cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2012)" : 13 Documents clear
Anomali Desentralisasi Etnisitas Memancing Disintegrasi? W. Pranoto, Suhartono
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan desentralisasi yang meluas memunculkan akibat-akibat yang tidak diharapkan. Munculnya gejala etnosentrisme yang menimbulkan sparatisme mengawali keraguan pusat pemerintahan untuk mengurangi kebebasan kewenangan desentralisasi seperti kerusuhan, korupsi, oligarki, politik dinasti, yang semua itu sebenarnya sudah berlangsung di pusat pemerintahan, tetapi kemudian diimitasi dan menyebar ke daerah. Kejadian ini semua membuat keraguan desentralisasi yang mereduksi secara involutif dari nasionalisme kembali ke etnosentrisme. Menguatnya etnisitas dapat memancing disintegrasi.Selama ada komitmen kuat dari daerah-daerah lewat local wisdom yang sudah ditransformasikan ke dalam nasiosentrisme, maka regionalism dapat ditanggulangi dan nasionalisme tetap terjaga. Dengan demikian etno-character menjadi penyangga nation-character yang melanggengkan unity in diversity. Revitalisasi karakter bangsa mutlak harus dilakukan. Pancasila harus diajarkan kembali karena sila-sila di dalamnya mengajarkan kepada manusia baru Indonesia untuk rukun dan gotong royong dalam kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika tetap membingkai kebersamaan.Kata Kunci: Anomali, Desentralisasi, Etnisititas, Disintegrasi.
Undang-undang Benda Cagar Budaya Di Era Otonomi Daerah Soebijantoro, Soebijantoro
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara didunia yang memiliki aset warisan budaya [heritage] yang melimpah. Aset tersebut secara teroritis merupakan sumber dan simbol identitas budaya kemudian nilai politik, ideologi, pendidikan, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Diperlukan sebuah intrumen yang dapat mengawal cita-cita tersebut, salah satu diantaranya adalah undang-undang Benda Cagar Budaya. Namun dalm implementasinya terdapat tangtangan yang harus dibenahi dan diperlukan sebuah desain pengelolaan situs dalam satu kesatuan integraf yaitu aspek hukum yang menyangkut kawasan kemudian aspek pengelolaan yang mencakup pelestarian dan pemanfaatan serta aspek penyelesaian konflikantar pemangku kebijakan Kata Kunci : Undang-undang Benda Cagar Budaya, Otonomi daerah
Cagar Budaya Masjid Kuncen Sebagai Ikon Wisata Sejarah dan Religi Kota Madiun Triatmoko, Afian; Wibowo, Anjar Mukti
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah berdirinya dan pelestarian cagar budaya Masjid Kuno Nur Hidayatullah Kelurahan Kuncen Kecamatan Taman Kota Madiun. Melestarikan cagar budaya merupakan bukti kecintaan terhadap nilai-nilai sejarah dan menjadikan cagar budaya tersebut sebagai tempat wisata sejarah bernuansa religi.Sejarah berdirinya Masjid Kuno Nur Hidayatullah diawali ketika pusat Kabupaten Madiun/Purbaya pindah dari Sogaten ke areal hutan Wonorejo yang sekarang menjadi Kuncen. Bupati saat itu Pangeran Timur atau Penembahan Ronggo Jumeno. Didirikannya Masjid Kuno Nur Hidayatullah digunakan sebagai pengembangan agama Islam di Madiun. Masjid Kuno Nur Hidayatullah potensial sebagai ikon wisata sejarah dan religius. Selain terdapat masjid juga terdapat makam Bupati dan sendang, serta dua prasasti.Kata Kunci: Masjid Kuno, Wisata Sejarah dan Religi
KEMEJA (Kemah Kerja Sejarah) Sebagai Modal Pembelajaran Sejarah yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan Hanif, Muhammad
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran sejarah masih dilingkupi oleh berbagai stereotip negatif seperti membosankan, bertele-tele, dan tidak relevan dengan konteks sosial peserta didik. Relevansi penyajian materi sejarah dengan situasi sosial peserta didik sering dipertanyakan. Kondisi itu mengisyaratkan semakin pentingnya pembelajaran sejarah yang kontekstual sehingga terbangun suasana pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemah kerja sejarah sebagai model pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Penelitian dilakukan di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder berupa keterangan atau fakta dari informan, dan peristiwa atau aktivitas serta dokumen dan arsip tentang yang relevan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi langsung. Sampel informan dipilih secara selektif dan mengalir. Validasi data melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dengan analisis interaktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan model Kemeja terdiri dari empat komponen kegiatan utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan pelaporan. Tahap persiapan meliputi persiapan di kampus dan di lapangan, baik teknis maupun non teknis. Tahap pelaksanaan terdiri dari tiga kegiatan, yaitu klarifikasi dan eksplorasi objek, social mapping, debat mahasiswa, dan pertunjukkan seni. Model Kemeja potensial untuk menjadi alternatif pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.Kata Kunci: kemah kerja, model pembelajaran sejarah
Perkembangan Industri Batik "Pring Sedapur" di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Tahun 1970-2010 Setiawati, Debi; Maulidina, Ika Zahra
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan industri batik "Pring Sedapur" di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan tahun 1970-2010. Penelitian dilakukan selama lima bulan, pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2011 berlokasi di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan. Sumber data berupa sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi serta mencatat arsip dan dokumen. Analisis data dengan analisis interaktif yang berpegang pada tiga komponen, yaitu: reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa batik "Pring Sedapur" merupakan batik khas Magetan yang asal-usulnya dilatar belakangi oleh keadaan sekitar Desa Sidomukti yang dikelilingi tumbuhan bambu. Sejak awaldiperkenalkannya pada tahun 1970 seni batik khas Magetan ini mengalami perkembangan yang terus meningkat. Jumlah tenaga kerja yang semula 20 pengrajin kini menjadi 40 pengrajin, cara pembuatan batik tidak terpaku pada batik tulis saja tapi sudah mengenal batik cap dan batik printing. Sedangkan untuk pemasaran sudah lebih baik namun masih kalah dengan batik dari daerah lain yang lebih dikenal masyarakat luas seperti batik Solo, Yogyakarta dan Pekalongan. Keberadaan batik "Pring Sedapur" mulai diakui masyarakat Magetan sebagai ikon Kota Magetan. Upaya pelestarian juga sudah dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Magetan.Kata Kunci: Batik, Industri
Analisis Muatan Kurikulum Pendidikan Karakter dalam KTSP Ditinjau dari Pembangunan Karakter Bangsa Hartono, Yudi
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup berat. Salah satunya adalah persoalan karakter bangsa. Pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa merupakan salah satu upaya strategis di tengah krisis identitas dan peradaban bangsa. Penelitian ini mengkaji muatan pendidikan karakter dalam KTSP dan relevansinya dengan upaya pembangunan karakter bangsa.Penelitian dilakukan dengan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder, yaitu dokumen KTSP dan bahan-bahan pustaka berkualifikasi tinggi terkait dengan kurikulum, pendidikan karakter, dan pembangunan bangsa serta bahan-bahan pustaka yang memberikan tambahan penjelasan atas sumber primer. Bahan-bahan yang terkumpul diolah, diidentifikasi, diklasifikasi, dianalisis, dan dideskripsikan berdasarkan rumusan masalah yang pada akhirnya dijadikan bahan pengambilan kesimpulan dan saran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTSP 2006 mengandung 95 nilai karakter. Nilai-nilai tersebut telah mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang cukup seimbang sehingga tinggal bagaimana implementasi kurikulum tersebut di lapangan agar dapat mendukung pembangunan karakter bangsa yang diharapkan.Kata Kunci: KTSP, Pendidikan Karakter, Pembangunan Karakter Bangsa.
Ritual Larung Sesaji Telaga Ngebel Ponorogo (Studi Historis dan Budaya) Nurcahyo, Abraham; Mitanto, Maulana
Jurnal Agasthia Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Agasthia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual larung sesaji merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya bangsa. Larungan sesaji adalah sebuah tindakan religi dengan paham animisme dan dinamisme dimana mitos dan magi tetap lekat dalam pribadi Jawa di Desa Ngebel. Tradisi Larung sesaji di Telaga Ngebel selalu digelar rutin setiap malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa dan tradisi tersebut masih eksis hingga saat ini. Di dalam kegiatan ritual terdiri dari beberapa rangkaian acara yang setiap tindakan memiliki makna simbolik. Tindakan-tindakan simbolis dalam setiap prosesi memiliki arti atau tujuan walaupun dengan berbagai macam cara yang berbeda, namun pada akhirnya tetap bermuara pada permohonan kepada Sang Pencipta. Sejarah larung sesaji berpangkal dari mitos sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa yang masih sulit dipisahkan dalam pola pemikiran hingga saat ini. Eksistensi ritual larung sesaji dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu: aspek pendidikan, aspek religi, aspek mata pencaharian, aspek budaya, serta aspek ekonomi.Kata Kunci: Ritual Larung Sesaji, Telaga Ngebel
KEMEJA (KEMAH KERJA SEJARAH) SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN SEJARAH YANG AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.966 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1457

Abstract

Pembelajaran sejarah masih dilingkupi oleh berbagai stereotip negatif seperti membosankan, bertele-tele dan tidak relevan dengan konteks sosial peserta didik. Relevansi penyajian materi sejarah dengan situasi sosial peserta didik sering dipertanyakan. Kondisi itu mengisyaratkan semakin pentingnya pembelajaran sejarah yang kontekstual sehingga terbangun suasana pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemah kerja sejarah sebagai model pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Penelitian dilakukan di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder berupa keterangan atau fakta dari informan, dan peristiwa atau aktivitas serta dokumen dan arsip tentang yang relevan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi langsung. Sampel informan dipilih secara selektif dan mengalir. Validasi data melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dengan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan model Kemeja terdiri dari empat komponen kegiatan utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan pelaporan. Tahap persiapan meliputi persiapan di kampus dan di lapangan, baik teknis maupun non teknis. Tahap pelaksanaan terdiri dari tiga kegiatan, yaitu klarifikasi dan eksplorasi objek, social mapping, debat mahasiswa, dan pertunjukkan seni. Model Kemeja potensial untuk menjadi alternatif pembelajaran sejarah yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
ANALISIS MUATAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KTSP DITINJAU DARI PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.408 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1458

Abstract

Bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup berat. Salah satunya adalah persoalan karakter bangsa. Pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa merupakan salah satu upaya strategis di tengah krisis identitas dan peradaban bangsa. Penelitian ini mengkaji muatan pendidikan karakter dalam KTSP dan relevansinya dengan upaya pembangunan karakter bangsa. Penelitian dilakukan dengan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder, yaitu dokumen KTSP dan bahan-bahan pustaka berkualifikasi tinggi terkait dengan kurikulum, pendidikan karakter, dan pembangunan bangsa serta bahan-bahan pustaka yang memberikan tambahan penjelasan atas sumber primer. Bahan-bahan yang terkumpul diolah, diidentifikasi, diklasifikasi, dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan rumusan masalah yang pada akhirnya dijadikan bahan pengambilan kesimpulan dan saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTSP 2006 mengandung 95 nilai karakter. Nilai-nilai tersebut telah mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang cukup seimbang sehingga tinggal bagaimana implementasi kurikulum tersebut di lapangan agar dapat mendukung pembangunan karakter bangsa yang diharapkan.
RITUAL LARUNG SESAJI TELAGA NGEBEL PONOROGO (STUDI HISTORIS DAN BUDAYA) Maulana Mitanto; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.292 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1459

Abstract

Ritual larung sesaji merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya bangsa. Larungan sesaji adalah sebuah tindakan religi dengan paham animisme dan dinamisme dimana mitos dan magi tetap lekat dalam pribadi Jawa di Desa Ngebel. Tradisi larung sesaji di Telaga Ngebel selalu digelar rutin setiap malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa dan tradisi tersebut masih eksis hingga saat ini. Di dalam kegiatan ritual terdiri dari beberapa rangkaian acara yang setiap tindakan memiliki makna simbolik. Tindakan-tindakan simbolis dalam setiap prosesi memiliki arti atau tujuan walaupun dengan berbagai macam cara yang berbeda, namun pada akhirnya tetap bermuara pada permohonan kepada Sang Pencipta. Sejarah larung sesaji berpangkal dari mitos sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa yang masih sulit dipisahkan dalam pola pemikiran hingga saat ini. Eksistensi ritual larung sesaji dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu : aspek pendidikan, aspek religi, aspek mata pencaharian, aspek budaya, aspek ekonomi.

Page 1 of 2 | Total Record : 13