cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2017)" : 17 Documents clear
EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA TOMOHON Porajouw, Eva Fransina; Poluan, R. J.; Mastutie, Faizah
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya sebuah kota tidak lepas dari adanya sebuah ruang publik . Ruang publik merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktifitas tertentu dari manusia, baik secara individu maupun berkelompok. Serta merupakan tempat atau  ruang yang terbentuk karena adanya kebutuhan akan tempat untuk bertemu atau berkomunikasi. Pada zaman sekarang ini ruang publik sangat dibutuhkan oleh masyarakat kota, permasalahan yang ada saat ini ruang publik tidak mampu menjadi wadah untuk tempat masyarakat beraktifitas dikarenakan oleh tidak efektifnya pemanfaatan ruang publik yang ada. Salah satu ruang publik yang ada di kota Tomohon adalah Taman Kota. Tujuan pemerintah membentuk objek ini yaitu untuk melengkapi sarana untuk sebuah kota. Akan tetapi, permasalahan yang terjadi saat ini, taman kota tidak lagi ramai dikunjungi oleh masyarakat dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan taman kota . Hal ini mengakibatkan masyarakat lebih tertarik mencari hiburan di kota Manado karena jarak antara kota Tomohon dan Kota Manado hanya . Permasalahan yang ada saat ini menarik peneliti untuk melakukan penelitian pada objek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektifitas taman kota sebagai salah satu ruang publik di kota Tomohon. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa taman kota masuk pada kategori cukup efektif sebagai ruang publik di Kota Tomohon. Hal ini dikarenakan taman kota masih memiliki beberapa kekurangan dan permasalahan yang harus diselesaikan. Untuk itu dibutuhkan kerjasama antara pihak pemerintah selaku pengelolah serta masyarakat selaku pengguna untuk memperbaiki setiap kekurangan dan menyelesaikan setiap masalah yang ada di taman kota.Kata Kunci:Efektivitas,Ruang Publik,Taman Kota,Kota Tomohon
EFEKTIVITAS JALUR HIJAU DALAM MENYERAP EMISI GAS RUMAH KACA DI KOTA MANADO Momongan, Jovino Fains; Gosal, Pierre H; Kumurur, Veronika
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado saat ini banyak mengalami peningkatan dalam bidang pembangunan, hal ini berdampak pada meningkatnya kendaraan bermotor untuk menunjang aktivitas masyarakat perkotaan. Aktivitas transportasi merupakan salah satu kegiatan yang menghasilkan polusi udara karena mengeluarkan emisi Karbonmonoksida. Karbonmonoksida merupakan salah satu zat/gas yang berkontribusi dalam gas rumah kaca. Kota manado telah tersedia jalur hijau dengan berbagai jenis vegetasi pohon. Jalur hijau adalah salah satu upaya untuk menyerap emisi gas buang karbon dari kendaraan bermotor. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah jalur hijau mampu menyerap emisi gas buang yang dihasilkan kendaraan yang melintas. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui besaran emisi Karbonmonoksida (CO) yang dihasilkan oleh aktivitas transportasi perkotaan dan mengetahui daya serap eksisting jalur hijau dalam menyerap emisi Karbondioksida(CO2). Jalan dan jalur hijau dalam penelitian ini berada di 10 koridor jalan utama pada 10 kecamatan. Besaran emisi karbon bisa didapatkan dengan menghitung kendaraan yang melewati lokasi penelitian pada jam puncak dan  melakukan perhitungan emisi serta konversi CO ke CO2. Daya serap jalur hijau dapat diketahui dengan menghitung pohon berdasarkan jenisnya dan dihitung daya serapnya. Berdasarkan hasil penelitian,didapati emisi Karbonmonoksida sebesar 19.320.085ton/tahun dan daya serap eksisting jalur hijau terhadap Karbondioksida sebesar 29.794,25 ton/tahun.   Kata Kunci :Daya Serap Vegetasi, Emisi Karbon, Kendaraan Bermotor, dan Gas Rumah Kaca
PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI PULAU DOOM KOTA SORONG Johansz, Devid Abraham; Sela, Rieneke L; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Doom terletah di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Pulau Doom sudah ditinggali oleh masyarakat sejak masa pendudukan Belanda. Belanda sudah melirik keberadaan Pulau Doom sejak tahun 1800-an dan kemudian sekitar tahun 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai ibu kota pusat pemerintahan Kota Sorong. Pulau Doom kini menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seiring berkembang waktu, perkembangan permukiman di Pulau tersebut kini mulai berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi padat akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Perkembangan permukiman di Pulau Doom dari tahun 2007 hingga 2015 mengalami perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis arah perkembangan permukiman dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis spasial (overlay) dengan menggunakan software ArcGIS 10.1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa, 1arah perkembangan permukiman di Pulau Doom lebih dominan berkembang ke arah  kelurahan Doom Barat pada kontur 0-10% (topografi dataran rendah) dengan perkembangan permukiman sebesar 60%. 2Faktor-faktor yang paling mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom adalah faktor geografis, faktor kependudukan, faktor swadaya dan peran serta masyarakat dan faktor sosial budaya. Kata Kunci     : Permukiman, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman
HUBUNGAN AKSESIBILITAS TERHADAP TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN DI KOTA TOMOHON Sumadi, Stevanus Hariona Tricahyo; Papia, F. J.; Makainas, Indrajaja
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan wilayah perkotaan merupakan upaya pembangunan yang dilakukan secara terus menerus agar tercapai kualitas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup di dalamnya. Ketersediaan infrastruktur dan sistem jaringan dalam suatu wilayah akan mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aksesibilitas yang didalamnya dipengaruhi oleh sistem jaringan jalan dan perkembangan wilayah per kecamatan di Kota Tomohon. Untuk menjawab tujuan penelitian digunakan analisis indeks alfa untuk mengetahui tingkat aksesibilitas wilayah, analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah dan analisis korelasi dengan spss for windows untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, kecamatan yang memiliki tingkat aksesibilitas yang paling tinggi adalah kecamatan Tomohon Timur dan yang paling rendah adalah kecamatan Tomohon Barat. Sedangkan untuk tingkat perkembangan wilayah, Kecamatan Tomohon Tengah merupakan kecamatan dengani nilai perkembangan paling tinggi dan Kecamatan Tomohon Barat memiliki nilai perkembangan paling rendah. Hasil perhitungan korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara aksesibilitas wilayah dan perkembangan wilayah kecamatan di Kota Tomohon. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran yang dihasilkan yaitu pertama, pemerataan jaringan jalan di kecamatan yang memiliki nilai aksesibilitas rendah. Kedua adalah pemerataan pembangunan yang memiliki peran fital dalam perkembangan wilayah seperti fasilitas pendidikan, fasilitas perdagangan, dan fasilitas perindustrian di kecamatan yang memiliki nilai perkembangan rendah. Kata Kunci : Aksesibilitas, Perkembangan Wilayah.
KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH PESISIR STUDI KASUS : DESA LIKUPANG DUA DAN DESA LIKUPANG KAMPUNG AMBONG, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA Pollo, Joel Yermia; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat puluh tujuh Kota Otonom dari sembilan puluh empat Kota Otonom di Indonesia  memiliki karakteristik geografis kawasan pesisir. Dominasi jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat wajar mengingat morfologi NKRI berupa kepulauan yang berjumlah sekitar 17.480 pulau dengan 95.181 Km bentang garis pantai dari seluruh pulau tersebut. Gambaran tentang kondisi wilayah seperti itu mencerminkan bahwa diperlukan suatu pendekatan berwawasan kepesisiran yang komprehensif mencakup dinamika interaksi berbagai aspek/sektor di kawasan pesisir tersebut. Desa Likupang Dua dan Desa Kampung Ambong merupakan desa di wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki fungsi yang penting dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara 2011-2031. Letaknya yang strategis sebagai gerbang menuju pulau-pulau dibagian Utara, serta potensi kekayaan bahari dan pesona wisata alam yang memukau menjadi alasalan kenapa wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khususdari pihak-pihak terkaitguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki memberikan daya tarik yang kuat dan menimbulkan konsentrasi penduduk dan permukiman yang tinggi. Penduduk membangun tanpa memperhatikan legalitas lahan dan aturan-aturan terkait pembangunan permukiman yang benar, sehingga kondisi ini menciptakan kekumuhan bagi lingkungan permukiman di lokasi penelitan.Dilatarbelakangi  persoalanpermukiman kumuh, mendorong penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian,menganalisis tingkat capaian pelayanan infrastruktur permukiman pesisir berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penenlitian, serta mengindentifikasi tingkat kekumuhan permukiman pesisir pada kedua desa penelitian berdasarkan ketersediaan Infrastruktur.Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kuantitatif Deskriptif.Hasil analisis menujukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua desa tersebut dengan nilai SPMsecara keseluruhan belum tercapai sehingga terjadi kekumuhan.Analisa dan perhitungan SPM dan analisa tingkatan kategori kumuh di wilayah Desa Likupang Dua dan Desa Likupang Kampung Ambong menempatkan kedua desa tersebut masuk dalam kategori kumuh sedang.   Kata Kunci :Wilayah Pesisir, Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBANGUN DI KAWASAN PESISIR LOKASI STUDI KASUS: SEPANJANG PESISIR KOTA MANADO Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado memiliki potensi yang besar dalam bidang pesisir dan kelautan. Pemanfaatan ruang terbangun yang terjadi saat ini di kawasan pesisir Kota Manado membawa pengaruh besar bukan hanya pada bertumbuhnya perekonomian Kota Manado, peningkatan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, tapi juga membawa pengaruh terhadap lingkungan alam dan kelangsungan ekosistem kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan di sepanjang kawasan pesisir Kota Manado, dengan meliputi 5 (lima) kecamatan dan 21 (dua puluh satu) kelurahan yang termasuk dalam kawasan pesisir Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik dan kondisi fisik (alami dan buatan), dan sosial ekonomi pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado, serta menganalisis kesesuaian antara kondisi eksisting pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado dengan arahan perencanaan yang ada dalam RTRW Kota Manado 2010-2030. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan (wawancara dan dokumentasi), dan survey ke instansi terkait (permintaan data). Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang terbangun di kawasan pesisir Kota Manado antara arahan dalam RTRW Kota Manado 2010-2030 dengan kondisi eksisting di wilayah penelitian, antara lain: Permukiman di kawasan sempadan Pantai Malalayang, permukiman di kawasan sempadan Sungai Malalayang, Sario, dan Bailang, alih fungsi lahan perkebunan/pertanian menjadi lahan permukiman dan perdagangan/jasa, pertokoan dan Hotel yang dibangun membelakangi pantai di area reklamasi B on B (Boulevard on Bussiness), tumbuhnya permukiman kumuh di kawasan pesisir Kelurahan Bahu, Sindulang I, dan Sindulang II. Kata Kunci : Pemanfaatan ruang terbangun, Kawasan pesisir, RTRW
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERKELOLANYA OBJEK WISATA PANTAI BATU PINAGUT BOLAANG MONGONDOW UTARA Datukramat, Hermawan Pratama; Kumurur, Veronika -; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Batu Pinagut terletak di Boroko Utara kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pantai pasir putih yang indah terletak pada posisi yang strategis dalam kota, sudah termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), beberapa fasilitas telah dibangun namun belum dilakukan pengelolaan lebih lanjut dari Pemerintah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan menentukan faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode  kuantitatif deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan data dilapangan  dengan teknik survey atau observasi lapangan dan ditunjang wawancara dengan yang memiliki kepentingan. Setelah penyusunan data dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis SWOT untuk menstrukturkan masalah dan mengetahui besarnya nilai dan bobot dari faktor-faktor penyebab yang diperoleh sehingga dapat diketahui pula faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui empat faktor yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara yaitu belum disahkannya RIPPDA, pungutan masuk (retribusi) tidak diberlakukan, status kepemilikan lahan masih dimiliki warga, kurangnnya budaya sadar wisata masyarakat/pengunjung dan lemahnya promosi. Dengan menggunakan metode skoring  maka diketahui faktor dominan yang dominan adalah belum disahkannya RIPPDA.   Kata Kunci : Faktor Penyebab Tidak Terkelola, Objek Wisata Pantai, Batu Pinagut Bolmut
PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN DI KAWASAN STRATEGIS TUMBUH CEPAT KAPITU – TEEP KABUPATEN MINAHASA SELATAN Mirah, Edbert M; Mononimbar, Windy; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Minahasa Selatan terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara. Ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan adalah Kota Amurang yang berjarak ± 64 km dari Kota Manado.  Secara geografis Kabupaten Minahasa Selatan terletak di antara 00,47’ – 10,24’ Lintang Utara dan 1240,18’ – 124,045’ Bujur Timur. Sesuai  RTRW Kabupaten Minahasa Selatan wilayah Desa Kapitu - Teep diperuntukkan sebagai kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi dan Sub-Pusat Pemerintahan sehingga diasumsikan banyak terjadi perubahan pemanfaatan lahan dikawasan tersebut.Wilayah Desa Kapitu – Teep merupakan bagian kawasan strategis yang telah berkembang atau potensial untuk dikembangkan karena memiliki keunggulan sumber daya dan  geografis yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Hal ini  mengakibatkan banyaknya penduduk pendatang yang bermukim dan tentu saja membutuhkan tempat tinggal untuk kelangsungan hidupnya. Sehingga alih fungsi lahan terus terjadi, diduga sebagaian besar lahan perkebunan dan pertanian yang sebelumnya mendominasi telah dikonversi menjadi perumahan dan fasilitas umum. Desa Kapitu-Teep menjadi salah satu daerah yang perlu dikaji mengenai perubahan lahannya. Terutama yang terjadi sejak tahun 2003 sampai tahun 2016 dimana diasumsikan perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi begitu pesat. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah : Bagaimana Perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di kawasan strategis tumbuh cepat Kapitu – Teep? dan Apa Faktor – faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan?. Adapun manfaat hasil studi ini Memberikan rekomendasi dan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengembangan Kawasan Tumbuh Cepat Kapitu-Teep, Dapat dijadikan sebagai bahan  pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut, serta referensi terhadap penelitian yang sejenis, Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di Kapitu-Teep. Berdasarkan hasil studi dapat ditarik kesimpulan perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi begitu pesat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir dan ada 5 faktor pendorong terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Kata    Kunci :           Pemanfaatan Lahan, Faktor Pendorong,          Kawasan Strategis Cepat Tumbuh
PENGARUH LAYANAN TERMINAL BOLU DI KECAMATAN TALLUNGLIPU TERHADAP PERTUMBUHANWILAYAH KABUPATEN TORAJA UTARA Konda, Vemelia; -, Suryono -; Gosal, Pierre H
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran yang sedang berkembang baik dari tingkat perekonomian maupun jumlah penduduk. Kabupaten Toraja Utara memiliki potensi daerah di beberapa sektor antara lain, sektor pertanian, dan sektor pariwisata. Dalam pengelolaan sektor tersebut khususnya produksi dari setiap sektor, mobilitas (perpindahan) faktor produksi sangatlah penting. Pengangkutan hasil produksi ke daerah konsumsi (pasar) dan untuk mengekspor dari suatu wilayah ke wilayah lain diperlukan tersedianya fasilitas dan pelayanan transportasi didukung oleh prasarana transportasi yang memadai , diantaranya adalah angkutan umum dan terminal. Kabupaten Toraja Utara hanya terdapat satu terminal sebagai prasarana dalam mendukung sistem transportasinya.  Terminal di Kabupaten Toraja Utara terdiri atas terminal tipe C yaitu Terminal Bolu yang berada di Kecamatan Tallunglipu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kinerja pelayanan Terminal Bolu di Kecamatan Tallunglipu dan mengetahui pengaruh layanan Terminal Bolu terhadap Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Toraja Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan Importance-Performance Analysis (IPA), Customer Satisfaction Indeks (CSI) dan analisis spasial. Berdasarkan hasil penelitian ini, 1menurut responden kinerja layanan Terminal Bolu cukup puas dan ketersediaan standar pelayanan terminal tipe C (Permenhub RI No. 40 Tahun 2015) di Terminal Bolu belum terpenuhi, 2 layanan Terminal Bolu berpengaruh terhadap Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Toraja Utara, yaitu penggunaan lahan, biaya perjalanan, nilai lahan dan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Toraja Utara.   Kata Kunci          : Layanan, Terminal, Pertumbuhan Wilayah
EVALUASI KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM MEWUJUDKAN KOTA HIJAU (P2KH) Monoarfa, Richard Vennesanki; Moniaga, Ingerid; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai upaya dilakukan pemerintah guna meningkatkan jumlah RTH perkotaan agar tercipta keseimbangan lingkungan yang berkelanjutan dan  meningkatkan kualitas lingkungan hidup di perkotaan salah satunya yaitu Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Kota Kotamobagu sejak tahun 2013 merupakan salah satu kota yang termasuk dalam program P2KH. Beberapa program telah di jalankan guna untuk menambah jumlah ruang terbuka hijau yang ada di Kota Kotamobagu. Namun,  beberapa program yang di jalankan terkesan tidak  terealisasi dan  terkelola dengan baik.  Oleh karena itu, Tujuan penelitian ini adalah perlu dievaluasi apa-apa saja ruang terbuka hijau yang ada di Kota Kotamobagu, serta sejauh apa Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dalam hal ini atribut Green open space dan atribut Green community di Kota Kotamobagu berjalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, SIG, dan AHP dibantu dengan software ArcGIS 9.2 dan Expert choice. Berdasarkan hasil penelitian RTH di Kota Kotamobagu terdiri dari RTH Publik  dan RTH Private dengan luasan keseluruhan 4664 hektar atau 67,92% dari luas wilayah Kota Kotamobagu. Sedangkan Untuk Program (P2KH) telah di jalankan dengan baik oleh pemerintah kota, atribut Green open space telah menjalankan 5 program dan atribut Green community telah menjalankan 3 program namun pengelolaan masih menjadi masalah utama. Kata Kunci     : Ruang terbuka hijau, Program Pengembangan Kota Hijau

Page 1 of 2 | Total Record : 17