cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2017)" : 17 Documents clear
PERENCANAAN KOMPONEN “WATER SENSITIVE URBAN DESIGN” KAWASAN RAWAN BANJIR DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Asrar, Ramadhani -; Warouw, Fela -; Moniaga, Ingerid L
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Singkil merupakan salah satu Kecamatan di Kota Manado yang sebagian wilayahnya merupakan daerah yang termasuk dalam kategori rawan terhadap bencana banjir (RTRW Kota Manado).Water Sensitive Urban Design (WSUD) adalah konsep perencanaan lahan dan rekayasa pendekatan keteknikan yang mengintegrasikan siklus air perkotaan,  air hujan, air tanah, pengelolaan air limbah dan air bersih, ke dalam desain perkotaan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan daya tarik estetika dan rekreasi.WSUD dianggap dapat meminimalisir dampak dari bencana banjir yang terjadi pada Kecamatan Singkildengan memanfaatkan langkah yang tepat dalam desain dan operasi pembangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi,mengevaluasi, dan menganalisis kondisi dan ketersediaan komponen WSUD yang terdapat di Kecamatan Singkil serta untuk merencanakan komponen WSUD yang tepat pada kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifkualitatif terhadap komponen WSUD eksisting pada Kecamatan Singkil. Tahapan pada penelitian yaitu identifikasi elemen WSUD pada kondisi eksisting, evaluasi berupa potensi dan masalah pada sampel, dilanjutkan dengan analisis sampel yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi tahapan perencanaan nantinya. Berdasarkan hasil studi, dapat ditarik 2 kesimpulan  yaitu elemen eksisting dari 5 komponen WSUD. Pada hasil evaluasi dan analisis didapati berbagai kondisi beragam dari elemen tersebut mulai dari kondisi, luasan, karakteristik, potensi, masalah, dan ketersediaan yang beragam dari setiap sampel tersebut dan menjadi pengantar bagi analisis berdasarkan karakteristik elemen tersebut serta kebijakan dan guidelines WSUD yang digunakan peneliti. Perencanaan menghasilkan peta rencanan zonasi dari ke 5 komponen tersebut serta Peta Grand Design untuk menunjukan integrasi antar kelima komponen tersebut.   Kata Kunci : Perencanaan, Komponen, Rawan Banjir, Water Sensitive Urban Design
PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PERKOTAAN DI KECAMATAN KAIDIPANG Husin, Pratiwi; Sela, Rieneke L; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan permukiman pada perkotaan yang semakin berkembang diikuti dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat maka akan berdampak terhadap penggunaan lahan yang semakin tinggi. Hal ini sama halnya terjadi di Kecamatan Kaidipang yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sebagai ibu kota Kabupaten maka secara otomatis akan menjadi pusat segala aktivitas yang ada di wilayah Kabupaten ini. Oleh karena itu, perlu diketahui arah perkembangan permukiman dan kesesuaian lahan pada Kecamatan Kadipang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi arah perkembangan permukiman di Kecamatan Kaidipang dan menganalisis kesesuaian lahan pada kawasan permukiman di Kecamatan Kaidipang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan analisis arah perkembangan permukiman dengan menggunakan metode overlay untuk menjawab tujuan pertama dan menggunakan analisis kesesuaian lahan untuk permukiman dan menggunakan parameter kesesuaian lahan, yang dibagi kedalam 5 kelas dengan menggunakan metode skoring untuk menjawab tujuan kedua dari penelitian ini yang keseluruhan analisisnya dibantu menggunakan software Arcgis. Berdasarkan hasil penelitian ini didapat 2 hal yaitu : 1arah perkembangan di Kecamatan Kaidipang lebih mengarah ke daerah pesisir dan mengikuti jaringan jalan, 2analisis kesesuaian lahan yang dibagi ke dalam 5 kelas yaitu adalah di Kecamatan Kaidipang lahan yang sangat sesuai  sebesar 182.97 Ha. Lahan  yang sesuai sebesar 3549.04 Ha, lahan yang cukup sesuai sebesar 3308.55 Ha, dimana ke 3 kelas lahan ini berada di daerah dataran rendah dan tidak teridentifikasi adanya rawan bencana. Sedangkan 2 kelas yaitu yang tidak sesuai memiliki luas lahan sebesar 1418,28 Ha, dan lahan yang sangat tidak sesuai memiliki lahan sebesar 170.34 Ha dimana lahan ini berada di daerah dataran tinggi, didaerah peisisir pantai dan daerah hutan mangrove.Kata Kunci          : Pengembangan Permukiman Perkotaan, Kesesuaian Lahan.
PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA JAYAPURA Lawene, Chilfy Lewina; Tondobala, Linda; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya pertambahan penduduk identik dengan perkembangan kota, seperti halnya di Kota Jayapura. Pertumbuhan kegiatan dan pertambahan penduduk erat kaitannya dengan penggunaan lahan untuk tempat bermukim dan melakukan berbagai kegiatan. Jayapura sebagai Ibu Kota Provinsi Papua makin meningkat pelayanannya dalam sektor pendidikan, perdagangan dan jasa, perkantoran, pertahanan dan keamanan. Lahan memiliki sifat yang relative tetap, namun kebutuhan lahan terus meningkat. Kondisi topografi kota Jayapura berkontur, permukiman cenderung berkembang pada daerah dengan kemiringan lebih dari 25%. Pada kawasan lindung dengan kondisi permukiman cenderung padat dan terkonsentrasi pada beberapa lokasi. Peneliti ingin membahas pengembangan kawasan permukiman di Kota Jayapura, untuk melihat persebaran permukiman dan kondisi penggunaan lahan. Tujuan penelitian adalah identifikasi sebaran kawasan permukiman; mengetahui kondisi okupasi lahan kawasan permukiman ditinjau dari infrastruktur; dan mengkaji lahan yang sesuai untuk pengembangan permukiman ditinjau dari kelerengan dan kebijakan tata ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Spasial (overlay) dibantu dengan software ArcGIS yang akan menjawab tujuan pertama dan ketiga. Tujuan kedua menggunakan metode kuantitatif dan dilakukan pengambilan sampel dengan kriteria yang ditentukan. Berdasarkan hasil studi, 1persebaran kawasan permukiman telah mengarah pada kemiringan lereng >25%, perbukitan, lereng terjal dan sempadan danau, bantaran sungai, sempadan pantai serta di atas permukaan air. 2 Ketersediaan infrastruktur jalan, drainase, air bersih, persampahan dan listrik (SNI 03-1733-2004) yang kurang memadai. 3Lahan yang sesuai untuk pengembangan kawasan permukiman berada pada Distrik Muara Tami. Kata Kunci: Permukiman, Lereng, Infrastruktur, Tata ruang (RTRW)
PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN TOMOHON TIMUR Tompodung, Andrew S; Poluan, R. J.; Rate, J Van
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang strategis untuk dikembangkan di Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu potensi pariwisata yang di miliki Kota Tomohon adalah agrowisata di Kecamatan Tomohon Timur, kawasan agrowisata ini dikelola oleh penduduk setempat secara tradisional. Dengan adanya potensi dan permasalahan yang ada, maka dari itu dilakukan penelitian untuk mengkaji “Pengembangan Kawasan Agrowisata Di Kecamatan Tomohon Timur”. Tujuan penelitian ini adalah megidentifikasi karakteristik kawasan agrowisata dan untuk menetapkan strategi pengembangan kawasan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yang bersifat deskriptif kualitatif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggambarkan atau menguraikan secara jelas apa yang ada dilapangan, dan analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis alas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Secara internal sejumlah Kekuatan (strengths) atau sumberdaya,dan kelemahan-kelemahan (weaknesses) atau keterbatasan/kekurangan, dan secara ekstemal akan berhadapan dengan berbagai Peluang (opportunities) atau situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan berasal dari luar, dan ancaman - ancaman (threats) situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan berasal dari luar. Berdasarkan hasil studi, didapat bahwa; karakteristik wilayah kawasan agrowisata untuk mendukung pengembangan kawasan agrowisata, yaitu prasarana di kawasan agrowisata sudah tersedia, kemiringan lereng yang beraneka ragam, namun aksesbilitasnya belum cukup baik, tersedia juga lahan yang sesuai dan produktif dan juga masyarakatnya sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Rekomendasi strategi yang digunakan adalah membuat master plan kawasan Agrowisata, memanfaatkan investasi guna pengadaan sarana dan prasarana, dan peningkatan pemberdayaan masyarakat.   Kata Kunci : Pengembangan, Kawasan, dan Agrowisata.
PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK DI PERMUKIMAN TERENCANA DI KAWASAN PERI URBAN KOTA MANAADO Sigar, Brenda -; Kumurur, Veronika -; Supardjo, Suryadi -
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah domestik merupakan salah satu masalah yang ada di permukiman terencana di kawasan peri urban Kota Manado. Pada kawasan ini sampah domestik yang ada belum ditangani dengan baik karena pengelolaan sampah hanya terpusat di wilayah pusat kota saja sehingga penanganan sampah domestik di wilayah peri urban sering terabaikan penanganannya. Penelitian ini dilakukan pada 17 perumahan yang berada di kawasan peri urban Kota Manado, dengan tujuan untuk mengetahui pola penanganan sampah domestik pada setiap perumahan yang ada di kawasan peri urban Kota Manado. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu dengan mendeskripsikan pola penanganan sampah domestik yang berlangsung pada setiap perumahan mulai dari tahap pemilahan/pewadahan, pengumpulan serta pengangkutan sampah domestik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan hasil studi dapat dijelaskan bahwa terdapat 4 pola penanganan sampah domestik pada 17 perumahan yang ada. Pola pertama terdapat di perumahan CHT, Wenwin, Bintang Mas, Trimitra Matuariwaya, Palem Highland Village, BTN, Puri Alfa, Griya 3 Mapanget, Griya 4 Mapanget, Puri Kelapa Gading dan Panamas, yaitu penanganan sampah yang berlangsung hanya sampai tahap pewadahan. Pola kedua terdapat di perumahan Graha Pineleng, CBA dan Korpri, penanganannya terlaksana  mulai dari pewadahan, pengumpulan dan langsung menuju pembuangan akhir. Pola ketiga terdapat di perumahan Citraland Kota Manado, penanganannya terlaksana dari tahap pewadahan, kemudian langsung pada tahap pengangkutan dan menuju TPA tanpa melalui pengumpulan. Dan pola keempat terdapat di perumahan Citraland Minahasa, Villa Mutiara dan Permata Klabat yang penanganannya terlaksana mulai dari tahap pewadahan, pengumpulan sampah di TPS dan pengangkutan sampah domestik menuju TPA. Kata Kunci : Pengelolaan, Sampah, Domestik, Permukiman Terencana, Peri Urban
POLA PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI PUSAT KOTA TERNATE Effendi, Dewinita; Waani, Judy O; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia memiliki kepribadian individual sebagaimana juga mahluk sosial, hidup bermasyarakat dalam suatu kolektivitas. Manusia juga merupakan pusat lingkungan dan sekaligus bagian dari lingkungan. Dalam setiap aktivitas manusia, terutama yang berada di perkotaan biasanya tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan ruang seperti halnya dalam penggunaan ruang terbuka publik. Seperti halnya di Kota Ternate, Keberadaan ruang terbuka publik memiliki peranan penting untuk masyarakat. Ruang terbuka publik di Kota Ternate tersebar di kecamatan-kecamatan dan kepemilikannya beragam dari tanah adat sampai milik pemerintah kota, yaitu salah satu contohnya adalah Taman Nukila dan Pantai Falajawa yang berada di Kecamatan Ternate Tengah. Taman ini secara langsung berperan penting sebagai pusat interaksi dan komunikasi masyarakat baik formal maupun informal, individu atau kelompok. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi perilaku atau atribut masyarakat dalam memanfaatkan ruang terbuka publik di pusat Kota Ternate dan menemukan atribut perilaku dominan lingkungan dari perilaku masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  yaitu penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan menggunakan behaviour mapping untuk menjawab pertanyaan pertama dan kedua. Berdasarkan hasil studi 1Atribut yang muncul dari Taman Nukila (legitibilitas, kenyamanan, privasi, teritori, dan aksesibilitas) dan di Pantai Falajawa ( visibilitas, privasi, aksesibilitas, dan sosialitas) 2Atribut dominan dari Taman Nukila (legitibilitas, kenyamanan, dan privasi) dan atribut domina dari Pantai Falajawa (privasi dan aksesibilitas).Kata Kunci : Atribut, Pola Perilaku, Ruang Terbuka Publik
TIPOLOGI KEPEMILIKAN RTH DI PERKOTAAN TOBELO Konofo, Ristanti; Kumurur, Veronika; Warouw, Fella
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat  tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya  pertanian. Perkotaan Tobelo yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara. Kondisi RTH di Perkotaan Tobelo tidak tersebar merata pada beberapa desa. Kota merupakan kecamatan yang memiliki banyak penduduk karena terletak di kawasan pusat kota, dengan fungsi perkantoran, jasa, dan perdagangan dan kawasan pemukiman yang padat penduduk. Proporsi ruang terbuka hijau di Perkotaan Tobelo saan ini masih belum memenuhi standar kebijakan tata ruang 30% dari total luas wilayah atau UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Yang menjadi permasalahan pada penelitian ini adalah bagi sebagian masyarakat yaitu sulit membedakan antara RTH privat dan publik yang ada di perkotaan Tobelo Dikarenakan perkotaan Tobelo Memiliki RTH yang memiliki lahan-lahan kebun dengan status kepemilikan lahan RTH yang sulit dibedakan mana RTH privat dengan publik. Tujuan Penelitian ini untuk menghitung luas RTH perkotaan Tobelo berdasarkan tipologi kepemilikan dan aktivitas apa saja yang ada pada masing-masing RTH Publik RTH Privat. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu peneliti melakukan observasi lapangan, mengambil dokumentasi dan mengamati aktivitas di taman kota untuk mendeskripsikan keadaan wilayah studi, berdasarkan perhitungan luas RTH luas  serta berdasarkan Tipologi Kepemilikan di perkotaan  Tobelo.   Kata  Kunci  : RTH, Tipologi, Kepemilikan, Perkotaan Tobelo.

Page 2 of 2 | Total Record : 17