cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 53 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2015)" : 53 Documents clear
Uji Efek Antibakteri Minyak Jintan Hitam (Nigella Sativa) Dalam Kapsul yang Dijual Bebas Selama Tahun 2012 di Kota Padang Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Secara In Vitro Gezha Utama Putra; Aziz Djamal; Machdawaty Masri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.259

Abstract

AbstrakJintan Hitam atau Nigella sativa diketahui memiliki kemampuan sebagai antibakteri, seperti terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kedua bakteri ini memiliki sifat yang berbeda namun memiliki kesamaan dari penyakit yang disebabkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efek antibakteri produk minyak jintan hitam (Nigella sativa) dalam bentuk kapsul antara bakteri Staphylococcus aureus dan Escherechia coli secara in vitro. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 - Desember 2012 di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua sampel jintan hitam yang digunakan tidak memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli dan semua sampel tersebut memiliki efek antibakteri yang bervariasi pada Staphylococcus aureus. Analisis Anova menunjukkan bahwa masing-masing sampel minyak Nigella sativa memberikan efek berbeda secara signifikan pada pertumbuhan Staphylococcus aureus, bahkan enam diantaranya memiliki efek yang lebih baik daripada Cepoperazon (25 mm) sebagai kontrol yang digunakan.Kata kunci: Nigella sativa, efek antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia coli. AbstractBlack Cumin or Nigella sativa known have the capability as antibacterial, such as to Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Both of these bacteria have different properties but have similarities from diseases they may cause. The objective of this study was to compare anti-bacterial effects of black cumin oil (Nigella sativa) which has been packaged in capsules towards Staphylococcus aureus and Escherichia coli in vitro The research was conducted in January 2012 to December 2012 at the Microbiology laboratory, Medicine Faculty of Andalas University. The results of this research indicate that all black cumin samples that are used did not have antibacterial effect against Escherichia coli and all samples had antibacterial effects on Staphylococcus aureus with germ-free area that size varies. Anova analysis results indicate that each of Nigella sativa gives differ effects significantly on Staphylococcus aureus growth, even six of them have better effect than Cepoperazon (25 mm) were used as controls.Keywords: Nigella sativa, antibacterial effect, Staphylococcus aureus, Escherichia coli
Karakteristik Penderita Dispepsia Fungsional yang Mengalami Kekambuhan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat Tahun 2011 Yui Muya; Arina Widya Murni; Rahmatina B Herman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.279

Abstract

AbstrakDispepsia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui dokter dalam praktek sehari-hari. Prevalensi dispepsia fungsional di Inggris mencapai 23,8%, sedangkan di Amerika Serikat 15%. Di Indonesia belum terdapat prevalensi penyakit ini secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita dispepsia yang mengalami kekambuhan di RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat tahun 2011. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi sebanyak 63 data penderita tetapi sampel yang memenuhi syarat hanya 42 penderita. Proporsi tertinggi penderita dispepsia adalah kelompok umur 46-55 tahun (38,1%), jenis kelamin perempuan (64,3%), suku minang (97,6%), agama Islam (100%), tingkat pendidikan akademik/PT (50,0%), pekerjaan ibu rumah tangga (35,7%), dan status telah kawin (71,4%). Kepada praktisi kesehatan atau dokter lini pertama agar dapat memaksimalkan usaha-usaha promosi kesehatan, sehingga masyarakat mendapat pengetahuan terutama mengenai sindrom dispepsia fungsional.Kata kunci: dispepsia fungsional, karakteristik penderita, kekambuhan AbstractDyspepsia is one of the common health problems that found by the doctors in daily practice. Prevalence rate of functional dyspepsia in the England is about 23.8% while in United Stated is about 15%. In Indonesia, there has been no overall disease prevalence. The objective of this study was to investigate the characteristics of hospitalized patients with dyspepsia who have a relapse at Dr M. Djamil Hospital Padang, West Sumatra in 2011. This study uses descriptive cross sectional design. Population data were 63 patients but only 42 samples were taken. The highest proportion of dyspeptic patients was 46-55 years age group (38.1%), female (64.3%), ethnic Minang (97.6%), Moslem (100%), education level Academic (50.0%), Housewife (35.7%), and Married (71.4%). Health practitioners or physician in order to maximize the health promotion efforts, so that people get the knowledge, especially regarding functional dyspepsia syndrome.Keywords: functional dyspepsia, patient characteristics, relapsing
Gangguan Psikotik Akibat Stroke Iskemik Rini Gusya Liza; Bahagia Loebis
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.308

Abstract

AbstrakStroke atau yang disebut juga dengan penyakit serebrovaskuler berkontribusi terhadap timbulnya delusi dan halusinasi di kemudian hari.Pengobatan yang diberikan pada kondisi medis sering menghasilkan remisi dari psikosistetapi hal tersebut tidaklah selalu terjadi. Gejala psikosis dapat bertahan lama setelah kondisi medis yangmenyebabkannya sembuh. Dilaporkan seorang pasien yang mengalami gangguan psikotik setelah mengalami strokeiskemik. Gangguan psikotik akibat stroke iskemik merupakan suatu kasus dalam Consultation Liaison Psychiatry.Kata kunci: gangguan psikotik, stroke iskemik, delusi dan halusinasiAbstract Stroke or also called cerebrovascular disease contributed to the emergence of delusions and hallucinations inthe future. Treatment given to medical conditions often produce remission of psychosis but it is not always happen.Psychotic symptoms can persist longer after recovery.  Reported a patient who suffered a psychotic disorder afterischemic stroke. Psychotic disorders due to ischemic stroke is a case in Consultation Liaison PsychiatryKeywords: psychotic disorder, ischemic stroke, delusions and hallucinations
Ekspresi PDGF-B dan SCUBE 1 pada Arteri Karotis Mencit yang Diligasi dan Tidak Diligasi Ranti Verdiana; Hirowati Ali; Husnil Kadri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.275

Abstract

AbstrakDiffuse Intimal Thickening (DIT)terjadi sebagai adaptasi fisologis terhadap shear stress yang dapat terbentuk melalui ligasi arteri karotis. Ligasi akan menyebabkan terbentuknya penebalan tunika intima pada pembuluh darah. Penebalan tunika intima terjadi melalui proses inflamasi yang melibatkan sitokin seperti PDGF-Bdan SCUBE 1 yang terdapat di dalam trombosit dan endotel. Tujuan penelitian adalah mengetahui ekspresi PDGF-B dan SCUBE 1 pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi. Desain penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan 5 ekor mencit yang dilakukan ligasi pada arteri karotis kiri sedangkan arteri karotis kanan tidak diligasi. Kemudian, arteri karotis tersebut dikumpulkan dan diperiksa kadar PDGF-B dan SCUBE 1 dengan menggunakan PCR. Uji hipotesis yang digunakan adalah independent t-test. Hasil penelitian adalah tidak terdapat perbedaan bermakna PDGF-B pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi (p = 0,66; p>0,05) dan tidak terdapat perbedaan bermakna SCUBE 1 pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi (p = 0,33; p>0,05).Kata kunci: diffuse intimal thickening, DIT, PDGF-B, SCUBE 1, PCR. AbstractDiffuse Intimal Thickening (DIT) develops as physiological adaptive process of shear stress which can be performed by carotid artery ligation in mice. Ligation will cause an intimal thickening in vessel. Intimal thickening occurs through an inflammatory process that involves cytokines such as PDGF-B and SCUBE 1 that are found in platelet and endothelial cells.The objective of this study was to determine the expression of PDGF-B and SCUBE 1 in ligated and non ligated carotid artery of mice.The design study was experimental. This study used 5 mouse that were ligated in left carotid artery and non ligated in right carotid artery. Then, those carotid arteries were collected and examined PDGF-B and SCUBE 1 levels using PCR. The hypothesis test of this study was Independent t-test.The result was no significant difference between PDGF-B in ligated and non ligated carotid artery of mice (p = 0.66; p>0.05). The same result was also found in SCUBE 1 as well (p = 0.33; p>0.05).Keywords: diffuse intimal thickening, DIT, PDGF-B, SCUBE 1, PCR.
Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Pre-Eklampsia Berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang Nurulia Muthi Karima; Rizanda Machmud; Yusrawati Yusrawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.299

Abstract

AbstrakPre-eklampsia Berat (PEB) masih merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu apabila tidak ditangani secara adekuat. Ada banyak hal yang mempengaruhi terjadinya PEB, beberapa diantaranya adalah usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC, dan riwayat hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan pre-eklampsia berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Penelitian ini menggunakan rancangan case-control study dengan metode analitik observasional. Pengumpulan data dilakukan pada Januari 2013 dengan menggunakan data sekunder, yakni data rekam medik ibu melahirkan dengan pre-eklampsia berat dan tanpa pre-eklampsia di bagian obstetrik dan ginekologi RSUP Dr. M. Djamil, periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2011. Dari 148 data sampel didapatkan angka distribusi pada variabel riwayat hipertensi yang hanya didapatkan pada ibu dengan PEB. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor risiko (usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC) dengan masing-masing nilai p > 0,05. Analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik didapatkan bahwa usia ibu > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian PEB dengan nilai p = 0,034. Jadi, usia ibu > 35 tahun dan riwayat hipertensi memiliki hubungan terhadap kejadian pre-eklampsia berat.Kata kunci: pre-eklampsia berat, faktor risiko, hipertensi AbstractSevere Pre-eclampsia is one of the contributors of maternal morbidity and mortality if not getting an adequate treatment. There are many things that affect it, such as maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits, and history of hypertension. The objective of this study was to determine relationship between the risk factors and the incidence of severe pre-eclampsia The design of this research is case-control study with observational analytic methods. The data was collected in January 2013 by using secondary data, maternal medical record data with severe pre-eclampsia and without pre-eclampsia of the obstetrics and gynecology department Dr. M. Djamil, period 1 January 2010-31 December 2011. From 148 samples obtained figures the variable history of hypertension which is only found in women with severe pre-eclampsia. The results of the bivariate analysis using chi square test results obtained there was no significant relationship between risk factors (maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits) with each p value > 0.05. While the results of the multivariate analysis using logistic regression found that maternal age> 35 years was a risk factor for the incidence of severe pre-eclampsia with p = 0.034. Maternal age > 35 years and history of hypertension had a relationship to the incidence of severe pre-eclampsia. Keywords: severe pre-eclampsia, risk factor, hypertension
Hubungan OAINS pada Pengobatan Dismenorea dengan Kejadian Dispepsia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Siti Dwiaulia Risnomarta; Arnelis Arnelis; Ernawati Ernawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.264

Abstract

AbstrakDismenorea merupakan salah satu keluhan ginekologi tersering yang membawa pasien datang ke dokter. Dismenorea terjadi 40-80% dan 5-10% nya membutuhkan pengobatan. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) paling sering digunakan untuk pengobatan dismenorea primer. Namun efek samping sering terjadi terutama pada saluran cerna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan OAINS sebagai pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Rancangan penelitian adalah analitik cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 62 orang yang diambil dengan menggunakan metode total sampling. Dari penelitian ini diperoleh jumlah responden yang mengalami dispepsia sebanyak 14 orang (22,6%). Penelitian ini menilai OAINS (jenis,jumlah, dan kombinasi) pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia. Derajat dispepsia yang dikeluhkan umumnya ringan. Hasil uji chi-square antara jenis OAINS pada pengobatan dismenorea dan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,120. Hasil uji chi-square antara jumlah OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 1,00. Hasil uji chi-square antara kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,125. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis, jumlah, dan kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia.Kata kunci: dismenorea, OAINS, dispepsia AbstractDysmenorrhea is one of most common gynecological complaint that bring the patients come to see doctor. Dysmenorrhea occurs 40-80% and 5-10% need treatment. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are the most common treatment for primary dysmenorrhea. The side effects of NSAIDs often occur, especially in gastointestinal. The objective of this study was to determine the relationship of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea and dyspepsia incident in female students of Faculty of Medicine of Andalas University. The design study is cross sectional analytic. The subject of this research were 62 students that taken by using total sampling method. This study found that the respondents who suffered dyspepsia were 14 (22.6%). This study assessed NSAIDs (types, amounts, and combinations) in dysmenorrhea treatment that caused dyspepsia. Chi-square test resulted between types of NSAIDs in dysmenorrhea treatment and the incident of dyspepsia obtained p = 0.120. The p value in the relation between amounts of NSAIDs and the incident of dyspepsia is p = 1.00. The resulted between the combinations of NSAIDs with the incident of dyspepsia is p = 0.125. Based on the result, there is no relationship between the types, amounts and combinations of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea with the incident of dyspepsia.Keywords: dysmenorrhea, NSAIDs, dyspepsia
Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Nitrit Oksid pada Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Nidia Purwadianti; Fadil Oenzil; Delmi Sulastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.255

Abstract

AbstrakObesitas merupakan masalah kesehatan yang kompleks dengan penyebab multifaktorial. Obesitas berkaitan erat dengan peningkatan risiko sejumlah komplikasi seperti hipertensi. Salah satu mekanisme yang menghubungkan obesitas dengan hipertensi adalah disfungsi endotel sebagai akibat penurunan kadar nitrit oksid (NO). Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator untuk menentukan obesitas. .Tujuan penelitian ini ialah menentukan hubungan IMT dengan kadar nitrit oksid pada masyarakat etnik Minangkabau. Desain penelitian adalah studi potong lintang dengan populasi masyarakat etnik Minangkabau usia 30 – 65 tahun di 4 kecamatan terpilih di Kota Padang. Jumlah subjek sebanyak 130 orang. Data responden merupakan data sekunder yang dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan uji beda rerata dengan metode independent sample t-test. Hasil penelitian pada kelompok obesitas diperoleh p-value = 0,982 dengan r = -0,003. Pada kelompok tidak obesitas didapatkan p-value = 0,924 dan r = -0,013. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kadar NO. Kadar nitrit oksid rerata pada responden obesitas adalah 28,37±17,45 μmol/L dan tidak obesitas adalah 23,91±11,55 μmol/L dengan p-value=0,084. Terdapat perbedaan rerata kadar NO kelompok obesitas dan tidak obesitas pada masyarakat etnik Minangkabau di Kota Padang namun tidak bermakna secara statistik. Diharapkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor lain yang mempengaruhi kadar NO selain IMT.Kata kunci: indeks massa tubuh, kadar nitrit oksid, obesitas AbstractObesity is a complex health problem with multifactorial causes. Obesity is strongly related to risk increase of many complications such as hypertension. One of the mechanisms that links obesity and hypertension is endhotelial disfunction due to nitric oxide (NO) level decrease. Body Mass Index (BMI) measurement is one of the indicators to determine obesity. The objective of this study was to determine correlation between BMI and NO level in Minangkabau ethnic group. The research design was cross sectional study, the population was Minangkabau ethnic group in the age group of 30-65 years old from 4 selected districts in Padang. The total subjects were 130. The secondary data were analyzed by using Pearson correlation and mean difference test by using independent sample test method. The results obtained in obese groupare p-value=0.982 and r= -0.003. In non-obese group p-value = 0.924 and r = -0.013.Those findings suggest that there is no significant correlation between BMI and NO level. Mean NO level of obese group was 28.37±17.45 μmol/L and 23.91±11.55 μmol/L for non-obese group, p-value=0.084. It indicates that there is no significant correlation between obesity and NO level on Minangkabau ethnic group in Padang. It is suggested that other researchers conduct further research by considering other factors influencing NO level besides BMI.Keywords: body mass index, nitric oxide, obesity
A Rare Case of Arteriovenous Hemangioma Clinically Mimicking Pigmented Nevus Sri Lestari; Tofrizal Tofrizal; Yenny Raflis
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.313

Abstract

Abstrak   Arteriovenous hemangioma (AH) adalah lesi jinak pembuluh darah kulit yang jarang, biasanya muncul pada kulit wajah berupa lesi tunggal, meninggi, papul merah, atau keunguan; kadang-kadang papul coklat. Dilaporkan satu kasus AH dengan gambaran klinis menyerupai nevus pada pasien perempuan yang berusia 19 tahun. Ini adalahkasus pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS. Dr. M. Djamil Padang. Pasien datang dengan keluhan bintik hitam di lengan kanan bawah sejak satu bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik, terdapat papul hitam soliter, dengan ukuran 0,3 x 0, 4 mm, bentuk bulat, skuama halus,  berbatas tegas, pinggir reguler dengan permukaan tidak rata.Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, lesi terdiri dari pembuluh darah yang berdinding tebal dan berdinding tipis yang sangat melebar, penuh dengan eritrosit dan dilapisi oleh selapis endotel yang sesuai untuk AH. Arteriovenous hemangioma adalah tumor yang dijumpai pada usia pertengahan hingga dewasa lanjut dengan puncak insiden pada dekade keempat dan kelima kehidupan. Pada kasus ini, umur pasien tergolong dewasa muda dengan gambaran klinis lesi menyerupai nevus pigmentosus. Kata kunci: arteriovenous hemangioma, kasus jarang, nevus pigmentosus Abstract Arteriovenous hemangioma (AH) is a rare benign vascular skin lesion, which typically appears in the skin of the face and extremities and  most commonly occurring on the head and neck region with appearances as single, raised, red, or violaceous papules; sometime tan papule. A case of AH clinically mimicking pigmented nevus in 19year-old womanwas reported. This is the first case in Dermatology Department of Dr.M. Djamil Padang Hospital. She complained about a black pimple on the right lower arm since one month. Physical examination: there is a solitare black papule, with 0,3x0,4 mm, round shape, fine scales, well defined, regular border with irreguler surface.Histopathology findings: the lesions consist of thicked-walled and very dilated thin-walled vessels that full-filled with erythrocytes and are lined by an endothelial layer that suitable for AH. Arteriovenous hemangioma is a tumor of middle-age to elderly adults with a peak incidence in the fourth and fifth decades of life. In this case, the patient was young adult and clinically the lesion mimicking pigmented nevus.Keywords:  arteriovenous hemangioma, rare case, pigmented nevus
HIGH-ALTITUDE ILLNESS Dwitya Elvira
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.304

Abstract

AbstrakHigh-altitude illness (HAI) merupakan sekumpulan gejala paru dan otak yang terjadi pada orang yang baru pertama kali mendaki ke ketinggian. HAI terdiri dari acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) dan high-altitude pulmonary edema (HAPE). Tujuan tinjauan pustaka ini adalah agar dokter dan wisatawan memahami risiko, tanda, gejala, dan pengobatan high-altitude illness. Perhatian banyak diberikan terhadap penyakit ini seiring dengan meningkatnya popularitas olahraga ekstrim (mendaki gunung tinggi, ski dan snowboarding) dan adanya kemudahan serta ketersediaan perjalanan sehingga jutaan orang dapat terpapar bahaya HAI. Di Pherice, Nepal (ketinggian 4343 m), 43% pendaki mengalami gejala AMS. Pada studi yang dilakukan pada tempat wisata di resort ski Colorado, Honigman menggambarkan kejadian AMS 22% pada ketinggian 1850 m sampai 2750 m, sementara Dean menunjukkan 42% memiliki gejala pada ketinggian 3000 m. Aklimatisasi merupakan salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan sebelum pendakian, selain beberapa pengobatan seperti asetazolamid, dexamethasone, phosopodiestrase inhibitor, dan ginko biloba.Kata kunci: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edema AbstractHigh-altitude illness (HAI) is symptoms of lung and brain that occurs in people who first climb to altitude. HAI includes acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) and high altitude pulmonary edema (HAPE). The objective of this review was to understand the risks, signs, symptoms, and treatment of high-altitude illness. The attention was given to this disease due to the rising popularity of extreme sports (high mountain climbing, skiing and snowboarding) and the ease and availability of the current travelling, almost each year, millions of people could be exposed to the danger of HAI. In Pherice, Nepal (altitude 4343 m), 43% of climbers have symptoms of AMS. Furthermore, in a study conducted at sites in Colorado ski resort, Honigman describe AMS incidence of 22% at an altitude of 1850 m to 2750 m, while Dean showed that 42% had symptoms at an altitude of 3000 m. Acclimatization is one of the prevention that can be done before the climbing, in the addition of several treatment such as acetazolamide, dexamethasone, phospodiestrase inhibitor and gingko biloba.Keywords: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edema
Gambaran NAFLD pada Pasien dengan Sindrom Metabolik di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Nadila Andam Astari; Eva Decroli; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.269

Abstract

AbstrakSindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang terjadi secara bersamaan pada seorang individu, antara lain: peningkatan glukosa darah puasa, obesitas sentral, dislipidemia, dan hipertensi. Salah satu manifestasi sindrom metabolik adalah non alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran NAFLD pada pasien dengan sindrom metabolik di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan bentuk cross sectional dan pendekatan retrospektif menggunakan data primer berupa hasil USG hati dan lingkar perut serta data sekunder berupa data rekam medis hasil pemeriksaan tekanan darah dan lab darah (gula darah, kolesterol, dan trigliserida) pasien dengan sindrom metabolik di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Oktober 2013 – Agustus 2014. Dari 30 subjek yang didapatkan, didapatkan 20 diantaranya menderita NAFLD (67%). Dari 20 orang penderita NAFLD, 20 orang (100%) obesitas sentral, 19 orang (95%) menderita gula darah puasa terganggu, 13 orang (65%) mengalami peningkatan trigliserida darah, 13 orang (65%) mengalami penurunan kadar HDL darah, dan 15 orang (75%) hipertensi.Kata kunci: sindrom metabolik, NAFLD, obesitas AbstractMetabolic syndrome is a set of cardiovascular disease risk factors that occur simultaneously on an individual, i.e. increase in fasting blood sugar, central obesity, dyslipidemia, and hypertension. Non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is one of the manifestations of metabolic syndrome. The objective of this study was to determine description of NAFLD on patients with metabolic syndrome at internal medicine polyclinic RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Descriptive research has been conducted with a cross-sectional study and a retrospective approach using liver USG result and waist circumference as primary data and medical record of blood pressure and lab (triglyceride, HDL, fasting blood sugar) as secondary data on patients with metabolic syndrome at RSUP Dr. M. Djamil Padang during October 2013 – August 2014. The result of this study showed 20 cases of NAFLD (67%) from 30 subjects found. From those 20 cases, 20 have central obesity (100%), 19 have impaired fasting blood sugar (95%), 13 have hypertriglyceridemia (65%), 13 have decrease of blood HDL level (65%), and 15 have hypertension (75%).Keywords: metabolic syndrome, NAFLD, obesity

Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue