cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2019)" : 18 Documents clear
ANALISIS STRUKTUR RUANG BERDASARKAN PUSAT PELAYANAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA Filipus, Theodorus; Tondobala, Linda; Rengkung, Michael M
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Minahasa Utara merupakan kabupaten yang relatif baru dibentuk di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki posisi Geostrategi yang cukup baik, terletak di antara Kota Manado sebagai Pusat Kegiatan Nasional yang memiliki Bandara Sam ratulangi, dan Kota Bitung yang memiliki Pelabuhan Samudra yang akan dikembangkan menjadi International Hub Port (IHP), sehingga untuk menopang pererakan yang tinggi tersebut makan perencanaan struktur ruang harus optimal. Tujuan penilitian ini adalah menganalisis kondisi struktur ruang Kabupaten Minahasa Utara dan melihat permasalahan pusat-pusat pelayanan Kabupaten Minahasa Utara dengan acuan RTRW 2013-2033 Kabupaten Minahasa Utara. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, yaitu dengan mengumpulkan data jumlah penduduk serta jumlah prasarana dan diinput dalam table kemudian dihitung menggunakan analisis skalogram. Berdasarkan hasil penelitian, (1) kondisi struktur ruang eksisting Kabupaten Minahasa Utara sudah baik dan tersebar disetiap kecamatan yang ada seperti fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan, perdagangan dan jasa serta infrastruktur yang mendukung terciptanya struktur ruang. Jaringan jalan yang menghubungkan setiap pusat pelayanan di Kabupaten Minahasa Utara, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan air bersih yang telah terpasang meskipun belum merata dan sistem persampahan telah memiliki TPS. Terdapat empat hirarki struktur ruang di Kabupaten Minahasa Utara berdasarkan analisis skalogram, Kecamatan Airmadidi dan Kauditan menmpati hirarki tertingi dan Kecamatan Likupang Barat, Timur dan Selatan menempati hirarki terendah. (2) Permasalahan struktur ruang berdasarkan evaluasi RTRW 2013-2033 adalah jumlah fasilitas umum dan social yang masih kurang dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kondisi infrastruktur yang perlu diperbaiki serta peningkatan pelayanannya seperti jalan rusak, pasokan air bersih, listrik dan jaringan telekomunikasi yang baik ke setiap desa dan ketidaksesuaian arahan hirarki pusat pelayanan unutuk setiap kecamatan.                                                        Kata Kunci : Struktur Ruang, Kabupaten Minahasa Utara, Pusat Pelayanan
ANALISIS TINGKAT PELAYANAN INFRASTRRUKTUR PENDUDKUNG KAWASAN MINAPOLITAN PETASIA DI KABUPATEN MOROWALI UTARA Surbakti, Anugra Prasetyo La'lang; Tondobala, Linda; Supardjo, Suryadi
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Morowali Utara merupakan wilayah yang di tetapkan sebagai wilayah pengembangan Kawasan Minapolitan menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, maka di tetapkan tiga kecamatan sebagai daerah pengembangan Minapolitan, yaitu Kecamatan Petasia Timur, Kecamatan Petasia dan Kecamatan Bungku Utara.  Kecamatan Petasia adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Morowali Utara sekaligus sebagai Ibukota Kabupaten Morowali Utara. melalui  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Morowali Utara tahun 2014-2034. Luas wilayah yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan di Kecamatan Petasia adalah seluas 169,12ha yang mencakup 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Bahoue dan Kelurahan Kolonodale, Seiring berjalannya waktu, timbul beberapa kesenjangan yang terjadi seperti kurang efektif dan efisiennya dalam penyediaan infrastruktur baik itu sarana penunjang maupun prasarana penunjang di dalam pelaksanaan maupun dalam pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kawasan Minapolitan Petasia. Maka penulis tertarik untuk meneliti tentang pelayanan infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan Petasia.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif Untuk menganalisis gambaran umum dan kondisi infrastruktur Kawasan Minapolitan Petasia lalu menggunakan analisis scala linkert(skoring) untuk mengetahui tingkat pelayanan infrastruktur. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengukur tingkat ketersediaan infrastruktur, tingkat kondisi infrastruktur, dan tingkat pemanfaatan infrastruktur. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel pemanfaatan infrastruktur memiliki nilai tertinggi dan nilai terendah adalah variabel Kondisi infrastruktur. Rata-rata tingkat pelayanan Infrastruktur Kawasan Minapolitan Petasia adalah mencapai 71,08% dengan kategori tingkat pelayanan sedang. Kata Kunci : Prasarana Sarana Kawasan Minapolitan. Pelayanan Infrastruktur
ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP TIPOLOGI EKOSISTEM PERKOTAAN DI KECAMATAN MAPANGET KOTA MANADO Dauhan, Edgard M; Rondonuwu, Dwight M; Wuisang, Cynthia E.V.
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penggunaan lahan kota Manado berdampak pada perubahan ekosistem perkotaan dan eksisting lahan. Kecamatan Mapanget adalah kawasan yang berdekatan dengan pinggiran perkotaan, bila dilihat dari tipologi ekosistem penggunaan lahan di kecamatan Mapanget indentik dengan perkebunan. Tetapi, karena adanya pengaruh perkembangan pada pusat kota maka terjadi perubahan dan penggunaan lahan di kecamatan Mapanget sehingga merubah tipologi ekosistem perkotaan yang ada. Tujuan penelitian ini menganalisis perubahan  dan penggunaan lahan kecamatan Mapanget untuk menentukan tipologi ekosistem perkotaan berdasarkan perubahan dan penggunaan lahan di kecamatan Mapanget. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Untuk dapat menganalisis perubahan lahan dan penggunaan lahan penulis menggunakan software  Arc Gis 10.3 dengan  data-data penunjang yaitu peta citra satelit 2002-2018, peta penggunaan lahan 2007-2016 dan observasi berdasarkan variabel yang diambil dari teori Riddel 1981 sebagai pedoman. Berdasarkan hasil analisis penggunaan lahan terbuka pada tahun 2002 sampai pada tahun 2018 terjadi perkembangan secara signifikan, dengan berkurang penggunaan lahan terbuka hijau, perkebunan dan pertania, berganti menjadi lahan terbangun yaitu penggunaan lahan perumahan dan permukiman, perdagangan dan jasa. Perkembangan yang terjadi terus bertambah sehingga mengambil tempat-tempat yang masih indentik dengan lahan terbuka hijau. Tipologi ekosistem perkotaan kecamatan Mapanget adalah ekosistem absorbsi, produksi dan komposit. Dari ketiga tipologi yang didapatkan berdasarkan hasil penelitian, ekosistem produksilah yang mendominasi penggunaan lahan di kecamatan Mapanget. Akibat perkembangan pemanfaatan lahan di kota Manado maka terjadi perubahan penggunaan lahan, yang mengakibatkan perubahan tipologi ekosistem, dari  produksi menjadi ekosistem absorbsi, hal ini nampak berubahnya lahan terbuka hijau, perkebunan, dan pertanian menjadi perumahan dan permukiman.Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Tipologi Ekosistem Analisis Gis, Kecamatan Mapanget
EVALUASI PRASARANA DASAR PERMUKIMAN DI KELURAHAN KIMA ATAS DAN KELURAHAN KAIRAGI II DI KECAMATAN MAPANGET Tilaar, Natalia; Gosal, Pierre H; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan disuatu daerah sangat berkaitan erat dengan adanya fasilitas pendukung yang dapat memudahkan aktivitas masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi atau sosial, untuk itu perlu kiranya dibahas mengenai prasarana. Prasarana salah satu fasilitas utama atau fasilitas dasar dalam suatu kegiatan dalam permukiman. Permukiman adalah bagian permukaan bumi yang dihuni manusia meliputi segala sarana dan prasarana yang menunjang kehidupannya yang menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal yang bersangkutan menurut Sumaatmadja (1988). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kondisi lingkungan dan membadingkan prasarana yang ada. Analisis dilakukan pada setiap prasarana yang menghasilkan rekomemdasi sesuai dengan kebutuhan. Hasil analisis yang di dapat dari jaringan jalan yang terdapat di kelurahan Kima Atas memiliki panjang 3786 meter dan tidak terdapat jalan untuk diperbaiki sedangkan di kelurahan Kairagi II memiliki 5,091,707 meter dan memerlukan perbaikan jalan sepanjang 1,625,8 meter. Hasil analisis drainase di kelurahan Kima Atas memiliki panjang drainase 17.452 meter dan tidak terdapat drainase untuk diperbaiki sedangkan di kelurahan Kairagi II memliki panjang drainase 890.579 meter dan memerlukan perbaikan drainase sepanjang 9.833 meter. Hasil analisis air bersih di dapatkan bahwa kebutuhan penambahan sambungan PDAM di kelurahan Kima Atas yaitu 189 sambungan dan kelurahan Kairagi II 1761 sambungan, dan 237 sambungan untuk sumur bor/pompa untuk kelurahan Kima Atas dan untuk kelurahan Kairagi II tidak memerlukan sambunga, dan juga untuk bak penampungan air bersih dibutuhkan 237 sambungan untuk bak penampungan di kelurahan Kima Atas sedangkan untuk kelurahan Kairagi II tidak membutuhkan sambungan. Hasil analisis persampahan yang terdapat di kelurahan Kima Atas dan Kairagi II diperlukan pembuatan TPS dengan menggabungkan beberapa lingkungan dengan menyesuaikan dengan banyaknya penduduk yang ada. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pengembangan penelitian.Kata Kunci : Prasarana Dasar Permukiman, Kondisi, Kebutuhan
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR DI WILAYAH PERKOTAAN TAHUNA DENGAN MENGGUNAKAN GIS Tuwonaung, Janet Blandina; Gosal, Pierre H; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Perkotaan Tahuna merupakan daerah yang cukup rawan terhadap tanah longsor. Adapun faktor penyebab antara lain : Intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, penggunaan lahan bervariasi yang terjadi akibat aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tingkat kerentanan tanah longsor di Wilayah Perkotaan Tahuna dengan menggunakan gis. Penelitian ini menggunakan teknik metode deskriptif kuantitatif dan analisis spasial dengan bantuan alat analis GIS ( Geografis Informasi Sistem) dan analisis analisis skoring dengan teknik pengumpulan data primer (observasi lapangan dan wawancara langsung) data pengumpulan data sekunder (studi literatur, mengunjungi instansi pemerintah/organsisasi terkait dan searching data/ informasi di media internet). Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa dengan memperhitungkan parameter kerentanan demografi, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan kerentanan lingkungan di dapat 5 klasifikasi tingkat kerentanan : tidak rentan, sedikit rentan, agak rentan dan sangat rentan. Untuk kategori tingkat kerentanan sangat rentan di Kecamatan Tahuna memiliki luasan 269.712ha (1,45%) meliputi 4 Kelurahan : Bungalawang, Manente, Sawang Bendar, Soataloara Dua dan Kecamatan Tahuna Timur kategori tingkat kerentanan sangat rentan memiliki lusasan 112.472ha (0.82%) meliputi 3 Kelurahan : Lesa, Tapuang, Tona Dua. Kata Kunci: Wilayah Perkotaan Tahuna, Kerentanan, Longsor, Geografi Informasi Sistem
MORFOLOGI KAWASAN PERMUKIMAN AKIBAT KEBERADAAN KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SAM RATULANGI DI KELURAHAN BAHU DAN KLEAK Tumbelaka, Vanessa; Kindangen, Jefrey I; Rengkung, Joseph
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan suatu kota dipengaruhi oleh pertambahan penduduk, perubahan sosial ekonomi dan budaya serta interaksinya dengan daerah sekitar. Pertambahn penduduk perkotaan mendorong terjadi peningkataan  kebutuhan sosial dan ekonomi di kota yang menyebabkan peningkatan kebutuhan terhadap lahan. Universitas merupakan sarana yang menyediakan jasa pendidikan bagi masyarakat. keberadaan universitas ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan suatu Kawasan. Hal ini memicu terjadinya alih fungsi lahan yang dulunya lahan kosong menjadi lahan terbangun , kebutuhan kelengkapan sarana pendidikan dan fasilitas aktivitas mahasiswa dalam bidang pelayanan, perdagangan dan jasa. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah dengan adanya Kampus Universitas Sam Ratulangi berdampak terhadap Kawasan permukiman. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan Teknik Analisis Spasial, Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi perubahan morfologi dan pola kawsan permukiman yang ada disekitar kawasan kampus Universitas Sam Ratulangi. Berdasarkan hasil identifkasi dan pembahasan maka dengan adanya Universitas Sam Ratulangi secara tidak langsung berpengaruh di kawasan permukiman dikarenakan adanya peningkatan aktifitas dalam sektor perdagangan dan jasa dengan adanya pendatang yang tinggal di daerah tersebut  sehingga untuk meningkatkan perekonomian, masyarakat sekitar mengalihfungsikan bangunan-bangunan mereka untuk dijadikan kos, rumah kontrak, toko dan lain-lain. Kata Kunci : Morfologi, Kawasan Permukiman, Universitas Sam Ratulangi
EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMOBAGU TAHUN 2014 - 2034 Mokodongan, Rohaya Putri; Rondonuwu, Dwight M; Moniaga, Ingerid L
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kotamobagu memiliki rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang telah disahkan dalam Peraturan daerah tentang Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu tahun 2014 – 2034. Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu sampai pada tahun 2019 telah masuk tahun ke 5 setelah rtrw disahkan, sehingga perlu dilakukan evaluasi 5 tahun pertama. Ketidaksesuaian rencana tata ruang wilayah terhadap kondisi aktual yang terjadi di lapangan seringkali terjadi. Ketidaksesuaian pada RTRW Kotamobagu terjadi pada rencana struktur ruang dan pola ruang, dari hasil survey yang dilakukan pada rencana pola ruang kawasan sektor informal untuk pedagang kaki lima yang direncanakan diarahkan lokasinya di 3 Kelurahan / Desa yaitu Kelurahan Molinow, Kelurahan Genggulang dan Desa Poyowa Kecil. Dilihat dari kondisi aktual yang terjadi, realisasi di 3 Kelurahan / Desa dalam rencana tidak ada, lokasi pedagang kaki lima di Kotamobagu dilihat dari kondisi aktual yang ada lokasinya berbeda dengan yang direncanakan dimana lokasinya yaitu di Jln. Kartini Kelurahan Gogagoman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dan implementasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif kuantitatif untuk menjelaskan kondisi sebenarnya antara rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dilapangan, kemudian dihitung dengan menggunakan persentase (%) untuk mengetahui tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual. Evaluasi rencana tata ruang wilayah kotamobagu menggunakan pedoman dari Peraturan Menteri Agraria & Tata Ruang No. 9 tahun 2017 tentang pedoman pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu masuk dalam kategori kesesuaian kurang berkualitas dengan hasil yang didapatkan adalah  74,18 % sehingga rekomendasi yang diberikan berdasarkan pedoman adalah perlu dilakukan revisi sebagian Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamobagu. Kata Kunci: Evaluasi, Kesesuaian RTRW Kotamobagu
KORELASI ANTARA HARGA LAHAN DENGAN KEPADATAN TERBANGUN DI KECAMATAN MALALAYANG, KOTA MANADO Tambajong, Gifly Jeremy; Tilaar, Sonny; Rogi, Octavianus H
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Malalayang adalah salah satu dari 11 kecamatan yang ada di Kota Manado. Kecamatan Malalayang berlokasi di pinggiran Kota Manado dan memiliki potensi untuk terus berkembang sebagai wilayah permukiman, hal ini akan menyebabkan dinamika perubahan harga lahan yang signifikan dari waktu ke waktu. Peningkatan jaringan utilitas, kebutuhan ruang terbuka, prasarana sosial dan ekonomi, ketersediaan perumahan, jaringan air bersih merupakan implikasi dari berkembangnya suatu wilayah, yang selanjutnya timbullah permasalahan kota yang sangat kompleks. Harga lahan yang tinggi cenderung ditempati oleh fungsi lahan komersial, kecenderungan ini semakin meningkat pada akhirnya dimanfaatkan oleh para spekulan tanah dengan maksud untuk mencari keuntungan.. Analisis data menggunakan analisis korelasi pearson dengan bantuan software SPSS .Sebagai panduan yang lebih baku, interpretasi derajat keeratan hubungan kedua variabel ini dilakukan dengan mengacu pada klasifikasi hubungan statistikal dua peubah / variabel yang dikemukakan oleh Guilford, yang secara garis besar diuraikan. Hasil analisis korelasi yang ada menunjukkan bahwa dari kedua variabel Harga Lahan (X) dan Kepadatan Terbangun (Y) memiliki korelasi nilai yang beragam. Untuk kedua variabel Harga lahan (X) memiliki korelasi yang kecil terhadap variabel okupansi bangunan yaitu berjumlah 0,363 dan 0,139, memiliki korelasi yang cukup terhadap kepadatan penduduk yaitu berjumlah 0,660 dan 0,304 , memiliki korelasi yang erat terhadap kepadatan bangunan 0,869 dan 0,624 .  Kata Kunci : Korelasi Pearson, Harga Lahan, Kepadatan Terbangun, Okupansi  Bangunan
EVALUASI TINGKAT KEKUMUHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Alhabsyi, Usman; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2016 Kecamatan Tuminting teridentifikasi memiliki luasan kawasan permukiman kumuh terbesar di Kota Manado yakni sebesar 49.15 Ha (31.24 % dari total luas kawasan kumuh) yang terbagi atas 5 Kawasan yakni Kawasan Maasing (7,83 Ha), Kawasan Mahawu (19,68 Ha), Kawasan Sindulang Satu (14,17 Ha) dengan kategori Kumuh Berat, Kawasan Sumompo (4,52 Ha) dengan kategori Kumuh Sedang, dan Kawasan Sindulang Dua (3,20 Ha) dengan kategori Kumuh Ringan. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi tingkat kekumuhan dan kondisi aspek permukiman di Kecamatan Tuminting pada tahun 2016 dan 2018 setelah adanya penanganan melalui program RP2KPKP. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis skoring dengan 7 indikator yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan, kondisi air minum, kondisi drainase, kondisi air limbah, kondisi persampahan, dan kondisi proteksi kebakaran untuk menghasilkan penilaian tingkat kekumuhan di Kecamatan Tuminting pada tahun 2018. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi diketahui bahwa sebanyak 4 kawasan mengalami penurunan tingkat kekumuhan yaitu Kawasan Sindulang Satu dari kumuh berat menjadi kumuh sedang, Kawasan Maasing dan Kawasan Mahawu dari kumuh berat menjadi kumuh ringan, dan Kawasan Sumompo dari kumuh sedang menjadi kumuh ringan, serta 1 kawasan memiliki tingkat kekumuhan yang tetap yaitu Kawasan Sindulang Dua dengan tingkat kekumuhan ringan. Adapun aspek permukiman yang mengalami peningkatan signifikan sehingga memberikan dampak terhadap tingkat kekumuhan terdapat pada aspek infrastruktur permukimannya yaitu jalan lingkungan dan drainase lingkungan.Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Tingkat Kekumuhan, Kota Manado
ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN SARIO KOTA MANADO Allokendek, Mutiara Lisa; Hanny, Poli; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Sario merupakan salah satu kecamatan di Kota Manado yang memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan daya tarik dari RTH di Kecamatan Sario adalah keberadaannya sudah sejak jaman penjajahan Belanda . Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketersediaan RTH pada program pengembangan kota hijau di Kecamatan Sario. penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif untuk melihat kondisi RTH. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat dalam  program RTH dengan alat kuisioner berdasarkan skala likert yang kemudiaan di hitung menggunakan rumus distribusi frekuensi. Hasil dari penelitian ini adalah luas identifikasi RTH khususnya RTH publik masih belum sesuai degan ketetapan undang-undang penataan ruang dan untuk RTH privat sudah mencukupi namun bentuk RTH yang ada hampir keseluruhan ditutupi perkerasan dengan sedikit vegetasi. Sedangkan untuk tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Sario sudah baik dalam hal kegiatan Perencanaan, Pembangunan, Pemeliharaan dan Forum komunitas hijau. Masyarakat ingin berpartisipasi namun perlu ada stimulus dari pihak pemerintah di Kecamatan Sario.                                                                                                                    Kata Kunci : Kota Hijau, Partisipasi Masyarakat, Program Pengembangan Kota Hijau

Page 1 of 2 | Total Record : 18