cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2011): August" : 27 Documents clear
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Disertai Restorasi dan Pasak Resin Komposit pada Nekrosis Pulpa dengan Lesi Periapikal (terhadap Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila) Anung Sri Gutomo; Yulita Kristanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4986.678 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16475

Abstract

Latar belakang. Perawatan Saluran akar satu kunjungan merupakan perawatan saluran akar yang prosesnya diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Hal ini memberikan keuntungan antara lain memperkecil resiko kontaminasi mikroorganisme dalam saluran akar dan menghemat waktu perawatan. Pasak resin komposit merupakan pasak buatan sendiri yang dibuat dari resin komposit, pasak ini mempunyai daya tahan yang cukup kuat untuk menerima tekanan pengunyahan dan tidak memerlukan preparasi saluran akar yang banyak membuang struktur dentin. Tujuan. penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi restorasi resin komposit dengan pasak resin komposit pasca perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi insisivus sentralis kanan maksila. Kasus. Laki-Iaki 20 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Prof Soedomo untuk merawatkan gigi depan atas yang berlubang di bagian palatal. Penanganan. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila karies profunda dengan nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah perawatan saluran akar satu kunjungan, dilanjutkan restorasi resin komposit dengan pasak resin komposit aktivasi kimiawi. Kesimpulan. Evaluasi klinis pada waktu kontrol gigi insisivus sentralis kanan maksila menunjukkan tidak ada respon perkusi dan palpasi, warna gingiva normal,tumpatan masih utuh, warna tumpatan dan warna gigi tidak berubah.
Protesa Maxillofacial Thermoplastic Nylon dengan Hollow Bulb pada Kasus Klas I Aramany Pasca Hemimaxillectomy Sri Oetami RS; Suparyono Saleh; Erwan Sugiatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4348.014 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16489

Abstract

Latar Belakang. Operasi pembedahan yang dilakukan pad a daerah wajah akan mengakibatkan cacat wajah, gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat timbul masalah pada rehabilitasinya. Bahan protesa maxillofacial thermoplastic nylonini digunakan sebagai alat rehabilitasi pasca hemimaxillectomy karena bahan ini selain non toxic juga ringan dan lentur. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defek atau cacat pada daerah wajah dapat dibuatkan suatu protesa maxillofacial gigi tiruan sebagian dan juga sebagai obturator dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita. Laporan Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 19 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo atas kemauan sendiri karena merasa terganggu dengan adanya cacat wajah akibat operasi pembedahan palatumnya. Operasi hemimaxillectomy dilakukan oleh dokter THT R.S Bethesda dan obturator pasca bedah sudah dipasang setelah operasi. Dua minggu kemudian dibuatkan protesa maksilofasial resin akrilik dengan hollow bulp. Setelah 6 bulan menggunakan obturator resin akrilik pasien merasa sakit dan tidak nyaman karena ada kekambuhan jaringan sehingga dilakukan operasi lagi. Kemudian dibuatkan obturator definitif kerangka logam dengan hollow bulb tetapi hanya bertahan selama 3 bulan pasien merasa kesakitan, dalam pemeriksaan obyektif tampak defek mengalami pengkerutan ada infiltrasi jaringan. Operasi yang ketiga dilakukan kembali kemudian dibuatkan obturator definitif dari bahan thermoplastic nylon dengan hollow bulp. Pembahasan. Bahan Thermoplastic nylon untuk protesa maxillofacial dengan hollowbulp dipilih karena merupakan bahan yang non toxic, ringan dan stabil. Saat insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan kemudian tidak tampak iritasi jaringan lunak, pengunyahan lebih stabil karena alat lebih ringan dan tidak goyang, sehingga lebih nyaman. Kesimpulan. Protesa maxillofacial thermoplastic nylon dengan hallow bulb merupakan alat rehabilitasi yang dapat mengembalikan estetik, fungsi bicara, mengunyah dan membantu proses penyembuhan jaringan dari trauma psikologis penderita.
Perawatan Transposisi pada Maloklusi Kelas III Skeletal Disertai Crossbite dan Deepbite dengan Teknik Straight Wire (terhadap Insisivus Lateral dengan Caninus Regio Kiri Maksila) Evodie Christy; Darmawan Sutantyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4539.564 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16480

