cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "No 60 (1997)" : 16 Documents clear
Psikologi Agama dalam Perkembangan Psikologi pada Umumnya. Sekar Ayu Aryani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.154-165

Abstract

Psychology and Religion are two essential components in Religions Psychology. In Its long history, The psychology has been dominated by pulling each other between supporters of both components, psycholog and religious scholars, to bring an emphasis on their own discipline. The paper tries to analyses the possibility of putting religious mission on it, for the discipline is said to be more psychological than religious. The analysis is based on its historical development history as well as the hopes of the era, especially the hopes from the religion as a social institution. The chance of the rise of Religious Psychology in Religion psychology will be drawn in a position in which the school of status quo faces the school of counter culture. Here, the school of counter culture is not seen as a threat for mainstream anymore; it may evev fertilize and enriche the major school.
Sarekat Islam: Its Rise, Peak and Fall Latiful Khuluq
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.246-272

Abstract

Artikel ini menelusuri perkembangan Sarekat Islam, gerakan nasionalisme awal terbgsar di lndonesia, dari Sejak kelahiran, perkembangan, kejayaan sampai kemundurannya. Kelahiran organisasi ini disebabkan oleh Berbagai fakror. Persaingan ekonomi antara pribumi dengan pengusaha Tionghoa dengan kekalahan di pihak pertama merupakan penyebab utama kelahiran organisasi ini. Hal ini nampak dari nama awal Sarekat Islam (SI) yaitu Sarekat Dagang Islam yang mencerminkan bahwa kepedulian  utama organisasi ini adalah perdagangan terbukti dari berbagai kegiatan  yang dilaksanakan pada masa pembentukan ini. Samanhudi (1868-1956) yang mengalami langsung dominasi pedagangTionghoa yang memdnopoli bahan-bahan mentah pembuatan batik tampil sebagai orang pertama Yang menghimpun kekuatan pedagang pribumi  ibantu oleh Raden Mas Tirtoadisuryo, yang selain berpengalaman sebagai manajer perdagangan juga sebagai wartawan, organisasi ini berkembang dengan pesat. ketika organisasi ini melebar ke Surabaya, Oemar Said Tjokroaminoto, yang juga pegawai sebuah firma dan lulusan sekolah Belanda untuk mempersipkan para pegawai pemerintah tingkat rendah (OSVIA), menjadi salah seorang yang menonjol di organisasi ini dan popularitasnya tenrs meroket ke tingkat nasional sehingga menjadi pemimpin puncak organisasi ini. Dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto, SI berkembang dengan pesat sampai ke tingkat kejayaannya. Hal ini antara lain disebabkan oleh kemampuan dan kharisma Tjokroaminoto sendiri dalam memobilisir massa dan merekrut orang-orang terdidik dan berpengalaman untuk berkiprah dalam Sarekat Islam. Kondisi masyarakat yang memerlukan sebuah organisasi yang bisa mewakili kepentingan mereka berhadapan dengan peme-rintah Belanda maupun persaingan pedagang Tionghoa juga mempunyai andil dalam kebesaran SI. Keanggotaan organisasi ini juga sangat terbuka dan longgar: para Muslim santri, abangan dan priyayi tidak canggung untuk bekeriasama dalam organisasi ini; para petani. kyai, pedagang, wartawan sampai birokrat pribumi bahu membahu membesar-kan organisasi ini. Para pemimpin Sarekat pada masa puncak ini iuga masih lunak dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Karakteristik-karakteristik tersebut berangsurangsur hilang dari  Sarekat Islam seiring dengan melemahnyakeuatan dan kebesaran organisasi ini. Kemundiran Sarekat Islam disebabkan berbagai faktor. Para pemimpin maupun pengikut Sarekat lslam semakin berani dan radikal mernprotes kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial. Tjokroaminoto dan Agus Salim sendiri sebagai pemimpin puncak SI berani keluar dari dewan perwakilan rakyat (volkstraad) karena dianggap sebagai tak lebih dari "lelucon" belaka. Para pengikut SI di tingkat lokal (grassroor) juga semakin berani berkonfrontasi terbuka dan bersen-jata menghadapi kebijakan-kebi-iakan yang timpangpemerintah colonial maupun kondisi ekonomi yang dianggap menguntungkan pedagang Tionghoa Tak ayal lagi, sikap pemerintah colonial Belanda terhadap sI berubah menjadi garang dan berusaha sekuat tenaga melemhkan kekuatan SI.Perpecahan ditingkat elir kepemimpinan SI yang Pada gilirannya Juga memecah Belah kakuatan Umat mempunyai Andil yang cukup besar dalam meredupkan cahaya kebesaran sI. Pukulan terberat adalah keluarnya faksi Islam abangan dari tubuh SI yang tergabung dalam SI Merah dan kemudian bergabung dalam Gerakan komunis Indonesia. Para anggota Muhammadiyah dan persatuan Islam pun dikeluarkan dari organisasi ini; sementara para Muslim tradisionalis sejak 1926 memiliki wadah organisasi sendiri. Belum lagi persaingan dari gerakan nasionalis sekuler seperti Partai Nasional Indonesia yang mulai muncul dan merebut pengaruh massa. Tiokroaminoto. yang semula diagung-agungkan sampain dianggap sebagai ratu asil, redup kharismanya dan malah dicaci maki dengan berbagai tuduhan. Akhirnya. orang meninggalkan Sarekat Islam Bagaikan "selesai Menonton pertunjukan wayang".
Al-Majāz fī al-Qur’ān al-Karīm (Dirāsah al-Muṣṭalahīyya wa al-Lughawīyya) Sukamto Said
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.65-81

