Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Gambaran Diet Anak Usia Sekolah di Desa Sidoharjo, Kulon Progo, terhadap Standar Normal Pertumbuhannya Astuti, Yoni; Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Child growth and development are influenced by several factors including hereditary and environment factors. The environment factors that potentially influence child growth and differentiation are diet and health. Diet intake in children is expected to meet the Recommended Dietary Allowance (RDA) to enable good growth and development. The aim of this research is to identify diet description of school children in Sidoharjo District, Kulon Progo towards their normal standard of growth. The research subjects were 63 school children consisting of 33 girls and 30 boys aged 7-12 years old. This research was carried out by filling out a questionnaire consisting of respondent identity and diet survey form to record diet intake for 7 consecutive days. Subjects then underwent general physical examination i.e. bloodpressure, pulse, respiration rate, body height and weight. The results of this research showed that most children (> 80 %) had growth and development under 50% of percentile. The calorie intake was 50 % of RDA. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of boys was 85,32%; 5,2%; 9,48% respectively. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of girls was 83,2%; 6,5%; and 10,3% respectively. Therefore, the school children diet was below the RDA level.Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor herediter dan lingkungan. Faktor lingkungan yang potensial mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain diet dan kesehatannya. Asupan makanan pada anak di harapkan sesuai dengan RDA(Recommended Dietary Allowance) nya, agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran diet anak usia sekolah (SD) di dusun Sidoharjo Kulon Progo terhadap standard normal pertumbuhannya. Subyek penelitian ini sebanyak 63 anak terbagi atas 33 anak perempuan dan 30 anak laki - laki, dengan kisaran umur 7-12 tahun. Penelitian dilakukan dengan cara mengisi kuesioner yang berisi identitas dan blangko survey diet untuk mencatat semua makanan yang dimakan berturut- turut selama 7 hari. Selanjutnya subjek diperiksa kesehatannya secara umum dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, tinggi dan berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak baik perempuan dan laki - laki sebagian besar (> 80 %) di bawah persentil 50%.Asupan kalori hanya terpenuhi 50%nya. Kelompok perempuan asupan karbohidrat, protein dan lemak berturut - turut terpenuhi sebesar 85,32% , protein 5,2% dan lemak 9,48%, sedangkan pada kelompok laki - laki berturut turut 83,2%, 6,5%, dan 10,3%. Kesimpulan penelitian ini adalah diet anak - anak usia sekolah di dusun Sidoharjo, Kulon Progo berada di bawah Standar Normal Pertumbuhannya (RDA).
Pengaruh puasa Ramadhan pada ibu hamil Meida, Nur Shani
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 10, No 1 (2002): JANUARI - APRIL 2002
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jky.v10i1.68

Abstract

Poliunsaturated Fatty Acid (Pufa) Dapat Memodulasi Efek Polimorfisme Apoal G-a terhadap Kadar Hdl-kolesterol pada Sifat Jenis Kelamin Tertentu: Penelitian di Framingham Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i1.1712

Abstract

Latar belakang : Substitusi G menjadi A di daerah promoter (pasangan basa 75) pada gen Apolipoprotein Al (APOA1) secara umum sudah dijelaskan. Di beberapa penelitian, allel A tampak berhubungan dengan peninggian kadar HDL-kolesterol tetapi tidak pada penelitian lain.Tujuan : Menilai bagaimana diet lemak dapat memodulasi huubngan antara polimorfisme dengan kadar HDL-kolesterol.Design : Populasi yang digunakan sebanyak 755 pria dan 822 wanita di Framingham Offspring Studi.
Anemia pada Usia Lanjut Meida, Nur Shani; Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1903

Abstract

Due to relatively high life expectancy (i.e. 71 years old), there is a signifi-cant number of elderly in Yogyakarta (according to Central Bureau of Statis¬ts / BPS, 1998). Many health problems were commonly found in elderly, such as anemia. Despite its prevalence in elderl, anemia is difficult to detect and causes potential health problems. The aim of this study was to reveal tiemia situation in the elderly in Yogyakarta.Subjects of the study were 21 elderly i.e. 12 men and 9 women. Two ml ~enous blood were drawn from antecubital vein of each subject and put into IDT A tube. Laboratory examinations were performed for hemoglobin level, hematocrit and erythrocyte count.The result of the study showed that based on hemoglobine level, anemia was observed in all male and female subjects. However, all subjects were nor- nal based on hematocrit level. In addition, all female subjects were normal, while all male subjects were anemia based on erythrocyte count.Further studies with large series of subjects covering other health prob¬lems related to anemia are recommended.Kelompok usia lanjut di Yogyakarta beijumlah cukup banyak, sebab usia harapan hidup penduduk Yogyakarta termasuk tinggi yaitu rl tahun (menurut Biro Pusat Statistik, 1998). Banyak gangguan yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia antara lain anemi. Anemi pada usia lanjut sering teijadi, sukar dideteksi dan dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui anemi yang terjadi pada usia lanjut yang dapat mengganggu kesehatannya.Subyek penelitian ini adalah golongan kelompok usia lanjut yang berumur antara 50-75 tahun yang terdiri dari 12 pria dan 9 wanita. Dua ml darah vena yang diambil dari vena mediana cubiti dimasukkan dalam tabung berisi EDTA, selanjutnya diperiksa kadar hemoglobin, hematokrit dan angka eritrosit.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasar kadar hemoglobin terdapat anemi pada usia lanjut, tetapi berdasar kadar hematokrit mereka dinyatakan nor¬mal. Adapun berdasar angka eritrosit pada wanita kesemuanya adalah normal, sedangkan pada pria terdapat anemi.Penelitian lebih lanjut dengan melibatkan jumlah subyek yang lebih besar dengan mencakup masalah kesehatan lain yang terkait dengan anemi masih perlu dianjurkan.
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1509

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia 75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)
Anemia pada Tuberkulosis Paru Pramono, Ardi; Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i1.1545

Abstract

Pulmonary tuberculosis (TB) is still a serious health problem worldwide. The prevalence of pulmonary TB in Indonesia is 3.43 per ten thousand popu¬lation. It is the second cause of death after cardiovascular diseases or the first cause in infectious diseases. Chronic anemia disease usually occurs in pulmonary tuberculosis. The objective of this study was to reveal the inci¬dence of anemia in patients with tuberculosis. Data was collected from PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital medical records in the year of 2000. We found 43 male and 23 female subjects who were diagnosed as tuberculosis because of their clinical findings. Patients with cough were 72.73%, 50% with dispneu, 18,18% with “night sweat”, and 24.24% with bloody cough. There were 27.27% patients with positive AFB (Acid-Fast Bacillus), 62.12% with positive chest x-ray. All subjects had Hb concentration of 12% g/dl.. This findings showed that male patients were categorized as anemic, while in fe- I male were normal.Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang maupun negara maju. Angka kejadian tuberkulosis paru di Indonesia 3,43 persepuluh ribu penduduk dan merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit kardiovaskuler atau urutan pertama pada penyakit infeksi. Anemia penyaki: kronis sering menyertai penderita dengan tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk: j mengetahui kejadian anemia pada penderita tuberkulosis paru dewasa di YogyakaitL Data diambil dari rekam medik penderita yang berobat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2000. Didapatkan 66 subjek penderita yang didiagnosis TB paru Diagnosis didasarkan atas hasil uji bakteriologis bakteri tahan asam (BTA) posir h zejala klinis, uji radiologis paru dan pemeriksaan penunjang. Ditemukan gejala klinis penderita berupa batuk 72,73%, keringat malam 18,18%, sesak napas 50% dan eatuk darah pada 24,24% baik sebagai gejala tunggal maupun bersama-sama. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan penderita dengan BTA + sebanyak 27,27%, ronsen paru positif 62,12%,. Kadar Hb ditemukan rata-rata 12g% pada pria dan L2g% pada wanita. Kadar Hb pada pria termasuk kategori anemia, sedangkan pada wanita termasuk normal bawah. Anemia yang ditemukan pada penderita TB merupakan anemia pada penyakit kronik. Penanganan anemia jenis ini terutama ditujukan pada penyakit dasar, tetapi perlu diperiksa lebih lanjut apakah benar ane¬mia penyakit kronis atau sebab lain, sehingga penanganan lebih tepat.
Hubungan Faktor Genetik dan Gaya Hidup dengan Astigmatisma pada Anak Setyandriana, Yunani; Meida, Nur Shani; Ikliludin, Ahmad; Ayuputri, Amalia Nindya
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2: July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180216

Abstract

Astigmatisma merupakan kelainan refraksi akibat bentuk kornea atau lensa yang tidak teratur, yang sering terjadi pada anak usia sekolah. Hingga saat ini penyebab astigmatisma belum diketahui walaupun faktor genetik dan gaya hidup diduga berperan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Penelitian dilakukan di RS JIH dan PKU Muhammadiyah Gamping, dari bulan Januari hingga Desember 2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan metode potong lintang. Didapatkan sampel sebanyak tujuh puluh enam anak, yang kemudian dilakukan pemeriksaan virus dan mengisi kuesioner tentang faktor genetic dan gaya hidup pasien. Data dianalisis menggunakan Uji Regresi Linear Berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Faktor genetik merupakan faktor yang paling berhubungan dengan astigmatisma pada anak (p=0,003, 95% CI for B=0,52-1,18) dibandingkan dengan faktor gaya hidup yaitu kebiasaan menggunakan gadget (p=0,015, 95% CI for B= 0,50-1,01), kebiasaan membaca (p=0,204, 95% CI for B= -0,49-0,46), dan kebiasaan menonton televisi lebih dari dua jam sehari (p=0,211, 95% CI for B= -0,55-0,25).
Ektasia Kornea Pasca Lasik Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1583

Abstract

The objective of this paper to know prevention and management corneal ectasia after Lasik Corneal ectasia after lasik are weakening of cornea caused by central stromal laser or creation of the flap after lasik surgery. This conditions are feared complication of refractive surgeon. Corneal ectasia after lasik will happen several months until several years after lasik. Incidence of corneal ectasia is still unknown, about 1 over 100.000. Diagnosis of corneal ectasia was established by slitlamp appearance of corneal thinning, with progresif miop, progresif irreguler astigmat and refractive error cannot be corrected. Risk factors of corneal ectasia are family history, young age, corneal thickness lower than 500 micron, corneal asymmetri, abnormal topography, keratoconus and low residual stromal bed. The therapeutic options for corneal ectasia are Rigid Gas Permiable (RGP) contact lenses, eye drops for decreased intraocular pressure, corneal collagen crosslinking - riboflavin (C3-R), intacs implantation, and in the advanced stages, lamellar keratoplasty. A complete ophthalmologic examinations before surgery andfindings the risks factors are important to prevent corneal ectasia after lasik. The prognosis of corneal ectasia after lasik was good.Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui pencegahan dan pengelolaan ektasia kornea pasca lasik. Ektasia kornea pasca lasik adalah kelemahan kornea akibat ablasi stroma sentral atau pembuatan flap kornea sesudah operasi lasik. Kondisi ini merupakan komplikasi yang paling ditakuti ahli bedah refraktif. Kejadian ektasia kornea pasca lasik dapat terjadi beberapa bulan sampai beberapa tahun pasca lasik. Insidensinya tidak diketahui, diduga sekitar 1 per 100.000. Penegakan diagnosis dilakukan dengan menggunakan slitlamp tampak kornea menipis dan menonjol disertai gejala miop progresif, astigmat irreguler yang meningkat dan kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa faktor risiko ektasia kornea antara lain riwayat keluarga, umur muda, miop tinggi, ketebalan kornea kurang dari 500 mikron, asimetri kornea, abnormal topografi, keratokonus dan rendahnya residual bed. Beberapa pilihan terapi yang dilakukan yaitu pemakaian lensa kontak RGP, pemakaian obat penurun tekanan intraokuler, pemberian C3-R, implantasi intacs dan tahap lanjut dengan lamellar keratoplasti. Pemeriksaan pre operatif yang lengkap dan penemuan faktor risiko merupakan hal yang penting untuk menghindari terjadinya ektasia kornea pasca lasik. Prognosis pasien ektasia kornea pasca lasik adalah baik.
Kadar Asam Urat Plasma Pada Perokok dan Non Perokok Uric Acid Plasma Level In Smoker an Non Smoker Meida, Nur Shani; Sisindra, Fahmi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1863

Abstract

Cigarette smoking may cause free radical which can increase cell dam-age. To prevent free radical from cigarette smoke, the body must have a defen¬sive antioxidant system to keep up with the oxidant. Naturally, the body is equipped with some compounds known as antioxidanst. One of endogenous antioxidant is uric acids which in small concentration meaningly prevent or postponeundesired effect of free radical.A research of uric acid content in plasma of smoker and non smoker was conducted. This research was intended to find the differences of uric acid con¬tent between smoker and non smoker. The research was a cross sectional study. The sample group considered is plasm from 15 smokers and for control group is plasm from 15 non smokers. The parameter measured was the uric acid content in the blood plasma. Measurement were done through colorimetric enzymatic test “TBHBA”.Results showed that the average content of uric acid in smokers was 7,733 ± 1,820 mg/dl, while in non smoker was at 8,880 ± 2,567 mg/dl. From these t-test, we concluded that there was not significant differences of uric acid in smoker and non smoker.Asap rokok dapat menyebabkan radikal bebas yang dapat meningkatkan kerusakan sel. Untuk menghadapi radikal bebas dari asap rokok maka tubuh harus mempunyai suatu system pertahanan antioksidan yang cukup terhadap beban oksidan. Secara alami tubuh manusia telah dilengkapi senyawa untuk mengurangi dampak negatif oksidan yang disebut dengan antioksidan. Salahsatu antioksidan endogen dalam tubuh yaitu asam urat. Antioksidan merupakan senyawa yang dalam jumlah kecil secara bermakna mampu mencegah atau menunda oksidasi radikal bebas.Telah dilakukan penelitian tentang kadar asam urat plasma pada perokok dan non perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar asam urat plasma antara perokok dan non perokok. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang (cross sectional). Kelompok sample yang digunakan yaitu adalah plasma dari 15 orang perokok dan kelompok kontrol yang digunakan adalah plasma dari 15 orang non perokok. Parameter yang diukur yaitu kadar asam urat plasma. Pengukuran menggunakan metode tes kolorimetrik enzimatik (TBHBA).Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar asam urat plasma pada perokok 7,733 ± 1,820 mg/dl, sedang pada non perokok 8,880 ± 2,567 mg/dl. Dari uji t-test didapat hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar asam urat perokok dan non perokok.
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1509

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia 75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)