cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 52 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2019)" : 52 Documents clear
UJI KIMIAWI SILASE DAUN TEBU DENGAN PERLAKUAN DAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA Pekuwali, Yunita Rambu Babang; Handayani, Sri; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to determine the chemical quality of sugarcane leaf silage at different fermentation times. Silage chemical tests include crude protein content, total acid and pH. The research design used was Factorial Completely Randomized Design, namely Factor I = Silage with sugar cane leaf basal material consisting of 2 levels, namely P1 = Molases (without EM4), P2 = Molases with EM4 and Factor II = Duration of fermentation consisting of 3 levels namely T0=0 days, T5 =5 days, T10 =10 days so that there were 6 combinations of treatments. Each treatment was repeated 4 times. The results of a combination of treatments with the addition of EM4 and the length of fermentation in sugarcane leaf silage showed no significant differences in crude protein and pH while in total acid showed a very significant difference. The best treatment is P2T10 which is crude protein content 11.06 ± 4.89, total acid 4,39 ± 0,77 and pH 4,6 ± 0,84. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas kimia silase daun tebu pada lama fermentasi yang berbeda. Uji kimia silase meliputi kandungan Protein kasar, Total Asam dan pH. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial yaitu Faktor I= Silase dengan bahan basal daun tebu yang terdiri atas 2 aras yaitu P1=Molases (tanpa EM4), P2=Molases dengan EM4 dan Faktor II= Lama fermentasi yang terdiri atas 3 aras yaitu T0=0 hari, T5=5 hari, T10=10 hari sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Hasil penelitian kombinasi perlakuan dengan penambahan EM4 dan lama fermentasi pada silase daun tebu menunjukkan tidak perbedaan yang nyata pada protein kasar dan pH sedangkan pada total asam menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. Perlakuan terbaik adalah P2T10 yaitu kandungan protein kasar 11,06 ± 4,89, total asam 4,39 ± 0,77 dan pH 4,6 ± 0,84.
PENGARUH VARIETAS JAGUNG PADA PEMBUATAN KERUPUK JAGUNG Wahon, David Dolu Aman; Santosa, Budi; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of various corn varieties on the quality of corn crackers. Corn used is yellow corn (K), hybrid corn (H), pulverized corn (P) and ordinary white corn (Ph). This study used a single factor Complete Randomized Design, namely corn varieties. The formulations used are K (1 kg yellow corn, 80% starch and 20% flour), H (hybrid corn, 80% starch and 20% flour), P (pulut corn, 80% starch and wheat flour 20%), Ph (ordinary white corn, 80% starch and 20% flour). Repetition is done six times. The results showed that pulutized corn (P) could produce corn crackers of the highest quality physically, chemically and sensory. This formulation produced the composition of water content, ash content, fiber content, and texture of 8.82%, 2.52%, 6.03% and 18.38% respectively. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai varietas jagung terhadap kualitas kerupuk jagung. Jagung yang digunakan yaitu jagung kuning (K), jagung hibrida (H), jagung pulut (P) dan jagung putih biasa (Ph). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal yaitu varietas jagung. Formulasi yang digunakan yaitu K (jagung kuning 1 kg, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), H (jagung hibrida, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), P (jagung pulut, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), Ph (jagung putih biasa, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %). Pengulangan dilakukan sebanyak enam kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa jagung pulut (P) dapat menghasilkan kerupuk jagung dengan kualitas terbaik secara fisik, kimia dan sensoris. Formulasi ini menghasilkan komposisi kadar air, kadar abu, kadar serat, dan tekstur masing – masing yaitu 8,82 %, 2,52 %, 6,03 %, dan 18,38 %.
ATRIBUT- ATRIBUT PRODUK YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMBELI DAGING SAPI DI GIANT EKPRES DINOYO MALANG Numba, Melani Day Aba; Santoso, Erik Priyo; Sumarno, Sumarno; Murti, Ariani Trisna
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted on consumers who bought beef in Giant Ekspres Dinoyo, Malang. Data retrieval was carried out in May - June 2018 aimed at finding out the attributes of beef which had an effect on purchasing decisions. The sampling method used was a Purposive sampling method. The total population during the study amounted to 1000 respondents calculated using Slovin formula and got 90.9 respondents and rounded up to 100 respondents. The research variables were the meat fat content, meat fiber, meat water content, brand image, meat color, meat prices and the packaging of beef products. The research method used a descriptive quantitative method with technical data analysis using Statistical Product and Service Solutions (SPSS) computer program version 16.0. The results showed that 1) meat color, meat prices and product packaging were product attributes that significantly affected beef purchasing decisions, 2) other attributes (fat content, meat fiber, water content and brand image) had an effect but were not significant to the decision purchase of beef at Giant Ekpres Dinoyo Malang. Penelitian ini dilakukan pada konsumen yang membeli daging sapi di Giant Ekspres Dinoyo Malang. Pengambilan data dilakukan pada bulan mei – juni 2018 bertujuan untuk mengetahui atribut – atribut daging sapi yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Purposive sampling. Total populasi selama penelitian berjumlah 1000 responden dihitung menggunakan rumus slovin sehingga mendapatkan 90,9 responden dibulatkan menjadi 100 orang responden. Variabel penelitian yang digunakan adalah kandungan lemak daging, serat daging, kandungan air daging, brand image (citra merek), warna daging, harga daging dan kemasan produk daging sapi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan menggunakan program komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) warna daging, harga daging dan kemasan produk merupakan atribut produk yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian daging sapi, 2) atribut yang lain (kandungan lemak, serat daging, kadar air dan brand image) tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian daging sapi di Giant Ekpres Dinoyo Malang.
KAJIAN LANSKAP KAWASAN PESISIR WANOKAKA DI DESA WEIHURA KOTA WAIKABUBAK, NUSA TENGGARA TIMUR Talu, Timotius Tuangu; Setyabudi, Irawan; Hamzah, Amir
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is an archipelagic country that has abundant tourism potential. One of the tourism commodities in Indonesia is coastal tourism. Wanokaka Beach, located in Waihura Village, Wanokaka Subdistrict, West Sumba Regency has high tourism potential, which is a distinctive visual landscape, cultural objects and attractions of the local community which are the biggest and popular attractions in Sumba culture, namely the attraction of Pasola culture sea worms). From the above explanation, it is necessary to study so that tourism development does not lie behind the existing culture. In this study aims to identify or assess the coastal landscape of Wanokaka and find out the potential and constraints that exist in the Wanokaka Coast which can be developed as a tourist attraction. The approach of this research is descriptive qualitative conducted by observing directly and interviewing to find out the state of the coastal landscape and the activities of the community around the coast of the Wanokaka. The results of the research can be summarized in the form of conclusions or in writing back in writing about the condition of the landscape and the lives of the community, especially in the social and cultural fields. For the results of his research addressing Wanokaka beach has excellent landscape potential that must be developed such as the authenticity of nature with views and cultural tourist attractions that can add to the attractiveness of tourists. This ritual is expressed in the form of ritual Pasola (javelin throwing) and Nyale (sea worm harvest) which are held every year. behind the very strong potential and typical of Wanokaka beach there are obstacles that must be overcome such as accessibility, affordability of electricity, water, telecommunications and lack of community participation and government attention in developing existing potential. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki potensi wisata yang sangat melimpah. Salah satu komoditi pariwisata adalah wisata pesisir (coastal turism). Pantai Wanokaka yang berlokasi di Desa Waihura Kecamatan Wanokaka Kabupaten Sumba Barat memiliki potensi wisata yang tinggi yakni visual lanskap yang khas, objek dan atraksi budaya masyarakat lokal yang merupakan atraksi terbesar dan populer dalam budaya sumba yakni atraksi budaya Pasola (lempar lembing) dan Nyale (panen cacing laut). Dari penjabaran diatas maka perlu adanya kajian agar pengembangan wisata tidak bertolak belakan dengan budaya yang ada. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atau mengkaji lanskap pesisir pantai Wanokaka serta mengetahui potensi dan kendala yang ada di Pesisir Wanokaka yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata. Pendekatan penelitian ini yakni deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara mengamati secara langsung dan wawancara untuk mengetahui keadaan lanskap pantai maupun aktivitas masyarakat di sekitar pesisir wanokaka. Dari hasil penelitian dapat di simpulankan berupa kesimpulan atau melarsirkan kembali secara tertulis mengenai kondisi lanskap dan kehidupan masyarakat terlebih khusus dibidang sosial dan budaya. Untuk hasil penelitiannya menujukan pantai Wanokaka memiliki potensi lanskap yang sangat baik yang harus dikembangkan seperti keaslian alam dengan view serta atraksi wisata budaya yang dapat menambah daya tarik wisatawan. Ritual ini diekspresikan dalam bentuk ritual Pasola (lempar lembing) dan Nyale (panen cacing laut) yang diadakan setiap tahun. dibalik potensi yang sangat kuat dan khas pantai wanokaka terdapat kendala yang harus diatasi seperti aksebilitas, keterjangkauan listrik, air, telekomunikasi serta kurangnya partisipasi masyarakat dan perhatian pemerintah dalam mengembangkan potensi yang ada.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAHAN PETANI JAHE MERAH DI KELOMPOK TANI “PATIN UNGGUL” DI KELURAHAN ARDIREJO KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG Lalo, Januarius Mesang Ana; Muljawan, Rikawanto Eko; Mutiara, Farah
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The management of land for red ginger farmers is very good. Intensive farming has a land area of 0.05 ha. Of the land area of 0.05 Ha, all were planted with red ginger, so it was said to be intensive. Half-intensive farming has a land area of 0.1 ha. From a land area of 0.1 ha, 0.075 ha was planted with rice and 0.025 ha was planted with red ginger, so it was said to be half intensive. Side farming has a land area of 0.15 ha. Of the land area of 0.15 ha, 0.09875 ha was planted with rice, then 0.03875 ha was planted with chili and strawberries and 0.0125 ha was planted with red ginger, so it was said to be a side. Analysis of farming, fixed costs are fixed value costs that must be paid by producers regardless of the level of output produced, variable costs are the amount of costs that change according to the high and low output produced. total cost is the sum of fixed costs and variable costs. So the equation is TC = FC + VC. Total revenue is the product of price and quantity. Price is a predetermined price, the amount of production is the amount of output produced, the equation is TR = P × Q. Profit formula Π = TR─TC. The total receipt of red ginger with an intensive planting system has an average value of Rp. 39,000,000 greater than the half intensive planting system of Rp. 16,890,452 and the side of Rp. 10,797,949. The total cost of red ginger with an intensive planting system has an average value of Rp. 11,232,000 more than the half intensive planting system of Rp. 5,623,333 and a side of Rp. 2,841,821. The net income of red ginger farmers with an intensive system of Rp.448,000 is greater than the half intensive Rp. 11,406,667 and a side of Rp. 7,953,179. The R / C ratio obtained is greater than 1 (R / C ratio> 1), both intensive, semi-intensive and side-by-side so that farming with the system is very feasible. Pengelolaan sumber daya lahan petani jahe merah sangat baik. Usahatani intensif memiliki luas lahan sebesar 0,05 Ha. Dari luas lahan 0,05 Ha, seluruhnya ditanami jahe merah, sehingga dikatakan intensif. Usahatani setengah intensif memiliki luas lahan sebesar 0,1 Ha. Dari luas lahan 0,1 Ha, 0,075 Ha ditanami padi dan 0,025 Ha ditanami jahe merah, sehingga dikatakan setengah intensif. Usahatani sampingan memiliki luas lahan sebesar 0,15 Ha. Dari luas lahan 0,15 Ha, 0,09875 Ha ditanami padi kemudian 0,03875 Ha ditanami cabe dan stroberi dan 0,0125 Ha ditanami jahe merah, sehingga dikatakan sampingan. Analisis usaha tani, biaya tetap adalah biaya yang bernilai tetap yang harus dibayar produsen berapapun tingkat output yang dihasilkan, biaya variabel adalah jumlah biaya yang berubah-ubah menurut tinggi rendahnya output yang dihasilkan. biaya total adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel. Sehingga persamaannya adalah TC= FC+VC. Penerimaan total adalah hasil kali antara harga dengan kuantitas. Harga adalah harga yang telah ditentukan, jumlah produksi adalah jumlah output yang dihasilkan, persamaannya adalah TR= P×Q. Rumus keuntungan Π=TR─TC. Penerimaan total jahe merah dengan sistem tanam intensif memiliki nilai rata-rata Rp. 39.000.000 lebih besar dibandingkan dengan sistem tanam setengah intensif sebesar Rp. 16.890.452 dan sampingan sebesar Rp. 10.797.949. Biaya total jahe merah dengan sistem tanam intensif memiliki nilai rata-rata sebesar Rp. 11.232.000 lebih besar dibandingkan dengan sistem tanam setengah intensif sebesar Rp. 5.623.333 dan sampingan sebesar Rp. 2.841.821. Pendapatan bersih petani jahe merah dengan sistem intensif sebesar Rp.448.000 lebih besar dibanding dari setengah intensif sebesar Rp. 11.406.667 dan sampingan sebesar Rp. 7.953.179. Nilai R/C Ratio yang diperoleh lebih besar dari 1 (R/C rasio > 1), baik sistem intensif, setengah intensif maupun sampingan sehingga usahatani dengan sistem tersebut sangat layak dilakukan.
KAJIAN LANSKAP BUDAYA SUKU MATABESI DI KABUPATEN BELU NUSA TENGGARA TIMUR Pareira, Novica Christiani; Nuraini, Nuraini; Setyabudi, Irawan
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Matabesi tribe is the oldest tribe on the island of Timor which is located in the Umanen Fatuketi Village, Atambua Barat District, Belu Regency, East Nusa Tenggara Province. The life of the people of the Matabesi tribe is still dependent on nature, for example the use of reeds as material for roofing. The purpose of this study was to identify the characteristics of the Matabesi tribe's cultural landscape, and analyze the sustainability of the Matabesi tribe's cultural landscape. The research method is carried out qualitatively by describing the condition of architecture, cultural landscape, and activities that occur in the Matabesi Tribe area. The results of the study showed that the physical, biophysical, socio-cultural and economic values found in the Matabesi Tribe region are still well organized, and there are elements forming a landscape, includingUma, Aitos, Fatuklulik, Sadan Sri Fo’o Lakaan, We matan and Rate meo. Suku Matabesi merupakan suku tertua di Pulau Timor yang terletak di Kelurahan Umanen Fatuketi, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kehidupan masyarakat Suku Matabesi ini masih tergantung pada alam, contohnya pada penggunaan alang- alang sebagai bahan atap rumah. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik lanskap budaya Suku Matabesi, dan menganalisis keberlanjutan lanskap budaya Suku Matabesi. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif dengan mendeskripsikan kondisi arsitektur, lanskap budaya, dan aktivitas yang terjadi pada kawasan Suku Matabesi. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa nilai-nilai fisik, biofisik, sosial budaya dan ekonomi yang terdapat pada kawasan Suku Matabesi masih tertata dengan baik, dan terdapat elemen pembentuk lanskap antara lain Uma, Aitos, Fatuklulik, Sadan Sri Fo’o Lakaan, We matan, dan Ratemeo.
KAJIAN PENGEMBANGAN POTENSI KAMPUNG ADAT PRAIYAWANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI DESA RINDI KABUPATEN SUMBA TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR Nau, Dominggus Pati Maramba; Setyabudi, Irawan; Hamzah, Amir
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praiyawang traditional village is a traditional village in Rindi Village, Rindi District, East Sumba Regency. The landscape characteristics of the Praiyawang village area consist of physical and biophysical characteristics. Physical characteristics include, elements forming the landscape and spatial layout of the area.The shape of the landscape forming of Praiyawang area is Uma batang (tower house), katuada (menhir), retaining maramba (tomb grave), menhir, sabana field. The spatial structure consists of macro, table and micro space. Macro spatial planning includes landscape spatial planning that supports all people's lives consisting of forest space, agriculture, settlements, and savannas. The meso room is part of the macro space which consists of the settlement environment of the indigenous village communities of Praiyawang. Meso space consists of residential building elements, namely Uma, Menhir, Reti, Penji, Katuanda and Vegetation. The distribution of community houses in the praiyawang traditional village has a circular pattern of settlements with lined up intersecting megalithic graves. Micro space includes the house and yard. The micro spatial of the Praiyawang custom village area can be seen from the division of space in a community house consisting of upper space (where the Gods and ancestral spirits), the living room (the place of man), the lower space (cattle), the porch of the house, and the kitchen. Biophysical characters in the area in the form of vegetation and animals. Vegetation found in the Praiyawang region consists of physical, economic and food functions. From the conclusions of this study, the proposed strategy is to develop the potential contained in the traditional village area as a cultural tourism area in accordance with its existence and not threaten the sustainability of the traditional village area. Kampung adat Praiyawang merupakan kampung tradisional di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Karakteristik lanskap kawasan kampung Praiyawang terdiri dari karakteristik fisik dan biofisik. Karakter fisik meliputi elemen pembentuk lanskap serta tata ruang kawasan. Elemen pembentuk lanskap kawasan Praiyawang yaitu, Uma batang (rumah menara), katuada (menhir), reti maramba (kuburan bangsawan), menhir, padang sabana. Tata ruang kawasan terdiri dari ruang makro, mesa dan mikro. Tata ruang makro meliputi tata ruang lanskap yang mendukung semua kehidupan masyarakat yang terdiri dari ruang hutan, pertanian, permukiman, serta padang sabana. Ruang meso merupakan bagian dari ruang makro yang terdiri dari lingkungan permukiman masyarakat kampung adat Praiyawang. Ruang meso terdiri dari elemen – elemen pembentuk permukiman yaitu Uma, Menhir, Reti, Penji, Katuanda dan Vegetasi. Penyebaran rumah masyarakat dikampung adat praiyawang memiliki pola permukiman yang melingkar dengan berjejeran mengelingi kuburan megalitikum. Ruang mikro meliputi rumah dan pekarangan. Tata ruang mikro kawasan kampung adat Praiyawang dapat dilihat dari pembagian ruang pada rumah masyarakat yang terdiri dari ruang atas(tempat para dewa dan arwah leluhur), ruang tengah (tempat manusia), ruang bawah (ternak) , teras rumah, dan dapur. Karakter biofisik pada kawasan berupa vegetasi dan satwa. Vegetasi yang terdapat pada kawasan Praiyawang terdiri dari fungsi fisik,ekonomi, dan pangan. Dari kesimpulan penelitian ini Strategi yang diusulkan adalah mengembangkan potensi yang terdapat pada kawasan kampung adat sebagai kawasan wisata budaya sesuai dengan keberadaan dan tidak mengancam keberlanjutan kawasan kampung adat tersebut.
EVALUASI TAMAN RENUNGAN BUNG KARNO SEBAGAI TAMAN BERSEJARAH KOTA ENDE Bato, Edmundus; Djoko, Riyanto; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

City Park is a Green Open Space. In general city parks are made not only for beauty and social functions for the city, but city parks can also be used as a specific function, namely as a historical park in accordance with the history that has ever happened. Bung Karno's Reflection Park is still not in accordance with the criteria as a historical park. For this reason, this research was conducted to identify and analyze the value of Bung Karno Reflection Park as a historical park and the evaluation was carried out by looking at the criteria of the historic park and the public perception of the park. The results of the analysis questionnaire using descriptive analysis were then evaluated using the KPI (Key Performance Index) method. Based on the results of the inventory and evaluation based on criteria from historic parks, it can be concluded that Bung Karno's Reflection Park has not yet met the criteria of a historic park. Taman kota merupakan Ruang Terbuka Hijau. Secara umum taman kota dibuat tidak hanya sekedar untuk keindahan dan fungsi sosial bagi kota, namun taman kota juga dapat digunakan sebagai fungsi yang spesifik, yaitu sebagai taman bersejarah sesuai dengan sejarah yang pernah terjadi. Taman Renungan Bung karno masih belum sesuai dengan krtiteria sebagai taman bersejarah. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai Taman Renungan Bung Karno sebagai taman bersejarah dan Evaluasi dilakukan dengan melihat kriteria dari taman bersejarah dan presepsi masyarakat terhadap taman. Hasil kuisoner analsis menggunakan analisis deskriptif kemudian di evaluasi menggunakan Metode KPI (Key Perfomance Index). Berdasarkan hasil inventarisasi dan evaluasi berdasarkan kriteria dari taman bersejarah dapat simpulkan bahwa Taman Renungan Bung Karno belum sesuai dengan kriteria sebagai taman bersejarah.
DESAIN TAMAN VERTIKAL DENGAN KONSEP URBAN FARMING UNTUK FASADE PADA CLUSTER PERUMAHAN DI LOWOKWARU Masito, Masito; Setyabudi, Irawan; Alfian, Rizki
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Housing in Lowokwaru is a housing that is strategically located with a modern form and has enough land to arrange a park. On the housing estate there is also a narrow housing area and function shifting for each land in its use, so the solution of this research wants narrow land use with the concept of verticulture and urban farming, in housing facade clusters in poor lowokwaru using qualitative methods with sampling 20 houses which is around the lowokwaru sub-district of Malang city. This form of the results of the research design itself applies various designs that are suitable for the size of the house and the sampling of the housing. This research forms a design that makes the home page in accordance with its functions and residents of the house can carry out activities according to their needs such as farming in front of the house. verticultural application in lowokwaru housing, with designs such as verticulture of walls, vertical culture, vertical culture of fences, vertical shelf culture, hydropinics and aquaponics can overcome the problem of the function of a garden. Perumahan di daerah kecamatan lowokwaru merupakan perumahan yang letaknya strategis dengan bentuk yang modern dan mempunyai lahan yang cukup untuk menata sauatu taman. Pada lahan perumahan tersebut ada juga lahan perumahan yang sempit dan pengalihan fungsi untuk setiap lahan dalam penggunaanya. Penelitian ini ingin pemanfaatan lahan sempit dengan konsep vertikultur dan urban farming,dalam cluster fasade perumahan di lowokwaru malang yang menggunakan motode kualitatif dengan pengambilan sample 20 rumah yang ada di kecamatan lowokwaru kota malang. Hasil penelitian ini menerapkan berbagai desain yang sesuai dengan ukuran rumah dan pegambilan sample pada perumahan tersebut. Penelitian ini membentuk suatu desain yang membuat halaman rumah sesuai dengan fungsinya dan penghuni rumah dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kebutuhan misalnya bercocok tanam didepan rumah. Penerapan vertikultur di perumahan lowokwaru, dengan desain vertikultur dinding, vertikultur gantung,vertikultur pagar, vertikultur rak, hidropinik dan aquaponik bisa mengatasi masalah pengalihan fungsinya sebuah taman.
SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG UMBI KELADI (Colocasia Esculenta) PADA PEMBUATAN BROWNIES PANGGANG Jon, Patrisius Sunardi; Ahmadi, Kgs; Rozana, Rozana
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yam is a local food that has not been utilized optimally and can be used as raw material for flour substitution. The objective of this research is to obtain a partial substitution of flour with yam tuber flour which is appropriate for making baked brownies. This research used a completely randomized design with 5 treatment levels and 3 replications. The treatment applied in this researchis the partial substitution of flour with yam flour. The levels of partial substitution of yam tuber flour 0% (P0), yam tuber flour 15% (P1), yam tuber flour 30% (P2), flour tuber 45% (P3), yam tuber flour 60% (P4). The results research showed that the partial substitution of wheat flour with the best yam tuber flour was found in substitution 15%, characteristics are: water content (14.49%), ash content (0.32) protein content (5.09%), texture (628.17 g / mm2). Keladi merupakan bahan pangan lokal yang belum termanfaatkan secara optimal padahal dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk substitusi terigu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan subtitusi parsial tepung terigu dengan tepung umbi keladi yang tepat pada pembuatan brownies panggang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (Randomized complete Design)) dengan 5 taraf perlakuan dan 3kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu substiusi parsial tepung terigu dan tepung umbl keladi dengan taraf sebagai berikut subtitusi tepung umbi keladi 0%(P0), tepung umbi keladi 15%(P1), tepung umbi keladi 30%(P2), tepung umbi keladi 45%(P3), tepung umbi keladi 60%(P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi parsial tepung terigu dengan tepung umbi keladi terbaik, terdapat pada substitusi 15%, dengan karakteristik kadar air (14,49%), kadar abu (0,32) kadar protein (5,09%), tekstur (628,17g/mm2).