cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 01 (2017)" : 8 Documents clear
UPACARA ADAT MANTU KUCING DI DESA PURWOREJO KABUPATEN PACITAN (MAKNA SIMBOLIS DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH) Trisna Sri Wardani; Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.459 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1061

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan makna simbolis dan potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah, lokasi penelitian ini berada di Desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi /arsip. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Dari penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa upacara adat mantu kucing di Desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan telah ada sejak tahun 1954. Tradisi tersebut masih tetap dijalankan ketika Desa Purworejo mengalami kemarau panjang. Keberadaan upacara adat mantu kucing tersebut memiliki makna simbolis ditinjau dari prosesi dan perlengkapan yang digunakannya, diantarannya bentuk mediasi atau cara menyampaikan doa meminta hujan, ungkapan rasa syukur atas nikmat Tuhan YME, pelestarian kebudayaan nenek moyang. Upacara adat mantu kucing memiliki sumber pembelajaran sejarah ditinjau dari pengetahuan yang diambil dari kegiatan tersebut disesuaikan materi pembelajaran sejarah SMP kelas VII semester genap yaitu Standar Kompetensi 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai sekarang, Sebab di dalamnya memiliki wawasan tentang sejarah wilayah dan terdapat peristiwa yang dialami suatu kelompok masyarakat pada daerah tertentu di masa lampau.
STRATEGI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS LAGU-LAGU PERJUANGAN DALAM KONTEKS KESADARAN NASIONALISME Brigida Intan Printina
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1327.912 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1073

Abstract

Di masa-masa kebangkitan nasional lagu-lagu perjuangan menjadi sarana vital dalam membangkitkan kesadaran nasional para pemuda bangsa. Namun, mayoritas pemuda saat ini tidak mampu menunjukkan semangat nasionalismenya karena kurang mengerti akan makna lagu-lagu perjuangan. Maraknya lagu asing semakin menggerus nilai nasionalisme. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan strategi pembelajaran sejarah agar setiap pemuda dapat membangun diri dan mampu membentuk kesadaran nasionalisme dengan menyanyikan dan menghayati lagu-lagu perjuangan di setiap kesempatan.
PRASASTI ANJUK LADANG DI NGANJUK JAWA TIMUR (SEJARAH DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH) Windi Ika Diahing Sari; Anjar Mukti Wibowo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.3 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1062

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah dan isi prasasti Anjuk Ladang serta potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah. Lokasi  penelitian ini berada di Museum Anjuk Ladang Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan tringgulasi sumber. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa prasasti Anjuk Ladang dibuat pada tahun 937 masehi atau 859 saka atas perintah dari Mpu Sindok. Tujuan dibuat prasasti sebagai tetenger tentang adanya bangunan suci sebagai tugu kemenangan atau Jayastamba yang berupa Candi, bernama Candi Lor. Mpu Sindok memerintahkan pembuatan Jayastamba dan prasasti tersebut sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada masyarakat Anjuk Ladang yang telah membantu selama peperangan melawan tentara melayu dari kerajaan Sriwijaya, sehingga berhasil memenangkan perang. Isi dari prasasti Anjuk Ladang adalah ditetapkannya daerah Anjuk Ladang sebagai sima swatantra, artinya daerah Anjuk Ladang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Sebagai gantinya hasil bumi yang awalnya untuk membayar pajak digunakan untuk merawat bangunan suci yang berupa Candi Lor. Berdasarkan Kurikulum KTSP, Prasasti Anjuk Ladang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran sejarah pada satuan pendidikan SMP kelas VII semester 2 sebagai pengayaan materi dalam standar kompetensi 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu-Budha sampai sekarang, tepatnya kompetensi dasar 5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Hindu-Budha, serta peninggalan-peninggalannya.
PERAN PEREMPUAN DAYAK KANAYATN DALAM TRADISI UPACARA NAIK DANGO (STUDI DI DESA PADANG PIO KECAMATAN BANYUKE HULU KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT) Priani Wina; Novi Triana Habsari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.93 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1063

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perempuan Dayak Kanayatn  dalam tradisi upacara Naik Dango di Desa Padang Pio Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak Kalimantan Barat, baik itu pada waktu persiapan maupun pelaksanaan upacara Naik Dango. Lokasi penelitian ini adalah di Desa Padang Pio Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu sebuah penelitian yang datanya tidak berbentuk angka dan biasanya menekankan untuk memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia. Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis studi kasus. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan snowball sampling (bola salju) yaitu dari masyarakat biasa 3 koresponden, perangkat Desa 4 koresponden (pengurus adat, pengacara adat, imam adat, dan kepala adat/kepala desa), dan Dinas Pariwisata Kabupaten Landak 1 koresponden. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode reduksi data, penyajian data (display data) dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Validasi yang digunakan yaitu menggunakan trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peran perempuan Dayak Kanayatn dalam Tradisi upacara Naik Dango tersebut, pelaku utama dalam persiapan maupun pelaksanaannya adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya selaku pelaku kedua. Dalam mempersiapkan bahan-bahan Nyangahatn (roba atau plantar) untuk ritual upacara Naik Dango, sedangkan pada saat pelaksanannya perempuan sebagai penari baik itu seni tarian Nimang Padi, Ngantar Panompo dan seni tarian Jonggan. Tradisi Upacara Naik Dango merupakan upacara adat Dayak Kanayatn. Peran perempuan dalam upacara tersebut karena sesuai adat yang mewajibkannya. Dalam upacara adat tersebut perempuan memiliki peran fungsional baik persiapan maupun pelaksanaannya. Jika Tradisi Naik Dango tidak dapat terlaksanakan maka akan terjadi bencana.
MODEL PEMBELAJARAN NILAI-NILAI KARAKTER BANGSA DI INDONESIA DARI MASA KE MASA Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.801 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1059

Abstract

Pembangunan karakter bangsa telah menjadi agenda penting sejak awal kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dari masa ke masa berpengaruh terhadap model pembelajaran nilai-nialai karakter bangsa di sekolah. Pada masa Orde Lama terutama era demokrasi terpimpin, cenderung menggunakan model indoktrinatif dengan materi Tubapi (tujuh bahan pokok indoktrinasi), yaitu  Pancasila dan Manipol USDEK (UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kebudayaan Indonesia). Pada masa Orde Baru juga cenderung indoktrinatif melaui Penataran P4, Mata Pelajaran PMP dan PSPB. Pada era reformasi pembelajaran nilai-nilai karakter bangsa di sekolah diintegrasikan ke dalam setiap masa pelajaran, kegiatan pengembangan diri, dan budaya sekolah. Pendidikan karakter semestinya dilaksanakan dalam rangka membentuk dan memperkuat karakter bangsa, sehingga perlu dipersiapkan dengan matang dan dilaksanakan secara bertahap agar tidak menjadi sekadar pengetahuan atau indoktrinasi. Pendidikan karakter yang dikembangkan sudah seharusnya berakar dari budaya bangsa Indonesia yang menyepakati Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak-anak lewat pendidikan formal meliputi nilai-nilai yang khas Indonesia dan nilai-nilai universal.
FUNGSI PERMAINAN REMAJA NINI DHIWUT DUSUN GEBANG SANANWETAN BLITAR (KAJIAN MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI-NILAI EDUKASI) Hendra Hermawan; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.966 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1064

Abstract

Penelitian ini membahas Permainan Nini Dhiwut yang diperuntukkan para remaja berupa warisan lisan masyarakat Dusun Gebang. Penelitian ini ditujukan guna menganalisis Fungsi ,makna simbolik serta  nilai-nilai edukasi di dalamnya. Jenis penelitian  adalah penelitian deskriptif khususnya kajian teks dan etnohistoris terutama penggunaan dimensi waktu  (sejarah) sebagai komparasi. Sumber data menggunakan sumber data primer berupa wawancara dan obervasi. Data sekunder berupa kajian teks yang relevan dan kearsipan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan fungsi wujud (manifest) Permainan Nini Dhiwut telah bergeser menjadi pertunjukkan yang bersifat hiburan, adapun fungsi tersembunyi (laten) terdiri dari fungsi emosi keagamaan, ritual  inisiasi para remaja, teater rakyat berbentuk drama liturgi dan drama simbolis serta fungsi gotong royong dan fungsi pendidikan. Makna Simbolik pertama  dari permainan  Remaja Nini Dhiwut menyajikan unsur hiburan yang dibalut, ritual Animistik, shaman, pengaruh Hindu, Islam serta tradisi lokal. Makna simbolik kedua  dari permainan mengajarkan Nilai kedudukan perempuan terdiri dari perjodohan, kesuburan, kepasrahan, pengorbanan, dan kesetiaan. Pada aspek perlengkapan yang dihadirkan yaitu terdiri atas nilai   kesuburan, tanggung jawab, keteguhan dan peran domestik perempuan Jawa. Sedangkan makna simbolik pada tembang berupa ajaran lisan yang mempunyai  makna religi  terdiri atas sifat mawas diri, unsur ruwat, makna kedua yaitu inisiasi (pengukuhan), makna ketiga berupa  tanggung jawab makna keempat bersifat romantika (perjodohan). Nilai–nilai edukasi yang dapat dimaknai dan dikorelasikan dengan pendidikan karakter antara lain nilai religius, kejujuran, dan tanggung jawab.
TARI KECETAN DALAM TRADISI KEDUK BEJI DESA TAWUN KECAMATAN KASREMAN KABUPATEN NGAWI (MAKNA SIMBOLIS DAN SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL) Retnaning Tyas Ayu Novitasari; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.949 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1060

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolis tari kecetan dan sumber pembelajaran sejarah lokal di Desa Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu di Desa Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi yakni Makna simbolis gerakan tari kecetan dan bisa dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Tari kecetan memiliki keunikan dengan menampilkan gerakan tari yang berada di dalam air Sendang Beji. Tari kecetan itu berasal dari kata “Kecet” yang berarti tumit, tumit itulah yang dijadikan sasaran untuk dipukul menggunakan bambu yang dilakukan oleh para pemuda pria. Gerakan tari dimulai dari gerakan rasa syukur terhadap Tuhan YME, kemudian memulai mengerjakan pekerjaan menguras sendang, memukul tumit ke orang lain yang dilakukan oleh pemuda pria serta menggambarkan warga sedang bergotong royong membersihkan Keduk Beji. Tari kecetan dalam tradisi keduk beji dilakukan turun temurun dan dilestarikan masyarakat Desa Tawun sejak jaman dahulu sehingga menjadi aset budaya Kabupaten Ngawi. Tari kecetan tersebut terdapat dalam pembelajaran sejarah lokal pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas 4 SD pada kompetensi dasar 1.4. yaitu menghargai keragaman suku bangsa dan budaya setempat (Kabupaten/Kota, Propinsi) serta sudah digunakan dalam ekstrakurikuler dan setiap tahun tari ini dipertunjukkan dalam menyambut hari kemerdekaan. Dampak positif bagi generasi penerus adalah pentingnya mempelajari sejarah dan budaya lokal khususnya di Kabupaten Ngawi. Harapannya adalah mampu melestarikan dan menjaga budaya lokal yang dimiliki daerah tersebut.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEREKONSTRUKSI PERISTIWA-PERISTIWA SEJARAH PADA SISWA KELAS VII DENGAN TEKNIK PETA KONSEP Sundari sundari
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 01 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.126 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i01.1072

Abstract

Dalam upaya memudahkan peserta didik belajar dan berlatih melakukan proses pembelajaran IPS khususnya pada mata pelajaran Sejarah yang nota bene pelajaran yang hanya dianggap pelajaran yang banyak  menghafalkan saja, maka terdapat metode pembelajaran yang menarik dan dapat memicu siswa dalam meningkatkan kemampuan memahami peristiwa-peristiwa sejarah secara kronologis yaitu dengan penggunaan metode peta konsep. PenelitianTindakan Kelas  ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan merekonstruksi peristiwa-peristiwa sejarah melalui penggunaan teknik  peta konsep pada mata pelajaran IPS khususnya pada mata pelajaran Sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian 32 siswa Kelas VII E SMP Negeri 3 Kecamatan Ponorogo. Penelitian ini dilakukan dalam dua  siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu persiapan, implementasi tindakan, pemantauan dan evaluasi serta refleksi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, hasil angket dan hasil belajar. Melalui pembelajaran aktif dengan menggunakan peta konsep ini terlihat bahwa kegiatan belajar mengajar yang merupakan proses terjadinya interaksi antara guru dan siswa, dalam prosesnya siswa disadarkan untuk selalu membaca dan hasil bacaannya dituangkan dalam bentuk Peta Konsep. Banyak siswa merasakan membuat Peta Konsep menyenangkan, dan membantu memahami hubungan antara berbagai peristiwa. Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas dari siklus pertama sampai siklus ke dua nilai perolehan siswa selalu diatas KKM yang ditetapkan yaitu 75 dan prosentase ketuntasan siswa diatas 80 %, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan peta konsep dapat meningkatkan kemampuan merekonstruksi peristiwa-peristiwa sejarah pada siswa kelas VII E SMP Negeri 3 Kecamatan Ponorogo.

Page 1 of 1 | Total Record : 8