cover
Contact Name
Thema Arrisaldi
Contact Email
arrisaldi@gmail.com
Phone
+6282243576656
Journal Mail Official
jurnalmtg@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta, Jalan SWK Ringroad Utara,Condong Catur Kabupaten Sleman jurnalmtg@upnyk.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah MTG
ISSN : 19790090     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Kebumian MTG (JMTG) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JMTG covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining,Geography and geo-environment. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 144 Documents
“GOVERMENT LIAISON” Peranannya dalam memudahkan proses bisnis Perminyakan dengan Pemerintah terutama dalam aktivitas Eksplorasi dan Exploitasi. Mustoto Moehadi
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Mulai awal abad ke 20 hingga kemungkinan sampai akhir abad 21, minyak dan gas bumi diperkirakan merupakan sumber energi yang sangat strategis. Hal ini dikarenakan sebagian besar industri yang ada di bumi, dari tingkatan industri kecil kelas rumah tangga hingga industri raksasa dunia, ternyata masih mempergunakan minyak dan gas bumi sebagai sumber eneginya. Oleh karenanya kedudukan minyak dan gas bumi menjadi sedemikian istimewanya dalam peradaban kehidupan manusia. Sedangkan di Indonesia sendiri minyak dan gas bumi masih merupakan andalan penghasil devisa utama Negara sampai diatas 60%.Dalam kebijakaanya Pemerintah perlu mengaturnya dengan keluarnya UU No.22 tahun 2001 tentang minyak dan gas Bumi, kewenangan pembuatan kebijakan di bidang minyak dan gas bumi berada di dalam kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pemerintah Indonesia dalam melakukan kebijakaan yang akan diterapkan dalam bidang minyak dan gas bumi seyogyanya didasarkan pada kenyataannya bahwa minyak dan gas bumi tersebut adalah mineral yang ditambang habis yang artinya bahan tersebut tidak dapat diperbaruhi. Meningkatnya permintaan dunia maupun dalam negeri Indonesia tentunya juga menjadi bahan pertimbangan pemerintah.Para investor baik dari dalam negeri yang berbentuk Badan Usaha ataupun dari luar negeri yang berbentuk Badan Usaha Tetap yang bergerak dalam bidang perminyakan tentunya sangat tertarik dengan keuntungan yang akan diraihnya apabila bisa mendapatkan minyak dan gas bumi secara komersial, walaupun kemungkinan adanya resiko kegagalannya sangat tinggi.BPMIGAS sebagai wakil dari pemerintah Indonesia merupakan pemegang kuasa pertambangan minyak dan gas akan melakukan kontrak kerja bersama dengan para investor melalui Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap dalam bentuk Kontrak Bagi Hasil atau disingkat KKS atau “Production Sharing Contract” atau disingkat PSC.KKS dalam operasionalnya biasanya memerlukan peran seorang yang bekerja sebagai “Government Liaison” yang bisa bertindak untuk mewakili perusahaan tersebut dalam hubunganya dengan pemerintahannya terutama untuk pengurusan perijinan atau persetujuaan dari pemerintah melalui BPMIGAS ataupun MIGAS dalam rangka pelaksanaan aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi yang didasarkan atas komitment kontrak yang telah ditandatangani mapun POD yang telah disetujui oleh pemerintah.Kata kunci : Energi Strategis,UU Migas sebagai kebijakan Pemerintah, BPMIGAS vs KKS dan Goverment Liaison.
PENTINGNYA PENELITIAN DETIL DI CEKUNGAN BATURETNO Purna Sulastya Putra
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh penulis di bagian barat Cekungan Baturetno menyimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi adanya Danau Baturetno Purba serta pembalikan arah Bengawan Solo Purba tidak pernah terjadi. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan karakteristik stratigrafi dan sedimentologi Formasi Baturetno. Karakteristik sedimentologi dan mikropaleontologi endapan lempung hitam tidak mencerminkan hasil pengendapan danau Baturetno Purba. Dua hal penting hasil penelitian penulis tersebut sangat berbeda dengan penelitian – penelitian terdahulu. Tulisan ini bermaksud mengurai fakta lapangan dan laboratorium yang terbaru tentang Formasi Baturetno dan keterkaitannya dengan Danau Baturetno Purba dan Bengawan Solo Purba serta hal – hal yang harus dilakukan untuk menguak kebenaran ilmiah ada tidaknya pembalikan arah Bengawan Solo Purba dan pembentukan danau Baturetno Purba
POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA DAERAH DESA SUNGAI LIMAU, KECAMATAN ASAMJUJUHAN, KABUPATEN DHARMASRAYA, SUMATRA BARAT Obrin Trianda
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Pada saat ini bisnis disektor batubara sangat membuming pesat di Indonesia, sehinga membuat para investor local maupun asing mencari area yang berpotensi batubara. Sehinga membuat pemerintahan kabupaten dharmasraya berkerja sama dengan dinsa pertambangan setempat mencari area yang berpotensi adanya batubara di daerah tersebut.Secara administratif daerah penelitian terletak di Desa Sungai Limau dan sekitarnya, Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumatra Barat pada koordinat 796000-802000 timur dan 9845000-984900 utara. Penelitian dilakukan pada Sub-Cekungan Jambi. Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi empat bentuk lahan yaitu bentuk lahan Perbukitan Homoklin (S1), bentuk lahan Lembah Homoklin (S2), bentuk lahan Bukit Sisa (D1), dan Dataran Banjir (F1). Pola pengaliran daerah penelitian termasuk dalam pola aliran dendritik. Daerah penelitian termasuk dalam stadia dewasa-tua.Stratigrafi pada daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan batuan dari tua ke muda yaitu satuan batupasir Sinamar, pada bagian atasnya diendapkan satuan batulempung Sinamar secara selaras pada Kala Oligosen N2-N3). Terendapkan konglomerat gunung api muda secara tidak selaras di atas batupasir Sinamar pada kala Holosen. Selanjutnya terendapkan endapan aluvial di atassatuan batulempung Sinamar secara tidak selaras pada Kala Holosen sampai sekarang. Endapan alluvial ini terdapat pada daerah sungai yang berupa kumpulan material sedimen lapukan dari beberapa lithologi yang telah tercampur.
GAS METHANE BATUBARA DI FORMASI WAHAU BERDASARKAN DATA PROKSIMAT DAN MASERAL, KABUPATEN KUTAI TIMUR , KALIMANTAN TIMUR Sugeng Sugeng
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Penelitian geologi yang dilaksanakan di sub cekungan Kutai terhadap lapangan batubara Wahau, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur, adalah untuk mengetahui potensi sumber daya “coalbed methane” di daerah tersebut. Pengamatan lapangan yang dilakukan di lapangan batubara menunjukkan bahwa litotipe batubara yang teramati adalah “dull banded”. Sementara itu, dari analisis geokimia terlihat kisaran kandungan zat terbang antara 37,40 – 49,38 %, kadar air 12,89 – 40,87%, abu 4,71 – 15,43 %, dan kandungan karbon 14,44 – 39,54 %. Berdasarkan rata – rata nilai relektan vitrinite 0,44.. Peringkat batubara Wahau masuk subbituminious C. Gas metana yang dihasilkan berasal dari proses biogenik. Kehadiran struktur sinklin dalam batubara Wahau berarah umum Timur Laut - Barat Daya. . Kandungan gas batubara secara perhitungan “insitu” menunjukkan nilai 4,7 – 3,6 m3/t. Besarnya sumberdaya gas methane adalah 1,12 TCF.Kata Kunci : Reflektan Vitrinite, , Coalbed methane, proximate
LINGKUNGAN PENGENDAPAN KAITANNYA DENGAN KUALITAS BATUBARA DAERAH MUARA UYA KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Hendra Takalamingan
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Batubara merupakan batuan organik yang terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu, dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan waktu, secara umum batubara terbentuk pada lingkungan rawa namun tidak semua rawa terdapat endapan batubara. Secara administratif lokasi penelitian terletak pada daerah Muara Uya dan sekitarnya, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak pada titik koordinat 01 0 37’ 40,36’’ LS - 01 0 39’ 20,7’’ LS dan 1150 25’ 37,12’’ BT - 1150 27’ 14,04’’ BT. Satuan batuan di daerah penelitian terdapat 3 satuan batuan, yaitu Satuan Batupasir Tanjung, Satuan Batulempung Tanjung dan Satuan Aluvial. Satuan Batupasir Tanjung ini berumur Eosen Akhir, dengan lingkungan pengendapan termasuk upper delta plain-fluvial. Satuan Batulempung Tanjung ini berumur Eosen Akhir, dengan lingkungan pengendapan termasuk transitional lower delta plain. Satuan Aluvial merupakan satuan termuda yang berumur Holosen.
PENELITIAN AWAL GUNUNG API PURBA DI DAERAH MANGGARAI BARAT, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA Hill Gendoet Hartono
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Pulau Flores terletak di antara busur Sunda di bagian barat dan busur Banda di bagian timur serta di perbatasan antara cekungan Flores di utara dan cekungan Savu di selatan. Secara umum tataan geologi Pulau Flores bagian utara sangat rumit, tersusun oleh batuan berumur Tersier seperti batuan beku, klastika gunung api dan batuan sedimen, sedangkan bagian selatan terdapat gunung api aktif. Daerah penelitian terletak di Gololajang, Manggarai Barat tersusun sebagian besar oleh batuan gunung api yang membentuk bentang alam berelief kasar dan beberapa diantaranya memperlihatkan bentuk bulan sabit dengan batuan intrusi di bagian dalamnya. Genesis yang meliputi proses, umur, sumber material dan lingkungan pengendapan hingga saat ini masih diperdebatkan dan diteliti oleh para ahli kebumian. Stratigrafi yang ada mencerminkan kerumitan tersebut terlebih bila dikaitkan dengan pentarikhan umur absolut terhadap batuan beku dan batuan gunung api yang terletak berdekatan dengan batuan sedimen yang menjadi dasar penyatuan. Metode pendekatan yang dilakukan adalah pembelajaran geologi gunung api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formasi Kiro, Formasi Nangapanda dan Formasi Bari sebagai penyusun utama. Formasi Kiro dan Nangapanda umumnya disusun oleh material asal gunung api yang terdiri atas batuan intrusi, batuan gunung api produk lelehan dan letusan dengan berbagai variasi komposisinya. Berdasarkan analisis bentang alam dan stratigrafi gunung api maka daerah Gololajang dan sekitarnya disusun oleh satuan gunung api Khuluk Gololajang, Khuluk Tueng, Khuluk Mawe, yang berkembang di dalam Bregada Ruteng.Kata-kata kunci: Pulau Flores, gunung api, khuluk, bregada.
STUDI POTENSI BATUGAMPING SEBAGAI BAHAN DASAR SEMEN DAERAH Gn. BATUPUTIH, KECAMATAN SAMARINDA ULU KOTAMADYA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Natalino Mairuhu
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Lokasi pengambilan data terletak di Daerah Gunung Batuputih, Kecamatan Samarinda Ulu, Kotamadya Samarinda, Kalimantan Timur. Secara geografi kordinat berada pada 9953000 mN – 9945229 mN, 509741 mE – 514484 mE dengan luas 43,198 km2 (8,2 km x 5,2 km), atau pada Peta Rupa Bumi Indonesia pada Lembar 1915 – 41 Air Putih Edisi I tahun 1991 dengan skala 1 : 50.000 .Daerah penelitian dapat di bagi menjadi empat satuan geomorfologi, yaitu Perbukitan Terkikis (D1), Perbukitan Homoklin (S2), Perbukitan antiklin (S1), dan Bukit Sisa (D2). Jenis polah aliran pada daerah telitian adalah Rektangular dengan stadia geomorfik yaitu stadia dewasa.Statigrafi daerah telitian di susun oleh satuan batuan dari tua ke muda, yaitu satuan batupasir Pulaubalang, satuan batugamping Bebuluh dan satuan batupasir Bebuluh.Sataun batugamping Bebuluh terdiri dari batugamping perlapisan dengan terdapat fragmen berupa pecahan bioklastik terumbu. Satuan batuan ini secara megaskopis di lapangan dicirikan oleh Kalsirudit dengan warna coklat, padat, struktur perlapisan dan setempat menghablur, dan tersusun dari pecahan bioklastikDari hasil analisa etsa dan petrografi yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan batuan karbonat adalah foreslope, di mana semua ini mengacu pada hasil analisa laboratorium dan model lingkungan pengendapan
OPTIMASI PRODUKSI LAPANGAN MINYAK “MATURE” STRUKTUR “X” LAPANGAN “Y” PT. PERTAMINA EP REGION JAWA Boedi Windiarto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Lapangan “X” terletak di cekungan Jawa Barat, sub cekungan Jatibarang yang memiliki reservoir bantuan vulkanik Formasi Jatibarang terutama dari facies tuff dengan porositas sekunder fracture dan facies detrital/epiklastik dengan porositas primer antar butir.Saat ini lapisan tersebut diproduksikan dari 24 sumur. Kadar air rata-rata diatas 92 %. Tekanan reservoir sebesar 1800 psi, temperatur reservoir 280 F. Jenis minyak high pour point oil (HPPO) dengan pour point 1100 F. Upaya peningkatan produksi dengan dilakukan stimulasi dengan surfactant. Dari 11 sumur yang telah dilakukan stimulasi pada tahun 2005 menunjukkan hasil positif jika dibandingkan antara produksi dan cost. Kadar air turun dan produksi minyak meningkat hingga 200 % lebih.Paper ini akan membahas optimasi produksi untuk lapangan minyak “mature” sehingga mampu menambah perolehan minyak.
CUT-OFF POROSITAS, VOLUME SHALE, DAN SATURASI AIR UNTUK PERHITUNGAN NETPAY SUMUR O LAPANGAN C CEKUNGAN SUMATRA SELATAN Bambang Triwibowo
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Harga cut-off porositas (Φ), volume shale (Vsh), dan saturasi air (Sw) dari suatu sumur atau lapangan minyak/gas bumi perlu ditentukan untuk mengetahui besarnya netpay (h). Besaran h ini nantinya digunakan sebagai salah satu faktor penting untuk perhitungan cadangan hidrokarbon. Analisis cut-off dilakukan pada sumur O lapangan C berdasarkan data log, laporan inti batuan, dan data test sumuran dengan metode kualitatif, kuantitatif, pemodelan petrofisik, dan gambar silang. Hasilnya untuk reservoir minyak cut-off Φ, Vsh, dan Sw berturut-turut 10%, 0,27 v/v, dan 0.65 v/v. Sedangkan cut-off Φ, Vsh, dan Sw untuk reservoir gas 9%, 0,32 v/v, dan 0,71 v/v.Kata Kunci: cut-off, porositas, volume shale, saturasi air, cadangan.
MODEL PERENCANAAN CASING PADA PENGEBORAN EKSPLORASI SUMUR X DENGAN SURFACE 8-1/2 “ LAPANGAN Y LEPAS PANTAI Lino Mendonca
Jurnal Ilmiah MTG Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Perencanaan Casing pemboran sumur dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap perencanaan ( pre drill drilling (plan) dan tahap pelaksanaan ( Post drill - drilling) (Actual). Penentuan tahap pre drill driling diawali dari permukaan laut (sea level) (MSL) sampai dasar laut (seabed) dengan ketentuan kedalaman surface dari 34, 8 m - 77 m. Casing 20" dipasang pada kedalaman 722 m TVDDF, Casing 13- 3/8" pada kedalaman 2185m TVDDF dan 9-5/8" dipasang pada kedalaman 3272m TVVDF, merupakan tahap awal perencanaan.Tahap post drill drilling casing diukur dari permukaan laut (lepas pantai) dengan aktual casing 34,8m sampai dasar laut (seabed) 78,6m (actual). Penentuan pemasangan casing dengan kedalaman aktual pada pengeboran sumur x 715,6m TVDDF sampai pada kedalaman 3266,8m TVDDF dengan ukuran masing - masing casing berbeda dari 20" sampai 9-5/8".kata kunci : Casing, sumur.

Page 5 of 15 | Total Record : 144