cover
Contact Name
Zaqlul Iqbal, STP, M.Si
Contact Email
zaqluliqbal@ub.ac.id
Phone
+62341580106
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 2656243X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jkptb
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem (JKPTB) (ISSN: 2656-243X) has published the state-of-art articles which focus on both fundamental studies and applied engineering including Power and Agricultural Machinery, Mechatronics and Agro-industrial Machinery, Food and Post-Harvest Technology and Soil and Water Engineering. By providing an update issue and current topic in agricultural technology field, JKPTB becomes the reference for many scientist and stakeholders who work on Agricultural Engineering
Articles 423 Documents
Analisa Pengaruh Microwave Assisted Extraction (MAE) Terhadap Ekstraksi Senyawa Antioksidan Catechin Pada Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis) (Kajian Waktu Ekstraksi Dan Rasio Bahan:Pelarut) Muhammad Husain Kamaluddin; Musthofa Lutfi; Yusuf Hendrawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.955 KB)

Abstract

Teh (Camellia sinesis) merupakan suatu bahan minuman yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia, teh ialah suatu bahan pangan yang bisa diolah menjadi sebuah produk yang bernilai tinggi seperti dijadikan untuk minuman yang berkhasiat dan mampu mengurangi beberapa penyakit. Selama ini banyak cara yang telah dilakukan para peneliti untuk mendapatkan ekstraksi teh yang baik tanpa merusak kandungan antioksidan yang ada dalam teh, khususnya antioksidan catechin, catechin ini memiliki sifat penting seperti antimikroba karena menunjukkan kemampuan merusak sel dari sebagian mikroorganisme, antioksidan, memperkuat pembuluh darah, melancarkan sekresi urin, dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Pada penelitian ini menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Metode rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu waktu ekstraksi (W) yang  terdiri  atas 5 level  (120, 180, 240, 300, 360 detik)  dan  rasio pelarut  (P) yang  terdiri  atas  3  level  (25,  35, 45 ml). Dari hasil penelitian didapatkan kombinasi perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan volume pelarut 35 ml dan lama waktu 4 menit (P2W3), dengan karakteristik  kandungan catechin sebesar 56,322 % (1.54 mg/g) dan nilai rendemen sebesar 56,007 %.   Kata Kunci : Catechin, Daun Teh Hijau, Ekstraksi, Microwave Assisted Extraction (MAE)
Kajian Pembuatan Bumbu Dari Bawang Putih (Allium sativum) Dan Daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix) Menggunakan Pengering Tipe Rak Anninatul Fuadah; Sumardi Hadi Sumarlan; Yusuf Hendrawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.684 KB)

Abstract

Dalam upaya mempertahankan kualitas bawang putih dan daun jeruk purut serta kemudahan pengaplikasian bumbu ini dalam masakan maka dibutuhkan pengolahan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter fisik-kimia dari bubuk bawang putih dan daun jeruk purut, mendapatkan bubuk bawang putih dan bubuk daun jeruk purut yang terbaik, menciptakan produk bumbu yang mempunyai keunggulan kompetitif.  Berdasarkan hasil penelitian, variasi bahan dan suhu pengeringan memberikan pengaruh terhadap bubuk bawang putih dan bubuk daun jeruk purut. Hasil yang optimal pada penelitian pertama yakni bawang jawi pada suhu 70 oC (untuk uji fisik terbaik) dan bawang kating pada suhu 70 oC (untuk hasil uji AKG terbaik).  Pada perlakuan ini diperoleh nilai rerata rendemen sebesar 20.55%(bubuk bawang jawi) dan 22.12 (bubuk daun jeruk rawit), nilai rerata kadar air 2.74 (bubuk bawang jawi) dan 2.92 (bubuk daun jeruk rawit), tekstur 5.41 (bubuk bawang jawi) dan 4.93 (bubuk daun jeruk rawit), aroma 5.51 ( bubuk bawang jawi) dan  4.87 (daun jeruk  rawit) serta warna 5.60 (bubuk awang jawi) serta 5.25 (bubuk daun jeruk).Kata kunci: Bawang Jawi, Daun Jeruk Purut Rawit, Bubuk
Temperature Controlled Bioreactor : Teknologi Pengolahan Biokompos dari Kotoran Kambing Etawa di Kelompok Masyarakat (POKMAS) KALIANDRA, Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang Suroto suroto; Arifuddin arifuddin; Hernadi Septoaji Putranto; Vagga Satria; Roshida Wulandari; Gunomo Djojowasito; Yusron Sugiarto
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.365 KB)

Abstract

Desa Poncokusumo merupakan sentra agrobisnis di wilayah Malang setelah daerah Batu. Komoditas unggulan desa ini adalah buah apel dan beberapa produk holtikultura lainnya seperti tomat dan kubis. Letak geografis desa berada di dataran tinggi sekitar lereng kawasan Bromo Tengger Semeru (BMTS) dengan kondisi iklim yang sejuk yang sesuai untuk pengembangan sektor peternakan kambing etawa. Saat ini tidak kurang dari 50 peternak yang mulai merintis usaha peternakan kambing di kawasan Desa Poncokusumo dan tergabung dalam Kelompok Masyarakat (POKMAS) Kaliandra. Tujuan dari alat ini  yaitu, untuk mengatasi masalah kotoran kambing etawa di Kelompok Masyarakat Kaliandra, desa Poncokusuma. Selain itu juga untuk mengetahui pembuatan pupuk kompos dengan Temperature Controlled Bioreactor yang efektif dan efisien. Dan yang terakhir adalah sosialisasi dan pengembangan teknologi Temperature Controlled Bioreactor di Kelompok Masyarakat Kaliandra. Pembuatan kompos dimulai dari pengecilan ukuran bahan sehingga dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos. Kemudian tahap penyusunan tumpukan, bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecilan ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan, desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 1,2m x 1,75m. Namun dalam kondisi di lapang ukuran dimensi Bioreaktor menyesuaikan ukuran kebutuhan skala produksi sehingga kapasitas produksi lebih banyak. Setelah itu tahap pembalikan, pembalikan dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan. Setelah itu tahap penyiraman, secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan. Lalu tahap pematangan, setelah pengomposan berjalan 12-14 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
Pengaruh Hidrogen Peroksida dan Suhu Pendinginan Pada Proses Penyimpanan Jamur Merang Windri Cessari; Bambang Susilo; Sumardi Hadi Sumarlan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.879 KB)

Abstract

Jamur merang tumbuh di daerah tropis dan subtropis yang membutuhkan suhu dan kelembaban cukup tinggi untuk pertumbuhannya.Kerusakan jamur merang setelah panen umumnya disebabkan oleh kecepatan respirasinya yang sangat tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi hidrogen peroksida untuk penyimpanan jamur merang segar dan mengetahui hasil penyimpanan jamur merang segar yang telah diberi hidrogen peroksida. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor I adalah larutan hidrogen peroksida dengan 3 konsentrasi larutan yaitu 0,01%, 0,05%, dan 0,10%, Sedangkan faktor II adalah suhu yaitu 5ºC, 10ºC, dan 15ºC.  Kemudian dikemas dengan plastik polietilen ukuran 0,18 mm. Data yang diperoleh di analisa sidik ragamnya, bila terdapat perlakuan berbeda maka diuji dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk membandingkan nilai antar perlakuan. Dalam pelaksanaan penelitian ini dipilih jamur merang yang masih kuncup dan seragam warna serta ukurannya. Selanjutnya dilakukan sortasi, dicuci, kemudian ditiriskan selama 10 menit lalu ditimbang utuk setiap perlakuan ±50 g. Hasil analisa menunjukkan Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan konsentrasi larutan H2O2 0,01% dengan suhu 5ºC. Pada perlakuan ini dengan nilai tekstur 1.800 mm/dtk/gr, laju respirasi 71.639 ml.O2/kg.jam, kadar air 77,820 %., uji organoleptik warna 5.617, uji organoleptik kesegaran 5.650, dan susut berat 2.077 %. Dari perlakuan diatas dapat disimpukan bahwa pendinginan dengan suhu rendah dan penambahan hidrogen peroksida dengan konsentrasi yang bessar dapat menambah umur simpan pada jamur merang yang kualitasnya dapat diterima panelis.
Rancang Bangun Pengendali Intensitas Cahaya Pada Fotobiorektor Vertikal Nugroho Nimpuno; Musthofa Lutfi; Bambang Dwi Argo; Moch. Bagus Hermanto
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.621 KB)

Abstract

Fotobioreaktor vertikal merupakan alat simulasi untuk pengembangbiakan atau budidaya mikroalga. Dengan ada nya fotobioreaktor yang sudah ada, perlu adanya penyempurnaan terhadap alat itu sendiri. Fotobioreaktor yang ada akan disempurnakan yaitu adanya penambahan naungan (atap) dengan maksud untuk mengendalikan intensitas cahaya yang dibutuhkan pada pertumbuhan mikroalganya. Didalam mengetahui hasil yang terbaik dari alat pengatur naungan (atap) pada Fotobioreaktor ini maka diperlukan beberapa pengujian yaitu sensitivitas sensor cahaya dan pengujian pergerakan naungan (atap) Fotobioreaktor yang akan dilakukan di Laboratorium Workshop Mekatronika Agroindustri Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Pengujian sensitivitas dan pergerakan naungan dilakukan di Laboratorium dan dilaksanakan selama satu hari untuk mengetahui sensitivitas sensor cahaya Pengambilan dan pencatatan data dilakukan pada titik-titik ekstrim yang menunjukkan kondisi perubahan intensitas cahaya yaitu pada pukul 06.00 WIB, 09.00 WIB, 12.00 WIB, 15.00 WIB, 18.00 WIB. Pengambilan sampel pada jam tersebut dikarenakan waktu-waktu itulah terjadi perubahan intensitas cahaya secara ekstrim. Sejalan dengan pengujian tersebut, peengujian dengan pengembangbiakkan mikroalga jenis Chlorella sp. Grafik pertumbuhan mikroalga mengalami kenaikan semenjak hari pertama hingga hari keempat, kemudian grafik mengalami penurunan di hari kelima dan seterusnya. Intensitas cahaya yang tertinggi selama penelitian berlangsung yaitu 868 lux, rata – rata intensitas cahaya yaitu diantara 600 lux hingga 900 lux. Kemudian derajat bukaan naungan (atap) atau pergerakan yang terbesar yaitu 85˚. Terakhir yaitu kepadatan mikroalga Chlorella sp. yang tertinggi yaitu pada hari keempat sebesar 2,63 x 107 sel/ml.
Pengaruh Penambahan Tepung Porang (Amorphophallus onchophyllus) pada Pembuatan Es Krim Instan Ditinjau dari Kualitas Fisik dan Organoleptik Putri, Vita Noeravila; Susilo, Bambang; Hendrawan, Yusuf
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.382 KB)

Abstract

ABSTRAK   Es krim instan adalah salah satu inovasi produk es krim yang mulai berkembang pada masyarakat modern saat ini. Es krim instan berupa bubuk instan pengemasannya yang dapat disimpan waktu lama. Permasalahan yang sering timbul pada proses pembuatan es krim adalah viskositas dan overrun rendah, dan kecepatan meleleh cepat. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah bahan penstabil, sehingga diperlukan bahan penstabil lain yang dapat memperbaiki kualitas es krim tersebut. Tepung porang dapat berfungsi sebagai penstabil es krim karena sifatnya yang mengikat air sehingga membentuk larutan kental karena kaya akan glukomanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penambahan tepung porang dengan konsentrasi yang tepat agar dapat menghasilkan es krim instan berkualitas fisik dan organoleptik yang baik. Metode yang digunakan adalah percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, perlakuan yang dicobakan adalah tingkat penggunaan tepung porang, yaitu 0,0%; 0,1%; 0,2%; 0,3%; dan 0,4% bobot ICM. Penelitian ini menggunakan 2 komposisi bahan campuran es krim  yang berbeda, yaitu komposisi dengan penambahan gula dan garam serta komposisi tanpa penambahan gula dan garam. Data yang diperoleh dari pengujian kualitas fisik dan organoleptik dianalisis secara maual menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Terkecil (BNT). Sedangkan untuk penentuan perlakuan terbaik dalam penelitian dihitung menggunakan nilai indeks efektivitas.   Kata kunci: Es krim instan, kualitas fisik, organoleptik, tepung porang   
Ekstraksi Minyak dari Microalga Jenis Chlorella Sp. Dengan Menggunakan Metode Osmotik Berbantukan Ultrasonik Swasti Riska Putri; Musthofa Lutfi; Bambang Susilo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.58 KB)

Abstract

Tingkat konsumsi dari energy khususnya bahan bakar minyak (BBM) semakin meningkat setiap tahunnya. Peningkatan nilai konsumsi BBM ini akan mempengaruhi ketersediaan minyak mentah yang semakin lama akan semakin habis.  Fenomena seperti ini perlu diantisipasi dengan usaha diversifikasi energy seperti alkohol, gasohol dan minyak nabati. Namun renewable energy ini berbahan baku pangan seperti singkong, jagung, dan lain sebagainya, sehingga dapat mengganggu stabilitas pangan. Biodiesel merupakan salah satu renewable energy yang dapat diproduksi dari microalga diantaranya Chlorella Sp.. Kelebihan Clorella Sp. dari bahan baku biodiesel yang lain adalah dapat berkembang biak dengan cepat , tidak memerlukan pretreatment dalam pengolahannya, dan bukan merupakan bahan pangan. Microalga dapat diekstrak salah satunya dengan menggunakan cara kimiawi yaitu shock osmotic berbantukan ultrasonic yaitu memecah membrane semipermeable sel sehigga kandungan minyak dapat terekstrak. Lama ekstraksi divariasikan sebamyak 5 level yaitu 60, 90, 120, 150, dan 180 menit.  Hasil pengujian kadar lemak dalam eksrak alga ini didapatkan bahwa kandungan lemak hasil ekstrak tanpa menggunakan gelombang ultrasonic terbesar adalah pada lama ekstraksi 3 jam yaitu sebesar 0.655%. Sedangkan kandungan lemak pada ektrak dengan ultrasonic yang tertinggi adalah pada lama ekstraksi 2 jam yaitu 0.545%. Kata kunci : Ekstraksi, Clorella Sp., Metode Osmotik, Gelombang Ultrasonik
Pengaruh Konsentrasi Asam Sulfat Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Biochar dari Sludge Biogas pada Proses Aktivasi Johan Ari Sandra; Musthofa Lutfi; Wahyunanto Agung Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.179 KB)

Abstract

Degradasi lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan penurunan hasil panen tanaman. Untuk mengatasi permasalahan itu maka digunakan metode baru pembenahan tanah dengan biochar. Biochar merupakan substansi arang yang berpori atau sering disebut charcoal, atau agrichar. Salah satu sifat yang penting dari biochar adalah luas permukaan. Untuk mendapatkan luas permukaan biochar maka dilakukan aktivasi dengan cara perendaman asam sulfat dengan berbagai konsentrasi untuk mendapatkan luas permukaan paling besar. Penelitian ini dilakukan di Labortorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian Jurusan Keteknikan Pertanian. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi. Data yang diambil dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Luas permukaan paling besar pada penelitian ini di dapatkan pada biochar yang diaktivasi dengan asam sulfat dengan konsentrasi 2 M yaitu 45,16 m2/g dengan parameter pendukung lainnya KTK 31,09 me/100g, Densitas 0.08 g/cc, C-Organik 4.82, Bahan Organik 8,34 dan pH 5,04. Semakin tinggi konsentrasi asam sulfat yang digunakan maka luas permukaan biochar akan semakin meningkat karena asam sulfat yang digunakan sebagai aktivator dapat membuka pori pada biochar..
Rancang Bangun Rangkaian Pengendali Suhu Air pada Fotobioreaktor Vertikal Dendy Satyabima; Bambang Susilo; Yusuf Hendrawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.301 KB)

Abstract

Fotobioreaktor vertikal merupakan alat simulasi untuk pengembangbiakan atau budidaya mikroalga. Fotobioreaktor yang ada akan disempurnakan yaitu adanya penambahan rangkaian pengendali suhu air dengan menggunakan sensor suhu LM35 dan mikrokontroler Atmega 16 sebagai pusat kontrolnya dengan maksud untuk mengendalikan suhu air yang dibutuhkan pada pertumbuhan mikroalganya. Prinsip kerja dari alat ini adalah mengendalikan suhu air sehingga tidak melebihi suhu optimal untuk pertumbuhan mikroalga, suhu yang terlalu tinggi yang diterima mikroalga dapat menurunkan tingkat pertumbuhannya. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah suhu air pada drum mikroalga dapat terkontrol dalam arti tidak melebihi dari suhu optimal dari pertumbuhan mikroalga, sistem kontrol juga bekerja dengan baik karena dapat mengontrol keadaan pompa air sesuai dengan suhu yang dibutuhkan. Mikroalga yang dikembangkan dalam fotobioreaktor dapat bertahan hingga berumur 7 hari.
Analisa Pengaruh Variasi Penambahan Massa Nilon pada Preparasi Membran Nilon Terhadap Karakteristik Fisik Membran Fanani, Aris; Nugroho, Wahyunanto Agung; Hendrawan, Yusuf
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.58 KB)

Abstract

Teknologi filtrasi membran merupakan salah satu teknologi filtrasi yang menggunakan media penyaring dari membran. Seiring perkembangan zaman, telah disintesis membran yang berbahan nilon. Nilon bersifat semikristalin, kuat dan tahan terhadap suhu tinggi. Dalam penelitian ini, tujuan utamanya adalah mengetahui karakteristik fisik membran membran nilon. Dalam penelitian ini metode yang dipakai adalah metode inversi fasa. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbedaan massa nilon pada sintesis membran nilon yaitu 10 g, 15 g, 20 g,25 g, dan 30 g. Sedangkan parameter yang akan diamati adalah sifat fisik yang meliputi kuat tekan, kuat tarik, dan ukuran pori dari membran yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan massa nilon  (semakin tinggi konsentrasi larutan nilon-HCl), maka kuat tekan dan kuat tarik membran yang didapatkan semakin besar. Nilai kuat tekan terbesar yang dihasilkan pada penelitian ini terjadi pada massa nilon 30 gram dengan konsentrasi 60% (b/v) yaitu 3.83 Kg/cm2 dan nilai kuat tekan terkecil pada penelitian ini terjadi pada massa nilon 10 gram dengan konsentrasi 20% (b/v)  yaitu 0.73 Kg/cm2. Nilai kuat tarik terbesar yang dihasilkan dari pengujian ini terjadi pada massa nilon 30 gram dengan konsentrasi 60% (b/v)  yaitu 9.22 Kg/cm2 dan nilai kuat tarik terkecil pada pengujian ini terjadi pada massa nilon 10 gram dengan konsentrasi 20% (b/v)  yaitu 2.16 Kg/cm2. Berdasarkan analisa SEM, membran nilon yang dihasilkan termasuk dalam golongan membran mikrofiltrasi. . Kata Kunci : inversi fasa,  kuat tekan, kuat tarik

Page 6 of 43 | Total Record : 423