cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
KAJIAN DENSITAS DAN POLA PERGERAKAN DI KECAMATAN AIRMADIDI Katuuk, Rionald Jourdan; Tilaar, Sonny; Moniaga, Ingerid L
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Minahasa Utara memiliki posisi Geostrategi yang cukup baik, karena terletak di antara Kota Manado dan Kota Bitung sebagai Pusat Kegiatan Nasional. Sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan wilayah Kabupaten Minahasa Utara, Airmadidi mengalami perkembangan yang relatif cepat bila dibandingkan dengan daerah - daerah di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi densitas kepadatan dan pola pergerakan di Kecamatan Airmadidi dan menganalisis densitas kepadatan dan pergerakan harian masyarakat di Kecamatan Airmadidi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, kelurahan dengan densitas kepadatan tinggi yaitu Kelurahan Tanggari (120 Jiwa/ha) dan Kelurahan Sampiri (114 Jiwa/ha). Kelurahan dengan kepadatan sedang yaitu Kelurahan Sawangan (75 Jiwa/Ha), Kelurahan Airmadidi Atas (51 Jiwa/Ha), Kelurahan Rap – Rap (54 Jiwa/Ha), Kelurahan Sarongsong Satu (65 Jiwa/Ha) dan Kelurahan Sarongsong Dua (74 Jiwa/Ha). Sedangkan Kelurahan dengan kepadatan rendah Kelurahan Airmadidi Bawah (49 Jiwa/Ha) dan Kelurahan Sukur (25 Jiwa/Ha) sedangkan Pola pergerakan harian masyarakat Kecamatan Airmadidi rata - rata yaitu melakukan perjalanan ke tempat kerja. Lokasi tempat kerja rata – rata radius berada pada Kecamatan Airmadidi namun ada juga yang bekerja di Kota Manado dan Kota Bitung. Tidak hanya bekerja namun masyarakat juga ada yang pergi berbelanja. Lokasi tempat berbelanja yaitu di Pasar yang berlokasi di Kelurahan Sarongsong I. Namun ada 1 desa yang memilih berbelanja di Pasar Tondano dikarenakan lokasi desa yang berjarak ± 12 kilometer dari Pasar Sarongsong I yaitu Desa Tanggari. Akses Desa Tanggari ke tempat perbelajan di Pasar Tondano dapat ditempuh dengan kendaraan ± 15 menit.  Kata Kunci : Densitas, Pola Pergerakan Harian, Kecamatan Airmadidi
ANALISIS ELEMEN – ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA DI KAWASAN PERKOTAAN TAHUNA, KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Budiman, Ival Tom Rees; Rondonuwu, Dwight M; Tungka, Aristotulus E
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era globalisasi suatu kota dalam perkembangan  perlu adanya suatu citra kota atau identitas kota untuk sebagai penambah daya tarik kota. Tahuna memiliki kawasan pusat niaga yang disebut “Trikora”. Selain berada pada pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan ini juga memiliki sejarah penting bagi perkembangan di Kawasan Perkotaan Tahuna. Kondisi ini dapat terlihat sangat jelas dari kondisi arsiktekturnya yang masih terdapat banyak bangunan tua, seperti pertokoan, perkantoran, dan juga pasar tradisional yang belum banyak berubah yang nampak pada wajah kotanya. Citra kota menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik. tujuan penelitian menemukan citra kota di kawasan perkotaan Tahuna melalui lima elemen pembentuk citra kota. dalam teori Kevin Lynch yaitu, Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna  dan menganalisis elemen – lemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaa Tahuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana landasan teori yang berkaitan dengan judul analisis elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna. metode statistik deskriptif dan data kuantitatif dipakai untuk membuat kesimpulan pada peta mental maupun kuesioner berdasarkan hasil presentase responden yang berjumlah 99 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kawasan perkotaan Tahuna, kabupaten Kepuauan Sangihe berdasarkan  tata ruang kota memiliki 29 elemen pembentuk citra kota oleh kevin lynch, diantaranya ada 7 kawasan (District ), 5 elemen batas (Eedges), 2 titik temu ( Nodes ) serta memiliki 16 jalur  ( Path ). Hasil dari menurut masyarakat Tahuna, kawasan perkotaan Tahuna memiliki 24 elemen fisik sebagai elemen pembentuk citra kota, diantaranya adalah 5 elemen kawasan   ( District ), 2 elemen jalur ( Path ), 1 elemen penanda kawasan ( Landmark ), 1 elemen titik temu ( Nodes ) serta 7 elemen batas ( Edges ).  Kata Kunci : Analisis, Elemen Kota, Kawasan  Perkotaan, Citra Kota.
ANALISIS MORFOLOGI KOTA DI KECAMATAN MALALAYANG Panduu, Rocky Radinal; Warouw, Fela; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu kota dalam perkembangannya memiliki karakteristik bentuk yang disebut morfologi kota. Morfologi kota terbentuk karena adanya interaksi baik secara spasial maupun kegiatan masyarakat. Morfologi kota di kecamatan Malalayang mengalami perubahan, dimana aspek-aspek tersebut adalah penggunaan lahan yang semakin meningkat berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang semakin berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis 3 (tiga) komponen morfologi kota di kecamatan Malalayang dengan menggunakan metodologi kualitatif melalui analisis spasial. Analisis spasial ini dilakukan untuk melihat perubahan penggunaan lahan di kecamatan Malalayang periode tahun 2004, 2009, dan 2016 dengan meninjau 3 komponen morfologi kota yaitu pola plot bangunan, pola jaringan jalan dan sistem bangunan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perubahan morfologi kota kecamatan Malalayang didominasi oleh lahan yang tidak terbangun seperti perkebunan dan tanah kosong menjadi perumahan baru dan pola jaringan jalan baru. Perubahan inilah yang membentuk morfologi kota kecamatan Malalayang berbentuk kipas (fan shaped cities). Kata Kunci: Morfologi Kota, Kecamatan Malalayang
KAJIAN ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA BITUNG Wahab, Sitti Rahma Sy.; Rondonuwu, Dwight M.; Poluan, Roosje J.
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara kini dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Perikanan (Kota Cakalang) dan Kota Industri, akan tetapi gambaran Kota Bitung belum memberikan identitas yang jelas sehingga masyarakat masih kesulitan untuk mengingat keadaan suatu tempat. Kota Bitung kini berkembang pesat diberbagai sektor tentu perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah maupun perencana untuk memperkenalkan diri sebagai suatu wilayah yang beridentitas dan tertata dengan baik berpegang pada lima elemen pembentuk kota. Tujuan Penelitian ini adalah menemukenali elemen – elemen pembentuk citra Kota Bitung berdasarkan RTRW Kota Bitung Tahun 2013-2033 dan menganalisis citra Kota Bitung menurut persepsi masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengeksplor fenomena elemen pembentuk citra kota menurut pandangan masyarakat dengan menggunakan kuesioner dan peta mental. Berdasarkan hasil penelitian,(1) Ditinjau dari RTRW elemen-elemen pembentuk citra Kota Bitung yaitu elemen path (Jl. Sam Ratulangi, Jl. Piere Tendean, Jl. Ir. Soekarno, Jl. Yos Sudarso, Jl. M. R Ticoalu, Jl. Marthadinata dan Jl. H.V Worang), elemen edges ( Batas Pantai), elemen nodes (Menara Eifel, Tugu Jam Pusat Kota, Pasar Cita, Pasar Tua, dan Pelabuhan Samudera Bitung), elemen district (Kawasan Perkantoran, Kawasan Pusat Kota, Kawasan Pelabuhan Samudera Bitung) dan elemen landmark yang teridentifikasi bersifat alamiah yaitu Gunung Dua Sudara, Gunung Tangkoko, Gunung Batu Angus, Gunung Lembeh dan Gunung Woka. (2) berdasarkan analisis, elemen yang sangat dikenali masyarakat adalah  elemen landmark  yaitu Tugu Cakalang,  elemen nodes dan elemen district yaitu Pelabuhan Samudera Bitung, elemen path yaitu Jl. Sam Ratulangi sedangkan elemen yang kurang dikenali masyarakat adalah elemen edges yaitu batas pantai atau batas selat lembeh.Kata Kunci : Elemen Pembentuk Citra Kota, Kota Bitung,Persepsi Masyarakat
PEMETAAN ZONA RESAPAN AIR TAHURA H. V. WORANG GUNUNG TUMPA SEBAGAI INPUT PERENCANAAN DESAIN TAPAK KAWASAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOSPASIAL Ratag, Andreas; Kindangen, Jefrey I.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa merupakan salah satu infrastruktur hijau yang harus dilestarikan fungsinya guna meredam suhu panas perkotaan (urban heat island) akibat berkurangnya fungsi vegetasi dan konservasi air. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona resapan air, menganalisis tingkat kekritisan zona - zona resapan air dan menghasilkan rekomendasi sebagai input pada dokumen perencanaan desain tapak Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa . Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan spasial (spatial approach). Analisis spasial menggunakan metode tumpangsusun (overlay) pada perangkat lunak sistem informasi geografis. Penelitian ini menghasilkan distribusi kelas kekritisan resapan air yang baik dan tersebar pada blok – blok pengelolaan. Blok perlindungan memiliki luasan kelas kekritisan resapan air baik sebesar 27,60 Ha, blok pemanfaatan dengan luasan 113,22 Ha, blok koleksi dengan luasan 6,76 Ha, blok rehabilitasi dengan luasan 47,22 Ha, blok religi, budaya dan sejarah dengan luasan sebesar 0.30 Ha dan blok tradisional dengan luasan 11,40 Ha.Kata Kunci: Resapan Air, Desain Tapak, Tahura H.V. Worang, Gunung Tumpa
ANALISIS SPASIAL TINGKAT KERENTANAN BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Gosal, Lisa Christie; Tarore, Raymond Ch.; Karongkong, Hendriek H.
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Lokon merupakan gunung api aktif yang terletak di Kota Tomohon dengan tipe gunung A atau stratovolcano. Bahaya primer letusan Gunung api Lokon (bahaya langsung akibat letusan) adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik (bom vulkanik, lapilli, pasir dan abu) dan mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung akibat letusan) adalah lahar hujan yang terjadi setelah letusan dan apabila turun hujan lebat di sekitar puncak. Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak dari bencana tersebut diperlukan analisis mengenai tingkat kerentanan yang sangat berkaitan dengan penilaian resiko sebagai upaya penanggulangan bencana untuk perencanaan dan pengembangan daerah Kota Tomohon. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasinya tingkatan kerentanan bencana letusan gunung api dan diperolehnya rekomendasi – rekomendasi tentang penanganan di kawasan terdampak Gunung api Lokon. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Sesuai dengan analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek fisik bangunan, sosial kependudukan, ekonomi dan lingkungan yang parameter pembentuknya berdasarkan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, sehingga diperolehnya indeks penduduk terpapar dan indeks kerugian dari dampak bencana. Analisis kerentanan diolah dalam SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk mengklasifikasikan nilai kerentanan yang paling tinggi hingga paling rendah. Berdasarkan hasil studi, didapat 2 hal yaitu; persebaran tingkat kerentanan di Kota Tomohon terbagi atas 3 kelas dan yang menjadi pembahasan adalah kelurahan dengan kelas kerentanan tinggi (8 kelurahan) dan rekomendasi – rekomendasi penanganan di wilayah rentan bencana letusan Gunung api Lokon. Kata Kunci : Gunung api, Spasial, Tingkat Kerentanan Bencana, Mitigasi
IDENTIFIKASI TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN BANTARAN SUNGAI AMPERA KELURAHAN KAIBUS KABUPATEN SORONG SELATAN Koterisa, Jekson; Mononimbar, Windy J.; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan permukiman kumuh menjadi salah satu isu utama pembangunan perkotaan yang cukup menjadi polemik, karena upaya penanganan yang sebenarnya dari waktu kewaktu sudah dilakukan berbanding lurus dengan terus berkembangnya kawasan kumuhdan munculnya kawasan-kawasan kumuh baru.Kondisi seperti ini juga terjadi di Kabupaten Sorong Selatan, terutama permukiman di sekitar kawasan bantaran Sungai Ampera tepatnya sekitar Jl.Brawijaya Kelurahan Kaibus.Secara fisik permasalahan yang muncul di Permukiman Sekitar bantaran sungai Ampera Kelurahan Kaibus Kabupaten Sorong Selatan adalah merebaknya hunian dengan kondisi semi permanen yang terletak pada area bantaranSungai Ampera.Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi kawasan permukiman kumuh serta mengukur  tingkat kekumuhan di kawasan permukiman bantaran sungai Ampera.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menelah pembobotan skoring nilai. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tingkat kekumuhan di kawasan bantaran sungai Ampera adalah kumuh ringan. Hal ini terlihat dari kondisi fisik permukiman dimana terdapat bangunan yang tidak permanen atau tidak layak huni di beberapa titik pada II lingkungan, ketersedian MCK umum dengan kondisi yang kurang baik, kondisi jalan di beberapa titik pada II lingkungan yang kurang baik dan tidak memenuhi syarat, serta jaringan  drainase yang buruk tidak terlayani sarana dan prasaran drainase dan juga sarana dan prasaran proteksi kebakaran  tidak ada, serta tidak terlayani Ruang Terbuka Hijau di Kelurahan tersebut.Kata Kunci : Bantaran Sungai, Kelurahan Kaibus, Permukiman Kumuh

Page 1 of 1 | Total Record : 7