Abstract

A debate on majāz (metaphor) in the Quran has begun a long time ago. The different opinions are actually caused by the different view point, e.q. the difference on majāz (metaphor), and the functions of language. In fact, each group tries to purify the Quran as the word of Allah from any lackness. Since they are different in this issue, they disagree on whether or not majāz exists in the Quran. majāz is sometime seen equal to a lie. This is because majāz does not hold literary meaning, or it is employed when the real expression (tarkib haqiqi) is impossible to be found. Impossibility is not for Allah, therefore those who see majāz equal to a lie reject the notion of majāz in the Quran. For those who consider majāz to be in the Quran do not see majāz as a lie due to its unreal meaning. The use of majāz does not necessarily indicate the lackness of Allah, but it shows rather the shortage of human language, that is the shortage of its descriptive function. Majāz style is used to express abstract meanings, such as beauty, dignity, mighty and so on. Using words for metaphorical meanings allows people to express their imagination in broad range by using the language symbols- This is one of language functions. Another aspect function of language is transformative function. This allows people to transform anything they read or hear concerning any aspects outside themselves into their mind in a form of symbols acquainted to them. The transformation is done by comparing the new knowledge with the old one already existed in their mind. Here, the metaphorical process occurs. Finally, it can be said that the use of majāz in the Quran is not merely language flower, or even a lie, but it is a need; a need of expression and understanding. The discussion around this problem is more complex because of the different views on the meaning of majāz and the functions of language. If this issue can be solved. the debate on majāz in the Quran can be reduced.
Ẓāhira Ḥaraka al-Ṣhibān al-Nahḍīyya al-Fikrīyya Dirāsah an Majmu’I al-Dirāsāt al-‘Islāmīyya al-‘Itimā’īyya (LKiS) bi Yogyakarta M Mahasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.166-181

Abstract

In 1989 a group of students in Yogyakarta, who were brought up in the traditional Islam, managed to arrange several meetings to discuss some issues of Islam and especially Nahdlatul UIama. The success of the meetings pushed them to establish an institute wherein they could realize their dreams of the amelioration of the condition in which they and the other children of Nahdlatul Ulama live. Thus they stablish LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial or Institute for Islamic and Social Studies). Their activities fall into three categories: (l) research, (2) publication and (3) study, education and training. It is interesting to note that they have published books contain of ideas far from being traditional, but some of them offer radical transformation of Islamic understanding and praxis. In this article the writer tries to answer questions on the underlying reasons for their somewhat controversial al activities, their endurance and their traditionality. [Beberapa anak muda di Yogyakarta yang dibesarkan di kalangan Islam "tradisional" keti ka berhadapan dengan persoalan-persoalan zaman yang berubah dengan cepat dan menyadari kekurangan perlengkapan keahlian dan pengetahuan untuk dapat terlibat secara aktif dalam percaturan dunia modern, melakukan berbagai kegiatan yang semula tidak jelas bentuknya, namun kemudian ada di antaranya yang menjadi lembaga atau organisasi yang dapat melakukan kegiatan yang berarti. Di antaranya, yang dikaji dalam tulisan ini adalah kelompok diskusi yang lahir pada tahun 1989Yang terdiri Dari beberapa mahasiswa PMII dari IAIN Sunan Kalijaga, UGM dan UII. Setelah melewati penyaringan alamiah sejalan dengan waktu mereka yang bertahan berhasil membentuk suatu Lembaga yang diberi nama LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial). Ada tiga bidang kegiatan yang mereka geluti, yakni (l) penelitian, (2) penerbitan dan (3) pengkajian, pendidikan dan pelatihan. Yang sangat menarik untuk dilihat adalah bahwa mereka menerbitkan buku-buku (terjemahan, kumpulan artikeVmakalah atau Buku yang memang Diitulis dalam bahasa Indonesia) yang di antaranya mengritik praktek-praktek ajaran Islam. Ini menarik karena mereka dibesarkan di kalangan "tradisional" (atau kolot?) yang selama ini dianggap anti pembaharuan. Pikiran-pikiran yang dituangkan dalam buku-buku yang mereka terbitkan justru memberikan nuansa pembaharuan. Mengapa mereka melakukan Tindakan seperti itu,bagaimana dengan ke-NU-an mereka? Apakah mereka dapat bertahan dalam kegiatan itu? Itulah antara lain yang dibahas dalam tulisan ini.]
Hasbullah Bakry and The Refutation of Christianity in Post-Colonial Indonesia Ismatu Rofi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.273-284

Abstract

Hubungan Islam-Kristen di Indonesia sedikit banyak telah menarik perhatian para sarjana Barat maupun sarjana lndonesia sendiri. Salah satunya adalah Hasbullah Bakry. Pria kelahiran 25 Juli 1926 di Palembang ini berasal dari keluarga terpelajar yang agamis yang mengelola sebuah pesantren di Muaradua, Palembang Sumatra Selatan. Pemahaman Hasbullah Bakry terhadap Kristen merupakan pemahaman seorang Muslim yang selalu mengkaitkan dan mendasarkan persepsi intelektualnya kepada ayat-ayat Qur'an tentang Kristen. Hasbullah Bakry telah berusaha mengetengahkan pandangannya  tentang Kristen melalui tulisan-tulisannya yang berbeda cara pandangnya dengan para pemikir sebelumnya. Salah satu pendapatnya antara lain menguraikan eratnya hubungan keluarga antara nabi Ismail yang dianggap pembentuk bangsa Arab dengan Nabi Ya'kub, yang dianggap bapak bangsa Israel. Tulisan ini berusaha menggambarkan perkembangan Kristen di Indonesia sejak pertama kali datang di Indonesia sampai saat ini serta hubungan Islam-Kristen yang pada kenyataannya sangat kompleks. Tanpa mengesampingkan pembahasan mengenai polemik yang terjadi diantara pemeluk Islam dan Kristen terutama para sarjananya, Hasbullah Bakry telah berusaha memberikan solusi yang mungkin dapat diterima kedua belah fihak mengenai persepsi umat Islam terhadap ajaran-ajaran Kristen yang banyak menimbulkan polemik maupun persoalan hubungan keagamaan yang kompleks antar pemeluk Islam dan Kristen.
The Image of The Prophet In Ibn Sīnā’s Thought Fatimah Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.82-103

Abstract

Artikel ini menganalisa gambaran tentang Nabi Muhammad dalam pandangan salah seorang filosof Muslim terbesar, Ibn Sinā. Penelitian tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran tersebut secara menyeluruh sebagaimana yang dapat kita temukan dalam karya-karya lbn Sinā, tetapi hanya dibatasi pada dua karyanya, yaitu Fī Ithbāt al-Nubuwwat  dan Metaphysics x (al-Ilāhiyyāt) dalam at-shifā’,dengan merujuk pada beberapa tulisannya yang terkait. Kedua karya tersebut menyajikan dua ekspresi yang berbeda atas Nabi. Dalam karyanya yang pertama, Ibn sinā menggunakan terma-terma yang sangat filosofis untuk menggambarkan sosok Muhammad, walaupun dia juga tidak menafikan bahasan agamis. Memang benar bahwa tujuan ditulisnya risalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang argumentasi logis dan bukti dialektis atas eksistensi Nabi sehingga terkesan bahwa bisa jadi Ibn Slna sendiri tidak percaya akan bukti atas kenabian secara filosofis. Tetapi jika kita cermati lebih jauh, kondisi Ibn Sinā sendiri sebagai Muslim yang sekaligus seorang filosof sebenarnya ikut membentuknya untuk menghadirkan gambaran tentang Muhammad secara filosofis sekaligus Islamis. Gambaran Nabi sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dan sebagai pemelihara hukum Allah bagi kesejahteraan manusia nampak secara jelas dalam karyanya yang kedua. Dengan merujuk pada kehidupan sosial, Ibn Sinā menggambarkan bahwa Muhammad harus menentukan hukuman dan larangan untuk mencegah ketidak taatan terhadap hukum Tuhan, serta membina kehidupan moral. Jelaslah bahwa figur Nabi di sini digambarkan secara lebih relijius. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa sosok Muhammad muncul secara berbeda pada dua risalah tersebut. Kita melihat bahwa definisi tradisional tentang peran Nabi tidak dapat memuaskan Ibn Sinā sebagai seorang filosof, sehingga dalam tulisan yang pertama ia lebih menghadirkan figur Muḥammad secara filosofis. Dalam tulisan kedua" nampak bahwa sebenarnya Ibn Sinā tidak dapat melepaskan diri dari kenyataannya sebagai seorang Muslim, sehingga ia perlu menjelaskan pada dirinya sendiri dan pada ummat Islam pada umumnya tentang peran Nabi sebagai seorang pemimpin sosial. Terlebih lagi lingkungan Islamnya "memaksa" Ibn Sinā untuk mengharmoniskan antara penyelidikan rasionalnya dengan ajaran-ajaran Islam.

Page 2 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

1997 1997


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue