cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2002)" : 13 Documents clear
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1509

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia 75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)
Kajian terhadap Pemeriksaan Haemoglobin (Hb) Indriawati, Ratna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of anemia among pregnant women and under-five-year- old children in Indonesia is still very high. Hemoglobin (Hb) estimation assists in detecting anemia. There are two methods on measuring Hb by colorimetries i.e. Sahli and Talquist. The objective of this study was to compare the value of Sahli and Talquist methods by using the agreement test. This study was conducted in Physiology Laboratory, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta. A total number of 39 students who took Physiology were enrolled to this study. The Hb level measurement was conducted by trained students. Two students conducted the Hb level measure-ment using Sahli and Talquist methods randomly. Subjects of the study were 39 students consisted of 18 men and 21 women. The age mean was 20 ± 2,2. Using Talquist method, the Hb levels among men were significantly higher than women (p-0.02). Kappa coeffisient was calcu-lated to know the agreement between Sahli and Talquist methods. The Hb levels were catagorized into two groups using cut-off point 12 mg/dl, 10 mg/dl and 8 mg/dl, respectively. The agreement based on those three cut-off point was low, kappa coefficient were 0.24, 0.20 and 0.22, respectively. There were differences on the Hb level measurement between Sahli and Talquist methods (the agreement test with K=0,24; K=0,22 and K=0,20 were low).Prevalensi anemia pada wanita hamil dan anak-anak di bawah lima tahun di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk menentukan adanya anemia perlu pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). Pemeriksaan kadar Hb secara kolorimetris ada 2 cara yaitu, metode Sahli dan Talquist Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan hasil pengukuran kadar Hb menggunakan metode Sahli dan Talquist dengan uji kesepakatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi, Fakultas Kedokteran Univer-sitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jumlah subyek 39 orang mahasiswa yang mengambil matakuliah fisiologi. Mahasiswa sebelumnya dilatih dahulu. Dua orang mahasiswa melakukan pemeriksaan Hb dengan metode Sahli dan Talquist, secara acak. Subyek penelitian ini adalah 39 mahasiswa, terdiri dari 18 laki-laki dan 21 perempuan, yang berusia rata-rata 20 +2,2 tahun. Pemeriksaan kadar Hb metode Talquist didapatkan perbedaan bermakna antara kadar Hb laki-laki dan perempuan (p=0,02). Perhitungan dengan koefisien Kappa untuk mengetahui kesepakatan antara metode Sahli dengan Talquist. Kadar Hb dikategorikan diam 2 kelompok menggunakan cut-off point 12 g/dl, 10 g/dl dan 8 g/dl. Uji kesepakatan pada 3 cut¬off point tersebut rendah, koefisien Kappa 0,24,0,20 dan 0,22. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan kadar Hb metode Sahli dan Talquist (uji kesepakatan dengan K=0,24, K=0,22 dan K=0,20 rendah).
Profil Protein pada Gelandangan Penderita Psikotik Endang, -; Suwarso, -; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1506

Abstract

Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia ( 3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline ( 0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline ( 0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline ( 1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline ( 1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline ( 0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline ( 0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin ( 0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin ( 0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia ( 3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline ( 0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline ( 0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline ( 1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline ( 1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline ( 0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline ( 0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin ( 0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin ( 0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Perubahan-perubahan sosial yang berlangsung cepat sebagai akibat dari modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Tidak semua orang mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi, sehingga perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan ketegangan atau stress pada dirinya yang akhirnya akan menimbulkan suatu gangguan jiwa. Kesehatan jiwa menurut kedokteran adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupan sehari-harinya, di rumah, disekolah, di tempat kerja atau di lingkungan sosialnya. Meskipun demikian, gangguan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung. Dewasa ini, terutama di kota-kota besar, banyak terdapat penderita psikotik yang bergelandangan. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena berbagai hal, antara lain tidak memiliki keluarga yang mampu mengurusnya dengan baik, melarikan diri dari rumah atau pusat rehabilitasi gangguan jiwa, dibuang oleh pihak keluarga karena perasaan malu, dan sebagainya. Gelandangan psikotik adalah seseorang yang berkeliaran atau bergelandangan di tempat umum yang diperkirakan oleh karena terganggu jiwanya atau psikotik dan dianggap mengganggu ketertiban atau keamanan lingkungan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya penderita psikotik ini melakukan apa saja yang dianggap benar olehnya, antara lain makan dari sisa-sisa makanan yang berhasil diperolehnya baik di pinggiran atau bahkan di tempat sampah, hidup di alam bebas tanpa perlindungan seperti tidur di jalanan, berpakaian seadanya bahkan ada beberapa diantara mereka tidak berpakaian, hidup di lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk, dan lain-lain. Dikarenakan gaya hidup penderita psikotik yang sangat ekstrim dibandingkan dengan manusia normal, menimbulkan pertanyaan bagaimanakah status nutrisi dan status kesehatan pada penderita psikotik ini. Pada penelitian ini akan dianalisis fragmen-fragmen protein yang terkandung dalam serum penderita psikotik gelandangan. Protein serum merupakan campuran yang amat kompleks yang mencakup glikoprotein dan berbagai tipe lipoprotein. Pemisahan masing-masing protein dari campuran yang kompleks ini digunakan metode serum protein elektroforesis. Elektroforesis adalah istilah yang dipakai untuk memisahkan protein berdasarkan kecepatan geraknya bila satu aliran elektris melalui cairan berprotein dalam medium pendukung. Kecepatan gerak dipengaruhi oleh besarnya, konfigurasi dan muatan elektris pada molekul.
Islamic Revealed Knowledge: Sebagai Salah Satu Ciri Universitas Islami Sagiran, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1511

Abstract

Seorang orientalis yang bernama Franswiz Sajan mengatakan bahwa emansipasi wanita adalah gerakan tipu daya agar wanita muslimah mau melepas “pakaian islaminya", sebenarnya mereka ingin menertawakan umat Islam. Mereka tertawa kepada iuzn: kaum orientalis) sebelum melakukannya kepada kalian (umat Islam). Seiangkan Bon Harmer berkata bahwa sesuatu yang diidamkan oleh setiap wanita adalah mendapatkan penghormatan dan kedudukan. Hanya Islamlah agama yang memberi jaminan perlindungan wanita. Begitulah sekilas hasil-hasil penelitian tingkat dunia mengenai peri kehidupan muslim yang justru dilakukan oleh banyak orang Barat yang bukan orang Islam itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa penelitian merupakan salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi di Indonesia, maka penelitian Ilmu Islam terapan hendaknya menjadi Dharma Utama bagi perguruan tinggi Islam. Ibarat pohon, penelitian akan membuahkan pemikiran dan teori baru yang tentunya bersumber dari petunjuk Ilahi; metode-metode dan fakta-fakta baru untuk menjalankan misi kehidupan di alam zaman ini agar tetap sesuai dengan fitrah manusia sebagai hamba Allah. Inilah bagian dari cara menjalankan perintah “Iqra’ ”dalam wahyu yang turun paling awal, disusul juga oleh ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS:Adz-Dzaariyaat (51): 20-21) Ibnu Katsier menerangkan tafsirnya, Allah berfirman bahwa di permukaan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya dalam semua ciptaan didalam berbagai tanaman, binatang, gunung, sungai, lautan, dan berbagai warna kulit serta tipe manusia, bermacam-macam bahasa dan dialek yang mereka gunakan, serta perbedaan tingkat kecerdasan dan ketajaman berpikir, di samping itu semua dalam diri manusia itupun terdapat tak kurang adanya tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Tuhan bila ia suka memperhatikan dan meneliti.
Efek Samping Kemoterapi dan Radioterapi pada Sel-sel Spermatogenik dan Spermatozoa Wahyuni, Alfaina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1507

Abstract

Medical treatment for cancer is a combination of operative treatment, ra-diotherapy and chemotherapy. Theoretically, anticancer agent can kill can¬cer cells. However, it also causes many side effects especially on the normal cells, which have high mitosis activity. One of them is spermatogenic cell. Anticancer agent is included into reproductive toxin. Its working mecha-nism is by the alkylation of biologic molecules. Radiotherapy and chemotherapy reduce the number of spermatogonia Al, spermatogonia B and cause aberation of DNA structures on the next-generation cells including spermatozoa, hence result in the decrease of number of spermatozoa and sperm motility and the increase of the percentage of spermatozoa with abnormal morphology. The effects of radiotherapy and chemotherapy are temporary and reversibel. The cell recovery depends on the type of anticancer agent, its dosage and the length of therapy applied. Spermatogonia stem cells are the most important factors on this process.Tindakan medis yang dilakukan untuk pengobatan kanker adalah kombinasi pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Secara teoritis bahan antikanker bisa membunuh sel kanker, tetapi kenyataannya banyak menimbulkan efek samping terutama pada sel normal yang mempunyai aktivitas pembelahan cepat. Salah satu diantaranya adalah sel-sel spermatogenik. Bahan-bahan antikanker termasuk dalam golongan toksin reproduktif. Mekanisne kerjanya dengan cara mengalkilasi molekul biologis. Pascaradioterapi dan kemoterapi terjadi penurunan jumlah spermatogonia Al dan B dan menyebabkan aberasi struktur DNA pada generasi sel berikutnya termasuk spermatozoa. Akibatnya jumlah dan motilitas menurun dan persentase abnormalitas spermatozoa meningkat. Efek radioterapi dan kemoterapi bersifat temporer dan bisa terjadi pemulihan. Pemulihan sangat tergantung pada jenis bahan antikanker, dosis dan lama pemberian. Sel spermatogonia induk merupakan faktor terpenting dalam proses tersebut.
The No. 3 Craniofacial Cleft Sagiran, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1512

Abstract

Sumbing no.3 merupakan satu di antara 14 tipe kelainan sumbing kraniofasial kongenital. Lokasi sumbing ini bertepatan dengan tempat pertemuan antara proces¬sus maxillaris dan frontonasalis pada masa perkembangan embryonal. Mengetahui embryologi leher dan kepala memberi pemahaman mengenai fungsi saraf kepala, prinsip-prinsip pembentukan kepala-wajah dan kelainan-kelainannya yang merupakan akibat penyimpangan dari perkembangannya. Penanganan kelainan ini memerlukan bedah rekonstruksi yang canggih. Makalah ini melaporkan kasus seorang anak perempuan 1,5 tahun dengan sumbing kraniofasial no 3.The No. 3 Cleft is one of 14 types of congenital craniofacial cleft anoma¬lies. The location of no. 3 cleft coincides with the embryonic junction of the maxillary and frontonasal processes. There is no theory of the causes but some hypothetic risk factors have been proposed. Understanding of head and neck embryology gives rationale to the function of the cranial nerves, prin¬ciples of craniofacial form, and anomalies that result from aberrations in their development. Treatment of this malformation needs excellent reconstructive surgery. This paper is reporting a case of the no. 3 craniofacial cleft in a 1.5- year-old female.
Imunitas Tubuh terhadap Cytomegalovirus (CMV) Rachmawaty, Farida Juliantina; Rosita, Linda
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cytomegalovirus (CMV) infection has been an important health prob-lem recently. The impact of the infection on the fetus i.e. physical disability and mental retardation will decrease the quality of life. Hence, this will influ¬ence the quality of the next generation, as well as becoming a burden of the family and the community. The expensive cost for its laboratorium examamination and therapy has caused some problems. It is therefore, it is important to understand the body immunity toward this viral infection. Cytomegalovirus (CMV) constitutes Herpesviridae family group. This virus has spread around the world, although its replication develops slowly. Cytomegalovirus (CMV) does not stand high temperature and its reservoar is only human. The transmission of this virus needs frequent contacts and inti¬mate relationship with the infected person. A healthy person with good immu¬nity condition is not easily infected by CMV. However, it needs special atten¬tion on susceptible groups i.e. pregnant women with the fetuses they are carrying; and children, as well as humans with bad immunity or who receive organ tranplantation. This infection rarely becomes mononucleosis syndrom. The diagnostic pro-cedure for adult patients are more frequently based on serologic examinations rather than the clinical conditions. The therapy for the CMV infection patient with intra venous Ganciclovir shows good result. Other recommended thera-pies are intra venous Foscarnet and Cidovir, however, they need caution due to their high side effects.Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan masalah penting akhir-akhir ini. Dampak yang ditimbulkan pada janin yang terinfeksi berupa kecacatan fisik dan retardasi mental akan menurunkan kualitas hidupnya. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap generasi penerus, serta menjadi beban keluarga dan masyarakat. Mahalnya pemeriksaan laboratorium dan pengobatan menimbulkan masalah tersendiri. Dengan demikian perlu diketahui imunitas tubuh terhadap virus ini. Cytomegalovirus (CMV) merupakan kelompok virus dari famili Herpesviridae. Virus ini tersebar di seluruh dunia, namun replikasinya berkembang dengan lambat. CMV tidak tahan terhadap pemanasan dan satu-satunya reservoar adalah manusia. Perlu kontak yang berulang-ulang dan hubungan yang erat dengan penderita untuk dapat tertular virus ini. Pada orang sehat dengan kondisi imunitas yang bagus tidak mudah terinfeksi CMV. Diperlukan perhatian khusus pada kelompok-kelompok yang rentan, yaitu ibu hamil dengan janin yang dikandungnya dan anak-anak, demikian pula pada individu yang jelas-jelas diketahui terjadi penurunan imunitas atau mendapat tranplantasi organ. Infeksi CMV jarang menjadi sindrom mononukleosis. Diagnosis pada orang dewasa lebih banyak ditegakkan berdasar pemeriksaan serologis daripada gejala klinik. Terapi pada penderita dengan Ganciclovir intra vena menunjukkan hasil yang baik. Terapi lain yang dapat direkomendasi adalah Foscamet dan Cidovir intra vena, namun perlu hati-hati karena efek samping yang tinggi.
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1509

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia 75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)
Imunitas Tubuh terhadap Cytomegalovirus (CMV) Farida Juliantina Rachmawaty; Linda Rosita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1508

Abstract

Cytomegalovirus (CMV) infection has been an important health prob-lem recently. The impact of the infection on the fetus i.e. physical disability and mental retardation will decrease the quality of life. Hence, this will influ¬ence the quality of the next generation, as well as becoming a burden of the family and the community. The expensive cost for its laboratorium examamination and therapy has caused some problems. It is therefore, it is important to understand the body immunity toward this viral infection. Cytomegalovirus (CMV) constitutes Herpesviridae family group. This virus has spread around the world, although its replication develops slowly. Cytomegalovirus (CMV) does not stand high temperature and its reservoar is only human. The transmission of this virus needs frequent contacts and inti¬mate relationship with the infected person. A healthy person with good immu¬nity condition is not easily infected by CMV. However, it needs special atten¬tion on susceptible groups i.e. pregnant women with the fetuses they are carrying; and children, as well as humans with bad immunity or who receive organ tranplantation. This infection rarely becomes mononucleosis syndrom. The diagnostic pro-cedure for adult patients are more frequently based on serologic examinations rather than the clinical conditions. The therapy for the CMV infection patient with intra venous Ganciclovir shows good result. Other recommended thera-pies are intra venous Foscarnet and Cidovir, however, they need caution due to their high side effects.Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan masalah penting akhir-akhir ini. Dampak yang ditimbulkan pada janin yang terinfeksi berupa kecacatan fisik dan retardasi mental akan menurunkan kualitas hidupnya. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap generasi penerus, serta menjadi beban keluarga dan masyarakat. Mahalnya pemeriksaan laboratorium dan pengobatan menimbulkan masalah tersendiri. Dengan demikian perlu diketahui imunitas tubuh terhadap virus ini. Cytomegalovirus (CMV) merupakan kelompok virus dari famili Herpesviridae. Virus ini tersebar di seluruh dunia, namun replikasinya berkembang dengan lambat. CMV tidak tahan terhadap pemanasan dan satu-satunya reservoar adalah manusia. Perlu kontak yang berulang-ulang dan hubungan yang erat dengan penderita untuk dapat tertular virus ini. Pada orang sehat dengan kondisi imunitas yang bagus tidak mudah terinfeksi CMV. Diperlukan perhatian khusus pada kelompok-kelompok yang rentan, yaitu ibu hamil dengan janin yang dikandungnya dan anak-anak, demikian pula pada individu yang jelas-jelas diketahui terjadi penurunan imunitas atau mendapat tranplantasi organ. Infeksi CMV jarang menjadi sindrom mononukleosis. Diagnosis pada orang dewasa lebih banyak ditegakkan berdasar pemeriksaan serologis daripada gejala klinik. Terapi pada penderita dengan Ganciclovir intra vena menunjukkan hasil yang baik. Terapi lain yang dapat direkomendasi adalah Foscamet dan Cidovir intra vena, namun perlu hati-hati karena efek samping yang tinggi.
Islamic Revealed Knowledge: Sebagai Salah Satu Ciri Universitas Islami - Sagiran
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1511

Abstract

Seorang orientalis yang bernama Franswiz Sajan mengatakan bahwa emansipasi wanita adalah gerakan tipu daya agar wanita muslimah mau melepas “pakaian islaminya", sebenarnya mereka ingin menertawakan umat Islam. Mereka tertawa kepada iuzn: kaum orientalis) sebelum melakukannya kepada kalian (umat Islam). Seiangkan Bon Harmer berkata bahwa sesuatu yang diidamkan oleh setiap wanita adalah mendapatkan penghormatan dan kedudukan. Hanya Islamlah agama yang memberi jaminan perlindungan wanita. Begitulah sekilas hasil-hasil penelitian tingkat dunia mengenai peri kehidupan muslim yang justru dilakukan oleh banyak orang Barat yang bukan orang Islam itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa penelitian merupakan salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi di Indonesia, maka penelitian Ilmu Islam terapan hendaknya menjadi Dharma Utama bagi perguruan tinggi Islam. Ibarat pohon, penelitian akan membuahkan pemikiran dan teori baru yang tentunya bersumber dari petunjuk Ilahi; metode-metode dan fakta-fakta baru untuk menjalankan misi kehidupan di alam zaman ini agar tetap sesuai dengan fitrah manusia sebagai hamba Allah. Inilah bagian dari cara menjalankan perintah “Iqra’ ”dalam wahyu yang turun paling awal, disusul juga oleh ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS:Adz-Dzaariyaat (51): 20-21) Ibnu Katsier menerangkan tafsirnya, Allah berfirman bahwa di permukaan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya dalam semua ciptaan didalam berbagai tanaman, binatang, gunung, sungai, lautan, dan berbagai warna kulit serta tipe manusia, bermacam-macam bahasa dan dialek yang mereka gunakan, serta perbedaan tingkat kecerdasan dan ketajaman berpikir, di samping itu semua dalam diri manusia itupun terdapat tak kurang adanya tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Tuhan bila ia suka memperhatikan dan meneliti.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue