cover
Contact Name
Darus Altin
Contact Email
darus_altin@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
darus_altin@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Sain Peternakan Indonesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 19783000     EISSN : 25287109     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sain Peternakan Indonesia (JSPI) pISSN 1978 – 3000 dan eISSN 2528 – 7109 adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan Ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian,telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2017)" : 12 Documents clear
Pemanfaatan Limbah Biji Durian (Durio zibethinus Murr) sebagai Bahan Penstabil Es Krim Susu Sapi Perah Sistanto Sistanto; E. Sulistyowati; Yuwana Yuwana
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.9-23

Abstract

Berlimpahnya limbah biji durian pada musim durian belum banyak dimanfaatkan, disisi lain  biji durian berpotensi sebagai sumber bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nutrisi biji durian yang dijadikan tepung dan pengaruhnya jika dimanfaatkan sebagai bahan penstabil es krim susu sapi perah. Materi penelitian terdiri dari biji durian yang dijadikan tepung, susu segar, susu bubuk skim, tepung maizena, gula halus, whipping cream dan yolk. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancang Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan adalah penggunaan tepung biji durian konsentrasi 0,9% (TBD1); 1,1% (TBD2); 1,3% (TBD3) ; 1,5% (TBD4) dan es krim komersial (Kontrol). Variabel pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, lemak, protein, serat kasar dan gross energy (GE) menggunakan Bomb calorimeter dengan analisis proksimat. Pengamatan es krim meliputi pH, kecepatan meleleh, viskositas dan overrun. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ragam ANOVA dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan program XL stat. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pengunaan tepung biji durian (TBD) sebagai bahan penstabil es krim susu sapi perah secara statistik berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai pH dan viskositas es krim (cP), serta tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kecepatan meleleh (menit) dan overrun (%) dengan nilai pH terbaik pada perlakuan kontrol (6,40) dan TBD1 (6,20), kecepatan meleleh terlama pada perlakuan TBD3 (30,14 menit per 50 ml), viskositas tertinggi 335,00 cP (perlakuan TBD2 dan TBD3) dan overrun paling baik yaitu  74,26% (perlakuan TBD4). Semakin besar level penggunaan TBD dalam adonan es krim menunjukan bahwa semakin meningkatkan nilai overrun. Kata kunci : tepung biji durian, es krim, bahan penstabil
Respon Kinerja Perteluran Ayam Kampung Super Betina terhadap Level Protein Pakan pada Masa Pertumbuhan H. F. Trisiwi
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.83-93

Abstract

Delapan belas ekor ayam Kampung Super betina umur 21 minggu yang pada masa pertumbuhan (13-21 minggu) diberi pakan dengan level protein berbeda. Ayam dibagi secara acak menjadi 3 kelompok level protein pakan. Setiap kelompok perlakuan terdiri dari seekor ayam. Perlakuannya   yaitu pakan dengan protein kasar (PK) 13,54 (P1); 12,00 (P2); dan 9,80% (P3).Semua perlakuan pakan isoenergi 2600 kcal ME/kg. Pada masa bertelur awal (21-27 minggu), ayam diberi pakan yang sama dengan PK 11,79%dan 2718 kcal ME/kg (P4). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa level protein pakan pada masa pertumbuhan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, produksi telur, berat telur, massa telur, konversi pakan,  konsumsi protein,  komponen-komponen telur, tebal shell, fertilitas, dan daya tetas pada masa peneluran 21-27 minggu, tetapi level protein pakan berpengaruh  (P<0,05) terhadap pertambahan berat badan ayam pada umur 21-27 minggu. Kata kunci : Ayam kampung super, protein pakan masa pertumbuhan, produksi telur.
Keragaman Fenotipe Sifat Kualitatif Ayam Burgo di Provinsi Bengkulu T. Rafian; Jakaria Jakaria; N. Ulupi
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.47-54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman sifat kualitatif ayam burgo ayam hutan merah (Gallus gallus gallus), dan ayam kampung (Gallus gallus domesticus). Jumlah ayam ayam menggunakan adalah 74 ekor yang terdiri atas ayam burgo 47 ekor, ayam hutan merah (Gallus gallus gallus) 9 ekor, dan ayam kampung (Gallus gallus domestica)18 ekor yang dikoleksi di Bengkulu Selatan, Kota Bengkulu, Bengkulu Utara, dan Muko-muko, Provinsi Bengkulu. Karakteristik sifat kualitatif yang diamati adalah warna bulu, corak bulu, pola bulu, kerlip bulu, warna shank, tipe jengger, warna cuping, dan warna mata. Data sifat kualitatif berupa frekuensi fenotipe, frekuensi gen, nilai heterozigositas, nilai introgresi, dan gen asli. Ayam burgo dan ayam hutan merah memiliki keragaman yang rendah pada sifat kualitatifnya, sedangkan ayam kampung memiliki keragaman yang tinggi pada sifat kualitatifnya. Berdasarkan hasil penelitian, ayam burgo perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai sumber daya genetik ayam lokal Indonesia di Bengkulu.Kata kunci: Ayam burgo, ayam hutan merah, ayam kampung, sifat kualitatif
Tingkah Laku Reproduksi Merak Hijau (Pavo Muticus) pada Umur yang Berbeda di UD. Tawang Arum Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun N. D. Nareswari; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.94-101

Abstract

Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui kebutuhan dasar merak hijau melalui tingkah laku reproduksinya dengan umur yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober  – Desember 2015 di UD. Tawang Arum, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Parameter yang diamati adalah durasi, frekuensi dan pola tingkah laku reproduksi merak hijau. Penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merak hijau jantan berumur 10 tahun lebih banyak menampakkan tingkah laku reproduksi dibandingkan yang lain, begitupun pada merak hijau betina pada umur 10 tahun lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi berupa merespon merak hijau jantan dibandingkan lainnya. Aktivitas merak hijau lebih banyak digunakan untuk bertengger dan berjalan dibandingkan dengan tingkah laku reproduksinya.  Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara umur dengan tingkah laku reproduksi merak hijau.  Merak hijau jantan (umur 10 tahun) lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi jika dibandingkan dengan merak hijau jantan lainnya yang memiliki umur lebih muda(4 dan 5 tahun), yaitu melakukan  display sebanyak 2,5 kali dibandingkan merak hijau umur 4 tahun yang hanya 2 kali. Kata kunci : Tingkah Laku Reproduksi, Merak Hijau, Umur
Pengaruh Bobot Badan Induk Generasi Pertama terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas pada Itik Magelang di Satuan Kerja Itik Banyubiru-Ambarawa E.P. Dewi; E. Suprijatna; E. Kurnianto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot badan induk terhadap hasil produksi telur, fertilitas, daya tetas dan bobot tetas pada itik Magelang generasi pertama. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2015 di Satuan Kerja Itik Banyubiru Ambarawa. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 ekor itik Magelang generasi pertama (G1) yang terdiri dari 30 ekor betina dan 5 ekor jantan berumur 6 bulan, yang ditempatkan pada 5 flock dengan perbandingan nisbah perkawinan 1:6. Masing-masing flock dibedakan menurut bobot badan induk itik Magelang. Metode klasifikasi satu arah digunakan sebagai rancangan percobaan pada penelitian ini. Data dianalisis menggunakan prosedur general linear model dari SAS. Paremeter yang diukur adalah jumlah telur, persen fertilitas dan daya tetas telur, serta bobot tetas day old duck (DOD).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot badan pada induk Itik Magelang memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap bobot telur dan bobot tetas (DOD), tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap fertilitas dan daya tetas. Bobot badan induk yang baik untuk pembibitan adalah yang mempunyai bobot badan sedang (1,682-2,08 kg).Kata kunci: itik Magelang, bobot induk, fertilitas, daya tetas, bobot tetas
Pengaruh Integrasi Lebah dengan Palawija terhadap Produksi Madu di Daerah Rejang Lebong Bengkulu R. Saepudin; S. Kadarsih; R. Sidahuruk
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.55-63

Abstract

Salah satu sektor pertanian yang mampu membangun perekonomian di Indonesia adalah usaha budidaya lebahmadu. Luasnya areal pertanian, perkebunan dan kehutanan di Indonesia sangat berpotensi dalammembudidayakan lebah madu karena tidak mendapatkan kesulitan dalam pemberian pakan lebah madu. Selainitu, lebah madu memiliki peran penting dalam penyerbukan tananman sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk:1) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi lebah madu (A. cerana ) di Kecamatan Selupu RejangKabupaten Rejang Lebong, 2) mengetahui produksi lebah madu (A. cerana) di Kecamatan Selupu RejangKabupaten Rejang Lebong, dan 3) mengetahui rata-rata produksi nektar per hektar jenis tanaman di KecamatanSelupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja (purposive) yaitu diKecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong. Responden yang diambil dilakukan dengan metodesensus sebanyak 15 peternak. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Metode analisis yangdigunakan adalah analisis deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber pakan radius 1000 m tidakterlihat ada perbedaan produksi dan produktivitas lebah madu juga tidak menunjukkan perbedaan dikarnakanjumlah koloni masih di bawah daya tampung. Produksi madu sudah tergolong tinggi dengan nilai rata-rata 10,3kg/koloni/tahun dan produksi nektar per hektar jenis tanaman cabai rata-rata 17,77 liter/ha/hari, maka dayadukung kebun cabai adalah 122 koloni dan jenis tanaman tomat rata-rata 22,2 liter/ha/hari dengan daya dukungkebun tomat adalah 153 koloni.Kata kunci: integrasi, pertanian, nektar, produksi madu.
Penambahan Aktivator Mol Bonggol Pisang dan EM 4 dalam Campuran Feses Sapi Potong dan Kulit Kopi terhadap Kualitas Kompos dan Hasil Panen Pertama Rumput Setaria (Setaria splendida Stapf) T. Karyono; Maksudi Maksudi; Yatno Yatno
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.102-111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan  kadar Nitrogen, Posfor, Kalium,  ratio C/N dan komposisi yang optimal dari penambahan aktivator MOL bonggol pisang dan EM4 hasil pengomposan. Kompos hasil penelitian diaplikasikan pada tanaman rumput setaria (Setaria splendida Stapf) dan dilakukan pengamatan  terhadap pertumbuhan dan hasil panen pertama. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangaan, yaitu : A1 = 25 ml  MOL / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi),   A2 = 30 ml  MOL / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi),   A3 = 35 ml  MOL / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi),  A4 = 25 ml  EM4 / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi),   A5 = 30 ml  EM4 / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi),   A6 = 35 ml  EM4 / 5 kg bahan kompos (feses +kulit kopi).  komposisi kimia  dari  kompos  serta pertumbuhan rumput setaria (Setaria splendida Stapf) juga diteliti dalam penelitian ini dan untuk  mengetahui  pengaruh  perlakuan,  data  yang diperoleh  dianalisis  dengan  analisa sidik  ragam  dan  uji lanjut BNJ. Hasil penelitian dengan penambahan aktivator MOL bonggol pisang dan EM4 menunjukkan  berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap P-total,  K-total, jumlah anakan panen pertama rumput setaria dan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap N-total, C/N dan berat basah tajuk panen pertama rumput setaria. Penambahan aktivator   MOL bonggol pisang sebanyak 35 ml  MOL /5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi; A3) memberikan hasil terbaik pada unsur hara (P-total dan K-total), jumlah anakan dan berat basah tajuk pada rumput Setaria (Setaria splendida Stapf). Kata kunci: Aktivator, kompos, Rumput Setaria  (Setaria splendida Stapf).
Perbedaan Kualitas Semen Segar Domba Batur dalam Flock Mating dan Pen Mating secara Mikroskopis D. Apriyanti; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.64-70

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan sistem perkawinan ternak domba Batur dalam flock mating dan pen mating terhadap kualitas mikroskopis semen yang dihasilkan. Penelitian menggunakan 2 perlakuan yaitu flock mating danpen mating dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati gerak massa, motilitas, konsentrasi, persen hidup dan abnormalitas spermatozoa.  Hasil penelitian diperoleh rata-rata hasil pengamatan pada kualitas mikroskopik semen segar domba Batur yang meliputi gerak massa, motilitas, konsentrasi, viabilitas, dan abnormalitas secara berturut-turut adalah +2, 81,25%, 2,64x109, 93,14% dan 7,6% untuk perlakuan flock mating dan +3, 83,75%, 4,01x109, 97,19% dan 7,46% untuk perlakuan pen mating.Hasil analisis untuk motilitas dan konsentrasi menunjukan pengaruh yang nyata (P<0,05) pada semen segar perlakuan pen mating, pada gerak massa, persen hidup spermatozoa dan abnormalitas spermatozoa pada flock mating dan pen mating tidak berbeda nyata. Disimpulkan bahwa kualitas semen segar domba Batur dalam flock mating dan pen mating memiliki kualitas yang bagus, pada pemeliharaan secara pen mating kualitas semen segar lebih baik pada parameter konsentrasi.Kata Kunci : Domba Batur, Semen Segar, Mikroskopis, Flock Mating, Pen Mating
Penggunaan Ampas Tahu pada Level Berbeda terhadap Performa Entok (Muscovy Duck) Umur 3 - 10 Minggu T. Akbarillah; D. Kaharuddin; Hidayat Hidayat; A. Primalasari
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.112-123

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan level ampas tahu terhadap performa entok (Muscovy duck) umur 3–10 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 16 ulangan. Setiap ulangan terdiri atas 1 ekor entok sehingga entok yang dipergunakan sebanyak 64 ekor. Perlakuan ransum adalah: P0 (ampas tahu 0%), P1 (ampas tahu 30%), P2 (ampas tahu 35%) dan P3 (ampas tahu 40%) dengan kandungan energi dan protein yang setara yaitu sekitar 3000 kkal/kg dan protein kasar sekitar 16%. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ampas tahu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan dan konversi pakan entok yang diberi ampas tahu dengan level yang berbeda 30%, 35% dan 40%. Konsumsi pakan selama penelitian, menunjukkan bahwa P0= 6180±157,99 g, P1= 5868±191,34 g, P2= 5639±268,59 g dan P3=5252,13±200,69 g. Rataan pertambahan berat badan yaitu P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 1555,06±173, 66 g, 1176,06±106,21 g, 1062,68±127,48 g dan 776,81±83,35 g. Rataan konversi pakan yaitu P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 4,02±0,47, 5,02±0,43, 5,37±0,62 dan 6,83±0,78. Penggunaan ampas tahu dalam pakan entok dengan level 30%, 35% dan 40% menurunkan konsumsi pakan, berat badan, pertambahan berat badan, dan menaikkan konversi pakan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan ampas tahu mulai level 30% menurunkan performa entok.Kata kunci : ampas tahu, entok, performa
Sistem, Konstrain, Sustainabilitas, dan Skenario Peternakan Ayam Kampung di Manokwari, Papua Barat B. E. Homer; D. A. Iyai; M. Sangkek
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.24-37

Abstract

Ayam kampung telah menjadi ternak primadona bagi peternak lokal Papua. Namun, usaha beternak yang dijalankan adalah masih bersifat ekstensif. Masih banyak dijumpai constraint yang menjadi factor limitasi perkembangan peternakan ayam kampung skala rumah tangga. Penelitian lapang dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) bulan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2016 pada daerah dataran rendah di Kabupaten Manokwari yang meliputi distrik Prafi, Masni, dan Warmare. Metode penelitian yang dipilih adalah metode deskriptif dengan teknik penelitian dan pengambilan sampel adalah teknik survey dan observasi dengan pola snowball sample technique. Jumlah responden yang telah dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 98 peternak yang terdiri dari peternakan ayam etnis Papua dan Non Papua. Sebanyak 30 pertanyaan digunakan dalam kuisioner untuk interview yang terdiri dari aspek-aspek pemeliharaan ayam kampung. Analisis data menggunakan statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak ayam kampung didominasi oleh peternak etnis Non Papua dan tergolong usia produktif. Sumber matapencahariaan utama adalah sebagai Petani dengan jumlah anggota keluarga cukup kecil dan memiliki tenaga kerja per rumah tangga yang efektif. Sistim pemeliharaan secara semi-intensif dengan kandang tradisional dan bahan kandang kayu dan papan.  Tempat pakan dan minum dimiliki dalam kandang ada dengan berbagai jenis bahan yang dibuat seperti ember, gelas plastic, jerigen, alat toko, bambu, dan seng/kaleng. Pakan tambahan diberikan peternak dengan delapan kombinasi pakan dan jumlah pemberian 1-2 kg/hari dan frekuensi pemberian pagi, dan sore. Untuk air minum juga diberikan dengan air mentah, air sumur dan air masak. Permasalahan utama oleh peternak adalah penyakit, kandang/pakan dan modal usaha dan selama ini ppl yang ditemui. Penyuluhan jarang dilakukan, berkisar 1-2 kali/tahun dan peternak jarang ikut pelatihan/kursus, sehingga peternak belum merasa puas.Harapan peternak adalah bantuan bibit, kandang, obatan dan modal usaha.Kata kunci: ayam kampung, sistim peternakan, konstrain, sustainabilitas, Manokwari.

Page 1 of 2 | Total Record : 12