cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2003)" : 14 Documents clear
Tinjauan Keluarga tentang Tempat Terakhir Perawatan pada Pasien di Saat Terakhir Kehidupan Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lebih dari seabad yang lalu, perawatan di rumah dan rumah sakit meningkat menjadi tempat kematian, walaupun demikian belum ada penelitian secara nasional yang mengamati kecukupan atau kualitas perawatan pasien stadium terminal di institusi kesehatan dibandingkan dengan perawatan di rumah.
Herbal Medicine Pentingnya Mengenal dan Memahaminya Qomariyah, Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1702

Abstract

Krisis perekonomian yang berkepanjangan, membawa konsekuensi meningkatnya harga obat-obatan modem yang diproduksi oleh pabrik, memacu munculnya alternatif lain dalam pengobatan. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menggali potensi obat tradisional yang telah digunakan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Usaha untuk mengeksplorasi seluruh potensi sumber daya alam yang ada dicerminkan dengan kuatnya komitmen pemerintah untuk mengembangkan obat tradisional dengan bahan baku yang sebagian besar berasal dari tanaman obat. Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan obat-obatan tradisional baik untuk pencegahan maupun untuk pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa obat-obat tradisional diakui berkhasiat dan harganyapun masih terjangkau. Ironisnya dikalangan para dokter beberapa diantaranya masih ada yang menganggap bahwa produk tanaman obat hanya berefek sebagai plasebo saja, belum ada data ilmiah yang mendasari pemakaiannya. Melihat fenomena tersebut, maka Fakultas Kedokteran UMY berusaha mengenalkan tentang herbal medicine melalui mata kuliah plihan pengobatan komplementer yang berisi herbal medicine dan akupungktur dalam kurikulum pendidikan SI baik di sistem konvensional, dan juga di blok elektif dalam sistem PBL. Tujuannya untuk membuka wawasan dan memberi kesempatan kepada mahasiwa untuk mengenal dan memahami herbal medicine. Sehingga mahasiswa sebagai calon dokter mempunyai kemampuan menilai kemanfaatan dan keamanan herbal medicine secara objektif serta timbul sikap kritis terhadap permasalahan 3rang muncul dalam bidang herbal medicine.
Karsinoma Sel Squamosa Sagiran, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Squamous cell carcinoma is a non-melanotic skin cancer that commonly found beside basal cell carcinoma. The lesion is specific with the thickening of stratum corneum of the skin. The common predilection is in the face, it can follow the subsequent process of skin trauma. We reported the case of a 60- year old female with a squamous cell carcinoma in her lower lip. She has been suffering from this disease for 5 years, but there is no metastasis. It has been wide-excised, histo-pathologically showed that the margin of excision is tu¬mor-free.Karsinoma sel squamosa adalah salah satu bentuk keganasan kulit non-melanotik yang sering dijumpai, di samping karsinoma sel basal. Lesinya sangat khas dengan adanya penebalan lapisan tanduk. Predileksi yang sering adalah wajah, dapat mengikuti proses penyembuhan pasca trauma. Tulisan ini melaporkan sebuah kasus seorang perempuan 60 tahun dengan karsinoma sel squamosa pada bibir bawah. Penyakitnya sudah diderita 5 tahun, namun tidak didapatkan metastasis. Telah dilakukan eksisi luas, histopatologis menunjukkan tepi irisan bebas dari tumor.
Problematika Kegemukan Kelas Bawah: Tinjauan Antropologi Kesehatan Triratnawati, Atik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1699

Abstract

Body shapes especially obesity related to cultural value concern with beauty, aestethica, health and efforts to prevent of the condition. The aims of the research are: to find out the Javanese lower class concept of obesity, problems, prevention and health seeking behavior. The qualitative research was carried out by in-depth interview toward 22 (15 women, 7 men) Javanese lower class who live in DIY. Data analysis was done by Medical Anthropology theory. Among the Javanese, body reflected the condition of a person. The over¬weight measurement usually based on general formula such as high minus 100/ll0cm. But some informants used the cloth, which began tight and fat protruding in certain part of body. The awareness of lower class about value of beauty, aesthetics and health including the preventing of obesity was less, but they tried to prevent by diet- reducing carbohydrate and fat, fasting ev¬ery Monday and Thursday, and jamu (herbal medicine). Problems related to health (diseases) and socio-cultural (inconvenient for Muslim when they prayed 5 times a day, awkward when sitting on the floor) is the main problem among obese people. Obesity means gift from Good, so the prevention to reduce the weight is strongless.Bentuk tubuh khususnya kegemukan berkait erat dengan nilai budaya mengenai kecantikan/estetika, kesehatan dan upaya pencegahannya. Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui konsep orang Jawa kelas bawah mengenai bentuk tubuh, problem, pencegahan serta upaya penanggulangannya. Penelitian kualitatif dengan wawancara terhadap 22 (15 wanita, 7 pria) orang lawa dari kelas bawah yang bertempat tinggal di DIY. Analisis data dilakukan dengan pendekatan teori Antropologi Kesehatan. Tubuh bagi orang Jawa merupakan pencerminan keadaan bagi pemiliknya. Ukuran kelebihan badan bisa berdasarkan rumus umum antara tinggi badan dikurangi 100/110 cm, namun banyak pula yang mendasarkan pada ukuran baju yang mulai sempit serta tonjolan lemak di bagian tubuh yang terlihat jelas. Kesadaran akan nilai estetika, kecantikan dan kesehatan mengenai kegemukan kurang kuat, sehingga kegemukan cenderung dibiarkan saja walaupun ada dari mereka yang mencoba mengatasi dengan cara: olahraga, mengurangi konsumsi makanan lemak dan karbohidrat atau dengan jamu dan puasa Senin-Kamis. Problem utama kegemukan bagi mereka adalah menyangkut aspek kesehatan (munculnya penyakit) serta sosial budaya (kesulitan melaksanakan sholat bagi orang Islam atau kesulitan duduk di mkar). Pada kelas bawah kegemukan diterima sebagai anugerah Tuhan sehingga 2paya pencegahannya kurang maksimal.
Respon Imun pada Infeksi Malaria Hidayati, Titiek; Akrom, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1704

Abstract

Malarial infection is still one of major health problem in Indonesia. There is no effective vaccine available against endemic human malaria at present. Research and informations about Malaria immune system in Indonesia is still limited. It is caused antigenic varians in every infection stage, so that consecuence complexity, stage specific infection and short duration respon system immune in giving hospes protection. This malaria reference study is to explain new studies and information about immune response of infection malaria.Malaria masih merupakan masalah utama penyakit infeksi di Indonesia. Vaksin malaria ideal yang diharapkan akan mampu memberikan perlindungan terhadap penduduk yang tinggal di daerah endemik malaria dari infeksi malaria juga belum ditemukan. Hal itu dikarenakan timbulnya variasi antigenik pada setiap tahapan infeksi malaria yang berakibat pada kompleksitas, spesifisitas tahapan infeksi (stage spesific) dan pendeknya durasi tanggapan sistem imun dalam memberikan perlindungan kepada hospes. Hasil kajian dan bahan informasi sebagai sumber pustaka tentang imunologi malaria di Indonesia masih sangat terbatas. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan hasil-hasil penelitian serta informasi terbaru mengenai respon imun terhadap infeksi malaria dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka.
Perbandingan Efek Antiinflamasi antara Ekstrak Pare (M. Charantia) dengan Kortikosteroid terhadap Dermatitis Eksperimental pada Mencit secara Topikal Jenie, Ikhlas Muhammad; Soesatyo, Marsetyawan HNE; -, Praseno
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1700

Abstract

SARS (severe acute respiratory syndrome) represents how confusing the picture of inflammation is. In spite of its ability to protect our body, inflamma¬tion could have some disadvantages. Corticosteroid is one of symtomatically therapy for SARS. Corticosteroids itself has been used for a long time as antiinflammatory drug. But, its adverse reaction such immunocomprimised effect has limited its widely use. It was reported that a and b momorcharin from Pare has antiinflammatory activity. Momorcharin has an ability to prevent antigen-induced limfosit pro¬liferation and reduce the ability of macrofag to fagosit antigen. The aim of this research is to know how good the antiinflammatory effect of Pare comparing with hidrocortison’s is. The subject of this observation are mice as many as 22, which randomly divided into 4 groups. Each group had been injected with S. aureus subcutan. As soon as signs og infection appeared, we treated one group with Pare oint¬ment, one other group with hidrocortison, and 2 groups the rest as positive and negative control. The inflammation reaction in each group had been recorded, clinically and histologically. The datas were assessed with descriptively and qualitatifly analitic. The result was Pare itself had antiinflammatory effect. Topically, it could make inflammation reaction reduced, udema diminished, necrose not widened, healing time shorted and fibrosis prevented. But, still, its effect was not as strong as corticosteroid had. Neverthanless, all mice that had been treated with corticosteroid had died because of sepsis or immunocomprimised state, that Pare wouldn’t had.Fenomena SARS (severe acute respiratory syndrome) mewakili gambaran hebatnya reaksi inflamasi, yang merupakan respon imun bermata dua. Pada satu sisi merupakan alat pertahanan tubuh, namun pada sisi yang lain dapat merugikan. Terapi simtomatis SARS salah satunya adalah pemberian metilprednisolon, yang merupakan golongan kortikosteroid. Sebagai antiinflamasi, kortikosteroid sudah digunakan setengah abad lamanya. Penggunaan kortikosteroid sebagai antiinflamasi dibatasi oleh efek samping yang ditimbulkannya, terutama penurunan status imun/ imunokompromised. Dilaporkan bahwa biji pare (M charantia) -mengandung zat a dan b momorcharin- mempunyai aktivitas antiinflamasi. In vitro momorcharin mampu menghambat proliferasi limfosit terinduksi antigen dan menurunkan fungsi fagosit dari makrofag. In vivo pada tikus mampu menghambat migrasi makrofag dan reaksi hipersensitifitas tipe lambat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek antiinflamasi antara ekstrak Pare 10% dengan hidrokortison 1% secara topikal terhadap dermatitis eksperimental pada mencit. Subyek penelitian adalah mencit berjumlah 22 ekor, dibagi random menjadi empat kelompok: K (6 ekor), C (7 ekor) dan P (7 ekor,) masing-masing mendapat injeksi subkutan S. aureus 9 x 10,0ul. Terjadi infeksi lokal dengan angka kegagalan 5%. Mencit kelompok C mendapat terapi ointment Hidrokortison 1%, kelompok P oint¬ment ekstrak biji pare 10%, kelompok K tidak mendapat terap i/kontrol positif dan kelompok S (2 ekor) kontrol negatif. Pengukuran meliputi derajat peradangan -secara klinis dan histopatologi- serta kesembuhan yang dicapai. Analitisa data bersifat kualitatif deskriptif. Didapatkan hasil ekstrak biji pare mempunyai efek antiinflamasi. Pemberiannya secara topikal mampu memperlambat reaksi peradangan, mencegah akumulasi sel radang, meminimalisasi udema, mengurangi nekrosis, waktu pemulihan lebih cepat dan menghambat terbentuknya jaringan parut. Tetapi, efek antiinflamasi ekstrak biji pare masih lebih rendah dibandingkan dengan hidrokortison. Meskipun demikian seluruh mencit kelompok C/terapi hidrokortison mati dalam kondisi imunokompromised/sepsis.
Prevalensi Trikhomoniasis pada Lekorhe dan Faktor-faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kondisi Keluarga Kesetyaningsih, Tri Wulandari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1705

Abstract

Leukhorhea is defined as the increasing of vaginal secretion. This condi¬tion occurs by both of physiological and pathological reason. Pathologi¬cally leukhorhea is particularly due to Candida albicans and Trichomonas vaginalis infection. There are many factors influence both of physiological or pathological leukhorhea. The purpose of of this research is to know prevalence of leukhorhea caused by trichomoniasis andto find the risk factors related with family condition.. The sample was carried out by vaginal swab to 93 women with leukhorhea attended Puskesmas Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Laboratory examina¬tion was done by using direct method. The result shows that prevalence of trichomoniasis is 33,3%. The relation of risk factors with trichomoniasis prevalence has satistically been analized by chi-square method. It shows that prevalence of trichomoniasis influenced with age, sexual activity, the user of vaginal cleanser, pregnancy, using cer¬tain contraception and is not influenced with education grade, family hygiene and sanitation facility and chronic disease suffered.Keputihan adalah terjadinya peningkatan pengeluaran sekret vagina. Keputihan bapat bersifat fisiologis maupun patologis. Keputihan yang patologis disebut lekorhe, kebanyakan disebabkan oleh infeksi jamur Cancida albicans dan parasit Trichomo¬nas vaginalis. Banyak faktor yang berpengaruh pada terjadinya keputihan, baik yang fisiologis maupun yang patologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi trichomoniasis pada wanita penderita lekorhe dan faktor-faktor risiko jang berkaitan dengan kondisi keluarga. Sampel diambil dari sekret vagina dari 93 wanita yang mengeluh keputihan dari pasien pengunjung Puskesmas Watcs, Kulon Progo, kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis secara langsung dengan larutan NaCl fisiologis untuk melihat adanya trofozoit Trichomonas vaginalis. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi trichomo-niasis pada lekorhe adalah 33,3 % dari sampel yang diperiksa. Hubungan faktor- faktor risiko yang diteliti dengan prevalensi trichomoniasis dianalisis dengan chi- square menunjukkan bahwa trichomoniasis dipengaruhi oleh faktor umur, aktivitas seksual, penggunaan pembersih vagina, kehamilan, penggunaan alat KB dan tidak terpengaruh oleh faktor tingkat pendidikan, fasilitas hygiene sanitasi keluarga dan penyakit kronis.
Tinjauan Risiko dan Manfaat Hormone Replacement Therapy Miladiyah, Isnatin
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Until now, pharmacological options for the management of perimenopausal and postmenopausal syndromes have been dominated by HRT (hormone re¬placement therapy), with either estrogen alone or estrogen plus progestine. In the recent year, several prospective trials of HRT in postmenopausal women had been carried out. The first two studies about the risks and benefits of HRT were carried out by the Women ’s Health Initiative (WHI) and the Heart and Estrogen/progestin Replacement Therapy (HERS). The main focus of these studies were how menopausal woman can best achieves good quality of life. Those studies find that combination therapy with estrogen and progestine is associated with higher risk of stroke, venous thromboembolism, and a slightly risk of myocardial infarction, and breast cancer in women using HRT long term. This review discuss more detail about the risks and benefits of HRT sup¬ported by evidences. In addition, this review propose several recommenda¬tions about the use of HRT regarding those risks and benefits, though pre¬scribing of any HRT can really achieve qood quality of life of menopausal woman.Sampai saat ini pilihan terapi farmakologik untuk mengatasi sindroma perimenopause dan pasca menopause masih didominasi oleh penggunaan HRT {hormone replacement therapy atau terapi sulih hormon), baik dengan estrogen saja atau kombinasi estrogen dengan progestin. Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak penelitian prospektif tentang penggunaan HRT pada wanita pasca menopause. Dua penelitian pertama yang membahas tentang risiko dan manfaat HRT ini adalah dari the Women ’s Health Initiative (WHI) dan the Heart and Estrogen/progestin Replacement Therapy (HERS). Fokus utama penelitian- penelitian ini terutama adalah agar wanita menopause dapat mencapai kualitas hidup yang baik. Hasil dari kedua penelitian tersebut adalah bahwa HRT dikaitkan dengan tingginya risiko mengalami stroke, tromboemboli vena, infark miokard, dan kanker payudara pada penggunaan HRT jangka panjang. Tulisan ini membahas tentang risiko dan manfaat HRT disertai dengan bukti-bukti penelitian yang mendukungnya. Selain itu, tulisan ini juga mengungkap beberapa rekomendasi penggunaan HRT berdasarkan pertimbangan risiko dan manfaat tersebut, sehingga keputusan pemberian HRT benar-benar akan memberikan peningkatan kualitas hidup wanita menopause.
Problematika Kegemukan Kelas Bawah: Tinjauan Antropologi Kesehatan Atik Triratnawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1699

Abstract

Body shapes especially obesity related to cultural value concern with beauty, aestethica, health and efforts to prevent of the condition. The aims of the research are: to find out the Javanese lower class concept of obesity, problems, prevention and health seeking behavior. The qualitative research was carried out by in-depth interview toward 22 (15 women, 7 men) Javanese lower class who live in DIY. Data analysis was done by Medical Anthropology theory. Among the Javanese, body reflected the condition of a person. The over¬weight measurement usually based on general formula such as high minus 100/ll0cm. But some informants used the cloth, which began tight and fat protruding in certain part of body. The awareness of lower class about value of beauty, aesthetics and health including the preventing of obesity was less, but they tried to prevent by diet- reducing carbohydrate and fat, fasting ev¬ery Monday and Thursday, and jamu (herbal medicine). Problems related to health (diseases) and socio-cultural (inconvenient for Muslim when they prayed 5 times a day, awkward when sitting on the floor) is the main problem among obese people. Obesity means gift from Good, so the prevention to reduce the weight is strongless.Bentuk tubuh khususnya kegemukan berkait erat dengan nilai budaya mengenai kecantikan/estetika, kesehatan dan upaya pencegahannya. Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui konsep orang Jawa kelas bawah mengenai bentuk tubuh, problem, pencegahan serta upaya penanggulangannya. Penelitian kualitatif dengan wawancara terhadap 22 (15 wanita, 7 pria) orang lawa dari kelas bawah yang bertempat tinggal di DIY. Analisis data dilakukan dengan pendekatan teori Antropologi Kesehatan. Tubuh bagi orang Jawa merupakan pencerminan keadaan bagi pemiliknya. Ukuran kelebihan badan bisa berdasarkan rumus umum antara tinggi badan dikurangi 100/110 cm, namun banyak pula yang mendasarkan pada ukuran baju yang mulai sempit serta tonjolan lemak di bagian tubuh yang terlihat jelas. Kesadaran akan nilai estetika, kecantikan dan kesehatan mengenai kegemukan kurang kuat, sehingga kegemukan cenderung dibiarkan saja walaupun ada dari mereka yang mencoba mengatasi dengan cara: olahraga, mengurangi konsumsi makanan lemak dan karbohidrat atau dengan jamu dan puasa Senin-Kamis. Problem utama kegemukan bagi mereka adalah menyangkut aspek kesehatan (munculnya penyakit) serta sosial budaya (kesulitan melaksanakan sholat bagi orang Islam atau kesulitan duduk di mkar). Pada kelas bawah kegemukan diterima sebagai anugerah Tuhan sehingga 2paya pencegahannya kurang maksimal.
Respon Imun pada Infeksi Malaria Titiek Hidayati; - Akrom
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1704

Abstract

Malarial infection is still one of major health problem in Indonesia. There is no effective vaccine available against endemic human malaria at present. Research and informations about Malaria immune system in Indonesia is still limited. It is caused antigenic varians in every infection stage, so that consecuence complexity, stage specific infection and short duration respon system immune in giving hospes protection. This malaria reference study is to explain new studies and information about immune response of infection malaria.Malaria masih merupakan masalah utama penyakit infeksi di Indonesia. Vaksin malaria ideal yang diharapkan akan mampu memberikan perlindungan terhadap penduduk yang tinggal di daerah endemik malaria dari infeksi malaria juga belum ditemukan. Hal itu dikarenakan timbulnya variasi antigenik pada setiap tahapan infeksi malaria yang berakibat pada kompleksitas, spesifisitas tahapan infeksi (stage spesific) dan pendeknya durasi tanggapan sistem imun dalam memberikan perlindungan kepada hospes. Hasil kajian dan bahan informasi sebagai sumber pustaka tentang imunologi malaria di Indonesia masih sangat terbatas. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan hasil-hasil penelitian serta informasi terbaru mengenai respon imun terhadap infeksi malaria dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue