cover
Contact Name
ratri yuli lestari
Contact Email
ratri.y.lestari@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jrihh.banjarbaru@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan
ISSN : 20861400     EISSN : 25030779     DOI : -
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan (JRIHH) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Balai Riset dan Standardisasi Industri Banjarbaru. JRIHH terbit 2 (dua) kali setiap tahun pada bulan Juni dan Desember dengan E-ISSN: 2503-0779 dan P-ISSN : 2086-1400. JRIHH fokus pada isu-isu sektor industri yang berhubungan dengan: 1. Pengembangan Teknologi Pengolahan Kayu dari Hasil Hutan Alam, Hutan Tanaman Industri, dan Hasil Hutan Perkebunan. 2. Pengembangan Teknologi Pengolahan/ Pemanfaatan Limbah Industri Hasil Hutan Kayu (limbah padat dan cair). 3. Pengembangan Teknologi Pengolahan Hasil Hutan lainnya (Rotan, Bambu, dan Hasil Hutan sampingan termasuk pemanfaatan hasil limbahnya).
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2020)" : 5 Documents clear
Hubungan sifat berat jenis dengan sifat higroskopisitas melalui pendekatan nilai rerata kehilangan air [Relationship between specific gravity and hygroscopicity through average water loss approach] Bahanawan, Adik; Darmawan, Teguh; Dwianto, Wahyu
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v12i1.5643

Abstract

Abstrak. Sifat higroskopisitas kayu diduga berhubungan dengan nilai berat jenis (BJ) kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan nilai BJ kayu sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes), jati (Tectona grandis L. f.), merbau (Instia bijuga (Colebr.) Kuntze) dan mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.) terhadap nilai kehilangan air saat diberi perlakuan pengeringan pada suhu 60ºC selama beberapa waktu. Sengon dan jati yang berusia muda mewakili kayu dengan BJ rendah, sedangkan mahoni dan merbau mewakili kayu dengan BJ tinggi. Hasil penelitian menunjukkan massa awal setelah perendaman dengan air selama 24 jam untuk sengon, jati, mahoni dan merbau berturut-turut adalah 5,346 g; 7,356 g; 7,366 g dan 7,469 g. Nilai BJ sengon, jati, mahoni dan merbau berturut-turut sebesar 0,294; 0,511; 0,625 dan 0,733. Pengukuran kehilangan air yang dilakukan selama 7,5 jam menunjukkan nilai rerata kehilangan air total untuk sengon, jati, mahoni dan merbau berturut-turut adalah 2,431 g; 2,440 g; 2,363 g dan 1,560 g. Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa nilai BJ antar keempat spesies tersebut berbeda nyata. Uji lanjut Tukey untuk nilai rerata kehilangan air selama 7,5 jam tidak berbeda nyata antara sengon, jati dan mahoni namun berbeda nyata antara sengon, jati dan mahoni dengan merbau.Kata Kunci: berat jenis; kehilangan air; hubunganAbstract. Hygroscopicity of wood is related to specific gravity (SG). This research was aimed to understand the relationship between specific gravity of sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barne by & J.W. Grimes), jati (Tectona grandis L. f.), merbau (Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze) and mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.) through their water loss from heat treatment. Results showed that SG of sengon, jati, mahoni and merbau were 0.294; 0.511; 0.625 and 0.733 respectively. Measurements of water loss performed for 7.5 hours at 60ºC for sengon, jati, mahoni and merbau were 2.431 g; 2.440 g; 2.363 g and 1.560 g. Tukey’s test showed that the SGs among wood species were significantly different. Tukey’s test for average water loss was not significantly different between sengon, jati and mahoni, but significantly different between sengon, jati and mahoni and merbau. Keywords : specific gravity; relationship; water loss
Ektraksi getah jernang (Daemonorops draco) sistem basah dengan dua tahapan proses: perbedaan rendemen dan mutu [Extraction of dragon’s blood (Daemonorops draco) wet system by two-step process: effect of yield and quality] Mahlinda Mahlinda; Abdul Thalib; Lancy Maurina; Ridho Kurniawan; M Dani Supardan
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v12i1.5924

Abstract

Abstrak. Jernang (dragon’s blood) merupakan resin berwarna merah yang diekstrak dari buah rotan (Daemonorops draco). Resin ini merupakan salah satu produk hasil hutan non-kayu yang sudah digunakan secara terus menerus sebagai obat (antibakteri, antikanker, antiviral, antiinflamasi), pewarna, bahan kemenyan dan vernis. Secara tradisional, getah jernang diekstrak menggunakan teknik sederhana dengan menghentakkan buah rotan segar di dalam keranjang rotan sehingga resin yang menempel terlepas dan jatuh dari kulitnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh ekstrak buah rotan menggunakan dua tahapan proses (proses tahap pertama menggunakan buah rotan segar dan proses tahap kedua menggunakan limbah buah rotan dari proses tahap satu). Pada proses tahap pertama, penelitian dilakukan dengan cara buah jernang segar dikumpulkan, sortasi, ekstraksi, pemisahan, pengendapan, pengepresan, pengeringan dan pengujian mutu. Sedangkan pada proses tahap kedua, dilakukan dengan cara mengumpulkan ampas buah jernang (dari proses tahap I), pelumatan, penyaringan, pengendapan, pengepresan, pengeringan dan pengujian mutu. Hasil pengujian menunjukkan, untuk proses tahap pertama memperoleh rendemen resin 2,56% dengan kadar resin 60,86%, pengotor 12,56%, abu 5,44% dan berwarna merah gelap. Sementara, proses tahap kedua memperoleh rendemen resin sebesar 3,99% dengan kadar resin 30,73%, pengotor 49,2%, abu 7,32% dan berwarna merah terang. Dibandingkan dengan SNI 1671–2010, produk resin dari tahap pertama memenuhi mutu A dan mutu B untuk resin dari proses tahap kedua.Kata Kunci : jernang; resin; rotan; ekstraksi Abstract. Jernang (dragon’s blood) is a red resin extracted rattan fruit (Daemonorops draco). This resin is one of the non timber forest products that has been continously used as medicine (anti bacterial, anticancer, antiviral, anti-inflammatory activity and antioxidant), dyes, incenses materials and varnish. Traditionally,  a simple technique to extracted dragon’s blood resin by pounding fresh rattan fruits in a rattan basket so that the resin that adheres to the outer fruit skins become loose and fall from those skins. The aim of this study was to extract rattan fruit (daemonorops draco) using two-step process (first process by using fresh rattan fruits and second process by using rattan fruit waste from first process). The result of this research showed that the first step obtains 2,56 % dark red resin yield which contain 60,85% of resin, 12,56% of  impurities and ash 5,44 % of ash respectively. Meanwhile, the second step obtains yield of light resin 3,99% with resin content 30,73%, impurities 49,2% and ash 7,32%. According to SNI  1671-2010,  resin product from first and second step  process is A and B respectively.Keywords : dragon blood; resin; rattan; extraction
Pembuatan dan pemanfaatan arang limbah kayu untuk menjerap gas metan pada lahan tanaman padi [The production and utilization of charcoal derived from wood waste to absorb methane gas in rice fields] Heri Soedarmanto; Dr. Evy Setiawati, M.T.; Wahida Annisa; Dwi Harsono
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v12i1.6110

Abstract

Abstrak. Lahan padi merupakan sumber terbesar dari emisi CH4 dan berkontribusi terhadap 12% total emisi tahunan. Salah satu cara untuk untuk mengurangi emisi gas metan adalah dengan pemberian arang. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh arang perendaman berbahan baku serbuk limbah kayu terhadap penurunan emisi gas metan pada lahan padi. Limbah serbuk kayu yang digunakan dalam penelitian ini berukuran 0,42-1,00 mm dan dipirolisis selama 2 jam pada suhu (350-550)oC. Arang yang dihasilkan (kondisi panas) kemudian direndam menggunakan air selama 30 menit. Arang hasil perendaman kemudian disaring dan dikering-udarakan. Tanah sulfat masam ditambahkan arang hasil perendaman sesuai dosis perlakuan. Perlakuan penelitian adalah (1) kontrol tanah, tanpa arang perendaman (K0); (2) 30 gram arang perendaman + tanah (K1); (3) 60 gram arang perendaman + tanah (K2); (4) 90 gram arang perendaman + tanah (K3); (5) 120 gram arang perendaman + tanah (K4); (6) 150 gram arang perendaman + tanah (K5). Pengamatan terhadap emisi gas metan dilakukan selama 30, 60, dan 90 Hari Setelah Tanam (HST). Untuk mengetahui pengaruh suhu dan perendaman arang terhadap kualitas arang yang dihasilkan serta mengetahui dosis arang terhadap emisi gas metan digunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring dengan peningkatan suhu pirolisis, nilai pH, kadar abu, dan fixed-C semakin meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen menurun. Perendaman arang menghasilkan produk arang dengan pori-pori relatif lebih banyak dan terstruktur. Fluks metan menurun seiring bertambahnya dosis arang perendaman, yaitu 22,57 mg/m2/hari menjadi 9,73 mg/m2/hari pada 30 HST, 55,07 mg/m2/hari menjadi 13,40 mg/m2/hari pada 60 HST, dan 92,51 mg/m2/hari menjadi 19,59 mg/m2/hari pada 90 HST.Kata Kunci : arang perendaman; limbah kayu; fluks metan Abstract. Rice fields are the largest source of CH4 emissions and contribute to 12% of total annual emissions. Providing charcoal treatment is one way to reduce methane emissions. The purpose of this study was to analyze the soaked charcoal derived from wood waste to reduce methane gas emissions of rice fields. The sawdust used in this study was 0.42-1.00 mm and pyrolyzed for 2 hours at (350-550)oC. The resulted charcoal in a heat condition was then soaked using water for 30 minutes, filtered, and dried. The soaked charcoal was added according to the dosage given. The research treatments were (1) soil control, without soaked charcoal (K0); 30 grams soaked charcoal + soil (K1); (3) 60 grams soaked charcoal + soil (K2); (4) 90 grams soaked charcoal + soil (K3); (5) 120 grams soaked charcoal + soil (K4); (6) 150 grams soaked charcoal + soil (K5). Observations on methane gas emissions were carried out for 30, 60, and 90 Days After Planting (DAP). The Completely Randomized Design was used to determine the effect of temperature and soaking of charcoal on the charcoal quality and to determine the dose of charcoal on methane gas emissions. The results showed that with the increase in pyrolysis temperature, pH, ash content, and fixed-C increased, while hydrogen and oxygen increased. The soaked charcoal had larger and higher structured pore. Methane flux was increased as the increasing of soaked charcoal at 30, 60, 90 DAP, which were (22.57 to 9.73) mg/m2/day, (55.07 to 13.40) mg/m2/day, and (92.51 to 19.59) mg/m2/day, respectively.Keywords : soaked charcoal; wood waste; methane flux
Aktivitas antibakteri Propionibacterium acnes dan formulasi ekstrak etanol biji pinang (Areca catechu, L) dalam krim anti jerawat (Antibacterial activity of Propionibacterium acnes and formulation of Areca catechu ethanolic extract in anti-acne cream) Farid Salahudin; Heru Agus Cahyanto
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v12i1.5424

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang ekstrak etanol biji pinang dalam aktivitasnya menghambat bakteri Propionibacterium acnes serta sebagai bahan aktif dalam formulasi krim anti jerawat. Ekstrak etanol biji pinang mengandung senyawa tanin dan flavonoid dengan kadar masing-masing 8,53 dan 3,70%. Hasil uji ekstrak etanol biji pinang dengan konsentrasi sebesar 1, 2 dan 3% memiliki  aktivitas daya hambat terhadap P. acnes sebesar 6,33 ; 9,33 dan 11,00 mm. Namun, sediaan krim ekstrak biji pinang dalam konsentrasi 2% belum mampu menghambat P. acnes. Dosis ekstrak biji pinang dalam sediaan krim yang mampu memberikan hambatan adalah 5, 10 dan 15% masing-masing sebesar 4, 5 dan 8 mm.Kata kunci : ekstrak; jerawat; krim; pinang Abstract. The research on Areca catechu ethanolic extract that inhibit Propionibacterium acnes and used as an active ingredient in anti acne cream formulation has been done. Ethanolic extract of areca contains tannin and flavonoid of 8.53 and 3.70%, respectively. Antibacterial test with concentrations of 1, 2 and 3% have an activity to P. acnes of 6.33; 9.33 and 11.00 mm. However, cream formulation with 2% concentration has not inhibit P. acnes yet. The dose in the cream formulation that is able to inhibit is 5, 10 and 15% respectively of 4, 5 and 8 mm.Keywords : extract; acne; cream; areca
Evaluasi proses produksi industri gondorukem dari tinjauan aliran massa dan energi (Studi kasus PGT Sapuran) [Evaluation of the gum rosin industrial production process based on mass and energy balances (PGT Sapuran case study) Primaningtyas, Annisa; Widyorini, Ragil
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v12i1.5996

Abstract

Abstrak. Gondorukem dan terpentin adalah hasil hutan non kayu hasil distilasi dari getah pinus (Pinus merkusii) dan digunakan sebagai bahan baku pada berbagai industri. Gondorukem dan terpentin termasuk salah satu industri andalan penyumbang devisa negara sehingga perkembangan teknologinya harus mempertimbangkan aspek lingkungan, efisiensi, dan konservasi energi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aliran massa dan energi yang terdapat pada proses produksi gondorukem dan terpentin untuk selanjutnya dianalisis kesesuaiannya dalam penggunaan energi dan terbentuknya limbah agar menjadi lebih efisien. Penelitian dilakukan di Pabrik Gondorukem dan Terpentin (PGT) Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah milik Perum Perhutani. Data input dan output proses tiap unit produksi dianalisis menggunakan neraca massa dan neraca panas yang dihitung manual dengan data sifat fisika bahan kimia didapatkan dari referensi. Kasus diamati pada waktu musim penghujan dan musim kemarau serta meliputi dua kondisi, yaitu kondisi operasi menggunakan Oleo Pine Resin (OPR) dan tanpa OPR. Hasil menunjukkan bahwa energi yang terbuang pada unit pengendap dan unit penampung untuk kedua jenis proses masing-masing sekitar 6% dan 12% dari total energi yang digunakan di kedua unit tersebut. Limbah terbanyak berupa getah campuran yang terdiri dari getah pinus dan terpentin paling banyak dihasilkan di unit pengencer sebesar 18,72% untuk proses tanpa OPR dan 24,80% untuk proses dengan OPR. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa perbaikan proses produksi perlu dilakukan oleh perusahaan agar limbah yang terbentuk minimal dan penggunaan energinya menjadi lebih efektif.Kata Kunci: non-kayu; industri; neraca massa; neraca panas Abstract. Gum rosin and turpentine are non-timber forest products distilled from pine sap (Pinus merkusii) and uses as raw materials in various industries. The gum rosin and turpentine industry are one of the pillar contributors to the country's foreign exchange. Therefore, technology development for this industry must consider environmental aspects, efficiency, and energy conservation. The purpose of this study is to evaluate the mass and energy flow contained in the gum rosin and turpentine production processes for subsequent analysis of their suitability in energy use and waste generation to be more efficient. The research was conducted at Pabrik Gondorukem dan Terpentine (PGT) Sapuran, Wonosobo, Central Java owned by Perum Perhutani. Input and output process data of each unit of production were analyzed using a mass balance and heat balance that was calculated manually. The physical and chemical data properties were obtained from the references. The cases were observed during the rainy and dry season and included two conditions: operating conditions using Oleo Pine Resin (OPR) and without OPR. The results showed that the energy wasted in the settling unit and storage unit for the two types of processes were around 6% and 12% of the total energy used in the two units. The mixed resin as a waste consisted of both pine resin and turpentine was produced in the dilution unit. The amounts of waste produced in the process without OPR  and with OPR were 18.72 and 24.80%, respectively. The company should improve the production process to minimise waste and increase energy efficiency.Keywords : non-timber; industry; mass balance; energy balance

Page 1 of 1 | Total Record : 5