cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Litbang Industri
ISSN : 22523367     EISSN : 25025007     DOI : 10.24960
Core Subject : Engineering,
Jurnal Litbang Industri (JLI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. JLI memuat artikel primer yang bersumber langsung dari hasil riset industri, olahan hasil pertanian, penanggulangan pencemaran industri. Semua naskah direview oleh mitra bestari. Jurnal Litbang Industri Padang diterbitkan oleh Balai Riset dan Standardisasi industri Padang, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. p-ISSN: 2252-3367 e-ISSN: 2502-5007
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
Aplikasi Isolat Bakteri Indigenous Ubi Kayu Karet (Manihot glaziovii) pada Fermentasi Pembuatan Mocaf K Kamsina; N Nurmiati; P Periadnadi
Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.377 KB) | DOI: 10.24960/jli.v7i2.3390.111-121

Abstract

Indigenous bacteria isolate of cassava rubber (Manihot glaziovii) is an isolate of native bacteria which is available in rubber cassava tubers. Rubber cassava tuber is a cassava with a high content of cyanide acid (HCN). The study was aimed to see the ability of indigenous bacteria isolate of cassava cultivar rubber (BUG1) on mocaf making fermentation. This study used a completely randomized design with treatments (A) addition of starter indigenous bacteria isolates of rubber variety (BUG1), (B) without isolates, and (C) without  fermentation. The resulting mocaf product was conducted a chemical tests consisted of moisture, ash, starch, acid degree, coarse fiber, and HCN content, while organoleptic tests consisted of color, aroma, and texture. The analysis results on the various treatments showed that the optimal treatment of mocaf flour produced was the addition of indigenous bacteria isolate starter of rubber variety (BUG1).ABSTRAKIsolat bakteri indigenous ubi kayu karet (Manihot glaziovii) merupakan isolat bakteri asli yang berada dalam umbi ubi kayu karet. Ubi kayu kultivar  karet merupakan ubi kayu dengan kandungan asam sianida (HCN) tinggi. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kemampuan isolat bakteri indigenous ubi kayu kultivar karet (BUG1) pada fermentasi pembuatan mocaf. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan (A) pemberian starter isolat bakteri indigenous varietas karet (BUG1), (B) tanpa isolat, dan (C) tanpa fermentasi. Terhadap produk mocaf  yang dihasilkan dilakukan uji kimia meliputi kadar air,  abu, pati, derajat asam, serat kasar, dan kadar HCN, sedangkan uji organoleptik meliputi warna, aroma, dan tekstur. Hasil analisis terhadap berbagai perlakuan menunjukkan perlakuan optimal untuk tepung mocaf  yang dihasilkan adalah pemberian starter isolat bakteri indigenous varietas karet (BUG1).
Adsorpsi Cu2+ Menggunakan Nanofiber Polisulfon-FeOOH Yang Disintesis Dengan Metode Elektrospinning Dini Hariyati Adam; Hamzar Suyani; Muhamad Nasir; Safni Safni; Willy Cahya Nugraha
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.154 KB) | DOI: 10.24960/jli.v3i2.629.101-108

Abstract

It had been done a research about adsorption of Cu2+ using polysulfone-FeOOH nanofiber prepared by elektrospinning method. Polysulfone-FeOOH nanofiber was synthesized by dissolving polysulfone pellets in 30 mL dimethylacetamide (DMAc). The effects of process conditions such as concentration, distance between the nozzle and collector, voltage and flow rate on the morphology and diameter of nanofibers were investigated. The optimum conditions of polysulfone nanofiber synthesizing was obtained with concentration 25%, distance 12 cm, voltage 25 kV, and flow rate  0.05 mL/min with average diameters of fibers was 762.927 nm. Polysulfone nanofiber was coated with FeOOH to increase the adsorbtion capacity of Cu2+. The results showed that optimum condition for removal of Cu2+ used polysulfone-FeOOH nanofiber was obtained in 2 hours contact time, pH 6, adsorbent dosage 25 mg, and concentration of Cu2+ 10 mg/L with adsorbstion capacity was 9.79 mg/g, while for polysulfone nanofiber the adsorption capacity was 8.34 mg/g. The adsorbtion pattern of Cu2+ by the both of adsorbent followed the Freundlich isotherm pattern.ABSTRAK Penelitian mengenai pemisahan ion Cu2+menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yang disintesis dengan metode elektrospinning telah dilakukan. Nanofiber polisulfon P-3500 disintesis dengan cara melarutkan pelet polisulfon ke dalam 30 mL dimethylacetamide (DMAc). Pengaruh kondisi seperti konsentrasi, jarak nozzle dengan kolektor, tegangan dan laju alir terhadap morfologi dan diameter serat dipelajari. Kondisi optimum pembuatan nanofiber polisulfon diperoleh dengan konsentrasi 23 %, jarak 12 cm, tegangan 25 kV, dan laju alir 0,05 mL/min dengan ukuran diameter serat rata-rata 762,927 nm. Nanofiber yang terbentuk dilapisi dengan FeOOH untuk meningkatkan kapasitas penyerapannya terhadap ion Cu2+. Dari hasil penelitian didapatkan kondisi optimum untuk pemisahan ion Cu2+ menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yaitu waktu kontak 2 jam, pH 6, bobot adsorben 25 mg, dan konsentrasi Cu2+10 mg/L dengan kapasitas penyerapan 9,79 mg/g, sedangkan untuk nanofiber polisulfon kapasitas penyerapan 8,34 mg/g. Pola penyerapan Cu2+ untuk kedua jenis adsorben lebih sesuai dengan pola isoterm Freundlich 
Pengaruh Jenis Starter untuk Meningkatkan Effisiensi Waktu Fermentasi dan Analisis Proksimat Biji Kakao Silfia Silfia; Kamsina Kamsina; Yulia Helmi Diza; Wilsa Hermianti
Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.256 KB) | DOI: 10.24960/jli.v7i1.2792.53-60

Abstract

Process of cocoa beans fermentation is done to destroy pulp and occurrence of chemical reactions, biochemistry, and physical changes in cocoa seeds. The purpose to improve the chemical content, to develop formation of taste, color, and compound of distinctive aroma of chocolate. This research was conducted by observing influence of starter type to improve fermentation time efficiency and proximate analysis. The purpose of research was to shorten fermentation time, so that farmer group can shorten fermentation time and reduce expenditure. The study design was a factorially complete randomized design. The treatments for cleaved cocoa seeds were type of starter added and length of fermentation. The starter type given were 1% tape starter and 1% bread starter with fermentation length 48, 72, and 96 hours. Each treatment was performed with 4 replications. The results showed that in the treatment of 1% tape starter and treatment of fermentation lenght 96 hours (the 4th day) gave optimum result with content of water 7.22%, ash 3.45%, fat 50.56%, and protein 15.21%.ABSTRAK  Proses fermentasi biji kakao dilakukan untuk menghancurkan pulpa dan terjadinya reaksi kimia, biokimia, dan perubahan fisika dalam keping biji. Tujuannya untuk memperbaiki kandungan kimia, dapat mengembangkan pembentukan calon rasa, warna, dan senyawa aroma khas cokelat. Penelitian ini dilakukan dengan melihat pengaruh jenis starter untuk meningkatkan efisiensi waktu fermentasi dan analisis proksimat biji kakao. Tujuan dari penelitian adalah untuk mempersingkat waktu fermentasi, sehingga diharapkan kelompok tani dapat memperpendek waktu fermentasi dan mengurangi pengeluaran. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) secara faktorial. Perlakuan untuk biji kakao yang telah dibelah yaitu jenis starter yang ditambahkan dan lama fermentasi. Jenis starter yang diberikan adalah 1% starter tape dan 1% starter roti dengan lama fermentasi 48, 72, dan 96 Jam. Masing-masing perlakuan dilakukan dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian 1% starter tape dan perlakuan lama fermentasi 96 jam (hari ke-4) memberikan hasil optimal, yaitu kadar air 7,22%, abu 3,45 %, lemak 50,56%, dan protein 15,21%.
Penentuan Jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Cemaran Mikroba Patogen Pada Yoghurt Bengkuang Selama Penyimpanan Yulia Helmi Diza; Tri Wahyuningsih; Wilsa Hermianti
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.441 KB) | DOI: 10.24960/jli.v6i1.891.1-11

Abstract

One of the research result in order to diversify the processed jicama is jicama yoghurt with quality characteristics has largely met the quality requirements of SNI 2981: 2009 about yoghurt, but it is not known how long the jicama yoghurt can be stored with the availability of lactic acid bacteria alive eligible probiotic drink, namely a minimum of 106 colonies/g and there are no pathogenic microbial contamination Coliform and Salmonella that are safe for consumption. This research was conducted with the treatment of storage time of 0, 1, 2, 3 and 4 weeks at cold temperature (4°C). The yoghurt produced was tested a total value of lactic acid bacteria and pathogenic microbial contamination (Coliform and Salmonella). During storage was also tested total acid content, inulin and calcium, as well as organoleptic testing. Analysis of the various treatments showed the number of lactic acid bacteria that grow until week 3 (three) as much as 2.81 x 106 colonies/gram, or 6.4 log cycles, the yoghurt quality was still good and safe from contamination of pathogenic microbes that coliform <2 colonies/g and salmonella negative/100 ml. Decrease the number of lactic acid bacteria grow during storage of 2.38 x 108 colonies/gram at storage 0 weeks to 6.0 x 105 colonies/gram at 4 weeks of storage, or a decrease of 2.6 log cycle. During storage, the total acid tends to increase but still meet the quality requirements yoghurt, while the content of inulin and calcium tend to remain and organoleptic preferred by the panelists until the fourth week of storage.ABSTRAKSalah satu hasil penelitian dalam rangka diversifikasi olahan bengkuang adalah yoghurt bengkuang dengan karakteristik mutu telah memenuhi sebagian besar syarat mutu SNI 2981:2009 tentang yoghurt, namun belum diketahui berapa lama yoghurt bengkuang dapat disimpan dengan ketersediaan bakteri asam laktat hidup yang memenuhi syarat minuman fungsional, yakni  minimal 106 koloni/g dan tidak terdapat cemaran mikroba patogen Coliform dan Salmonella sehingga aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan lama penyimpanan 0, 1, 2 , 3 dan 4 minggu pada suhu dingin (4oC). Yoghurt yang dihasilkan diuji nilai total bakteri asam laktat dan cemaran mikroba patogen (Coliform dan Salmonella). Pengujian total asam, kandungan inulin dan kalsium, serta pengujian organoleptik juga dilakukan selama penyimpanan. Hasil analisis pada berbagai perlakuan menunjukkan jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh sampai minggu ke-3 (tiga) masih memenuhi syarat yoghurt yang baik, yaitu sebanyak 2,81 x 106 koloni/g atau 6,4 siklus log dan aman dari cemaran mikroba patogen yaitu coliform <2 koloni/g dan salmonella negatif/100 ml. Jumlah bakteri asam laktat yang tumbuh mengalami penurunan selama penyimpanan dari 2,38 x 108 koloni/g pada penyimpanan 0 minggu menjadi 6,0 x 105 koloni/g pada penyimpanan 4 minggu, atau turun sebesar 2,6 siklus log. Total asam selama penyimpanan cenderung mengalami peningkatan tapi masih memenuhi syarat mutu yoghurt, sementara kandungan inulin dan kalsium cenderung tetap dan secara organoleptik disukai oleh panelis sampai penyimpanan minggu keempat.
Pengaruh Perbedaan Persentase Penambahan Gliserin dan Konsentrasi Larutan Ekstrak Gambir Terhadap Beberapa Sifat Fisika dan Kadar Tanin Tinta Stempel Silfia Silfia; Hendri Muchtar; Failisnur Failisnur
Jurnal Litbang Industri Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.126 KB) | DOI: 10.24960/jli.v5i1.667.53-59

Abstract

Gambier extract derived from leaves of Uncaria Gambier Roxb contain catechin and tannin which belonged to polyphenolic compounds. Gambier extract when added with ferosulfat salt will form a complex compound that can give a green color to black and can be used as a dye in the stamp ink. This study aims was to see how far the effect of adding glycerin and concentration of the Gambier extract solution against some physical properties and levels of tannin stamp ink. The ink manufacturing was done through a washing process of gambier, filtering, cube black manufacture, dissolution and formulation. The making of the stamp ink was done by a non factorial completely randomized design with a variation of the concentration of glycerin Ao = Without the addition of glycerin, A1 = 15% = 20% A2, A3 and A4 = 25% = 30% and the concentration of the extract gambier B1 = 20%, B2 = 25% = 30% B3, B4 and B5 = 35% = 45%. Results of the research showed that the addition of glycerin could increase some physical properties, especially against the homogenity of the ink. The best treatment was obtained on the use of gambier extracts 35% (B3) with pH 3.27, total solids 41.33%, tannin content 2.5788%, visual observation of color strength was clear and flat, viscosity was medium, not expand and not sticky, and homogeneous.ABSTRAKGambir berasal dari ekstrak daun tanaman Uncaria Gambier Roxb, mengandung senyawa katechin dan tanin yang termasuk golongan senyawa polifenol. Ekstrak gambir jika ditambahkan dengan garam ferosulfat akan membentuk senyawa komplek yang dapat memberikan warna hijau sampai hitam dan dapat digunakan sebagai pewarna pada tinta stempel. Penelitian ini bertujuan untukmelihat sejauh mana pengaruh penambahan gliserin dan konsentrasi larutan ekstrak gambir terhadap beberapa sifat fisika dan kadar tanin tinta stempel. Pembuatan tinta dilakukan melalui proses pencucian gambir, penyaringan, pembuatan cube black, pelarutan dan formulasi. Pembuatan tinta stempel dilakukan dengan rancangan acak lengkap non faktorial dengan variasi konsentrasi gliserin (0%, 15%, 20%, 25%, dan 30%) dan konsentrasi ekstrak gambir (25%, 30%, 35%, 40%, dan 45%). Hasil penelitan menunjukkan bahwa penambahan gliserin dapat meningkatkan beberapa sifat fisika terutama terhadap homogenitas tinta. Perlakuan terbaik diperoleh pada penggunaan ekstrak gambir 35% dengan pH 3,27, padatan total 41,33%, kadar tanin 2,58%, pengamatan visual terhadap kekuatan pewarnan jelas dan rata, kekentalan sedang, tidak mengembang dan tidak lengket serta homogen.
Biodegradabilitas Polikarboksilat Dari Asam Alginat dan Tapioka Isananto Winursito
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.924 KB) | DOI: 10.24960/jli.v3i1.619.39-47

Abstract

Abundantly occurring carbohydrates in nature can be used to obtain functional and biodegradable polycarboxylate for its application in various industrial fields. Partially-dicarboxylated of carbohydrate in alginic acid and tapioca with dicarboxylation degree from 13 to 78 mol% were prepared. The biodegradability of dicarboxylated alginic acid and tapioca, evaluated by biochemical oxygen demand (BOD), depended on dicarboxylation degree. Dicarboxylated alginic acid and tapioca containing high remaining glucopyranose groups showed excellent biodegradation, though dicarboxylated alginic acid with the dicarboxylation degree of 56 mol% was no longer biodegradable. However, dicarboxylated tapioca was still biodegrade up to the dicarboxylation degree of 74 mol%.ABSTRAK Karbohidrat yang terdapat secara melimpah di alam dapat digunakan untuk membuat polikarboksilat fungsional dan biodegradabel yang dapat dipakai di berbagai bidang industri. Dikarboksilasi-sebagian telah dilakukan terhadap karbohidrat dalam asam alginat dan tapioka, menghasilkan polimer terdikarboksilasi dengan derajat dikarboksilasi 13-78 mol%. Biodegradabilitas asam alginat dan tapioka terdikarboksilasi, dihitung berdasarkan kebutuhan oksigen untuk aktivitas biokimia (BOD), tergantung pada derajat dikarboksilasi. Asam alginat dan tapioka terdikarboksilasi dengan sisa gugus glukopiranosa yang tinggi dapat terdegradasi dengan baik. Asam alginat terdikarboksilasi pada derajat dikarboksilasi 56 mol% sudah tidak mengalami biodegradasi lagi, namun tapioka terdikarboksilasi masih dapat mengalami biodegradasi sampai derajat dikarboksilasi 74 mol%.
Gambir (Uncaria gambir Roxb) Sebagai Pewarna Alam Kain Batik Sutera, Katun, dan Rayon Sofyan Sofyan; Failisnur Failisnur
Jurnal Litbang Industri Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v6i2.1721.89-98

Abstract

Gambier (Uncaria gambir Roxb.) is one of main commodities in West Sumatra Province where most of the products are exported in raw gambier form. Many benefits that can be derived from gambier, but there is no diversify of this product. The research was aimed to use gambier as natural dyes in batik fabric and to see the quality of the batik that had been dyed. The study was conducted by varying the type of fabric (silk, cotton, and rayon) and the type of mordant or color fixer namely lime (CaO), alum (Al2(SO4)3), and ferous salt (FeSO4). The fabrics which had been dyed were tested color direction, color fastness of washing, light, rubbing, moreover acid and alkaline perspiration. The results showed that the color direction was brownish with different color darkness depending on the type of mordant used. The results of testing on color fastness were good to excellent averagely. In term of the type of fabric, from the three types of fabric used, silk gave the best result in terms of color fastness of washing and perspiration of acid and alkaline with average test results was good to excellent (scale 4-5). The use of different types of mordant had not given significant effect on testing of color fastness to light and rubbing. ABSTRAKGambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Sumatera Barat dimana hampir sebagian besar produknya diekspor dalam bentuk gambir mentah. Sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari gambir, namun belum ada hilirisasi produk ini di dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menggunakan gambir sebagai pewarna alam pada kain batik dan melihat kualitas kain batik yang telah diwarnai. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan jenis kain (sutera, katun, dan rayon) dan jenis mordan atau pembangkit warna yaitu kapur (CaO), tawas (Al2(SO4)3), dan tunjung (FeSO4). Kain yang telah diwarnai dilakukan pengujian arah/beda warna, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, sinar, gosokan, dan keringat asam dan basa. Hasil penelitian didapatkan warna ke arah kecokelatan dengan ketuaan warna yang berbeda-beda tergantung jenis mordan yang digunakan. Hasil pengujian ketahanan luntur warna rata-rata adalah baik sampai baik sekali. Bila ditinjau dari jenis kain, maka dari tiga jenis kain yang digunakan, kain sutera memberikan hasil terbaik dari segi ketahanan luntur warna terhadap pencucian, serta keringat asam dan basa dengan rata-rata hasil pengujian baik sampai baik sekali (skala 4-5). Penggunaan jenis mordan yang berbeda tidak memberikan pengaruh pada pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar dan gosokan.
Perilaku Krom Dalam Limbah Cair Penyamakan Kombinasi Krom-Gambir dan Krom-Mimosa Pada Penyamakan Kulit Ardinal Ardinal; Salmariza Salmariza; Anwar Kasim
Jurnal Litbang Industri Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v4i1.646.59-66

Abstract

This study aims to determine the amount of chrome that come out together with tannery waste in a tanned combination process of chrome-gambier and chrome-mimosa. the process research performed by 2 stages. The 1st stage  using chrome with 5 concentration,    they were 2,4,6 and 8 %. Then it followed by the 2nd stage  tanning process by using vegetable tanning, gambier and mimosa, with each 7% and 9% concentration. The results showed that the combination of chrome-gambier tanned at the same concentration disposed chromium waste less than the combination of chrome-mimosa tanned. The lowest total chrome waste on the chrome-gambier tanning combination was 3.9 ppm at  2% chromium and 7% gambier concentration and the highest was 146.6 ppm at 8% chromium and 9% gambier concentrations.  The lowest total chrome waste on the combination of chrome-mimosa tanning was 2.2 ppm at  2% chromium and 7% mimosa concentration and the highest was 170.4 ppm at 8 % chromium and 9% mimosa concentration. The 2ndtanning, was combination tanning process, chrome-gambier able to reduce chromium levels more than the chrome-mimosa tanning.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah krom yang ikut terbuang bersama limbah proses penyamakan kulit yang di samak kombinasi krom-gambir dan krom-mimosa. Pelaksanaan penelitian proses penyamakan kulit  dilakukan dengan 2 tahap. Tahap I menggunakan krom dengan 5 variasi  konsentrasi yaitu 2, 4, 6 dan 8%. Setelah penyamakan tahap I kemudian dilanjutkan penyamakan tahap II dengan menggunakan penyamakan nabati, gambir dan mimosa, dengan variasi konsentrasi masing-masing 7 dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penyamakan kombinasi krom-gambir pada konsentrasi yang sama menghasilkan limbah krom yang lebih sedikit dibandingkan dengan samak kombinasi krom-mimosa. Jumlah limbah krom pada penyamak kombinasi krom-gambir terendah adalah 3,9 ppm pada konsentrasi krom 2% dan gambir 7% dan tertinggi 146,6 ppm pada konsentasi krom 8% dan gambir 9%. Jumlah limbah krom pada penyamak kombinasi krom-mimosa terendah adalah 2,2 ppm pada konsentrasi krom 2% dan mimosa 7% dan tertinggi 170,4 ppm pada konsentasi krom 8% dan mimosa 9%. Penyamakan tahap II, yang merupakan samak kombinasi, krom-gambir dapat menurunkan kadar krom lebih banyak dibandingkan kombinasi krom-mimosa.
Efek Perlakuan Pendahuluan Terhadap Kandungan Nutrisi Makro Rendang Belut Failisnur Failisnur; Silfia Silfia
Jurnal Litbang Industri Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v2i1.596.19-26

Abstract

Eel (Monopterus albus Zuieuw) is a much prefered food because the taste is good, and the potential spread evenly, high nutrient content and medicinal.  Product of eel rendang can be an alternative to increase consumer acceptance and provide meaningful choices for food lovers of the eel. Research conducted with a variety of pre-treatment of raw materials in the form of fresh eel, baked and fried eel before the cooking of rendang, and then analyzed the nutritional content that includes water content, proteins, fats, organoleptic and resistance storage consisted of moisture content, peroxide number and organoleptic visually. Research results showed that the best treatment was the use of baked eel first before cooking process as the preferred flavor, texture, and aroma with the score were 4,7 ; 4,8 and  4,3  respectively. The chemical testing showed low content of fat and water that was 9.93% and 24.42% respectively and  high protein content that was 32,02%. The product still resistant until 3 months of storage with water content 16,2% and peroxide number 9,2 as well as flavor, aroma and texture were still good.ABSTRAKBelut (Monopterus albus Zuieuw) merupakan bahan pangan hewani yang banyak digemari karena rasanya cukup enak, potensi dan penyebaran merata, kandungan gizi tinggi dan juga berkhasiat obat. Pengolahan belut menjadi rendang belut dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan penerimaan konsumen dan memberikan pilihan berarti bagi penikmat makanan dari belut. Penelitian dilakukan dengan berbagai perlakuan pendahuluan terhadap bahan baku belut berupa belut segar, belut yang dibakar dan belut yang digoreng sebelum dilakukan proses perendangan, kemudian dianalisis kandungan nutrisinya yang meliputi kadar air, protein, lemak dan organoleptik serta ketahanan simpannya meliputi kadar air, bilangan peroksida dan organoleptik secara visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik  adalah penggunaan belut yang dibakar terlebih dahulu sebelum dilakukan proses perendangan dimana dari hasil uji organoleptik lebih disukai panelis dengan nilai skala hedonik 4,7; 4,8 dan 4,3 berturut-turut untuk rasa, tekstur, dan aroma. Dari hasil uji kimia didapatkan kadar air dan lemak yang rendah yaitu 9,93% dan 24,42%, kadar protein yang lebih tinggi yaitu 32,02%. Produk masih tahan sampai 3 bulan penyimpanan dengan kadar air setelah 3 bulan 16,2% dan bilangan peroksida 9,2 serta rasa, aroma dan tekstur masih baik.
Pengaruh Penggunaan Cassiavera (Cinnamommum burmannii) Mutu Rendah Terhadap Kualitas Oleoresin Silfia Silfia
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v3i2.630.109-115

Abstract

Low grade cinnamon (Cinnamommum burmannii) such as grade B, C , KA, KB and KC is cinnamon produced from bark of twigs and branches, the most part of them is not scraped with clean, range of color between brownish dark yellow to blackish brown, less spicy flavor, and consists of chips. The purpose of this research to increase the added value of low grade Cassiavera became oleoresin in order to be more efficient of its utilize in industry and avoid from contamination of microorganisms so that can be improved the economic value. The research was conducted with variations of source of Cassiavera raw materials that consisted of treatment A (Cassiavera grade A as a control), B (Cassiavera grade C), C (Cassiavera grade A broken, D (Cassiavera grade KB), and E (Cassiavera grade KC). To produce oleoresin, Cassiavera powder 40 mesh sieve was extracted for 2x2.5 hours at 50°C in 95% ethanol in ratio 1:6. Results of the research were obtained that the best treatment come from Cassiavera grade A broken with the highest yield of oleoresin and cinnamaldehyde obtained were 32.85% and 62.84%, low specific gravity 1.008 and refractive index 1.507, moreover results of the moisture content and ash content analysis of raw material were 10.97% and 2.982% respectively.ABSTRAKCassiavera (Cinnamommum burmannii) mutu rendah (grade B, C, KA , KB dan KC) merupakan cassiavera yang berasal dari kulit ranting dan dahan, sebagian besar tidak terkikis dengan bersih, berwarna kuning tua kecoklatan sampai coklat kehitaman, rasa kurang pedas, dan terdiri dari kepingan. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan nilai tambah cassiavera mutu rendah menjadi oleoresin agar penggunaannya dalam industri lebih effisien dan terhindar dari pencemaran mikroorganisme sehingga dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan sumber bahan baku cassiavera yaitu perlakuan A (Casiavera mutu A, sebagai kontrol), B (Cassiavera mutu C), C (Cassiavera mutu A pecahan), D (Cassiavera mutu KB), dan E (Cassiavera mutu KC). Dalam pembuatan oleoresin, cassiavera diekstrak selama 2x2,5 jam pada suhu 50°C dengan pelarut etanol teknis 95% dengan perbandingan 1:6 dari bubuk cassiavera yang lolos ayakan 40 mesh. Dari hasil penelitian diperoleh perlakuan terbaik berasal dari cassiavera A pecahan dengan rendemen oleoresin dan sinamaldehid tertinggi yaitu 32,85% dan 62,84%,  berat jenis dan indek bias yang rendah yaitu 1,008 dan 1,507 serta kadar air dan kadar abu bahan baku adalah 10,97% dan 2,982%.