cover
Contact Name
Yanuar Burhanuddin
Contact Email
yanuar.burhanuddin@eng.unila.ac.id
Phone
+6285658980260
Journal Mail Official
jurnal.mechanical@eng.unila.ac.id
Editorial Address
Gd. H Lt.2 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lampung Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Mechanical
Published by Universitas Lampung
ISSN : 20871880     EISSN : 24601888     DOI : https://doi.org/10.2960/mech
Jurnal Mechanical (eISSN 2460 1888 and pISSN 2087 1880), is a peer-reviewed journal that publishes scientific articles from the disciplines of mechanical engineering, which includes the field of study (peer) material, production and manufacturing, construction and energy conversion. Articles published in the journal Mechanical include results of original scientific research (original), and a scientific review article (review). Mechanical journal published by University of Lampung and managed by Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering for publishing two periods a year, in March and September .
Articles 234 Documents
Pengeboran Baja ASTM A1011 Menggunakan Pahat High Speed Steel dalam Kondisi Dilumasi Cairan Minyak Dodi Wibowo
JURNAL MECHANICAL Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pahat HSS yang digunakan dalam proses pengeboran memiliki umur dan tidak dapat digunakan secara terus menerus. Banyak faktor yang mempengaruhi umur pahat diataranya keausan pahat. Untuk menentukan keausan pahat pahat bor biasanya operator mesin hanya melakukan secara visual atau meraba pada bagian ujung mata pahat. Cara ini yang sering dilakukan pada dunia industri dikarenakan keterbatasan alat dan efisiensi waktu dalam proses produksi. Dalam penelitian ini pengaruh kecepatan putaran (n), gerak makan (f) terhadap terbentuknya keausan tepi pahat HSS, dianalisis dengan dua metode, yaitu metode kualitatif (grafik) dan metode kuantitatif (statis) dengan metode analisis variasi (ANOVA). Dalam penelitian ini, proses pengeboran menggunakan pahat HSS dan material uji baja ASTM A1011 dengan ketebalan material 10 mm. Dalam proses pengujian, gerak makan (f) yang digunakan adalah 0,1 mm/rev, 0,18 mm/rev,0,24 mm/rev sedangkan kecepatan putaran (n) yang digunakan adalah 443 rpm, 635 rpm, 970 rpm. Dari hasil pengujian secara kualitatif didapat bahwa peningkatan gerak makan (f) akan meningkatkan keausan tepi pahat HSS. Begitu pula peningkatan nilai kecepatan putaran (n) akan meningkatkan keauasan tepi pahat HSS. Dari metode ANOVA ( pengujian kuantitatif) dengan menggunakan program diperoleh hasil bahwa kecepatan putaran (n), dan gerak makan (f) secara bersama-sama mempunyai pengaruh timbulnya keausan pahat, namun secara signifikan hanya gerak makan yang berpengaruh terhadap timbulnya keausan tepi pahat HSS. Pada penelitian ini gerak makan (f) mempunyai pengaruh paling besar terhadap timbulnya keausan tepi yaitu 50,01% sedangkan kecepatan putaran hanya berpengaruh sebesar 37,42% terhadap timbulnya keausan tepi pahat HSS. Kata kunci : Pengeboran, pahat HSS, ASTM, pelumasan
Metode Pengering Gabah Aliran Massa Kontinu Dengan Wadah Pengering Horizontal dan Pengaduk Putar Nusyirwan Nusyirwan
JURNAL MECHANICAL Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v6.i2.201512

Abstract

Peralatan pengeringan yang ada dipasaran mengeringkan massa gabah secara statis. Pengeringan statis gabah dikeringkan dalam massa tertentu dengan jumlah luas wadah tertentu dan tidak bisa ditambah secara secara secara langsung . Proses pengeringan dengan kwantitas yang besar pengeringan harus dilakukan secara dinamis. Yang dimaksud dengan pengeringan secara dinamis adalah massa gabah yang dikeringkan dapat mengalir secara kontinu yaitu massa massa masuk dapat ditambah setiap waktu sedangkan prodak yang dikeringkan dapat dihasilkan setiap waktu juga. Salah satu alat pengering yang memenuhi sarat adalah alat pengering putar atau alat pengering yang dilengkapi dengan peralatan pengaliran massa. Salah satu yang dilakukan adalah pengering dengan wadah berbentuk silinder dengan pengering putar yang dapat mengaduk dan mengalirkan material dari sisi masuk ke sisi keluar dan laju aliran massa dapat diatur sesuai dengan putaran pengaduk. Pengeringan dilakukan dalam dua siklus yang lama waktu pengeringan 60 menit per siklus. Dari hasil pengeringan siklus pertama belum cukup tercapat kadar air yang diinginkan. Massa gabah diumpankan kembali untuk siklus kedua . Pada sklus kedua ini pengeringan telah tercapai dengan kadar air maksimal yang dihilangkan adalah 47 % . Kata kunci: Grain mass, Rotary Dryer.
Analisis Fabrikasi Desain Lamination Passive Mixing Microchannel Perangkat Mikrofluidik AcrylicMenggunakan Laser CO Daya Rendah Badruzzaman Badruzzaman; Ario Sunar Baskoro; A. Rizal Siswantoro
JURNAL MECHANICAL Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v7.i1.201605

Abstract

Microfluidics device has been applied in the biomedical fields to manipulate fluids in a channel network with the dimensions between 5-500 µm. Microfluidics device is manufactured by microfabrication process consists ofdesign, microstucturing and back-end process. One of microfluidics application is passive mixing microchannel. Inthis device, the fluids will flow through the channel without any moving part and pressure from outside to producemixing fluid. It is important to design the form of channel to produce a good lamination passive mixingmicrochannel. In this study, the process of channel design was performed. Low power CO2 laser was used formicrostucturing process as a cutting tool to produce microfluidic device on acrylic material. The parameters affectthe output of the cutting process are the laser power, cutting speed and the design of channel. Surface roughness ofdesigned channel was observed. Finally, back-end process was performed by joining process using thermalbonding method. From the experimental results, the design of lamination channel has an influence on allparameters to the surface roughnes.
Perancangan dan Pengujian Katup Membran Pada Katup Tekan Pompa Hydram Design and Performance Assesment of Membran Delivery Valve in Hydram Pump Made Suarda
JURNAL MECHANICAL Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pompa hydram dengan ukuran yang sangat besar, terbesar yang telah ada di Bali, telah dirancang dan dibuat pada kegiatan Iptek bagi Masyarakat (IbM) tahun 2010. Pompa hydram tersebut beroperasi pada head sangat tinggi yaitu 90 meter pada panjang pipa tekan 900 meter. Namun, karena tingginya head operasi pompa tersebut maka katup tekannya cepat sekali rusak. Untuk itu perlu dicarikan solusi untuk menghindari cepatnya kerusakan katup tekan tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan katup tekan model membran dimana luasan yang bertumbukan relatif sangat kecil sehingga gaya tumbukan pada katup yang terjadi akibat palu air kecil pula. Oleh sebab itu perlu diketahui bagaimana rancangan dan performansi model katup plat, dan membran pada katup tekan pompa hydram. Dari rancangan model katup membran tersebut dilakukan pengujian performansi pompa hydram pada ketinggian air suplai 3 meter dan ketinggian pemompaan 10, 15 dan 20 meter. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan performansi katup tekan model plat. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa katup tekan model ‘membran’ memberikan unjuk kerja atau performansi seperti debit pemompaan, daya output, efisiensi volumetris maupun efisiensi total yang jauh lebih baik dibandingkan katup tekan model ‘plat’. Kata Kunci: pompa hydram, katup plat, katup membran, performansi pompa hydram Abstract A big hydram pump, may be biggest one in Bali, has been designed and constructed on community services activity, Iptek bagi Masyarakat (IbM), in year 2010. The pump works on a high geodetic head 90 meter with length of delivery pipe 900 meter. However, because of that high head condition has been made its delivery valve ease to broken. Therefore, it needs a solution to avoid that problem. One potential solution is by use membran type of delivery valve, which is this valve has less impact area than plat valve type, therefore impulse force that takes placed is smaller as well. Furthermore, it needs to make design of plat and membran type of hydram pump delivery valve, and then assess its performance. Both type of delivery valve are operated with 3 meters drive-head on variation of delivery head i.e 10, 15 and 20 meters. Then, their performance are comparised. The results show that the membran type of delivery valve give better performance such as capacity, power, volumetric efficiency and total efficiency than the plat type Keywords: hydram pump, plat delivery valve, membran delivery valve, hydram pump performancy
Pengaruh Penambahan Serat Batang Pisang Ketip dan Filler Dedak Padi Terhadap Density, Kekuatan Bending dan Tarik Kompositcore, Sandwich dengan Skin Plywood Salman Salman; Ahmad Fadly
JURNAL MECHANICAL Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v10.i1.201901

Abstract

Fiber-reinforced composite core banana stems with additional filler of husk powder is another way to obtain the expected mechanical behavior of the composite. The aim of this study was to analyze the effect of fiber volume fraction content to density, bending strength and tensile strength of sandwich composite.   Preparation of composite was done by hand lay-up method. Composite material used by banana ketip  fiber and addition of husk powder with variation of fiber volume fraction were 7, 10, and 13 % where husk was constant at 5% with random fiber direction. Tests were conducted by referring to the density est standard (ASTM C 271), bending est (ASTM C 393) and tensile test (ASTM D3039).  The result showed that the greater volume fraction of banana fiber, the lower the density value and the lower the bending strength. Whereas the tensile strength tended to increase as the volume fraction was higher.
PENGUJIAN KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS DAN FAKTOR GESEKAN PADA PENUKAR KALOR PIPA KONSENTRIK DENGAN SISIPAN PITA TERPILIN BERLUBANG Tri Istanto
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menguji karakteristik perpindahan panas dan faktor gesekan pada penukar kalor pipa konsentrik saluran annular dengan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang. Seksi uji berupa penukar kalor pipa konsentrik satu laluan dengan pipa dalam dan pipa luar terbuat dari aluminium. Dimensi pipa luar; diameter luar 21,87 mm dan diameter dalam 20,67 mm, dan dimensi pipa dalam; diameter luar 15,84 mm dan diameter dalam 14,34  mm. Panjang penukar kalor 2.000 mm dan jarak pengukuran penurunan tekanan di pipa dalam 2.010 mm. Aliran di pipa dalam dan di annulus adalah berlawanan arah. Fluida kerja yang digunakan adalah air panas di pipa dalam dimana temperatur masukannya dipertahankan pada 60oC, dan air dingin di annulus dengan temperatur masukan pada ± 28oC. Sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang masing-masing dengan nilai rasio pilinan 4,0 terbuat dari bahan aluminium strip dengan tebal 0,76 mm, lebar 12,61 mm yang dipuntir membentuk pilinan dengan panjang pitch sebesar 50,35 mm. Sisipan pita terpilin berlubang divariasi dengan  diameter lubang berturut-turut sebesar 4 mm dan 6,5 mm, dimana jarak antar pusat lubang sebesar 4 cm. Sisipan pita terpilin  dipasang di pipa dalam dari penukar kalor pipa konsentrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bilangan Reynolds yang sama, penambahan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm di pipa dalam menaikkan bilangan Nusselt rata-rata berturut-turut sebesar 79,20%, 68,7% dan 57,8% dari pipa dalam tanpa sisipan pita terpilin (plain tube). Pada daya pemompaan yang sama, bilangan Nusselt rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter 6,5 mm menurun sebesar 1,62%, sedangkan penambahan sisipan pita terpilin berlubang diameter 4 mm dan sisipan pita terpilin klasik berturut-turut menaikkan bilangan Nusselt rata-rata sebesar 3,2% dan 5,84% dari plain tube. Pada bilangan Reynolds yang sama, nilai faktor gesekan rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin klasik  dan sisipan pita terpilin berlubang  dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm berturut-turut meningkat sebesar 339,25%, 298,49% dan 269,6% dari plain tube. Pada daya pemompaan yang sama, faktor gesekan rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm berturut-turut meningkat sebesar 485,39%, 416,48 % dan 362,72% dari faktor gesekan plain tube. Kata kunci :         bilangan Nusselt, bilangan Reynolds, faktor gesekan,  sisipan pita terpilin berlubang,
Analisa Perpindahan Panas Konveksi Aliran di Atas Permukaan Berkas Pipa: Sebuah Kajian Literatur Indra Mamad Gandidi
JURNAL MECHANICAL Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heat transfer in flow across bank of tubes is of particular importance in the design of heat exchangers. Heat exchangers are found in numerous industrial applications, such as steam generation in a boiler or air cooling in the coil of an air conditioner. The Zakauskas’s correlation from the experimental data is more popular method that used to design of cross flow of heat exchanger. However, due to optimization process and more efficiency, several empirical equations were generated through the analytical and CFD methods. Hence, this paper was intended to perform a comprehensive study to analyze the heat transfer calculation of cross flow heat exchanger by using several methods in which it has been reported. Among of four methods are analyzed, the analytic method, normalization equations from CFD and Grimison’s correlation have good agreement to used for design of cross flow heat exchanger with the compact and non-compact configuration, while correlation of Zakauskas is only suitable for non-compact configuration.
Studi Penggunaan Jenis Elektroda Las Yang Berbeda Terhadap Sifat Mekanik Pengelasan SMAW Baja AISI 1045 Tarkono .
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam aplikasinya baja AISI 1045 digunakan dalam bidang mechanical engineering.  Penyambungan material tersebut  dilakukan dengan teknik  pengelasan sebab baja karbon sedang  mempunyai sifat mudah menjadi keras jika ditambah dengan adanya hidrogen difusi menyebabkan baja ini sangat peka terhadap retak las. Untuk mengurangi hidrogen difusi, harus digunakan elektroda hidrogen rendah.Tujuan dari penggunaan elektroda yang tidak sejenis adalah untuk mengetahui pengaruh jenis elektroda las terhadap kekuatan tarik dan kekerasan hasil pengelasan SMAW baja karbon AISI 1045. Dimana elektroda las dibedakan menurut jenis dan standarnya, yang dalam hal ini yaitu standar ASTM dan JIS. Elektroda yang digunakan adalah elektroda las LB52, RD 716-G dan RD-80. Penyambungan dilakukan dengan teknik pengelasan SMAW  yang merupakan salah satu metode pengelasan umum dalam penyambungan konstruksi teknik.Dari pengujian yang telah dilakukan, Kekuatan tarik yang dihasilkan oleh elektroda LB-52 dan RD 716-G standar ASTM dengan elektroda standar JIS cenderung lebih tinggi. Sebaliknya pada elektroda RD-80 kekuatan tarik yang dihasilkan pada standar ASTM cenderung lebih tinggi dibandingkan standar JIS. Kekuatan tarik maksimum yang diperoleh sebesar 666,667 MPa. Nilai kekerasan yang dihasilkan oleh elektroda LB-52 standar JIS dengan standar ASTM cenderung lebih tinggi. Sebaliknya pada elektroda RD 716-G dan RD-80 standar ASTM menghasilkan nilai kekerasan cenderung lebih tinggi dibandingkan standar JIS. Nilai kekerasan maksimum yang didapat adalah sebesar 277,3 HV. Nilai perpanjangan (elongation) yang dihasilkan oleh elektroda LB-52 standar ASTM dengan standar JIS cenderung lebih tinggi. Sebaliknya pada elektroda RD 716-G dan RD-80 standar JIS menghasilkan perpanjangan cenderung lebih tinggi dibandingkan standar ASTM. Nilai perpanjangan maksimum yang terjadi dari hasil pengelasan sebesar 44,67%.Kata kunci : Baja AISI 1045, las SMAW, elektroda las LB52, RD 716-G dan RD-80
Studi Kekuatan Sambungan Las Baja AISI 1045 dengan Berbagai Metode Posisi Pengelasan Tarkono .
JURNAL MECHANICAL Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran, kendaraan rel dan lain sebagainya. Selain untuk pembuatan, proses pengelasan juga digunakan untuk reparasi atau perbaikan. Posisi atau sikap pengelasan yaitu pengaturan posisi atau letak gerakan elektroda las. Posisi pengealasan yang digunakan biasanya tergantung dari letak kampuh-kampuh atau celah-celah benda kerja yang akan dilas.Studi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu pada setiap posisi pengelasan (down hand position, horizontal position, vertical position, over head position) pada sambungan las butt weld joint, agar dapat memperbaiki kekuatan dari hasil sambungan lasnya.Baja yang digunakan yaitu baja karbon sedang (AISI 1045) dan empat posisi pegelasan yaitu down hand position, horizontal position, vertical position, dan over head position. Pengelasan dilakukan dengan las SMAW dengan menggunakan kampuh single V, single U dan single J serta lapisan las sebanyak 3 lapis (single V, single U dan single J) dan 4 lapis (single V dan single U). Ukuran spesimen uji tarik sesuai standar ASTM E-8 tahun 2004. Dari data hasil pengujian diperoleh nilai rata-rata kekuatan tarik pada semua kampuh las dengan lapisan las sebanyak tiga lapis yang tertinggi yaitu pada pengelasan down hand position kemudian vertical position dan horizontal position dan rata-rata kekuatan tarik terendah yaitu pada pengelasan over head position. Kekuatan tarik dari pengelasan horizontal position dapat diperbaiki dengan memperbanyak lapisan las agar semua kampuh dapat terisi penuh. Sedangkan untuk memperbaiki nilai kekuatan tarik pada pengelasan over head position dapat mengguanakan kampuh las yang lebih luah serta memperbanyak lapisan las agar semua kampuh las terisi penuh.Kata kunci: posisi pengelasan, butt weld joint, baja AISI 1045
Pengaruh Pemesinan Kering Terhadap Kekasaran dan Kekerasan Permukaan Paduan Titanium Gusri Akhyar Ibrahim
JURNAL MECHANICAL Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komponen-komponen mesin pesawat terbang yang dibuat daripada bahan paduan titanium memerlukan tingkat kelayakan dan kenyamanan terhadap kondisi permukaan yang dimesin. Integritas permukaan yang dimesin menjadi salah satu indikator penting terhadap kualitas komponen mesin yang diproduksi. Bagaimanapun juga, pada waktu pemesinan, permukaan paduan titanium yang dimesin mudah mengalami kerusakan karena bahan ini bersifat mampu-mesin yang tidak baik. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh model pemesinan kering terhadap integritas permukaan bahan Ti-6%Al-4%V ELI yang dimesin. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kekasaran permukaan yang diperoleh sangat ditentukan oleh kadar pemakanan dan jari-jari ujung pahat. Pada tingkat awal proses pemesinan, nilai kekasaran permukaan yang dihasilkan ada pada level yang tinggi dan kemudian menurun seiring dengan aus yang berlaku pada ujung mata pahat. Pada jara beberapa mikron di bawah permukaan bahan yang dimesin, didapati efek pengerasan sehingga nilai kekerasan yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan pada permukaan paling atas. Bahkan, lapisan putih yang keras dijumpai setebal lebih kurang 2 m pada kondisi operasi pemesinan; kecepatan potong 95 m/min, feed rate of 0.35 mm/rev and depth of cut of 0.10 mm. Kondisi ini diperoleh pada akhir pemotongan atau pada kondisi aus telah mencapai maksimum. Kata kunci: pemesinan kering, titanium, kekasaran permukaan, kekerasan permukaan

Page 4 of 24 | Total Record : 234