cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.teknologi.pertanian@gmail.com
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145 Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pertanian
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 14115131     EISSN : 25282794     DOI : -
Jurnal Teknologi Pertanian diterbitkan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya untuk penyebarluasan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari dalam dan luar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Jurnal Teknologi Pertanian terbit tiga kali dalam setahun, memuat tulisan hasil penelitian yang termasuk dalam lingkup disiplin ilmu pengetahuan yang terkait dengan Ilmu-ilmu Teknologi Pertanian guna menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2018)" : 6 Documents clear
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK UREA DAN JARAK ELEKTRODA TERHADAP TEGANGAN LISTRIK PLANT MICROBIAL FUEL CELL TANAMAN PADI (ORYZA SATIVA) Putranto, Angky Wahyu; Sugiarto, Yusron; Kusumarini, Novalia; Wiranti, Tiara; Normalasari, Lisa
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.879 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.01.5

Abstract

ABSTRAKPlant Microbial Fuel Cell (PMFC) merupakan salah satu penghasil bioenergi berkelanjutan yang tidak mengganggu produksi pangan serta mereduksi energi input selama produksi energinya. Tanaman padi (Oryza sativa) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai penghasil tegangan listrik dalam PMFC. Penelitian ini membahas tentang pengaruh variasi pemupukan dengan pupuk urea (1, 5, dan 10 g) dan jarak elektroda (4, 6, dan 8 cm) dalam sistem PMFC. Variabel yang diukur yaitu tegangan listrik maksimal yang dihasilkan tanaman padi, arus listrik maksimal dan daya listrik maksimal yang dihasilkan. Perekaman data keluaran tegangan listrik dilakukan pada semua sampel sistem PMFC selama 5 hari, mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tegangan listrik maksimum diperoleh perlakuan pemberian pupuk urea 10 g dan jarak elektroda 6 cm dengan nilai tegangan listrik maksimal sebesar 196 mV, arus listrik maksimal 0.78 mA dan daya listrik maksimal sebesar 153.66 mW/cm2 ABSTRACTPlant Microbial Fuel Cell (PMFC), one of sustainable bioenergy sources which is not interfere with food production and could reducing energy input during energy production. Oryza sativa is a plant that has potential as a source of electrical voltage in PMFC. This study explained the influence of urea fertilization variation (1, 5, and 10 g) and electrode gaps (4, 6, and 8 cm) in PMFC system. Variables measured are the maximum voltage produced by rice plants, maximum electric current and maximum power density. The output electrical voltage data was recorded on all samples PMFC system for 5 days, from 08.00 am until 03.00 pm. Based on this study, the maximum voltage obtained on 10 g of urea fertilizer and the electrode gap of 6 cm with maximum electric voltage of 196 mV, maximum electric current of 0.78 mA and maximum power density of 153.66 mW/cm2
PENGARUH ASAL BIJI KAKAO DAN LAMA CONCHING TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORI COKELAT HITAM DENGAN PENDEKATAN DISCRETE TIME INTENSITY Azhar, La Ode Muhammad Fajrul; Fibrianto, Kiki; Widyotomo, Sukrisno; Harijono, Harijono
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.404 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.01.1

Abstract

ABSTRAKKakao merupakan salah satu komoditas andalan di Indonesia. Pengolahan kakao menjadi cokelat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah kakao. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh asal biji kakao dan lama conching terhadap karakteristik sensori cokelat hitam. Cokelat dibuat dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu asal biji kakao (100% biji kakao fermentasi Jember, 100% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara, 50% biji kakao fermentasi Jember + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara, dan 50% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara) dan lama conching (4, 6, dan 8 jam). Analisa sensori dilaksanakan dengan menggunakan panelis terlatih dengan menggunakan metode discrete time intensity. Hasil analisa menunjukkan bahwa kekerasan dan kekenyalan tertinggi yaitu pada perlakuan 100% biji kakao fermentasi Jember dengan lama conching 8 jam yaitu 12.6 dan 11.9 pada detik ke-30, kekompakan tertinggi yaitu pada perlakuan 50% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara dengan lama conching 8 jam yaitu 12.4 pada detik ke-30 dan kelengketan yang tertinggi yaitu pada perlakuan 100% biji kakao fermentasi Jember dengan lama conching 4 jam yaitu 5.9 pada detik ke 120 ABSTRACTCocoa is one of the largest commodities in Indonesia. Processing cocoa into chocolate is a way to increase the added of cocoa value. The purpose of this study was to determine the effect of cocoa bean origin and length of conching on sensory characteristics of dark chocolate. Chocolate was made using a completely randomized block design with factorial design consisting of two factors cocoa bean origin (100% Jember fermented cocoa beans, 100% Southeast Sulawesi fermented cocoa beans, 50% Jember fermented cocoa beans + 50% Southeast Sulawesi non-fermented cocoa beans and 50% Southeast Sulawesi fermented cocoa beans + 50% Southeast Sulawesi non-fermented cocoa beans) and length of conching (4, 6, and 8 hours). Analysis sensory using trained panelist with discrete time intensity method. The analysis showed that the highest hardness and gumminess at 100% Jember fermented cocoa beans with length of conching 8 hours is 12.6 and 11.9 at 30 seconds. The highest cohesiveness at 50% fermented cocoa beans Southeast Sulawesi+ 50% non-fermented cocoa beans from Southeast Sulawesi with length of conching 8 hours is 12.4 at 30 seconds. The highest adhesiveness at 100% Jember fermented cocoa beans with length of conching 4 hours is 5.9 at 120 seconds
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, SIFAT FISIK DAN SENSORIS ES KRIM DENGAN PENAMBAHAN SARI APEL Khairina, Anisa; Dwiloka, Bambang; Susanti, Siti
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.226 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.01.6

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembutan, formulasi, aktivitas antioksidan, sifak fisik, dan sensoris es krim dengan penambahan sari buah apel agar tercipta produk es krim yang baik dengan faktor penambahan sari apel sebesar 0%; 25%; 50%; dan 75%. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kali pengulangan digunakan dalam penelitian ini. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara menguji langsung sampel sebanyak 2 perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan 2 pengulangan untuk aktivitas antioksidan, ANOVA untuk sifat fisik, sedangkan uji Kruskal Wallis digunakan untuk data organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan penambahan sari apel menmeningkatkan aktivitas antioksidan dan berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap overrun, resistensi pelelehan, dan total solid. Penambahan sari apel berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap aroma, rasa, tekstur, dan warna, sedangkan pada pengamatan secara keseluruhan atau overall tidak ada perbedaan yang nyata. Semakin tinggi penambahan sari apel menghasilkan peningkatan pada aktivitas antioksidan dan overrun dengan nilai aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 14.867% dan rerata overrun tertinggi sebesar 36.46%, serta penurunan terhadap resistensi pelelehan menjadi 65 menit 20 detik per 100 g es krim dan penurunan total solid dari 34.94% menjadi 21.18%. Semakin tingginya penambahan sari apel juga berpengaruh terhadap meningkatnya aroma apel dan warna es krim yang dari putih menjadi cream, serta menurunnya rasa manis, tekstur menjadi kasar. ABSTRACTThis research aim is to understand ice cream making process, to discover the right formulation to produce good quality ice cream, to find out antioxidant activities, physical, and sensory characteristics of ice cream with the addition of apple cider with each percentage of 0%, 25%, 50%, and 75%. Completely Randomized Design (RAL) with 5 times repetition was used for this research. Data obtained from analysis using descriptive for antioxidant activities, ANOVA for physical characteristics, and organoleptic for Kruska Wallis test. Result of the research showed that the addition of apple cider increased the antioxidant activities and had a real impact (p<0.05) towards overrun, melting resistance, and total solid. The addition of apple cider gave a significant impact (p<0.05) for aroma, flavour, texture, and colour, but did not have any visible impact to overall. Higher addition of apple cider generated growth on antioxidant activities and to overrun, resulting the highest antioxidant activities of 14.867% and the average number of highest overrun is at 36.46%, it also caused decreasing level of melting resistance to 65 minutes 20 seconds per 100 g ice cream and reduction of total solid from 34.94% to 21.18%. The higher addition of apple cider enhanced the apple aroma and changed the ice cream’s colour from white to cream. It also lowered thesweetness and turned the texture rough.
BIOREMEDIASI MERKURI MENGGUNAKAN BAKTERI INDIGENOUS DARI LIMBAH PENAMBANGAN EMAS DI TUMPANG PITU, BANYUWANGI Lutfi, Saundra Rosallina; Wignyanto, Wignyanto; Kurniati, Evi
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.808 KB)

Abstract

ABSTRAKLimbah merkuri merupakan suatu limbah berbahaya yang sering digunakan sebagai proses amalgamasi dalam penambangan emas. Dampak dari merkuri akan semakin meningkat terlebih para penambang tidak pernah mengolah limbah merkuri tersebut sebelum dibuang ke lingkungan, sehingga diperlukan suatu metode untuk menjadikan limbah merkuri tersebut tidak beracun atau bahkan hilang. Salah satu metode yang dapat dilakukan yaitu melakukan proses bioremediasi. Pada penelitian ini, proses bioremediasi dilakukan dengan menggunakan bakteri indigenous yang diisolasi dari limbah penambangan emas Tumpang Pitu, Banyuwangi. Bakteri indigenous tersebut didapatkan dengan mengambil sampel berupa sedimen dan sampel cair dari penambangan emas, dan kemudian dilakukan proses isolasi dan seleksi menggunakan merkuri dengan kadar 0-130 ppm. Proses ini untuk mendapatkan bakteri yang resisten terhadap kadar merkuri tertinggi dan mampu untuk melakukan proses degradasi merkuri terbaik. Selanjutnya, dilakukan proses identifikasi bakteri yang terbukti mampu untuk melakukan proses bioremediasi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan bakteri indigenous dari limbah penambangan emas pada proses bioremediasi limbah merkuri di suatu lingkungan sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri jenis Morganella morganii yang resisten terhadap merkuri dan mampu melakukan bioremediasi merkuri hingga mencapai 92.46% ABSTRACTMercury waste is a hazardous waste that often used as an amalgamation process in gold mining. Impact from mercury will increase, especially a miner never to process mercury waste before it is discharged into the environment, so the method is needed to make the mercury waste can non-toxic or even lost. One method that can be done is doing bioremediation process. In this research, bioremediation process was done by using indigenous bacteria isolated from Tumpang Pitu gold mining waste, Banyuwangi. To get the bacteria Indigenous samples taken in the form of sediment samples and liquid samples from gold mining and then processed isolation and selection using mercury with levels of 0-130 ppm. This process is to obtain bacteria that are resistant to the highest mercury levels and are able to perform the best mercury degradation process. Then carried out the identification process of bacteria that proved able to perform bioremediation process. This study aims to obtain indigenous bacteria from gold mining waste for bioremediation process of mercury waste in an environment so as not to be harmful to the environment. It was found that Morganella morganii bacteria were resistant to mercury and able to do mercury bioremediation up to 92.46%
PENGARUH PENAMBAHAN CUSO4 TERHADAP AKTIVITAS ENZIM SCHYZOPHYLLUM COMMUNE PADA DEGRADASI LIGNIN LIMBAH KULIT KAKAO Nurika, Irnia; Hidayat, Nur; Rohmanna, Novianti Adi
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.607 KB)

Abstract

ABSTRAKKulit coklat merupakan sumber lignoselulosa dari limbah pertanian dengan kandungan lignin mencapai 14.7 ± 0.35% (w/w). Lignin merupakan senyawa aromatik kompleks heteropolymer yang tidak mudah dipecah secara hidrolitik, sehingga jamur pelapuk seringkali digunakan untuk mempermudah proses degradasi lignin. Pada penelitian ini digunakan jamur pelapuk putih (S. commune). Selama proses pemecahan lignin, S. commune memanfaatkan enzim peroksidase dan lakase. Akan tetapi, produksi enzim lignolitik pada jamur pelapuk putih dalam jumlah kecil, sehingga diperlukan penambahan inducer untuk meningkatkan aktivitas enzim lignolitik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan CuSO4 terhadap aktivitas enzim MnP dan Lakase pada S. commune yang berperan dalam proses pemecahan lignin sehingga dapat dihasilkan berbagai macam senyawa kimia bernilai tinggi. Tembaga dengan konsentrasi 0 mM; 0.5 mM; 1.5 mM; dan 2.5 mM ditambahkan pada S. commune dan di inkubasi selama 5 minggu. Hasil kemudian diekstrak dan diuji aktivitas enzim MnP dan Lakase menggunakan spektofotometri. Hasil menunjukkan aktivitas enzim lignolitik S. commune terbesar yaitu 0.48 IU.L-1 untuk enzim MnP pada minggu ke-4 dengan penambahan konsentrasi CuSO4 1.5 mM dan 0.18 IU.L-1 untuk enzime lakase pada minggu ke-3 dengan penambahan konsentrasi CuSO4 0.5 mM dan 1.5 mM ABSTRACTAgricultural waste such as cacao pod is a source of lignocellulosic with 14.7 ± 0.35% (w/w) lignin compound. Lignin is a heterogeneous aromatic complex which are difficult degradated by hydrolitic, so rot fungi needed on lignin degradation process. This researches used white rot fungi (S. commune). S. commune are known to breakdown lignin with peroxidase and laccase enzyme. However, ligninolytic enzyme are produced only small quantities, so needed induction for enhancemend and activated ligninolytic enzyme. Purpose this research is knowing affected concentration copper on MnP and Laccase activty of S.commune during degaradation of lignocellulose, so can produce various of chemical added value compound. Various consentration copper are 0 mM; 0.5 mM; 1.5 mM; and 2.5 mM added in treatment and incubated for 5 weeks. Yield extracted and MnP and Lakase activty is measured by spectrophotometry. The maximum activities enzyme synthesized by S. commune were observed as 0.48 IU.L-1 for manganese peroxidase (MnP) after 4 weeks incubation at 1.5 mM CuSO4 and 0.18 IU.L-1 for laccase after 3 weeks incubation at 0.5 mM and 1.5 mM CuSO4
KARAKTERISTIK FRIES UWI PUTIH (DIOSCOREA ALATA) DENGANKAJIAN KONSENTRASI KALSIUM KLORIDA DAN LAMA BLANCHING Munawaroh, Putri Syepty SriJanatul; Putri, Widya Dwi Rukmi; Hapsari, Lia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.87 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.01.4

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki jenis umbi-umbian yang belum dimanfaatkan secara optimal seperti uwi putih (Dioscorea alata). Uwi putih berpotensi dikembangkan menjadi produk makanan ringan french fries. Namun permasalahannya uwi menghasilkan tekstur yang kurang renyah dan mengalami perubahan warna karena proses pencoklatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) dan lama blanching terhadap sifat kimia, fisik dan organoleptik fries uwi putih (Dioscorea alata). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) (0, 1, dan 2%) dan lama blanching (3, 6, dan 9 menit). Data dianalisis menggunakan metode analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Pemilihan perlakuan terbaik menggunakan metode Zeleny. Perlakuan terbaik diperoleh pada kombinasi perlakuan konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) 2% dan lama blanching 6 menit dengan kadar air 40.76%; kadar pati 26.14%; kadar lemak 19.62%; kadar protein 2.78%; kadar abu 1.09%; tekstur 5.97 N; kecerahan (L*) 63.7; kemerahan (a*) 1.34; kekuningan (b*) 15.41; nilai organoleptik rasa 2.77; aroma 3.5; warna 3.43; tekstur 2.93; dan kenampakan 3.17 ABSTRACTIndonesia has many kind of tubers that did not use optimally such as water yam (Dioscorea alata). Water yam can potentially developed into a product such as french fries. However, the problem of water yam has a less crispiness texture and has a colour distortion caused by browning process. The aims of this research was to determine the effect of calcium chloride concentrations (CaCl2) and blanching time on the chemical, physical, and organoleptic characteristics of water yam (Dioscorea alata) fries. The research used a Randomized Block Design (RDB) with 2 factors that were concentration of calcium chloride (CaCl2) (0, 1, and 2%) and blanching time (3, 6, and 9 minutes). Data were analyzed using ANOVA, followed by LSD with significant level 5%. The determination of the best treatment using multiple attribute Zeleny. The best treatment was concentration of calcium chloride (CaCl2) 2% and theblanching time of 6 minutes with water content 40.76%; starch 26.14%; fat 19.62%; protein 2.78%; ash 1.09%; texture 5.97 N; lightness (L *) 63.7; redness (a *) 1.34; yellowness (b *) 15.41; the value of the organoleptic taste 2.77; aroma 3.5; color 3.43; texture 2.93; and appearance of 3.17

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 2 (2025) Vol. 26 No. 1 (2025) Vol. 25 No. 3 (2024) Vol. 25 No. 2 (2024) Vol. 25 No. 1 (2024) Vol. 24 No. 3 (2023) Vol. 24 No. 2 (2023) Vol. 24 No. 1 (2023) Vol. 23 No. 3 (2022) Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) 6th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) July 2022 - Special Issue Vol. 22 No. 3 (2021) Vol 22, No 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol 22, No 1 (2021) Vol 21, No 3 (2020) Vol. 21 No. 3 (2020) Vol 21, No 2 (2020) Vol 21, No 1 (2020) Vol 20, No 3 (2019) Vol 20, No 2 (2019) Vol 20, No 1 (2019) Vol 19, No 3 (2018) Vol 19, No 2 (2018) Vol 19, No 2 (2018) Vol 19, No 1 (2018) Vol 19, No 1 (2018) Vol 18, No 3 (2017) Vol 18, No 3 (2017) Vol 18, No 2 (2017) Vol 18, No 2 (2017) Vol 18, No 1 (2017) Vol 18, No 1 (2017) Vol 17, No 3 (2016) Vol 17, No 3 (2016) Vol 17, No 2 (2016) Vol 17, No 2 (2016) Vol 17, No 1 (2016) Vol 17, No 1 (2016) Vol 16, No 3 (2015) Vol 16, No 3 (2015) Vol 16, No 2 (2015) Vol 16, No 2 (2015) Vol 16, No 1 (2015) Vol 16, No 1 (2015) Vol 15, No 3 (2014) Vol 15, No 3 (2014) Vol 15, No 2 (2014) Vol 15, No 2 (2014) Vol 15, No 1 (2014) Vol 15, No 1 (2014) Vol 14, No 3 (2013) Vol 14, No 3 (2013) Vol 14, No 2 (2013) Vol 14, No 2 (2013) Vol 14, No 1 (2013) Vol 14, No 1 (2013) Vol 13, No 3 (2012) Vol 13, No 3 (2012) Vol 13, No 2 (2012) Vol 13, No 2 (2012) Vol 13, No 1 (2012) Vol 13, No 1 (2012) Vol 12, No 3 (2011) Vol 12, No 3 (2011) Vol 12, No 2 (2011) Vol 12, No 2 (2011) Vol 12, No 1 (2011) Vol 12, No 1 (2011) Vol 11, No 3 (2010) Vol 11, No 3 (2010) Vol 11, No 2 (2010) Vol 11, No 2 (2010) Vol 11, No 1 (2010) Vol 11, No 1 (2010) Vol 10, No 3 (2009) Vol 10, No 3 (2009) Vol 10, No 2 (2009) Vol 10, No 2 (2009) Vol 10, No 1 (2009) Vol 10, No 1 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 1 (2005) Vol 6, No 1 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 2 (2004) Vol 5, No 2 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 1 (2002) Vol 3, No 1 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 1 (2001) Vol 2, No 1 (2001) Vol 1, No 3 (2000) Vol 1, No 3 (2000) More Issue