cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Kajian Biblika Kecemburuan Allah Terhadap Penyembahan Berhala Berdasarkan Keluaran 20:4-6 Queency Christie Wauran
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i2.180

Abstract

Dalam Perjanjian Lama kecemburuan Allah selalu berada dalam konteks penyembahan berhala. Hukum Taurat yang kedua dengan jelas melarang penyembahan kepada patung oleh karena alasan ini yaitu Allah yang cemburu. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui arti kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala berdasarkan kitab Keluaran 20:4-6 dan implikasinya bagi kehidupan orang percaya. Adapun kesimpulan artikel ini adalah pertama, kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala menyatakan bahwa Allah tidak dapat direpresentasikan dalam bentuk apapun karena kecemburuan Allah ini menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang kudus. Dengan demikian, hanya Allah satu-satunya yang harus disembah oleh orang percaya. Kedua, kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala menyatakan bahwa tidak boleh ada objek penyembahan yang lain selain kepada Allah karena penyembahan kepada berhala menandakan perzinaan rohani yang mengakibatkan kecemburuan Allah. Oleh karena itu, orang percaya harus menolak segala bentuk penyembahan berhala. Ketiga, penyembahan kepada berhala mendatangkan kecemburuan Allah karena kecemburuan Allah ini menyatakan kesetiaan-Nya atas perjanjian dengan umat-Nya. Dengan demikian, kecemburuan Allah seharusnya menjadi dasar dari penyembahan kepada Allah. Keempat, kecemburuan Allah atas penyembahan berhala mendatangkan hukuman karena kecemburuan Allah menyatakan keadilan-Nya dalam hal pemberian hukuman sebagai konsekuensi bagi penyembah berhala. Kelima, kecemburuan Allah atas penyembahan berhala menyatakan bahwa Allah mengasihi umat-Nya dan sekaligus menyatakan keadilan Allah dalam hal pemberian berkat bagi yang mengasihi-Nya. Kasih Allah mendasari hubungan-Nya dengan umat-Nya, dengan demikian kasih juga menjadi dasar hubungan orang percaya dengan Allah.In the Old Testament, the jealousy of God is always in the context of worshipping idols. The second commandment clearly prohibits the worshipping of statues for this reason, that God is jealous. This article is based on Exodus 20:4-6, and its purpose is to understand the meaning of God’s jealousy with respect to the worship of idols and its implications in the lives of believers. Now, the summary of this article is firstly: the jealousy of God in respect to idolatry says that God cannot be represented in any shape or form whatsoever because the jealousy of God says that He is a God who is Holy. As such, only God Himself should be worshipped by believers. Secondly, the jealousy of God in respect to idolatry says that there is to be no other object of worship other than God because the worship of idols signifies spiritual adultery that results in the jealousy of God.  Because of this, believers must reject all forms of idolatry. Thirdly, idolatry brings about the jealousy of God because of God’s faithful covenant with His people. Thus, the jealousy of God should become the foundation of worship to God. Fourthly, the jealousy of God in relation to idolatry brings about judgment because the jealousy of God says that He is just when giving judgment as a consequence for worshipping idols. Fifthly, the jealousy of God in relation to idolatry says that God loves His people and at the same time says that God is just in giving blessings to those who love Him. The love of God underlies the relationship God has with His people. As such, love also becomes the foundation of the relationship believers have with God.
Analisis Faktor Mekanisme Kontrol Terhadap Pelecehan Rohani Dalam Gereja Ivan Th.J Weismann
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.238

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis sejauh mana faktor mekanisme kontrol terhadap pelecehan rohani terdapat dalam gereja-gereja masa kini. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh signifikan faktor mekanisme kontrol terhadap pelecehan rohani dalam gereja. Gereja-gereja yang di dalamnya terkandung pelecehan rohani secara potensial menumbuhkan bentuk ketergantungan yang tidak sehat, secara rohani dan jasmani, dengan berfokus pada tema-tema penundukan dan ketaatan kepada mereka yang memiliki otoritas.
Penerapan Metode Mengajar Yesus Menurut Injil Sinoptik Dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen Di SMA Gamaliel Makassar Imanuel Agung; Made Astika
Jurnal Jaffray Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i2.99

Abstract

Adapun yang menjadi tujuan penulisan ini ialah untuk memberikan suatupenjelasan mengenai metode mengajar yang Yesus gunakan dalam pengajaran-Nya yangtertuang dalam Injil Sinoptik. Selain itu penulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana penerapan metode mengajar Yesus dalam pelaksanaan PAK di SMA GamalielMakassar.Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penulisan ini adalahsebagai berikut: Pertama, metode kepustakaan atau literatur, yaitu penggalian datamelalui penyelidikan terhadap buku-buku yang ada, baik di perpustakaan Sekolah TinggiTheologia Jaffray Makassar, maupun kumpulan buku pribadi penulis yang berhubungandengan pokok masalah yang dibahas. Kedua, penulis juga melakukan penelitian lapanganuntuk mendapatkan data-data yang berhubungan dengan penulisan ini. Teknik yangdigunakan penulis ialah penyebaran angket kepada siswa-siswi di SMA GamalielMakassar dan wawancara terhadap guru PAK yang ada di sekolah tersebut. Angkettersebut disebarkan untuk membuktikan penerapan metode mengajar Yesus dalam prosesbelajar mengajar di SMA Gamaliel Makassar sebagaimana yang diungkapkan gurumelalui wawancara dengan penulis.Dalam pelayanan-Nya sebagai pengajar, Yesus menggunakan beberapa metode.Metode, metode yang Yesus gunakan antara lain, metode pertanyaan, metode cerita(perumpamaan/ilustrasi), metode ceramah (khotbah), menggunakan benda atau objeksebagai alat peraga dan juga menggunakan metode diskusi. Dapat dikatakan bahwaYesus adalah guru yang kreatif, karena dalam setiap pengajaran-Nya Yesusmenggunakan metode-metode yang bervariasi, bergantung kepada tujuan, bahan, situasipendengar, serta lingkungan-Nya.
Pemimpin Sebagai Gembala Eli Wilson Ipaq
Jurnal Jaffray Vol 12, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v12i1.31

Abstract

Istilah pemimpin gembala adalah suatu analogi dogmatis yangmenggambarkan peranan dan harapan terhadap para pemimpin, secara khusus parapemimpin gereja. Karena secara Alkitabiah, analisis dan rumusan tentangkepemimpinan gembala adalah suatu konsep pendekatan pelayanan yang menjunjungtinggi nilai-nilai rohani, kepemimpinan hamba, moralitas, sosial dan etika. Denganpendekatan yang menjadi ciri khasnya adalah kasih, bukan atas kekuasaan, politikdan uang (Yohanes 21:15-17).Penegasan ini tersirat di dalam gagasan Yesus seperti yang terdapat dalamYohanes 21:15-17 yakni: Pertama: “gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kedua:gembalakan kawanan domba dengan kasih Allah.Dengan terus memperhatikan prinsip-prinsip fundamental yang aktual,Alkitabiah dalam membangun strategi dan melaksanakan fungsinya sebagaipemimpin pembaharu.
Tinjauan Teologis Tentang Arti Berkat Dalam Kehidupan Orang Percaya I Ketut Enoh; Finilon Finilon
Jurnal Jaffray Vol 10, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i1.72

Abstract

Tujuan Penulisan Sesuai dengan permasalahan yang diamati, maka tujuanpenulisan karya ilmiah ini adalah: Pertama, untuk mengetahui latar belakangpemahaman orang percaya khususnya, dan dunia pada umumnya tentang arti berkatberdasarkan Alkitab. Kedua, untuk menyingkapkan arti berkat yang sesungguhnya,sehingga orang percaya memiliki pemahaman yang benar tentang arti berkat. Ketiga,supaya pembaca karya ilmiah ini dapat menghargai atau mensyukuri setiap berkatyang Tuhan beri dalam kehidupannya.Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode penelitianliteratur (library research), dan penelitian lapangan (field research) serta menulishasilnya secara deskriptif.Berdasarkan hasil uraian penulis tentang arti berkat dalam kehidupan orangpercaya, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, masihbanyak orang percaya yang belum memahami berkat sebagai sesuatu yang indah danmenyenangkan dari Tuhan. Kedua, ketidakmampuan orang percaya bersyukur atasberkat Tuhan lebih disebabkan karena kurang memahami bahwa berkat itu berasaldari Tuhan. Sehingga ada juga yang beranggapan bahwa Tuhan tidak memberi berkatkepada manusia, tetapi manusialah yang mengusahakannya bagi dirinya sendiri.Ketiga, kurangnya kesadaran orang percaya bahwa berkat itu berasal dari Allah,banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dunia sekuler dan beberapakelompok Kristen, yang keliru.
Studi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29; 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini Brian Marpay; Simon Alexander Tarigan
Jurnal Jaffray Vol 9, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i1.90

Abstract

Dalam penulisan ini ada beberapa tujuan yang ditetapkan dan yang ingin dicapaiserta merupakan dasar materi ini yaitu: Pertama, untuk menggali pandangan RasulPaulus tentang sunat dalam Roma 2:25-29; 3:1. Kedua, untuk menjawab implikasikebenaran sunat bagi kehidupan Kristen masa kini menurut teologi Perjanjian Baru.Adapun metode yang dipakai dalam penulisan ini: Pertama, penelitian kualitatifatau mencari makna sunat berdasarkan Surat Roma 2:25-29; 3:1. Sistematikapenulisannya ialah, literatur tentang surat Roma, literatur tentang sunat, teologi RasulPaulus. Kedua, eksegesis hermeneutika tentang sunat berdasarkan Roma 2:25-29; 3:1.Teknik pengumpulan data ialah inventarisasi, evaluasi kritis. Teknik analisis data ialahinterpretasi, dan komparasi serta menulis hasilnya secara deskriptif.Berdasarkan uraian tentang studi Alkitab terhadap sunat dalam Roma 2:25-29 ;3:1 dan implikasi bagi kehidupan Kristen masa kini, maka dengan ini penulismengemukakan secara praktis beberapa hasil sebagai kesimpulanya: Pertama, sunatlahiriah tidak berfaedah ketika seseorang masih hidup dalam dosa dan tidak menaatiFirman Tuhan. Kedua, sunat lahiriah hanya sebatas simbolis, sedangkan sunat hatisangat perlu dalam hidup kekristenan. Ketiga, Sunat yang dilakukan secara lahiriah(sarx) yakni pada tubuh atau daging hanya sebatas aturan atau tradisi. Keempat, sunathati ialah sebuah situasi di mana seseorang yang sebelumnya hidup dalam dosa namunatas dasar kesadaran akan dosa atau pelanggaran, mempersilahkan Allah untuk masukdalam hatinya, membersihkan hidupnya dari segala dosa (mengerat/menyunatkanhatinya) bagi Allah sehingga dapat menjalin intimasi dengan Allah yang kudus. Kelima,sunat sangat bermanfaat bagi kesehatan. Tuhan memakai para tenaga medis untukmenyingkapkan kebenaran. Allah tidak merancang sunat sebagai alasan medis, tetapisunat sangat bermanfaat secara medis.
Tinjauan Teologis Tentang Ibadah Bagi Pelaksanaan Misi Allah Yonatan Sumarto
Jurnal Jaffray Vol 17, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v17i1.312

Abstract

This paper aims to explain the theological review of worship for the implementation of God’s mission. The method used is descriptive qualitative with literature review. The conclusion is that worship is worshiping the Lord God as well as testing missionary actions of the church members. Worship moves God's people to experience an encounter with God, and His will. The response of God's people is to carry out God's mission for the world. Integrity of worship is knowing God's will for His mission in the world through the church, and believers.
Fundamentalisme Hak Asasi Manusia Mesakh Jasnin
Jurnal Jaffray Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v5i1.125

Abstract

Masalah Hak Asasi Manusia banyak menyangkut atau berkenaan dengan aspek-aspek kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam membahas Fundamentalisme HakAsasi Manusia harus bertumpu pada konsep manusia yang tentunya tidak terlepas dari kodrat manusia itu sendiri, yakni ada bersama dengan sesamanya (eksistensi adalah koeksistensi). Eksistensi manusia yang koeksistensi hanya mungkin tenruujud secara otentik apabila setiap manusia dapat bertingkah dengan tertib dan teratur. Ketertiban dan keteraturan ini pada hakikatnya merupakan perwujudan dari hukum. Dengan demikian, eksistensi manusia dapat terwujud secara otentik melalui hukum pula. Eksistensi manusla yang koeksistensihanya akan terwujud apabila hukum itu sendirrdapat dikembalikan atau bersumber pada asas penghormatan dan pengakuan atas martabat manusia. Oleh karena itu, adalah sebuah kewajiban bagi manusia untuk menolak dan melawan segala bentuk pelanggaran HAM, yaitu segala bentuk perlakuan (termasuk eksekusi mati) yang tidak memperlakukan manusia (baik secara individu maupun kelompok) sebagai gambarAllah dan yang menghalangi manusia untuk menghadirkan diri secara penuh dan otentik (dalam eksistensi yang koeksrstensi) sesuai dengan martabatnya sebagai gambar Allah.
Menyikapi Kerapuhan Sistem Sosial Sebuah Pergumulan Teologis T. R. Andi Lolo
Jurnal Jaffray Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v7i2.22

Abstract

Mengapa saya sangat tertarik berbicara tentang kerapuhan sistem sosial. Jawabannya ialah karena semua sistem, termasuk sistem sosial sedang dilanda oleh arus global yang tidak dapat dibendung dan sangat potensil memporak-porandakan semua sistem yang sudah mapan sekalipun. Gejala kerapuhan ini tidak bisa kita biarkan melainkan harus disikapi karena pada akhirnya, akibat dari arus tersebut akan menimpa umat manusia sebagai anggota dari berbagai sistem kehidupan, baik kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan bahkan tidak terkecuali kehidupansebagai anggota dari komunitas agama. Sesuai dengan suasana dan lingkungan di mana orasi ini disampaikan, saya memilih bentuk kehidupanyang terakhir tadi sebagai bidang kajian untuk kita renungkan bersama.
Pandangan Alkitab Tentang Praktik Bisnis di Kalangan Hamba Tuhan Penuh Waktu Berniaty Palabirin; Daniel Ronda
Jurnal Jaffray Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v8i2.45

Abstract

Pertama, bisnis merupakan suatu kegiatan menyalurkan jasa dari produsen kepadakonsumen untuk menghasilkan keuntungan yang dipakai untuk kemuliaan Allah. Dimana dalam bisnis seorang hamba Tuhan penuh waktu haruslah memperhatikan tujuanbisnis, fungsi bisnis, etika bisnis, sasaran bisnis sesuai dengan ajaran ke-Kristenan karenabisnis adalah milik Allah.Kedua, bisnis bukan hal yang kotor dan tidak ada larangan dalam Alkitab bahwaseorang hamba Tuhan penuh waktu boleh berbisnis sebaliknya firman Tuhan banyakmengajarkan bagaimana seharusnya melakukan bisnis dengan benar. Walaupun tidak adalarangan tetapi seorang hamba Tuhan harus memiliki prinsip yaitu jika jemaatnya mampuuntuk mencukupi kebutuhan hidupnya maka ia harus fokus untuk pelayanan saja sepertihalnya pelayanan yang dilakukan oleh kaum Lewi pada masa Perjanjian Lama tetapi jikajemaat tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hamba Tuhan maka tidak salah jikamereka melakukan bisnis.. Ketiga, walaupun tidak ada salahnya hamba Tuhan untuk berbisnis namun tidaksemua aliran gerja menyetujui hamba Tuhan untuk berbisnis. Ini semua tergantung aturantata gereja masing-masing, jika tata gereja mengizinkan hamba Tuhan boleh berbisnismaka itu boleh dilakukan asalkan tidak menjadi batu sandungan bagi jemaatnya.

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue