cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "No 55 (1994)" : 14 Documents clear
Adham dan Adam (Suatu Tinjauaan terhadap Novel Najib Mahfud, Awlād Hāratinā) M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.85-95

Abstract

Mengambil inspirasi   dari  kitab  suci   untuk  menulis  karya  sastra merupakan hal  yang  banyak dilakukan orang.   Dalam pidato-pidato dan pembuatan puisi, misalnya, orang Arab banyak melakukan apa yang disebut iqtibas dari al-Qur'an,  yang tidak hanya mengambil ide tetapi juga ungkapan dari kitab suci ini. Tidak banyak timbul persoalan dengan iqtibs ini manakala pengambilan itu tidak merusak ajaran Islam, namun akan lain akibatnya kalau pengambilan itu dirasakan menghina atau menghujat agama.  Kasus "plesetan" terhadap istilah-istilah keagamaan (dalam hal ini Islam) yang pernah muncul dalam satu acara yang diselenggarakan mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu di Yogyakarta dan pengajuan pelakunya ke pengadilan merupakan bukti bahwa pengambilan teks agama secara salah dapat menimbulkan masalah karena dianggap  menghina  agama,   walaupun mungkin  tanpa ada  niat penghinaan dari pelakunya. Novel Najib Mahfz (selanjutnya disingkat NM) yang berjudul Awlad Haratin  berceritera tentang "sejarah"  para penghuni kampung kita dengan segala intrik, kejahatan clan keculasan mereka disamping percikan-percikan usaha perbaikan di sana-sini. Ada lima tokoh utama yang diceriterakan dalam lima bagian buku ini dengan masing-masing  meoghabiskan  sekitar seratus halaman.  Mereka adalah Adham, Jabal, Rifa'ah,  Qasim clan Arafah yang diceriterakan secara berurutan dan masing-masing menjadi judul bab. Dalam kata pengantar buku ini NM dengan tegas mengatakan bahwa ceritera  tentang kampung kita itu tidak disaksikannya  sendiri selain  pada fasenya  yang  terakhir,  yakni fase Arafah.  Dikatakan oleh NM,  ia  hidup semasa dengan masa hidup Arafah clan menyaksikan kisah perjalanan hidup tokoh terakhir ini.
Memahami Masa lampau Dengan Pendekatan Multidimensional (Suatu Alternatif Metodologis) Maman Abdul Malik Sy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.1-7

Abstract

Minat manusia untuk mengungkap kembali peristiwa yang sudah terjadi dalam upaya memahami masa lampau, bukan merupakan hal yang baru. Menurut catatan Historiografi Barat, hal itu sudah tampak, paling tidak, sejak kira-kira pertengahan abad V dengan munculnya Herodotus (490-430 SM) yang dianggap oleh Barat sebagai Bapak Sejarah kelahiran jaman kasik. Perlu diingat, bahwa peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu tidak terhingga banyaknya.  Pengungkapan   kembali peristiwa-peristiwa itu selalu didasarkan atas jejak atau rekaman yang bisa diperoleh, yang tentu saja hanya merupakan bagian terkecil dari peristiwa yang sesungguhnya pernah terjadi. Melalui proses atau teknik tertentu, jejak-jejak masa lampau itu direkonstruksikan menjadi sebuah bangunan ceritera sejarah yang kira-kira mampu memberi gambaran tentang kejadian yang sebenarnya dari peristiwa masa lampau itu. Lengkap atau tidaknya bangunan itu akan sangat tergantung pada   lengkap   atau   tidaknya jejak yang   ditinggalkan   atau   puing   yang ditemukan. Sehubungan dengan hal itu, Gilbert J. Garraghan mengemukakan, bahwa sejarah mengandung   tiga konsep yang berlainan, namun ketiganya saling berkaitan.  Ketiga konsep itu adalah: (1) peristiwa masa lampau umat manusia yang benar-benar   pernah terjadi; (2) rekaman mengenai peristiwa masa lampau; dan (3) proses atau teknik untuk membuat rekaman peristiwa masa lampau. Dengan kata lain, yang pertama sejarah sebagai peristiwa, yang kedua sejarah sebagai ceritera, sedangkan yang ketiga sejarah sebagai ilmu. Untuk apa jejak masa lampu itu direkonstruksi?  Terhadap pertanyaan ini banyak jawaban yang bisa diberikan.  Satu dari sekian banyak kemungkinan jawaban itu dapat dirujuk kepada pemyataan Sir John Seeley, sebagaimana dikucipoleh Roeslan Abdulgani, yang berbunyi, "History ought surely in some degree to anticipate the lessons of time.  We shall all no doubt be wise after the event; we study history that we may be wise before the event".    Sejalan dengan itu, Ibrahim Alfian dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Sejarah pada   Fakultas   Sastra Universitas Gadjah Mada, dengan   mengutip Cicero, mengatakan, "Tidak belajar sejarah herarti kita akan tetap menjadi kanak-kanak untuk selamanya". Jadi, dengan bercermin kepada pengalaman masa lampau diharapkan seseorang   akan mampu   melihat jauh ke depan, sehingga menjadi bijaksana dalam melangkah ke masa yang akan datang. Di sinilah rekonstruksi jejak masa lampau akan berfungsi sebagai pengajaran bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari masa lalunya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sekalipun seringkali amat pahit. Dalam menyingkap tabir masa lampau, seorang sejarawan biasanya akan bertolak   dari pengalaman masa kini. Hal itu disebabkan masa lcini bukan hanya merupakan kelanjutan masa lampau, melainkan juga sebagai produk dari rnasa   silam   itu.   Dernikian    pula   halnya   masa   yang   akan   datang, akan merupakan kelanjutan dan produk dari masa kini. Apabila mempelajari sejarah bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, maka tidaklah berlebihan apabila   dikatakan   bahwa   sejarah berwatak   tiga dimensi dalarn waktu; masa   lampau, masa   kini   dan   masa   depan.   Dengan    kata   lain, mempelajari masa lampau harus berpijak dari kenyataan dan permasalahan masa kini, serta berorientasi ke masa depan. Tanpa   berorientasi   ke masa depan, sejarah seakan beku dan terpencil dari masa kini dan masa yang akan datang."  Oleh karena itu, timbul usaha manusia untuk merekonstruksi jejak-jejak masa lampau menjadi suatu bentuk yang bulat dan utuh, agar mampu memberi arti bagi  kehidupan  masa kini dan masa yang akan datang.
Pondok Pesantren Dalam Perjalanan Sejarah Ahmad Janan Asifudin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.53-60

Abstract

W.J.S.  Poerwodarminto dalam buab karyanya Kamus Umum Bahasa Indonesia menganikan pesantren sebagai asrama dan tempat murid-murid belajar mengaji. Menurut suatu tim dari Departemen Agama RI pondok pesantren adalah "lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajarannya secara nonklasikal". Dewasa ini banyak pondok pesantren menjadi lembaga peodidikan gabungan antara sistem pendid.ikan  oonformal clan formal,  karena di dalam lingkungannya d.iseleoggarakan pula sistem pendidikan madrasah bahkan sekolah umum deogan berbagai  tingkatan dan  aneka jurusan  mengikuti kebutuhan masyarakat.    Menurut H.A.   Mukti Ali, poodok pesantren merupakan suatu sistem pendidikan dan pengajaran yang mempunyai ciri-ciri khas.  Ia bukan sekolah umum yang diselenggarakan oleh Depdikbud atau organisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya.  Juga bukan pendidikan keluarga dan bukan pendidikan di luar pondok pesantren. Pada dasarnya istilah pondok atau pesantren atau pondok pesantren adalah nama saja. Hanya bedanya pesantren (tanpa pondok) tidak menyediakan pemondokan bagi para santri di komplek pesantren itu.
Masalah Dalālah Dalam Pennerjemahan Arab-Indonesia (Kajian Semantik) S Sukamto
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.70-76

Abstract

Pada hakekatnya penterjemahan adalah pengalihan pesan (ide) dari Bahasa sumber (Bahasa yang diterjemahkan) ke Bahasa sasaran ( Bahasa yang digunakan untuk menterjemahkan) ke Bahasa sasaran ( Bahasa yang digunakan untuk menterjemahkan) (M. Abd. Al-Azim al-Zarqany, 1980:110). Pengkajian terhadap dalālah Bahasa sumber artinya adalah pengkajian terhadap pesan (ide) yang terkandung di dalamnya. Penerjemahan dari Bahasa apa saja, pengkajian terhadap dalālah. Kelihatannya masalah dalālah Itu sederhana: asal mengungkapkan pesan yang sama melalui dua Bahasa yang berbeda itu. Tetapi sebenarnya permasalahannya tidaklah sesederhana itu, setidaknya ada dua hal: 1. Tingkat perkembangan dua Bahasa yang berbeda itu belum tentu sama. Kata untuk makna tertentu, dalam suatu Bahasa, tidak serta merta ada ada dalam Bahasa lain. Hal ini menyebabak sulitnya mencari padanan kata yang benar-benar tepat. 2. Sesuatu kata disamping mempunyai makna (ide) tentu juga mempunyai ‘atifah (rasa Bahasa). Penterjemahan yang sudah tepat dari segi idenya tidak serta merta tepat pula dari segi rasa bahasanya. Persoalan dalālah adalah persoalan yang amat penting dalam memahami suatu Bahasa, juga dalam penerjemahan dari satu Bahasa kebahasa yang lain.

Page 2 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

1994 1994


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue