cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2001)" : 18 Documents clear
Uji Toksisitas Kurkumin pada Kultur Sel Luteal Noor, Zulkhah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/1907

Abstract

Cur cumin, an active substance of turmerics (Curcuma domestica Val.; Cur-cuma xanthorhiza Robx.), is found to be an anti-fertility substance. The re¬search was aimed to examine the toxicity of curcumin to ovarian cell, espe¬cially luteal cell and to investigate the threshold of curcumin toxicity to luteal¬cell culture.The sample used were luteal cell cultures of 3-day-old corpus luteum of immature Sprague-Dawley rats which received ovulation induction of 8 iu PMSG. Luteal cell cultures were divided into 7 groups (n-10), each of which was given curcumin (mg/ml) 0 (vehicle); 0.075; 0.15; 0.3; 0.6; 1.2; 2.4, and incubated for 24 hours. Toxicity effect of curcumin was counted by hemocy- tometer with trypan blue. The difference of alive-cell number of each group was tested statistically with student t-test and Cythopatic Effect (CPE.J is counted with Reed & Muench formulation.Student t-test of mean data of alive cell showed significant difference (p<0.05) between the control group and groups which were given curcumin the same or greater than 0.15 mg/ml. Cythopatic Effect (CPE30) of curcumin to cell luteal culture is 0.55 mg/ml.Kurkumin zat aktif yang terdapat dalam rimpang kunyit (curcuma domestica Val), temulawak (Curcuma xanthorriza Robx) dan beberapa marga curcuma, ditemukan memiliki efek anti fertilitas. Penelitian ini dilakukan untuk uji toksisitas kurkumin pada sel ovarium untuk mengetahui ambang batas kurkumin yang menyebabkan kematian sel (toksis).Sampel penelitian adalah kultur sel luteal dari korpus luteum umur tiga hari dari tikus Sprague Dawley prepubertal yang mendapat induksi ovulasi dengan 8 iu PMSG. Kultur sel luteal dikelompokkam menjadi 7 kelompok (n=10), masing-masing kelompok mendapat kurkumin kadar bertingkat(mg/ml) 0; 0,075,0,15; 0,3; 0,6; 1,2; dan 2,4; kemudian diinkubasi selama 24 jam . Efek toksis kurkumin (kematian sel) dihitung menggunakan hemositometer dengan zat warna tripan blue. Perbedaan jumlah sel hidup tiap kelompok di uji dengan student t-test. Sedangkan Cythopatic Effect (CPE50) dihitung dengan rumus Reed & Muench.Student t-test rerata data sel luteal hidup menunjukkan perbedaan bermakna p<0,05) antara kelompok kontrol dengan kelompok yang mendapat kurkumin mulai konsentrasi 0,15 mg/ml. Perhitungan Cythopatic Effect (CPE50) kadar kurkumin sintesis mumi dalam metanol yang menyebabkan kematian sel luteal umur tiga hari sebanyak 50% adalah 0,55 mg/ml.
Pengetahuan dan Penggunaan Asam Folat Wanita Umur Reproduktif Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1898

Abstract

Neural Tube defects (NTDs), termasuk spina bifida dan anencephali merupakan malformasi serius yang terjadi pada saat perkembangan janin selama hari ke 17-30 sesudah konsepsi. Konsumsi suplemen yang berisi asam folat dapat mengurangi kejadian NTDs 50-70 %.Dari laporan “The 1998 behavioral risk factor Surveillance System (BRFSS)” mengenai pengetahuan asam folat dan penggunaan multivitamin pada wanita usia reproduktif di Michigan:Telah dilakukan survey pada 739 wanita usia reproduktif (18-44 tahun) mengenai pengetahuan dan penggunaan asam folat. Usia, ras, pendidikan, status pernikahan, status berat badan, perokok, dan konsumsi sayur/buah diidentifikasi menjadi variabel perhatian dan termasuk dalam analisis multivariabelPengetahuan tentang asam folat dibatasi pada jawaban mengenai alasan rekomendasi para ahli pada penggunaan asam folat, yaitu pencegahan cacat kelahiran.Dari seluruh wanita 30% memiliki pengetahuan tentang penggunaan asam folat. Prevalensi tertinggi pada wanita lulusan sarjana (42,2%), umur 25-29 (39,8%), perokok (37,0%), menikah (35,8%), konsumsi sayur/buah (34,9%) non obesitas (31,9%), Kulit putih (31,5%). Analisa multi variabel menunjukkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi, perokok dan yang tidak menikah secara statistik kurang bermakna dibandingkan masing-masing kelompok pembanding terhadap pengetahuan yang benar mengenai asam folat. Wanita usia 18-29 tahun secara statistik lebih bermakna.Penggunaan multivitamin dibatasi untuk sedikitnya sekali sehari mengkonsumsi multivitamin atau suplemen asam folat. Dari survey menunjukkan bahwa 42,4% wanita mengkonsumsi suplemen asam folat tiap harinya. Penggunaan multivitamin meningkat sesuai umur, dari umur 18-24 tahun 33,1% hingga 41,8% untuk wanita umur 40-44 tahun. Prevalensi wanita yang menggunakan multivitamin paling tinggi berturut turut:Konsumsi sayur/buah (54,9%), lulusan sarjana (49,9%), umur 35-39 tahun (49,6%), perokok (47,4%) menikah (46%) non overweigth (44.5%) dan kulit putih (44,2%).Analisa multivariabel menunjukkan bahwa kelompok berikut secara statistik kurang bermakna dibanding masing-masing kelompok pembanding terhadap penggunaan multivitamin: wanita umur 18-24 tahun, berpendidikan rendah, sedikit konsumsi sayur/buah dan wanita dengan obesitas.Disarankan upaya multi strategis dalam meningkatkan intake dan penggunaan asam folat, baik melalui program pendidikan maupun fortifikasi makanan.
Anemia pada Usia Lanjut Meida, Nur Shani; Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1903

Abstract

Due to relatively high life expectancy (i.e. 71 years old), there is a signifi-cant number of elderly in Yogyakarta (according to Central Bureau of Statis¬ts / BPS, 1998). Many health problems were commonly found in elderly, such as anemia. Despite its prevalence in elderl, anemia is difficult to detect and causes potential health problems. The aim of this study was to reveal tiemia situation in the elderly in Yogyakarta.Subjects of the study were 21 elderly i.e. 12 men and 9 women. Two ml ~enous blood were drawn from antecubital vein of each subject and put into IDT A tube. Laboratory examinations were performed for hemoglobin level, hematocrit and erythrocyte count.The result of the study showed that based on hemoglobine level, anemia was observed in all male and female subjects. However, all subjects were nor- nal based on hematocrit level. In addition, all female subjects were normal, while all male subjects were anemia based on erythrocyte count.Further studies with large series of subjects covering other health prob¬lems related to anemia are recommended.Kelompok usia lanjut di Yogyakarta beijumlah cukup banyak, sebab usia harapan hidup penduduk Yogyakarta termasuk tinggi yaitu rl tahun (menurut Biro Pusat Statistik, 1998). Banyak gangguan yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia antara lain anemi. Anemi pada usia lanjut sering teijadi, sukar dideteksi dan dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui anemi yang terjadi pada usia lanjut yang dapat mengganggu kesehatannya.Subyek penelitian ini adalah golongan kelompok usia lanjut yang berumur antara 50-75 tahun yang terdiri dari 12 pria dan 9 wanita. Dua ml darah vena yang diambil dari vena mediana cubiti dimasukkan dalam tabung berisi EDTA, selanjutnya diperiksa kadar hemoglobin, hematokrit dan angka eritrosit.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasar kadar hemoglobin terdapat anemi pada usia lanjut, tetapi berdasar kadar hematokrit mereka dinyatakan nor¬mal. Adapun berdasar angka eritrosit pada wanita kesemuanya adalah normal, sedangkan pada pria terdapat anemi.Penelitian lebih lanjut dengan melibatkan jumlah subyek yang lebih besar dengan mencakup masalah kesehatan lain yang terkait dengan anemi masih perlu dianjurkan.
Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Mencit ( Mus musculus) Setelah Pemberian Solasodin yang Diisolasi dari Terong Kuning (Solatium khasianum) Wahyuni, Alfaina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The eggplant is consumed and used in traditional medication, for example to reduce male desire. One of the solanum’s alkaloid which may affect on reproduction is solasodine , but it is still unclear. This study was conducted to investigate the effects of solasodine on sperm motility and viability in adult mice.Twenty five healthy mice, 3 months old, and 37- 45 gram of body weight were used. They were divided into five groups. Each group consisted of five mice. Group I, control without any treatment (Kl), group II, treatment with solvent of solasodine, polyvinylpirollidon 1% in aquadest (K2), group III, treatment with solasodine 87,61 mg/kgBw/day (PI), group IV, treatment with solasodine 175,62 mg/kgBW/day (P2) and group V, treatment with solasodine 263,43 mg/kgBW/day (P3). Treatments were given in 36 days. In the 37th day mice were killed for evaluation of sperm motility and viability. The result of this study shows that sperm motility and viability in all treatment groups were significantly reduced (Analysis of Variance cintinued with least significant difference, p < 0,05).Terong banyak dikonsumsi masyarakat dan digunakan sebagai bahan obat osional misalnya untuk menurunkan nafsu seks pria. Salah satu alkaloid solanum ;;~‘Z kemungkinan berpengaruh terhadap fungsi reproduksi adalah solasodin, tetapi . mi masih belum jelas dan perlu penelitian lebih lanjut, Penelitian ini dilakukan eik mengetahui pengaruh pemberian solasodin terhadap kualitas spermatozoa lisusnya motilitas dan viabilitas spermatozoa mencit dewasa.Digunakan 25 ekor mencit jantan umur 3 bulan, sehat, berat 37-45 gram.Mencit i fiompokkan menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. i rmpok I, kontrol tanpa perlakuan apapun (Kl), kelompok II, diberi larutan vinylpyrollidon 1% dalam aquadest(K2), kelompok III, diberi perlakuan solasodin ;: s 87,81 mg/kgBB/hr (Pl), kelompok IV, diberi solasodin dosis 175,63 mg/kgBB/ in kelompok V diberi solasodin 263,43 mg/kgBB/hr. Perlakuan diberikan selama : izii kemudian pada hari ke-37 semua mencit dimatikan dan diambil cauda :ijdmisnya untuk pemeriksaan motilitas dan viabilitas spermatozoa. Hasil penelitian lezunjukkan bahwa pada semua kelompok perlakuan terjadi penurunan motilitas BE iabilitas spermatozoa secara bermakna (Analisis varian dilanjutkan dengan uji 12 nyata terkecil, p < 0,05).
Arteria Renalis Accessoria Estri, Siti Aminah Tri Susilo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The vascularisation of the kidneys varies in number and location. The kidney that has two or more renal arteries found in 25-30% of population. The variation of renal arteries arises as result of the persistence of embryonic vessel that normally degeneratic when definitive renal arteries are formed.Vascularisation variation of the kidney in the forms of renalis artery and accessory renal artery were found in one of five cadavers dissected in the Laboratory of Anatomy, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta.The left kidney has one principal artery and one accessory artery that branched from abdominal aorta. The accessory renal artery was located in the inferior of the principal artery and passed the inferior polus of the left kidney. In this case no obstruction of the ureter nor hydronephrosis was found as the main clinical feature usually observed in the cases.Vaskularisasi pada ren bervariasi pada jumlah dan posisi . Pada 25% - 30% populasi ditemukan adanya ren yang mempunyai 2 atau lebih arteria renalis. Variasi ini berasal dari tetap adanya vasa darah embryonal yang seharusnya mengalami degenerasi ketika vasa renalis (definitive) terbentuk.Variasi vaskularisasi pada ren berupa arteria renalis dan satu arteria renalis accessoria telah ditemukan pada saat diseksi kadafer ke-5 kali di Laboratorium Anatomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Ren sinistra tampak mempunyai a. renalis sinistra (principalis) dan satu a. renalis accessoria, yang dipercabangkan langsung dari aortae abdominalis. Arteria renalis accessoria terletak di sebelah inferior dari a. renalis sinistra dan pergi ke polus inferior ren sinistrae. Pada kasus ini tidak ditemukan adanya obstruksi ureter maupun hidronefrosis.
Pola Kepekaan Kuman Penyebab Infeksi Saluran Kemih dan Resistensinya Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1900

Abstract

Urinary Ttract Infection is an infection/inflamation of the urinary tract (this includes the kidneys, the ureters, the bladder and the urethra). This is caused by microorganisms (bacteria, fungi, virus and parasit). Urinary Tract Infection (UTI) is a serious health problem commonly found in children, adult and the elderly. The diagnosis of UTI is confirmed when there is a significant bacteriuria in the urine culture (bacterial rate 10^ CFU/ml) (Kass,1956). The accurate and prompt diagnosis of UTI is very important in helping the management and therapy of UTI on the patients. The data shows that E.coli is the most common cause of UTI (50- 90%), followed by Proteus Spp, Pseudomo-nas Spp and Staphylococcus Spp (Jones et al.,1992).E.coli produces new mutant enzyme called ESBL (Extended Spectrum b- lactamase). This enzyme causes difficulty in the treatment of the microorgan-isms. Some antimicrobial drugs which have the best ability and stability to the ESBL-producing bacteria is Imipenem and Meropenem Meropenem (Comican, MG, et al., 1996). The data from NCCLS (Performance Standart for Antimi-crobial Susceptability Testing, 8ec^ 1998, Ferraro MJ) showed that ESBL-pro-ducing bacteria is resistant to all Cephalosporin and Astreonam groups.Regarding those facts, it is therefore the choice of antimicrobial drugs for UTI treatment must be actually based on the sensitivity pattern of bacteria fiom antibiogram result (based on relevant diagnostic method or empiric data of scientific publication (educated guess) through clinical efficacy results). The availability of antibiotic guidelines is helpful for choosing antimicrobial for UTI therapy in daily practice.In addition, it needs to be paid attention that the sensitivity pattern of bacteria causing UTI varies for each hospital, region or country.Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi/inflamasi pada saluran kemih (termasuk ginjal,ureter,kandung kemih dan uretra) yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri jamur,virus dan parasit). Diagnosis ISK ini ditegakkan apabila didapatkan bakteriuria bermakna dalam biakan kemih (Angka Kuman 10^ CFU/ ml) (Kass,1956). ISK adalah penyakit yang sering dijumpai di masyarakafmenyerang anak-anak/dewasa bahkan pada usia lanjut dan merupakan masalah kesehatan yang serius. Penegakan diagnosa yang cepat,tepat akan sangat membantu dalam hal terapi/penatalaksanaannya terhadap penderita. Dari data yang didapat menunjukkan penyebab tersering ISK adalah Escherichia coli (50% - 90%). Disusul Proteus, Pseudomonas dan Staphylococcus (Jones et al., 1992).Enzim mutan baru yang dikenal dengan nama ESBL (Extended Spectrum b- lactamases) banyak ditemukan pada eschericia coli sebagai penyebab tersering ISK. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri penghasil ESBL,cenderung lebih sulit pada pengobatannya. Beberapa antimikroba pilihan terhadap bekteri penghasil ESBL yang mempunyai aktivitas baik/stabil adalah Imipenem dan Meropenem (Comican,MG et al.1996). Dari data pada NCCLS (Performance Standart for an¬timicrobial Susceptability Testing,8e(L 1998,Ferraro MJ) disebutkan bahwa ESBL ini resisten terhadap semua golongan Sefalosporin dan Astreonam.Dengan melihat kenyataan tersebut diatas,maka pemilihan antimikroba untuk terapi ISK harus benar-benar didasarkan dan disesuaikan dengan pola kepekaan kuman dari hasil antibiogram (berdasar metode diagnostik yang cukup relavan atau data empirik dari publikasi ilmiah (educated - guess) melalui hasil efektifitas klinik (Clinical efficacy). Tersedianya antibiotic guidelines sangat membantu dalam pemilihan terapi antibiotik dalam praktek sehari-hari. Perlu juga diperhatikan bahwa pola kepekaan kuman penyebab ISK ini untuk masing-masing rumah sakit, daerah atau negara dapat memberikan gambaran yang berbeda.
Pengobatan Malaria Melalui Target Enzim Sundari, Sri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1905

Abstract

Plasmodium falciparum causes the most severe form of malaria which is fatal in many cases. The emergence of drug-resistant strains of P. falciparum to the standard therapy of malaria (i.e. kloroquin) requires the new drug en¬zyme targets to be identified. This review covers in details: the enzymes of purin salvage pathway; pyrimidine biosynthesis; protease involved in catabo¬lism on haemoglobin. The review also briefly touches upon other potential targets in the treatment of malaria falciparum.kPlasmodium falciparum menyebabkan bentuk penyakit malaria yang paling berat yang menyebabkan kematian dalam banyak kasus. Munculnya strain-strain P. falciparum yang resisten obat antimalaria (yaitu klorokuin) mengharuskan untuk menggali target enzim obat baru yang dapat digunakan untuk pengobatan malaria. Tinjauan ini membicarakan secara detil tentang: enzim-enzim dalam proses metabolisme purin; biosintesis pirimidin dan protease yang terlibat dalam katabolisme hemoglobin. Selain itu, secara singkat tinjauan ini juga akan membicarakan tentang target enzim potensial lainnya untuk terapi malaria falciparum.
Pembinaan Kepribadian FK UMY: Upaya Menghasilkan Dokter Muslim Soularto, Dirwan Suryo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1901

Abstract

Pendidikan tinggi tidak saja dituntut untuk menghasilkan seorang sarjana yang -.enguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga seorang yang mempunyai kepribadian yang tangguh sehingga keilmuannya benar-benar dapat bermanfaat tanpa timbul kekhawatiran disalahgunakan. Tampak dari kenyataan bahwa ternyata izigginya pendidikan seseorang bukan jaminan tingginya budi pekerti bahkan indeks rrestasi yang cum laude pun tidak menjamin perilaku dan akhlaknya sehari-hari .iga menjadi cum laude. Banyak contoh buruk yang menunjukkan bagaimana seorang y ang menguasai ilmu dan teknologi tidak memberikan manfaat namun sebaliknya menjadi sumber bencana bagi lingkungan sekitarnya.Sesuai dengan misi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yakni melahirkan saijana yang menguasasi ilmu pengetahuan dan teknologi di atas landasan iman dan takwa yang kokoh, sehingga menjadi insan mandiri berwawasan luas, sadar akan keberadaannya dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, iklas dan sunguh-sungguh di dalam melaksanakan tugas amar ma'ruf nahi munkar, Fakultas Kedokteran UMY menetapkan tujuan untuk dapat menghasilkan dokter yang profesional, Islami bervisi global dan mempunyai kemampuan manajerial.Untuk mencapai semuanya itu selain sebagai tempat pendidikan keilmuan, fakultas kedokteran dituntut untuk berperan dalam pembentukan kepribadain mahasiswanya, sehingga dapat dihasilkan seorang dokter yang profesional dan memiliki pengetahuan luas dengan didasari kepribadian seorang muslim. Sebuah cita-cita mulia yang tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang fakultas kedokteran untuk dapat menciptakan dokter plus yakni dokter muslim.
Uji Banding Pengukuran Protein Total Serum antara Metoda Tetes Layang, Refraktometer dan Spektrofotometer Suryanto, Suryanto; Banundari, RH
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1906

Abstract

Examination of serum total protein is often needed to assess the presence :' hypoproteinemia or hyperproteinemia in various cases, and the method of Examination commonly used is photometric (Biuret) or automatisation. In View of not all regions can make this instrument available, the method of Examination using Refractometer device and Flying-drops method can become alternatives for measuring serum total protein in remote region or in many Tablic health centres and small hospitals.This reseach is aimed to obtain the difference in the findings from serum protein measurement between Flying-drops method and Biuret method, between Tefractometer and Biuret, and between Flying-drops and Refractometer.The materials for examination were 50 serum samples obtained purposely ^om in-patients and then total protein measurement was performed with three methods for each serum sample. Materials for examination were a series of cupric sulphate of various densities strarting from 1.100 ; 159.0 grams of CUS045H20 was solved in 1000 ml of water for Flying-drops method, Hand Jiefractometer device for Refractometer method, and Biuret kit with normal control serum (Precinorm U from BM) with Automatic Analyzer Hitachi 902 for Biuret method. Data obtained were analyzed by SPSS-PC using Anova ::atistical test.This reseach shows There were significant differences between Flying-drops Hth Biuret method (p=0.000), between Refractometer with Biuret method p=0.000), and between Flying-drops with Refractometer (p=0.000).This reseach shows (statistically), there were significant differences be-tween the three methods (p = 0.000). Furthermore, it is necessary to consider replacing Biuret method with F/yrng-drops method or Refractometer.Pemeriksaan protein total serum sering diperlukan untuk menilai adanya hipoproteinemia atau hiperproteinemia dalam berbagai kasus, dan metoda pemeriksaan yang sering digunakan pada umumnya secara fotometrik (biuret) atau otomatisasi. Mengingat tidak semua daerah bisa mengadakan peralatan ini, metoda pemeriksaan dengan alat Refraktometer dan metoda Tetes layang dapat merupakan alternatif untuk pemeriksaan protein total serum di daerah-daerah atau di banyak Puskesmas dan Rumah sakit kecil.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pengukuran protein serum antara metoda Tetes layang dengan Biuret, Refraktometer dengan Biuret dan Tetes layang dengan Refraktometer.Bahan penelitian adalah 50 serum pasien rawat inap diambil secara purposif dan dilakukan pemeriksaan protein total dengan tiga metoda untuk setiap serum. Bahan pemeriksaan satu seri larutan kupri sulfat dari berbagai berat jenis berasal dari b.j 1,100; 159,0 g krital CuS045H20 dilarutkan dalam 1000 ml air untuk metoda Tetes layang, alat Hand Refractometer untuk metoda Refraktometer dan kit Bi¬uret dengan serum kontrol normal (Precinorm U dari BM) dengan alat Automatic analyzer Hitachi 902 untuk metoda Biuret. Data yang diperoleh dianalis dengan SPSS-PC menggunakan uji statistik Anova.Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara metode Tetes latang dengan Biuret (p=0,000), antara Refraktometer dengan Biuret (0,000 dan antara Tetes layang dengan Refraktometer (p=0,000).Penelitian ini menyimpulkan terdapat perbedaan bermakna secara uji statistik dari tiga metode tersebut p=0,000). Perlu pertimbangan lebih jauh untuk menggantikan pemeriksaan protein total metoda Biuret dengan metoda Tetes layang atau refraktometer.
Gambaran Pendistribusian Kartu Sehat pada Program JPSBK di Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Achmawati, Faridha; Mukti, Ali Ghufron; Prabandari, Yayi Suryo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The social and political crisis happening since July 1997 has affected the economic condition among Indonesians, as well as their health condition. In terms of health field, the government has held JPSBK or Health- Based Social Safety Net.The objective of this reseach is to learn the distribution of health cards provided for the community in Yogyakarta Special Province.This was an evaluative study using post-test only with secondary data from PIMU (Province Independent Monitoring Unit) survey in Yogyakarta in 2001. This study was conducted in 10 community health centers in Yogyakarta Province, and from those 10 community health centers, 220 re¬spondents were obtained.From the poverty criteria from BKKBN or National Family Planning Field Coordinator and village team, it was found that the criteria for family members of the poor that 99.1% of them could eat the basic food twice a day. All 95 % family members had different clothes to wear at home, in the office or school, and travelling. Fifty point nine percent family members joined family planning using health facility.Ninety-four point one percent of the family members went to health facil¬ity. Sixty one point four percent of the floor of the poor family ’s houses was not clay. Fifty two point three percent of the walls of their houses were made of cement and 98.2 %. of the ceilings were made of tiles. Forty fife percents of the respondents had cattles at home.This reseach showed that the distribution of health cards in Yogyakarta has not been appropriate, as there are many holders who do not full f ill the criteria as cardholders (BKKBN poverty criteria & Village Team).Krisis politik dan krisis sosial yang terjadi sejak bulan Juli 1997 telah menimbulkan dampak yang besar sekali pada kondisi ekonomi masyarakat Indo¬nesia termasuk pada kondisi kesehatannya. Khusus untuk bidang kesehatan, pemerintah melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan JPSBK) .Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran pendistribusian Kartu Sehat yang diberikan pada masyarakat di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Penelitian ini merupakan penelitian jenis evaluatif dengan rancangan post test only yang menggunakan data sekunder dari hasil survey PIMU (Province inde¬pendent Monitoring Unit) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2001. Penelitian dilakukan pada 10 puskesmas di Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, dari 10 puskesmas tersebut didapatkan responden berjumlah 220.Kriteria miskin dari BKKBN dan tim desa didapatkan kriteria seluruh anggota keluarga bisa makan makanan pokok sehari 2 kali atau lebih berjumlah 99.1 %, seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk digunakan ii rumah, bekerja/sekolah, dan berpergian berjumlah 95%, bila ada Pasangan Usia Subur yang ingin melaksanakan KB pergi ke sarana / petugas kesehatan berjumlah 50,9%, seluruh anggota keluarga bila sakit dibawa ke sarana / fasilitas kesehatan berjumlah 94,1 %, bagian terluas lantai bukan dari tanah berjumlah 61,4%, dinding terluas rumah dari tembok berjumlah 52,3%, atap rumah terluas dari genting berjumlah 98,2%, ditambah dengan kepemilikan ternak dari 220 responden yang menjawab memiliki ternak ada 45%.Dari hasil penelitian diketahui bahwa pendistribusian Kartu Sehat di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum sesuai dengan yang diharapkan karena masih banyak penerima Kartu Sehat yang tidak memenuhi kriteria sebagai penerima Kartu Sehat (kriteria miskin dari BKKBN dan dari tim desa).

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue