Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Jurnal Akuntansi Multiparadigma or Journal of Multiparadigm Accounting (JAMAL) has been published since April 2010 by Universitas Brawijaya, and since 2014 has been collaborating with Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia. JAMAL publishes scientific articles and highly appreciates creative and challenging thought to trigger the birth of accounting innovation as well as practices. JAMAL is quarterly issued on April-July, August-November, and December-March. JAMAL also uses LOCKSS system to ensure a secure and permanent archive for the journal. Today, JAMAL is indexed in ASEAN Citation Index (ACI), Directory of Open Access Journal (DOAJ), Google Scholar, and Sinta. Since 2015, JAMAL is member of CrossRef, therefore each article will own a DOI (Digital Object Identifier) number. To increase publicity JAMAL can also be found in Mendeley and Academia.Edu. JAMAL is also associated with AlJEBI (Aliansi Pengelola Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia) to continuously improve its quality.
Articles
771 Documents
MENGUAK KONSEP HARGA DAN LABA DI BALIK TRANSAKSI BANTEN
Ni Ketut Suryani;
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih;
I Putu Sudana;
I Gde Ary Wirajaya
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2021 - Desember 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.2.21
Abstrak - Menguak Konsep Harga dan Laba di Balik Transaksi BantenTujuan Utama - Riset ini bertujuan untuk menguak konsep harga dan laba di balik budaya transaksi banten yang dilakukan oleh kelompok etnik keagamaan.Metode – Riset ini menggunakan etnografi sebagai metode. Pihak produsen dan konsumen banten menjadi informan pada penelitian ini.Temuan Utama - Konsep dasar Hindu yang dituangkan pada sloka bhagavad gita dijadikan dasar untuk menentukan harga banten. Laba bagi informan terkonsep sebagai “rasa” bahagia dan karma. Kebahagiaan karena setiap pihak telah menjalankan tugasnya serta terbebas dari karma yang mengikatnya.Implikasi Teori dan Kebijakan – Konsep bhagavad gita bisa dikombinasikan dengan teori penetapan harga jual produk secara konvensional agar lebih holistik. Konsep ini dapat digunakan oleh pengusaha yang memiliki jiwa spiritual Hindu saat membangun bisnis.Kebaruan Penelitian – Riset ini menjadi jembatan antara nilai spiritualitas dan materialitas dalam berbisnis, khususnya dalam perspektif agama Hindu. Abstract - Revealing the Concept of Price and Profit Behind “Banten” TransactionsMain Purpose - This research aims to uncover the concept of price and profit behind the culture of “banten” transactions by religious, ethnic groups.Method – This research uses ethnography as a method. The producers and consumers of “banten” became informants in this study.Main Findings - The basic Hindu concept, as outlined in the “bhagavad gita” verse, is used as the basis for determining the price of offerings. Profit for the informants is conceptualized as a "feel" of happiness and karma. Happiness has happened because each party has carried out their duties and is free from the karma that binds them.Theory and Practical Implications – The “bhagavad-gita” concept can be combined with conventional product pricing theory to make it more holistic. This concept can be used by entrepreneurs who have a Hindu spiritual soul when building a business.Novelty - This research is a bridge between the values of spirituality and materiality in doing business, especially in Hinduism.
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI SIMBOL DALAM KEPUTUSAN KEBIJAKAN PENGANGGARAN DAERAH
Sity Utami Makalalag;
Eko Ganis Sukoharsono;
Ali Djamhuri
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2020 - Desember 2020)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2020.11.2.21
Abstrak: Kearifan Lokal sebagai Simbol dalam Keputusan Kebijakan Penganggaran Daerah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kearifan lokal perjanjian dodandian i paloko bo kinalang sebagai simbol pemerintah dalam pengambilan keputusan kebijakan penganggaran daerah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melibatkan beberapa pemangku kepentingan terkait pemerintah Kota Kotamobagu sebagai informan. Penelitian ini menemukan bahwa perjanjian dodandian i paloko bo kinalang dipandang sebagai bentuk komitmen setiap pemangku kepentingan. Oleh karena itu, simbol Pemerintahan dipandang sebagai benteng komitmen yang telah disepakati bersama oleh masyarakat dan pemerintah agar terakomodasi pada peraturan daerah. Abstract: Local Wisdom as a Symbol in Regional Budgeting Policy Decision. This study aims to describe the local wisdom of the “dodandian i paloko bo kinalang” agreement as a symbol of the government in making local budgeting policy decisions. The method used is descriptive qualitative by involving several stakeholders related to the Kotamobagu City government as informants. This study found that the “dodandian i paloko bo kinalang” agreement is seen as a form of commitment of all stakeholders. Therefore, the symbol of government is seen as a bastion of commitment that has been mutually agreed upon by the community and government to accommodate local regulations.
AKANKAH FEE AUDIT DAN KARAKTERISTIK AUDITOR MENENTUKAN KUALITAS AUDIT?
Yefni Yefni;
Pusvita Sari
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 1 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (April 2021 - Agustus 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.1.10
Abstrak - Akankah Fee Audit dan Karakteristik Auditor Menentukan Kualitas Audit?Tujuan Utama – Penelitian ini berupaya mengidentifikasi bagaimana fee audit dan karakteristik auditor mempengaruhi kualitas audit.Metode – Penelitian ini menggunakan uji regresi linier berganda. Sejumlah auditor di Provinsi Riau menjadi responden dalam penelitian ini.Temuan Utama – Penelitian ini menemukan bahwa fee audit serta karakteristik auditor dapat memicu kualitas pekerjaan audit. Audit yang berkualitas tinggi akan diberikan oleh auditor yang mempunyai pengalaman kerja tinggi, menjunjung tinggi independensi, serta memiliki kompetensi yang cukup dan memadai. Selain itu, fee audit yang tinggi membuat auditor melakukan upaya lebih dan meningkatkan motivasi sehingga menghasilkan audit yang berkualitas.Implikasi Teori dan Kebijakan – Kualitas audit merupakan keharusan bagi auditor sehingga menuntut mereka untuk lebih sadar terhadap kode etik. Selain itu, klien perlu mempertimbangkan pengalaman kerja dan besaran fee audit dalam memilih auditor.Kebaruan Penelitian – Penelitian ini menambahkan variabel fee audit sebagai faktor penentu kualitas audit. Abstract - Will Audit Fees and Auditor Characteristics Determine Audit Quality?Main Purpose - This study seeks to identify how audit fees and auditor characteristics affect audit quality.Method - This study uses multiple linear regression tests. Several auditors in Riau Province were respondents in this study.Main Findings - This study finds that audit fees and auditor characteristics can trigger the quality of audit work. High-quality audits will be provided by auditors who have high work experience, uphold independence, and have sufficient and adequate competence. In addition, high audit fees make auditors make more efforts and increase motivation to produce quality audits.Theory and Practical Implications - Audit quality is a necessity for auditors so that it requires them to be more aware of the code of ethics. In addition, clients need to consider the working experience and the number of audit fees in selecting auditors.Novelty - This study adds the audit fee variable as a determining factor for audit quality.
KRITIK ATAS TRIPLE BOTTOM LINE: PERSPEKTIF MEMAYU HAYUNING BAWANA
Wahyu Agus Winarno;
Tjiptohadi Sawarjuwono
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 1 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (April 2021 - Agustus 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.1.07
Abstrak - Kritik atas Triple Bottom Line: Perspektif Memayu Hayuning BawanaTujuan Utama - Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa implementasi triple bottom line (TBL) akan lebih memberikan keseimbangan berkelanjutan jika dilandasi filosofi ”Memayu Hayuning Bawana” (MBH - membuat dunia lebih baik).Metode - Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kajian kritis dengan pendekatan studi literatur. Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi MHB dihubungkan dengan konsep TBL.Temuan Utama - Penelitian ini menunjukkan bahwa keselarasan dan keseimbangan perusahaan dengan alam dipandang dari aspek internal dan eksternal. Implementasi TBL harus didasarkan pada semangat tapa ngrame (tanpa pamrih). Proses sinergi perusahaan dengan lingkungan dan sosial akan membawa keselamatan alam.Implikasi Teori dan Kebijakan - Implementasi TBL yang berlandaskan MHB akan meningkatkan keselarasan dan keseimbangan perusahaan. Manajer dapat memfokuskan pada TBL dengan tetap memperhatikan tiga tingkatan MHB.Kebaruan Penelitian - Artikel ini menawarkan konsep filosofi jawa MHB yang dapat digunakan sebagai pedoman/pendamping perusahaan dalam menerapakan TBL Abstract - Critics on the Triple Bottom Line: “Memayu Hayuning Bawana” Perspective.Main Purpose - This research seeks to show that the TBL implementation will provide sustainable balance if it is based on the philosophy of "Memayu Hayuning Bawana" (MBH - making the world better).Method - The method used is a critical study with a literature study approach. The values contained in the MHB are linked with the TBL.Main Findings - This research shows that the harmony and balance between the company and nature are viewed from the internal and external aspects. The implementation of TBL must be based on “tapa ngrame” (sincerity) spirit. The process of the company's synergy with the environment and social will bring the safety the nature.Theory and Practical Implications - The implementation of TBL and MHB will improve the harmony of the company. Managers can focus on TBL while still paying attention to the three MHB levels.Novelty - The Javanese MHB philosophy can be used as a company guide in implementing TBL.
IS COST STICKINESS A BAD SIGNAL FROM CATUR MARGA PERSPECTIVE?
Komang Ayu Krisnadewi;
Tjiptohadi Sawarjuwono
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 11, No 3 (2020): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Desember 2020 - April 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2020.11.3.29
Abstrak: Apakah Cost Stickiness merupakan Sinyal Buruk dari Perspektif Catur Marga? Penelitian ini berupaya untuk mengupas determinan asimetri perilaku biaya dari perspektif Hindu Weda, yaitu catur marga. Kajian literatur digunakan sebagai metode. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketika mengambil keputusan, manajer mempertimbangkan belas kasih (bhakti marga), pengetahuan yang dimiliki (jnana marga), upaya untuk berbuat baik (karma marga), dan pengendalian diri atas kepentingan pribadi (raja marga). Perilaku biaya sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang dibuat oleh manajer. Kebijakan tersebut terkait dengan pengelolaan sumber dayanya, terutama ketika menghadapi permintaan yang menurun. Abstract: Is Cost Stickiness a Bad Signal from Catur Marga Perspective? This research seeks to explore the determinants of the asymmetry of cost behaviour from a Veda Hindu perspective, namely catur marga. The method used is the literature review. This paper suggests that when making decisions, managers considered compassion (bhakti marga), the knowledge they possess (jnana marga), the effort to do good deeds (karma marga), and self-control over their own personal interest (raja marga). Cost behaviour is strongly influenced by the policy made by the manager in relation to his/her resources’ management, especially when confronted with declining demand.
SKEPTISME PELAKU USAHA MIKRO TERHADAP STANDAR AKUNTANSI
Sarwenda Biduri;
Dinda Putri Kusuma Wardani;
Sigit Hermawan;
Wiwit Hariyanto
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2021 - Desember 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.2.25
Abstrak - Skeptisme Pelaku Usaha Mikro terhadap Standar AkuntansiTujuan Utama- Penelitian ini berupaya untuk mengetahui bagaimana perilaku skeptisisme pelaku usaha mikro terhadap standar akuntansi.Metode- Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Beberapa pihak dari pelaku usaha mikro, dosen, dan dinas koperasi menjadi informan utama.Temuan Utama- Pelaku usaha mikro tidak mau membuat laporan keuangan untuk usahanya. Selain itu mereka juga masih belum mengenal standar akuntansi khusus entitas mikro. Hal ini kemudian berakibat pada tercampurnya pembukuan operasional bisnis dan rumah tangga.Implikasi Teori dan Kebijakan – Pemerintah harus memosisikan dirinya sebagai pembina dan pendidik pelaku usaha mikro. Selain itu, pelatihan akuntansi menjadi urgensi bagi operasional bisnis mereka.Kebaruan Penelitian – Penelitian ini mengangkat isu skeptisme pelaku usaha mikro dalam memahami standar akuntansi. Abstract - Micro-Entrepreneurs Skepticism of Accounting StandardsMain Purpose - This study seeks to determine how the behavior of micro-entrepreneurs skepticism towards accounting standards.Method - This study uses a qualitative descriptive method. Several parties from micro-entrepreneurs, lecturers, and the cooperative service become the primary informants.Main Findings - Micro entrepreneurs do not want to make financial reports for their businesses. In addition, they are still not familiar with specific accounting standards for micro-entities. These things then resulted in the mixing of business and household operational books.Theory and Practical Implications – The government must position itself as the coach and educator of micro-entrepreneurs. In addition, accounting training becomes an urgency for their business operations.Novelty – This research raises the issue of skepticism of micro-entrepreneurs in understanding accounting standards.
APAKAH PENGETAHUAN PAJAK DAN TINGKAT PENDIDIKAN MENINGKATKAN KEPATUHAN MEMBAYAR PAJAK?
Susanti Susanti;
Joni Susilowibowo;
Han Tantri Hardini
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2020 - Desember 2020)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2020.11.2.25
Abstrak: Apakah Pengetahuan Pajak dan Tingkat Pendidikan Meningkatkan Kepatuhan Membayar Pajak? Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh antara pengetahuan pajak serta tingkat pendidikan terhadap kepatuhan dalam membayar pajak. Metode yang digunakan adalah regresi berganda dengan sampel warga Ketintang, Surabaya. Penelitian ini membuktikan bahwa hanya pengetahuan pajak yang memacu kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak. Sebaiknya, tingkat pendidikan belum mampu memberikan dampak pada kepatuhan masyarakat untuk membayar pajak. Oleh karena itu, masyarakat perlu diberikan pemahaman intensif mengenai pengetahuan pajak melalui berbagai kegiatan, seperti seminar, pelatihan dan sosialisasi tentang pajak. Abstract: Do Tax Knowledge and Education Levels Improve Taxpaying Compliance? This study aims to examine the effect of tax knowledge and education level on tax compliance. The method used is multiple regression with a sample of residents of Ketintang, Surabaya. This study proves that only tax knowledge spurs tax compliance. Instead, the level of education has not been able to have an impact on tax compliance. Therefore, society needs to be given an intensive understanding of tax knowledge through various activities, such as seminars, training and socialization about taxes.
MAKNA INVESTASI BERDASARKAN MENTAL ACCOUNTING DAN GENDER
Mochammad Nurul;
Hamidah Hamidah
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2021 - Desember 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.2.17
Abstrak – Makna Investasi Berdasarkan Mental Accounting dan GenderTujuan Utama – Penelitian ini berupaya Memahami fenomena mental accounting dan karakteristik gender dalam kegiatan investasi.Metode - Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi untuk memahami fenomena keputusan investasi sesuai dengan pengalaman masing-masing partisipan. Partisipan terdiri dari tujuh wirausahawan dengan jenis usaha yang berbeda antara satu sama lain.Temuan Utama - Wirausahawan memahami bahwa penganggaran merupakan suatu kewajiban ketika ingin melakukan investasi. Mereka berani melakukan pendanaan dengan hutang (kredit) untuk pendanaan barang tersier memiliki gender maskulin. Selain itu, mereka secara hati-hati memiliki karakteristik gender feminim atau androgini dalam berinvestasi.Implikasi Teori dan Kebijakan – Ketika mental accounting dikaitkan dengan teori bem sex role inventory (BSRI), didapatkan bahwa wirausaha dengan gender maskulin berani untuk mengambil pendanaan kredit sedangkan gender feminim bersifat sebaliknya. Oleh karena itu, perusahaan pemberi dana harus mempertimbangkan BSRI dalam memberikan pendanaan.Kebaruan Penelitian - Tulisan ini mengungkap fenomena mental accounting dan gender masing-masing partisipan dalam mengambil keputusan investasi. Abstract – The Meaning of Investment Based on Mental Accounting and GenderMain Purpose - This research seeks to understand the phenomenon of mental accounting and gender characteristics in investment activities.Method - This research uses phenomenological methods to understand the phenomenon of investment decisions according to each participant's experience. The participants consisted of seven entrepreneurs with different types of business from each other.Main Findings - Entrepreneurs understand that budgeting is an obligation when they want to invest. They dare to do funding with debt (credit) to finance tertiary goods that have a masculine gender. In addition, they carefully have feminine or androgyny gender characteristics in investing.Theory and Practical Implications – When mental accounting is associated with the theory of sex role inventory (BSRI), it is found that entrepreneurs with masculine gender dare to take credit funding while feminine gender is the opposite. Therefore, lending companies must consider BSRI in providing funding.Novelty - This research reveals the mental accounting and gender phenomena of each participant in making investment decisions.
AKUNTANSI LINGKUNGAN DALAM PITUTUR LUHUR KEJAWEN
Ria Anindita;
Hamidah Hamidah
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (Agustus 2020 - Desember 2020)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2020.11.2.17
Abstrak: Akuntansi Lingkungan dalam Pitutur Luhur Kejawen. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan akuntansi lingkungan dengan menafsirkan pesan tersirat pitutur luhur Kejawen. Metafora penelahaan digunakan sebagai metode untuk menangkap dan menjabarkan fenomena terkait akuntansi lingkungan. Penelitian ini menemukan beberapa tahapan kebijakan akuntansi lingkungan dari sikap etis dan norma kemanusiaan. Tahapan pertama adalah menyeimbangkan alam dan kepentingan perusahaan. Tahapan kedua adalah mendekatkan perusahaan dengan masyarakat. Tahapan ketiga adalah kerja sama antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah dalam menerapkan akuntansi lingkungan. Tahapan ketiga adalah kunci utama keberhasilan penerapan akuntansi lingkungan. Abstract: Environmental Accounting Based on Kejawen's Advice. This research aims to interpret environmental accounting by interpreting the implicit messages of Kejawen’s Advice. A metaphorical analysis is used as a method to capture and describe the phenomenon of environmental accounting. This research found several stages of environmental accounting policies from ethical attitudes and human norms. The first stage is to balance nature and the interests of the company. The second stage is to get the company closer to the community. The third stage is the collaboration between companies, communities and the government. The third stage is the main key to the successful application of environmental accounting.
REALITAS PENGAWASAN DI TUBUH PEMERINTAHAN DESA TERHADAP KORUPSI
Helmi Nur Anisah;
Falikhatun Falikhatun
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 12, No 1 (2021): Jurnal Akuntansi Multiparadigma (April 2021 - Agustus 2021)
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jamal.2021.12.1.09
Abstrak - Realitas Pengawasan di Tubuh Pemerintahan Desa terhadap KorupsiTujuan Utama - Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengawasan realisasi anggaran desa menghadapi korupsi.Metode – Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Beberapa pihak yang terkait dalam proses realiasai anggaran desa menjadi informan dalam penelitian ini.Temuan Utama – Penelitian ini menemukan bahwa secara menyeluruh pengawasan yang terjadi di tingkat desa sudah berjalan dengan baik dan pengendalian korupsi bisa berjalan. Hanya saja masih terdapat kelemahan yang berkaitan dengan pengawasan yaitu sumber daya manusia yang kurang mampu. Selain itu, korupsi pemerintah desa dalam realisasi penganggaran desa memang ada walaupun tidak banyakImplikasi Teori dan Kebijakan – Pelatihan peningkatan kapasitas perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan perangkat desa dalam mengkawal keuangan desa. Pada sisi lainnya, sosialisasi kepada masyarakat mengenai seluruh rencana dan realisasi program desa diperlukan supaya pengawasan berjalan secara maksimal.Kebaruan Penelitian - Penelitian ini mengevaluasi pengawasan desa yang sudah berjalan dalam menghadapi korupsi. Abstract - The Reality of Supervision in the Village Government against CorruptionMain Purpose - This study aims to determine the supervision of realizing the village budget against corruption.Method - This study uses a qualitative descriptive method. Several parties involved in the village budget realization process become the informants.Main Findings - This study finds that overall supervision at the village level was running well and corruption control was working. It is just that there are still weaknesses related to supervision, namely inadequate human resources. In addition, village government corruption in the village budget realization does exist, although not much.Theory and Practical Implications - Capacity building training needs to be carried out to increase the capacity of village officials in guarding village finances. On the other hand, socialization to the community regarding all plans and realization of village programs is needed so that supervision runs optimally.Novelty - This study evaluates existing village surveillance in the face of corruption.