cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 1 (2018)" : 6 Documents clear
Tasawuf di Era Syariat: Tipologi Adaptasi dan Transformasi Gerakan Tarekat dalam Masyarakat Aceh Kontemporer Sehat Ihsan Shadiqin
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3406

Abstract

Abstract: Since the implementation of Sharia law in Aceh in 2001, the idea of Islam has always been related to Islamic yurisprudence. This has denied the aspect of spirituality in Sufi order (tariqa) which is actually the root of Islam in Aceh. Moreover, Sufi order in Aceh is like ducking and disappeared from the surface. Does the inconspicuious Sufi order attributable to the implementation of Sharia law? The answer is no. This paper attempts to explore the patterns of adaptation and transformation of Sufi orders movements in Aceh after the great wave in December 2004. I look at three different examples of Sufi orders; First, the Tawhid Tasawuf Study Council (Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf; MPTT) Syekh Haji Amran Wali who represents the Naqshabandi al-Khalidi congregation (South Aceh and Banda Aceh). Second, the Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) which led by Tgk. Sulfanwandi (Aceh Besar and Banda Aceh). Third, the Naqshabandi al-Haqqani order led by Ustaz Zamhuri (Banda Aceh). I found several patterns of tarekat adaptation to policies and Islamic society's trends in Islamic law. MPTT Amran Waly tends to re-interpret the classical Sufism doctrines, which considered contrary to the Sharia. TQN Sulfanwandi takes spirituality service while maintaining the urban lifestyle. While Haqqaniyah Ustaz Zamhuri made a pattern of cultural arts adaptation to show his tarekat as part of the life pattern of classical Acehnese Sufi scholars. The three tarekat groups seem to emphasize more on aspects of religious spirituality as an inseparable part of the development of modern society. Or in other words, it remains religiously valid even though it is modern in worldly life. Abstrak: Sejak penerapan syariat Islam di Aceh tahun 2001, ide tentang Islam selalu terkait dengan hukum Islam. Hal ini telah menafikan aspek spiritualitas dalam tarekat yang padahal merupakan akar Islam di Aceh. Apalagi kelompok-kelompok tarekat seperti merunduk dan tidak menampakkan diri ke permukaan. Namun, apakah kelompok tarekat benar-benar menghilang dari Aceh karena pemberlakukan syariat Islam? Kenyataannya tidak. Makalah ini akan mencoba menelusuri bagaiman pola adaptasi dan transformasi gerakan tarekat di Aceh pasca tsunami pada Desember 2004. Penulis mengambil tiga contoh tarekat yang berbeda; Pertama, Majelis Pengkajian Tawhid Tasawuf (MPTT) Syekh Haji Amran Wali sebagai representasi tarekat Naqsyabandi al-Khalidi (Aceh Selatan dan Banda Aceh). Kedua, Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) pimpinan Tgk. Sulfanwandi (Aceh Besar dan Banda Aceh). Ketiga, tarekat Naqsyabandi al-Haqqani pimpinan Ustaz Zamhuri (Banda Aceh). Dari penelusuran ini, penulis menemukan beberapa pola adaptasi tarekat terhadap kebijakan dan kecenderungan masyarakat Islam dalam hukum Islam. MPTT Amran Wali cenderung melakukan pemaknaan ulang atas doktrin-doktrin tasawuf klasik yang dianggap bertentangan dengan syariat. TQN Sulfanwandi mengambil pelayanan spiritualitas dengan tetap mempertahankan pola hidup masyarakat urban. Sementara Haqqaniyah Ustaz Zamhuri melakukan pola adaptasi seni budaya untuk menunjukkan tarekatnya sebagai bagian dari pola hidup ulama sufi Aceh klasik. Ketiga kelompok tarekat ini sepertinya lebih menekankan pada aspek spiritualitas agama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan masyarakat modern. Atau dengan kata lain, tetap salih secara agama meskipun modern secara kehidupan duniawi.
Mencari Surga di Dua Kota; Studi Komparatif Implementasi Syariat Islam Muhammad Sahlan
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3402

