cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 62, No 2 (2024)" : 7 Documents clear
Expanding Religious Freedom Through Organizational Forms: Kebatinan, Sufism and The Global Growth Movement in Indonesia’s Spiritual Training Industry Muttaqin, Ahmad; Sulistiyanto, Priyambudi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.363-385

Abstract

In Indonesia, the practice of religious freedom remains deeply contested, with marginal spiritual movements often subject to stricter limitations than their officially recognized counterparts. This paper investigates two hybrid spiritual groups in contemporary Indonesia, Bhakti Nusantara and Bionergi, based in Yogyakarta, which integrate elements of Javanese spiritual traditions (Kebatinan), Sufism, and facets of the Global Growth Movement. Despite their syncretic practices, these organizations occupy a distinctive social position that grants them greater latitude in religious and spiritual expression. By comparing them with other fringe spiritual movements that have faced criticism and blasphemy charges, this paper argues that their status as spiritual or religious corporations enables them to enjoy broader freedoms. This distinction highlights the complexities of religious freedom and its dynamic governance in Indonesia, where the legal and social treatment of spiritual groups can vary significantly depending on their organizational shape and social location.[Di Indonesia, praktik kebebasan beragama tetap menjadi isu yang masih sering diperdebatkan dan gerakan spiritual marginal sering kali mendapat tantangan yang lebih berat dibandingkan kelompok keagamaan resmi. Makalah ini mengkaji dua kelompok spiritual hibrida di Indonesia kontemporer, Bhakti Nusantara dan Bionergi, yang berbasis di Yogyakarta, yang mengintegrasikan elemen tradisi spiritual Jawa (Kebatinan), Tasawuf, dan elemen-elemen dari Global Growth Movement. Meskipun bersifat sinkretik, dua kelompok ini mempunyai posisi sosial unik. Konfigurasi organisasi yang unik memberi mereka kebebasan yang lebih luas dalam mengekspresikan praktik keagamaan dan spiritual. Dibandingkan dengan gerakan-gerakan spiritual pinggiran lain yang sering mendapat kritik dan tuduhan penodaan agama, dua kelompok ini dengan status sebagai korporasi spiritual mendapat kebebasan yang lebih luas. Temuan ini menandakan kompleksitas dan dinamika tata kelola kebebasan beragama di Indonesia, bahwa ragam perlakukan kebebasan yang didapat secara sosial dan legal suatu kelompok spiritual turut ditentukan oleh bentuk organisasi dan lokasi sosialnya.]
Western Qur’anic Studies in Indonesian Islamic Universities: Responses, Contestations, and Curriculum Politics Rahman, Yusuf; Nurtawab, Ervan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.337-361

Abstract

This article examines how lecturers of Qur’anic Studies at five Indonesian Islamic universities engage with Western scholarship on the Qur’an. Drawing on fieldwork conducted at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Imam Bonjol Padang, and UIN Bukittinggi, the study investigates how faculty members negotiate the incorporation of Western approaches in their academic programs. The article also engages with recent academic literature to reinforce its contemporary relevance. Our findings suggest that although there is a general openness to Western methodologies, significant tensions persist, particularly regarding the design of curricula. Influential figures within these departments have shaped what they view as an appropriate orientation for students, revealing competing visions between two educational aims: (1) engaging with Western academic approaches to the Qur’an and tafsīr, and (2) mastering Qur’anic knowledge for Islamic missionary purposes.[Artikel ini mengkaji pandangan para dosen Ilmu al-Qur’an di Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dari lima Universitas Islam Negeri terhadap keilmuan Barat tentang al-Qur’an: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Imam Bonjol Padang, dan UIN Bukittinggi. Data yang dianalisis dalam studi ini diperoleh melalui kunjungan lapangan ke lima program studi tersebut. Selain itu, artikel ini juga berinteraksi secara kritis dengan literatur akademik mutakhir, sehingga memperkuat posisinya dalam wacana keilmuan kontemporer. Kami berargumen bahwa meskipun terdapat kecenderungan kuat di program studi tersebut untuk menerima keilmuan Barat untuk kajian al-Qur’an, muncul pula sejumlah keberatan yang turut memengaruhi arah dan pengembangan kurikulum program studi. Beberapa figur yang dominan dan berpengaruh di lingkungan program studi memainkan peran penting dalam merumuskan kurikulum yang mereka anggap paling sesuai bagi mahasiswa Ilmu al-Qur’an. Perdebatan muncul terkait pencapaian dua tujuan pembelajaran utama antara: (1) memahami dan menerima pendekatan keilmuan Barat dalam studi al-Qur’an dan tafsir; atau (2) menguasai pengetahuan keislaman yang mendalam mengenai al-Qur’an dan tafsir untuk kepentingan dakwah Islam.]
Fiqh-Based Social Transformation in Farmer Empowerment: A Participatory Action Research Approach Fanani, Muhyar; Pohl, Florian
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.305-335

Abstract

A key challenge in contemporary Islamic jurisprudence (fiqh) is its practical application to socio-ecological issues, such as sustainable agriculture and poverty alleviation. While Mas’udi’s Fikih Transformatif (Transformative Fiqh) offers a critical-emancipatory framework, it remains understudied, with some scholars questioning its feasibility. This study bridges that gap by examining three key questions: (1) What theological principles underpin transformative fiqh? (2) How can it be operationalized to empower farmers? and (3) How does it inform eco-farming practices? Applying a law and society approach alongside a year-long Participatory Action Research (PAR) study, this research engaged Indonesian farmers in implementing transformative fiqh through three mechanisms: (1) Quranic and Sunnah-based agrarian ethics; (2) the operationalization of maṣlaḥah (public benefit) via a transition to sustainable agroecological methods; and (3) farmer-led action plans for equitable resource management. Findings suggest that transformative fiqh, deeply rooted in Islamic theology, can structurally empower farmers while fostering eco-farming. This study offers a practical model for integrating faith-based values into participatory development.[Tantangan utama dalam fikih kontemporer adalah bagaimana menerapkannya pada isu-isu sosial-ekologis, seperti pertanian berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan. Untuk itu, Masdar F. Mas’udi menawarkan Fikih Transformatif dengan kerangka kerja emansipatoris-kritis, namun tawaran tersebut masih kurang diteliti, bahkan ada yang mempertanyakan kelayakannya. Tulisan ini mengisi kesenjangan tersebut dengan melihat tiga isu utama: (1) prinsip teologis yang mendasari fikih transformatif, (2) operasionalisasi fikih transformatif untuk pemberdayaan petani, dan (3) penerapan fikih transformatif pada pertanian ramah lingkungan. Dengan pendekatan hukum dan masyarakat dalam bentuk Penelitian Aksi Partisipatif (PAR) selama setahun, penelitian ini melibatkan petani dalam menerapkan fiqh transformatif melalui tiga Langkah pokok: (1) internalisasi etika agraria berbasis al-Qur’an dan Sunnah; (2) operasionalisasi maṣlaḥah berbasis maqasid al-syari‘ah melalui transisi ke metode agroekologi berkelanjutan; dan (3) rencana aksi mandiri untuk pengelolaan sumber daya yang adil. Penelitian ini menunjukkan bahwa fiqih transformatif, yang berakar kuat dalam teologi Islam, dapat memberdayakan petani secara struktural sekaligus mendorong pertanian ramah lingkungan. Penelitian ini menawarkan model praktis untuk mengintegrasikan nilai-nilai berbasis agama ke dalam pembangunan partisipatif.]
Negotiation Identity and Religious Expression in Early Childhood: A Case Study of SDITs in Lombok, Indonesia Witriani, Witriani; Triantini, Zusiana; Muhrisun, Muhrisun; Emawati, Emawati
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.277-303

Abstract

In recent years, Integrated Islamic Elementary Schools (Sekolah Dasar Islam Terpadu, SDIT) have witnessed significant expansion, particularly in Indonesia’s urban areas. Targeting urban professionals and the upper-middle class, these institutions present a novel educational model that integrates secular and religious instruction. This movement actively disseminates broader Islamic symbols to the public while conducting specific experiments, such as the Islamization of formal education. Notably, several SDITs, classified as elite elementary schools in Lombok, West Nusa Tenggara, exhibit distinct teaching methodologies and incorporate ideological elements that diverge from those commonly found in public elementary schools, which are often perceived as more inclusive. Employing Michel Foucault’s concept of narrative and his framework of power-knowledge as an analytical lens, this study identifies the integration of these schools’ curricula as a significant marker of the emergence of a “new style of Islam” within Indonesia’s educational landscape. This evolving religious paradigm is characterized by an accelerated incorporation of Islamic symbols and the narratives of Post-Reform Islam, including pedagogical approaches that emphasize the teaching of “kaffah” Islam and the cultivation of religious identity from an early age. Educational institutions interpret this transformation favorably, viewing it as an intersection of economic, ideological, and religious opportunities.[Dalam beberapa dekade terakhir, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) telah mengalami perkembangan signifikan, khususnya di kawasan perkotaan Indonesia. Lembaga pendidikan ini menyasar kalangan pekerja urban dan kelas menengah atas dengan menawarkan pendidikan model baru yang mengintegrasikan pendidikan umum dan agama. Gerakan ini secara aktif memperkenalkan simbol-simbol Islam yang lebih luas kepada masyarakat, sekaligus menawarkan pengalaman khas, seperti islamisasi pendidikan formal. Secara khusus, beberapa SDIT yang dikategorikan sebagai sekolah dasar elit di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menerapkan metode pengajaran yang unik dengan memasukkan unsur ideologi yang berbeda dibandingkan dengan sekolah dasar negeri, yang sering dianggap lebih inklusif. Dengan menggunakan konsep narasi Michel Foucault serta kerangka kerja power- knowledge sebagai alat analisis, penelitian ini menemukan bahwa integrasi kurikulum di SDIT merupakan salah satu indikator penting dari munculnya “Islam model baru” dalam lanskap pendidikan di Indonesia. Paradigma keagamaan yang berkembang ini ditandai oleh akselerasi penggunaan simbol- simbol Islam serta narasi Islam Pasca-Reformasi, termasuk pendekatan pedagogis yang menekankan pengajaran Islam “kaffah” serta pembentukan identitas keagamaan sejak usia dini. Institusi pendidikan membaca perubahan ini secara positif, melihatnya sebagai peluang ekonomi, ideologi, dan keagamaan yang menguntungkan.]
Purifying the Faith, Acting for Progress: Reinterpreting Muhammadiyah Kim, Hyung-Jun
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.241-276

Abstract

This paper investigates Muhammadiyah, specifically exploring the intricate relationship between purification and social activism and addressing the interpretive challenges inherent in their connection. It posits that ijtihad and progress, fundamental to Muhammadiyah’s theological underpinnings, broaden the understanding of purification beyond mere adherence to the Scriptures, aligning purification with the necessity of adapting to contemporary developments. The initial sections of the paper analyze Suara Muhammadiyah to shed light on the organization’s early theological framework that seamlessly integrates purification, social activism, ijtihad, and progress. Subsequent sections, drawing on diverse research findings, explore the evolution of these concepts and their implementations throughout Muhammadiyah’s history. The paper concludes that the fusion of ijtihad and progress has fostered diverse approaches to purification, reflecting various cultural and social contexts. This synthesis has prevented stagnation in the realm of social activism and infused it with vitality and dynamism.[Tulisan ini mengkaji ormas Muhammadiyah, khususnya tentang hubungan rumit antara pemurnian dan aktivisme sosial serta penafsiran-penafsiran dalam hubungan keduanya. Studi ini mengemukakan bahwa ijtihad dan kemajuan, yang merupakan landasan teologis Muhammadiyah, memperluas pemahaman tentang pemurnian lebih dari sekedar ketaatan pada kitab suci, tetapi menyelaraskan pemurnian dengan kebutuhan untuk beradaptasi dengan perkembangan kontemporer. Bagian awal makalah ini menganalisis Suara Muhammadiyah, menyoroti kerangka teologis awal organisasi yang mengintegrasikan pemurnian, aktivisme sosial, ijtihad, dan kemajuan. Bagian selanjutnya mengeksplorasi evolusi konsep-konsep tersebut dan implementasinya sepanjang sejarah Muhammadiyah, dengan memanfaatkan beragam temuan penelitian. Makalah ini menyimpulkan bahwa perpaduan ijtihad dan kemajuan telah mendorong beragam pendekatan terhadap pemurnian, yang mencerminkan berbagai konteks budaya dan sosial. Sintesis ini telah mencegah stagnasi di bidang aktivisme sosial serta menanamkan vitalitas dan dinamisme di dalamnya.]
Negotiating Salafi Islam of Hang Radio: Responses of Active Muslim Audiences to Hang Radio in Batam, Indonesia Rosidi, Imron
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.387-408

Abstract

Salafi groups have garnered a significant urban following in Indonesia. However, in religiously diverse contexts --particularly urban centers-- the extent to which Salafi teachings are fully embraced remains uncertain and often prompts critical engagement. This article investigates how active Muslim listeners respond to daʻwah programs aired by Hang Radio, a Salafi-affiliated radio station based in Batam. It argues that these audiences are not passive recipients but rather active and discerning participants who negotiate the religious messages they encounter. The study identifies a spectrum of responses: while some listeners resonate with and adopt Salafi practices, others reject specific elements of the messaging. Such responses reflect a pattern of critical engagement, wherein audiences selectively accept or dismiss particular aspects of the content. The findings indicate that, although Salafi messaging aligns with urban preferences for clarity, simplicity, and immediacy, listeners nevertheless engage in interpretive negotiation. This critical stance reflects a broader communal disposition to maintain continuity with long-established religious understandings and practices in Batam, which constitute a core dimension of their religious habitus.[Kelompok Salafi telah membangun basis pengikut yang signifikan di kawasan perkotaan. Namun, dalam konteks yang ditandai oleh keberagaman keagamaan seperti di wilayah urban, sejauh mana ajaran Salafi dapat diterima sepenuhnya tetap menjadi pertanyaan dan dapat memicu sikap kritis dari masyarakat. Artikel ini mengkaji respons pendengar terhadap program dakwah yang disiarkan oleh Hang Radio, sebuah stasiun radio yang berafiliasi dengan gerakan Salafi di Batam. Artikel ini berargumen bahwa para pendengar Muslim Hang Radio bukanlah penerima pasif, melainkan aktor yang aktif dan kritis dalam menegosiasikan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan. Studi ini menemukan adanya spektrum respons: sebagian pendengar menunjukkan keterpautan dengan praktik keislaman Salafi dan menerimanya, sementara yang lain menolak sebagian isi pesan tersebut. Respons ini mencerminkan keterlibatan kritis, di mana pendengar secara selektif menerima atau menolak elemen-elemen tertentu dari siaran yang disuguhkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun pesan-pesan Salafi sesuai dengan preferensi masyarakat perkotaan yang mengutamakan kejelasan, kesederhanaan, dan kepraktisan, para pendengar tetap melakukan negosiasi interpretatif. Sikap kritis ini mencerminkan suatu kecenderungan komunitas yang berakar pada keinginan untuk tetap konsisten dengan pemahaman dan praktik keagamaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun di Batam, yang menjadi bagian integral dari habitus mereka.]
The Epistemological Reading of Religious Knowledge in the Thought of ʻAbd Al-Karīm Soroush Mokhtari, Omar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.409-437

Abstract

This study explores the epistemological dimensions of religious reform advanced by ʻAbd al-Karīm Soroush within the framework of ʻilm al-kalām al-jadīd (modern Islamic theology). It examines how Soroush conceptualizes the relationship between religion (al-dīn) and religious knowledge (al-maʻrifah al-dīniyyah), positing that the latter is inherently dynamic, historically situated, and epistemologically contingent. At the heart of his framework lies the assertion that religious knowledge is not fixed but evolves in tandem with developments in human understanding, cultural contexts, and scientific progress. Employing both epistemological and hermeneutical methodologies, this study analyzes Soroush’s engagement with contemporary philosophy, science, the human sciences, and Islamic mysticism (ṣūfism). It argues that Soroush advocates a clear distinction between the divine essence of religion and the human endeavor to understand it—an approach that challenges absolutist readings of scripture and affirms the relative, interpretive nature of religious knowledge. Furthermore, the study highlights Soroush’s acknowledgment of the interdependence between religious and non-religious forms of knowledge, emphasizing their mutual borrowing and discursive entanglement. His intellectual orientation reveals a deliberate engagement with the foundational critiques of Western modernity, particularly those articulated by reformist Christian theologians and philosophers. This is most evident in his seminal works al-Qabd wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah (The Expansion and Contraction of Religious Knowledge) and al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm (The Straight Paths), which articulate a sophisticated vision of reform grounded in both tradition and critical modern thought.[Tulisan ini mengkaji hakikat pembaharuan dalam warisan keagamaan yang diserukan oleh ʻAbd al-Karīm Soroush dalam lingkup ilmu kalam kontemporer. Fokus utamanya adalah menyingkap berbagai bentuk pendekatan terhadap agama dan pengetahuannya, serta bagaimana pemikir ini mengkaji pengetahuan keagamaan dengan perangkat epistemologis dan hermeneutik untuk membaca, membedah, dan menganalisis pengetahuan manusia, dalam rangka menangkap dimensi yang tetap dan yang berubah dalam agama. Penelitian ini juga menekankan prinsip dasar bahwa pengetahuan keagamaan bersifat dinamis dan senantiasa mengalami transformasi. Dengan pembacaan kritis terhadap konsep dīn (agama) dan al- maʻrifah al-dīniyyah (pengetahuan keagamaan), penelitian ini memanfaatkan pendekatan epistemologis dan hermeneutik, serta temuan ilmu pengetahuan dan filsafat kontemporer, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, serta tasawuf Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ʻAbd al-Karīm Soroush menekankan pentingnya pemisahan antara agama dan pengetahuan yang lahir darinya. Pengetahuan keagamaan hanyalah salah satu bentuk dari pengetahuan manusia yang bersifat relatif dan --oleh karena itu-- senantiasa dapat berubah dan berkembang, karena merupakan hasil pemahaman manusia terhadap agama yang bersifat historis. Soroush juga menegaskan adanya keterkaitan erat antara pengetahuan keagamaan dan pengetahuan non-keagamaan, yang saling memberi dan menerima. Dengan demikian, proses memahami agama dan membaca teks-teks sucinya merupakan proyek yang bersifat relatif dan tidak mungkin mencapai kesempurnaan atau kebenaran absolut. Soroush berupaya mendekati agama dan pengetahuan keagamaan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dari modernitas Barat, sebagaimana yang telah diterapkan dalam teologi Kristen oleh para filsuf dan reformis sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam karyanya al-Qabḍ wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah dan al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue