cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 18 (2016): Edisi Khusus" : 5 Documents clear
Diskusi Hadis tentang Kedudukan Perempuan D Damanhuri
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 18 (2016): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v18i0.3410

Abstract

Abstract: This article discusses the hadith about the position and status of women in the family. In a variety of classical jurisprudence (fiqh) books, discussion on women tends to be discriminatory, especially in the discussion on family guidance. The position of women is more severe than men. Women as wives and caregivers in the family have to be submissive and obedient in total to meet various forms of service to her husband. This impressed little opportunity for women to earn a living justice as the position of her husband's life. Hadiths will be disclosed wider than textstual meaning by using multiple approaches and logic. This study aims to provide a more comprehensive understanding of the meaning of the text of the hadith and dismissed accusations that lead to the view that there is a lack of humane treatment of women in the household. Abstrak: Artikel ini membahas hadis tentang posisi dan kedudukan perempuan di dalam keluarga. Dalam berbagai kitab fiqh klasik, terutama bahasan tentang tuntunan keluarga, cenderung diskriminatif, karena posisi perempuan lebih berat dibandingkan dengan lelaki. Perempuan sebagai isteri dan pengasuh rumah dalam keluarga harus tunduk dan patuh secara total dalam memenuhi berbagai wujud pelayanan terhadap suaminya, yang terkesan kecil peluang baginya untuk mendapatkan hidup berkeadilan sebagaimana posisi kehidupan suaminya sendiri. Kajian hadis tentang perempuan di sini diungkap lebih luas dari pemaknaan yang tersurat dengan tinjauan meggunakan beberapa pendekatan dan logika. Kajian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dalam pemaknaan terhadap teks hadis serta menepis tudingan-tudingan yang mengarah kepada pandangan adanya perlakuan kurang manusiawi terhadap perempuan dalam rumah tangga.
Perlindungan dan Pelestarian Lingkungan Hidup menurut Perspektif Al-Qur’an Muslim Djuned
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 18 (2016): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v18i0.8983

Abstract

Human relations and the environment are symbiotic mutualism, but environmental conflicts occur when people interact in it. Damage to the environment is one of the greatest threats to the survival of modern humans. Generally, environmental damage and pollution caused by the behavior and impact of human activity to global warming, the B3 waste, climate change, pollution, flooding, eroded, and ozone depletion. The environment needs protection and preservation of the damage. Because it needs to be a systematic attempt to inhibit the rate of damage and pollution. Based on the analysis of the verses on the theme of environmental protection and preservation, the ruling is required as an obligation to protect the pillars of Islamic law, namely: al-din al-nafs al-nasl, al-mal, al-'aql and al -bî'ah. Punitive sanctions against the perpetrators of environmental crimes according to the Qur'an is the maximum punishment, such as stoning or crosses, and the minimum punishment, namely punishment of hand amputation ta'zir. AbstrakRelasi manusia dan lingkungan hidup bersifat simbiosis mutualisme, namun konflik lingkungan terjadi ketika manusia berinteraksi di dalamnya. Kerusakan lingkungan hidup merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup manusia modern. Umumnya kerusakan dan pencemaran lingkungan disebabkan oleh perilaku dan aktivitas manusia yang berdampak terjadinya pemanasan global, limbah B3, perubahan iklim, polusi, banjir, longsong, dan penipisan ozon. Lingkungan hidup membutuhkan perlindungan dan pelestarian dari kerusakannya. Karena itu perlu upaya sistematis untuk menghambat laju kerusakan dan pencemarannya. Berdasarkan analisis terhadap nash-nash al-perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup hukumnya adalah wajib sebagaimana kewajiban melindungi pilar-pilar hukum Islam, yaitu: al-dîn, al-nafs, al-nasl, al-mâl, al-‘aql dan al-bî’ah. Sanksi hukuman terhadap pelaku tindak kejahatan lingkungan hidup menurut al-Qur’an adalah hukuman maksismal, yaitu rajam atau salib, dan hukuman minimal, yaitu hukuman potong tangan ta’zir.
Perspektif Al-Quran dan Sunnah tentang Toleransi Tarmizi M. Jakfar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 18 (2016): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v18i0.8982

Abstract

Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap siapapun termasuk kepada non muslim. Dengan tingginya rasa toleransi yang dibawa membuat agama ini mudah diterima dan cepat berkembang terutama pada masa-masa awal kehadirannya di tanah Arab. Hakikat dari toleransi adalah kemudahan dalam setiap ajarannya serta tenggang rasa terhadap perbedaan yang ada, termasuk dalam hal akidah ketika berhadapan dengan agama lain. Artikel ini bermaksud menelaah toleransi dalam perspektif Alquran dan sunnah. Telaah terhadap pandangan Alquran dan sunnah memperlihatkan bahwa  bentuk dan sifat toleransi ini tergambar jelas dalam al-Qur'an dan sunnah Nabi, juga dalam sirah kehidupan para sahabat dan ulama-ulama salaf lainnya yang memahami kedua sumber Islam ini dengan baik. Pengakuan akan tingginya rasa toleransi yang dibawa oleh agama samawi terakhir ini sesungguhnya bukan saja diakui dan dirasakan oleh umat Islam sendiri, tetapi juga mendapat pengakuan dari kalangan non muslim Barat yang berupaya menilai Islam secara objektif.
The Interpretasion of “Wa-‘Allama Ādama Al-Asmā’a Kulla-Hā” (Qs. 2: 31) and its Relation with the Issue of the Origin of Language; Study Text of al-Ùabarī’s, al-Zamakhsharī’s and al-Rāzī’s Commentary on the Qur’ān Nurullah Nurullah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 18 (2016): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v18i0.8981

Abstract

This paper will describe the interpretation of the verse 31, and its relation with the issue of the origin of langguage, from three selected commentaries, namely; Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl āy al-Qur’ān, al-Kashshāf ‘an ×aqā’iq al-Tanzīl, and MafātīÍ al-Ghaib. A close reading of these tree commentaries reveals that there are two interpretation of the word al-asma‘; first, it means every single word that signifies a meaning: nouns, verbs or particle i.e. the names of everything: angels, humans, animals, and inanimate existent includes its qualities, properties and everything relates to objects. This was the same to saying that God had taught Ādam language in its totality. Al-Zamakhsharī and al-Rāzī believe the verse demonstrates that God taught Ādam every language. But unlike al-Zamakhsharī, who seems to suggest that God was pointing to the objects and naming them, al-Rāzī does not explain how this process occurred, whether God educated him or thrown a knowledge (the understanding of language) into his mind. Second, al-Ùabarī who interprets it in a narrow meaning: al-asma‘ means the names of the angels and Ādam’s sons, seems to suggest that God just taught Ādam some languages. Abstrak: Tulisan ini akan mendiskusikan penafsiran dari ayat 31 dan kaitannya dengan isu asal mula bahasa, dari tiga kitab tafsir yaitu:  Jāmi‘al-Bayān ‘an Ta’wīl āy al-Qur’ān, al-Kashshāf ‘an ×aqā’iq al-Tanzīl, and MafātīÍ al-Ghaib. Berdasarkan penafsiran dari ketiga kitab tafsir ini ditemukan bahwa terdapat dua pemahaman dari lafaz al-asma’. Pertama; meliputi semua kata yang menunjukkan kepada makna baik kata benda, kata kerja atau partikel dan lain sebagainya. Yakni meliputi nama segala sesuatu termasuk malaikat, manusia, binatang maupun benda mati termasuk kualitas, sifat dan semuanya yang berhubungan dengan objek. Ini bermakna bahwa Allah telah mengajarkan Ódam bahasa secara keseluruhan. Al-Zamakhsharī and al-Rāzī berpendapat, ayat menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Ódam semua Bahasa. Namun berbeda dengan al-Zamakhsharī yang nampaknya menerangkan bahwa Allah mengajarkan Ódam dengan menunjuk kepada benda kemudian menamainya, al-Rāzī tidak menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung, apakah Allah mengajarkan Ódam atau mengilhamkan pengetahuan kepadanya. Kedua, al-Tabari yang menafsirkan ayat dengan makna yang lebih sempit, di mana al-asma’ pada ayat bermakna nama-nama malaikat dan anak-anak Ódam terkesan memahaminya bahwa Allah mengajarkan Ódam hanya sebagian bahasa saja.
Kekerasan Simbolik dan Politik Perempuan di Aceh Musdawati Musdawati
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 18 (2016): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v18i0.8980

Abstract

This article examines the theory of Pierre Bourdieu, a French sociologist, in dismantling mechanisms of injustice against women in the realm of practical politics. The idea of Bourdieu's theory of habitus, capital, arena, violence and symbolic power will be used as the perspective of gender inequality in uncovering the mechanisms of violence against women, particularly women involved in politics. The occurrence of various forms of violence against women, according to Bourdieu's theory, can not be separated from their symbolic violence that became the basis for other types of violence, such as physical, psychological, economic, and sexual. Symbolic violence is a form of violence that is not easily recognizable. Violence operates through symbols the object hegemonic discourse dominated. The roots of this violence habitus operates through women who are positioned as subordinate in society. Violence that works at the level of discourse, it will not make women understand and appreciate that they become the object and will not resist 

Page 1 of 1 | Total Record : 5