cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011" : 10 Documents clear
BAHASA PEMBERONTAKAN TERHADAP TRADISI BALI DALAM NOVEL TEMPURUNG: KAJIAN STILISTIKA Mashuri, Mashuri
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.736 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.71.228-241

Abstract

Kajian ini membahas novel Tempurung karya Oka Rusmini dari perspektif stilistika. Novel tersebut dominan dengan bahasa pemberontakan terhadap tradisi Bali. Kajian ini akan terfokus pada gaya interferensi dan alih kode yang terkonstruksi dalam beberapa wacana. Di dalamnya, terdapat pola dalam bahasa pemberontakan dengan menggunakan gaya bahasa sarkasme, sinisme, dan ironi, bahkan paradoks, serta gaya perbandingan. Pola itu terkait dengan pandangan perempuan dari kasta Brahmana yang berikhtiar membaca kembali kebaliannya, terutama terkait sistem kasta, adat dan upacara kematian. Efek estetik dengan pemertahanan istilah lokal dan penggunaan gaya bahasa-gaya bahasa yang bernada muram itu memperkukuh latar novel, baik latar sosial maupun kulturnya. Seiring dengan itu, semakin menunjukkan ketajaman perspektif dalam melihat ambiguitas kultur Bali di antara tradisi dan modernitas. Abstract: This study of Oka Rusmini?s Tempurung is from stylistics perspectif. The novel is dominant with rebel language to the tradition of Bali. Focus of the study is interfensial and code-transformation style, constructing to some discourse. In there?s model of tradition subversive with use sarkasm, sinism, irony, paradox style and comparasion stylistics. The system related with women perspektif from kasta Brahmana. She effort to reread her-Balinesse in the kasta system, ordinary adat and the death ritual. Efect of the aestetics from using local etimology and styles with gloomy tone make install the novel setting-social and culture. Therewith, using stylistics is build sublime of perspective to know ambiguity in the culture of Bali, between tradition and modernity. Key Words: stylistics, interferensial, code-transformation, subversive, Bali tradition
Tingkat Resepsi Mahasiswa Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Terhadap Budaya Eropa Dian Swandayani; Iman Santoso; Nurhadi Nurhadi
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.488 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.67.170-181

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tingkat pemahaman dan tingkat apresiasi mahasiswa FBS UNY terhadap budaya Eropa pada awal abad ke-21. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa FBS UNY yang terdiri atas sebelas program studi pada tahun ajaran 2010/2011. Objek penelitiannya adalah aspek-aspek budaya Eropa. Teknik pengumpulan datanya dengan tes dan angket. Teknik analisis datanya dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa FBS UNY terhadap budaya Eropa abad ke-21 hanya sebesar 22,0%, sedangkan tingkat apresiasinya sebesar 37,5%. Berdasarkan rata-rata, diperoleh angka tingkat pemahaman dan tingkat apresiasi tersebut hanya sebesar 29,75%. Berdasarkan kajian resepsi sastra, tingkat pencapaian tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut faktor -faktor penyebabnya. Meskipun demikian, tingkat pemahaman dan apresiasi yang rendah tersebut diperlukan suatu usaha guna lebih mengenalkan budaya Eropa kepada mahasiswa FBS UNY melalui rancangan model dan modul pembelajaran. Model dan modul pembelajaran tersebut tidak hanya pada pengenalan budaya Eropa, tetapi juga dalam rangka mengukuhkan nasionalisme generasi muda Indonesia. Abstract: This article aims to describe the level of understanding and appreciating of students in the Language and Art Faculty, Yogyakarta State University, to European culture in the beginning of 21st century. Subject of this research are students of Language and Art Faculty YSU that consist of eleven study programs in 2010/2011 academic year. The object of this research is European culture’s aspect. The data were collected by test and questionnaire. The data were analyzed by quantitative and qualitative technique. The result of the research indicates that the understanding level of students in the Language and Art Faculty, YSU, to European culture in the beginning 21st century is just 22.0%. The appreciating level is 37.5%. In average, the level of understanding and appreciating is just only 29.75%. This level is low. According to literature reception, that achievement could be examined some factors caused. In other side, to increase this level, it needs some efforts like learning model and module to introduce more on European culture to student of Language and Art Faculty, YSU. Learning model and module is not only to introduce European culture, but also to strengthen nationalism for Indonesian young generation. Key Words: understanding level, appreciating level, European culture, sense of nationalism
TAKMILAH: MENUJU TEORI SASTRA ISLAMI Supriadi, Asep
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.211 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.72.242-253

Abstract

Banyaknya karya sastra Indonesia yang bernuansa islami sejak tahun 2000-an telah dijadikan objek kajian sastra. Pengkajian karya sastra islami tersebut sangat relevan jika menggunakan pendekatan teori sastra Islam. Pendekatan teori sastra Islam yang dianggap sesuai dengan karakter sastra Indonesia bernuansa islami adalah teori sastra Islam Melayu Malaysia. Para pakar sastra Melayu telah berhasil menciptakan teori sastra islami, di antaranya Shafie Abu Bakar yang telah memperkenalkan teori sastra Islam yang disebut dengan teori takmilah. Abstract: The outburst of Indonesian Islamic literatures has been the object of literary study since the 2000s. The study of Islamic literature is very relevant when using the approach of Islamic literary theory. The approach of Islamic literary theory is considered in accordance with Indonesian Islamic literary character. It is descending from the literature of Malay. The Malay literary experts have succeeded in creating an Islamic literary theory. Shafie Abu Bakar has introduced Islamic literary theory called the theory Takmilah. Key Words: Islamic literature, theory of Takmilah
THE SOCIAL POSITION AND TYPOLOGY OF MADURESE WOMEN IN MADURA FOLKTALES Harits, Imron Wakhid
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.821 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.68.194-203

Abstract

Abstract: The aim of this study is to observe the woman position in the social life in Madura and observes the typology of Madurese women on three Madura folktales, i.e. Aer Mata Ebu, The Origin of Madura, and Aryo Menak and His Wife. To analyze the social position and typology of women, this study uses the Cixous?s theory of feminism. Qualitative method with ethnography aprroach is used to do this research. These three folktales have similarities, because all of these three folktales tell about the struggle, tough, firmness, sincere of Madurese women. Thus, by analyzing these folktales, the women social position in Madura can be observed. The women are considered as the holy creature that must be appreciated. From the analysis, several typologies of Madurese woman reflected in the folktales can also be identified, i.e. sincere, firmness, tough, religious, and sufism. Abstrak: Makalah ini bertujuan mengobservasi posisi wanita dalam kehidupan sosial masyarakat Madura dan meneliti tipologi wanita?wanita Madura pada tiga cerita rakyat Madura, yaitu Aer Mata Ebu, Asal?Usul Pulau Madura, dan Aryo Menak dan Istrinya. Untuk menganalisis posisi sosial dan tipologi wanita digunakan teori feminisnya Cixous. Untuk mengungkap aspek-aspek sosial yang mempengaruhi cerita rakyat tersebut digunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Ketiga cerita rakyat ini memiliki banyak kesamaan karena ketiganya menggambarkan perjuangan, keuletan, ketabahan, dan ketulusan wanita? wanita Madura. Dengan demikian, dengan menganalisis cerita?cerita rakyat ini, dapat diamati posisi sosial wanita?wanita Madura. Para wanita diposisikan sebagai makhluk suci dan terhormat. Berdasarkan analisis tersebut juga ditemukan tipologi wanita-wanita Madura yang tercermin dalam cerita rakyat tersebut, yaitu tulus, tabah, ulet, agamis, dan sufi. Kata-Kata Kunci: feminisme, cerita?cerita rakyat Madura, tipologi
WACANA EKONOMI KREATIF (REFLEKSI SASTRA LISAN DAN TULIS DI BALI) Suardiana, I Wayan
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.69.204-213

Abstract

Wacana ekonomi kreatif sebagai salah satu kearifan lokal belakangan muncul sebagai jargon pemerintah untuk mengajak masyarakat luas agar senantiasa menggali potensi diri khususnya di bidang perekonomian. Wacana ini muncul setelah bangsa Indonesia didera krisis sejak tahun 1998 lalu. Untuk itu, menata kearifan lokal (khususnya di bidang perekonomian) se-Nusantara sangatlah mendesak untuk dilakukan! Konteks Bali, salah satu wacana ekonomi kreatif sebagai peradaban leluhur yang dapat disumbangkan demi menjaga martabat bangsa adalah konsep berbisnis yang elegan dan mengelola keuangan yang rasional. Konsep berbisnis masyarakat Bali dikenal dengan istilah nyraki, yakni menjalankan roda perekonomian dengan mengelola modal mulai dari kecil dengan harapan menjadi besar. Konsep mengelola keuangan yang dimaksudkan di sini, lebih berorientasi pada logika matematis untuk menata keuangan agar dapat menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran sehingga mampu menyisihkan uang untuk ditabung demi hari esok. Abstract: Creative economy discourse as one of local wisdoms appears as a government jargon to invite wide society to always dig self potency especially in the field of economy. This discourse appearred after Indonesia society had suffered from crisis since 1998 ago. For this reason, to arrange local wisdom (especially in the field of economy) to entire Nusantara is so urgent to be done. In the Balinese context, one of creative economy discourse as ancestor civilization that can be donated for the sake of maintaining nation status is elegant business concept and rational financial management. The concept of Balinese society basis is recognized as nyraki, namely to run economic cycle by managing capital from small business with the hope to get bigger. Meanwhile, the intended concept of financial management here orients more on logical mathematic to manage finance in order to be able to balance revenue and cost so it is able to save the money for the next day. Key Words: local colour, creative economy, nyraki, and financial management
NILAI KARAKTER ANAK DALAM NOVEL KARYA ANAK USIA 10 TAHUN Suyatno, Suyatno
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.74.268-278

Abstract

Makalah ini mendeskripsikan nilai karakter anak dalam novel karya anak usia 10 tahun. Novel yang dibahas adalah The Rings of Friendship (TRF) karya Vira (10 tahun), The Smart Girls Petualangan Seru Lima Sahabat (TSG) karya Salma Syifa (10 tahun), dan The Special Day (TSD) karya Yasyfa (10 tahun). Berdasarkan kajian deskriptif dengan teknik pembacaan berulang-ulang, ditemukan sejumlah informasi tentang nilai karakter anak berkaitan dengan nilai cerdas, nilai jujur, nilai peduli, dan nilai tangguh. Nilai karakter tersebut menyatu ke dalam narasi cerita tanpa menunjukkan secara eksplisit unsur nilai karakter melainkan berada pada alur cerita dari awal sampai akhir. Tema ketiga novel adalah petualangan dan persahabatan, alur maju, tokoh anak-anak, dan latarnya sekolah, rumah, serta alam lingkungan. Kemasan cerita bersifat sederhana, lugas, kalimat pendek, bergaya dialog, dan naratif. Abstract: This article describes the value of child character in novels written by ten year old children. The novels being discussed are The Rings f Friendship (TRF) written by Vira (10 years old), The Smart Girls Petualangan Seru Lima Sahabat (TSG) written by Salma Syifa (10 years old). Under the descriptive study by using continually reading technique, it was identified that there are several information about the value of child characters related to the value of intelligence, honesty, care , and strength. Those character values combine into the story narrative without explicitly exposing the character values component, but exist in the plot from the beginning to the end. The themes of the novels are adventure and friendship, flash-forward plot, child character. The settings are school, home, and the natural surrounding. The presentation of the story is simple, to the point, using short sentences, dialogic, and narrative. Key Words: character values, intelligence, honesty, care, strenght
TRANSFORMASI TEKS DARI PANCATANTRA INDIA KE TANTRI KAMANDAKA JAWA KUNO: TELAAH SASTRA BANDINGAN Andayani, Ambar
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.65.138-155

Abstract

Motif cerita Tantri Kamandaka Jawa Kuno memiliki banyak kesamaan dengan Pancatantra India. Akan tetapi, jenis transformasi teks dari Pancatantra ke Tantri menunjukkan perubahan, baik ekserp, modifikasi, maupun ekspansi. Perbandingan warna lokal keduanya menunjukkan perbedaan. Pancatantra dicoraki ajaran Hindu dan Budha, sedangkan Tantri Kamandaka lebih diwarnai Hindu-Shiwa dan Tantrisme. Pancatantra lebih memuliakan Dewi Laksmi (?akti Wishnu), sedangkan Tantri Kamandaka lebih mensakralkan Batari Uma (?akti Shiwa). Pancatantra lebih menekankan pesan moral Karmaphala Hindu (perbuatan baik menghasilkan kebaikan, perbuatan buruk menghasilkan keburukan), sedangkan Tantri Kamandaka lebih menekankan Karma Budha (nilai suatu perbuatan bergantung pada niat pelakunya). Pancatantra mengajarkan Dharma Hindu bahwa tiap manusia mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan status kasta, sedangkan Tantri Kamandaka mengajarkan Kaladesa bahwa setiap tindakan harus menyesuaikan kondisi tempat dan waktu (empan papan). Abstract: The motifs of Old Javanese Tantri Kamandaka and Indian Pancatantra stories have so much in common. The texts of Pancatantra and Tantri Kamandaka however show types of transformation: excerpt, modification and expansion. The comparison of local color from both of them indicates differences. Pancatantra contains the lessons of Hindu and Buddha, while Tantri Kamandaka is colored more with Hindu-Siva and Tantrism. Dewi Laksmi is more respected in Pancatantra and Batari Uma (?akti Shiwa) is more sacred in Tantri Kamandaka. Pancatantra more emphasizes on the moral value of Hindu Karmaphala (good deed results good, bad deed results bad), while Tantri Kamandaka more emphasizes on Buddha Karma (the value od deed depends on the will of the doer). Pancatantra educates Hindu Dharma that every human has right and duty depends on his caste status, and Tantri Kamandaka teaches Kaladesa that every conduct has to adapt with condition of the place and time (empan papan). Key Words: comparative literature, story motif, textual transformation, Tantrism, Kaladesa
STRATIFIKASI MASYARAKAT BALI DALAM TARIAN BUMI DAN KENANGA KARYA OKA RUSMINI Subardini, Ni Nyoman
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.70.214-227

Abstract

Ajaran catur warna dalam sastra suci Hindu, Weda, demikian luhurnya, tetapi yang tampak justru menjadi sistem budaya stratifikasi sosial yang tampaknya melanggar hak azasi manusia dan telah merusak citra agama Hindu dari zaman ke zaman. Penerapan sistem wangsa dalam menentukan catur warna itu sudah menimbulkan berbagai kericuhan di kalangan umat Hindu. Sebagai bukti banyaknya muncul kasus adat di berbagai daerah di Bali. Konflik soal wangsa ini sudah merupakan rahasia umum yang sering menghiasi media massa di Bali bahkan sampai mencuat ke tingkat nasional, seperti tampak dalam karya sastra berbentuk novel berjudul Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003) karya Oka Rusmini. Hal itu terjadi karena supremasi adat kebiasaan feodalisme zaman kerajaan yang sudah terlalu lama tidak disempurnakan sesuai dengan ajaran catur warna. Abstract: The teaching of catur warna in Hindu sacred literature, the Vedas, is so exalted, but seems to be the cultural system of social stratification which appears to violate human rights and has damaged the image of Hinduisme throughout the ages. Application of wangsa system in determining the catur warna that has caused disquiet among many Hindus. The evidence is the many custom cases which appear in different regions of Bali. Conflicts about the wangsa is already an open secret that often decorate the mass media in Bali, even sticking to the national level; as shown in the form of literary novel titled Tarian Bumi (2000), and Kenanga (2003) work Oka Rusmini. It happens because of the supremacy of customary feudalism kingdom era that has been too long not being perfected in accordance with the teachings of catur warna. Key Words: catur warna, social criticism, stratification
SAYEMBARA SEBAGAI BENTUK RESISTENSI PEREMPUAN DALAM MENOLAK HEGEMONI LAKI-LAKI DALAM CERITA RAKYAT RORO JONGGRANG, RORO MENDUT, DAN SANGKURIANG Mustofa, Ali
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.75.182-193

Abstract

Makalah ini membahas secara singkat beberapa masalah dalam lingkup resistensi terhadap hegemoni patriarki dalam tiga cerita rakyat Indonesia; Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang. Teori subalterniti Gayatri Spivak dipergunakan untuk membingkai pembacaan kritis terhadap ketiga cerita. Ketiga cerita rakyat yang dikaji mendedahkan resistensi perempuan terhadap dominasi hegemonis pria dalam lingkup masyarakat patriarkis. Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga cerita berasal dari strata sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang telah memiliki subjektifikasi dan identifikasi tersendiri. ?Sayembara? yang secara taktis direka dan diciptakan oleh ketiga tokoh perempuan merupakan alat alternatif untuk menolak dominasi dan kekuasaan pria. Katarsis ketiga cerita rakyat menunjukkan bahwa ketiga tokoh perempuan menemui ajal atau mengalami perubahan wujud yang merupakan konsekuensi dari pemberontakan. Citra perempuan dalam ketiga cerita rakyat berdasarkan berbagai versi penceritaan adalah pemberontak dan subversif. Abstract: This paper briefly shares some insights in the matters of resistance toward patriarchic hegemony in three Indonesian folktales; Roro Jonggrang, Roro Mendut, and Sangkuriang. Spivak?s subalternity is used to carve out the critical reading on the three stories. The three stories tell women?s resistances toward men?s hegemonic dominions in patriarchic societies. The findings of the discussion show that woman characters in the three stories come from certain social stratum in their own societies who have their own subjectification and identification. ?Sayembara? which was tactically created by those women characters is a means of their alternative weapon to resist men?s dominion and power. The catharsis of the three folktales shows that the three woman characters find their dead or evanescent as the consequences of their being rebel. The images of women in the three stories based on various versions of the folktales are rebellion and subversive. Key Words: resistance, hegemony, patriarchy, dominion
RESEPSI ESTETIS PEMBACA TERHADAP NOVEL SUPERNOVA KARYA DEE Saraswati, Ekarini
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.66.156-169

Abstract

Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil resepsi pembaca terhadap novel Supernova. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori estetika resepsi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus. Metode penelitian menggunakan metode terbuka dan retrospektif. Data bersumber dari novel Supernova. Data utama berasal dari dokumen tertulis para kritikus sastra dan pembaca umum yang dimuat di internet. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, variabel pembaca berjumlah 79 orang dengan strata pendidikan paling banyak SMA dan S1. Jenis pekerjaan lebih banyak bekerja di bidang keterampilan daripada bidang keilmuan. Novel Supernova lebih diterima oleh pembaca yang berpendidikan SMA dan S1 dengan pekerjaan di bidang keterampilan. Kedua, unsur tekstual yang khas yang paling menentukan resepsi pembaca terutama pola pengaruh sains yang dianggap memberikan angin segar bagi khazanah kesusatraan Indonesia. Unsur tekstual lainnya kurang mendapatkan resepsi yang baik, misalnya unsur tokoh yang tidak digarap secara mendalam, alur yang meloncat-loncat, serta bahasa yang rumit dan sulit dipahami. Abstract: The general aim of this study is to describe reader reception to the novel Supernova. Research method used in this study is qualitative method because this method is appropriate with the characteristics of this research which produces written data from its study subject. The method used is of open and retrospective type. The data are from the novel Supernova with the main data taken from written documents from literary critics and general readers that have been published in the internet. The findings of this research indicate, firstly, that the readers are varying; they consists of 79 readers with the majority educational background of senior high school and college. In terms of profession, more come from vocational field than from academic field. The novel Supernova are more highly received by the readers with senior high school and college background with the work in vocational field. Secondly, it is found that the textual aspect of the novel pertaining to the scientific topic is the part that gets most of the receptions from the readers. This has some impact on the reception of the other elements of the novel like characters which is said to be not so much refined, the plot to leap up and down, and the language to be delicate and difficult to understand. Key Words: reader reception, literary text, reader variable, text elements

Page 1 of 1 | Total Record : 10