Abstract

Latar belakang. Perawatan transposisi gigi perlu mendapatkan perhatian khusus dikarenakan kompleksitas perawatannya, sehingga sebagian praktisi cenderung memilih pilihan yang lebih mudah dengan mencabut gigi yang transposisi. Tindakan ini memberikan efek yang irreversible dan dapat merugikan pasien. Tujuan. Memberikan informasi tentang perawatan kasus transposisi gigi unilateral gigi insisivus lateraldan caninus regio kiri maksila pada maloklusi kelas III skeletal crossbite dan deepbite dengan alat cekat sistem straight wire. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 24 tahun, pekerjaan mahasiswa, datang ke klinik Orthodonsia FKG UGM. Pada pemeriksaan subjektif pasien merasa terganggu penampilannya diakibatkan gigi depan atas yang berjejal dan gigi bawah yang lebih maju daripada gigi atasnya. Diagnosis final adalah maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite disertai transposisi lengkap gigi ! 2 dan ! 3. Penanganan. Reposisi gigi ! 2 dan ! 3 dilakukan secara bertahap, disediakan ruangan terlebih dahulu dengan distalisasi gigi ! 3, diikuti dengan rotasi dan labialisasi gigi ! 2. Maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dirawat dengan penggunaan peninggi gigitan posterior disertai retraksi regio anterior mandibula memanfaatkan ruangan yang ada. Kesimpulan. Perawatan transposisi gigi unilateral dari gigi insisivus lateral dan caninus pada regio kiri maksila kasus maloklusi kelas III skeletal dengan crossbite dan deepbite dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik cekat sistem straight wire dan meningkatkan estetik pasien. Pemilihan jenis perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan usia pasien yang masih muda, hasil perhitungan determinasi lengkung yang mendukung, tingkat kooperatifitas pasien yang baik., dan pasien mengharapkan perawatan dapat dilakukan tanpa intervensi bedah.
Efek Radiasi Ionisasi terhadap Ekspresi mRNA Aquaporin-5 Kelenjar Submandibularis dan mRNA Aquaporin-3 Gingiva hal 15-20 Kwartarini Murdiastuti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6515.547 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16449

Abstract

Latar Belakang. Aquaporin-5 (AQP5) di kelenjar submandibularis adalah salah satu anggota protein transmembran/ aquaporins (AQPs) yang memfasilitasi gerakan saliva sehingga mampu melewati membran sel. Di gingiva juga terekspresi aquaporin-3 (AQP3) yang diperkirakan juga berperan penting untuk memfasilitasi cairan sulkus gingiva sehingga dapat melewati jaringan ini. Sampai saat ini masih sedikit sekali informasi tentang dampak penggunaan radiasi ionisasi terhadap ekspresi aquaporins (AQPs), yang mendasari terjadinya xerostomia. Melalui pendekatan patologi molekuler, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek radiasi ionisasi terhadap ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva. Metodologi. Penelitian dilakukan pada 20 Rattus novergicus keturunan kedua, sehat, jantan, usia 3-4 bulan, berat badan ± 200 gr kemudian dibagi 2 kelompok, tanpa radiasi dan dengan radiasi C060dosis 10 gray pada ventral tikus. Pengambilan kelenjar submandibularis, dan gingiva dengan pembedahan. Seluruh sampel yang terkumpul dilakukan isolasi RNA dan dilanjutkan dengan pemeriksaan RT-PCR. Hasil. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan gambaran ketebalan band/pita ketika dibatasi oleh primer untuk identifikasi ekspresi mRNA AQP-5 kelenjar submandibularis tikus serta ekspresi mRNA AQP3 gingiva tikus akibat radiasi ionisasi 10 Gy. Kesimpulan. Terdapat penurunan ekspresi mRNA AQP5 kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva akibat radiasi ionisasi ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva.
Gigi Tiruan Lengkap Duplikasi dengan Modifikasi Terbatas sebagai Pedoman Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Cadangan M. Th. Esti Tjahjanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3740.486 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16485

Abstract

Latar belakang. Gigi Tiruan Lengkap (GTL) duplikasi adalah GTL kedua merupakan replika atau tiruan GTL pertama. GTL cadangan disiapkan untuk lanjut usia sebagai GTL pengganti jika GTL yang telah lama dipakai dengan memuaskan patah atau hilang. Untuk memudahkan adaptasi pasien terhadap GTL cadangan diperlukan GTL cadangan identik dengan GTL lama. GTL duplikasi dibuat untuk tujuan memindahkan kontur GTL lama ke GTL cadangan. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan cara melaksanakan perawatan penggantian GTL dengan GTL duplikasi sebagai pedoman membuat GTL cadangan. Kasus & penanganan. Pasien laki-Iaki berumur 72 tahun telah memakai GTL 7 tahun dengan memuaskan membutuhkan GTL cadangan. Pada pemeriksaan subjektif dan objektif, GTL mempunyai retensi dan stabilisasi kurang serta traumatik oklusi. GTL diduplikasi untuk dibuat GTL duplikasi sebagai pedoman. GTL duplikasi pedoman dimodifikasi terbatas yaitu dilakukan sedikit perubahan meliputi perbaikan perluasan tepi dan relining, selanjutnya dipakai sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan. DuplikasiGTL dengan teknik 2 sendok cetak dengan bahan tanam silikon. GTL duplikasi pedoman dengan bahan resin akrilik polimerisasi dingin warna gusi dan malam. Kesimpulan. GTL cadangan mempunyai retensi dan stabilisasi baik, oklusi seimbang. GTL cadangan langsung berhasil dipakai pasien. GTL duplikasi dengan modifikasi terbatas adalah desain yang memudahkan adaptasi pasien dan sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan.
Perawatan Saluran Akar Multi Kunjungan Protaper Rotary Files Single Cone pada Nekrosis Pulpa Disertai Asses Dentoalveolar Akut (terhadap Gigi Molar Pertama Kiri Mandibula) Billy Sujatmiko; Endang Retnowati Retnowati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4258.04 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16476

Abstract

Latar belakang. Perawatan saluran akar multi kunjungan merupakan perawatan endodonlik yang diperuntukan untuk kasus-kasus yang memerlukan proses penyembuhan antar kunjungan dan di peruntukan untuk lesi-Iesi akut dan merupakan kotra indikasi perawatan saluran akar satu kunjungan. Tujuan. Kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil evaluasi perawatan saluran akar multi kunjungan pada gigi molar pertama kiri mandibula yang nekrosis pulpa dengan abses dentoalveolar akut. Kasus. Pasien perempuan berusia 20 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi bawah kiri yang mengalami rasa sa kit aku!. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi molar pertama kiri mandibula nekrosis pulpa dengan abses dentoalviolar akut. Penanganan. Perawatan yang dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan protaper rotary files, kunjungan sebanyak 3 kali kunjungan dan diobturasi dengan metode single cone dan kemudian dilanjutkan dengan perawatan crown lengthening pemasangan pasak radix anchor, pembuatan inti dan pembuatan jaket full crown fused to metal. Hasil. Evaluasi klinis pad a waktu kontrol gigi menunjukkan perkusi, palpasi sudah tidak terasa sakit pemeriksaan radiografi menunjukkan sudah tidak ada kelainan gambaran radiolusen.
Pengaruh Penambahan Fluor pada Resin Akrilik terhadap Kekerasan Basis Gigi Tiruan Sebagian Titik Ismiyati; Suparyono Saleh
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3721 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16490

Abstract

Latar Belakang. Penelitian ini adalah salah satu efek pemakaian gigi tiruan sebagian adalah mudah terjadinya karies pada gigi yang masih tinggal. Hal ini karena kecenderungan terbentuknya plak pada permukaan gigi dan abrasi karena klamer pada gigi penyangga. Usaha untuk mencegah karies gigi adalah melakukan tindakan fluoridasi. Macam fluor yang sering digunakan adalah sodium fluorida 2,27% (NaF2). Bahan yang sering digunakan untuk membuat plat dasar gigi tiruan sebagian adalah resin akrilik yang komponennya mengandung polimetil metakrilat. Tujuan. Penulisan ini untuk mengetahui fluoridasi melalui gigi tiruan yaitu dengan meneliti penambahan fluor pada resin akrilik terhadap sifat kekerasan basis gigi tiruan sebagian. Metoda. Subyek penelitian berupa 40 plat resin akrilik kuring panas dan kuring dingin yang dicampur dengan sodium fluorida (NaF2), ukuran 20 x 15 x 2,5 mm. Pencampuran sodium fluorida dan resin akrilik dengan perbandil'lgan 1 : 3. Pada kelompok 1 resin akrilik kuring panas dicampur dengan sodium fluorida, kelompok II akrilik resin kuring dingin dicampur dengan sodium fluorida, kelompok 3 resin akrilik kuring panas tanpa penambahan sodium fluorida, dan kelompok 4 resin akrilik kuring dingin tanpa penambahan fluor. Uji kekerasan dilakukan dengan menggunakan alat Micro Vickers Hardness Tester. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik anava 2 jalur. Hasil penelitian. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna kekerasan resin akrilik kuring panas dan resin akrilik kuring dingin (p 0,05). Kesimpulan. Penelitian ini adalah penambahan sodium fluorida pada resin akrilik kuring panas dan pada resin akrilik kuring dingin tidak mempengaruhi kekerasan basis gigi tiruan sebagian.

Page 3 of 3 | Total Record : 27