cover
Contact Name
Teti Estiasih
Contact Email
-
Phone
+62341580106
Journal Mail Official
jpathp@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145 Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pangan dan Agroindustri
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26852861     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jpa
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2016)" : 48 Documents clear
STUDI DAYA CERNA (IN VITRO) BISKUIT TEPUNG UBI JALAR KUNING DAN TEPUNG JAGUNG GERMINASI [IN PRESS JANUARI 2016] Engganeyski Jana Claudia; Simon Bambang Widjanarko
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biskuit pada umumnya terbuat dari tepung terigu (gandum) yang hingga saat ini masih bergantung pada impor. Permasalahan tersebut diatasi dengan menggantikan gandum dengan bahan lokal antara lain tepung ubi jalar dan tepung jagung. Ubi jalar mememiliki kandungan protein yang rendah. Kandungan protein bisa diperoleh dari biji jagung yang digerminasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi pada biskuit. Penelitian menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 5 perlakuan diantaranya perbandingan proporsi tepung ubi jalar kuning : tepung jagung germinasi 50:50; 60:40; 70:30; 80:20; dan 90:10. Data hasil analisis diolah menggunakan program SPSS 17 kemudian diuji lanjut dengan DMRT (Duncan Multipe Range Test).  Perlakuan terbaik diperoleh pada proporsi tepung ubi jalar kuning : tepung jagung germinasi 90:10 yang memiliki karakteristik sebagai berikut: kadar air 2.44%, pati 80.38%, protein 5.32%, daya cerna pati 74.41%, daya cerna protein 50.81%, daya patah 7.47 N, tingkat kecerahan 74.82, lemak 5.37%, serat kasar 1.63%, karbohidrat 86.87%, dan abu 1.52%.   Kata Kunci: Biskuit, Jagung Germinasi, Ubi Jalar Kuning
KARAKTERISTIK FISIK-KIMIA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) [IN PRESS JANUARI 2016] Putu Ayu Chintia Devi Pendit; Elok Zubaidah; Feronika Heppy Sriherfyna
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun belimbing wuluh memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung tanin, flavonoid, dan saponin. Antibakteri dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami, yang dapat menghambat kerusakan pangan akibat aktivitas mikroba. Salah satu cara untuk memperoleh senyawa antibakteri dari daun belimbing wuluh adalah dengan metode ekstraksi maserasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sebanyak 2 faktor. Faktor I yaitu jenis pelarut (air dan etanol 70%) dan faktor II yaitu rasio bahan : pelarut (b/v) (1:4; 1:5; 1:6) diulang 3 kali. Data dianalisis menggunakan ANOVA kemudian dilakukan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan selang kepercayaan 5%. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan pelarut etanol 70% dan rasio bahan:pelarut (b/v) 1:5 memiliki nilai parameter rendemen 10.45%, total fenol 3.35%, pH 4.46, total padatan terlarut 59.67oBrix, aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus sebesar 13.13mm, nilai aktivitas antibakteri terhadap  Escherichia coli sebesar 8.63mm.   Kata kunci: Antibakteri, Daun Belimbing Wuluh, MaserasiE
POTENSI SENYAWA BIOAKTIF UMBI-UMBIAN LOKAL SEBAGAI PENURUN KADAR GLUKOSA DARAH: KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS JANUARI 2016] Olivia Yofananda; Teti Estiasih
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperglikemia merupakan kondisi kadar glukosa darah melebihi batas normal. Kondisi ini merupakan ciri utama pada penyakit diabetes mellitus. Apabila tidak segera ditangani, kondisi hiperglikemia dapat memicu komplikasi lainnya seperti gangguan mata, gangguan ginjal, gangguan syaraf serta gangguan kardiovaskuler. Salah satu alternatif dalam penanganan kondisi hiperglikemia adalah dengan konsumsi sumber makanan mengandung senyawa bioaktif misalnya umbi-umbian.Umbi-umbian lokal di Indonesia mengandung senyawa bioaktif polisakarida larut air, serat pangan dan diosgenin yang berpotensi dalam penurunan kadar glukosa darah. Polisakarida larut air dan serat pangan merupakan senyawa yang mampu meningkatkan viskositas makromolekul di dalam saluran pencernaan yang menyebabkan absorbsi glukosa darah menurun sehingga kondisi hiperglikemia dapat dicegah. Sedangkan senyawa diosgenin merupakan penghambat α-glukosidase dan α-amilase. Dengan konsumsi umbi-umbian yang mengandung senyawa bioaktif maka menurunkan potensi peningkatan kadar glukosa darah.   Kata kunci: Kadar Glukosa Darah, Senyawa Bioaktif, Umbi-Umbian
PENGARUH KENCUR (Kaempferia galanga L.) DAN MADU KELENGKENG (Nephelium longata L.) TERHADAP KARAKTERISTIKSPICE LEATHER [IN PRESS JANUARI 2016] Florentine Ekaristya; Widya Dwi Rukmi Putri; Nur Ida Panca Nugrahini
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan rimpang kencur dan madu kelengkeng terhadap karakteristik spice leather. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu proporsi rimpang kencur (12%, 15%, 18%) dan madu kelengkeng (10%, 20%, 30%). Spice leather dengan perlakuan terbaik adalah yang menggunakan proporsi rimpang kencur 18% dan madu kelengkeng 30% dengan karakteristik: total asam 1.09%, serat kasar 0.32%, total gula 44.5%, gula pereduksi 4.69%, total fenol 6352.3 ppm, flavonoid 2353.3 ppm, aktivitas antioksidan 62.49%, kadar air 24%, tekstur 4.8 mm/s, nilai pH 3.5, dan tingkat kecerahan (L*) 32.25. Hasil uji organoleptik spice leather perlakuan terbaik memiliki skor rasa 4.5 (agak menyukai); warna 5.05 (agak menyukai); tekstur 4.85 (agak menyukai); aroma 4.55 (agak menyukai); dan kelengketan 4.6 (agak menyukai).   Kata kunci: Leather, Madu Kelengkeng, Rimpang Kencur
PENGARUH IRADIASI GAMMA TERHADAP KADAR PROTEIN DAN MIKROBIOLOGIS DAGING AYAM BROILER PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN JAKARTA SELATAN [IN PRESS JANUARI 2016] Vindy Irmanita; Agustin Krisna Wardani; Harsojo Harsojo
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iradiasi merupakan teknologi non termal yang dapat mereduksi bakteri pembusuk dan pathogen pada bahan pangan seperti Eschericia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, Coliform dan Camphylobacter  jejuni pada daging ayam. Efektifitas iradiasi gamma dalam mereduksi bakteri dipengaruhi beberapa factor yaitu jenis bakteri, dosis iradiasi serta kondisi sebelum dan setelah iradiasi. Selain efektifitasnya dalam membunuh bakteri pathogen dan pembusuk teknologi iradiasi gamma dapat menjaga nutrisi, tekstur dan warna yang biasa ditimbulkan oleh pengawetan pangan konvensional (menggunakan panas).   Kata kunci: Bakteri Patogen, Daging Ayam, Iradiasi, Pasar Modern, Pasar Tradisional
POTENSI HEPATOPROTEKTOR UMBI-UMBIAN LOKAL INFERIOR: KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS JANUARI 2016] I Gusti Ngurah Pratama Putra; Teti Estiasih
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan fungsi hati kronik disebabkan salah satunya oleh kerusakan sel yang disebabkan oleh stres oksidatif. Stress oksidatif muncul akibat paparan radikal bebas dalam tubuh yang dapat bersumber dari induksi minyak jelantah. Hal seperti ini menyebabkan peroksidasi  lemak, rusaknya molekul lemak (fosfolipid) membran sel, rusaknya DNA dan oksidasi protein. Umbi-umbian lokal seperti umbi kimpul, umbi garut, ubi kelapa, umbi gadung dan umbi gembili mengandung karbohidrat tinggi dan tersebar di seluruh Indonesia. Selain mengandung karbohidrat tinggi, umbi-umbi tersebut mengandung dioskrorin, diosgenin dan fenol diyakini berfungsi sebagai antioksidan dan hepatoprotektor.   Kata kunci: Antioksidan, dioscorin, diosgenin, fenol, hepatoprotektor, stres oksidatif   ABSTRACT   Chronic liver function disturbance caused by damage to cell that caused by the oxidative stress. Oxidative stress emerges as a result of exposure from free radicals in the body which can be sourced from the induction of oxidized frying oil. It will lead to the breakdown of fats, fat proxydation molecules from cells membrane (phospholipids), DNA and protein oxidation. Local tubers such as arrowroot, lesser yam, water yam, wild yam, and cocoyam are high-carbihydrate local tubers that widely spreaded in Indonesia. Beside their high carbohydrate cimponent, that tubers also contains dioscorin, diosgenin, and phenol. Those bioactive compunds are believed to have some antioxidant activity and hepatoprotective effect. Keywords: Antioxidant, dioscorin, diosgenin, hepatoprotective, oxidative stress,    phenol
PENGENDALIAN KUALITAS NON DAIRY CREAMER PADA KONDISI PROSES PENGERINGAN SEMPROT DI PT. KIEVIT INDONESIA, SALATIGA: KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS JANUARI 2016] Henita Listianing Raji Putri; Addiena Hidayati; Tri Dewanti Widyaningsih; Novita Wijayanti; Jaya Mahar Maligan
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Non dairy creamer merupakan produk emulsi lemak dalam air yang terbuat dari minyak nabati dan digunakan sebagai bahan pengganti susu. PT. Kievit Indonesia merupakan salah satu industri makanan di Indonesia yang memproduksi non dairy creamer. Non dairy creamer berbentuk bubuk dan diproduksi menggunakan pengeringan semprot. Pengeringan semprot memiliki kondisi proses pengeringan, antara lain suhu inlet, suhu outlet, differential pressure, dan pressurenozzle. Kondisi proses pengeringan merupakan faktor yang mampu mempengaruhi kualitas non dairy creamer. Parameter kualitas produk non dairy creamer perlu untuk diperhatikan agar mendapatkan produk yang berkualitas tinggi parameter tersebut, antara lain bulk density dan white spot. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan parameter kualitas produk adalah pengendalian kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengendalikan kualitas produk non dairy creamer yang sering mengalami out of specification. Pengendalian kualitas ini dilakukan dengan beberapa metode yaitu Statistical Processing Control (SPC) dan Linear Discriminant Analysis (LDA).   Kata Kunci: Non Dairy Creamer, Pengendalian Kualitas, Pengeringan Semprot, PT. Kievit Indonesia
PENGARUH LAMA PELAYUAN DAN SUHU PENGERINGAN TERHADAP KUALITAS PRODUK APEL CELUP ANNA (Malus domestica) [IN PRESS JANUARI 2016] Galih Wiranata; Sudarminto Setyo Yuwono; Indria Purwantiningrum
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah apel merupakan buah dengan potensi ekonomi yang bagus. Tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi buah apel adalah mengolah buah apel menjadi berbagai macam produk olahan. Apel dapat diolah menjadi produk apel celup menggunakan metode pengeringan dan pelayuan. Metode pengeringan dan pelayuan menghasilkan apel celup yang tahan lama, kering, mengandung aroma dan rasa apel yang khas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan dan lama pelayuan terhadap kualitas apel celup Anna. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok. Faktor pertama adalah suhu pengeringan (60oC, 70oC, 80oC), faktor kedua adalah lama pelayuan (45 menit, 60 menit, 75 menit). Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT atau DMRT (α=5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah apel celup dengan suhu pengeringan 70oC dan lama pelayuan 60 menit.   Kata Kunci: Apel, Suhu Pengeringan, Lama Pelayuan, Apel Celup