cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Hubungan OAINS pada Pengobatan Dismenorea dengan Kejadian Dispepsia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Siti Dwiaulia Risnomarta; Arnelis Arnelis; Ernawati Ernawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.264

Abstract

AbstrakDismenorea merupakan salah satu keluhan ginekologi tersering yang membawa pasien datang ke dokter. Dismenorea terjadi 40-80% dan 5-10% nya membutuhkan pengobatan. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) paling sering digunakan untuk pengobatan dismenorea primer. Namun efek samping sering terjadi terutama pada saluran cerna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan OAINS sebagai pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Rancangan penelitian adalah analitik cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 62 orang yang diambil dengan menggunakan metode total sampling. Dari penelitian ini diperoleh jumlah responden yang mengalami dispepsia sebanyak 14 orang (22,6%). Penelitian ini menilai OAINS (jenis,jumlah, dan kombinasi) pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia. Derajat dispepsia yang dikeluhkan umumnya ringan. Hasil uji chi-square antara jenis OAINS pada pengobatan dismenorea dan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,120. Hasil uji chi-square antara jumlah OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 1,00. Hasil uji chi-square antara kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,125. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis, jumlah, dan kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia.Kata kunci: dismenorea, OAINS, dispepsia AbstractDysmenorrhea is one of most common gynecological complaint that bring the patients come to see doctor. Dysmenorrhea occurs 40-80% and 5-10% need treatment. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are the most common treatment for primary dysmenorrhea. The side effects of NSAIDs often occur, especially in gastointestinal. The objective of this study was to determine the relationship of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea and dyspepsia incident in female students of Faculty of Medicine of Andalas University. The design study is cross sectional analytic. The subject of this research were 62 students that taken by using total sampling method. This study found that the respondents who suffered dyspepsia were 14 (22.6%). This study assessed NSAIDs (types, amounts, and combinations) in dysmenorrhea treatment that caused dyspepsia. Chi-square test resulted between types of NSAIDs in dysmenorrhea treatment and the incident of dyspepsia obtained p = 0.120. The p value in the relation between amounts of NSAIDs and the incident of dyspepsia is p = 1.00. The resulted between the combinations of NSAIDs with the incident of dyspepsia is p = 0.125. Based on the result, there is no relationship between the types, amounts and combinations of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea with the incident of dyspepsia.Keywords: dysmenorrhea, NSAIDs, dyspepsia
Perbedaan Kadar Endotelin-1 Plasma pada Penderita Preeklampsia dengan Kehamilan Normotensif Susi Hartati; Rahmatina B Herman; Darwin Amir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.370

Abstract

Abstrak Endotelin-1 merupakan derivat endotelium yang ampuh sebagai vasokontriksi  paling kuat yang memiliki 21 asam amino. Kerusakan lapisan endotel mengaktivasikan peningkatan vasokontriksi yaitu endotelin-1. Peningkatan endotelin-1 ini menyebabkan terjadinya resistensi diseluruh sistem vaskuler maternal yang memiliki lapisan endotel sehingga menimbulkan manifestasi klinis preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia dan kehamilan normotensif. Penelitian bersifat observasional dengan desaincross sectional comparative. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.M.Djamil Padang dan RS Tk.III Reksodiwiryo Padang. Sampel penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu 16 penderita preeklampsia dan 16 kehamilan normotensifdengan waktu penelitian dari  Juni sampai Agustus 2014. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Biomedik Universitas Andalas Padang. Pemeriksaan kadar endotelin-1 menggunakan metode ELISA. Analisa statistik mengunakan univariat dan bivariat. Analisa bivariat mengunakan uji t tidak berpasangan yang telah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa rerata kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia yaitu 0,73 ± 0,15 pg/ml, rerata kadar endotelin-1 plasma pada kehamilan normotensif yaitu 0,56 ±0,13 pg/ml dengan nilai p<0,05 (0,002). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar endotelin-1 yang signifikan rerata kadar endotelin-1 plasma pada penderita preeklampsia dengan kehamilan normotensif.Kata kunci: preeklampsia, endotelin-1, normotensifAbstract  Endothelin-1 is potent endothelium derived as the strongest vasocontrictor that has 21 amino acids. Damage of endothelial layer activated the increasing of vasoconstriction which is endothelin-1. The increasing of endothelin-1 caused a resistence across the maternal vascular system that has endothelial layer make a clinical manifestations of preeclampsia. The objective of this study was to determine the difference of endothelin-1 plasm level of preeclampsia and normotensive pregnancies. This study was an observational study with cross sectional design. This study hasbeen done in RSUP Dr.M.Djamil and Reksodiwiryo hospital in Padang. The sample of this study consisted of two groups 16 patients with preeclampsia and 16 normotensive pregnancies from June to August 2014. The sampleanalyzed in biomedical laboratory of Andalas University Padang. Endothelin-1 plasm level examined by using ELISA method statically. The data analyse using univariate and bivariate analyses. Bivariate analysis using unpaired t-test that used test of normality and homogenity test before. Result found that the avarege of endothelin-1 plasm level onpreeclampsia was 0.73±0.15 pg/ml while the avarege in normotensive pregnancy was 0.56±0.13 pg/ml. The probability value was 0.002 (p<0.05). This reseach concluded that there is significant difference of endothelin-1 plasm level between preeclampsia and normotensive. Keywords: preeclampsia, endothelin-1, normotensive
Hubungan Derajat Obesitas dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang Andi Fadilah Yusran Putri; Eva Decroli; Ellyza Nasrul
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.351

Abstract

Abstrak Derajat obesitas sebanding dengan tingkat akumulasi lemak tubuh. Peningkatan akumulasi lemak tubuh akan meningkatkan kadar gula darah puasa. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa pada masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang. Jenis penelitian ini ialah observasional dengan pendekatan cross sectional study terhadap 32 orang masyarakat yang berumur 35-60 tahun di Kelurahan Batung Taba dan Korong Gadang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Derajat obesitas diukur dengan metode antropometrik, berupa Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut kriteria Asia-Pasifik, yaitu obese I (IMT ≥25 kg/m2) dan obese II (IMT ≥30 kg/m2). Kadar gula darah puasa diukur secara enzimatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat obese di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang adalah berjenis kelamin perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar masyarakat memiliki berat badan dengan kriteria obese I dan kadar gula darah puasa dengan kriteria DM ≥100 mg/dl. Hasil analisis dengan uji chi-square didapatkan nilai p  = 1,000 (p>0,05), berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa.  Kesimpulan penelitian ini adalah tidak berbeda antara kadar gula darah puasa pada obese I dan obese II pada masyarakat diKelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang.Kata kunci: obesitas, kadar gula darah puasa, indeks massa tubuhAbstract The degree of obesity is equal to the rate of body fat accumulation.  Accumulation of body fat increases fasting blood glucose.  The objective of this study was to determine the relationship of the degree of obesity and fasting blood glucose of people who live in Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang, Padang City. This was an observational cross-sectional study to 32 residents of 35 to 60 years old in Batung Taba and Korong Gadang. The subjects were taken by purposive sampling method.  The degree of obesity was determined by Body Mass Index (BMI)from Asian-Pacific criteria, an anthropometric method, obese I (BMI ≥25 kg/m2) and obese II (BMI ≥30 kg/m2). Fasting blood glucose were determined enzimatically.  The result of this study showed that mostly obese population in Batung Taba and Korong Gadang is female, as represented by housewifes.  The majority of the population is obese I and has fasting blood glucose with DM criteria ≥100 mg/dl.  As estimated by chi -square analysis, the p value = 1.000 (p>0.05) and there was no significant relationship is found between the degree of obesity and fasting blood glucose. The conclusion from this study shows there is no different between fasting blood glucose levels in obese I and obese II among the residents of Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang.Keywords: obesity, fasting blood glucose, body mass index
Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Petugas Imunisasi terhadap Praktik Penyimpanan dan Transportasi Vaksin Imunisasi di Tingkat Puskesmas Kota Padang Tahun 2014 Nadia Rahmah; Putri Sri Lasmini; Rahmatini Rahmatini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.386

Abstract

Abstrak Rantai dingin sangat penting dipertahankan selama distribusi dan penyimpanan vaksin untuk mencapai efektifitas vaksin. Petugas Imunisasi di layanan primer harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai transportasi dan penyimpanan vaksin. Penelitian dilaksanakan di seluruh puskesmas Kota Padang padaMaret 2014, dengan menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 21petugas imunisasi dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Hasil penelitian didapatkan responden dengan pengetahuan yang baik tentang penyimpanan dan transportasi vaksin sebesar 61,9% dan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas yang baik sebesar 61,9%. Berdasarkan uji statistik, didapatkan tidak adanya hubungan umur, tingkat pendidikan, masa kerja dan pengalaman pelatihan petugas imunisasi dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas tetapi terdapat hubungan pengetahuan petugas dengan praktik. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak terdapatnya hubungan karakteristik petugas imunisasi dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin dan terdapatnya hubungan bermakna antarapengetahuan petugas dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas Kota Padang.Kata kunci: karakteristik, pengetahuan, penyimpanan, transportasi vaksinAbstract Preserving the cold chain during distribution and storage is critical to achieve the effectiveness of the vaccine. Immunization workers in primary health care should have a good knowledge and understanding about the handling and storage of the vaccine. The experiment was conducted in all health centers Padang in 2014 March, using a crosssectional design. Total samples 21 immunization workers with total sampling. The data was collected using questionnaires and observation. The results showed respondents with good knowledge about vacci ne storage and handling of 61.9% and vaccine storage and handling practices in health centers of 61.9% which is good. Based on statistical tests, found no rellation between age, education, years of working and training experience of immunizationworkers with vaccine storage and handling practices in health care but a significant correlation between knowledge with practice. Based on the results of the study concluded that the absence of the relations between characteristic immunization workers with vaccine storage and handling practices and a significant correlation between knowledge workers with practical storage and handling of vaccines at the health center of Padang.Keywords: characteristics, knowledge, storage, handling of vaccines
Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Nitrit Oksid pada Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Nidia Purwadianti; Fadil Oenzil; Delmi Sulastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.255

Abstract

AbstrakObesitas merupakan masalah kesehatan yang kompleks dengan penyebab multifaktorial. Obesitas berkaitan erat dengan peningkatan risiko sejumlah komplikasi seperti hipertensi. Salah satu mekanisme yang menghubungkan obesitas dengan hipertensi adalah disfungsi endotel sebagai akibat penurunan kadar nitrit oksid (NO). Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator untuk menentukan obesitas. .Tujuan penelitian ini ialah menentukan hubungan IMT dengan kadar nitrit oksid pada masyarakat etnik Minangkabau. Desain penelitian adalah studi potong lintang dengan populasi masyarakat etnik Minangkabau usia 30 – 65 tahun di 4 kecamatan terpilih di Kota Padang. Jumlah subjek sebanyak 130 orang. Data responden merupakan data sekunder yang dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan uji beda rerata dengan metode independent sample t-test. Hasil penelitian pada kelompok obesitas diperoleh p-value = 0,982 dengan r = -0,003. Pada kelompok tidak obesitas didapatkan p-value = 0,924 dan r = -0,013. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kadar NO. Kadar nitrit oksid rerata pada responden obesitas adalah 28,37±17,45 μmol/L dan tidak obesitas adalah 23,91±11,55 μmol/L dengan p-value=0,084. Terdapat perbedaan rerata kadar NO kelompok obesitas dan tidak obesitas pada masyarakat etnik Minangkabau di Kota Padang namun tidak bermakna secara statistik. Diharapkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor lain yang mempengaruhi kadar NO selain IMT.Kata kunci: indeks massa tubuh, kadar nitrit oksid, obesitas AbstractObesity is a complex health problem with multifactorial causes. Obesity is strongly related to risk increase of many complications such as hypertension. One of the mechanisms that links obesity and hypertension is endhotelial disfunction due to nitric oxide (NO) level decrease. Body Mass Index (BMI) measurement is one of the indicators to determine obesity. The objective of this study was to determine correlation between BMI and NO level in Minangkabau ethnic group. The research design was cross sectional study, the population was Minangkabau ethnic group in the age group of 30-65 years old from 4 selected districts in Padang. The total subjects were 130. The secondary data were analyzed by using Pearson correlation and mean difference test by using independent sample test method. The results obtained in obese groupare p-value=0.982 and r= -0.003. In non-obese group p-value = 0.924 and r = -0.013.Those findings suggest that there is no significant correlation between BMI and NO level. Mean NO level of obese group was 28.37±17.45 μmol/L and 23.91±11.55 μmol/L for non-obese group, p-value=0.084. It indicates that there is no significant correlation between obesity and NO level on Minangkabau ethnic group in Padang. It is suggested that other researchers conduct further research by considering other factors influencing NO level besides BMI.Keywords: body mass index, nitric oxide, obesity
A Rare Case of Arteriovenous Hemangioma Clinically Mimicking Pigmented Nevus Sri Lestari; Tofrizal Tofrizal; Yenny Raflis
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.313

Abstract

Abstrak   Arteriovenous hemangioma (AH) adalah lesi jinak pembuluh darah kulit yang jarang, biasanya muncul pada kulit wajah berupa lesi tunggal, meninggi, papul merah, atau keunguan; kadang-kadang papul coklat. Dilaporkan satu kasus AH dengan gambaran klinis menyerupai nevus pada pasien perempuan yang berusia 19 tahun. Ini adalahkasus pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS. Dr. M. Djamil Padang. Pasien datang dengan keluhan bintik hitam di lengan kanan bawah sejak satu bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik, terdapat papul hitam soliter, dengan ukuran 0,3 x 0, 4 mm, bentuk bulat, skuama halus,  berbatas tegas, pinggir reguler dengan permukaan tidak rata.Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, lesi terdiri dari pembuluh darah yang berdinding tebal dan berdinding tipis yang sangat melebar, penuh dengan eritrosit dan dilapisi oleh selapis endotel yang sesuai untuk AH. Arteriovenous hemangioma adalah tumor yang dijumpai pada usia pertengahan hingga dewasa lanjut dengan puncak insiden pada dekade keempat dan kelima kehidupan. Pada kasus ini, umur pasien tergolong dewasa muda dengan gambaran klinis lesi menyerupai nevus pigmentosus. Kata kunci: arteriovenous hemangioma, kasus jarang, nevus pigmentosus Abstract Arteriovenous hemangioma (AH) is a rare benign vascular skin lesion, which typically appears in the skin of the face and extremities and  most commonly occurring on the head and neck region with appearances as single, raised, red, or violaceous papules; sometime tan papule. A case of AH clinically mimicking pigmented nevus in 19year-old womanwas reported. This is the first case in Dermatology Department of Dr.M. Djamil Padang Hospital. She complained about a black pimple on the right lower arm since one month. Physical examination: there is a solitare black papule, with 0,3x0,4 mm, round shape, fine scales, well defined, regular border with irreguler surface.Histopathology findings: the lesions consist of thicked-walled and very dilated thin-walled vessels that full-filled with erythrocytes and are lined by an endothelial layer that suitable for AH. Arteriovenous hemangioma is a tumor of middle-age to elderly adults with a peak incidence in the fourth and fifth decades of life. In this case, the patient was young adult and clinically the lesion mimicking pigmented nevus.Keywords:  arteriovenous hemangioma, rare case, pigmented nevus
Slide Malaria Positif pada Murid SDN 45 Pulau Karam Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan Fitria Ramanda; Nurhayati Nurhayati; Endrinaldi Endrinaldi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.377

Abstract

Abstrak Penyakit malaria hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Secara epidemiologi Indonesia merupakan daerah endemis mayor malaria di Asia tenggara. Kabupaten Pesisir Selatan adalah salah satu daerah endemis malaria di Sumatera Barat.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi parasit malaria berdasarkan umur, kenis kelamin dan angka hitung parasitnya (Parasite Count). Telah dilakukan penelitian pada murid SD 45 Pulau Karam dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh dengan pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal dan tipis yang dipulas dengan pewarnaan Giemsa. Hasil penelitian terhadap 97 murid SDN 45 Pulau Karam didapatkan angka parasit sebanyak 28% dan spesies Plasmodium yang ditemukan seluruhnya merupakan Plasmodium falsiparum. Bedasarkan golongan umur, distribusi frekuensi parasit malaria tertinggi ditemukan pada umur < 10 tahun yaitu 59% dan berdasarkan jenis kelamin, di dapatkan persentase terbesar pada anak laki -laki yaitu sebesar 78%. Parasite Count pada slide darah yang positif parasit malaria yang tertinggi persenan adalah yang < 250/mm³ yaitu sebanyak 96%.Kata kunci: slide darah tebal dan tipis, Parasite Rate, Plasmodium falsiparum, Parasite Count.Abstract Malaria is still a health problem in Indonesia. Indonesia is a major malaria endemic areas in Southeast Asia. District Pesisir Selatan is one of the endemic areas in West Sumatera. The objective of this study was to find the frequency of malaria parasite based on species of malaria parasite, age, gendre and Parasite Count, a study was done on elementary student in SDN 45 Pulau Karam. This research was descriptive. Data obtained by microscopic examination of thick and thin blood preparations were daubed with Giemsa staining. The study of 97 students of SDN 45 Pulau Karam in getting the numbers as much as 28% and the Plasmodium species is found throughout Plasmodium falciparum. Based on the age group, the highest frequency distribution of the malaria parasite was found at age <10 years is 59% and base on gendre, in getting the largest percentage of boys is equal to 78%. Parasite Count on positive blood preparations of the highest malaria parasite gratuities are <250/mm³ as many as 96%.Keywords: thick and thin blood preparations, Parasite Rate, Plasmodium falciparum, Parasite Count.
HIGH-ALTITUDE ILLNESS Dwitya Elvira
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.304

Abstract

AbstrakHigh-altitude illness (HAI) merupakan sekumpulan gejala paru dan otak yang terjadi pada orang yang baru pertama kali mendaki ke ketinggian. HAI terdiri dari acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) dan high-altitude pulmonary edema (HAPE). Tujuan tinjauan pustaka ini adalah agar dokter dan wisatawan memahami risiko, tanda, gejala, dan pengobatan high-altitude illness. Perhatian banyak diberikan terhadap penyakit ini seiring dengan meningkatnya popularitas olahraga ekstrim (mendaki gunung tinggi, ski dan snowboarding) dan adanya kemudahan serta ketersediaan perjalanan sehingga jutaan orang dapat terpapar bahaya HAI. Di Pherice, Nepal (ketinggian 4343 m), 43% pendaki mengalami gejala AMS. Pada studi yang dilakukan pada tempat wisata di resort ski Colorado, Honigman menggambarkan kejadian AMS 22% pada ketinggian 1850 m sampai 2750 m, sementara Dean menunjukkan 42% memiliki gejala pada ketinggian 3000 m. Aklimatisasi merupakan salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan sebelum pendakian, selain beberapa pengobatan seperti asetazolamid, dexamethasone, phosopodiestrase inhibitor, dan ginko biloba.Kata kunci: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edema AbstractHigh-altitude illness (HAI) is symptoms of lung and brain that occurs in people who first climb to altitude. HAI includes acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) and high altitude pulmonary edema (HAPE). The objective of this review was to understand the risks, signs, symptoms, and treatment of high-altitude illness. The attention was given to this disease due to the rising popularity of extreme sports (high mountain climbing, skiing and snowboarding) and the ease and availability of the current travelling, almost each year, millions of people could be exposed to the danger of HAI. In Pherice, Nepal (altitude 4343 m), 43% of climbers have symptoms of AMS. Furthermore, in a study conducted at sites in Colorado ski resort, Honigman describe AMS incidence of 22% at an altitude of 1850 m to 2750 m, while Dean showed that 42% had symptoms at an altitude of 3000 m. Acclimatization is one of the prevention that can be done before the climbing, in the addition of several treatment such as acetazolamide, dexamethasone, phospodiestrase inhibitor and gingko biloba.Keywords: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edema
Pengaruh Pemberian Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) Terhadap Kadar Malondialdehid dan Aktivitas Katalase Tikus yang Terpapar Karbon Tetraklorida Zuraida Zuraida; Eti Yerizel; Eliza Anas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.366

Abstract

Abstrak Pemberian rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) diharapkan melindung hepar tikus dari kerusakkan akibat stres oksidatif pada keracunan karbon tetraklorida (CCl 4). Senyawa yang sering dijadikan petunjuk adanya kerusakan tersebut adalah malondialdehid (MDA). Rosella mengandung vitamin C, flavonoid, polifenol dan beta karoten. Tujuanpenelitian ini adalah menentukan pengaruh pemberian ekstrak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) terhadap MDA dan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Ini adalah penelitian eksperimental dengan desain Post test Only Control Group Design. Sampel 24 ekor tikus Strain Wistar berumur 2-3 bulan, berat 150-200 gr. Sampel diambil secara acakdan dibagi 4 kelompok terdiri dari kelompok kontrol negatif, kontrol positif (CCl 4), perlakuan 1 (CCl 4 dan ekstrak rosella 250 mg/kg bb) dan perlakuan 2 (CCl4  dan ekstrak rosella 500 mg/kg bb). Pemberian CCl 4secara oral dosis tunggal, setelah 24 jam kemudian diberi ekstrak rosella secara oral selama 14 hari. Data dianalisis dengan uji Anova, tingkatkepercayaan 95%.Pemberian ekstrak rosella secara statistik didapatkan perbedaan yang signifikan rerata kadar MDA dan katalase antar kelompok (p < 0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak rosella dapat menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Kata kunci: karbon tetraklorida, MDA, katalase, rosella Abstract Administering roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) is expected to protect rat liver from damage caused by oxidative stress in CCl4 poisoning. Rosella contains vitamin C, flavonoids, polyphenol and beta carotene. Compounds which was often used as marker of the damage caused by free radicals wa MDA. The objective of this study was to determine the effect of extracts of roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) on MDA and catalase activity of rats exposed to CCl4. Experimental research design with Post test Only Control Group Design. Samples of 24 male Wistar Strain rats were 2-3 months old. weighing 150-200 gr. Samples were taken at random and divided into 4 groups consisting of a negative control group, positive control (CCl4), treatment 1 (CCl4 and roselle extract 250 mg / kg bw) and treatment 2 (CCl4 and roselle extract 500 mg / kg bw). CCl4 was given a single dose orally, after 24 hours, the subjects were given rosella extract orally for 14 days. Data were analyzed by ANOVA with a confidence level of 95%. Rosella extract obtained statistically significant differences of MDA and catalase levels among groups (p <0.05). It can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increase the activity of catalase mice exposed to CCl4. From the research it can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increas the activity of catalase mice exposed to CCl4. It is needed further research on the toxicity of extracts of rosella and organ damage caused.Keywords: carbon tetrachloride, MDA, catalase, rosella
Gambaran NAFLD pada Pasien dengan Sindrom Metabolik di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Nadila Andam Astari; Eva Decroli; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.269

Abstract

AbstrakSindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang terjadi secara bersamaan pada seorang individu, antara lain: peningkatan glukosa darah puasa, obesitas sentral, dislipidemia, dan hipertensi. Salah satu manifestasi sindrom metabolik adalah non alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran NAFLD pada pasien dengan sindrom metabolik di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan bentuk cross sectional dan pendekatan retrospektif menggunakan data primer berupa hasil USG hati dan lingkar perut serta data sekunder berupa data rekam medis hasil pemeriksaan tekanan darah dan lab darah (gula darah, kolesterol, dan trigliserida) pasien dengan sindrom metabolik di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Oktober 2013 – Agustus 2014. Dari 30 subjek yang didapatkan, didapatkan 20 diantaranya menderita NAFLD (67%). Dari 20 orang penderita NAFLD, 20 orang (100%) obesitas sentral, 19 orang (95%) menderita gula darah puasa terganggu, 13 orang (65%) mengalami peningkatan trigliserida darah, 13 orang (65%) mengalami penurunan kadar HDL darah, dan 15 orang (75%) hipertensi.Kata kunci: sindrom metabolik, NAFLD, obesitas AbstractMetabolic syndrome is a set of cardiovascular disease risk factors that occur simultaneously on an individual, i.e. increase in fasting blood sugar, central obesity, dyslipidemia, and hypertension. Non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is one of the manifestations of metabolic syndrome. The objective of this study was to determine description of NAFLD on patients with metabolic syndrome at internal medicine polyclinic RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Descriptive research has been conducted with a cross-sectional study and a retrospective approach using liver USG result and waist circumference as primary data and medical record of blood pressure and lab (triglyceride, HDL, fasting blood sugar) as secondary data on patients with metabolic syndrome at RSUP Dr. M. Djamil Padang during October 2013 – August 2014. The result of this study showed 20 cases of NAFLD (67%) from 30 subjects found. From those 20 cases, 20 have central obesity (100%), 19 have impaired fasting blood sugar (95%), 13 have hypertriglyceridemia (65%), 13 have decrease of blood HDL level (65%), and 15 have hypertension (75%).Keywords: metabolic syndrome, NAFLD, obesity

Page 29 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue