cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "No 61 (1998)" : 15 Documents clear
Al-‘Ashālāh wa al-Mu’āshirah fī al-Dirāsāt al-‘Islāmīyya Tulus Mustofa
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.240-272

Abstract

Muslims today are suffered from rational crisis that may lead to the crises of muslim world in many aspects of life.  In order to protect and encourage their potentials and dynamism, the muslims have to get out of the   illness.  One of the ways to save them is by rethinking the methods of studying   Islam.  This particularly after the decline of muslims in almost all muslim countries as a result of the rise of Western thinking methods introduced by orientalists. Students who devoted themselves in Islamic studies find that there are two contradictive ways of approaching Islam; traditional and modern.  The traditionalists try to keep the existing approaches, while the reformists call for reform and even "westernization” In this field, there are books that have been written by scholars to synthesize them. In this paper, the writer tries to describe some of them analyzing their contents under the topic Traditionalism and Modernism in Islamic Studies.’’ The paper summarizes:The study of Islam carried out by muslim scholars has a close relation to religious mission, therefore they may not be separated theoretically as well as practically and must be separated from methods come from outside Islam.The   methods   of studying Islam in Islamic universities ought to combine   the traditional and modern ones.Some   elements of traditionalism are; the necessity of the knowledge of Islamic   civilization.  being proud of Islam, keeping the principles of Islam as well as the teaching of "salaf”’, then keeping the inherited tradition.The elements of modernism are; the importance of understanding the time, science. technology, future thinking and keeping human rights.This field of study is very broad and this paper is only a small part of it, so it needs suggestion from scholars especially experts of this field.[Mayoritas umat Islam saat   ini sedang     dilanda krisis pemikiran yang pada akhirnya membawa dunia islam kepada krisis diberbagai bidang. untuk dapat meningkatkan potensi dan dinamisme yang dimikiki umat Islam harus keluar dari situasi yang tidak menguntungkan ini. Di antara jalan keluar dari krisis ini adalah dengan memperbaiki metode studi Islam, khususnya setelah terjadinya kemunduran di bidang ini sebagai akibat dari munculnya pengaruh-pengaruh asing yang dibawah oleh para orientalis. Para   pelajar dan mahasiswa merasakan adanya dua arus yang saling bertentangan, yaitu antara   kaum tradisionalis yang mendukung tetap dijaganya metode kajian Islam yang telah ada dengan kaum reformis yang menyeruhkan   perubahan dan "westerisasi” yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan pada mereka.  Untuk menengahi persoalan ini banyak buku-buku yang telah   ditulis oleh para   ahli sebagai upaya memadukan kedua kutub tersebut. Dalam makalah ini penulis mencoba memunculkan beberapa buku mengenai bahasan ini dengan memberikan beberapa analisis yang terangkum dalam judul; "Tradisionalisme dan Modernisme dalam Studi Islam".  Di sini penulis memberikan beberapa kesimpulan:Ada benang merah yang   menghubungkan studi Islam yang dilakukan sekarang ini dengan misi   kenabian, oleh sebab   itu keduanya tidak boleh dipisabkan, baik   teori maupun praktek sebagaimana pula harus dipisahkan dari metode yang datang dari luar.Studi Islam di Perguruan Tinggi harus menggabungkan kedua metode; tradisional dan modem.Di   antara unsur-unsur tradisionalisme adalah; keharusan mengetahui peradaban Islam, bangga   dengan baju Islam, kembali kepada pokok ajaran Islam, menghidupkan  ajaran salaf serta  melestarikan tradisi. Adapun di antara unsur-unsur moderisme adalah;  keharusan mengetahui  kondisi  zaman,  mengetahui     ilmu pengetahuan, teknologi,  berpandangan futuristik serta  menjaga hak-hak asasi  manusia.Pada dasarya   kajian  ini sangatlah luas sementara tulisan  ini  masih sangat dangkal,  oleh sebab  itu kritikan serta  perbaikan  untuk pengembangan sangat diharapkan]
Social History Approach To Islamic Law M. Atho Mudzhar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.78-88