Abstract

Abstract: This article aims to look at the extent to which Government efforts the city of Banda Aceh and Aceh Barat in realizing the concept of the Kota Madani and Tauhid Tasawuf through the implementation of Sharia and sought to unearth how should model its development. Using ethnographic approaches, I would like to point out that the implementation of Sharia in the two cities is very dependent on Government support or political regime. Such dependence is visible from the Government's efforts through the decisions, policies and programs are carried out holistically by bureaucratic system involving public figures, scholars, academics and the general public. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana usaha pemerintah Kota Banda Aceh dan Aceh Barat dalam mewujudkan konsepsi Kota Madani dan Tauhid-Tasawuf melalui implementasi Syariat Islam serta berusaha menggali bagaimana seharusnya model pengembangannya. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, saya ingin menunjukkan bahwa implementasi syariat Islamdi dua kota tersebut sangat tergantung pada dukungan pemerintah atau rezim politik. Ketergantungan tersebut terlihat dari upaya pemerintah melalui keputusan, kebijakan dan program yang dilaksanakan secara holistik oleh sistem birokrasi yang melibatkan tokoh masyarakat, ulama, akademisi dan masyarakat umum. Keywords: Implementasi, Syariat Islam, Kota Madani, Kota Tauhid Tasawuf.
Antara Salah Paham dan Paham yang Salah: Pandangan Teungku Seumeubeut terhadap Wahabi Mulyana Idris; Muhammad Sahlan
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3407

Abstract

Abstract: Wahabi is one of a movement group in Islam. The group is famous for its agenda of Islam and Tawheed purification of superstition, bida'ah and khurafat. This article discusses the view of Teungku Seumeubeut against Wahabi suspected of starting and growing in Aceh. Teungku Seumeubeut is an elite level of religion in the village which has a great influence on the community level. The author argues that the view Teungku Semuenebuet against Wahabi strongly depends on the depth of the study, a pattern of academic influence of clients and patrons politicization of religion in the public sphere. This article concludes that Teungku Seumeubeut do simplification against Wahabi due to the knowledge and the experience of interacting with Wahabi is very limited. Abstrak: Wahabi merupakan salah satu kelompok gerakan dalam Islam.Kelompok ini terkenal dengan agenda pemurnian Tauhid dan ajaran Islam dari praktek takhayul, bida’ah dan khurafat.Artikel ini membahas tentang pandangan Teungku Seumeubeut terhadap Wahabi yang dicurigai mulai masuk dan berkembang di Aceh.Teungku Seumeubeut adalah elit agama di tingkat desa yang memiliki pengaruh besar di masyarakat level bawah.Penulis berpendapat bahwa pandangan Teungku Seumeubuet terhadap Wahabi sangat tergantung pada kedalaman kajian, pola keilmuan patron klien dan pengaruh politisasi agama dalam ruang publik.Artikel ini berkesimpulan bahwa Teungku Seumeubeut melakukan simplifikasi terhadap Wahabi dikarenakan pengetahuan dan pengalamannya berinteraksi dengan Wahabi sangat terbatas.
Refleksi Pemikiran Hamka tentang Metode Mendapatkan Kebahagiaan Fuadi Fuadi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3403

Abstract

Abstract: Human happiness is based on a combination of Sufism and reason. Taking certain spiritual ways will bring true happiness to humans, namely the encounter with the creator of nature. According to Hamka, human happiness can be obtained through several steps such as building a mentality and spirit of religion, controlling lust, being sincere, maintaining mental and body health, being qana'ah, and being sincere. In these ways humans will find happiness in the world and the hereafter. Abstrak: Kebahagiaan manusia didapatkan berdasarkan perpaduan antara tasawuf dan akal. Menempuh cara-cara spiritual tertentu dapat membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yaitu penjumpaan dengan sang pencipta alam. Menurut Hamka kebahagiaan manusia dapat diperoleh melalui beberapa langkah seperti membangun mentalitas dan jiwa beragama, mengendalikan hawa nafsu, bersikap ikhlas, memelihara kesehatan jiwa dan badan, bersikap qana’ah, dan bersikap tawakkal. Dengan cara-cara ini manusia akan menemukan kebahagian dunia dan akhirat.
Transformasi NU di Indonesia: Upaya Menghilangkan Polemik di Tengah Perubahan Politik Hartati & Hambali
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3404

Abstract

Abstract: This article looks at the power actors and the political elites, who always have a position, strategic and nominations in the course of the nation’s history, which often have the power to direct and designing the history of the nation. The emergence of a modernist discourse on Nahdlatul Ulama (NU) is very concerning. NU regarded as a political organization has no significant role to play down organizing political change and the substitution of elite political power actors directly. Because the domain of thinking than often become conservative, countrified, superstitious, think old-fashioned, opportunistic chameleon, inconsistent, corrupt, cultured syncretic and other. Internally, NU as experienced a ‘stagnation of thought’. At the same time, it has not yet found a vision regarding the role and contribution of NU to Indonesia in the global context. Nu as an organization that has abundant millennial generations, certainly has a very strategic role in the effort to create a golden Indonesia 2045. Efforts are needed to explore things in the tradition that can support transformation. NU must be able to concentrate itself on taking care of people's problems in the social, community, education, health, empowerment, economic, religious, politics, and so on, which may be more fundamental for the Indonesian people. Abstrak: Artikel ini membahas aktor-aktor kekuasaan dan elit politik, yang selalu memiliki posisi, strategis, dan nominasi dalam perjalanan sejarah bangsa, yang sering memiliki kekuatan untuk mengarahkan dan merancang sejarah bangsa. Munculnya wacana modernis mengenai Nahdlatul Ulama (NU) sagatlah miris. NU dianggap sebagai organisasi politik tidak mempunyai peran yang signifikan untuk turut mengatur perubahan politik dan pergantian aktor-aktor kekuasaan dan elit-elit politik secara langsung. Hal ini dikarenakan ranah berfikir yang sering menjadi konservatif, kampungan, percaya takhyul, berfikir kuno, oportunis, berwatak bunglon dan plin-plan, korup, berbudaya sinkretis, dan lainnya. Secara internal NU seperti mengalami ‘stagnasi pemikiran’. Pada saat yang sama, belum menemukan visi terkait bagaimana peran dan kontribusi NU terhadap Indonesia dalam konteks percaturan global. Nu sebagai organsasi yang memiliki generasi millennial berlimpah, tentu memiliki peran sangat strategis dalam upaya mewujudkan Indonesia emas 2045. Diperlukan ikhtiar untuk menggali hal-hal dalam tradisi yang bisa mendukung transformasi. NU harus mampu mengkonsentrasikan diri untuk mengurus persoalan-persolan umat di bidang sosial, masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, ekonomi, keagamaan, politik dan sebagainya, yang mungkin lebih fundamental bagi bangsa Indonesia.
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana dengan Pendekatan Mazhab Antroposentris Fatimahsyam Fatimahsyam
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v20i1.3405

Abstract

Abstract: The essential of Decree No .24 of 2007 about disaster management has changed the previous paradigm of disaster management through the emergency response approach to comprehensive disaster management which derives from preventions, mitigation, readiness, early warning, emergency response, recovery, rehabilitation, and reconstruction. The definition of emergency response based on this decree is emphasized that humans role be crucial in disaster management before, during and after the disaster. This definition contradicts the theology theory of Asy-ariyah Ismalic sect which states that the earthquake and previous tsunami in Aceh on December 26, 2004, was God’s will as a form of torment for humans’ wrongdoings. This Asy-ariyah Islamic sect view on disasters is that it is God’s decree that humans cannot interfere and humans cannot prepare, prevent or recover from the disaster. This sect views that humans have no options to do various acts of preventing and or minimalizing the effects of any particular disaster. This Asy-ariyah sect, however, is incapable of relating the efforts humans do in disaster management which derived in Decree No.24 in 2007. This contradiction is bridged by Antroposentic theology theory (theology idea which places humans as the center of orientation as the actions of humanizing and prospering humans). This theology paradigm of Antroprosentris is dialogical which can create humans who believe in God and have humanities without interfering human faith in Oneness of God in disaster management Abstrak: Ruh dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana merubah paradigma penanggulangan bencana yang sebelumnya melalui pendekatan tanggap darurat berubah menjadi penanggulangan bencana yang bersifat komprehensif mulai dari pencegahan, mitigasi,kesiapsiagaan,peringatan dini, tanggap darurat, bantuan darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekontruksi. Pengertian tahapan penanggulangan bencana dalam undang-undang ini menegaskan bahwa peran manusia sangat besar dalam mengendalilan bencana baik pra, saat bencana dan pasca bencana. Pengertian ini bertolak belakang dengan teologi bencana menurut mazhab Asy-ariyah yang meyakini bahwa bencana alam yang terjadi seperti gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004 lalu merupakan kehendak Tuhan sebagai azab pada manusia yang telah berbuat munkar dan maksiat. Mazhab Asy-ariyah menganggap bencana merupakan keputusan Tuhan tampa dapat diganggu gugat dan manusia harus menerima tampa mampu melakukan upaya pencegahan dan pemulihan bencana.Menurut mazhab Asy-ariyah manusia tidak memilki pilihan untuk melakukan berbagai upaya untuk mencegah atau meminimalkan dampak bencana yang terjadi. Mazhab Asy-ariyah tidak cukup mampu menghubungkan upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia dalam manajeman bencana seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007. Kontradiksi ini dijembatani melalui konsep teologi Antroposentris (teologi yang menempatkan manusia sebagai pusat orientasinya, sebagai inti memanusiakan dan mensejahterakan). Paradigma Teologi Antroposentris bersifat dialogis yang mewujudkan manusia berketuhanan dengan sendirinya, berprikemanusiaan tanpa mengubah wujud ketauhidan dalam konsep penangulangan bencana.

Page 1 of 1 | Total Record : 6