cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1" : 19 Documents clear
Interposisi Colon Retrosternal dan Esofagoplasty Pada Pasien Atresia Esophagus Tipe A Long Gap Muhammad Rifki; Rahmens Syamun; Jon Efendi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.935

Abstract

Atresia esophagus merupakan kelainan kongenital dimana tidak menyambungnya esofagus bagian proksimal dengan esofagus bagian distal. Atresia esofagus dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus, Pada 86% kasus terdapat fistula trakhea oesophageal di distal, pada 7% kasus tanpa fistula Sementara pada 4% kasus terdapat fistula tracheooesophageal tanpa atresia. Transposisi colon telah lama dilakukan. Colon dapat diletakkan substerrnal atau dibelakang hilum dari paru, bisa juga diletakkan retrosternal. Angka keberhasilan tindakan ini masih rendah. Laporan kasus, seorang perempuan yang didiagnosa dengan atresia esophagus tipe A saat berumur 1 hari, pemeriksaan ditegakkan melalui pemeriksaan x ray dimana dilakukan pemasangan OGT dengan contras, pada pasien dilakukan tindakan esofagotomi dan gastrostomi. Kondisi membaik, tidak ditemui kelainan kongenital lain. Pasien bertahan sampai umur 1 tahun 6 bulan, kemudian dilakukan tindakan transposisi colon retrosternal dan esofagoplasty. Pasien diberikan TPN (Total Per Enteral), diet enteral dimulai hari ke-6 dan dinaikkan secara bertahap. Pasien dipulangkan hari ke 14 dengan kondisi luka baik dan pasien sudah diberikan makanan lunak. Follow up pasca operasi Transposisi colon retrosternal dan esofagoplasty pada pasien dengan atresia esophagus tipe A post esofagotomi dan gastrostomi tidak ditemukan adanya komplikasi kebocoran anastomose. Transposisi colon retrosternal dan esofagoplasty pada pasien dengan atresia esophagus tipe A post esofagostomi dan gastrostomi dengan penangan post operatif yang baik dapat memberikan hasil yang baik.
AN ELDERLY PATIENT WITH BILATERAL INTRACRANIAL CALCIFICATION AND SEIZURE Marina Anggun Sari; Meiti Frida; Basjiruddin Ahmad
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.926

Abstract

Gangguan neurologis terkait usia seperti gangguan serebrovaskular dan neurodegeneratif merupakan faktor etiologi yang paling umum untuk kejang pada orang tua. Sindrom Fahr merupakan gangguan neurodegeneratif yang jarang terjadi, ditandai dengan deposit kalsium simetris pada kedua hemisfer otak, kebanyakan kasus muncul dengan gejala ekstrapiramidal. Seorang pasien wanita usia 64 tahun dirawat dengan kejang umum tonik klonik 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat kejang 1 bulan sebelumnya, tetapi tidak mengkonsumsi obat-obatan. Karena kekakuan pada semua ekstremitas, gerakan yang menjadi lambat, dan perubahan perilaku, pasien lebih sering berbaring di tempat tidur dengan ketergantungan penuh pada aktivitas sehari-hari sejak 1 tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat operasi gondok 30 tahun yang lalu. Pada Brain CT Scan didapatkan kalsifikasi intrakranial bilateral di ganglia basal, periventrikel, subkortikal, serebelum tanpa perifokal edema, dengan kadar kalsium darah yang rendah (3,6 mg/dl) dan kadar PTH yang sangat rendah (1,55 pg/ml) yang menunjukkan sindrom Fahr. Pasien mendapatkan terapi antikonvulsan, suplemen kalsium dan calcitriol. Sindrom Fahr harus dipertimbangkan pada pasien dengan manifestasi kejang yang berhubungan dengan kalsifikasi intrakranial, meskipun kasus ini jarang terjadi.
Tren Kasus Tuberkulosis Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2014-2016 Nurul Noviarisa; Finny Fitry Yani; Darfious Basir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.949

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian. Insiden TB anak sekitar 6% dari semua kasus TB namun spektrum penyakit TB anak masih belum jelas. Tujuan penelitian ini menggambarkan profil demografi, spektrum penyakit, dan respon pengobatan seluruh anak dengan TB pada 3 tahun terakhir di Rumah Sakit dr M Djamil Padang. Metode: Studi ini merupakan penelitian retrospektif terhadap semua anak menderita TB di Rumah Sakit Dr. M. Djamil pada tahun 2014-2016. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien. Hasil: Terdapat 198 anak dengan diagnosis TB, 114 pasien rawat jalan dan 84 pasien rawat inap. Sebagian besar berusia 5-9 tahun (40,9%), laki-laki 66,7% dan 78,8% berstatus sosial ekonomi rendah. TB paru lebih banyak ditemukan pada pasien rawat jalan daripada rawat inap (69,3% vs 15,5%), TB ekstraparu lebih banyak ditemukan pada pasien rawat inap (84,5% vs 30,7%). Penyakit penyerta tersering adalah HIV (6,6%). Gejala terbanyak pada pasien rawat inap adalah penurunan kesadaran (67,9%) sedangkan pasien rawat jalan adalah penurunan berat badan (43,9%). Temuan tes tuberkulin positif hampir sama pada pasien rawat jalan dan rawat inap (48,2% vs 45,2%). Riwayat kontak TB ditemukan pada 43,9% kasus. Rontgen toraks dengan gambaran TB ditemukan pada 92,4% kasus. 78,3% kasus pulih paska 6 bulan pengobatan, 21% pulih dengan pengobatan tambahan, yang lainnya pindah ke pelayanan kesehatan primer dan putus obat. Efek samping obat terjadi pada 6,6% kasus, 6,6% kasus meninggal. Kesimpulan: Terdapat variasi spektrum klinis yang luas pada TB anak, data surveilans yang komprehensif sangat berguna untuk menentukan kebijakan berikutnya untuk menurunkan insiden TB.
Hiper IgE dengan Nekrolisis Epidermal Toksik Adrian Ramdhany; Raveinal Raveinal
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.940

Abstract

Hiper IgE (HIES) disebut juga sindroma Ayub adalah gangguan komplek imun primer yang ditandai dengan dermatitis atopik seperti dikulit yang berhubungan dengan peningkatan IgE serum yang sangat tinggi, dan kerentanan terhadap infeksi bakteri dan jamur. Kelainan non imun yang terjadi termasuk tampilan wajah yang khas, fraktur setelah truma ringan, skoliosis, hiperextensive sendi, dan retensi gigi sulung. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mutasi dominan terjadi pada sinyal tranduser dan aktivator transkripsi 3 (STAT 3), sedangkan defisiensi gen tirosin kinase 2 (TYK2) menyebabkan HIES autosomal resesif terkait dengan virus dan infeksi mikrobakteri. Dalam kedua kondisi tersebut, sinyal transduksi untuk beberapa toksin, termasuk IL-6 dan IL-23 adalah cacat, sehingga fungsi TH17 terganggu. Temuan ini menunjukkan bahwa cacat dalam sinyal sitokin merupakan dasar molekuler untuk kelainan imunologi dan nonimunologi yang diamati pada HIES. Nekrolisis epidermal toksik ditemukan pertama kali pada tahun 1956, sebanyak 4 kasus oleh Alana Lyell, penyakit ini biasanya juga disebut sindrom Lyell. Lyell menggunakan istilah ‘nekrolisis’ dengan menggabungkan gejala klinis epidermolisis dengan gambaran histopatologi ‘nekrosis’. Penyebab NET belum jelas, tetapi obat-obatan (sulfonamid dan butazones) dan spesies Staphylococcus merupakan penyebab utama. Akibatnya, istilah-istilah seperti ‘staphylococcal-induced toxic epidermal necrolysis’ dan ‘drug-induced scalded skin syndrome’ menang selama beberapa dekade, tetapi sekarang dipisahkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. Oleh karena itu nekrolisis epidermal toksik atau NET merupakan penyakit erupsi kulit yang umumnya timbul akibat obat-obatan dengan lesi berupa bulla, dengan penampakan kulit seperti terbakar yang menyeluruh.
LIMFOMA NON-HODGKIN SEL B PADA MAMMAE Ninda Septia Yuspar; Irza Wahid
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.936

Abstract

Limfoma mammae merupakan kasus yang jarang karena jaringan limfoid tidak ada di regio mammae. Subtipe non-Hodgkin lymphoma (NHL) berkisar 0,5% dari karsinoma mammae, 1% dari semua NHL dan 2% dari limfoma ekstranodal. Limfoma mammae sering terjadi pada perempuan. Limfoma Mammae diklasifikasikan sebagai limfoma primer dan sekunder. Limfoma mamae primer biasanya non-Hodgkin jenis sel B, angka kejadian terbanyak adalah sub tipe Difusse large cell B Limfoma. Perempuan, 45 Tahun, keluhan benjolan pada leher, payudara dan ketiak`sejak 6 bulan yang lalu, Pasien telah didiagnosis Limfoma malignum non hodgkin 10 bulan sebelumnya, penurunan berat badan sekitar 15 kg sejak 4 bulan yang lalu dan didapatkan keluhan demam tidak tinggi yang hilang timbul. Pasien menjalani kemoterapi Rituximab, Cylophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison dan benjolan mengecil. Pemeriksaan fisik ditemukan benjolan di kedua mammae, colli sinister, axila sinistra dan inguinal, tidak eritem, konsistensi kenyal padat, terfiksir dan tidak nyeri tekan. Laboratorium, leukopenia dan LDH meningkat. USG mammae, Multipel nodul kedua mammae, axila bilateral, mammary interna kiri. USG colli, multipel limfadenopati regio colli, supraclavicula sinistra gambaran limfoma. Histopatologi, Limfoma malignan mammae bilateral. Pada pemeriksaan Imunohistokimia dengan hasil diffuse large B cell lymphoma, CD20 positif, Non GCB. Pasien didiagnosis Limfoma non hodgkin pada mammae relaps. Diberikan kemoterapi Rituximab, Etoposide, Actoplactin, Ifosfamide. Limfoma non-Hodgkin primer pada mammae termasuk kasus yang sangat jarang terjadi. Manifestasi klinis dan radiologis dari penyakit ini memiliki kesamaan dengan tumor mammae. Diagnosis penyakit ini ditegakkan melalui histopatologi serta pemeriksaan imunohistokimia. Penatalaksanaan PBL yaitu kemoterapi dengan atau tanpa rituximab dan radioterapi. Pada Pasien ini terjadi Limfoma Non-hodgkin pada Mammae Relaps selanjutnya diberikan kemoterapi lini kedua dengan regimen Rituximab, Etoposide, Actoplactin, Ifosfamide. memberikan hasil yang cukup baik.
Pemberian Lyophilized Bacterial Lysat Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Stabil Yang Memiliki Kolonisasi Potentialy Pathogenic Microorganism Povi Pada Indarta; Irvan Medison; Russilawati Russilawati; Deddy Herman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.950

Abstract

Latar Belakang: Eksaserbasi pada pasien PPOK berpengaruh terhadap keparahan penyakit. Kolonisasi bakteri pada pasien PPOK dianggap berkontribusi terhadap kejadian eksaserbasi. Usaha menurunkan kolonisasi bakteri dilakukan untuk mengurangi kejadian eksaserbasi salah satuanya adalah dengan vaksinasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek pemberian vaksinasi Lyophilized bacterial lysat pada pasien yang telah diketahui jenis potentialy pathogenic microorganism (PPM).Metode: Desain penelitian uji klinis terbuka (open ckinical trial) pada pemberian Lyophilized bacterial lysate dibandingkan dengan Plasebo terhadap pasien PPOK dengan koloni PPM di poliklinik Paru RSUP Dr.M.Djamil Padang periode Januari sampai Juni 2017.Sampel diambil dengan teknik konsekutif (accidental sampling). Hasil: Penelitian pada 33 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberikan Lyophilized bacterial lysat dan 22 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberika plasebo. Setelah perlakuan selama 3 bulan pada kelompok Lyophilized bacterial lysat tidak ditemukan lagi koloni bakteri ganda (10 menjadi 10) (p=0,002) sedangkan pada bakteri tunggal masih ditemukan koloni, sebelum 23 menjadi 26. Kelompok plasebo tidak didapatkan perubahan baik bakteri ganda (13 menjadi 13) ataupun tunggal (9 menjadi 9). Pada kelompok Lyophilized bacterial lysat terjadi perubahan pola koloni yaitu klebsiella pneumonia berkurang 6, Pseudomonas Aureginosa berkurang 2, Stapilococcus Areus berkurang 6, secara statistik mengalami penurunan (p=0,001) sedangkan pada plasebo tidak terjadi perubahan pola koloni Simpulan: Lyophilized bacterial lysat menurunkan proporsi koloni PPM oleh bakteri ganda dibandingkan dengan plasebo. Lyophilized bacterial lysat juga mengurani koloni terutama Pseudomonas Aureginosa dan stapylococcus Aureus dan klebsiella pneumonia.
Hubungan Batu Saluran Kemih Bagian Atas dengan Karsinoma Sel Ginjal dan Karsinoma Sel Transisional Pelvis Renalis Romi Saputra; Alvarino Alvarino; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.941

Abstract

Insiden karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis sebagai jenis histopatologis terbanyak pada keganasan ginjal menunjukkan trend peningkatan insiden di seluruh dunia. Batu saluran kemih menunjukkan trend peningkatan insiden yang serupa. Hal ini memungkinkan adanya hubungan. Penelitian sebelumnya mendapatkan hasil yang kontroversial. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara batu saluran kemih bagian atas dengan karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis di RSUP Dr. M Djamil padang dan RSAM Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan desain case control study pada rekam medis yang dilakukan pada bulan September hingga Desember 2018. Didapatkan 34 sampel dengan hasil histopatologi karsinoma sel ginjal dengan rasio jenis kelamin 1:1,3. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (26,47%), mean: 52,8±13,79. Didapatkan 15 sampel karsinoma sel transisional pelvis renalis dengan rasio jenis kelamin 2,75:1. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (33,33%), mean: 57,5±11,31. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel ginjal dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel ginjal yaitu 62,5% : 23,1%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang untuk timbulnya karsinoma sel ginjal sebesar 5,6 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel transisional pelvis renalis dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel transisional pelvis renalis yaitu 71,4% : 25%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang unuk timbulnya karsinoma sel transisional pelvis renalis sebesar 7,5 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada.
Invasive Carcinoma Mammae dengan Metastasis Orbita, Tulang, dan Paru Putri Avryna; Irza Wahid; Fauzar Fauzar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.932

Abstract

Carcinoma mammae (kanker payudara) merupakan penyakit keganasan yang paling banyak terjadi pada wanita di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat.Pada tahun 2014, terdapat 232.000 kasus baru pada wanita di Amerika Serikat dan dengan angka kematian 40.000 jiwa. Invasive breast carcinoma paling banyak berasal dari epitel duktus dan lebih dari 75% merupakan invasive ductal carcinoma not otherwise specified (IDC-NOS). Angka kejadian metastasis orbita 2-9% dari semua kasus keganasan pada dewasa dan 8-10% berasal dari kanker payudara. Pada kasus ini, wanita 36 tahun datang dengan keluhan sesak napas dan terdapat benjolan pada mata kiri sejak 2 bulan yang lalu. Pasien telah dikenal menderita Ca Mammae dengan hasil biopsy jaringan ditemukan invasive carcinoma mammae of no special type (NST) Grade II sejak 1,5 tahun sebelumnya, namun menolak pengobatan dan kemoterapi. Saat ini telah terjadi metastasis di orbita, metastasis tulang dan paru. Pasien diberikan kemoterapi dengan regimen Carboplatin (AUC 6) dan Paclitaxel 170 mg/m2 dan mengalami perbaikan secara signifikan.
Pengaruh Pemberian Air Rendaman Rumput Fatimah (Anastatica Hierochuntica) Terhadap Kadar Hormon Oksitosin dan Hormon Prolaktin Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Menyusui Perbandingan Yunni Safitri; Afriwardi Afriwardi; Eny Yantri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.923

Abstract

Rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, dan flavonoid yang merupakan bagian fitoestrogen. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain Post-Tes Only Control Group. Jumlah sampel 32 tikus menyusui yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakukan P1, P2 dan P3 yang masing–masing diberi 10gr, 20gr dan 40gr rendaman Anastatica Hierochuntica. Penelitian dilakukan di Labor Farmasi dan Biomedik Universitas Andalas. Hormon oksitosin dan hormon prolaktin diukur dengan mengunakan metode ELISA. Uji statistik menggunakan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui normalitas data, dilanjutkan One Way ANOVA dan untuk mengetahui perbedaan pada kelompok digunakan uji Multiple Comparisons (post hoc test) jenis Bonferroni. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) kadar hormon oksitosin antara kelompok kontrol (56,604±10,907) dengan kelompok P2 (44,095±6,117). Pada hormon prolaktin juga berbeda secara bermakna (p<0,05) antara kelompok kontrol (11,794±1,633) dengan kelompok P3 (16,991±3,735). Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui.
Pleuropericardial Effusion Tuberculosis Afni Fatmasari; Fauzar Fauzar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.928

Abstract

Pleuropercardial Effusion Tubercullosis adalah suatu keadaan dimana meningkatnya jumlah cairan di kavum pleura dan rongga perikardium yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tubercullosis. Keadaan ini disebut dengan tuberkulosis ekstraparu dan merupakan kasus yang jarang terjadi. Telah dilaporkan laki-laki 57 tahun dengan keluhan utama sesak nafas sejak 1 bulan yang meningkat 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Batuk dan berkeringat malam sejak 9 bulan yang lalu, sudah dilakukan pemeriksaan BTA sputum dengan hasil negatif yang tidak sembuh dengan pemberian anti biotik. Pada pemeriksaan fisik dan rontgent dada terdapat efusi pleura dan kardiomegali, dari ekokardiografi terdapat efusi perikardium. Cek ADA pada cairan efusi perikardium didapatkan hasil 168,2 U/L, analisis cairan pleura yaitu eksudat, LDH 275, jumlah sel 600, MN 60 %, dan BTA cairan pleura negatif. Pasien diterapi dengan obat anti tuberkulosis kategori 1 selama 9 bulan dan kortikosteroid.

Page 1 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue