cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Studi Tingkat Ploidi pada Lili (Lilium sp.) Hasil Kultur Antera Melalui Penghitungan Jumlah Kloroplas dan Kromosom Dewi Pramanik; Nisa Istiqomah; Liberty Chaidir
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/864

Abstract

Lili (Lilium sp.) termasuk famili Liliaceae, merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena permintaan konsumen terus meningkat. Permintaan varietas tanaman yang seragam menuntut pengembangan hibrida F1. Perakitan tanaman hibrida dapat dihasilkan melalui pembentukan tanaman haploid. Salah satu metode untuk memproduksi tanaman haploid adalah dengan kultur antera.  Pengecekan tanaman hasil kultur antera dapat dilakukan dengan penghitungan  jumlah kloroplas dan jumlah kromosom, namun untuk lili hasil belum diperoleh informasi mengenai korelasi antara jumlah kloroplas pada sel penjaga stomata dengan jumlah kromosom, sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui korelasi antara jumlah kloroplas dengan jumlah kromosom serta mengetahui tingkat ploidi pada regeneran lili hasil kultur antera. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI) Cianjur dari Januari-Juni 2016.  Terdapat 5 nomor lili yang diuji tingkat ploidinya.  Setiap nomor terdiri dari 4 ulangan, setiap ulangan ada 4 botol dan  masing-masing botol terdiri dari 3 planlet. Metode analisis yang digunakan yaitu statistik sederhana rata-rata dan standar eror dan dikorelasikan. Hasil penelitian menunjukkan planlet haploid terbanyak ditemukan pada nomor 2015.1.1 kelompok Longiflorum dengan jumlah 26,67% sedangkan planlet haploid yang jumlahnya paling sedikit ditemukan pada nomor 2015.S2.3 kelompok Oriental dengan jumlah 11,11%. Metode kultur antera dapat menghasilkan planlet haploid namun pada Lilium sp. persentase keberhasilannya masih rendah. Tidak diperoleh korelasi antara jumlah kloroplas dan kromosom. Penelitian lebih lanjut terkait tingkat ploidi tanaman lili dan pengujian jumlah kromosom dengan menggunakan flowcytometer perlu dilakukan.  Lily (Lilium sp.), Liliaceae family, is an ornamental plant that has a high economic value as consumer demand continues to rise. The uniformity of crop varieties requires the development of F1 hybrids that can be generated through the formation of haploid plants. A method for producing haploid plant is by anther culture. Evaluation of anther culture can be done by counting the number of chloroplasts and the number of chromosomes in the regenerants.  However, lilies yet obtained information on the correlation between the numbers of chloroplasts in stomatal guard cells with chromosome numbers. Therefore, the purpose of this research aimed to know the correlation between the number of chloroplasts and chromosomes and to determine ploidy level in the regenerants of lily from anther culture. This research was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI), Cianjur from January to June 2016. There were 5 numbers of lilies regenerant from anther culture that evaluate for ploidy level test.  Each number has four replications, each replication contained four bottles, and each bottle has three plantlets. The statistical analysis used statistical descriptive with average, standard error and correlation. The results showed, haploid plantlets were observed in 2015.1.1 plantlets from Longiflorum group with 26,67% while least number of haploid plantlets is found in 2015.S2.3 plantlets from Oriental group (11,11%).  The method of anther culture is able to produce haploid plantlets but the success rate was low in Lilium sp. There were no correlation between the number of chloroplasts and chromosomes.  Further studies related to the ploidy level of lilies from anther culture and the evaluation of chromosomes number by using flow cytometry requires to develop haploid plant of Lily.
Studi Potensi Alelopati Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) pada Rumput Teki (Cyperus rotundus) dan Perkecambahan Kedelai (Glycine max) Ellis Nihayati; Anna Satyana Karyawati; Latifah Diah Puspasari; Nur Azizah
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/891

Abstract

Ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) memiliki sifat alelopati yang berasal dari senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit tersebut menghambat pertumbuhan tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Rumput teki ialah gulma yang sering tumbuh pada lahan budidaya tanaman kedelai, sehingga perlu dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi ekstrak rimpang temulawak pada rumput teki dan mendapatkan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak yang dapat menekan pertumbuhan rumput teki tetapi tidak menghambat perkecambahan kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2015 yang terbagi dalam tiga tahap penelitian. Penelitian pertama dilaksanakan di Laboratorium Sumberdaya Lingkungan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Penelitian kedua dan ketiga bertempat di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, masing - masing menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian ini terdiri atas 6 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (konsentrasi 20%), P2 (konsentrasi 40%), P3 (konsentrasi 60%), P4 (konsentrasi 80%), P5 (konsentrasi 100%) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi 20% ekstrak rimpang temulawak mampu menekan pertumbuhan tunas rumput teki. Peningkatan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak hingga 60% mengakibatkan pertumbuhan tanaman rumput teki tertekan. Pengaruh ekstrak rimpang temulawak pada penghambatan perkecambahan terlihat pada perlakuan konsentrasi 60%. Rhizome extract of temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) has residue properties derived from secondary metabolites. The metabolites inhibit the growth of plants, and it can be used as bioherbicide. Cyperus rotundus is a common weed that grows in soybean cultivation and it needs to be controlled. This research aimed to study the potential of temulawak rhizome extract on Cyperus rotundus and get temulawak rhizome extract concentration that can suppress the growth of Cyperus rotundus without inhibiting the germination of soybeans. The experiment was conducted on March to April 2015 and divided into three experiments. The first experiment was conducted in the Laboratory of Environmental Resource using completely randomized design. The second experiment and third experiments placed in Greenhouse UB Faculty of Agriculture, each using completely randomized block design and randomized block design. This study consisted of six treatments that were P0 (control), P1 (20% concentration), P2 (40% concentration), P3 (60% concentration), P4 (80% concentration), P5 (100% concentration) and four replications. The results showed that 20% concentration of temulawak rhizome extract can suppress Cyperus rotundus. Increasing concentration of temulawak rhizome extract up to 60% suppress growth of Cyperus rotundus. Temulawak rhizome extract significantly inhibited germination of soybeans at concentration of 60%.
Pengaruh Pemupukan N dan Frekuensi Pemangkasan Tajuk pada Aspek Agronomis dan Hasil Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) var. Kretek Nur Edy Suminarti
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/856

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pemupukan N dan frekuensi pemangkasan tajuk yang tepat pada tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.). penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, di Desa Jatikerto, Malang. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah Petak Terbagi, dosis pupuk N ditempatkan pada petak utama, terdiri dari 4 taraf : (1) tanpa dipupuk N, (2) dipupuk 67,5 kg N ha-1, (3) dipupuk 135 kg N ha-1 dan (4) dipupuk 202,5 kg N ha-1. Pemangkasan tajuk ditempatkan pada anak petak, terdiri dari 4 macam : (1) tanpa dipangkas, (2) dipangkas 1 kali, (3) dipangkas 2 kali dan (4) dipangkas 3 kali. Pengumpulan data dilakukan secara destruktif meliputi luas daun, masa luas daun, panjang umbi, diameter umbi, bobot umbi per tanaman dan indeks pembagian. Uji F taraf 5% digunakan untuk menguji pengaruh perlakuan, sedangkan perbedaan diantara perlakuan didasarkan pada nilai Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi nyata pada luas daun, masa luas daun dan bobot umbi per tanaman. Luas daun dan masa luas daun tertinggi umumnya didapatkan pada pemupukan N dosis 202,5 kg N ha-1 dengan tanpa maupun dengan pemangkasan tajuk 1 kali. Bobot umbi per tanaman tertinggi didapatkan pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 135 kg N ha-1 dan pemangkasan tajuk 1 kali.     A field reaserch that aimed to get the appropriate of N application and frequency of topping was conducted in the experimental field of Brawijaya University, located in Jatikerto village, Malang. The experimental treatments consist of  four  levels of N (0 ; 67.5 kg N ha-1, 135 kg N ha-1 and 202.5 kg N ha-1) and four levels frequency of topping (without topping, 1, 2, and 3 of topping). These treatments were arranged in a split plot design; N application in the main plot and frequency of  topping in the subplot with three replications. Data was collected destructively including component of growth, component of yield and plant growth analysis.  F test at 5% is used to determine the effect of treatments, while the average difference between treatments was referred to Duncan value at 5%. The result showed there were significantly interaction between N application and frequency of topping on component of growth and   weight of tuber per plant.   Combination of N application dosage 202.5 kg ha-1 and non or once topped had resulted the highest of leaf area and leaf area duration. While the highest of weight tuber per plant was obtained on  N dosage 135 kg ha-1 and topping one times.
Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Genjer (Limnocharis flava (L.) Buch) di Kabupaten Pangandaran Berdasarkan Karakter Morfologi dan Agronomi Liberty Chaidir; Kristi Yuliani; Budy Frasetya Taufik Qurrohman
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/967

Abstract

Genjer merupakan tanaman yang tumbuh liar di area persawahan, rawa, atau sungai yang keberadaannya sering dianggap sebagai gulma. Tanaman genjer memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai bahan penyerap logam berat dalam tanah dan sebagai obat yang memiliki banyak kandungan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi karakter morfologi dan karakter agronomi untuk mengetahui hubungan kekerabatan tanaman genjer antar daerah di Kabupaten Pangandaran. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Pangandaran pada Mei sampai Oktober 2015. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi purposive sampling pada 77 aksesi genjer yang diambil dari Kabupaten Pangandaran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman fenotipik yang luas pada karakter morfologi ujung daun, warna batang, tekstur daun, warna daun, panjang lekukan bawah daun, warna kelopak bunga dan warna bunga. Karakter agronomi yang mempunyai keragaman yang luas ialah tinggi tanaman, jumlah batang per rumpun, panjang daun, lebar daun, jumlah daun, jumlah bunga dan diameter batang. Tanaman genjer di Kabupaten Pangandaran memiliki kekerabatan yang jauh dengan rentang jarak Euclidian 0,48 sampai 10,17. Aksesi yang memiliki hubungan kekerabatan paling jauh yaitu Ciakar (001) dengan jarak Euclidian 10,17, sedangkan yang memiliki hubungan kekerabatan paling dekat yaitu Cikalong (003) dan Cikalong (004) dengan jarak Euclidian 0,48. Genjer or Yellow velvetleaf is a plant that grows wild in lowland area, swamp or river which existence is considered as a weed. Genjer has a lot of benefits, such as material absorbent for heavy metals in the soil and medicine that has a lot of nutrition. This study aimed to determine the variety of morphological and agronomic characters of Genjer in Pangandaran Regency and to determine the genetic relationship of genjer between regions in Pangandaran. The research was conducted in the Pangandaran Regency on May to October 2015. The method used purposive sampling exploration method in 77 accession genjer collected from Pangandaran Regency. The results showed there were extensively phenotypic variation in tip of leaf, stem color, leaf texture, leaf color, length curve of bottom leaf, petal color and flower color. While agronomic characters for plant height, stem amount, leaf length, leaf width, leaf amount, flower amount and diameter of the stem had wide variation. Relationship between genjer in Pangandaran Regency had Euclidean distance with a range of 0.48 to 10.17. The accession which had the farthest distance was Ciakar (001) with Euclidean distance of 10.17, while those with the closest relationship were Cikalong (003) and Cikalong (004) with Euclidean distance of 0.48.
Pengendalian Alternatif Hama Serangga Sayuran dengan Menggunakan Perangkap Kertas Lukmanul Hakim; Erdi Surya; Abdul Muis
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/860

Abstract

Sayuran merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan manusia karena mengandung serat dan sejumlah vitamin dan mineral. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sayuran banyak kendala yang dihadapi petani, salah satunya adalah gangguan hama serangga. Untuk mengendalikan hama serangga telah banyak pula cara yang dilakukan oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji model perangkap serangga yang terbuat dari media kertas dan lampu warna. Warna yang dicobakan dalam penelitian ini terdiri dari merah, kuning, dan hijau. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Juli sampai dengan Agustus 2016 di kebun percobaan Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP), Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Objek penelitian adalah tanaman jagung. Metode penelitian menggunakan RCBD dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Variabel pengamatan populasi serangga yang terperangkap pada media kertas dan lampu warna. Hasil penelitian menujukkan tangkapan serangga tertinggi pada kertas dan lampu warna kuning, kemudian diikuti kertas dan lampu warna hijau dan merah. This study aimed to test the two models of trap insect, which were made from trapping paper media and colored light. The tested colors are red, yellow, and green, while the colors of light consist of red, yellow, and green. This study conducted from July to August 2016 at the experimental field of "Hight School Vocational Agricultural Development” Seulawah Valley Districts, Large Districts of Aceh, Aceh Province using the corn crop as the object. The research method approached in Randomized Completely Block Design (RCBD) with 3 treatments and 4 replications. The variable observation was insect populations trapped on paper media and colored light. The result showed that the highest insect population was on paper and yellow color light, the medium population was on the green paper, and the lowest population encountered on red paper.
Kompatibilitas Jamur Entomopatogenik Paecilomyces fumosoroseus dengan Beberapa Bahan Aktif Pestisida Secara In Vitro Fani Fauziah; Dadan Rohdiana
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/801

Abstract

Untuk mengurangi penggunaan pestisida di perkebunan teh, maka salah satu upaya pengendalian hama yang dapat dilakukan adalah mengkombinasikan aplikasi pestisida dengan jamur entomopatogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompatibilitas antara jamur P. fumosoroseus  dengan beberapa bahan aktif pestisida di laboratorium. Perlakuan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 jenis bahan aktif yaitu metomil, bifentrin, imidakloprid, tembaga oksida dan metidation pada taraf konsentrasi sesuai rekomendasi lapang (RL), 0,5x RL dan 2x RL. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa diantara kelima jenis bahan aktif pestisida yang diuji, metidation memiliki tingkat toksisitas yang paling tinggi. Persentase produksi spora tertinggi sebesar 13,77% ditunjukkan oleh perlakuan bifentrin 2x RL. Combining application of pesticides and entomopathogenic fungi is an alternative way for controlling pest in order to reduce pesticides application in the tea field. This research was aimed toexamine the compatibility of Paecilomyces fumosoroseus tosome active agents of pesticide in laboratory. Completely Randomized Block Designed (CRBD) with 5 active agents: methomyl, bifenthrin, imidacloprid, copper oxide and metidation in three different concentration was employed in this study, which was based on the existing field recommendation (FR): 0,5x FR and 2x FR. The results showed that among the five tested pesticides, metidation appeared to be the most toxic agentto P. fumosoroseus. Meanwhile, the highest percentage of spore production was counted in bifenthrin 2x RL (13,77%.)

Page 1 of 1 | Total Record : 6