Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Faktor Risiko Timbulnya Tuberkulosis Paru pada Pasien yang Berkunjung ke Unit DOTS RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2015 Nurul Husna Muchtar; Deddy Herman; Yulistini Yulistini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i1.783

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi paru menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di negara berkembang. Timbulnya penyakit Tuberkulosis paru sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran distribusi frekuensi faktor risiko penyakit TB paru pada pasien yang berkunjung ke unit DOTS RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi adalah 77 orang, pengambilan sampelmenggunakan metode consecutive sampling untuk mendapatkan 65 orang. Penelitian dilakukan dari bulan Januari hingga Oktober 2015 di Unit DOTS RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data dianalisa secara komputerisasi dengan tampilan deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Didapatkan penderita TB paru dengan HIV negatif sebanyak 86,2%, tidak memiliki riwayat DM 87,7%, memiliki status gizi kurang sebanyak 66,2% dan berdasarkan riwayat konsumsi alkohol 98,5% bukan kelompok berisiko, serta 60% merupakan former smoker (mantan perokok). Sebagian besar penderita TB Paru tidak memiliki riwayat HIV, tidak memiliki faktor risiko DM dan berdasarkan riwayat konsumsi alkohol hampir semua pasien TB paru bukan kelompok risiko. Namun sebagian besar merupakan mantanperokok dan memiliki status gizi kurang.
Pemberian Lyophilized Bacterial Lysat Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Stabil Yang Memiliki Kolonisasi Potentialy Pathogenic Microorganism Povi Pada Indarta; Irvan Medison; Russilawati Russilawati; Deddy Herman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.950

Abstract

Latar Belakang: Eksaserbasi pada pasien PPOK berpengaruh terhadap keparahan penyakit. Kolonisasi bakteri pada pasien PPOK dianggap berkontribusi terhadap kejadian eksaserbasi. Usaha menurunkan kolonisasi bakteri dilakukan untuk mengurangi kejadian eksaserbasi salah satuanya adalah dengan vaksinasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek pemberian vaksinasi Lyophilized bacterial lysat pada pasien yang telah diketahui jenis potentialy pathogenic microorganism (PPM).Metode: Desain penelitian uji klinis terbuka (open ckinical trial) pada pemberian Lyophilized bacterial lysate dibandingkan dengan Plasebo terhadap pasien PPOK dengan koloni PPM di poliklinik Paru RSUP Dr.M.Djamil Padang periode Januari sampai Juni 2017.Sampel diambil dengan teknik konsekutif (accidental sampling). Hasil: Penelitian pada 33 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberikan Lyophilized bacterial lysat dan 22 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberika plasebo. Setelah perlakuan selama 3 bulan pada kelompok Lyophilized bacterial lysat tidak ditemukan lagi koloni bakteri ganda (10 menjadi 10) (p=0,002) sedangkan pada bakteri tunggal masih ditemukan koloni, sebelum 23 menjadi 26. Kelompok plasebo tidak didapatkan perubahan baik bakteri ganda (13 menjadi 13) ataupun tunggal (9 menjadi 9). Pada kelompok Lyophilized bacterial lysat terjadi perubahan pola koloni yaitu klebsiella pneumonia berkurang 6, Pseudomonas Aureginosa berkurang 2, Stapilococcus Areus berkurang 6, secara statistik mengalami penurunan (p=0,001) sedangkan pada plasebo tidak terjadi perubahan pola koloni Simpulan: Lyophilized bacterial lysat menurunkan proporsi koloni PPM oleh bakteri ganda dibandingkan dengan plasebo. Lyophilized bacterial lysat juga mengurani koloni terutama Pseudomonas Aureginosa dan stapylococcus Aureus dan klebsiella pneumonia.
Keinginan Berhenti Merokok Pada Pelajar Perokok Berdasarkan Global Youth Tobacco Survey di SMK Negeri Kota Padang Sulastri Sulastri; Deddy Herman; Eryati Darwin
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i2.803

Abstract

Remaja menjadi salah satu pengguna rokok dengan prevalensi yang terus meningkat hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga berkaitan dengan kepribadian dan lingkungan remaja. Berdasarkan Factsheet Global Youth Tobacco Survey di Indonesia memaparkan 4 dari 5 orang perokok berkeinginan untuk berhenti merokok. Banyak perokok menyadari risikonya dan termotivasi untuk berhenti merokok, namun mengalami kesulitan untuk berhenti merokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keinginan berhenti merokok pada pelajar SMK Negeri di kota Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain penelitian potong lintang. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 166 orang siswa perokok SMK Negeri di Kota Padang pada tahun 2018 dengan menggunakan kuesioner Global Youth Tobacco Survey, berbahasa Indonesia. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pelajar perokok di SMKN kota Padang adalah 43,10%. Sebagian besar perokok adalah laki-laki. Sebanyak 43,40% siswa mulai merokok pada usia pada kelompok usia 14-15 tahun. Sekitar 64,45% berkeingian untuk berhenti merokok. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kurang dari separuh siswa di sekolah tersebut merupakan perokok. Ditemukan sebagian kecil siswa perempuan pernah mencoba rokok dan usia terbanyak mulai merokok adalah usia 14-15 tahun. Sebagian besar pelajar perokok berkeinginan untuk berhenti merokok.
CLINICAL PRESENTATION, DIAGNOSIS AND TREATMENT OF PULMONARY FUNGUS BALL RELATED TUBERCULOSIS Fenty Anggrainy; Irvan Medison; Deddy Herman; Sabrina Ermayanti; Yessy Susanty Sabri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i2.1025

Abstract

Fungus Ball paru merupakan komplikasi yang sering terjadi pada Tuberkulosis (TB) paru dengan kavitas, terutama pada bekas TB paru. Agen penyebab selain Aspergilus sp yaitu Candida sp. Terapi definitif untuk penyakit ini adalah terapi bedah. Pada kondisi khusus dapat digunakan tatalaksana lainnya. Penelitian ini mengevaluasi 6 pasien Fungus Ball paru dengan riwayat obat anti tuberkulosis, dengan beberapa metode diagnosis dari tahun 2010 sampai 2013. Tatalaksana dan hasil pengobatan pasien dianalisis pada penelitian ini. Hemoptisis terdapat pada seluruh pasien dan tiga diantaranya dengan hemoptisis masif. Semua pasien memiliki gambaran yang khas untuk Fungus Ball paru dari radiologi toraks. Spesies jamur terkonfirmasi pada 5 pasien: pemeriksaan serologis (1), kultur jamur (2) dan pemeriksaan histopatologi (2). Spesies yang didapatkan adalah Aspergilosis sp = 3, Candida paraspilosis = 1 dan Candida sp = 1. Dua pasien mendapatkan terapi bedah dengan tidak adanya keluhan hemoptisis setelah itu. Empat pasien yang hanya mendapatkan anti jamur, ternyata 75% memberikan respon yang baik secara klinis dan radiologis. Kavitas yang menetap pada TB paru dan bekas TB paru, dapat menimbulkan insiden Fungus Ball paru yang membutuhkan lobektomi sebagai terapi definitif. Pada kondisi tertentu dimana terapi pembedahan tidak dapat dilakukan, anti jamur dapat menjadi terapi alternatif dan memberikan hasil yang baik.
Faktor Risiko Kanker Paru pada Perempuan yang Dirawat di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RSUD Solok: Penelitian Case Control Yati Ernawati; Sabrina Ermayanti; Deddy Herman; Russilawati Russilawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i2S.951

Abstract

Kejadian kangker paru pada perempuan meningkat setiap tahun. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian  kanker paru pada perempuan yang dirawat di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RSUD Solok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian case control pada 23 orang perempuan dengan kanker paru sebagai kasus dan 46 orang perempuan bukan kanker paru sebagai kontrol yang dilakukan di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RSUD Solok selama tahun 2018. Sampel diambil secara nonprobabilitas dengan teknik konsekutif. Tidak terdapat perbedaan bermakna karakteristik antara kelompok kasus dan kontrol. Terdapat hubungan bermakna antara paparan asap rokok dari orang tua dengan kejadian kanker paru pada perempuan (OR= 13,46 CI95% 4,04-44,82; p=0,0001). Tidak terdapat perbedaan bermakna merokok (OR=2,05 CI95%  0,12-34,26; p=1,000), paparan asap rokok suami (OR=2,97 CI95% 1,03-8,60; p=0,074), paparan asap rokok di tempat kerja (OR=2,10 CI95% 0,28-15,92; p=0,596), paparan asap biomass (OR=1,22 CI95% 0,42-3,57; p=0,928), riwayat keganasan dalam keluarga (OR=4,29 CI95% 0,37-49,95; p=0,256) dan riwayat TB (OR=0,25 CI95%; p=0,253) dengan kejadian kanker paru pada perempuan. Dapat disimpulkan, paparan asap rokok orang tua adalah faktor risiko utama untuk terjadinya kaker paru pada perempuan.
Overview of COVID-19 Vaccine Development Strategy Katerine Junaidi; Dewi Wahyu Fitrina; Fenty Anggrainy; Deddy Herman
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 6 No. 3 (2022): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v6i3.473

Abstract

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) was identified as the cause of coronavirus disease 20019 (COVID19) pandemic which first emerged in December 2019 in Wuhan city, China. Currently, a vaccine is urgently needed to control the COVID-19 pandemic. Several vaccine candidates are under development and some are in the final stage of clinical trials. The COVID-19 vaccination aims to reduce morbidity and mortality rates, achieve herd immunity to prevent and protect the society, strengthen the health system, maintain productivity and minimize social and economic impacts. Before approval, vaccines have to undergo several clinical trials to ensure its safety profile, efficacy, duration of immune system resistance, and adverse effect. Various strategies have been used in the development of vaccines including viral vector vaccines, nucleic acid vaccines, inactivated virus, live attenuated virus, subunit protein¸and virus-like particle vaccine. Each strategy has its own advantages and disadvantages.
Happy Hypoxemia In COVID-19 Ilham; Deddy Herman; Russilawati
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 6 No. 5 (2022): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v6i5.514

Abstract

The new coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic is becoming a global health crisis that challenges health systems around the world. The clinical spectrum of COVID-19 varies from mild upper respiratory tract infections to severe pneumonia and acute respiratory distress syndrome, but there are also many patients present with an SpO2 < 90% but without symptoms of shortness of breath. This phenomenon is called happy hypoxemia or silent hypoxemia. Shortness of breath or dyspnea is a subjective sensation resulting from inadequate breathing effort and is usually described as constriction in the chest, difficulty breathing air or difficulty breathing. Breathing is controlled centrally by the respiratory center in the medulla oblongata and the pons region which controls the "respiratory drive" and adapts respiration to the body's metabolic needs. The mechanisms that play a role in this phenomenon include the presence of intrapulmonary shunts, loss of pulmonary perfusion regulation, vascular microthrombus and impaired pulmonary diffusion capacity.
Coal Workers' Pneumoconiosis at PT. A Sawahlunto and The Influencing Factors Ulfahimayati Ulfahimayati; Deddy Herman; Masrul Basyar; Fenty Anggrainyi
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 41, No 1 (2021)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v41i1.157

Abstract

Background: Coal workers’s pneumoconiosis (black lung disease) is an interstitial lung disease caused by chronic inhalation of coal dust. The incidence of coal workers’s pneumoconiosis increased globally from the 1990s to the 2000s by 3.2%. Indonesia is the country which has many coal mining, but national prevalence of coal workers pneumoconiosis was not discovered. PT. A is one of mining companies in Sawahlunto. The aims of this study was to determine the incidence of coal workers’ pneumoconiosis at PT. A Sawahlunto and it’s influencing factors. Methods: This study is an analytic study with cross sectional design, conducted from November 2019 to April 2020. There were 90 coal miners participated in this study. All subjects were performed chest X-ray examination with ILO standard to asses the incidence of pneumoconiosis. Spirometr examination, dust level measurement with portable low volume air sampler, interview, and validated questionnare were performed to evaluate it’s influencing factors. Statistical analysis used Chi-square test and double logistic regression test. Results: This study found 12 workers (13.3%) had pneumoconiosis. From the statistical test results obtained age >50 years (P=0.035), duration of exposure (P=0.040), mask usage (P=0.029), restrictive lung function (P=0.004), and the mixed abnormality lung function (P=0.006) is associated with pneumoconiosis. The most dominant factor was mask usage (P=0.049) with OR=5.026 Conclusion: The most dominant factor that influence coal workers’ pneumoconiosis was mask usage. Others related factors were age, duration of exposure and abnormality lung function.
Correlation between Anxiety and Depression with Quality of Life among Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patients Dessy Mizarti; Deddy Herman; Yessy S Sabri; Amel Yanis
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 39, No 2 (2019)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v39i2.57

Abstract

Background: Anxiety and depression among COPD patients can lead to physical limitation, lung function deterioration, risk of exacerbation and poor quality of life. This study aims to investigate correlation between anxiety and depression with quality of life among COPD patients Method: This was cross sectional analytic study recruiting COPD patients in Pulmonary outpatient setting in Dr. M. Djamil Central Hospital Padang and Achmad Mochtar Hospital Bukittinggi from January to March 2017. Samples were recruited through consecutive technique (accidental sampling). Result: Results showed from 101 COPD patients, average age was 65,54 + 9,99 years old. Mostly were male 83,17%, basic education 71,29%, low economical status 58,42%, married 81,19%, ex smoker 71,29%, severe Brinkman index 60,40%. There was correlation between gender (p value =0,002) and marital status (p value =0,010) with anxiety and or depression. Severe COPD patients tend to suffer from anxiety, depression, anxiety and depression, as many as 34,78%, 100% and 54,55%, respectively. Most COPD patients who suffered from anxiety and depression had poor quality of life 28,57%. There was correlation between anxiety and or depression with quality of life among COPD patients p-value= 0,005. COPD patients in D group often had poor quality of life 82,14%. There was correlation between COPD population group and quality of life (p-value=0,001). Conclusion: Anxiety and depression could occur in every stage of COPD, especially severe COPD. There was correlation between anxiety and or depression with quality of life so thus COPD treatment should embrace the comorbid factors. (J Respir Indo 2019; 39(2): 121-9)
Effect of Tiotropium on Post Pulmonary TB Patients With Obstructive Abnormalities to Lung Function and Quality of Life Romaito Nasution; Irvan Medison; Deddy Herman; Masrul Basyar
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 38, No 4 (2018)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.132 KB) | DOI: 10.36497/jri.v38i4.22

Abstract

Background: Post pulmonary tuberculosis (TB) patients could experience pulmonary function declines which affected their quality of life. Obstrucitve abnormalities were found the most after complete TB treatment and the therapeutic guidelines focused in bronchodilators. The use of bronchodilators could improve lung function and quality of life in post TB patients with obstructive abnormalities. Tiotropium is a bronchodilator that has been shown to be effective in chronic obstructive pulmonary disease (COPD) patients, while its use in post TB patients has not been widely studied. Methods: This study design was a clinical trial with pre and post test design in post TB patients in Dr.M.Djamil Padang General Hospital and Lubuk Alung Pulmonary Hospital conducted from November 2016 to June 2017. Results: Of 30 post TB patients, the mean age was 62.77±10.99 years, most were male (63.33%), non-smokers and former smokers (50% each), had interval from complete anti TB drugs to study ≥6 months (53.3%), and moderate level of obstruction (80%). Pulmonary function prior to tiotropium was generally in moderate obstruction (FEV1 68,85±15,77). The mean quality of life prior to tiotropium was 18.27±10.81. There was no improvement in pulmonary function of post TB patients after administration of tiotropium, P=0.920, however, there was an improvement in the quality of life, P=0.009. No adverse events were found in this study. Conclusions: Administration of 2 months tiotropium in post TB patients had no effects on the improvements of lung function but improved the quality of life. More studies were needed using more patients and longer duration of administration. (J Respir Indo. 2018; 38: 203-9)
Co-Authors Abdiana Abdiana, Abdiana Afriani Afriani Ahmad Rafid Almurdi Almurdi Amel Yanis Delmi Sulastri Dessy Mirzati Dessy Mizarti Dessy Mizarti Dessy Mizarti Dewi Wahyu Dewi Wahyu Fitrina Dewi Wahyu Fitrina Dimas Bayu Firdaus Dimas Bayu Firdaus Dwitya Elvira, Dwitya Dzaki Murtadho Efrida Efrida Efrida Elly Usman Elsa Purnama Sari Elsesmita, Elsesmita Ermayanti, Sabrina Ermayanti, Sabrina Eryati Darwin Fadhilah, Dwi Rizki Fadhilla Annisa Efendi Farina Angelia Fathiyyatul Khaira, Fathiyyatul Fenty Anggraini Fenty Anggraininy Fenty Anggrainy Fenty Anggrainy Fitrina, Dewi Wahyu Gustia Rina Habib El Binampiy Busnia Hamni Tanjung Handayani, Friska Hasmiwati Ilham Irvan Madison Irvan Medison Irvan Medison Irvan Medison Irvan Medison Irvan Medison Irvan Medison Irvan Medison Isnaniyah Usman Julizar Julizar Junaidi, Katerine Katerine Junaidi Laisa Azka Mahata, Liganda Endo Malinda Meinapuri Masrul Basyar Masrul Basyar Masrul Basyar Masrul Basyar Masrul Basyar Mefri Yanni Mizarti, Dessy Monica Bil Geni Novita Ariani Nur Indrawaty Lipoeto Nurul Husna Muchtar Oea Khairsyaf Oea Khairsyaf Oea Khairsyaf Povi Pada Indarta Pratama, Fadel Ahmad Rahmadina, Rahmadina Rahmadina, Rahmadina Rizanda Machmud Rizanda Machmud Romaito Nasution Rosfita Rasyid Rosi Maulini Rullian, Harry Pasca Russilawati, Russilawati Sabrina Ermayanti Sari, Popy Puspita Sulastri Sulastri Susanti Sabri4, Yessy Susanti Sabri Syandrez Prima Putra Trisuliandre, Muhammad Rizki Ulfahimayati Ulfahimayati Utami, Sherly Putri Vicennia Serly Yasmin Nabila Ramadhani Yati Ernawati Yessy S Sabri Yessy Susanty Sabri Yessy Susanty Sabri Yulistini, Yulistini Zaki Arbi Ismani