Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Berdasarkan dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan batupasir, satuan batuan piroklastik .Pola struktur sesar atau patahan yang memotong di daerah penelitian yang umumnya berarah Barat laut - Tenggara . Litologi daerah telitian adalah satuan batupasir, satuan batuan piroklastik dan litodem granit. Struktur geologi daerah telitian secara umum dikontrol oleh adanya kekar-kekar yang secara umum berkedudukan N 130O- 140OE/75O. Analisa distribusi besar butir berdasarkan fraksi tyler, hasil analisa sampel gravel di daerah Tambang rakyat pada 8DF (665683,9694876,20) menunjukkan kadar timah (Sn) sebesar 0,82% dari kadar konsentrat 4,83 gram, dengan kehadiran mineral pada endapan gravel berupa kasiterit, ilmenit, zircon, turmalin dan mineral kuarsa.Diinterpretasikan penyebaran bijih timah terkonsentrasi pada cekungan-cekungan sungai purba (“paleo-river”) yang didaerah telitian terdapat di daerah Tepus dan sekitarnya.
IMPLEMENTASI SISTEM KOMPUTER YANG LEBIH MAJU PADA PEMASANGAN VERTICAL DRAIN, STUDI KASUS CAI MEP INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL PROJECT, DI VIETNAM Agfiedjoemiedhal Agfiedjoemiedhal
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Pada proses pemasangan Vertical Drain (PVD), umumnya pengumpulan data masih dilakukan secara manual, seperti untuk pencatatan kedalaman Vertical Drain secara manual dengan melihat tanda yang ditera pada mandrel dan diberi skala pada rumah mandrel (housing mandrel) dengan skala jarak 10 centimeter, data yang dihasilkan dicatat pada kertas formulir.Penggunaan sistem komputer pada proses pemasangan Vertical Drain, telah mulai di era 90’an, ketika itu output data dari komputer yang diperoleh masih sederhana, berupa beberapa jenis saja dan memakan waktu lama pada saat proses data menjadi informasi.Seiring berjalannya waktu, sistem komputer yang dipakai sekarang pada pemasangan Vertical Drain semakin lebih maju dan dapat memberikan lebih banyak informasi. Setelah selesai proses pemasangan, bisa langsung didapatkan informasi siap pakai yang dapat di simpan dan kemudian bisa dicetak langsung sebagai laporan..Kata Kunci : vertical drain, sistem komputer pada alat vertical drain, pvd
LATERITISASI NIKEL PULAU PAKAL, KAB. HALMAHERA SELATAN PROVINSI MALUKU UTARA Heru Sigit Purwanto; Sari Agustini
Jurnal Ilmiah MTG Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Laterite nickel study area in the southern part of the Pakal island is nickel mine owned by PT Antam ( presero ) Tbk , which has been done in mining ore for export .Ultramafic rocks are part of a series of regional ophiolite that formed as a plate collision obduction ocean crust on the island arc in the western Pacific plate. Minerals analysis with XRD and petrography are olivine and pyroxene which partially altered into serpentine as lizardite, chrysotile and talc. Olivine is a mineral that most carriers element Ni to 0.3 %. Ultramafic rocks classification based on mineral composition of olivine and piroksen are dunite and peridotite which is weak-strong serpentinize.Weathering process is strongly influenced by the origin of rock types, minerals and elements stability, mobilization ions, residual concentration and enrichment. Relative concentration of elements Mg and SiO2 which is inversely proportional to the mobile elements that are immobile Fe. Alteration of olivine and pyroxene due to weathering processes starts from the unstable nature altered into smectite in the saprolite and transition zone. Chrysopras is quartz vein that is formed on the associated with nickel saprolite zone between the boulders filled fractures. Serpentine and talc have altered slower and more stable at acidic pH but in alkaline pH more acid was forming secondary minerals such as oxidation minerals (hematite and gibbsite) and hydroxide minerals as goethite. Ni unstable in acidic pH was close to the surface and then tends to bind elements also form a ferro magnesian garnierite.Weathering process of unserpentine rocks was faster than serpentines rocks. The relative concentration of Ni in unserpentine rocks more than weak until strong serpentinize rocks, with a ratio of 3-6 : 2-3 .Enriched Ni > 1.5 % occurred in the saprolite zone and transition zone with Fe < 13 % , 14-21 % Mg , with a range of 0.03% Co. Concentration of nickel study area can be classified as a potential Hydrous silicate Deposits (saprolite zone) and Oxide deposite (zone limonite - transition), the fix system processing nickel laterite ore for study area is a combination of propagators pyrometalurgical and hydrometallurgy.
PETROLOGY OF HIRO CAVE MEKKAH SAUDI ARABIA, MIDDLE EAST Suharwanto Suharwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Goa Hiro terletak di puncak bukit Jabal Nur, kurang lebih 2 mil sebelah Timur Laut dari Masjidil Haram. Di Goa inilah , pertama kali Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu (surah Al-Alaq 1-5) Penelitian dilakukan dengan : observasi, mengambil beberapa sample batuan, membuat preparasi sayatan tipis dan menganalisis secara mikroskopis. Keberadaan sebuah goa di alam pada umumnya terbentuk di daerah karst (batugamping), namun di Goa Hiro tidaklah demikian halnya. Goa Hiro terbentuk oleh granit yang mengintrusi batuan-batuan metamorf (sekis hijau). Intrusi granit tampak berwarna putih-pink, bagian permukaan lapuk berwarna kecoklatan dan memperlihatkan blok-blok yang jatuh (an exfoliating). Hasil analisis mikroskopis memperlihatkan tekstur fanerik kasar, holokristalin dengan komposisi mineral terdiri dari kuarsa (25%), ortoklas (30%), plagioklas (20%), mika ( muskovit, biotit 15%), hornblende (8%) and mineral opaq (2 %).Keywords : Goa Hiro, granit
KARAKTERISTIK BATUBARA PADA FORMASI LABANAN, SUB CEKUNGAN BERAU, DAERAH SAMBALIUNG, KABUPATEN BERAU, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR Achmad Rodhi
Jurnal Ilmiah MTG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Daerah telitian secara administratif terletak ± 60 km sebelah barat daya dari kota Tanjung Redep, daerah Kelai dan sekitarnya yang secara administratif termasuk ke dalam Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Secara Geografis lokasi penelitian dibatasi N 530.000 – N 536.000 dan E 209.000 – E 215.000Secara geomorfik, terdiri dari dua satuan bentukan asal, yaitu bentukan asal fluvial subsatuan geomorfik Dataran Alluvial dan Rawa , bentukan asal denudasional subsatuan geomorfik Perbukitan Bergelombang Kuat dan subsatuan geomorfik Perbukitan Bergelombang Sedang .Stratigrafi daerah Kelai terdiri dari tua ke muda yaitu satuan batupasir lempungan berumur Miosen Tengah, satuan batupasir konglomeratan labanan, dan secara tidak selaras dengan satuan endapan aluvial. Pengendapan pada daerah telitian diinterpretasikan pada lingkungan pengendapan Lower Delta Plain – Upper Delta Plain.Struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian berupa struktur kekar, dan lipatan sinklin menunjam yang memiliki kedudukan arah umum sayap-sayap lipatan yang terbentuk N204°E/56° dan N278°E/24°, sumbu lipatan N354°E/58°, dan hinge line 24°, N6°E, tegasan terbesar 23°, N263°E dengan nama Moderate Inclined Gentle Plunging Fold (Fluety, 1964).Di daerah Kelay diketemukan lapisan-lapisan batubara pada formasi Labanan sedikitnya ada 46 seam, yaitu A, B, C, D, E lower, E, F, F Upper, F Upper 1, G, H, H Upper, I, J Lower, J lower 1, J Lower 2, J, J Upper, K Lower, K, L Lower, L, L Upper, M, N, N Upper, N Upper 1, O Lower, O, O Upper, P, Q Lower, Q Upper, R Lower, R Upper, S, T Lower, T Upper, U,U Upper, V Lower, V Upper, W, X, Y, dan Z.Ketebalan lapisan-lapisan batubara pada umumnya tergolong klasifikasi tipis–tebal (Jeremic,1985). Kemiringan lapisan mempunyai dua zona berdasarkan pembagian sayap lipatan, sayap timur mempunyai klasifikasi kemiringan curam, sedangkan pada zona sayap barat mempunyai klasifikasi kemiringan landai (Jeremic,1985), dengan sebaran lapisan batubara termasuk dalam lapisan batubara yang menerus. Keteraturan bidang lapisan batubara membentuk permukaan bidang yang hampir rata dan bergelombang lemah.

Page 3 of 15 | Total Record : 144