Abstract

Tulisan ini berangkat dari satu asumsi dasar bahwa hukum islam sesungguhnya bukanlah system hukum matang yang dating dari langit dan terbebas dari alur sejarah manusia. Sebagaimana system-sistem hukum yang lain, hukum islam tidak lain adalah hasil dari interaksi manusia yang berarti pula subjek untuk adanya satu perubahan. Pemahaman seperti inilah yang menjadi dasar pendekatan sosio-historis terhadap kajian hukum islam. Cara pendekatan terhadap hukum islam yang lebih mempertimbangkan variable-variabel social dan sejarah yng mempengaruhi pembentukan system hukum islam ini sesungguhnya merupakan keharusan mengingat kenyataan penampilan hukum islam itu sendiri di berbagai belahan negara islam yang tidak seragam sebagai akibat dari factor-faktor sosio-kultural dan sosio-politikal yang melingkupinya. Dalam tulisan ini empat produk literatur hulum islam ditmpilkan yaitu: Fikh, putusan-putusan pengadilan agama, hukum dan peraturan yang dikeluarkan dalam negara-negara islam dan fatwa-fatwa para ulama. Terlepas dari perbedaan karatristik yang ditampilakn oleh masing-masing literatur, keempat produk ini mengarah kepada suatu bukti epistemologis yang sama bahwa hukum islam pada kenyataannya tidak resisten dari pengaruh-pengaruh social yang melingkupi perkembangannya. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam tataran subtantif hukum islam diberbagai belahan dunia islam menjadi penguat dari fakta bahwa hukum islam pada dasarnya merupakan resultante dari interaksi antara para ulama dan factor-faktor social yang ada disekitarnya. Klaim bahwa hukum islam sebagai hukum sacral yang tidak bisa berubah dengan demikian tidak dapat dipertahankan lagi.
Saadoe'ddin Djambek Dan Pemikirannya Tentang Hisab Susiknan Azhari
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.159-180

Abstract

It is worth to recognize that Indonesia, as a nation with its diversity including the diversity of the methods of hisab (method of measuring the sun and the   moon positions), needs openness and objective thinking.  Only with both openness and objective thinking, everyone belongs to a certain school of thinking understands others' methods for their differences and similarities.  Through understanding the different methods an appreciation to other methods will come to rise: This paper tries to analyses   Saadoe’ddin Djambek thought of hisab which covers hisab on queblat (Ka'ba/direction), time for prayers   and the beginning of a new month.  Furthermore, this paper focuses on the characteristics of his concepts of hisab, approaches and method used in formulating bisab theories, and the influence of astronomy on his way to build hisab paradigm. After analysing his works, it can be concluded that Djambek's thought of hisab is a creative synthesis that combines the methods of hisab experts and Djalaluddin from hisab experts and Prof. Dr. G.B.  Van Al-bada from astronomers. Saadoe'ddin Djambek has been influencing hisab thought in Indonesia, although   there    are some problems that often emerge.
Preliminary Remarks On The Philosopy of Islamic Religious Science M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.1-26

Abstract

Dari sudut pandang filsafat Ilmu, penerapan istilah “science” dalam Islamic religious science merupakan hal yang dapat diperdebatkan, bahkan cukup kontroversial. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “dapatkah diskusi serius dalam filsafat Ilmu (philosophy of Science) diterapkan dalam pembahasan Islamic Religious Science (ilmu-ilmu keislaman)?” Artikel ini mencoba menganalisis konsekuensi-konsekuensi dari dimasukkannya diskusi filsafat ilmu dalam tubuh Islamic religious science, berangkat dari kenyataan tidak adanya pemikir kontemporer muslim yang menganalisis persoalan tersebut. Sebagai langka awal, perdebatan filosofis antara tiga pakar filsafat ilmu yaitu Karl R. Popper, Thomas Kuhn dan Imre Lakatos tentang konsep “science” diangkat, untuk selanjutnya dilihat relevan-sinya bagi Islamic religious science. Lebih spesifik, artikel ini menyoroti hubungan antara Islamic Religious Science dengan research programnya Imre Lakatos, dan menggarisbawahi bahwa rekonstruksi Islamic Religious science adalah dalam wilayah historical Islam. Satu hikmah terpenting yang dapat dipetik dari perdebatan diatas adalah penegasan bahwa semua teori, konsep formula, prinsip-prinsip dalam Islamic science hanyalah merupakan produk manusia, masyarakat dan budaya semata. Lewat kesadaran inilah ilmu-ilmu keislaman tersebut terbuka untuk dipertanyakan ulang, dirumuskan Kembali sesuai dengan tantangan jaman yang mengitarinya. Persoalan yang muncul kemudian adalah adanya hambatan dari para peneliti sendiri yang mencemaskan apakah mereka mengadakan studi keislaman atau sesuatu yang lain. Sosok Islamic Religious science yang baru (setelah dihubungkan dengan philosophy dan sociology of knowlage) harus mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh tiga demensi pendekatan atas agama Islam yaitu: linguistic-historical, theological-philosophical dan Socio-anthropological. Yang lebih penting lagi, hubungan antara tiga pendekatan ini haruslah bersifat sirkular dalam arti bahwa pendekatan multi-dimensi tersebut harus berdialog antara yang satu dan lainnya secara serius sebagai sebuah kesatuaan entitas dengan seluruh implikasi dan konsekuensinya.sebagai kesimpulan, ilmu keislaman yang kritis hanya dapat dikonstruksikan secara sistematis lewat model pendekatan tiga dimensi yang bersifat sirkular dalam mana setiap dimensi dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan yang lain. Dengan jalan inilah konteks penemuan (discovery) dalam Islamic religious science dapat berkembang dan konteks justifikasinya dapat ditekan serendah mungkin.
Literary Interpretation of The Qur’an; A study of Amin al-khuliis Thought Mohammad Nur Kholis Setiawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.89-105

Abstract

Metode para ahli tafsir dalam menafsirkan Al-Qur'an berbeda antara satu dengan lainnya.  Masing-masing memiliki kelebihan dan sudah barang tentu mengandung   kelemahan.  Metode komprehensif hingga hari ini masih merupakan cita-cita yang belum dapat terealisir.  Padahal umat tengah   menanti hasil tafsir komprehensif terhadap Al-Qur'an.  Dalam makalah ini, Nur Kholis Setiawan menawarkan metode literer Amin Al- Khūli untuk menyingkap makna Al-Qur'an.  Sulit memahami makna yang sebenarya dari ayat-ayat Al-Qur'an tanpa menerapkan metode literer, seperti   yang diusulkan    oleh Al-Khūli ini.  Al- Khūli menganggap Al-Qur'an sebagai kitab al-'arabiyya al-akbar.  Kalau   Al-Qur'an dianggap sebagai kitab suci berbahasa Arab, maka   konsekuensi logisnya adalah bahwa Al-Qur'an harus didekati dengan ilmu bahasa Arab dan sastranya untuk dapat memahami makna yang sebenarnya, yang disebut Al- Khūli sebagai pendekatan literer. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk menyingkap pesan Al-Qur'an dari dalam (intrinsik) dan menolak pengaruh pemahamana dari luar. Konsisten dengan pendekatan yang ia kemukakan, Al-Khūli menolak tafsir 'ilmī yang tidak ada relevansinya dengan aspek bahasa dan sastra (adabī). Metode Al-Khūli ini kemudian   diterapkan oleh muridnya, yang kemudian menjadi istrinya, yaitu 'Ā'ishah   'Abd Rahman, yang dikenal dengan nama samarannya Bint al-Shāti'.  Ia menulis dua jilid tafsir Al-Qur'an atas surat-surat pendek yang berjudul al-Tafsīr al-Bayānī li al-Qur'an al-karim dengan metode literer Amin Al- Khūli. 

Page 2 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

1998 1998


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue