Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pendidikan Nasional dan Kualitas Manusia Indonesia Dalam Perspektif Sejarah Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.471 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i2.1491

Abstract

Pendidikan yang tepat dan bermutu dapat disiapkan oleh manusia dan masyarakat  yang memiliki kemampuan dan keunggulan di masa depan. Untuk mengoptimalkan kontribusi pendidikan, maka semua pihak berkontribusi penting, termasuk pengelola pendidikan itu sendiri, pihak swasta, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Kontribusi pendidikan terhadap kualitas manusia Indonesia sejak kemerdekaan hingga reformasi menarik untuk dikaji. Orde lama merupakan satu fase yang berusaha membangun masyarakat sipil yang kuat. Orde lama menghapuskan sistem pendidikan elitism pada masa kolonial dan memberlakukan politik persatuan nasional. Pendidikan menjadi wahana penmbangunan karakter bangsa. Orde Baru mengedepankan moto “membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia” dan berbagai kebijakan turunannya memberi kontribusi bagi kualitas manusia bagi dunia industri khususnya untuk mendukung pembangunan ekonomi, namun terdapat empat masalah pokok dalam pendidikan di Indonesia: pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Era  reformasi  memberikan  ruang  yang  cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Namun demikian, sistem pendidikan nasional Indonesia terlihat masih bersifat tambal sulam, mulai dari kebijakan kurikulum, manajemen, sistem pembelajaran, tuntutan kualitas guru, tuntutan fasilitas dan dana pendidikan, kurang memiliki prioritas yang ingin dicapai.
ANALISIS MUATAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KTSP DITINJAU DARI PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.408 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1458

Abstract

Bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup berat. Salah satunya adalah persoalan karakter bangsa. Pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa merupakan salah satu upaya strategis di tengah krisis identitas dan peradaban bangsa. Penelitian ini mengkaji muatan pendidikan karakter dalam KTSP dan relevansinya dengan upaya pembangunan karakter bangsa. Penelitian dilakukan dengan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder, yaitu dokumen KTSP dan bahan-bahan pustaka berkualifikasi tinggi terkait dengan kurikulum, pendidikan karakter, dan pembangunan bangsa serta bahan-bahan pustaka yang memberikan tambahan penjelasan atas sumber primer. Bahan-bahan yang terkumpul diolah, diidentifikasi, diklasifikasi, dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan rumusan masalah yang pada akhirnya dijadikan bahan pengambilan kesimpulan dan saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTSP 2006 mengandung 95 nilai karakter. Nilai-nilai tersebut telah mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang cukup seimbang sehingga tinggal bagaimana implementasi kurikulum tersebut di lapangan agar dapat mendukung pembangunan karakter bangsa yang diharapkan.
Sejarah Dan Peranan Tari Kang Potro Dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal (Studi Kasus Di Desa Banyudono Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo Tahun 2006-2012) Zulfa Khoirun Nisa`; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.547 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.822

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perkembangan, peranan Tari Kang Potro dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal di Desa Banyudono Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo, serta upaya masyarakat dalam melestarikan  Tari Kang Potro sebagai produk budaya yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya. Jenis penelitian studi kasus, Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif tiga komponen Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nama Tari Kang Potro secara historis berasal dari nama tokoh Potro Joyo-Potro Tholo, dua abdi pengikut Pangeran Bujangganom. Berangkat dari cerita inilah Tari Kang Potro diciptakan, dan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Tarian ini tidak hanya berperan sebagai tontonan, namun juga menjadi sarana penyebaran informasi efektif untuk mendidik masyarakat melalui nilai-nilai budaya lokal yang terkandung di dalamnya. Upaya pelestarian Tari Kang Potro terus dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah, dengan cara mendirikan Sanggar Tari, mengikutkan tarian ini dalam event-even tertentu, dan mendokumentasikan dalam bentuk CD.
Persepsi Dan Sikap Masyarakat Terhadap Penanggalan Jawa Dalam Penentuan Waktu Pernikahan (Studi Kasus Desa Jonggrang Kecamatan Barat Kabupaten Magetan Tahun 2013) Rohmaul Listyana; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.963 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.898

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan sikap masyarakat terhadap peanggalan Jawa dalam penentuan waktu pernikahan tahun 2013. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui bagaimana sebuah tradisi bisa bertahan sampai saat ini. persepsi dan sikap masyarakat Desa Jonggrang terhadap penanggalan Jawa dalam penentuan waktu pernikahan memeliki perbedaan. Masyarakat yang masih menggunakan tradisi penentuan waktu pernikahan adalah masyarkat Jawa yang masih memegang nilai budaya. Tradisi yang menjadi warisan turun temurun dari sesepuh menjadi sebuah pitutur yang harus dilestariakn oleh masyarakat. Dari sebuah pitutur tersebut terkandung sebuah makna untuk menjalani kehidupan terutama dalm sebuah pernikahn yang membutuhkan waktu yang baik. Persepsi masyarakat akan muncul ketika melihat sebuah fenomena yang ada di lingkunagn dan persepsi akan mempengaruhi sebuah sikap masyarakat. Jika persepsi dari masyarakat positif maka sikap masyarakat akan menerima dan jika persepsi masyarakat negatif maka sikap yang ditunjjukan adalah menolak.
Pendidikan Dan Kebijakan Politik (Kajian Reformasi Pendidikan Di Indonesia Masa Orde Lama Hingga Reformasi) Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.717 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.879

Abstract

Pendidikan dan politik memiliki hubungan yang dinamis. Pendidikan dan politik berhubungan erat dan saling memengaruhi. Berbagai aspek pendidikan senantiasa mengandung unsur-unsur politik, begitu juga sebaliknya, setiap aktivitas politik ada kaitannya dengan aspek-aspek kependidikan. Pada masa awal kemerdekaan, kebijakan pendidikan pada masa Orde Lama ditujukan pada pendidikan sosialisme Indonesia. Kebijakan pendidikan pada masa Orde Baru diarahkan pada penyeragaman di dalam berpikir dan bertindak. Pendidikan di era reformasi 1999 mengubah wajah sistem pendidikan Indonesia melalui UU No 22 tahun 1999, dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Untuk dapat memahami berbagai persoalan pendidikan yang ada di tengah masyarakat tidak hanya diperlukan dasar pengalaman dan pengetahuan pendidikan, tetapi juga diperlukan pengetahuan tentang aspek-aspek dan konteks politik dari persoalan-persoalan kependidikan tersebut.
PEMBELAJARAN YANG MULTIKULTURAL UNTUK MEMBANGUN KARAKTER BANGSA Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.826 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i1.125

Abstract

Masyarakat Indonesia yang majemuk memerlukan pendidikan yang multikultural. Pendekatan multikultural harus diperhatikan oleh para pengembang kurikulum dan pembelajaran. Pembelajaran sejarah yang multikultural juga menjadi semakin penting di tengah tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Kurikulum dan praksis pembelajaran sejarah yang multikultural adalah kurikulum dan pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan latar belakang sejarah, memanfaatkan kebudayaan sebagai sumber muatan dan titik berangkat bagi pengembangan kebudayaan itu sendiri, pemahaman terhadap kebudayaan orang lain, toleransi, membangkitkan semangat kebangsaan dan mengembangkan perilaku yang lebih beretika serta memanfaatkan kebudayaan peserta didik sebagai bagian dari pembangunan peserta didik. Dengan cara demikian, pembelajaran sejarah diharapkan akan semakin dapat berperan bagi pembangunan karakter bangsa. 
Riset Di Bawah Kemenristek-Dikti (Prospek Dan Tantangan) Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.483 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.894

Abstract

Dipisahkannya Kemendikbud mengandung prospek dan tantangan. Di bawah payung Kemenristek-Dikti, perguruan tinggi lebih memiliki peluang untuk menghasilkan inovasi melalui riset lebih serius yang dapat menjadi terobosan inovatif dalam iptek. PT perlu mengembangkan diri dari ”PT pengajaran (teaching university)” menjadi PT berbasis riset (research-based university). Sementara itu, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah juga bisa lebih fokus untuk menyiapkan peserta didik ke jenjang yang lebih tinggi tanpa dibebani lagi dengan urusan pendidikan tinggi.  Tantangannya adalah sinergi dengan lembaga-lembaga riset seperti LIPI, Lapan, BPPT. Kemauan politik dari pemerintah untuk menggunakan hasil riset yang dihasilkan lembaga-lembaga penelitian juga perlu didorong. Tantangan lain adalah rendahnya alokasi dana riset, kurangnya kebebasan menjalankan otonomi kampus dan mimbar akademik, serta posisi pendidikan tinggi keagamaan. Tidak kalah penting adalah tantangan bagi LPTK dalam menjalin sinergi dengan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam program-program praktek pendidikan.
Museum Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) Di Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi (Latar Belakang Sejarah, Nilai, Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar) Ainur Rosikin; Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.584 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang sejarah Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) dan nilai-nilai sejarah yang bisa diwariskan kepada masyarakat sebagai sumber belajar sejarah. Lokasi penelitian ini di Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem) dan sekitarnya Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan induktif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber. Analisis data menggunakan analisis model interaktif miles dan huberman.Hasil penelitian diperoleh yaitu Benteng Van Den Bosch merupakan salah satu jejak peninggalan Kolonialisme Belanda di Kabupaten Ngawi. Benteng Van Den Bosch dibangun pada tahun 1839-1845 dibawah pimpinan Gubernur Jendral Van Den Bosch pada waktu menjajah daerah Ngawi. Benteng Van Den Bosch sering disebut Benteng Pendem. Hal ini dikarenakan bangunan Benteng Van Den Bosch dikelilingi gundukan tanah yang tingginya hampir menutupi bangunan. Benteng Van Den Bosch dibangun dengan tujuan untuk menguasai jalur transportasi air Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, serta untuk menghambat serangan lanjutan dari perang Diponegoro. Setelah Indonesia merdeka Benteng Van Den Bosch ditempati dan dikelola oleh satuan Yon Armed Kostrad 12 Ngawi sampai saat ini. Benteng Van Den Bosch mulai tahun 2011 dijadikan sebagai tempat wisata edukasi di Kabupaten Ngawi.Keberadaan Benteng Van Den Bosch mempunyai nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi muda. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Benteng Van Den Bosch seperti nasionalisme, patriotisme, cinta tanah kelahiran, semangat jiwa berjuang, dan pantang menyerah. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan ke dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sehingga memiliki potensi menjadi sumber belajar sejarah. Penerapannya dengan mengajak peserta didik berkunjung dan melakukan kegiatan observasi di Benteng Van Den Bosch tentang peninggalan-peninggalan bangsa Belanda di Indonesia.
Zonasi kawasan wisata sejarah Monumen Kresek berbasis CBT (community-based tourism) Yudi Hartono; Andri Saputra
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/ajsp.v12i1.11887

Abstract

Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun telah mengembangkan kawasan wisata sejarah Monumen Kresek melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis) “MEKAR”. Kendala yang dihadapi adalah belum adanya kesepakatan tentang zonasi yang berdampak pada kurang tertata dan kurang jelasnya arah pengembangan wisata serta memunculkan masalah lain seperti pedagang dari luar daerah yang secara liar menempati tempat-tempat tertentu untuk membuka lapak dagangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan masalah dalam penataan zona wisata sejarah Monumen Kresek dan memetakan zona wisata sejarah Monumen Kresek berbasis CBT (Community-Based Tourism). Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, FGD, dan studi dokumentasi. Penelitian terdiri dari 2 tahapan: 1) Menganalisis potensi dan masalah penataan zona kawasan wisata Monumen Kresek; dan 2) Memetakan zona wisata Monumen Kresek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan zonasi kawasan wisata sejarah Monumen Kresek, yaitu zona inti, zona penyangga, zona pengembangan, dan zona penunjang. Zonasi kawasan wisata terdiri dari: pertama, area apa yang harus dipertahankan keasliannya; kedua area transisi yang berfungsi edukasi, dan ketiga zona komersial. Ketiga zona tersebut tidak boleh saling tumpang tindih.
Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun Berbasis Kemandirian Belajar Mahasiswa Yudi Hartono; Esthi Puspitasari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.011 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1465

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun. Bahan ajar selama ini masih berupa diktat dan sumber-sumber lain yang bukan diarahkan untuk tujuan pembelajaran. Diktat Mata Kuliah Sejarah Madiun perlu dikembangkan menjadi buku ajar sehingga mendukung kemandirian belajar mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian dan pengembangan atau sering disebut dengan research and development (R & D). Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Model pengembangan dalam penelitian ini adalah model prosedural. Prosedur atau langkah-langkah penelitian dan pengembangan merujuk pada siklus R & D dari Borg dan Gall. Indikator capaian dari penelitian ini adalah dihasilkannya naskah buku ajar Sejarah Madiun yang siap terbit. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada perkembangan historiografi Madiun dan pembelajarannya terutama di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Berdasarkan pengumpulan informasi dan identifikasi masalah terkait dengan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun di Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN. Data dikumpulkan dari dosen pengampu mata kuliah Sejarah Madiun. Beberapa masalah yang teridentifikasi adalah minimnya sumber, masalah pembabakan yang kurang komperehensif, dan kurangnya data kekinian. Masalah-masalah tersebut selanjutnya menjadi acuan untuk mengembangkan bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka dibuat draf awal bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun yang disusun berdasarkan temuan masalah-masalah di lapangan. Setelah melalui uji ahli, uji skala kecil dan skala besar, maka dihasilkan produk akhir bahan ajar Mata Kuliah Sejarah Madiun yang siap dipublikasikan dan diimplementasikan dalam pembelajaran.