Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH SUPLEMEN ASAM AMINO TERHADAP KETAHANAN DAN KEKUATAN OTOT MENCIT PUTIH (Mus musculus L.) Ruri Famelia -; Nilla Djuwita Abbas; Rahmatina B.Herman -
Bionatura Vol 10, No 2 (2008): Bionatura Juli 2008
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penelitian mengenai manfaat protein bagi atlet, mengakibatkan mulainya bermunculan berbagai jenis suplemen protein dan campuran asam amino untuk digunakan para atlet sebagai suplemen tambahan dalam meningkatkan performans fisik. Namun belum ada data kuat berkenaan dengan efek negatif dari penggunaan suplemen asam amino, meskipun beberapa referensi menyatakan bahwa konsumsi suplemen asam amino dalam jumlah banyak dapat menyebabkan dehidrasi sekunder hingga eksresi urea yang tinggi, kerusakan hati dan ginjal, kehilangan kalsium, edema dan diare. Berdasarkan hal ini, maka dilakukan penelitian yang meninjau bagaimana ketahanan otot dan gambaran mikroskopik serat otot, jaringan hati dan ginjal mencit percobaan, serta parameter darah akibat penggunaan suplemen asam amino. Hewan coba dalam penelitian ini adalah mencit putih (Mus musculus L.) jantan menggunakan metoda eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dibagi atas empat kelompok perlakuan (berupa dosis suplemen asam amino), yaitu kontrol; dosis 3,9 ml/kg BB; dosis 5,9 ml/kg BB; dan dosis 7,9 ml/kg BB dengan enam kali ulangan. Masing-masing perlakuan diberikan latihan kekuatan dan ketahanan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemberian suplemen asam amino sesaat setelah latihan kekuatan dan ketahanan dapat meningkatkan jumlah miofibril otot dengan signifikan hingga 104,9 % dan ukuran diameter serat otot secara signifikan hingga 106,6 % dibandingkan dengan kontrol. Pada hati terjadi peningkatan pembelahan hepatosit yang lebih baik, seiring dengan penambahan dosis suplemen asam amino, sehingga susunan hepatosit menjadi lebih teratur dan kompak dan ukuran nukleus relatif lebih seragam. Struktur kapiler pembentuk glomerulus pada ginjal juga mengalami perbaikan. Selanjutnya pengaruh signifikan juga terlihat pada beberapa parameter darah, yaitu terjadi peningkatan kuantitas eritrosit, kadar hemoglobin sehingga meningkatkan ketahanan otot walaupun tidak signifikan. Namun nilai MCV memperlihatkan penurunan yang signifikan mengindikasikan ukuran eritrosit menjadi lebih kecil, sedangkan untuk nilai hematokrit, MCH dan MCHC tidak dipengaruhi oleh suplemen asam amino. Dapat disimpulkan, bahwasuplemen asam amino bermanfaat untuk meningkatkan massa otot disamping juga membantu meningkatkan ketahanan otot.Kata kunci: Suplemen asam amino, serat otot, jaringan hati dan ginjal, parameter darah
Perbedaan Kadar Endotelin-1 Plasma pada Penderita Preeklampsia dengan Kehamilan Normotensif Susi Hartati; Rahmatina B Herman; Darwin Amir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.370

Abstract

Abstrak Endotelin-1 merupakan derivat endotelium yang ampuh sebagai vasokontriksi  paling kuat yang memiliki 21 asam amino. Kerusakan lapisan endotel mengaktivasikan peningkatan vasokontriksi yaitu endotelin-1. Peningkatan endotelin-1 ini menyebabkan terjadinya resistensi diseluruh sistem vaskuler maternal yang memiliki lapisan endotel sehingga menimbulkan manifestasi klinis preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia dan kehamilan normotensif. Penelitian bersifat observasional dengan desaincross sectional comparative. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.M.Djamil Padang dan RS Tk.III Reksodiwiryo Padang. Sampel penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu 16 penderita preeklampsia dan 16 kehamilan normotensifdengan waktu penelitian dari  Juni sampai Agustus 2014. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Biomedik Universitas Andalas Padang. Pemeriksaan kadar endotelin-1 menggunakan metode ELISA. Analisa statistik mengunakan univariat dan bivariat. Analisa bivariat mengunakan uji t tidak berpasangan yang telah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa rerata kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia yaitu 0,73 ± 0,15 pg/ml, rerata kadar endotelin-1 plasma pada kehamilan normotensif yaitu 0,56 ±0,13 pg/ml dengan nilai p<0,05 (0,002). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar endotelin-1 yang signifikan rerata kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia dengan kehamilan normotensif.Kata kunci: preeklampsia, endotelin-1, normotensifAbstract  Endothelin-1 is potent endothelium derived as the strongest vasocontrictor that has 21 amino acids. Damage of endothelial layer activated the increasing of vasoconstriction which is endothelin-1. The increasing of endothelin-1 caused a resistence across the maternal vascular system that has endothelial layer make a clinical manifestations of preeclampsia. The objective of this study was to determine the difference of endothelin-1 plasm level of preeclampsia and normotensive pregnancies. This study was an observational study with cross sectional design. This study hasbeen done in RSUP Dr.M.Djamil and Reksodiwiryo hospital in Padang. The sample of this study consisted of two groups 16 patients with preeclampsia and 16 normotensive pregnancies from June to August 2014. The sampleanalyzed in biomedical laboratory of Andalas University Padang. Endothelin-1 plasm level examined by using ELISA method statically. The data analyse using univariate and bivariate analyses. Bivariate analysis using unpaired t-test that used test of normality and homogenity test before. Result found that the avarege of endothelin-1 plasm level onpreeclampsia was 0.73±0.15 pg/ml while the avarege in normotensive pregnancy was 0.56±0.13 pg/ml. The probability value was 0.002 (p<0.05). This reseach concluded that there is significant difference of endothelin-1 plasm level between preeclampsia and normotensive. Keywords: preeclampsia, endothelin-1, normotensive
Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padangpanjang Rosita Hayatus Sa’adah; Rahmatina B. Herman; Susila Sastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.176

Abstract

AbstrakGizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas Sumber Daya Manusia. Status gizi yang baik akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya dapat meningkatkan kemampuan intelektual yang akan berdampak pada prestasi belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas 1-5 yang berjumlah 120 siswa yang diambil dengan teknik Proportional Random Sampling. Data penelitian didapatkan dengan mengukur antropometri berdasarkan indeks IMT/U dan TB/U dengan timbangan injak digital dan microtoise serta hasil belajar dari nilai rapor. Data dianalisis dengan uji chi-square pada p-value<0,05. Hasil penelitian didapatkan siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang mengalami stunting danwasting, yaitu 7,5% dan 21,66%. Prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang dibawah rata-rata sebesar 30,8%. Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi stunting dan status gizi wasting dengan prestasi belajar siswa. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang.Kata kunci: status gizi, stunting, wasting, prestasi belajar.AbstractNutrition is one of the main determinants of quality of Human Resource. Good nutritional status will affect the growth and development of children, one of which can increase the intellectual capability that will have an impact on learning achievement at school. This study aimed to determine the relationship between nutritional status with student achievement of 01 Guguk Malintang Elementary School Padang Panjang city. The subject in this experimental were 120 students from grade 1-5 were taken with Proportional random sampling technique. Research data from the antropometric based BMI index and high index and learning achievement from report cards. Data were analyzed using chi-square test.The results showed that the students 01 Guguk Malintang Elementary school experiencing stunting and wasting, 7,5% and 21,66. Learning achievement of students 01 Guguk Malintang undergrade are 30,8%. Based on the results of using chi-square statistical test, there is a significant association between nutritional status of stunting and wasting with student’s learning achievement.The conclusion of this study found that the nutritional status affect student’s learning achievement in 01 GugukMalintang Elementary School Padang Panjang city.Keywords: nutritional status, stunting, wasting, learning achievement
Perbedaan Rerata Kadar Soluble Fms-Like Tyrosine Kinase-1 (Sflt-1) Serum pada Penderita Early Onset, Late Onset Preeklampsia Berat / Eklampsia dan Kehamilan Normal Laila Rahmi; Rahmatina B. Herman; Yusrawati Yusrawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i1.440

Abstract

AbstrakPreeklampsia merupakan sumber utama morbiditas dan mortalitas ibu di seluruh dunia. Kegagalan pengaturan dan ketidakseimbangan agen vasoaktif proangiogenik dan antiangiogenik plasenta, soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1), vascular endothelial growth factor (VEGF) dan placental growth factor (PlGF) memainkan peran penting dalam patogenesis preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan rerata kadar sFlt-1 serum pada penderita early onset, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil, RS TK. III dr. Reksodiwiryo dan Laboratorium Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Februari sampai  Desember 2014 dengan desain cross sectional. Subjek berjumlah 84 orang, terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok early onset preeklampsia berat/ eklampsia, late onset preeklampsia berat/ eklampsia, dan kehamilan normal sebagai kelompok kontrol yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Darah dikumpulkan dari subjek penelitian dengan cara intravena kemudian diukur dengan metode ELISA. Rerata kadar sFlt-1 pada kelompok early onset, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal secara berturut-turut adalah 4,69±0,96 ng/ml, 2,39±0,57 ng/ml, dan 1,23±0,42 ng/ml. Perbedaan ini sangat signifikan dengan uji statistik ANOVA (p<0,05) dan uji Post Hoc Test Multiple Comparisons. Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kadar sFlt-1 serum pada kelompok early onset preeklampsia berat/ eklampsia, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal.Kata kunci: sFlt-1, antiangiogenik, preeklampsia berat/ eklampsia, kehamilan normal AbstractPreeclampsia is a major cause maternal morbidity and mortality in the world. Failure regulation and imbalance of vasoactive agents and antiangiogenic proangiogenik placenta, soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1), vascular endothelial growth factor (VEGF) and placental growth factor (PlGF) have an important role in the pathogenesis of preeclampsia. The objective of this study was to determine the differences between the mean serum levels of sFlt-1 in patients with early onset, late onset severe preeclampsia/eclampsia and normal pregnancy. This study was conducted in Dr. M. Djamil hospital, dr. Reksodiwiryo TK. III hospital and Biology Moleculer Laboratory Medicine Faculty of Andalas University Padang from February until December 2014 with a cross sectional design. The total subjects were 84 persons, consist of three groups, there was early onset severe preeclampsia/ eclampsia, late onset severe preeclampsia/ eclampsia and normal pregnancy as control group. The subjects were selected by consecutive sampling technique. The blood was collected by intravenous,  then sFlt-1 serum measured by ELISA. The mean levels of sFlt-1 in the early onset group, late onset severe preeclampsia/ eclampsia group and normal pregnancy group were 4.69±0.96 ng/ml, 2.39±0.57 ng/ml and 1.23±0.42 ng/ml. This difference very significant by ANOVA statisctical test (p<0,05) and Multiple Comparisons Post Hoc Test. The conclusion of this study is very significant differences between serum levels of sFlt-1 in early onset severe preeclampsia/ eclampsia group, late onset severe preeclampsia/ eclampsia on  normal pregnancy.Keywords: sFlt-1, antiangiogenic, severe preeclampsia/ eclampsia, normal pregnancy
Gambaran Tekanan Darah Tikus Wistar Jantan dan Betina Setelah Pemberian Diet Tinggi Garam Mutia Lailani; Zulkarnain Edward; Rahmatina B Herman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i3.154

Abstract

AbstrakHipertensi masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Penyebabnya diduga berkaitan dengan diet tinggi garam. Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran tekanan darah tikus Wistar setelah pemberian diet tinggigaram. Penelitian ini adalah eksperimental dengan post-test only control group design. Subjek penelitian terdiri dari 10 ekor tikus Wistar jantan dan 10 ekor betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan (P). Diet tinggi garam (NaCl8%, 3ml/hari) diberikan pada kelompok P selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tekanan darah yang bermakna pada kelompok P bila dibandingkan dengan kelompok K, yaitu tekanan darah sistolik (TDS) 191±17mmHg (P) dan 168±16mmHg (K) (p<0,05), tekanan darah diastolik (TDD) 162±17mmHg (P) dan 139±13mmHg (K) (p<0,05), tekanan arteri rata-rata (TAR) 176±17mmHg (P) dan 156±15mmHg (K) (p<0,05). Peningkatan TDS dan TDD hanya terjadi pada tikus jantan, tidak pada tikus betina. Pada tikus jantan TDS 185±13mmHg (P) dan 159±9mmHg (K) (p<0,05), TDD 159±18mmHg (P) dan 131±10mmHg (K) (p<0,05), TAR 172±16mmHg (P) dan 150±15mmHg (K) (p>0,05). Pada tikus betina TDS 197±19mmHg (P) dan 178±16mmHg (K) (p>0,05), TDD 165±18mmHg (P) dan 148±11mmHg (K) (p>0,05), TAR 181±18mmHg (P) dan 162±14mmHg (K) (p>0,05). Kesimpulan studi ini adalah peningkatan tekanan darah setelah pemberian diet tinggi garam hanya terjadi pada tikus jantan.Kata kunci: diet tinggi garam, tekanan darah, hipertensiAbstractHypertension remains a health problem in the world. The cause is believed to be related to the high-salt diet. The purpose of this studi was to describe the blood pressure of Wistar rats after administration of high-salt diet. This research was experimental with post-test only control group design. Ten male and ten female Wistar rats were divided into two groups: control group(K) and treated group(P). High-salt diet (8%NaCl, 3ml/day) was given to the P group for four weeks. Blood pressure increased significantly in group P compared to group K, systolic blood pressure (SBP) 191±17mmHg (P) and 168±16mmHg (K) in (p<0.05), diastolic blood pressure (DBP) 162±17mmHg (P) and 139±13mmHg (K) in (p<0.05), mean arterial pressure (MAP) 176±17mmHg (P) and 156±15mmHg (K) in (p<0.05). The increase in SBP and DBP only occurred in male rats, not in female rats. In male rats, SBP were 185±13mmHg (P) and 159±9mmHg (K) in (p<0.05), DBP were 159±18mmHg (P) and 131±10mmHg (K) in (p<0.05), MAP were 172±16mmHg (P) and 150±15mmHg (K) in (p>0.05). In female rats, SBP were197±19mmHg (P) and 178±16mmHg (K) in (p>0.05), DBP were 165±18mmHg (P) and 148±11mmHg (K) in (p>0.05), MAP were 181±18mmHg (P) and 162±14mmHg (K) in (p>0.05). The conclusion of this study is an increase of blood pressure after the administration of high-salt diet only occured in male rats.Keywords: high-salt diet, blood pressure, hypertension
Perbandingan Tekanan Darah Sebelum dan Sewaktu Melakukan Handgrip Isometric Exercise pada Mahasiswa Angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas M.Yoga Sefia Nurindra; Rahmatina B.Herman; Yenita Yenita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i2.537

Abstract

AbstrakHipertensi dapat menyebabkan gangguan jantung yang serius sampai kematian. Handgrip isometric exercise adalah latihan yang melibatkan kontraksi otot lengan bawah dan tangan dengan melakukan cengkraman menggunakan handgrip dynamometer. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan tekanan darah sewaktu melakukan handgrip isometric exercise. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan desain randomized crossover study yang melibatkan 24 orang subjek laki-laki dengan usia 20,7 ± 0,6 tahun dan BMI 21,8 ± 2,1 Kg/m2. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik yang signifikan sewaktu melakukan handgrip isometric exercise. Tekanan darah sistolik dari 115,2 ± 5,0 mmHg menjadi 135,0± 6,5 mmHg (p<0,05) dan diastolik 76,3± 5,0 mmHg menjadi 98,3 ± 8,7 mmHg (p<0,05). Pada kontrol terlihat penurunan tekanan darah sistolik yang signifikan dari 113,8 ± 6,1 mmHg menjadi 111,5 ± 7,1 mmHg (p<0,05) dan diastolik penurunan tidak signifikan dari 75,0 ± 5,9 mmHg menjadi 72,9 ± 6,2 mmHg (p>0,05).  Pada penelitian ini disimpulkan bahwa tekanan darah meningkat sewaktu handgrip isometric exercise.Kata kunci: hipertensi, handgrip isometric exercise, tekanan darah AbstractHypertension can cause a serious heart problem and mortality. Handgrip isometric exercise is an activity involving contraction of forearm and hand muscle of one arm by pressing handgrip dynamometer. The objective  of  this study was to investigated blood pressure during handgrip isometric exercise. This research was an experimental study with randomized crossover design that involved 24 male subjects, age of 20,7 ± 0,6 years old and BMI 21,8 ± 2,1 Kg/m2. The results demonstrated significant increases in systolic and diastolic blood pressure during handgrip isometric exercise. Systolic blood pressure significantly increased from 115,2 ± 5,0 mmHg to 135,0 ± 6,5 mmHg (p<0,05) and diastolic from 76,3 ± 5,0 mmHg to 98,3 ± 8,7 mmHg (p<0,05). In control group, systolic blood pressure significantly decreases from 113,8 ± 6,1 mmHg to 111,5 ± 7,1 mmHg (p<0,05) and unsignificant decreased in diastolic blood pressure from 75,0 ± 5,9 mmHg to 72,9 ± 6,2 mmHg (p>0,05). It can be concluded that blood pressure increased during handgrip isometric exercise.Keywords: hypertension, handgrip isometric exercise, blood pressure
Pengaruh Upright Position Terhadap Lama Kala I Fase Aktif pada Primigravida Syaflindawati Syaflindawati; Rahmatina B Herman; Jumiarni Ilyas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.392

Abstract

Abstrak  Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia dan 2,4 kali lebih tinggi dibanding dengan Thailand.  Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) mencatat bahwa partus lama merupakan penyebab kesakitan dan kematian maternal dan perinatal utama disusul oleh perdarahan, panas tinggi dan eklampsia.Sebagai bentuk penerapan asuhan sayang ibu disarankan melakukan mobilisasi saat persalinan. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh uprigh position terhadap lama persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida (hamil pertama). Telah dilakukan penelitian observasional dengan desain cross sectional terhadap 38orang  yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 19 orang dengan kelompok upright dan 19 orang dengan kelompok berbaring, dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling kemudian diamati dan dihitung rerata lama persalinan kala I fase aktif. Data dianalisis dengan uji statistik menggunakan uji t independent dan hasilnya terdapatperbedaan yang signifikan dengan nilai p< 0,05. Hasil penelitian didapatkan rerata lama persalinan kala I fase aktif dengan upright position adalah 161,05 ± 40,26 menit dan untuk posisi berbaring adalah  263,68 ± 39,47  menit. Hasil uji statistik didapatkan perbedaan yang signifikan dengan  nilai  p< 0,05. Kesimpulan studi ini ialah upright position dapat mempercepat proses persalinan kala I fase aktif pada primigravida.Kata kunci: posisi berdiri, posisi berbaring, fase aktif, lama persalinan, primigravidaAbstract Maternal mortality rate (MMR) in Indonesia is 5.2 times higher than that of Malaysia, and 2.4 times higher than Thailand. Indonesian Health Demographic Survey (IHDS) recorded that neglected labor is the main cause of maternal and perinatal morbidity and mortality, followed by bleeding, high fever and eclampsia. As a form of implementing maternal loving care, prospective mothers were encouraged to perform activities such as walking, standing, moving, and changing position during parturition. The objective of this study was to prove the effect of upright position on length of active stage I of parturition of primigravidas. An observational study with cross sectional design has been performedon 38 mothers that divided into two groups consisted of 19 mother with upright and 19 with supine positions. Subjects were collected consecutive sampling, the length of active stage I was recorded. Data analysis was performed statistically using t independent test, with p <0.05 considered as significant.This study found that average length of active stage I with upright position was 161.05 +/- 40.26 minutes and with supine position 263.68 +/- 39.47 minutes, and this difference is statistically significant. It is concluded that upright position could reduce the length of time neededduring active stage I of primigravidas.Keywords: upright position, supine position, active phase I, during parturien, primigravida
Hubungan Antara Tekanan Darah Dan Fungsi Ginjal Pada Preeklamsi di RSUP DR. M. Djamil Ilhami Fadhila; Rahmatina B Herman; Yusrawati Yusrawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i1.780

Abstract

Preeklamsi merupakan komplikasi dalam kehamilan yang dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas bagi ibu dan janin. Angka kejadian preeklamsi terus meningkat dari tahun ketahun. Di Sumatera Barat insidennya menduduki posisi kedua setelah perdarahan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan antara tekanan darah dan fungsi ginjal pada preeklamsi. Penelitian ini bersifat rancangan cross sectional yang dilakukan dari Juni 2015 sampai Juli 2015. Metode pengambilan sampel adalah dengan menggunakan data sekunder sebanyak 33 ibu hamil preeklamsi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi pearson danspearman. Hasil analisis menunjukan semua variabel memiliki p > 0,05. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara tekanan darah sistolik dengan kreatinin (r=-0,02, p=0,92) dan urea (r=0,01, p=0,96) serta tekanan darah diastolik dengan kreatinin (r=-0,01, p=0,94) dan urea (r=-0,00, p=0,98). Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan bermakna tekanan darah dengan fungsi ginjal pada preeklamsi.
Perbedaan Tingkat Kecemasan Ibu Bersalin di Puskesmas dengan di Bidan Praktik Mandiri dan Hubungannya dengan Lama Persalinan Fatihatul Hayati; Rahmatina B. Herman; Meilinda Agus
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i3.739

Abstract

Kejadian kematian ibu lebih tinggi terjadi pada ibu yang bersalin dengan tindakan dibandingkan pada ibu yang bersalin normal. Rasa cemas yang tidak teratasi juga dapat menyebabkan persalinan berlangsung lebih lama dan harus diakhiri dengan tindakan. Lingkungan bersalin di rumah sakit dapat meningkatkan kecemasan ibu yang berakibat mengganggu kontraksi uterus sehingga tindakan harus dilakukan untuk mempercepat proses persalinan. Tujuan penelitian adalah mengetahui perbedaan tingkat kecemasan ibu bersalin di Puskesmas dan di Bidan Praktik Mandiri serta hubungannya dengan lama persalinan. Desain penelitian adalah crossectional terhadap 74 orang ibu bersalin yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu ibu bersalin di Puskesmas dan ibu bersalin di Bidan Praktik Mandiri (BPM) dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis dengan uji t independen dan Chi-square dan hasilnya terdapat perbedaan signifikan dengan nilai p < 0,05 dan terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan lama persalinan dengan nilai p < 0,05. Simpulan studi ini ialah ada perbedaan signifikan antara tingkat kecemasan ibu bersalin di Puskesmas dan di Bidan Praktik Mandiri, serta ada hubungan antara tingkat kecemasan dan lama persalinan.
Gambaran Glukosa Darah Setelah Latihan Fisik pada Tikus Wistar Diabetes Melitus yang Diinduksi Aloksan Ahmad Syukri Harahap; Rahmatina B. Herman; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.179

Abstract

AbstrakDiabetes Melitus telah dikategorikan sebagai penyakit global yang prevalensinya terus meningkat dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Latihan fisik merupakan salah satu tatalaksana untuk mengontrol glukosa darah secara nonfarmakologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah pada tikus Wistar diabetes melitus yang diinduksi aloksan setelah pemberian latihan fisik. Penelitian eksperimental ini menggunakan 18 ekor tikus Wistar dengan berat badan 150-200 gram yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 6 ekor kelompok kontrol negatif (K-), 6 ekor kelompok kontrol positif (K+) dengan induksi aloksan tanpa pemberian latihan fisik dan 6 ekor kelompok perlakuan (P) dengan induksi aloksan dan diberi latihan fisik selama 4 minggu. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan glucometer merek Accu-Check. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata kadar glukosa darah puasa secara bermakna pada kelompok kontrol positif (K+) dan perlakuan (P) setelah periode induksi yaitu, pada kelompok kontrol negatif 84,83±6,88 mg/dl, kelompok kontrol positif 220,80±12,29 mg/dl, dan kelompok perlakuan 248,50±94,55 mg/dl (p<0,05). Setelah periode latihan fisik, terdapat penurunan rata-rata glukosa darah puasa secara bermakna pada kelompok kontrol positif (K+) dan Perlakuan (P), namun penurunan pada kelompok perlakuan (P) lebih besar secara bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (K+), yaitu rata-rata glukosa darah puasa kelompok kontrol positif 192,00±12,00 mg/dl dan kelompok perlakuan 163,00±20,26 mg/dl (p<0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah terdapat penurunan kadar glukosa darah puasa setelah latihan fisik.Kata kunci: latihan fisik, glukosa darah, diabetes melitusAbstractDiabetes Melitus has been categorized as a global disease which have increasing prevalence and the mine cause of morbidity and mortality. Phyisical exercise is one of the nonpharmacological treatment to control blood glucose. The objective of this research was to determine the blood gucose levels of aloksan induced’s wistar rat after physical exercise.The research used 18 wistar rats 150-200 gram weight, divided into three groups, as six negative control group (K-), six positive control group inducing aloksan without physical exercise (K+) and six treated group inducing aloksan with physical exercise for four weeks (P). Blood glucose was measured by Accu Check’s glucometer.The result showed an increase in fasting blood glucose level significantly on positive control group (K-) and treated group (P) after induced period, which was 84,83±6,88 mg/dl on negative control group, 220,80±12,29 mg/dl on positive control group, and 248,50±94,55 mg/dl on treated group (p<0,05). After physical exercise period, there was a decrease in fasting blood significantly on K+ and P, but in P group have more greater than K+ group, 192,00±12,00 mg/dl on positive control group (K+) and 163,00±20,26 mg/dl on treated group (P).Conclusion of this research is a decrease in fasting blood glucose levels after phyisical exercise.Keywords: physical exercise, blood glucose, diabetes melitus